" Tidaaaakkk.." , teriakku, terbangun dari tidurku. Keringat dingin bercucuran membasahi kepalaku, dengan jantung yang berdebar.
Entah sudah berapa kali, aku selalu seperti ini setiap malam, mimpi itu selalu datang menghantuiku.
Ku ambil air minum yang sudah aku siapkan di atas meja samping tempat tidurku.
Sejak kejadian itu, kondisi psikis ku terganggu, bahkan aku sampai pergi ke psikiater untuk berkonsultasi, tapi aku tetap diam, membungkam mulutku rapat rapat.
***
Orang orang mengira aku gila, karena sering terlihat ketakutan. Apa mereka tidak melihat, apa yang aku lihat?.
" Pergi...pergi .!.",teriakku histeris, sambil menutup mataku, ketika sosok itu terus menghantuiku..
Dia sangat mengerikan, dan selalu muncul dengan tiba tiba di hadapanku, di sampingku, bahkan terkadang mengagetkanku dari belakang.
Aku duduk di pojok kamarku, dan kata ibuku, wajahku sangat pucat.
" Mira...apa yang terjadi , Nak,.. , apa yang kamu lihat."
" Tidak...jangan ajak aku,...aku tidak mau ikut denganmu...pergi...jangan dekati aku..!"
Aku mengusirnya supaya menjauh dari diriku, sambil teriak, karena dia tidak mau menuruti perintahku..
" Tidak...jangan bawa aku ke alammu!",
"Aku mau tetap di sini, menyingkir dariku.."
Dia menarik narik tanganku, aku meronta agar tanganku di lepaskan olehnya.
" Hah..hah..hah.." , nafasku tersegal segal, kala dia terus mendekatiku....
Aku beringsut ke belakang, sangat ketakutan
Aku takut...aku sangat takut, wajahnya sangat mengerikan, ada darah di mulut dan telinganya..
Tiba tiba , aku di tangkap oleh bapakku dan beliau mengikat badan dan tanganku , lalu juga kedua kakiku. Aku tidak bisa bergerak, aku meronta.
" Lepasin..lepasin...eh..." Aku memberontak, dan melawan.
" Kenapa kalian mengikatku," bathinku ingin mengutarakan penolakan, tapi mulutku tak mampu berkata demikian.
" Anak kita ini sudah gila bu,..entah makhluk apa yang merasukinya." ucap ayahku, dengan sedih dan iba.
Aku adalah putri satu-satunya dari mereka, dan harapan mereka, tapi kini, mereka hanya bisa pasrah dengan keadaanku.
***
Malam ini gelap, ketika aku membuka mataku, kenapa ibu tidak menyalakan lampu kamarku, dan kenapa juga tidak melepas ikatanku.
" A....A...A..." , aku berteriak memanggil mereka, hanya kata itu yang mampu ku ucapkan, semenjak kejadian itu.
" A..A...A..." Kembali ku ulangi, supaya mereka mendengarku..
degg..
Jantungku berdebar keras ,ketika sosok dirinya datang lagi menghampiriku. Aku terkejut, mataku melotot, dan mulutku terbuka ..
" hah.hah.hah.." Aku megap megap, sangat takut.
Dia membuka telapak tangannya ,mendekatiku dengan pandangan menyeramkan.
"Kamu harus ikut mati denganku..." ujarnya, dengan nada tertahan.
Dia mendekat, dan terus mendekat..akan mencekikku.
Aku segera menjatuhkan badanku ke lantai, menghindari tangannya menjangkau leherku.
Dia segera menunduk ,tangannya kembali akan menjangkauku.Aku kembali menghindar ,menggulingkan badanku ke lantai sebanyak tiga kali dengan cepat.
Kini matanya melotot kearahku ,dengan wajah geram dan menggerang Dia segera berlari kembali meraih badanku yang masih terikat dengan tali, seperti ulat.
Aku terpojok karena membentur tembok, kini dia dengan mudah mencekik leherku.
" Aaaak..aakkk..."
Mataku melotot, karena leherku tercekik. Aku berusaha berkata kata, menjelaskan ketidak sengajaanku, agar dia tidak salah paham lagi padaku.
" Aakk..akuuu...tiikkk..tiidak membunuhmuuu...aaakuu..tiidaak sengaja mendorongmu ke jurang ...aku..tidak sengaja melakukannya..."
Tapi sepertinya percuma karena dia sudah mencekik leherku dengan sangat kuat.
***
Bayangan itu melintas dalam ingatannku, sebelum peristiwa itu terjadi. Kami pergi camping bersama di malam tahun baru, tapi aku tidak sengaja mendorongnya, ketika kami bersenda gurau di tepi jurang yang penuh dengan bebatuan. Dia meninggal dan aku tetap bungkam , karena aku takut di tuduh pembunuh oleh pamanku sendiri.
Pamanku sudah banyak membantuku dan keluargaku, paman juga yang membiayai sekolahku. kami berhutang budi padanya, tapi aku malah membunuh anaknya.
Aku takut paman akan membenciku, dan memilih menyimpan kenyataan ini sendiri.
***
Lampu kamar kemudian menyala , ibu dan bapak datang menghampiriku.
" Mira....,apa yang terjadi," ucap ibu dengan panik, melihat keringat bercucuran di wajahku.
" Iii..iibu...iiii..iibu...aaakuu..tiiidaaak....." Aku tidak bisa melanjutkan, dan semua gelap, lalu di dunia lain , kini aku berada..
Dia tertawa keras..nampak sangat senang....
***