Di tengah ramainya orang yang datang ke pasar malam ada satu suara yang sangat kontras dengan tujuan tempat ini. Pasar malam yang dibuat untuk hiburan dan menghilangkan penat malah diguyur basah oleh air mata seorang gadis kecil.
Gadis ini menangis tersedu-sedu di pojokan bianglala. Rambutnya dikepang dua dengan hiasan pita merah diujungnya.
Bibirnya pucat pasi kedinginan oleh air matanya sendiri. Tangannya tampak memegang selembar karcis yang sudah robek jadi dua bagian. Sementara tubuhnya yang mungil tenggelam dalam gaunnya yang mengembang besar.
"Naik! Naik! " Rengeknya sambil menghentak-hentakkan kakinya ke tanah.
"Dek, kalau naik harus dengan orang tuanya ya. Lagipula karcismu sudah tidak berlaku. " Jelas pegawai bianglala.
"Naik! Aku mau naik! " Tambah keras tangisnya, sampai mengalahkan teriakan orang yang ketakutan diatas wahana.
"Loh.. kemana perginya!? " Pegawai tadi kebingungan mendapati gadis kecil tadi sudah lenyap dari pandangannya.
Ternyata tanpa sepengetahuan siapapun, gadis tadi menyelinap disela-sela antrian bianglala. Dia menggandeng tangan seorang laki-laki yang tampak seusianya namun lebih dewasa sedikit.
"Siapa kamu!?" Laki-laki itu kaget, tangannya yang semula kosong jadi terasa ada yang menggenggam.
"Kakak. Aku ingin naik itu! " Dengan mata kucingnya yang tampak jernih tanpa dosa, gadis itu menyerahkan tiketnya yang robek.
Laki-laki itu berjongkok hingga tingginya kini sejajar dengan sang gadis.
"Mamamu mana? " Tanya laki-laki itu sambil mencubit gemas pipi sang gadis.
"Tidak punya. Katanya sudah ke langit. " Jawabnya dengan polos.
"Emm.. Dia pasti kesana untuk memetikkan bintang buatmu. Mau ditaruh disini sebagai bando. " Mengusap lembut kepala sang gadis.
Sang gadis mengangguk-angguk. Ia masih manggandeng tangan laki-laki itu.
"Yaudah sini naik berdua denganku. "
Laki-laki itu berjalan bergandengan menuju bianglala dengan sang gadis.
Ternyata bianglala ini hanya tampak indah bila dipandang dari bawah bagi sang gadis. Setelah ia naik, mentalnya jadi loyo. Ketinggian sangat mengerikan baginya. Ia menutup matanya tidak berani melihat kemana-mana.
Laki-laki itu langsung memahami ketakutan sang gadis. Ia mendekatkan diri lalu menyuruh sang gadis bersandar di tubuhnya.
"Tidak apa-apa. Jangan takut. Kamu liat ini kan?" Menunjukkan sebuah permen karet rasa strawberry.
"Apa itu? " Tanya sang gadis nampak belum pernah menjumpai permen karet.
"Ini permen yang bisa seperti balon. Aku punya dua. Nanti kamu satu aku juga satu." Sambil membukakan pembungkus permennya.
"Liat ya, aku mau buat balon. " Laki-laki itu makan permennya lalu ditiup sampai mengembang seperti balon.
"Waa... Aku mau coba! " Gadis itu kegirangan bukan main. Ia mencobanya dan berhasil. Kini ia teralihkan dari ketakutannya tadi. Ia dengan asik memainkan permen itu dimulutnya. Sampai selesai putaran bianglala, gadis itu masih saja meniup permen karetnya.
"Suka sekali ya? Hahaha. " Turun dari bianglala pun masih saja mereka bergandengan tangan.
"Aku mau lagi! " Rengek sang gadis sambil menarik-narik baju laki-laki itu.
"Kakak cuma punya dua. Bagaimana kalau besok kamu kesini lagi, nanti aku bawakan permen karet yang banyak? " Bujuknya.
Gadis kecil menyetujui itu. Ia berniat pulang hari ini agar hari cepat berganti.
"Besok! Permen! " Sebelum pergi, dengan hangatnya tangan mungil itu memeluk pinggang sang laki-laki. Sang laki-laki membalasnya dengan senang hati. Mereka berpisah malam itu.
Malam berganti siang. Siang berganti malam.
