"Lama banget sih sampenya?" Vano misuh - misuh ketika melihat Melinda datang ke arahnya.
"Janjiannya jam 2 siang ya. Sekarang jam 2 lewat semenit doang lama gimana?" Melinda mengecek jam tangannya, tidak terima dituduh. Vano malu, pasalnya dia sudah ada di sana sejak jam 1 memikirkan cara untuk menyatakan perasaannya dan refleks marah karena merasa Melinda terlalu cepat datang.
"Ga lihat jam." Vano beralasan menutupi rasa malunya.
"Udah ga lihat jam, nuduh pula." Melinda mengomel dan membaca menu yang tertera disana.
"Emm, Mel."
"Apaan? Bentar deh gue pesen dulu." Melinda memotong pembicaraan Vano dan beranjak ke meja kasir, menyebutkan pesanannya.
"Yaelah, gimana nembaknya ini." Vano menggaruk kepala frustasi.
"Lo dari jam berapa disini?" Melinda tiba - tiba meletakan minumannya dan kembali duduk membuat Vano tersadar dari lamunannya.
"Jam 2 kurang 10 menit tadi," Vano berbohong tidak mungkin kan dirinya berkata jujur kalau dia sudah ada di sana dari jam 1 untuk berlatih menembak Melinda.
"Oh," Melinda menyedot minumannya sembari sesekali mengaduknya.
"Mel, kita main game 15 detik kita lomba tatap - tatap an gimana?" Akhirnya Vano memutuskan membuka suara dengan berkedok main game.
"Boleh deh,"
"Gue timer ya?"
"Oke, cepet."
Timer dimulai
"Mel, kalau selama 15 detik ini lo kedip. Lo jadi pacar gue," Vano masih terus menatap Melinda yang sudah berubah ekspresi namun bukannya terkejut di malah bingung dan bahkan belum berkedip sama sekali. Sudah sekitar 10 detik berlalu Melinda belum mengedip sama sekali.
3
2
1
Vano menyerah melihat Melinda tidak mengedip sama sekali, penolakan yang keras. Vano memilih meraih HP nya untuk mematikan stop watch dan berniat untuk bilang bahwa itu bercanda dan tidak ada unsur terselubung sama sekali.
"Van, kemarin kita juga main game ini dan gue udah jawab." Melinda dengan tenang masih berbicara setelah dengan jelas menolak pernyataan cinta Vano.
"Gue cuma bercanda kali, ga usah serius. Kemarin gue panas Mel dan lo nyuruh gue tidur," Vano menahan untuk terlihat baik - baik saja.
"Cek CCTV kamar lo. Lo bisa lihat jawaban gue disana dan ya gue tau lo disini dari jam 1 siang jadi ga usah ngeles bilang lo baru jam 2 udah ada disini. Pulang, sore kita ketemu lagi. See you," Melinda meraih gelasnya dan berjalan keluar meninggalkan Vano disana. Segera saja Vano menyusul Melinda keluar untuk pulang ke rumahnya mencari tau maksud dari perkataan Melinda. Setelah sampai Vano segera bergegas mengambil kursi dan mengambil semacam kartu memori dan memasukannya kedalam laptop untuk di cek.
Rabu, 2 Februari 2000 20.15
"Tidur Van, badan lo panas." Suara Melinda yang pertama kali muncul membuat Vano sedikit menarik bibirnya, tersenyum.
"Ga panas ih. Gue masih punya tugas." Muncul suara Vano yang sudah setengah sadar.
"Tidur, tugasnya besok aja."
"Ih Mel, ya udah tidur." Vano merebahkan tubuhnya di kasur dan langsung terlelap, efek obat tidur di CCTV tampak Melinda merasa lega dan duduk di sebelah Vano di meja belajar miliknya dan sesekali mengganti kain yang berada di dahinya.
"Melinda, main game yuk? 15 detik aja." Tiba - tiba Vano bangun membuat Melinda terkejut dan segera mendatanginya.
"Main game nya besok aja, sekarang tidur." Melinda berusaha untuk membuat Vano kembali tidur.
"15 detik abis itu Vano tidur."
"Ni bocah ngelindur deh kayaknya, ya udah 15 detik abis itu tidur,"
"Kamu lihat aku. Kalau selama 15 detik kamu ga suka sama aku, aku bakal nyerah dan ngerelain kamu sama cowok lain."
