CATATAN HARIAN OMA
Untuk yang ke sekian kalinya, Emma mencoba menahan rasa gondok yang sudah hampir naik ke ubun-ubun. Liburan kali ini, adalah sebuah mimpi buruk bagi gadis itu. Semenjak Emma kecil, dia tak pernah menyukai rumah Omanya. Bagi Emma, rumah itu adalah rumah dingin yang sangat miskin akan kasih sayang. Memang sih, Oma nya ( Opa Emma meninggal setahun sebelum dia lahir ) tak pernah bersikap keras pada Emma, namun bagi gadis itu, Neneknya adalah seorang wanita tua yang dingin, misterius dan kelihatan menyimpan banyak rahasia.
Pesawat mulai berjalan mendekati terminal bandar udara Sam Ratulangi, Manado. Saat Emma dan keluarganya keluar dari ruang pengambilan bagasi, terlihat Utu, sopir Omanya sudah menunggu di luar.
‘’ Mama, kok Oma ndak ikut menjemput kita ? ‘’ Emma berbisik pelan di telinga Ibunya.
’’ Mama sendiri ndak tahu kenapa, Emma. Mungkin saja Omamu lagi capek sekali hari ini, dan tak bisa datang untuk menjemput kita seperti biasanya. ’’
Emma mendengus pelan, dalam hatinya dia berpikir, pasti Oma saat ini tengah berada di tamannya, sementara mengurus duri-duri bunga² mawarnya. Ada satu yang aneh di dalam diri Omanya, dan Emma tak pernah mengerti mengapa dia seperti itu. Oma Emma sangat menyukai bunga mawar.
Di tamannya, tumbuh berbagai jenis bunga mawar yang berbeda-beda warna dan sangat indah di lihat sewaktu bunga²nya sedang bermekaran. Namun, Oma Emma selalu memotong semua duri yang ada pada pohon bunga mawar di tamannya, dan tak pernah menyisakan walaupun hanya satu duri. Apapun alasannya, Emma berpikir bahwa Oma-nya adalah seseorang yang sangat eksentrik.
Rumah Oma Emma terletak di atas sebuah bukit kecil yang mempunyai pemandangan langsung ke arah pantai, dan pusat kota Manado. Bila malam tiba, pemandangan dari atas rumah itu sangatlah indah. Terlihat jauh di bawah, laut yang di hiasi sedikit kelap-kelip cahaya lampu kapal² dan perahu² nelayan, dan juga cahaya-cahaya lampu dari bangunan² dan rumah² yang berada di pusat kota.
Saat Emma memasuki pintu rumah, dia merasa bahwa kali ini ada yang tidak biasa. Di dalam maupun di taman mawar, dia tak melihat bayangan neneknya. Dengan penuh tanda tanya, gadis itu bertanya pada Embo, wanita yang sudah 20 tahun melayani nenek Emma sebagai pembantu rumah tangga,
’’ Omaku ada di mana, Embo ? ’’
Sekilas Emma menangkap pandangan wanita tua itu berubah menjadi sedih, sambil menunduk, Embo hanya menjawab lemah, ’’ Oma nona Emma sekarang ada di kamar
tidurnya, sudah satu minggu dia tak bisa lagi bangun dari tempat tidurnya. ’’
Hah ?! Oma sakit ? tapi mengapa Oma tak bilang pada Mama saat dia meminta kami untuk berlibur ke Manado ?
Berbagai pertanyaan memenuhi benak Emma. Gadis itu melihat sekilas di depan pintu Ibu dan Ayahnya tengah berbicara serius dengan Om Toar. Sesaat kemudian, dia melihat Ibunya mulai menangis sambil menghambur masuk ke kamar Omanya. Dengan penuh rasa ingin tahu, Emma mengikuti Ayahnya menyusul masuk ke dalam kamar.. Sesampainya di sana, Emma terkejut sekali, Omanya telah meninggal dunia, semenit yang lalu saat Ibu Emma masuk ke dalam kamar.
