Malam yang gelap, menyibakkan udara yang begitu dingin hingga ke pori-pori. Di sebuah gedung sekolah yang sengaja tidak diberikan lampu, saat ini sedang mengadakan sebuah acara. Acara rutinitas tiap tahun yang dilakukan senior kepada juniornya untuk melatih kepeminpinan dan mengasah keberanian.
Tepat pukul dua belas malam waktu Indonesia bagian barat, para siswa sekolah menengah atas yang menjadi peserta acara itu tengah duduk berkumpul dengan kaki bersila dan barisan teratur di pelataran lapangan.
"Hani sekarang giliran kamu" salah satu senior laki-laki yang menjadi panitia itu berkata. Jantung Hani berdetak kencang, pasalnya ia sangatlah penakut.
Bagian acara yang dinamakan 'jurit malam' adalah acara puncak dari runtutan kegiatan ini. 'Jurit malam' kali ini dilakukan dengan cara menemukan potongan bahan kain kafan yang berwarna putih, yang tersimpan disebuah kamar mayat. Panitia sudah mempersiapkan kelas menjadi sebuah kamar mayat yang menyeramkan dan mencekam.
Dengan tidak adanya penerangan, Hani dan senior laki-laki itu melangkah menuju lantai dua. Langkah Hani diiringi langkah kaki senior laki-laki itu dibelakangnya dengan membawa lampu senter berukuran sedang. Sesampainya diruang kelas, Hani dipersilahkan untuk masuk sendiri.
"Daaaar" suara seorang panitia yang dibentuk menjadi pocong dengan lampu senter dipantulkan kedagunya, mengagetkan Hani yang baru saja membuka pintu kelas.
"astaghfirulloh" teriak histeris Hani melihat wujud sang panitia itu. Dengan tetap mencoba berani, Hani melangkahkan kakinya lagi, kali ini gerakan kakinya lebih cepat mencari-cari keberadaan benda yang dituju. Didepannya sudah tergeletak dua orang mayat yang dibuat persis seperti mayat sungguhan. Hani meraba dibagian bawah tubuh si mayat satu persatu, namun tak disangka pada mayat kedua yang Hani raba justru terbangun tiba-tiba, membuat jantungnya seolah ingin melompat.
"Ibu...." teriak Hani lagi, melihat wujud dihadapannya.
Waktu Hani tinggal lima menit untuk bisa menemukan benda itu.
Tak diduga, ada seorang panitia yang memberi tahu keberadaan si 'potongan kain kafan' itu. Ia langsung memberikan pada Hani dan menyuruhnya untuk segera keluar. Entah siapa laki-laki itu? Yang pasti, setelah acara ini, Hani akan mencarinya. Karena Hani masih anak kelas sepuluh dan baru masuk ke sekolah ini, sehingga ia belum mengenal betul pada senior-senior diatasnya.
Hani Pradipta anak bungsu dari tiga bersaudara, Ia mempunyai kakak laki-laki yang sudah menikah dan kakak perempuan yang sedang melanjutkan pendidikan diperguruan tinggi swasta biasa. Hani lahir dari keluarga berdarah pasundan yang kental keagamaannya. Walaupun tidak ada satupun anak dari keluarga Hani yang mondok alias pesantren, namun orangtua Hani sangat lekat mengajari anak-anaknya dalam hal agama.
Hani tidak mengenakan hijab, gayanya tomboy dengan rambut yang selalu dipotong pendek diatas bahu. Kulitnya kuning langsat, tubuhnya tidak kurus dan tidak terlalu gemuk. Dan itu, dadanya agak sedikit besar dari anak ABG seumurnya, membuatnya selalu memakai kaos oblong laki-laki yang longgar. Karena baginya itu adalah aib yang harus disembunyikan dan tidak boleh dilihat oleh orang lain.
Di kelas Hani dan teman-teman yang duduk dibelakang tengah bersenda gurau sambil menunggu kedatangan guru pelajaran selanjutnya. Suara tertawa mereka bergelegar mengundang rasa tidak suka dari teman yang lain.
"Bisa diam ga sih, berisik banget" teriak salah satu temannya yang duduk paling depan. Sepertinya sudah menjadi budaya, jika anak yang duduk dibangku depan adalah anak pintar dan alim.
Bagaimana tidak, mereka yang perempuan hampir semua berhijab dan yang laki-laki memakai celana panjang diatas mata kaki. Mereka juga mengikuti kegiatan Rohis atau Rohani Islam disekolah.
