“Andai kau tahu, betapa diriku ini sangat mencintaimu dengan setulus hatiku.”
Namaku Gino, aku merupakan seorang siswa kelas XII jurusan IPA di sebuah sekolah SMA Negeri di Kotaku. Aku termasuk siswa teladan dan berprestasi. Terutama di bidang olahraga, seperti basket dan sepak bola. Sudah banyak medali yang telah aku raih lewat dua olahraga populer itu. Maka tak ayal, banyak sekali orang orang yang mengenalku dengan baik. Terutama penggemar perempuan. Setiap aku bermain, sorak-sorak nan heboh mereka selalu mengiringiku. Walau sebenarnya geli dan lucu, tapi itu adalah motivasi untukku. Sebuah peluru semangat yang selalu mereka bombardir untukku.
Dalam urusan percintaan. Jujur. Aku angkat tangan. Semenjak usiaku menginjak masa masa pubertas sampai sekarang pun aku belum pernah pacaran. Aneh memang. Bahkan karena hal itu teman-temanku selalu meributkannya. Katanya aku anehlah, bodohlah, bahkan katanya aku gak normal. Oh no! Bukan, bukan, aku hanya belum siap saja. Padahal banyak juga perempuan-perempuan yang menyatakan cintanya padaku. Tapi aku tak merasakan ada getar-getar cinta di hatiku.
Akan tetapi. Benih-benih asmara di ladang hati ini mulai tumbuh. Saat siswi baru bernama Viona hadir di kehidupanku. Dia masih kelas XI. Tapi entahlah, mungkin inikah namanya cinta? Yang ku lihat adalah sesosok siswi junior yang mempesona. Penampilannya, sederhana. Pembawaannya, tenang dan anggun. Dug! Dag! Dig! Dug! Denyut jantung ini selalu begitu kala berhadapan dengannya. Rasanya seperti ingin melayang saja.
Saat itu, adalah malam minggu. Ya, pastilah semua pada tahu kalau malam minggu itu adalah Romance Night-nya anak-anak muda. Maka dari itu ku ambil kesempatan itu untuk sekedar menemui Viona ke rumahnya. Jujur, baru kali ini aku bermalam minggu hanya untuk bertemu dengan sosok gadis yang ku sukai. Saat ku ketuk pintu rumahnya yang memiliki ukiran indah berpoleskan cat cokelat tua mengkilap, terasa mengalir di denyut nadiku sebuah sengatan listrik yang datangnya dari hati. Oh Tuhan, I’m feeling nervous. Klik! Pintu itu akhirnya terbuka. Dan, terpampang di hadapanku sosok Viona yang sudah rapi dengan pakaian sederhananya. Dengan mengenakan rok selutut, dan bajunya yang rapi ditutupi sweater pink klasik membuatku terpesona dibuatnya. Belum lagi rambut hitamnya yang panjang terurai rapi dengan hiasan bando di kepalanya menambah kesan ayu nan feminim. Dengan gugup aku menyapanya.
“A… Apa kabar?” sapaku terbata bata.
“Baik, masuk yuk!” ajaknya dengan senyum seindah pelangi.
“Ah… Di luar aja. Malu…” ungkapku masih terkesan canggung. Viona kemudian memaksaku masuk ke dalam rumahnya untuk sekedar berkenalan dengan kedua orangtuanya.
Akhirnya, kami diizinkan untuk bersama di luar rumahnya. Ternyata kedua orangtua Viona sangat baik dan ramah. Tak heran sih, anaknya saja sebegitu ramahnya. Panjang lebar kami mengobrol yang hanya ditemani sepinya malam dan dinginnya hembusan angin malam.
“Viona, aku mau ngomong sesuatu sama kamu,” pintaku kepadanya yang tampak nikmat kala menyeruput secangkir teh hangat buatannya sendiri.
“Ehm… Apa? Ngomong aja,” ucapnya lagi lagi dengan senyum manisnya. ‘Aduuhh… Lagi lagi aku membeku gara-gara senyumnya’ haha!
“Eu… Gini Viona. Sebenarnya aku… akuu… aku suka sama kamu!” ucapku terbata-bata. Ku lihat reaksinya tampak biasa saja. Senyumnya kembali terukir dengan indahnya, sepertinya aku telah menemukan keajaiban dunia dimana aku melihat pelangi di malam hari.
“Oh gitu ya. Terus?” sahutnya membuatku tambah gugup.
“Kamu mau gak… Jadi… Pacar aku?” pintaku sambil menundukkan pandanganku.
“Mmm… Maaf…” ujarnya membuatku kembali mengangkat pandanganku namun kali ini aku berani menatapnya dalam dalam.
“Maaf apa?” tanyaku.
