Mobil bus melaju kencang membelah kegelapan malam, di kursi penumpang aku terdiam sambil melihat keluar jendela.
“Henghhh….” aku mendesah pelan saat mencoba Meregangkan otot-otot tubuhku yang terasa kaku akibat perjalanan jauh.
Kemudian melihat sekeliling dan mendapati banyak penumpang telah tertidur dikarenakan malam telah sangat larut. Aku pun mencoba untuk tidur namun mataku seakan tidak merasakan sedikitpun rasa kantuk. Aku pun hanya bisa menatap jendela untuk mengatasi kebosanan.
Hanya kegelapan malam yang aku lihat dari balik jendela, pemandangan yang terlihat hanya hutan belantara yang mulai ditutupi kabut.
“Aneh… kabutnya tebal sekali hari ini.” ucap sopir yang mulai menurunkan kecepatan bus karena mulai kesulitan melihat jalan. Lalu tiba-tiba....
Doaaar
“‘‘Gyaaaa’’”
Suara ban yang meledak disertai dengan teriakan penumpang yang terkejut mendengar suara yang begitu kuat. Bus seketika menjadi oleng dan tak terkendali, semua penumpang pun panik karena merasakan guncangan.
Tapi beruntung bus yang melaju tidak terlalu cepat bisa di atasi dengan mudah oleh sopir. Namun tetap saja banyak penumpang yang protes karena istirahat mereka terganggu.
Tanpa memperdulikan para penumpang yang mulai memaki maki, supir bus dan kondektur segera bergegas keluar bermaksud untuk mengganti ban.
Aku hanya menonton dari jendela menyaksikan kabut yang semakin menebal, lalu tiba-tiba sebuah cahaya bersinar terang disela-sela pepohonan bagaikan sebuah cahaya mercusuar.
“Apa ada tempat hiburan di sekitar sini?” tanya seorang penumpang yang juga melihat cahaya itu.
Para penumpang yang melihat penampakan cahaya mulai berisik sementara aku melihat ekspresi wajah supir bus dan kondektur yang terlihat tidak bagus.
‘Sepertinya mereka bermasalah dengan mengganti ban.’ batinku yang melihat keduanya.
Lalu tidak lama kemudian cahaya itu mulai mengarah ke arah bus membuat sinar darinya menyakiti mataku, dengan cepat aku menutup gorden jendela tapi sesaat kemudian cahaya itu padam. Dengan cepat aku kembali melihat keluar jendela tapi hanya kabut yang semakin menebal yang terlihat.
Tanpa sadar tanganku bergetar dan perasaanku juga semakin tidak nyaman. Aku mencoba melihat penumpang lain tapi mereka seperti tidak ada masalah.
Aku mencoba berusaha untuk menenangkan diri dan mengaggap jika semua karena hawa dingin AC yang membuat tanganku menggigil kedinginan, aku mengambil sweater di dalam tas dan segera mengenakannya, tidak lupa aku mengenakan tudung sweater untuk melindungi kepalaku. Setelah itu aku kembali melihat keadaan di luar lewat jendela.
“Sepertinya mereka masih belum selesai.” Gumamku melihat ban cadangan yang masih belum di pasang.
Beberapa penumpang turu dari bus berniat untuk membantu, tapi mereka terlihat langsung memasang wajah keheranan setelah melihat kearah ban yang rusak.
‘Sebenarnya mereka melihat apa?’
Merasa penasaran aku mencoba untuk turun, tapi sebelum beranjak dari tempat duduk aku merasakan sesuatu yang aneh.
‘Apakah menumpang menang hanya segini?’
Aku melihat beberapa kursi penumpang yang kosong sementara sebelumnya terlihat masih penuh, beberapa tas juga terlihat di kursi yang kosong menandakan jika sebelumnya ada seseorang di sana.
‘Apa mereka turun? Tapi aku merasa tidak ada orang lain di luar.’
Penumpang lain tidak merasakan ada keanehan, sebagai dari mereka mencoba untuk tidur kembali dan yang lain sibuk dengan bermain HP.
Melihat sekitar aku mendapati 15 Kursi kosong dari total 40 kursi. Merasakan kekhawatiran yang aneh aku memberanikan diri untuk keluar dari bus.
Tapi yang aku dapati hanya lima orang yang sedang berusaha untuk membetulkan ban, si sopir, kondektur dan 3 penumpang pria. Lalu saat mendekati mereka akun pun tahu kenapa mereka terlihat kesulitan.
