"Kekayaan adalah proses bukan tujuan. Kebahagiaan adalah tujuan, yang tidak bisa dibeli dengan kekayaan."
***
Jimmy Edison membaca berulang kali sebuah surat kaleng yang sampai di rumahnya. Entah kapan dan bagaimana sebuah surat tak bertuan tiba-tiba ada di dalam kotak surat rumah mewah miliknya di Pondok Indah.
Jimmy telah memeriksa seluruh rekaman CCTV rumah yang merekam ke arah kotak surat itu, tapi tak satupun terlihat ada orang yang mencurigakan memasukan surat ke dalam kotak. Yang terlihat hanya beberapa kurir resmi berseragam memasukan surat-surat tagihan kartu kredit dan surat lain tentang keuntungan investasi.
Isi surat kaleng itu sangat spesifik, tampaknya penulis anonim ini mengetahui secara terperinci apa yang dikerjakan oleh Jimmy dua tahun belakangan ini.
Smart Moto Industri, adalah perusahaan motor pintar tempat Jimmy bekerja sebagai Kepala Teknisi Pabrik. Perusahaan itu memiliki banyak pesaing di dunia industri otomotif karena ada satu hal yang tidak bisa ditiru mereka.
Yaitu saat Smart Moto Industri berhasil membuat, memproduksi dan memasarkan sebuah sepeda motor bertipe Multi Pupose.
Sebuah motor dengan empat klasifikasi di dalam satu unit. Teknologi komputer pada motor itu membuat motor bisa berubah spesifikasi dalam hitungan detik.
Motor Sport, Touring, Enduro dan Urban dapat dirasakan pengendara, dengan membeli hanya satu motor.
Sebelumnya tipe motor pintar seperti itu, hanya dimiliki oleh Ducati Multistrada 950 cc, dengan harga jual 300 juta sampai dengan 700 jutaan. Bayangkan motor semahal itu, kemudian memiliki pesaing bernama SMI800 buatan Smart Moto Industri, dengan harga 100 jutaan saja.
Karuan para pesaing Smart Moto Industri menggila melihat sepak terjang itu. Kemudian melakukan berbagai cara untuk mencuri rahasia teknologi SMI800, agar mereka bisa membuat produk serupa.
Para pesaing itu rela membayar miliaran rupiah kepada siapa saja yang bisa membocorkan rahasia ide ekstrim dari Smart Moto Industri. Peluang ini yang dimanfaatkan oleh Jimmy.
Penjualan salinan dokumen teknologi SMI800 adalah usaha yang menguntungkan Jimmy selama dua tahun belakangan ini. Miliaran rupiah per bulan ia terima lewat usaha curang itu.
Yang menjadi pertanyaan Jimmy sekarang adalah, siapa orang yang tahu tentang aktivitas ini?
“Temui aku di sudut barat Pemakaman Sandiego Anumertha pada Jam 22.00 di hari Minggu, dengan uang 200.000 dalam Dolar Singapura atau aku akan memberikan informasi kepada atasan mu di SMI dan BARESKRIM POLRI. Uang itu tidak seberapa bukan, dibanding apa yang kau hasilkan selama 2 tahun ini. Jadi tidak ada tawar-menawar nilai pekerjaan ini! Tidak ada waktu untuk bernegosiasi.”
Jimmy meninjau perlahan dan seksama setiap kalimat pada surat kaleng yang diketik komputer itu. Ada sebuah frasa “tawar-menawar” di sana, yang coba dihubung-hubungkan Jimmy dengan beberapa orang di perusahaan SMI.
“Ini pasti ulah Fredi si Manajer Kontrak!”, ujar Jimmy.
Fredi Simon Peres, adalah pria kelahiran Timor Leste berkebangsaan Indonesia. Ia bergabung dengan Smart Moto Industri sejak 2 tahun lalu, sebagai Manajer Kontrak. Manajer yang bertugas mengurusi kontrak-kontrak dengan perusahaan lain serta kontrak SMI dengan para pekerja.
Fredi gemar menggunakan frasa yang terdiri dari 2 kata itu, “Wah soal Tawar-Menawar itu urusan gampang”, begitu ucapnya setiap kali ada seorang pegawai yang diberikan kenaikan tanggung jawab kerja di SMI namun tidak diiringi dengan kenaikan gaji.