Hari yang dinanti-nanti telah tiba. Sang gadis datang sesuai janji. Kali ini dengan rambut yang tergerai dan gaun merah, ia datang dan menunggu di bangku dekat bianglala.
Jam terus berlalu meninggalkan jejak-jejaknya. Namun tak satupun jejak sang laki-laki permen karet terlihat. Yang ada hanya kerumunan orang yang berlalu lalang menikmati pasar malam.
Gadis itu Mengayun-ayun kakinya sambil menatap langit. Barangkali benar kata sang laki-laki bahwa ibunya masih berusaha memetik bintang untuknya.
"Lama! Bosan! " Gadis kecil mulai tak sabar dengan penantiannya. Akhirnya sampai pasar malam itu sepi pengunjung sang laki-laki permen karet tidak datang.
"Bohong! Hiks.. " Sang gadis mulai menangis. Tangisannya tampak sangat kecewa bila dirasakan dengan hati. Ia Akhirnya pulang ke rumah yang hanya beberapa langkah dari pasar malam.
Hari demi hari berlalu. Kini pasar malam telah berakhir. Dan gadis kecilpun tak lagi bisa menikmati keramaiannya. Tapi tetap saja ia selalu duduk di tempat biangalala itu didirikan. Sampai berminggu-minggu, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun ia tetap menunggu laki-laki permen karet muncul di hadapannya.
Kini dia telah dewasa, bukan lagi gadis kecil tapi seorang wanita utuh. Setiap malam masih dengan kegiatannya menunggu laki-laki permen karet.
Sampai pada satu titik ia merasa ingin menyerah dan pergi.
Hari ini Terakhir ia menunggu..
Dengan pita merah yang mengikat rambutnya, ia duduk sambil melihat bungkus permen karet yang tampak sudah kusam sekali. Warnanya pudar dan kertasnya sudah lapuk.
"Hiks.. hiks.. " Kertas itu tambah tidak berbentuk terkena air mata sang gadis. Tangisnya pecah menembus keheningan malam.
"Sudah besar masih saja suka menangis. " Suara seorang laki-laki. Suaranya berat dan hangat. Sang gadis merasa ada ketenengan hati ketika mendengarnya.
Ia masih menunduk tidak menatap siapa orangnya.
"Nih. Bikin balon dulu."
Sang laki-laki mengulurkan sekotak permen karet yang sama persis dengan bungkus permen yang gadis itu bawa.
"Kakak!? " Sang gadis langsung mendongakkan kepalanya, ia tambah menangis kencang sekali. Kakinya tak kuat dibuat berdiri, ia malah berjongkok di bawah.
"Kemana dulu? Kenapa tidak menepati janji kita!?Hiks.. " Tanyanya sambil cegukan.
"Maaf.. aku sudah dalam perjalanan kemari. Tapi kabar kematian ibuku sampai cepat di telingaku. Aku kalap diburu kesedihan sampai tidak sadar lagi tujuan awalku. Saat itu aku sangat depresi, duniaku satu-satunya menghilang tiba-tiba. "
"Maaf.. Aku hanya bisa menunggumu seperti ini selama lima belas tahun. "
"Aku juga sama bersalahnya. Tidak mengabarimu selama bertahun-tahun. Saat-saat itupun aku seperti perang batin. Tiada hari tanpa memikirkanmu."
Pria itu memegang kedua tangan sang gadis, lalu membantunya berdiri. Ia memandang sejenak wajah sang gadis yang sudah berubah namun malah tambah semakin cantik. Ia mengusap lembut air mata yang masih menetes di pipi. Sang gadis masih tidak memandangnya.
"Kamu masih tidak mau melihat mataku?"
Sang gadis diam saja tidak ada jawaban.
"Yasudah jangan salahkan aku yang ingin dilihat ini. "
Laki-laki itu memegang dagu sang gadis, diarahkannya ke atas menampilkan posisi terbaik untuk berpandangan. Terasa ada sepercik api di dalam hati masing-masing. Api itu semakin membesar setiap detiknya. Butuh dipadamkan.
"Bolehkah? " Tanya laki-laki itu meminta izin sang gadis.
Tidak ada jawaban juga. Namun sang gadis seperti mengatakan lewat tindakannya. Ia memejamkam mata segera.
"Hehehe.. " Tawa kecil sang laki-laki merasa puas. Ia langsung menerjunkan bibirnya mencumbu hangat sang gadis.
Malam yang hening dan dingin ditutup dengan tautan bibir mereka.
Good bye.