"Ish apaan sih lebay banget." Kata Rayya teman sebangku Hani.
"Iya tau deh yang alim dan ga pernah berisik." Sambung Doni , lelaki yang duduk dibelakang Rayya dan Hani.
"Cuekin aja, hidup mereka ga asik jadi kaya gitu bawaannya tegang mulu" ucap Hani yang diiringi gelak tawa teman yang lainnya sambil berkata, "betul banget Han" "hahahahhaha".
"Nisa, mau kemana?" Suara lembut dan menggoda dari Arya, lelaki tertampan dan tertajir di angkatan kelas sepuluh yang kebetulan berada di kelas Hani.
Nisa menjawab pertanyaan Arya dengan sebuah senyuman manis.
"Ish ganjen banget tuh cewek," kesal Rayya yang melihat adegan itu.
"Biarin aja sih, kenapa jadi lo yang kesel deh." Alis Hani bergerak keatas meminta pembenaran bahwa temannya ini sedang cemburu.
"Nisa cakep koq, gue juga kalau jadi cowok pasti naksir," Hani menambahkan perkataannya.
"Bukan cakep ya tapi sok cakep," jawab Rayya menampilkan wajah cemberut.
Nisa gadis cantik dengan hijab yang menutupi dada, ia sering menjadi sorotan oleh kakak senior laki-laki semasa orientasi sedangkan Arya sering menjadi sorotan senior perempuan, membuat keduanya mendadak famous di angkatan Hani.
Diam-diam Hani mengagumi sosok lembut dan anggunnya Nisa. Nisa tidak satu kelas dengan Hani, kelas Nisa persis disebelah kanan kelas Hani.
Teeeeet.. bunyi bel sekolah, mengakhiri kegiatan belajar mengajar hari ini.
"Lo mau masuk kegiatan apa Han?" tanya Rayya disela-sela kesibukan keduanya merapihkan buku kedalam tas.
"Belum tau Ray, kalau lo?" jawab Hani.
"Gue mau masuk paduan suara aja, gue suka nyanyi hahahahha."
Setelah keluar kelas, Hani menuju masjid sekolah untuk menunaikan sholat zuhur. Selama di dalam masjid, Hani mengamati orang-orang didalamnya. Tepat sekali, ternyata mayoritas isinya adalah anak-anak Rohis. Hani mengedarkan pandangannya, disisi shaf pria dan wanita, ada yang sedang mengaji, ada yang sedang bercengkrama dengan begitu ceria, dan ada juga yang sedang diskusi. Terbesit keinginan di hati Hani untuk menjadi seperti mereka.
Setelah selesai sholat, Hani tidak segera meninggalkan masjid. Tak lama kemudian, lelaki yang dikenal dari kelas dua belas itu berkata menggunakan mikrofon masjid "asslamualaikum, mohon perhatiannya," diiringi temannya yang sedang membuka tirai pembatas.
"Saya dari kegiatan Rohis ingin memperkenalkan diri, nama saya Adit, kebetulan saya ketua Rohis tahun sebelumnya, ketua Rohis tahun ini sedang berhalangan hadir karena sakit, dan saya akan memperkenalkan teman-teman lain yang bertanggung jawab disini," lantang suara Adit terdengar.
Hani yang masih berada di masjid, mau tidak mau mengikuti acara tersebut. Padahal tidak ada di kamusnya akan mengikuti kegiatan rohis di sekolah yang baru beberapa minggu ia masuki.
Tidak ada yang Hani kenal disana, yang ia kenal hanya Nisa, itupun jika Nisa juga mengenalnya, namun rasanya tidak. "Hai Nis?" Sapa Hani yang kebetulan duduk bersebelahan.
"Kamu yang satu kelas dengan Arya ya?" Tanya Nisa dengan wajah yang manis.
"Iya benar, gue Hani," jawab Hani.
"Arya sering ngejar-ngejar aku tuh, dia suka anter aku pulang." Tiba-tiba Nisa berkata demikian.
"Oh ya," jawab singkat Hani.
'Wew.. nih orang mau curhat apa nyombongin diri ya' batin Hani.
"Terus, kamu tau kak Dimas, anak kelas sebelas yang ganteng. Dia juga suka godain aku dan ngajak aku pulang bareng," celoteh Nisa lagi.