Fredi sering mengeluhkan pekerjaan beratnya yang dirasa tidak sebanding dengan jumlah gaji bulanannya. itu juga jadi alasan mengapa ia dikenal sebagai Manajer yang tidak pernah memperjuangkan upah layak untuk para pekerja.
“Mungkinkah Fredi dalang di balik surat kaleng ini, kata-kata ini tidak mungkin digunakan secara kebetulan.”, ucap Jimmy dalam hati.
Jimmy melihat ke arah arloji Rolex miliknya, dan mempertimbangkan waktu tempuh dari rumahnya menuju Pemakaman Sandiego Anumertha. Arloji mewah itu masih menunjukan pukul 8 malam. Sementara dari rumahnya menuju ke pemakaman itu hanya 30 menit.
Karena masih banyak waktu yang dimiliki Jimmy hingga pukul 22.00 malam ini, ia bersiap-siap sebelum melakukan pertemuan itu.
Jimmy masuk ke dalam gudang di belakang dapur rumahnya dan melepas beberapa batu bata yang tersusun di tembok gudang itu. Batu-batu itu rapuh karena hanya menggunakan sedikit semen saja.
Jimmy tidak pernah berniat menyusun batu itu secara permanen karena sesuatu yang disembunyikan di balik tembok rapuh itu. Bertumpuk-tumpuk uang tersimpan rapih di sana.
Tumpukan uang terbungkus rapih di dalam plastik. Tumpukan itu disusun sesuai mata uangnya masig-masing. Entah berapa nilai semua uang yang disembunyikan Jimmy di sana.
Jimmy mengeluarkan plastik besar berisi tumpukan mata uang Dolar Singapura.
Ia mengeluarkan sejumlah tumpukan kecil, lalu menghitung mereka hingga mencapai 200.000 Dolar Singapura.
Kemudian sisa uang lainnya ia masukan lagi ke lubang tembok itu, lalu ia susun lagi batu-bata untuk menutupnya.
Setumpuk 200.000 Dolar Singapura ia masukan dalam ransel berbahan jeans warna biru. Jimmy juga memasukan senter ke dalam tas itu.
Jimmy melanjutkan persiapan dengan melangkah ke depan lemari dari kayu jati, yang terlihat sangat tua namun tetap kokoh.
Jimmy membuka lemari jati itu dan terlihat setumpukan baju-baju wanita yang sudah sangat lusuh. Itu pakaian milik mantan istrinya yang sudah 5 tahun ini menghilang, meninggalkan Jimmy dalam keadaan miskin dan hampir bangkrut.
Jimmy menarik semua tumpukan baju berdebu itu bersamaan, hingga seluruh tumpukan terjatuh di lantai gudang serta debu beterbangan, mengepul bagai kabut di gudang sempit itu.
Jimmy mengibaskan tangannya menghalau debu yang terbang, sambil menutup mulut dan hidungnya dengan sapu tangan.
Saat semua debu yang terbang itu mendarat lagi di sudut-sudut gudang itu, terlihat sepucuk senjata api warna hitam, merek Glock dengan magazine penuh oleh peluru berukuran 9 milimeter.
Senjata api itu tidak mungkin terdaftar atas nama siapapun, karena Jimmy membelinya di pasar gelap. Ia tidak pernah menggunakan senjata api itu, namun tampaknya situasi akan berbeda malam ini.
Jimmy menghela nafas saat mengangkat senjata api illegal itu dan memasukan magazinenya yang terisi penuh. Kemudian Jimmy menyelipkan senjata api itu di pinggangnya, di antara celana jeans yang ia kenakan.
Jimmy melempar ransel berisi uang ke dalam sedan mewah berwarna hitam miliknya. Ia berangkat menuju Pemakaman itu lebih awal, agar bisa mengelilingi wilayah itu beberapa kali guna memastikan situasi.
Jimmy sampai di Pemakaman Sandiego Anumertha pukul 21.00, tepat satu jam sebelum janji pertemuan itu. Ia parkir di sebuah sudut di luar pagar pemakaman itu lalu keluar mobil, mengendap perlahan dengan ransel yang berisi uang.