Ban yang meledak itu terlihat meleleh bagaikan dibakar oleh api yang sangat panas membuat ban sulit untuk dilepas. Mereka melakukan segala cara untuk melepasnya namun sepertinya itu tidak berhasil.
“Tck. Kenapa bisa seperti ini sih?.” ucap seorang pria dengan kacamata di wajahnya.
“Aneh banget bukan?. Mana kabutnya juga semakin tebal.” penumpang lain yang terlihat lebih tua ikut berbicara sambil mengarahkan senternya ke sekitar, jarak pandang sangat terbatas dikarenakan kabut yang begitu tebal.
Sementara itu supir dan kondektur masih berusaha mencongkel ban yang meleleh dengan sebuah dongkrak dibantu dengan penumpang yang lain. Mereka sesekali membicarakan tentang sinar yang tadi muncul.
“Saya sudah ribuan kali lewat jalur ini tapi baru kali ini ngelihat tuh lampu.” ucap si sopir.
“Ya kali ajah ada rumah yang baru dibangun bukan?.” balas penumpang dengan tubuh kekar.
“Rumah? Rumah apa yang dibangun di tengah hutan dan punya lampu seperti mercusuar?. Apa pemerintah membangun penjara di sekitar sini?.”balas si kondektur yang membuat semua orang semakin jatuh dalam kebingungan.
Tapi kemudian perhatikan mereka teralihkan saat mendengar suara langkah kaki seseorang. Kemudian dari kabut muncul sesosok gadis bertudung merah yang membuat mereka agak kaget, tapi mereka segera kembali tenang setelah melihat kakiku masih menginjak tanah.
“Haaa…. Neng, hampir saja jantung saya copot.” ucap orang tua yang memegang senter sambil mengelus dadanya.
“Ini dah malem bahaya, mending balik ke bus. Tenang ajah sebentar lagi selesai kok!.” pria berkacamata itu berkata dengan nada ketus seakan marah karena dikagetkan.
Tapi aku tidak memperdulikan perkataan pria berkacamata itu dan tetapi mencoba berbicara dengan supir bus dan kondektur.
“Hah!! Ada 12 kursi yang kosong?.”
Supir itu terlihat terkejut ketika mendengar perkataanku.
“Tapi dari tadi tidak ada penumpang selain kita yang keluar.” pria tua yang memegang senter itu berkata seakan tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
Aku hanya menghela nafas melihat reaksi itu, aku sendiri memang tidak percaya karena tidak ada seorang pun yang terlihat disekitar selai kami berenam, tapi kursi-kursi yang kosong dan batang bawaan para penumpang yang di tinggalkan itu sudah menjadi bukti jika beberapa orang telah pergi.
Merasa penasaran pria berkacamata kembali kedalam bus, aku hanya melihat yang masuk kedalam dan tidak lama kemudian dia kembali dengan wajah yang terlihat bingung.
Semua orang merasa penasaran dengan apa yang dia lihat, sementara aku agak senang saat terbukti jika perkataanku tidaklah bohong. Namun itu tidak bertahan lama ketika pria berkacamata mengatakan apa yang dia lihat.
“Hanya ada 12 orang di dalam bus.” ucapnya dengan ketakutan jelas di wajahnya.
“Ah.. becanda kali nih si abang.”
“Tck, kalo nggak percaya lihat saja sendiri.” balas pria berkacamata itu dengan kesal.
Merasa penasaran semua orang kembali masuk kedalambus dan mendapati….
Hanya ada 6 orang yang tertidur pulas di dalam bus.
Semua orang hanya terdiam melihat jumlah penumpang yang tersisa, di dalam benak kami hanya ada satu pertanyaan ‘Kemana perginya penumpang yang lain?’.
“Mungkin mereka sedang buang air.” ucap si kondektur.
“Sungguh?. Lalu kenapa tidak ada yang lihat seorang pun keluar dari bus selain kita?.” balas pria tua. Kondektur itu hanya bisa menggaruk kepalanya karena kebingungan.
Kami mencoba melihat sekitar bus tapi karena pekatnya kabut dan gelapnya malam membuat jarak pandang menjadi terbatas.
Lalu tiba-tiba cahaya itu kembali terlihat, tapi kali ini letaknya di sisi lain berbeda dari pertama kami cahaya muncul, seakan apapun yang membawa cahaya itu telah bergerak tanpa menimbulkan suara apapun. Warna cahaya juga berubah menjadi merah membuat semua orang merasa tidak nyaman saat melihatnya…..