Manusia hidup meninggalkan kenangan di setiap aliran detik. Kenangan itu tidak bisa terhapus atau tergantikan. Sekuat apapun kita berusaha membalik sang waktu, kenangan tetaplah kenangan. Dia tumbuh abadi di dalam pikiran manusia.
Kenangan akan sosok wanita bertudung hitam juga tidak pernah bisa terhapus dipikiran warga sekitar. Ia seperti paku yang sudah tertanam di sebuah kayu. Belum bisa tercabut hingga berkarat.
Menilik kisahnya dulu.
Tince Sukarti.
Bunga desa yang hidup dalam keluarga yang hangat dan sejahtera. Semua serba pas dan cukup. Tidak ada tuntutan yang melebihi batas, tidak ada pertengkaran, dan tidak ada kesalahpahaman.
Tince hangat pada siapapun. Entah dia miskin atau kaya, tua atau muda, cantik maupun tidak. Dia tetap memandang mereka sama dan setara. Tidak ada yang berbeda bagi Tince. Manusia pada dasarnya adalah makhluk yang sama-sama membutuhkan perhatian. Walau hanya senyum sekilas.
Hari kamis kelabu. Hari yang meruntuhkan semua sosok yang Tince bangun selama ini. Sosok yang hangat dan ramah berubah menjadi pembunuh sadis berdarah dingin. Ia dituduh membunuh seorang lelaki di rumahnya. Pasalnya ada salah satu warga yang menemukan mayat tergeletak di ruang tamu rumah Tince. Darah merah mengalir membasahi keramik lantai. Mendapati Tince berdiri di sebelahnya membuat mereka langsung menuduh Tince lah yang membunuh pria tersebut.
"Pembunuh! "
"Iya! Kamu pembunuh Tince! "
"Panggilkan polisi! Penjarakan Tince! "
Semua orang langsung mengerumuni dan menghakimi Tince tanpa henti. Kata-kata kasar dilontarkan pada Tince.
"Wanita bia*dab!"
"Ba*bi!"
Semua hinaan didengarkan Tince tanpa gentar sedikitpun. Bahkan ia tidak terlihat ketakutan dengan kerumunan massa yang menghardiknya.
"Hahaha.. " Tince tertawa lepas menampilkan sisi cantik yang sadis.
"Wanita ini sudah gila! " Teriak ibu-ibu di belakang.
Tince terus tertawa tanpa henti hingga tawa itu samar berubah jadi jerit tangis pilu.
"Abraham! " Tince memeluk jasad yang berlumuran darah di lantai.
"Maafkan aku.. huhuhu." Tangisnya sangat histeris. Mereka yang tadi menghinanya jadi ikut merasa pilu.
"Kalau kita tidak bisa bersatu di dunia, biarkan kita dipertemukan di atas sana bersama para iblis di neraka! " Tince mengakhiri hidup dengan menusuk perutnya menggunakan pisau dapur. Ia menusuknya tak cuma sekali dua kali. Berkali-kali pisau itu menembus badannya yang sudah berlumur darah.
"Aaaa... Jangan kak Tince! " Teriak perempuan yang masih remaja. Ia sangat ketakutan menyaksikan adegan itu.
Kini sudah ada dua mayat tak bernyawa tergeletak di lantai. Tince dan Abraham. Tak diketahui pasti apa masalah mereka hingga berakhir tragis seperti ini.
Kejadian itu terus membekas diingatan para warga. Hingga bertahun-tahun lamanya baru terungkap mengapa Tince membunuh Abraham.
Ternyata Abraham adalah kekasih Tince yang sudah sepuluh tahun lamanya. Mereka berdua manjalin kasih tanpa diketahui orang-orang. Hingga hari kamis itu datang, Tince mengetahui Abraham telah menghamili seorang wanita. Wanita itu merupakan saudara Tince sendiri. Padahal baru tiga hari Abraham melamar Tince. Tince yang awalnya sangat bahagia mendadak hancur harapannya.
Abraham tidak mau tanggung jawab terhadap bayi itu. Malah ia berniat membunuh bayi serta saudara Tince. Kamis itu Abraham ingin melancarkan niatnya dengan sebuah pisau dapur.
Tince yang mengetahui itu tidak bisa membiarkannya begitu saja. Ia coba menghentikan Abraham. Abraham terus melawan dan tetap pada tujuannya. Tince mengancam akan membunuh dirinya sendiri bila sampai Abraham menyentuh ibu dan bayi itu. Tak disangka pisau yang mau Tince tujukan pada dirinya sendiri di tepis oleh Abraham dan malah dihunuskan ke perutnya. Jadi sebenarnya Abraham sendirilah yang memilih bunuh diri. Ia tidak mau melihat gadis yang amat disayanginya merenggang nyawa demi orang lain.
Semua fakta itu dituturkan langsung oleh Kartika. Yang tidak lain adalah saudara Tince sendiri. Sejak rahasia itu terbongkar, nama Tince yang semula berkonotasi hitam dan dingin bergeser jadi kisah pilu yang menyayat hati.
End.