Pemakaman itu selalu sepi tanpa penjagaan dan tidak pernah terkunci, satu hal yang membuat Jimmy yakin sang pemeras adalah orang sekitar sini karena lokasi yang dipilih sangat medukung untuk melakukan pemerasan.
Jimmy masuk lewat pagar yang tidak terkunci, ia mengeluarkan senter dari dalam ransel dan berjalan menuju sisi barat pemakaman.
Saat sisi Barat pemakaman itu sudah dekat, Jimmy mematikan sinar senternya agar tidak menjadi perhatian si pemeras.
Ia melanjutkan berjalan perlahan-lahan. Peluhnya menumpuk di dahi, saat ia berjalan melewati sela-sela batu nisan.
Tangan kirinya memegang senter yang tidak lagi bersinar di tengah wilayah gelap, sementara tangan kanannya terus bersiap memegang gagang pistol yang terselip dipinggang.
Terlintas dipikiran Jimmy, jika perlu ia akan membunuh Fredi agar ia bisa tetap diam. Jimmy yakin ia mampu melakukan itu, karena situasinya mengharuskan.
“Tapi apa aku memang harus melakukannya?”, ungkap Jimmy dalam hati.
“Aduh..”
Jimmy tersungkur, kakinya tersangkut pada sebuah batu nisan yang tak terlihat. Lututnya terasa sangat sakit dan ia yakin lutut itu robek hingga berdarah saat tangannya meraba dan terasa ada cairan.
Saat Jimmy mengusap sambil merintih yang tak bersuara, pandangnya sangat dekat dengan batu nisan yang membuatnya tersungkur. Jimmy akhirnya bisa memastikan apa yang tertulis pada batu nisan itu, dengan waktu kematian pemiliknya yang relatif baru. Ia mengenal nama pada batu nisan itu.
“Apa-apaan ini?”, gumamnya kaget.
Batu nisan itu bertuliskan, “Fredi Simon Peres Lahir: 20-02-1975, Wafat: 01-01-2020.”
“Tidak mungkin, apa benar Fredi ini sudah mati?”
Saat Jimmy mulai bangkit dari kejatuhannya, ia berusaha keras untuk meninjau lebih lanjut tentang apa arti situasi ini sebenarnya. Jelas bukan Fredi yang memerasnya.
“Jika bukan Fredi, lalu siapa?”
Tanpa peringatan, Jimmy mendengar suara lembut keluar dari kegelapan. Suara itu terasa sangat familiar untuknya, meski ia sendiri tidak percaya.
“Haloo Jimmy.”
“Jenny?”
Seorang wanita mengenakan switer hitam dengan penutup kepala dan jeans berwarna gelap keluar dari bayang-bayang. Jimmy berusaha menegaskan pandangnya pada wanita itu. Ternyata benar, itu Jenny istrinya yang pergi meninggalkannya dalam keadaan hampir bangkrut 5 tahun lalu.
Wanita yang pergi tanpa berpamitan itu kini hanya berjarak 5 langkah saja darinya. Jimmy berusaha untuk percaya bahwa itu istrinya yang minggat, tapi tetap saja itu tidak masuk akal baginya, karena polisi saja tidak bisa memastikan wanita itu masih hidup atau tidak hingga hari ini.
“Jenny, kemana saja kamu 5 tahun ini? Apa yang kamu lakukan di sini?”
Wanita itu mengabaikan pertanyaan pertama, sambil memikirkan bagaimana cara ia menjawab pertanyaan kedua.
“Kenapa aku di sini? Aku di sini untuk mendapatkan apa yang pantas aku terima…”
Jimmy semakin bingung, ia berpikir keras untuk menafsir jawaban itu. Biasanya Jimmy tidak pernah bingung untuk berdiskusi dan berdebat dengan wanita. Tapi situasi ini benar-benar membuat seluruh keahlian itu menghilang.
Sesaat kemudian Jimmy baru sadar bahwa Jenny adalah pengirim surat kaleng itu. Mudah saja kalo begitu pikir Jimmy. Dia tinggal menyerahkan uang di dalam tas itu lalu pergi.
