Sudah lama kamu tahu bahwa perasaan kesepian itu sungguh menakutkan. Sayangnya, kamu ini mati rasa, sehingga butuh waktu lama untuk menyadari-meski sulit untuk bilang ‘mengalami’. Setiap pagi kamu selalu terbangun dengan nafas yang gugup. Selepas melakukan doa pagi, kamu tertidur kembali karena kamu tidak pernah punya rencana. Kamu menunggu perintah dan pesanan. Jika tidak ada apa-apa, biasanya kamu diam saja di studio memainkan telepon genggam atau sekadar menonton serial web yang sama berulang kali sampai hafal dialognya dalam tiga bahasa. Tapi, ada saatnya kamu gerah di studio sehingga kamu memindahkan kegiatanmu di bangku taman yang teduh, perpustakaan kota, atau kafe. Suatu saat, kamu pergi ke toko buku dan mulai pergi ke sana setiap hari karena ada sesuatu yang mengganggu.
Senin, 14 Oktober 2019
Pagi itu, kamu membawa mobil ke arah toko buku terbesar di kota karena lokasinya hanya satu blok dari tempat mengantar pesanan. Maksudnya, daripada kamu pulang dan hanya berguling-guling bersama telepon genggam, sekalian saja kamu berguling-guling di toko buku. Siapa tahu ada takdir lain yang menunggu. Sungguh sayang, toko buku ini buka pukul 10 sehingga kamu harus menunggu di dalam mobil selama 2 jam. Hal pertama yang kamu lakukan adalah melepas sabuk pengaman, dan mulai menyulut api kosong untuk rokok tak kasat matamu. Lalu, bagian lain dari dirimu yang selalu kamu bawa di bawah rambut cranberry-mu mulai mengajak berbincang.
“Jadi, sudah berapa lama kamu mengabaikanku?”
“Aku sudah mulai jenuh dengan pembukaan ini.”
“Jadi, sudah berapa lama kamu mengabaikanku?”
“Lima hari”
“Sudah berapa lama merokok?”
“Dua detik yang lalu”
“Apakah kau ingin bertemu orang baru?”
“Apapun itu. Tidak harus orang.”
Daripada meladeni Paul yang selalu mengusik setiap saat kamu tidak ingin berpikir, kamu mematikan rokok dan memasang musik agak keras dan ikut bersenandung. "All my demons run wild, all my demons have your smile, in the city of angels, in the city of angels". Kamu memutar satu lagu itu berkali-kali dalam daftar putar untuk dua jam penuh. Pukul 10 lewat beberapa menit, pemutar musikmu berhenti dan kamu tahu sudah saatnya kamu merapikan diri dan turun dari mobil. Kamu menanggalkan sweatshirt kuningmu dan keluar dengan kaos hitam tanpa lengan dengan celana pendek selutut. Kamu juga sudah pernah menyiapkan kacamata hitam di dasbor, tetapi kamu memutuskan memakai kacamata minusmu saja. Toko masih sepi. Seperti cerita-cerita roman pada umumnya, kamu pun melihat seseorang yang menarik perhatian. Ia berada di depan rak buku sains, hal yang benar-benar tidak menarik bagimu. Tetapi hari ini, tempat itu menjadi 3 hal paling menarik dalam satu tahun terakhir. Begitulah menurutmu saat itu. Hanya saja, kamu tidak berpikir ini akan menjadi cerita roman karena kamu mati rasa. Kamu berpikir untuk mendekatinya tetapi segera mengurungkannya. Ada yang aneh. Orang itu tidak pernah menunjukkan wajahnya. Kamu hanya melihatnya dari belakang. Jika dideskripsikan maka menjadi seperti ini: rambut cepak cranberry, kaos tanpa lengan, celana pendek, dan sneakers. Sepertinya ia juga mengenakan kacamata. Kamu seperti melihat doppelganger-mu dan mulai mengingat film “Us.” Kamu mengusap mata dan mencoba memastikan apakah ia adalah bayangan. Perawakannya sama sepertimu, begitu pula seluruh warna pada tubuhnya. Kamu mulai bertanya apakah ada orang yang berusaha mengerjaimu. Misalnya saja, Paul. Ia selalu usil, jadi bisa saja orang itu adalah suruhannya. Terlintas pikiran lain, mungkin saja hanya kebetulan, atau memang ada penggemar rahasia, atau ia orang jahat yang memang selalu membuntutimu. Seluruh pikiran mengisi kepalamu dan kamu pun jadi enggan memikirkannya. Kamu kehilangan selera dan segera kembali ke mobil. Kamu kembali mengenakan sweatshirt kuningmu dan tancap gas ke studio. Dari awal memang seharusnya kamu kembali ke studio, tanpa menginginkan hal-hal yang tidak biasa, seperti ke toko buku. Itu adalah ide yang sangat buruk dan tidak ada ide yang lebih buruk daripada ke toko buku. Selama perjalanan pulang, kamu masih ditemani dengan lagu yang sama dan menyanyikannya berulang-ulang sampai pada lirik yang membuatmu berpikir lagi: "hope it holds you like I do, while my demons stay faithful, in the city of angels". Kamu segera mengetahui siapa yang kamu lihat tadi di toko buku. Kamu tidak kembali ke toko buku pada saat itu juga. Kamu tetap melaju ke studio dan mengistirahatkan pikiranmu untuk kembali berpikir di malam hari dan mengantar pesanan jika dibutuhkan. Kamu sudah berpikir terlalu banyak, pikirmu.
