Kenapa aku selalu merasakan rindu setiap kali hujan mulai turun. Rindu yang meraung-raung meminta pelepasannya kembali. Namun, dirinya tak pernah tahu kemana dia akan bernaung.
Hujan semakin deras mengucur. Membasahi tanah di bumi yang sedang kering kerontang. Dia memberikan kesejukan yang tidak pernah terjamah oleh air. Bau tanah yang menyengat membuatku terlena. Begitu indah apa yang diciptakan oleh Sang Penguasa Alam Semesta. Lalu, aku berkata kepada diriku sendiri, nikmat manalagi yang harus kudustakan untuk segala hal yang sudah aku miliki.
Bersyukur, ya, itulah kata yang harus selalu aku gaungkan setiap kali aku mulai mengeluh akan keadaan. Tidak ada jalan yang benar-benar mulus untuk dilewati. Tetapi yakin saja jika aku berhati-hati semua itu pasti akan terlampaui. Bukankah itu pula yang terjadi kala hujan turun. Dia selalu terjatuh berkali-kali tetapi dia tak pernah mengeluh bahkan tak pernah merasa tersakiti.
Aku menatap dari balik jendela rumahku. Menatap lurus ke depan kala hujan turun dengan hawa dingin yang menyertainya. Kubayangkan diriku berdiri di sana, dibawah sebuah payung yang menyelimuti tubuhku. Sepertinya menyenangkan melakukan hal itu.
Namun, tiba-tiba aku mulai berubah pikiran. Kenapa aku harus mencari ketenangan hanya dengan berdiri di bawah payung ketika hujan. Sedangkan diriku mampu menari bahagia di bawah guyuran hujan. Bukankah itu jauh lebih menyenangkan?
Semua lagi-lagi hanyalah sebuah khayalan. Diriku masih terpaku di dalam sebuah ruangan. Tempat ternyaman yang selalu melindungi ku dari segala terpaan yang datang. Dan juga tempat terhangat yang memberiku kebahagiaan yang mungkin juga diimpikan oleh semua orang. Tempat dimana aku pertama kali diajarkan cinta dan kasih sayang. Tempat yang tidak mungkin aku tinggalkan, meskipun aku harus merelakan sebuah hati yang terbuang.
Terkadang aku mulai merasa bosan menjadi penikmat hujan. Hanya menikmatinya saja namun tidak bisa merasakannya. Merasakan kebahagiaan yang dihadirkan kala rintik-rintik air itu mulai menyentuh kulit dan meresap ke dalam jiwa melalui pori-pori.
Kali ini aku mencoba bermain-main dengan hujan. Aku melepaskan payung yang selalu kubawa setiap kali hujan turun. Kucoba menari-nari dibawah guyuran sejuknya hujan yang mengguyur tubuhku. Awalnya aku ragu untuk mencobanya. Tetapi ternyata perasaan ini tak bisa aku cegah kedatangannya. Aku justru tersenyum bahagia dan hatiku merasa lega. Ada sebuah rasa menelusup ke dalam jiwa.
Aku tidak tahu kenapa aku begitu bahagia. Hanya dengan menari dibawah guyuran hujan saja. Sungguh sangat sederhana.
Setiap kali hujan turun, aku selalu merasa rindu. Rindu akan dirinya, dirinya yang aku cintai namun sayang tidak dapat aku miliki. Rindu yang harus aku letakkan di ruang tersendiri. Dan mungkin hanya akan kugemakan hanya untuk diriku sendiri. Aku tak berharap dia mengetahui atau nantinya aku hanya akan membuatnya semakin tersakiti.
Mencintai itu tidak selalu harus memiliki. Mencintainya cukup hanya dengan melihatnya saja. Menjadikannya sesuai dengan apa yang diimpikannya. Tidak perlu menjadi tokoh utama dalam hidupnya. Asalkan melihat dia bahagia, itu cukup sudah. Karena bagiku, mencintai bukan mengekang kebebasannya. Mencintainya adalah melihatnya bahagia.
Cukup banyak sudah yang aku bahas kala hujan dan rindu merasuk ke dalam jiwa. Kulihat sekarang hujan mulai mereda. Tinggal rintik-rintik nya saja yang masih tersisa. Dan sepertinya terdapat pelangi di balik awan sana. Seperti yang aku duga, selalu ada pelangi setiap kali hujan selesai menghampiri.
Pelangi,
Kedatangannya selalu membuat kenangan indah, meski sesaat namun kehadirannya takkan terlupakan begitu mudah.
***
END 11012021
Silakan berkomentar dibawah, dipersilahkan ☺️