"Hmm..." hanya itu yang keluar dari mulut Hani, bingung ingin menanggapi apa.
"Aku bingung mau pilih kak Dimas apa Arya? Akhirnya aku pilih Arya aja deh." Mata Nisa berbinar dan langsung membuat Hani terkejut.
"Jadi lo sekarang udah pacaran sama Arya?" Tanya Hani.
"Iya," jawab Nisa.
Nisa berceloteh dalam batinnya 'pacaran? kirain orang seperti Nisa anti pacaran, ternyata sama aja'.
Disela-sela obrolan Hani dan Nisa, datang seorang perempuan dengan pakaian yang sama seperti Nisa. Perempuan itu langsung mengajak ngobrol Nisa tanpa menyapa orang disebelah Nisa. Nyesek ga sih, dikacangin.
Hani seperti alien, orang asing yang datang dari belahan dunia antah berantah. Tak ada yang menyapanya dan tak ada yang mengajaknya berbincang walau sesaat.
'Fix gue salah kagum sama Nisa, mereka eksklusif banget sih, merasa paling oke aja, gimana orang luar akan mengenal islam lebih dalam kalau orang-orangnya seperti itu.' Hani terus bergumam sendiri setelah meninggalkan masjid, sambil memakai sepasang sepatunya.
"Ya am...pu...n," teriak suara ibu.
"Apa sih bu ngagetin aja," ucap Hani yang sedang memasang poster AC Milan di kamarnya.
"Ini kamar jadi berantakan begini sih, poster bola dimana-mana." Ibu terus saja mengoceh, namun Hani tetap melakukan aksinya dengan menampilkan jejeran giginya.
Hani penggemar Rossaneri, julukan tim kesebelasan yang berasal dari negara Italia itu. Ia sangat menyukai Paolo Maldini, kapten dari tim tersebut. Pembawaan sang kapten yang tenang, merupakan tipe-tipe lelaki yang ia cari.
Ish kok Paolo Maldini sih? Jadul banget. Yap, maaf teman-teman, Hani remaja berada di tahun awal 2000an.
"Masak apa bu?" tanya Hani setelah keluar dari kamarnya.
"Dadar telur," jawab ibu. Kemudian ibu berkata lagi "telurnya sudah ibu belah jadi empat, kalau mau nambah cuma boleh satu."
"Oke bu." Pasalnya Hani tipe anak yang suka menghabiskan lauk tapi tidak dengan nasinya.
****
Di sekolah, tepat pukul sepuluh waktu Indonesia bagian barat, guru yang harusnya mengajar di kelas Hani sedang berhalangan hadir karena sakit. Hani memilih duduk dipojok sambil mendengarkan discman milik Rayya.
"Perhatian sebentar," suara milik guru BK.
Rayya mengadukan sikunya dengan siku Hani, tanda peringatan agar Hani tidak lagi menggunakan discman. Hani dengan cekatan, langsung menerima sinyal Rayya. Ia melepas alat itu dari ditelinganya dan memasukkannya kedalam tas.
"Hari ini, ibu bersama senior kalian disini akan melakukan pemeriksaan," ucap guru BK itu.
Ini adalah pemeriksaan rutin setiap bulan yang dilakukan sekolah untuk kesopanan siswa dalam hal berpakaian, artinya siswa itu tidak memakai seragam yang sempit dan rok yang pendek. Pemeriksaan ini juga berlaku untuk siswa yang memakai aksesoris yang tidak layak, seperti gelang tangan dan gelang kaki dari rantai, besi atau bahan, juga hal lainnya yang diluar dari atribut sekolah.
Jika kedapatan hal-hal yang disebut tadi pada saat pemeriksaan, maka siswa tersebut akan diboyong keruang BK, diberi wejangan beberapa jam, hingga kantuk-kantuk mendengarnya. Dan, jika dalam bentuk barang, maka barang tersebut akan disita.
Mendengar ucapan guru BK itu, suara kelas langsung riuh. Siswa lainnya terlihat panik. Hani masih tenang, tiba-tiba ada beberapa lembar kertas yang sudah digerakkan estafet, kemudian sampai ke tangan Hani tepat disaat guru BK sudah mulai berjalan dari bangku depan ke bangku belakang. Tetapi, bukan pada barisan tempat duduk Hani.
"Apaan nih," tanya Hani pada Doni yang duduk didepannya. Pasalnya Doni orang terakhir yang menyerahkan kertas itu pada Hani.