Upacara pemakaman Oma Emma berlangsung dengan khidmat, dan walaupun dia agak tak menyukainya, Emma merasa sangat sedih dengan kematian Omanya itu. Dua hari sebelum balik ke Kopenhagen, semua keluarga datang di rumah Oma. Dari Ibunya, Emma mengetahui bahwa kedatangan mereka adalah untuk membicarakan tentang harta warisan peninggalan Oma dan Opa Emma. Huh !! belum satu bulan Oma meninggal, mereka sudah mau bicara tentang harta, memalukan sekali ! pikir Emma dengan marah. Gadis itu lalu mengasingkan diri-nya, keluar dari ruang tamu.
Apa yang bisa aku lakukan saat ini, ya ? Gadis itu mencoba mencari jalan untuk menghilangkan rasa bosan di hatinya. Kematian Omanya membuat Emma tak bisa berkeliling kota Manado seperti biasanya. Oh ya !! aku bisa naik ke loteng untuk melihat barang-barang tua milik Oma dan Opa, mungkin saja aku bisa menemukan beberapa perangko tua di sana.
Sebulan sudah Emma dan keluarganya meninggalkan kota Manado. Dan, saat pulang kemarin Emma tak sendiri. Di dasar kopernya tersimpan sebuah buku tua yang dia temukan di loteng, buku catatan harian berwarna hijau tua milik Oma Emma. Dan, untuk yang pertama kali dalam hidupnya, Emma merasa kasihan pada omanya.
Perasaan itu tumbuh saat dia membaca tulisan di dalam buku itu, tulisan yang di tulis oleh Oma Emma, tentang kisah-kisah di yang terjadi di dalam hidupnya. Dan, sementara dia makin mendalami buku harian itu, dia menyadari bahwa Omanya Thelma, adalah seorang wanita yang sebenarnya sangat menderita.
Ingatan Thelma yang paling awal, begitu yang terbaca oleh Emma, ialah tentang ayahnya yang pemabuk dan suka merusak barang-barang. Saat itu, thelma masih berumur 4 tahun. Dia, dan kedua orang tuanya baru saja pulang dari sebuah pesta perkawinan di mana ayahnya menjadi mabuk sekali akibat minum terlalu banyak alkohol.
Thelma baru saja hendak tidur saat dia mendengar suara pertengkaran antara ayah dan ibunya, yang kemudian di iringi oleh suara benturan benda-benda
keras serta barang-barang yang pecah. Thelma menutup kedua telinganya rapat-rapat, tapi gadis kecil itu masih bisa mendengar dengan jelas bagaimana ayahnya memporak-porandakan seisi rumah. Keesokan harinya, saat Thelma keluar dari kamarnya, dia melihat keadaan rumah yang bagaikan kapal pecah terbentur karang. Kaca-kaca jendela yang pecah, berserakan di semua tempat. Thelma lalu melihat ibunya melangkah keluar dari kamar, dan hati gadis kecil serasa bagaikan di siram air es melihat wajah ibunya yang bengkak kebiruan.
Tahun-tahun berikutnya, keadaan di dalam keluarga Thelma tak juga berubah. Ayahnya masih saja suka mabuk-mabukan, dan masih saja suka merusak barang serta memukul ibu Thelma.
@@@@@@@@@@@@
Setelah sinar matahari yang panas dan basah di manado, Kopenhagen terasa seperti kutub utara. Cuaca dingin dan angin yang membeku bertiup kencang. Tetapi Emma tak peduli, dia hidup di dunia lain, di tahun lain, menghayati cerita hidup Omanya. Setiap sore sepulang sekolah, Emma bergegas masuk ke kamarnya, mengunci pintu dan mengeluarkan buku itu.
