Aku mencintaimu, namun aku tak bisa memilikimu. Kamu bagaikan siang dan aku adalah malam, tentu tak akan pernah bisa bersatu. Aku mengagumimu dari kejauhan, yang bisa aku perbuat hanyalah memandangmu, namun tak mampu tuk mengucap kata jika berada di depanmu. Bertahun tahun ku pendam rasa ini. Iri hati ini ketika ku melihat kau dekat dengan raga yang lain. Namun apalah dayaku yang hanya seorang pengecut yang tak mampu mengucap kata "aku mencintaimu". Ya benar kalimat itu hanya terkandung 2 kata namun, mengapa bagi ku itu sangat menyusahkan untuk kusebut?. Karna aku hanyalah seorang pengecut yang selalu bersembunyi dari kenyataan. Aku hanya bisa berlari dan berlari hingga yang menemaniku hanyalah bayangan hitam. Ya kamu bagaikan sebuah bayangan, yang bisa ku lihat namun tak bisa ku sentuh dan dapat menghilang.
Ketika aku memiliki keberanian, aku memutuskan untuk mengucap 2 kata tersebut. Ku ambil ponselku lalu ku cari kontakmu.
"Hai kau lagi apa? Apa kau baik-baik saja?"
"Ya aku baik-baik saja"
"Aku ingin bertanya. Apakah ada orang yang kau cintai selain dari keluargamu?"
"Tentu saja ada"
"Bolehkah aku tau siapa dia"
"Tentu dia teman ku"
"Apakah aku termasuk juga?"
"Tentu saja karna kamu juga tmnku"
"Apakah kamu mencintaiku?"
"Kalau kamu?"
"Hai. Tentu saja aku mencintaimu"
"Hahaha. Lelucon macam apa yang kamu katakan?
"Sudahlah angkap aku tak mengatakan apapun"
Disaat aku mengumpulkan keberanian untuk mengatakan "aku mencintaimu". Kamu malah menganggap itu hanya sebuah lelucon yang pantas ditertawakan. Hahaha apakah seburuk itu pengakuanku? Apakah seburuk itu rupaku? Aku tau aku tak secantik dia, tak semanis dia, tak sepintar dia. Tapi apakah susah bagimu untuk memcintaiku?
Ku putuskan, aku tak akan menyerah aku akan terus berjuang hingga kau menganggap aku ini ada. Namun waktu berputar dengan cepatnya, dan tak kunjung ada balasan darinya. Sekarang aku sadar tuhan tak merestui aku memilikimu. Waktupun juga bersikap sama. Aku menangis, menangisi ketidak mampuanku untuk memilikimu. Namun waktu terus berjalan menertawaiku, menertawai kebodohan ku yang mencintai orang yang tak mencintaiku.