"Udah lo pegang aja," ujar Doni.
"Emang ini apaan," bisik Hani penasaran.
"Udah jangan dibuka, pegang aja." Kata Doni dengan wajah tetap liru kedepan.
Akhirnya Hani tetap membuka keempat lembar kertas itu. "Wah, gila." Hani kaget dengan apa yang ia lihat. Ternyata empat lembar kertas itu berisikan foto Madonna dengan Silvester Stalon tanpa busana.
Dengan lihai dan cekatan Hani langsung membuang keempat kertas itu ke jendela yang kebetulan berada persis disamping kanannya. Mata Hani tidak beralih dari guru BK itu, sambil tangannya menjulur ke jendela.
"Haaahh," Hani menghela nafasnya dengan kasar, sambil mengurutkan tangan ke dadanya.
Setelah guru BK keluar dari kelas, Hani langsung mentoyor kepala Doni dan berkata "gila lo, mau ngejebak gue, itu kertas siapa punya lagi?".
Doni dan Rayya tertawa terbahak-bahak "gue juga ga tau Han, itu punya siapa".
Malik, siswa yang paling jarang bicara di kelas, menghampiri Hani dan Rayya. "Mana kertas tadi?".
"Ooo.. itu punya lo, hampir aja si Hani yang kena," jawab Doni.
"Udah gue buang disamping." Kata Hani memalingkan ke arah jendela.
Teeetttt.. bunyi bel sekolah, mengakhiri kegiatan belajar mengajar hari ini tepat pukul satu siang waktu Indonesia bagian barat.
Seperti biasa, sebelum pulang sekolah, Hani menyempatkan diri untuk sholat zuhur terlebih dahulu di masjid sekolah. Selesai sholat, Hani duduk untuk memakai sepatunya. Ternyata disebelah Hani, ada seorang pria yang sedang memakai sepatunya juga.
"Kamu anak kelas sepuluh ya?" tanya pria itu.
Hani menoleh dan terkejut, pasalnya pria itu adalah lelaki tampan kedua setelah kak Dimas dari kelas sebelas.
"Iya," jawab Hani menampilkan senyum manisnya.
"Hmm.. kenalin gue Angga." Angga mengulurkan tangannya dan langsung disambut oleh Hani. "Oh, gue Hani."
"Lo anak rohis?" tanya Angga lagi. Hani langsung menggelengkan kepalanya dan berkata "emang cuma anak rohis yang sholat?" Hani tersenyum.
"Bener juga sih, hahahahaha," jawab Angga memperlihatkan gigi rapihnya.
"Btw, lo udah punya buku." Tatapan mata Angga masih tertuju pada Hani. Namun, Hani masih menunduk mengikat tali sepatunya.
"Belum."
"Kalau belum, lo mau pakai buku gue?" Hani langsung duduk tegap dengan menerima tatapan Angga.
"Beneran?" tanya Hani.
"Gue tanya, lo malah balik nanya. Beneranlah, besok gue bawain semua."
Wew... jangan tanya hati Hani seperti apa sekarang.
"Oiya." Angga yang sebelumnya hendak berdiri, kemudian duduk lagi "habis ini langsung pulang?". Hani mengangguk "iya."
"Bareng gue ya". Angga langsung berdiri.
'Sumpah gue mimpi apa semalam." Batin Hani riang.
Hani berjalan beriringan dengan Angga, membuat dirinya merasa bangga. Sepanjang jalan menuju gerbang sekolah, Hani menjadi pusat perhatian. Hani rasa, Rayyapun memperhatikannya, karena saat itu Rayya tengah latihan paduan suara di lapangan yang kami lewati. Dan Rayya salah satu penggemar berat Angga.
POV Hani,
Semakin hari aku semakin dekat dengan Angga. Walau hal ini mengundang cemburu Rayya. Semakin dekat, aku semakin yakin, orang yang menolongku di 'jurit malam' itu adalah Angga. Walau kami tidak pernah membahasnya, namun aku yakin itu adalah dia.
Di saat bel istirahat, Angga sudah berdiri dibawah tangga untuk ke kantin bersama. Mengingat kelasku berada di lantai dua dan Angga berada di lantai satu.
Di saat bel pulangpun, Angga sudah berdiri di pintu gerbang untuk pulang bersama. Tak jarang ia pun selalu pasang badan, jika senior wanita dari kelasnya menindasku. Hah, berasa punya 'brother' disini.