Thelma baru saja merayakan ulang tahunnya yang ke sepuluh saat suatu kejadian yang sangat menyedihkan menimpa gadis kecil itu. Hari itu, Thelma sendirian di rumahnya, kedua orang tua Thelma dan Eyi, adiknya sedang pergi ke acara reuni keluarga yang di adakan secara rutin setiap bulan. Gadis kecil itu baru saja selesai mandi dan hendak pergi berganti pakaian saat adik ayahnya yang paling bungsu, paman Roy masuk dari pintu dapur.
‘’Selamat malam, Om !‘’ Thelma menyapa hormat, walaupun sebenarnya dia agak takut dengan pamannya yang satu ini. Laki-laki itu menatapi sekujur tubuh Thelma yang hanya di lingkari dengan handuk secara menelan ludah. ‘’ Thelma, di mana ayah dan ibumu ? ‘’ tanya pamannya. Thelma mencoba menghindari pandangan mata laki-laki itu, dia lalu menjawab sambil berjalan ke arah kamarnya.
Dan, sebelum Thelma sempat meminta laki-laki itu keluar dari kamarnya, dengan sigap paman Roy sudah membekap mulut Thelma, lalu merenggut kasar handuk yang melingkari tubuh gadis berumur 10 tahun itu.
Tahun-tahun berikutnya, peristiwa itu masih terus menghantui benak Thelma. Gadis itu selalu merasa di hantui oleh rasa malu yang berkepanjangan. Dia merasa bahwa dirinya telah menjadi kotor dan tak akan pernah bersih lagi sampai dia mati nanti. Emma tertidur, membaca tentang Thelma Omanya.
Pada pagi hari ketika terbangun, dia menyembunyikan buku itu dengan hati-hati lalu mulai berpakaian untuk pergi ke sekolah. Dia tak bisa menyingkirkan Thelma
kecil dari benaknya. Bagaimana mungkin ada orang sejahat itu ? rasa marah dan benci terhadap paman Roy membaur di dalam dada Emma. Dan kini, tak sadar ada rasa sayang mulai tumbuh di hati Emma buat Omanya.
Kemudian Emma membaca, Thelma jatuh cinta pada seorang pemuda di kampungnya bernama Peitra saat dia berusia 15 tahun. Dia berumur sama denganku saat ini, pikir Emma. Dan sama seperti Omanya, Emma juga sementara jatuh cinta pada teman sekelasnya, cowok berwajah kiyut bernama Wes.
Emma memegang buku harian itu sambil menatap potret neneknya ketika dia masih muda, dan kebekuan yang terasa selama ini antara mereka seakan sirna..................
Ternyata cinta Thelma tak bertepuk sebelah tangan, pemuda bernama Peitra itu juga menyukainya. Dan saat Thelma berulang tahun yang ke-16, dia menyatakan cintanya kepada Thelma lewat sepucuk surat cinta, sebuah kartu ulang tahun, dan sebuah kado berupa buku harian berwarna hijau tua. Buku harian ini adalah kado ulang tahun itu, romantis juga pemuda bernama Peitra itu ! pikir Emma.
Hari demi berlalu dengan cepat, thelma masih tinggal di kampung yang sama, dengan orangtua yang masih saja tak pernah akur, saat pemuda yang dia cintai berpaling pada gadis lain. Malam itu Thelma tengah bersiap-siap untuk menghadiri pesta panen padi yang di adakan secara rutin sekali setiap tahun di kampungnya.
Seperti muda-mudi yang lainnya pada waktu itu, Thelma memakai pakaiannya yang terbagus untuk pergi ke pesta dansa itu. Dan ketika Thelma baru saja selesai berdandan, dia tiba-tiba di serang sakit kepala yang sangat hebat, yang memaksa dia untuk tinggal di tempat tidur. Thelma lalu berpesan pada Eyi adiknya untuk mengatakan pada Peitra bahwa dia tak bisa menemani dia di pesta itu. Saat jam menunjukan pukul 11 malam, Thelma merasa kepalanya agak membaik. Dia lalu memutuskan untuk pergi ke pesta itu.