Jimmy hanya perlu kepastian saja dari Jenny bahwa hanya uang itu yang ia inginkan,
“Apa tepatnya yang kamu inginkan Jenny? Ini ambil saja!”, kemudian Jimmy melempar ransel berisi uang tepat ke depan Jenny.
Anehnya Jenny bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah ransel itu mendarat.
“Jadi menurut mu, itu yang aku inginkan? Kamu pikir itu saja yang pantas aku dapatkan ? Memang kau benar-benar pria brengsek Jim..”
Dengkul Jimmy mulai terasa lebih sakit saat ia mendengar makian dari mulut mantan istrinya.
“Lalu apa yang kau inginkan ?”
Jimmy melihat tangan kanan Jenny mengeluarkan sebuah Revolver berwarna hitam.
Situasi itu sangat gelap, Jimmy tidak bisa melihat air mata keluar membasahi pipi mantan istrinya. Namun tangan kiri Jenny terlihat menyeka wilayah di wajahnya, hingga ia sadar bahwa Jenny sedang menangis.
“Jim, aku selalu mengalah dengan sikap egois mu selama bertahun-tahun pernikahan kita. Kau selalu memaksaku untuk memuaskan mu secara seksual, kapan pun kau mau, tidak peduli saat aku lelah atau bersedih. Lalu kau mengacuhkan diriku saat kau tau aku tidak bisa memberi mu keturunan. Setelah semua itu, lalu kamu pikir aku hanya perlu semua uang itu ?”
Jenny tampak menarik nafas dalam-dalam, “Pergilah ke neraka Jim!!!”
Jimmy tetap bersikap tenang, dengan perlahan dia berusaha menggapai Glock yang terselip di pinggangnya. Namun ia berhenti saat dia merasa seperti ada sesuatu di punggungnya.
Dengan cepat ada tangan orang lain yang menyambar pistol di pinggang Jimmy.
Jimmy berbalik untuk memastikan siapa yang ada di belakangnya. Seorang pria yang terlihat baru saja tumbuh dewasa, dengan rambut sepanjang pundak, dan tindikan di telinga kanan, melotot ke arah Jimmy, sambil memegang pistol berwarna hitam yang sejak dari rumah ada di pinggang Jimmy.
“Apa-apaan ini?”
“Perkenalkan rekan ku malam ini, Minggus. Dia ada di sini membantu ku membuat liang kubur untuk mu Jim. Dengan senang dia membantu ku dengan bayaran 75% dari yang ada di dalam ransel ini.”
Minggus tersenyum angkuh sambil mengarahkan Glock itu ke dada Jimmy, “tugas mudah dengan Bayaran besar bukan?”
Minggus tertawa sambil mengokang pistol itu sebagai persiapan.
Jimmy berkeringat dan dengan cepat mengajukan pilihan,
“Jenny, tolong kamu agak rasional donk”, pinta Jimmy sambil menatap mantan istrinya.
Jenny hanya menggelengkan kepala, “sekarang bukan jamannya untuk bertindak rasional Jim!”
Kemudian Minggus menyemburkan 3 peluru ke arah dada Jimmy dengan cepat. Jimmy yang malang itu terhempas masuk ke dalam liang yang sudah disiapkan. Liang kubur tepat di samping milik Fredi Simon Peres.
Minggus tertawa puas melihat dahsyatnya peluru yang ia semburkan menerjang dada Jimmy.
Minggus mengalihkan pandangnya ke arah Jenny untuk memulai bicara, sayangnya ia tidak pernah sempat menagih pembayaran pada Jenny.
Wanita licik itu meluncurkan 2 peluru dari revolver hitam yang ia curi dari gudang Jimmy 2 hari lalu ke dada pria besar berkulit hitam itu.
Minggus langsung terperosok ke dalam liang kubur yang ia siapkan sendiri, menumpuk jasad Jimmy yang lebih dulu masuk.
Minggus terlihat mengerang sesaat lalu ia kehilangan nyawanya.
Sang wanita licik bernama Jenny Puspasari itu, pergi meninggalkan pemakaman itu dengan ransel berisi uang yang cukup membiayai pengasingan dirinya.
Jenny pergi, meninggalkan lokasi dua mayat yang sudah diaturnya sedemikian rupa, sehingga dua mayat itu memegang pistol di tangannya masing-masing.