Dan, amazing-nya, Angga tidak pernah meminta balasan atas semua kebaikannya padaku. Dia pun tak pernah menyatakan cinta padaku, membuatku semakin nyaman. Karena jika Angga mengungkapkan perasaannya, bisa dipastikan keakraban kami tidak akan seindah sekarang.
"Setelah lulus, kuliah dimana kak?" tanyaku pada Angga, ketika kami berada di toko buku untuk mencari referensi karya sastra dalam rangka menyelesaikan tugas bahasa Indonesia ku.
"Hmm... belum tau Han."
"Kenapa? Kak Angga masih bingung mau ambil jurusan apa ya?" tanyaku lagi.
"Bukan bingung ambil jurusan apa, tapi bingung biayanya Han. Karena aku tau kemampuan orangtuaku, jadi aku tidak mau memberatkan mereka. Mungkin setelah ini aku akan cari kerja, lalu kuliah sambil kerja." Angga menjawabnya dengan santai.
"Good." Kedua jari jempolku diangkat dan diperlihatkan padanya, sehingga kami berdua tersenyum.
Eits.. ada yang beda nih, sejak kami dekat, Angga tidak lagi menggunakan 'lo, gue,' dia lebih dulu menggunakan 'aku, kamu' di setiap percakapan kami. Sweet kan?.
****
Hari kelulusan Angga pun tiba, tidak ada salam perpisahan antara kami, tidak juga saling menyatakan perasaan satu sama lain. Setelah angkatan Angga lulus, dirinya bagai hilang ditelan bumi. Tak ada komunikasi karena memang saat itu gadget tidak mudah dikonsumsi.
Hari ini, jadwal terakhir ujian sekolahku. Hariku disekolah ini tinggal menghitung hari. Tak terasa sudah tiga tahun, aku disini. Padahal seperti baru kemarin menjadi peserta jurit malam.
Sreet... seseorang menarik tasku dari belakang, membuat langkahku terhenti dan menoleh.
"Eh kak Angga." Wajahku tersenyum karena sudah lama tidak bertemu dengannya.
"Aku tunggu kamu disekolah, ternyata malah udah keluar," jawabnya dengan wajah innocent.
Sumpah Angga makin ganteng, lebih klimis dan rapih. Walaupun sebelumnya dia memang selalu berpenampilan rapih dan wangi, itu yang membuatku betah jadi teman dekatnya.
"Kok bengong," tanyanya lagi padaku, sontak membuyarkan imajinasiku.
"Eh, kak angga nyariin aku?" tunjuk aku pada diriku sendiri.
"Ya iyalah, siapa lagi?" jawabnya sambil tersenyum.
"Oh iya, aku cuma mau kasih ini ke kamu." Angga memberikan dua voucher restoran jepang terkenal dengan konsep makan sepuasnya.
"Kak Angga kerja disini?" tanyaku sambil melihat dua kertas yang sudah beralih ketanganku.
"Iya, aku kerja sambil kuliah Han." Setelah menyerahkan kertas itu, ia langsung pergi dan berkata lagi "jangan lupa, diusahakan datang ketempat kerjaku ya, daagghh." Kemudian dia berlari meninggalkanku yang masih mematung.
'Dasar cowok aneh.' Batinku berkata seraya mengulas senyum.
Setahun kemudian, aku memasuki bangku kuliah. Aku masuk perguruan tinggi swasa, karena tifak mendapatkan perguruan tinggi negeri. Bagaimana ingin dapat perguruan tinggi negeri, jika pada saat akan tes, bukannya belajar malah nonton pertunjukkannya PADI di Hard Rock Cafe.
"Kita harus rapat!" Perintah Trisa sang ketua genk.
Aku, Trisa, Yulia, Fitri dan Rahma bertemu saat ospek, kemudian satu kelas dan banyak memiliki kesamaan serta kenyamanan. Jadilah kami membentuk komunitas sendiri, membuat iri orang yang melihat.
Jika di samakan dengan persahabatan dalam sebuah film fenomenal yang berjudul Ada Apa Dengan Cinta, Trisa mungkin sedikit mirip dengan peran Cinta. Pintar, memimpin dan cantik. Yulia, lebih mirip Maura, playgirl dan modis. Fitri, sangat cocok dengan Alya, pendiam dan selalu jadi pendengar yang baik. Rahma, cocok banget di sebut karmen. Gayanya yang cuek, tomboy dan blak-blakan, membuat kami terkadang sering memanggilnya dengan sebutan nama itu. Lalu aku?