Selasa, 15 Oktober 2019
Tidak ada alarm. Jam menunjukkan pukul 9 pagi. Hari ini ada yang berulang tahun. Seperti biasa, kamu malas untuk mengucapkan selamat meskipun kamu selalu ingat. Kamu berusaha melupakannya, tetapi itu menjadi hal pertama yang ada di kepalamu saat kamu terbangun. Doa pagi selesai dan kamu tiba-tiba teringat dengan rencanamu semalam. Tuhanmu sungguh baik, atau justru sebaliknya. Tidak ada yang tahu apakah lebih baik kamu mengingat rencanamu atau tidak. Tetapi karena tiba-tiba kamu tersenyum dengan seluruh tubuhmu karena rencana ini, kamu pun segera bersiap kembali ke toko buku. Kamu memakai pakaian yang persis sama dengan hari sebelumnya dan memutar lagu yang sama. Hampir saja kamu merokok, tetapi kamu tidak ingin Paul muncul lagi. Pukul 10 kamu tiba di toko buku dan tanpa berpikir panjang kamu menuju lorong buku sains, tempat yang baru-baru ini menjadi sangat menarik bagimu. Kamu mengintip dari atas rak di bagian tengah lorong. Tidak ada siapa-siapa. Katamu pada dirimu sendiri, “lima menit lagi.” Lima menit berselang dan kamu tidak melihat siapa-siapa. Kamu meyakinkan dirimu lagi, “beberapa detik lagi.” “Seharusnya aku berdiri di mana?”
....
“Aku tidak tahu. Katakanlah!”
...
“Apakah orang itu akan datang lagi?”
...
“Apakah seharusnya aku tidak datang?”
...
Kamu berusaha menyalakan rokok tak kasat matamu lagi. Kamu ingin bertanya pada Paul. Tetapi, dia tidak muncul. Kamu tidak tahu apa yang terjadi dan akhirnya kamu memilih pulang.
Rabu, 16 Oktober 2019
Paul masih belum muncul, meskipun kamu menyalakan rokokmu berjam-jam. Kamu tidak ambil pusing dan bersiap untuk segera ke toko buku itu lagi. Ada takdir yang harus ditemui, katamu.
Dan berhari-hari kamu datang ke toko buku pukul 10 pagi, menelantarkan pesanan dan melewatkan serial web kesukaanmu. Kamu hanya ingin memastikan apakah orang yang sama di hari Senin akan datang lagi. Sayangnya tidak. Dan, sayangnya lagi, kamu lupa bahwa sebenarnya kamu tahu siapa orang itu. Tidak, tidak lupa. Kamu berusaha melupakannya dengan membuat seolah-olah kamu lupa.
“Apakah kamu tidak akan muncul lagi hari ini?”
...
“Apakah aku berbuat salah?”
...
“Apakah kamu akan memberitahuku di mana kamu sekarang?”
...
Kamu pun bertanya lagi dan lagi pada Paul, tetapi sepertinya dia tidak mau menjawab. Bisa jadi dia tertidur, atau pergi, atau mati, pikirmu. Ya, kamu yang membunuhnya. Kamu selalu menutupinya. Kamu tidak pernah menerimanya, meskipun ia selalu menjawab ketika kamu bertanya. Paul benar-benar tidak berusaha mengganggumu lagi. Kamu memang menginginkannya, tetapi sepertinya tidak ada yang lebih menyedihkan daripada tidak ada yang diajak bicara. Setidaknya kamu berhasil. Kamu berhasil untuk melupakan bahwa kamu memang selalu berimajinasi, sedikit demi sedikit. Sesungguhnya, bukankah imajinasi yang membuatmu hidup? Lalu, siapa yang kamu lihat saat itu? Kamu kan tahu. Apakah kamu berhasil melupakannya juga? Kamu melupakan dirimu sendiri, yang saat itu selalu datang ke toko buku mencari keajaiban bertemu dengan seseorang di masa depan. Sekarang kamu sendiri. Lebih sendiri daripada beberapa hari yang lalu. Kamu pun mengakui bahwa kamu kesepian. Lalu, kamu menangis untuk pertama kalinya setelah beberapa tahun dan mengirimkan ucapan selamat ulang tahun pada Paul dan dirimu. Setidaknya kamu sudah tidak mati rasa.
***
Fox Foolery