Hari itu adalah hari spesial, dan hanya pada hari itu para gadis² di kampung di perbolehkan untuk berdansa katrili sampai pagi tanpa menimbulkan gosip keesokan harinya. Dan Thelma tak mau melewatkan begitu saja kesempatan itu.
Saat Thelma tiba di tempat pesta yang hanya berjarak 50 meter dari rumahnya, dia tak melihat bayangan Peitra.
Dan ketika matanya berkeliling mencari, tiba-tiba Thelma melihat di sudut ruangan Peitra tengah asyik bercumbu mesra dengan Olyn, sahabat karibnya. Thelma merasa kepalanya berputar dan seakan-akan atap ruangan pesta dansa hendak jatuh menimpanya. Dia merasakan ada sesuatu di dalam hatinya yang tertusuk duri. Dia lalu berlari keluar ruangan dengan cepat, dan menuju ke arah rumahnya. Sejak saat itu, Thelma tak pernah mau lagi bertemu Peitra.
Empat tahun kemudian, Thelma yang masih saja menyimpan rasa cinta di hatinya untuk Peitra tak bisa mengelak saat pemuda itu meminta dia untuk kembali
menjadi kekasihnya. Namun kali ini, mereka menjadi sepasang kekasih yang sama-sama telah dewasa. Suatu hari, saat Thelma sedang mengurus mawar-mawar kesayangannya di taman rumah, datang berkunjung Ibu Peitra.
’’ Selamat sore Thelma, saya bisa bicara denganmu sebentar ? ’’ ibu Peitra menyapa dingin
Thelma merasa sedikit heran atas kunjungan Ibu Peitra itu. Dia lalu mempersilahkan wanita
itu masuk ke dalam rumah, tapi dia menolak.
’’ Begini Thelma, saya tidak suka berbasa-basi. Saya baru tahu kemarin tentang hubunganmu dengan Peitra dan saya sudah bicara dengannya kemarin. Saya minta padamu untuk memutuskan hubungan kalian dan tak menganggu Peitra lagi ! ’’ wanita itu berkata tandas mengagetkan. Dalam hati Thelma berpikir, mengapa dia berkata seperti itu kepadaku ? dia tak bisa mempercayai apa yang di dengarnya.
’’ Apa....apa maksud Tante ? ’’
’’ Saya rasa kamu mengerti dengan apa yang saya maksudkan. Saya minta padamu untuk menjauhi Peitra, kamu tak pantas untuknya. Saya tak ingin anakku pacaran atau menikah dengan gadis yang datang dari keluarga berantakan ! dan satu lagi, Peitra sudah punya tunangan, dan mereka akan menikah segera setelah Peitra menyelesaikan sekolahnya ! ’’ Ibu Peitra melangkah pergi meninggalkan Thelma yang terdiam dengan airmata yang mengalir deras di kedua belah pipinya.
Thelma menerima pesan dari Peitra agar menemuinya sabtu malam nanti di pinggir hutan. Sewaktu mereka bertemu, gadis itu tak kuat lagi menahan airmatanya.
’’ Ibumu datang ke rumah, Tra. Dia...dia...’’ Thelma tak kuasa lagi meneruskan kata-katanya. Peitra lalu meraih gadis itu masuk ke dalam pelukannya.
’’ Sssstt.......aku tahu, Thel. Karena itu aku mengirim pesan untuk bertemu hari ini. Aku sayang kamu sepenuh hatiku, aku tak ingin pergi darimu, tapi saat ini aku tak bisa. ’’
Thelma terpana mendengar kata-kata yang di ucapkan oleh Peitra, dia tak menyangka peitra akan bicara seperti itu. Dia lalu meronta mencoba melepaskan diri dari pelukan Peitra.