"Kita lagi ngomongin apa sih?" Tanyaku kepada keempat gadis di hadapanku.
"Ya ampun Han, dari tadi lo masih ga nyambung? Kesal Yulia.
"Dasar Milly," ucap Rahma tersenyum dan di setujui ketiga sahabatku yang lain.
Aku lebih mirip Milly, yang polos dan sering tidak nyambung. Hahahahaha.. Keren kan?
Saat itu, aku dan Yulia sedang perang dingin. Iya, aku dan Yulia sedang perang dingin karena seorang pria yang bernama Boy.
Boy, pria yang aku putuskan melalui telepon karena dia yang tidak mau menepi untuk berhenti sejenak ke masjid. Boy tidak terima, kemudian beberapa hari kemudian ia jadian dengan Yulia.
Ketika mendengar fakta itu, "Kok sakit ya? Padahal kan rasa aku ke Boy dari awal memang biasa aja, ga yang suka-suka banget." Batinku.
Setelah mata kuliah terakhir selesai, kami rapat berlima di sebuah ruang kelas kosong yang jauh dari keramaian dan di pastikan tidak di pakai lagi hari itu.
"Terus gimana? Siapa yang mau mulai ngomong? Ayo Hani, Yulia?" Mata Trisa mengarah kepadaku, lalu beralih ke Yulia.
Aku hanya menunduk, begitupun Yulia.
"Ya udah sih, lo putusin kak Boy." Kata Rahma pada Yulia.
"Terus saling memaafkan." Sambung Fitri.
"Ayo donk, kita kaya dulu lagi. Ga asyik tau kalo ada yang marah-marahan gini." Lanjut Trisa berkata dengan sedikit memelas.
"Sorry Han, gw ga beneran suka sama kak Boy kok. Gue jadian sama dia karena seneng bisa jalan-jalan aja. Gue cuma manfaatin dia yang punya mobil. Kalau rasa mah ga ada." Yulia memulai pembicaraan.
"Gue ga tau harus ngomong apa." Tiba-tiba aku terisak. Entah apa yang membuatku menangis tersedu-sedu.
"Malu sekali kalau ingat itu, hahahaha..."
Fitri memelukku. Kemudian Rahma berkata, "tapi sekarang, lo udah putus kan Yul?"
Yulia memgangguk, "udah kok, gue sama kak Boy udah selesai."
Lalu, Yulia mendekat padaku dan berkata lagi, "maafin gue Han." Yulia memelukku.
Kemudian, Trisa, Fitri dan Rahma mengikuti dan berpelukan bersama sambil menangis. Entah apa yang kami tangisi? Entah apa juga yang aku tangisi? Namun yang pasti, aku berterima kasih pada Yulia, karena dari sinilah hijrahku di mulai.
"Nah gini donk, kan enak." Kata Fitri, setelah kami melonggarkan pelukan.
"Lagian ya, gue yakin tuh si Boy cuma mau bales dendam sama lo Han, karena lo udah putusin dia sepihak gitu, melalui telepon lagi. Secara, dia kan famous. Pasti ga terimalah, makanya dia jadian sama Yulia buat manas-manasin lo." Trisa berkata panjang kali lebar.
Entah mengapa? Saat itu hatiku benar-benar sakit dan ternyata rasa sakit hati itu bisa membuat organ tubuh terasa sakit. Perlahan ada saja keluhan dalam tubuhku, membuatku sering mondar mandir ke rumah sakit. General checkup aku lakukan, dan waw.. Ternyata, banyak penyakit bersarang dalam tubuhku, sesaat kuterdiam dan selalu merenung. Takut mati? Iya.
"Aku belum menjadi manusia yang baik."
"Belum pake jilbab."
"Kelakuan masih urakan."
"Apa yang aku pertanggungjawabkan nanti, ketika menghadapNya?"
Semua perkataan itu selalu seliweran setiap malam, membuatku takut dan gelisah.
****
Aku membongkar semua kerudung yang ada di lemari ibuku. Menjajalnya satu persatu di depan cermin.
"Cocok ga ya? Ah mukanya makin keliatan bulet." Gumamku.
Semua kerudung ibu, sudah berhamburan di tempat tidurku.