"Lah? Benerin ngelindur ni anak berarti gue ngomong apa dia ga sadar dong." Melinda bergumam dan langsung bersemangat.
"Ayo Mel."
"Oke, 15 detik. Mulai ya." Melinda menatap mata Vano dan begitu pula sebaliknya.
"Gue juga suka sama lo Van."
"Belum 15 detik."
"Dih, kok rese. Nih gue kedip nih." Melinda mengedipkan matanya berkali - kali kesal dengan respon Vano yang diluar ekspetasinya.
"Loh? Gimana sih Mel? Belum 15 detik loh kok cepet banget nerimanya," Ujar Vano tidak terima
"Terserah lo, suka - suka lo." Melinda kesal merasa di jahili oleh Vano.
"Bercanda, sini pacar aku." Vano yang menonton CCTV sudah tersenyum daritadi dengan wajah memerahnya dia memilih menonton lanjutannya sebelum menelepon Melinda.
"Peluk." Vano merentangkan kedua tangannya dan langsung di tolak oleh Melinda.
"Badan lo panas. Ogah. Tidur dulu besok aja peluknya," Vano menurut dan langsung masuk ke selimut dan kembali tenang. Melinda mengambil termometer yang tadi sudah terpasang di mulut Vano tetapi tidak bisa lepas seperti ditahan oleh Vano.
" Van, lepas dulu mau ngecek suhunya." Vano tidak mendengarnya dan bergeser posisi tidur membuat termometernya terjatuh membuat Melinda menghembuskan nafasnya kasar dan memilih merangkak mengambil termometer yang ternyata terperosok kedalam tempat tidur, setelah berhasil mendapatkannya dia merangkak keluar dan mengangkat kepalanya dan entah kenapa Vano berpindah posisi lagi membuat bibir Vano mendarat tepat di pipi Melinda, Melinda terkejut dan langsung berdiri salah tingkah padahal Vano masih tertidur lelap dan tidak tau apa yang terjadi.
"Awas lo Vano kalau besok lo ga inget nyatain cinta ke gue," Melinda meneriaki Vano yang masih terlelap dan segera Melinda meraih tasnya pulang. Rekaman tersebut cukup untuk membuat pipi Vano bersemu merah segera Vano meraih kunci motornya dan bergegas menuju ke rumah Melinda sesampainya disana dia langsung meloncat turun dari motornya dan membunyikan bel rumah Melinda selang beberapa lama Melinda keluar dengan sebotol air mineral ditangannya.
"Maaf ya mas kurir paketnya banyak." Melinda membukakan pintu dan tersenyum sembari menyodorkan air mineral yang dibawanya.
"Emang muka gue kayak tukang kurir?" Ujar Vano sinis sedikit tidak terima melihat Melinda tersenyum untuk kurir.
"Lah Vano? Kan gue bilangnya ketemuannya sore. Siang ini jadwalnya sama mas kurir," Melinda terkejut dengan keberadaan Vano yang berada di rumahnya.
"Jadi pacarnya siapa? Kurir atau gue?" Vano menatap Melinda segit.
"Sejak kapan gue pacaran sama lo? Mending sama mas kurir daripada lo."
"Sejak kemarin lah," Ujar Vano percaya diri dibalas dengan tatapan bingung Melinda.
"Lo nglindur?"
"Mel, ga lucu."
"Emang gue ketawa?"
"Melindaaaa," Vano frustasi dan akhirnya Melinda tertawa puas
"Lo kalo sakit ga ada akhlaknya kan? Nglindur ga jelas." Melinda tertawa melihat Vano yang sudah kesal.
"Peluk sini, udah ga panas aku." Vano merentangkan kedua tangannya dan disambut oleh Melinda dengan cepat sekitar 15 detik berpelukan tiba - tiba muncul suara yang mengganggu mereka berdua.
" Permisi Mel, paketnya mana aja yang mau dianter?" Mas kurir yang tadi dibahas akhirnya muncul dan segera Melinda melepas pelukannya dengan Vano dan memberikan botol air tadi sembari menunjukan paket yang akan diantar "Sebelah situ mas," Vano yang melihat itu langsung menatap tidak suka merasa kurir tersebut menyukai Melinda juga.
" Udah nikah masnya ga usah cemburu," Melinda mencubit pipi Vano sembari tertawa melihat Vano melotot terus menerus.