‘’ Kamu bajingan ! kamu sama seperti dulu ! kamu sama seperti yang lainnya ! aku percaya padamu, dan kamu tahu semua tentang aku. Dan, kamu juga tahu bagaimana aku sangat menderita, katakan bagaimana mungkin kau bisa melakukan semua ini padaku ? ‘’ Thelma tak bisa lagi mengontrol dirinya, dia lalu menangis tersedu-sedu.
Peitra merengkuh gadis itu kembali masuk ke dalam pelukannya seraya berusaha menenangkan Thelma. Dia mengusap rambut Thelma penuh kasih,
‘’ Thelma, hatiku tak ingin melakukan semua ini. Aku tahu, aku tak akan pernah bisa lagi mencintai orang lain saperti aku menyayangi kamu, tapi aku tak berdaya. Ibuku menderita suatu penyakit yang kata dokter tak akan bisa sembuh lagi. Ibuku hanya akan bertahan hidup selama 6 bulan. Saat dia meminta aku untuk
menikahi gadis yang dia pilih untukku, mulanya aku menolak keras. Kemudian dia memohon padaku untuk memberinya sedikit kebahagiaan dengan menikahi gadis itu, yang aku sendiri tak pernah kenal wajahnya. ‘’
Peitra bertutur panjang lebar memberi penjelasan pada Thelma yang masih saja menangis.
‘’ Tapi tak tahukah kamu, kalau itu melukai hatiku ?‘’
‘’ Aku sangat mengerti dengan semua itu, karena itu aku meminta-mu untuk datang ke sini, aku ingin menjelaskan semuanya-termasuk rencanaku-padamu. ‘’
Mata Peitra memandang wajah Thelma lekat-lekat.
‘’ Thelma, aku tahu hal yang akan ku katakan padamu ini sedikit gila dan agak durhaka, tapi Ibuku benar-benar tak akan bertahan lebih dari 6 bulan hidupnya. Sebagai anak, aku ingin membahagiakan dia di masa² terakhir dalam hidupnya. Aku berencana akan menikahi Viona-itu nama gadis pilihan Ibuku-dan setelah ibuku meninggal, aku akan menceraikan dia. Aku akan menyelesaikan sekolahku 3 bulan lagi, kita masih punya waktu 3 bulan untuk bersama-sama sebelum aku menikah. Dan, saat ibuku telah meninggal, kita akan bersama-sama lagi, dan saat itu adalah untuk yang seterusnya ! ‘’
Saat Peitra selesai bicara, Thelma nampak sangat pucat .
‘’ Thel, kamu baik-baik saja ? ’’
’’ Y-ya ! aku hanya masih susah untuk mengerti, bagaimana mungkin kamu bisa berpikir seperti itu. Ibumu kan belum meninggal, dan lagipula nyawa semua manusia ada di tangan Tuhan. Bagaimanapun juga, dia adalah Ibumu, rasanya tak pantas kalau kamu bicara seperti itu. Aku sangat~’’
‘’ Tapi dia yang memaksa aku untuk berpikir seperti itu, Thel ! ‘’ Peitra memotong ucapan Thelma. ‘’ Apa kamu mau aku pergi begitu saja darimu ? walaupun kau setuju, aku tak akan pernah melepaskanmu. Semenjak kecil hingga saat ini aku selalu menuruti perintah kedua orang tuaku, dan aku akan melakukannya sekali lagi untuk Ibuku, tapi kali ini, akan ada sedikit modifikasi. Aku sayang Ibuku, Thel. Tapi aku juga sayang kamu, tolong mengerti aku, ya ? ’’ Peitra kini memandang Thelma, dan gadis itu tahu apa yang dia pikirkan.
Tetapi hal itu tak juga berhasil menghapus rasa bersalahnya terhadap Ibu Peitra. Meski demikian, Thelma mengiyakan juga rencana Peitra.