“Maaf… aku gak bisa…” aku pun tertunduk dengan perasaan yang jatuh.
“Nolak!” seketika ucapannya itu membuat ku terkejut. Tensi darahku kembali naik dan suhu tubuhku mulai memanas.
“Maksudnya?” tanyaku setengah menghentak.
“Iya… aku gak bisa nolak!” jawabnya dengan senyuman khasnya.
“Beneran? Hah? Kamu mau?” tanyaku bersemangat sehingga tak sadar gigi-gigiku terlihat olehnya karena senyum lebar yang terukir di wajahku.
Semenjak itu hidupku serasa berwarna. Ah! Seperti terbang ke atas langit dengan ringannya. Inilah Kisah cinta pertamaku. Viona. Cinta pertama yang ku harapkan menjadi cinta terakhirku kelak. Jujur. Aku sangat senang dan bersyukur bisa mendapatkan cintanya. Aku berjanji akan selalu mencintainya setulus hati. Dan aku juga berjanji akan memberinya kebahagiaan dengan segenap jiwaku. Tanggal 24 Maret. Tak terasa hubungan kami terjalin selama 3 bulan. Aku masih saja merasakan cinta yang sama kepada Viona seperti pertama kali aku menyukainya. Banyak hari yang kami lalui dengan penuh rasa cinta.
“Kamu lihat gak bulan di atas itu?” tanyanya sambil jari telunjuknya mengacung ke arah bulan yang bersinar terang yang menggantung di atas langit malam.
“Lihat lah, emang kenapa?” aku balik bertanya.
“Ya kali aja kamu gak lihat, mata kamu itu kan sempit. Haha…” godanya dengan tawa lepas.
“Yehh… Kamu ngeledek ya? Haha,” balasku sambil menggelitiknya membuat dia kini tertawa lebar.
“Hmm… Indah ya?” ujarnya.
“Iya, eh bintang jatuh tuh!” sahutku sambil menunjuk ke arah sinar bintang jatuh.
“Iya Gi,” sambungnya. Lalu ku lihat matanya terpejam dan mengepalkan kedua tangannya di atas dadanya.
“Aku beruntung banget punya pacar seperti kamu. Aku janji Viona, akan selalu menyayangi kamu sampai kapan pun dengan setulus hatiku. Aku juga berjanji akan selalu menjaga kamu,” gumamku dalam hati kecilku yang rasanya sudah meluas diisi oleh cintanya Viona.
“Kamu berharap apa?” tanyaku terdengar bergema.
“Ahh… Kamu kepo deh,” ledeknya sambil menjulurkan lidahnya. Lalu ia pun mencubitku dan berlari. Saat itu pula aku kejar dia dengan diiringi tawa riang penuh kegembiraan. Saling kejar mengejar seperti anak kecil saja. Tak peduli yang penting ini cara kami bersama dalam membagi kebahagiaan.
“Viona? Halo!” panggilku lewat ponsel.
“Halo…” jawab Viona. Tapi, tunggu dulu. Suaranya, terdengar seperti orang lain.
“Viona? Halo, sayang! Apa Kamu sakit?” tanyaku panik.
“Halo maaf ini sama siapa?” jawabnya membuatku merasa aneh.
“Ini Viona bukan?” tanyaku.
“Bukan, ini sama Vina. Kakak siapa ya?” tanya seseorang itu.
“Ini sama Gino, Kak Vionanya ada?” sahutku.
“Kak Vionanya pergi Kak, nanti Vina kasih tahu ya,” jawabnya. Sepertinya Dia adalah adik Viona.
“Kamu adiknya Viona ya?”
“Iya,” jawabnya polos.
“Oh ya udah deh, Kasih tahu Kakaknya ya nanti,” pesanku.
“Iya Kak,”
“Bye…” tutupku. Terdengar bunyi, ‘Tut! Tut! Tut!’
Malam ini terasa sepi. Hujan yang turun terdengar menggericik memecah heningnya malam. Sambil mondar-mandir tak jelas, aku merasakan khawatir akan Viona. Kenapa aku telepon dia tak menjawab. Aku kirim pesan singkat tak membalas. Sudah 5 harian kami tak saling bertemu. Aku merasa sangat hampa. Seperti ada yang kurang dalam hidupku. Tiba-tiba ponselku bergetar. Ku lihat tertera nama ‘Viona’. Inilah saat-saat yang ku tunggu. Dengan secepat kilat, ku sambar ponselku dan menerima panggilan itu.
“Halo! Viona! Kamu ke mana aja?” tanyaku tiba-tiba karena aku sudah tak kuat menahan rindu padanya.
“Gino… aku ada kok, maaf ya gak ada kabar,” jawabnya dengan nada pelan.
