Hidup yang memuakkan. Kenapa semua berjalan di luar keingginanku, di mana letak kesalahannya, apa yang aku lewatkan hingga semua ini terasa begitu hampa untuk ku.
Rumah yang terasa dingin, yang setiap hari memberiku pertanyaan apakah esok akan ada udara hangat yang menenangkan di rumah ini, orang tua yang terasa bagai orang asing bagi ku. Entah sejak kapan namun yang ku ingat mereka bahkan tak menginggat ulang tahun ku, kata-kata sayang yang mereka ucapkan terdengar hambar di telingaku, tak ada emosi yang mengalir dari kata-kata itu. Mereka terus tenggelam dan terikat dengan pekerjaan mereka dengan alasan kebahagiaan ku dan masa depan ku.
Namun bagai mana aku tau apa itu bahagia, jika mereka bahkan tak pernah memberiku kebagiaan itu sendiri.
Dan teman-teman ku yang…. Entahlah aku bahkan tek memiliki teman, mungkin karna sikapku yang dingin dan terkesan sombong di mata mereka, seluruh siswa di sekolah mulai menyalahkanku atas semua hal. Terkadang aku di bully hanya karna pakayan ku yang terbilang mahal bagi mereka, terkadang karna nilai matematika ku yang sempurna membuat mereka menganggap ku menyontek. Bahkan kini wajah dan cara berjalan ku pun di nilai buruk oleh mereka.
Dunia terus berputar dengan cara yang sama. Terkadang aku tak mengerti apa yang aku inginkan di dunia ini, semuanya terasa sangat memuakkan.
Orang-orang yang tertawa di pinggir jalan, pedagang apel yang menyambut putrinya yang pulang sekolah, sekumpulan remaja yang sibuk menceritakan teman mereka di persimpangaan, bahkan dua ekor kucing yang sedang berbagi makanan dan burung-burung yang bermanja di atas pohon membuat ku sangat kesal.
Entah sejak kapan aku mulai merasa seharusnya aku tak ada di dunia ini, atau setidaknya mereka semua tak pernah ada di dunia ku yang dingin dan gersang ini.
Malam mulai larut, akupun tertidur dengan harapan aku tak akan pernah terbangun lagi.
Sebuah mimpi aneh pun menghampiriku. Dalam kegelapan aku melihat makhluk berwarna hitam yang bahkan lebih gelap dari kegelapan itu sendiri, ia menghampiri ku dan membisikan sesuatu.
“Kau ingin menghilangkan semua orang dari dunia mu? Kenapa?” tanyanya dengan suara serak yang membuat tubuh ku berkeringat dingin.
“Karna dengan cara itulah aku bisa merasakan kebahagiaan, dan keluar dari hari-hari yang memuakkan ini,” ucap ku lirih.
“Bagai mana jika ku beri tahu jika aku bisa membantu mu mewujudkan keingginan mu itu,” bisiknya.
“Sungguh? Bagai mana caranya?” tanya ku yang mulai tertari dengan pembicaraan ini.
“Aku akan memberi mu pisau yang bisa kau gunakan untuk membunuh mereka semua tampa rasa takut atau kasihan pada mereka, jika kau memiliki sedikit saja kebencian pada mereka maka pisau itu akan menuntun mu untuk membunuh mereka.”
“Di mana aku bisa mendapatkan pisau itu” tanya ku. Tiba-tiba suasana menjadi hening.
Hingga tangan ku tergores oleh benda tajan yang tergeletak di sabelah ku yang sontak membuat ku terbangun dari tidur.
Aku menatap darah yang mengalir di pergelangan tangan ku dan mengambil pisau di sampingku. Aku cukup lama memandang benda itu, hingga suara ibu yang memanggil ku untuk sarapan membuyarkan lamunanku.
Aku duduk di meja makan dengan pisau yang masi setia di saku rok sekolah yang ku kenakan, ayah menatapku dengan tatapan kesal dan mulai mengomel.
“Kemarin guru mu menelfon ayah, katanya kau bolos pelajaran Bahasa inggris, sebenarnya apa mau mu? ayah dan ibu banting tulang untuk membayar uang les dan sekolah mu. kau bahkan di belikan semua pakayan dan peralatan yang lebih bagus dari anak-anak lain, tapi apa ini BOLOS lagi!!!” geram ayah kesal.
Seakan tak mau kalah ibu pun mulai memarahiku dengan hal yang sama dan tak memberikan kesempatan untuk ku menjelaskan. Bagaimana menderitanya aku kemarin di tindas di lapangan basket karna pakayan mahal yang mereka belikan untuk ku itu.
Rasa kesal memenuhi diri ku, tampa sadar aku mengeluarkan pisau dari saku ku dan mulai menusuk kedua orang di depan ku tampa ampun, tak ada emosi yang mengaliar dalam diriku, aku bahkan tak merasa menyesal atau sedih sama sekali.
Aku berangkat sekolah, wajah anak-anak yang membully ku kemarin tergambar kelas di ingatanku. Aku memasuki kelas dan melihat mereka berkumpul dan menatapku dengan tatapan tak suka seperti biasa.
Berbeda dari hari-hari sebelumnya, kali ini aku menghabisi mereka sengan pisu itu, tak puas dengan darah yang membasahi lantai aku mulai memotong bagian tubuh mereka untuk membalaskan kebencian yang telah menyelimuti ku selama ini.
Hari terus berlalu. Tak ada lagi orang yang menggangguku dan tak ada lagi hal yang membuat ku kesal, namun ada satu hal yang mengganjal. Rasa kesepian yang datang entah dari mana yang semangkin lama semangkin menenggelamkan ku dan membuat ku berfikir, kenapa aku belum bahagia.
“Apa yang salah, aku telah menghilangkan semua hal yang membuat ku kesal, tapi kenapa aku belum bahagia, kenapa semua masi terasa menyesakkan”
Rasa kesepian dan frustasi yang menyelimuti jiwa ku tampa sadar menuntun langkah ku ke sebuah pantai. Aku melangkahkan kaki ku memasuki lautan yang dingin.
Rasa haus dan sesak di dadaku tak lagi bisa ku kendalikan, rasa kesepian dan kehilangan mulai muncul bagai busur yang membuat air mata ku mengalir tampa bisa ku hentikan.
Perlahan aku mengeluarkan pisau itu dari saku ku dan menancapkanya tepat di hati ku untuk menghilangkan rasa sesak yang tak terbendung lagi, darah mulai mengalir mercampur air laut. Kaki ku tak lagi sanggup menopang tubuh ku yang membuat ku tenggelam dalam pelukan erat lautan yang damai, yang bahkan tak memberikan sedikit celah pun untuk ku bernafas.
“Kenapa aku tak bisa bahagia,” kata-kata itu kembali terucap tampa suara, samar-samar seakan lautan menjawap pertanyaan terakhir ku itu.
“Kau tak perlu mencari kebahagiaan itu, karna kau bisa menciptakanya jika kau bisa menerima diri mu dan mencintai semua yang kau miliki. Kau hanya fokus pada rasa kesal mu hingga mengabaikan ada banyak cinta yang kau dapatkan dari orang-orang di sekitar mu selama ini.”
Pelahan kesadaran ku mulai berkurang, air laut seakan menerobos masuk memenuhi semua rongga di tubuh ku, mengikat paru-paru ku hingga nafas ku terhenti dan harus mengucapkan selamat tinggal pada dunia ku ini.
-Tamat-