Sebulan kemudian, Thelma sedang membantu Ibunya di dapur saat adiknya masuk tergesa.
’’ Thel, ada kabar jelek untukmu ’’ Eyi berbisik pelan di telinga Thelma takut terdengar oleh ibu mereka.
Waktu itu, Thelma dan gadis seumurnya hidup di sebuah jaman di mana para gadis-gadis hanya menikah dengan pria yang di setujui oleh pihak keluarganya, atau dengan lelaki yang di jodohkan sejak mereka masih kecil.
Ada beberapa yang memberontak dan pergi menikah dengan laki-laki pujaan hatinya, tapi konsekuensinya mereka di buang oleh keluarga, dan tak boleh menginjakan kaki di rumah keluarga mereka lagi. Dan, orangtua Thelma sudah mempunyai calon suami untuk di nikahkan dengan gadis itu nanti.
Eyi berkata pelan pada Thelma saat mereka berdua sudah keluar dari dapur,
’’ Thel, aku tadi lewat di depan rumah Peitra, dan ada banyak orang di sana. Aku lalu bertanya pada pembantu mereka yang kebetulan baru keluar, Peitra mengalami kecelakaan motor belum lama, Thel, dia sudah meninggal. ’’
walaupun Eyi mengatakan semua itu dengan sangat hati-hati, Thelma merasa bagaikan tersiram air dingin.
’’ Tidak mungkin, Eyi ! aku baru bicara dengannya tadi malam. Dia tak mungkin meninggal, tidak mungkin !! ’’ sebelum adiknya bisa mencegah, Thelma sudah berlari keluar dengan cepat menuju rumah Peitra di ujung kampung.
Setelah kematian Peitra, Thelma selalu mengurung dirinya di kamar. Gadis itu merasa hidupnya sudah selesai. Di dunia ini, hanya Peitra yang mengerti akan dirinya, dan hanya Peitra yang menyayangi dia dengan tulus. Namun sekarang Peitra telah pergi untuk selama-lamanya dan tak akan pernah kembali lagi, Thelma merasa semua telah selesai untuknya.
Suatu pagi di bulan Juni, tepat pada hari ulang tahun Peitra, Thelma mencoba untuk bunuh diri, tapi sempat di cegah oleh adiknya yang kebetulan masuk ke kamar Thelma. Dua tahun kemudian, kedua orangtua Thelma memutuskan untuk menikahkan gadis itu dengan Roland, pemuda yang mereka pilih untuk di jodohkan dengan Thelma sejak dulu. Thelma tak menolak keputusan kedua orangtuanya, sebab dia berpikir, menikah atau tidak, itu akan sama, hatinya sudah di bawa mati Peitra, dan tak akan ada orang yang bisa menggantikannya. Perbedaannya, sama seperti Peitra, dia akan mencoba untuk membahagiakan kedua orangtuanya.
Setelah selesai membaca isi buku harian itu, Emma dengan tenang menyimpannya ke dalam laci terkunci. Dia merasa sangat kasihan pada Omanya. Pada halaman² terakhir di buku itu, Omanya menceritakan tentang Opa Emma. Opa Emma adalah seorang yang sangat istimewa, dan juga adalah type laki-laki yang hampir sempurna.
Dia sangat baik terhadap istri dan anak-anaknya. Tapi, bagi Oma Emma, semua itu tak cukup. Tak ada yang akan pernah menggantikan posisi Peitra di dalam hatinya, cinta pertama yang membawa pergi jauh hati Oma Emma.
Emma merasa bersyukur hidup di jaman sekarang, di mana semua orang bisa bebas mencintai pilihan hati masing-masing. Alangkah sayangnya apabila masih ada orangtua yang memaksa anak mereka untuk menikahi atau menyukai orang yang bukan pilihan hatinya sendiri hanya karena alasan uang atau martabat keluarga, karena sudah ada banyak contoh sedih, salah satunya Oma Emma sendiri.
TAMAT