“Oh… Syukurlah. Aku takut Kamu kenapa-kenapa. Kamu lagi di mana?”
“Aku lagi di rumah Tante. Gi, aku mau ngomong sama kamu,” pintanya terdengar sembilu.
“Ngomong apa?”
“Gino, makasih ya atas semua yang udah kamu beri sama aku. Makasih karena kamu selalu ada buat aku,” ucapnya membuatku tersenyum simpul.
“Iya, udah kewajibanku kan sebagai pacar kamu,” ujarku.
“Gino, maaf kita harus putusin hubungan ini,” ucap Viona mengagetkanku.
“Loh, kenapa Vi? Kenapa tiba-tiba kamu ngomong gitu? Barusan kamu bilang makasih kan?” tanyaku dengan nada rusuh.
“Iya, tapi ini udah keputusan aku. Tolong kamu hargai Gi. Maaf ya Gi… (Tut! Tut! Tut!),” tutupnya membuatku kian gusar. Aku yang merasa kebingungan bercampur sedih kecewa dan marah kemudian mencoba menelepon balik Viona. Ah! Sia-sia. Berkali-kali aku telepon, dia tak menjawab.
Pagi hari di sekolah. aku menunggu kedatangan Viona. Sambil berdiri mematung di dekat pintu kelasnya aku menunggu kedatangannya. Sesekali aku menengok ke dalam ruang kelasnya yang mulai ramai oleh teman sebayanya. “Eh, Kak Gino? Lagi nungguin siapa Kak?” sapa Erdita teman dekat Viona.
“Oh, kebetulan nih, kamu Erdita temen deket Viona kan?” tanyaku kepada Erdita.
“Iya. Emangnya kenapa Kak? Oh iya, pasti nanyain Viona kan? Kakak kan pacarnya,” ujar gadis berambut pendek sebahu itu. Dengan senyum ramahnya tampak giginya dipenuhi kawat gigi berwarna kehijauan.
“Iya. Kamu tahu gak kabar Viona?”
“Mmm… Tahu sih, tapi Kak akhir-akhir ini Viona jarang kontek aku. Dia juga jadi jarang sekolah. Kayaknya hari ini dia gak masuk lagi deh,” seru Erdita.
“Oh gitu ya. Pantesan Kakak tungguin di sini dia gak muncul juga,” sahutku sambil melirik arloji yang melingkar di tangan kiriku. “Ya udah Kak, aku masuk dulu ya ke kelas. Kakak ke rumahnya aja, kalau gak ada coba ke rumah Tantenya di Sumedang Kak,” ucap Erdita menyarankan.
“Kalau gitu makasih banyak ya. Kamu ngebantu banget. Ya udah deh Kakak juga mau masuk udah telat nih,” ujarku lalu pergi menjauhi kelas Viona. Dis epanjang lorong kelas menuju kelasku. Aku terus memikirkan Viona. Sebuah tanda tanya besar telah terukir di atas kepalaku. “Viona, Kamu ada di mana?”
Bel sekolah yang berdering menandakan bahwa pelajaran kali ini selesai. Dengan terburu-buru, ku kemas buku buku yang berserakan di atas meja ke dalam ranselku.
“Jo, hari ini ada rapat OSIS gak?” tanyaku kepada Johan selaku ketua OSIS.
“Gak ada. Tapi, Lo kan kapten basket jadi kayaknya entar sore jam 2-an bakal ada diskusi. Bentar lagi kan lomba basket antar sekolah bakal dimulai,” jelas Johan sambil membetulkan kaca mata minusnya. “Jam dua? Kok gue gak tahu sih,” tuturku agak sentimen.
“Lo budek kali, tadi kan gue umumin lewat speaker,” jelas Johan dengan senyum geli.
“Oh ya? Haduhh… Sorry deh, gue emang gak denger. Ya udah deh thanks Jo infonya,” ujarku sedikit malu. Karena memang selama di kelas tadi aku tak terlalu fokus dengan semuanya.
Masih menggunakan seragam, aku berangkat menuju rumah Viona dengan menggunakan motorku. Sesampainya, ku amati rumahnya tampak sepi. Tapi entahlah, siapa tahu Viona ada di dalamnya. “Permisi! Permisi…” ucapku bergantian dengan suara ketukan di pintu. Sekitar 10 menit lebih aku berdiri mematung di hadapan pintu rumah Viona.
KLIK!
Pintu pun terdengar dibuka.
“Cari siapa ya?” tanya seorang gadis kecil yang sepertinya Vina adiknya Viona.
“Kakak Vionanya ada gak? Ini sama Gino yang dulu di telepon itu loh…” ujarku menjelaskan diri.