"Ehem.. Ada yang mau pake jilbab?" Tanya ibuku.
Aku langsung melepas kerudung yang terakhir di coba.
"Nyoba doank mi," jawabku tersenyum sambil membereskan kembali kerudung yang berantakan itu.
Fix, akhirnya aku memutuskan untuk ke kampus dengan hijab. Hari pertama berhijab membuat gempar seantero kampus, di tambah reaksi keempat sahabatku yang super heboh.
Dari awal masuk kelas itu, aku tertarik dengan sosok perempuan yang mengenakan hijab tak biasa. Hijabnya panjang dan orangnya tidak banyak bicara tetapi ketika bicara, syarat makna. Sesekali aku mencoba duduk di sebelahnya dan kami berbincang. Ia juga antusias ketika melihatku berhijab. Ia juga menjadi tempatku bertukar pikiran mengenai agama.
Aku mulai merubah gaya hijabku, yang tadinya modis dengan mengikat kerudung kebelakang, kini mulai menutupi dada. Kemudian dari celana panjang, mulai beralih ke rok panjang. Aku pun mulai nyaman, ketika di ajak kesebuah komunitas pengajian rutin mingguan. Kebersamaanku bersama Trisa, Yuli, Fitri dan Rahma semakin terkikis. Kebiasaan kami yang sering jalan-jalan setelah kuliah selesai, kini mulai sering absen karena aku lebih memilih mengikuti kajian.
"Han, apa gue harus bawa-bawa tafsir supaya lo mau ikut jalan?" Tanya Yulia dengan nada menyindir.
"Hayolah Han, lo jarang ikut nih sekarang." Kata Trisa
"Fitri sama Rahma udah nunggu kita disana," ucap kembali Yulia.
Akhirnya aku mengikuti mereka, walaupun penuh penyesalan meninggalkan kajian itu, mengingat tema saat itu adalah tema yang sedang kutunggu-tunggu.
Kemudian beberapa hari berikutnya, mereka mengajakku mengikuti demo mahasiswa. Terlihat Boy juga mengikuti acara itu.
"Ayo ikut!" Kata Rahma sambil menarik tanganku.
"Kemana?" Tanyaku bingung.
"Plis Han, ikut ya demo. Sekali lagi aja," ucap Trisa.
Karena paradigmaku yang telah berbeda sejak berhijab, akhirnya aku menarik diri dari organisasi tersebut. Organisasi mahasiswa yang menyatukan kami berlima.
Di bis yang menampung banyak mahasiswa itu, kehebohan kami berlima menjadi pusat perhatian. Boy melihatku dari atas sampai bawah, ketika kami berpapasan. Boy memandangiku dengan tatapan yang sulit di artikan. Apalagi melihat hubunganku dengan Yulia yang masih tetap menghangat, menambah keanehan di raut wajahnya. Senangnya aku melihat Boy dengan ekspresi yang seperti itu.
"Nothing to lose." Batinku sambil tersenyum.
Semakin mengenal islam, membuat hatiku semakin menghangat dan lebih tenang. Segenap cara, aku mengikat hati untuk selalu belajar dan belajar. Hingga tetangga sebelah rumah yang sudah lebih dulu hijrah mengajakku untuk mengajar di sebuah Taman Pendidikan Al-qur'an dengan sebagian siswa yang berusia 6 sampai dengan 10 tahun.
Kemudian, dari sana aku jadi lebih banyak memiliki teman dengan keilmuan agama yang luar biasa. Lalu, di pertemukan lagi dengan teman yang tidak kalah 'gokil'. Dwi, Gita dan Nisma namanya (Ini nama tidak di samarkan ya guys hehehe...). Walau di publik, kami terlihat jaga image, tetapi ketika hanya ada kami (para perempuan) akan terlihat kegilaan sesungguhnya.
Hingga kini mereka selalu menjadi 'sahabat until jannah'. Namun, tidak mengurangi silaturahimku bersama keempat sahabatku sebelumnya. Kenapa berempat? Karena Rahma alias Karmen telah lebih dulu menghadapNya. Kami juga kaget mengetahui itu. Pasalnya, setelah lulus kuliah, Rahma kembali ke kota asalnya di Kalimantan. Sehingga silatuahim kami terputus.
"Love you my best friend."
Teman rasa saudara. Memiliki kalian membuat hidupku lebih hidup. Ini adalah salah satu yang membuatku betah berada di dunia.
Tabarakallah...