“Oh iya iya, Kakak mau masuk dulu,” ajaknya dengan nada polos.
“Di sini aja gak apa-apa. Kak Vionanya?” kembali tanyaku.
“Kak Vionanya gak ada. Tadi pagi udah pergi, gak tahu ke mana,” jawabnya terdengar polos.
“Oh gitu ya. Kalau gitu makasih ya. Kakak pamit deh,” sahutku sambil mengusap-usap kepala Vina. Kemudian aku pun pergi dari kediamannya dengan perasaan hampa.
Sepulang dari rapat diskusi klub basket sekolah, aku mendinginkan kepalaku di pinggiran danau yang menjadi tempat favoritku untuk merenungkan diri. Sekitar 30 menit aku berdiam dan hanya berdiam di sana sambil memandangi pemandangan yang tersuguh. Tiba-tiba, mataku tertuju pada sesosok perempuan yang sedang duduk sendirian di bangku dekat taman yang jaraknya tak jauh dari danau. Perlahan ku amati dan…
“Viona!” gumamku dengan ceria. Batinku langsung memaksaku menuju sosoknya yang selama ini ku cari.
“Viona! Kamu di sini?” ucapku mengagetkannya. Dia memandangku dengan tatapan kaget.
“Kamu ke mana aja Vi? aku cari-cari, kamu gak ketemu gak ada kabar juga? aku mau lurusin hubungan Kita Vi,” seruku sambil menggenggam tangannya yang masih terasa lembut dan menghangatkan. Namun ia melepaskan genggamanku.
“Maaf Gino, tapi aku udah pasti dengan pernyataanku dulu,” ucapnya sambil memalingkan muka.
“Tapi kenapa Viona? Apa salah aku?” tanyaku.
“Kamu gak salah apa-apa. Tapi, emang kita harus udahan,” cetusnya membuatku merasakan sakit di dada yang teramat sangat. “Aku tahu aku gak sempurna Vi. Tapi aku udah janji bakal terus mencintai kamu setulus hatiku dan terus melindungi kamu sebisanya aku,” tuturku menjelaskan ketulusan cintaku.
“Maaf Gi, sebenernya aku juga masih cinta sama kamu. Tapi apa daya, Papaku nyuruh aku putusin kamu dan jodohin aku sama Diga anaknya temen deket Papaku. Kamu tahu kan Papaku sakit-sakitan? aku gak mau ngecewain dia. Tolong Gi! Kamu ngerti Gi! Tolong terima keputusan ini Gi! Maafin aku Gi,” aku Viona menjelaskan kebenaran dari masalah ini. Sejenak aku merenung. Ku lihat Viona menangis terisak namun tanpa suara.
“Kalau itu yang sebenarnya, aku rela kita udahan. Walau aku sakit kamu juga sama. Tapi aku bakalan sakit dan kamu bakalan lebih sakit kalau gak nurut kemauan Papa kamu itu. Asal kamu tahu Vi. Betapa aku mencintai kamu, lebih dari yang kamu tahu,” ucapku lirih lalu perlahan pergi meninggalkannya yang masih dalam tangisannya.
“Gino!” teriak Viona. Saat aku berbalik dia langsung mendekapku erat-erat. “Makasih Gi atas semuanya. Atas cinta kamu sayang kamu dan kasih kamu yang tulus sama aku. Maafin aku yang udah kecewain kamu Gi. Aku beruntung pernah jadi bagian dari hati kamu,” ucapnya penuh emosi bercampur tangis sakit penuh haru. Aku mengusap-usap kepalanya sambil menahan air mata.
Hujan di bulan Desember ini seolah menemani sepiku. Tetes demi tetesnya terdengar berirama seperti mengusir sunyi di sekelilingku. Semenjak kejadian itu, Viona tak lagi bersekolah di sekolahku. Dia pindah ke SMA di kota Lembang. Aku melangkah menuju lapangan basket di tengah derasnya hujan. Ku ambil bola berwarna merah itu dan ku mainkan permainan basket soloku dengan perasaan yang masih hancur. Karena merasa lelah, aku berbaring di tengah garis lingkaran dekat ring basket. Tetesan hujan membasahiku kian hebat. Tak peduli yang jelas hujan kali ini membuatku merasa tenang.
“Viona. Aku mencintaimu sangat tulus. Ingin ku bahagiakan dirimu sebisanya aku. Ingin ku melindungimu dalam dekapanku. Tapi inilah kenyataannya,” gumamku dalam hati sambil memejamkan mata. “Aku percaya jika kau bahagia kelak. Meski jodohku bukanlah kamu. Tapi, aku percaya jika Tuhan berkehendak kita berjodoh, suatu saat nanti kita akan disatukan kembali. Viona!”