"Lin gimana nih?" tanya Rava yang mulai panik saat mereka kembali ke tempat yang sama, seolah mereka hanya berputar-putar satu tempat.
"Gue juga nggak tau" jawa Lina dengan suara serak menahan tangis. Hari semakin petang, namun mereka belum juga menemukan jalan keluar dari hutan
Tiba-tiba sekelebat bayangan melayang didepan mereka. Membuat bulu kuduk keduanya merinding.
Rava memegang lehernya, Ia merasakan ada seseorang yang meniupnya dari belakang.
"Lin jangan jail dong" seru Rava lirih, saat dirinya tidak menemukan siapa pun dibelakangnya.
"Apaan si lo gaje, orang gue dari tadi diem kok" sanggah Lina kesal.
"Terus kalo bukan lo, siapa dong yang niup leher gue?" cerca Rava tak percaya dengan ucapan Lina.
"Mana gue tau" jawab Lina cuek.
"Angin lewat kali" imbuh Lina berpikiran postif.
"Mungkin" ucap Rava sependapat dengan Lina, lebih baik mengiyakan dari pada pikirannya terus menerka hal yang negatif.
"Udah ayok jalan lagi, sebentar lagi udah mau magrib" seru Lina mengingatkan. Keduanya pun melanjutkan perjalanan yang sempat terhenti.
Baru saja mereka melangkah, namun harus terhenti lagi karena suara yang tiba-tiba muncul dari belakang mereka.
"Kalian mau kemana?"
Lina dan Rava sontak menoleh secara serempak.
"Siapa kau?" tanya Lina balik bertanya.
"Aku penunggu disini" jawabnya.
"Apa kau hantu?" tanya Rava spontan.
"Hey, apa kau tidak melihat kaki ku yang menapak ditanah?" serunya kesal.
"Oo iya Maaf" jawab Rava pelan.
"Baiklah, tidak perlu basa-basi lagi. Aku tau kalian sedang tersesat. Mari ikut denganku, aku akan mengantar kalian pulang" ucapnya hangat.
"Tapi aku tidak kenal denganmu" cecar Lina ragu hendak mengikuti sosok misterius itu
"Nama ku Chiko, sekarang ikuti aku" perintah Chiko tegas.
"Baiklah, perkenalkan nama ku Lina" Lina pun mengulurkan tangannya. Chiko hanya diam, Ia melangkah mendahului Lina dan Rava.
"Ayok cepat ikuti aku, tidak baik kalian berlama-lama disini" omel Chiko mulai kesal saat melihat keduanya hanya mematung ditempatnya.
"Eh iya, ayok Va" ajak Lina menyeret tangan Rava.
"Apa kau yakin dia akan menunjukan kita jalan pulang?" bisik Rava ditelinga Lina.
"Tentu, dia sepertinya baik" balas Lina ikut berbisik.
"Sudah sampai" ucap Chiko dingin. Jari telunjuknya mengarah pada kabut di depan sana yang berjarak lima meter.
Lina dan Rava menatap bingung pada Chiko.
"Ini pintu rahasia, kalian cukup berjalan lurus kedapan sana. Saat kalian sudah melewati kabut tebal itu maka kalian telah sampai dipintu masuk desa kalian" papar Chiko menjelaskan.
"Apa kau serius?" ucap Lina kurang yakin.
"Tentu, aku sudah berpuluh tahun tinggal disini" jawab Chiko santai.
"Apah?" seru Rava melotot tidak percaya.
"Yeah sangat sulit memang untuk diterima nalar makhluk sebangsa kalian. Sudah cepat jangan banyak bicara, cepat pergi sebelum kabut itu hilang atau kalian kan terjebak dihutan ini selamanya"
Rava masih hendak berbicara, namun Lina segera menarik tangan Rava agar segera melangkah.
"Terima kasih" ucap Lina disela langkahnya.
"Ingat, jangan berbalik lagi ke belakang setelah kalian melalui kabut tebal itu" teriak Chiko memperingati.
Keduanya hanya mengangguk, samar-samar mendengar ucapan Chiko.
"Akhirnya" seru Lina senang saat melihat permukimam kampungnya sudah terlihat jelas dari tempatnya berdiri meski jaraknya masih belasan meter.
"Tapi...apa ini tidak aneh" cetus Rava.
"Sudah lah, lebih baik kita segera pulang" ucap Lina menghiraukan ucapan Rava.
Rava yang tidak puas mendengar jawaban Lina membuatnya ingin menengok kebelakang.
Lina yang menyadari gelagat Rava langsung menyenggol lengan Rava.
"Apa kau lupa? Chiko sudah memperingati kita agar tidak menengok ke belakang" ucap Lina cepat.Namun kalah cepat dengan gerakan kepala Rava yang sudah memutar balik ke belakang. Meski hanya sepersekian detik namun matanya sempat melihat tempat dibelakangnya. Yang anehnya hanya berupa bayangan pohon dikegelapan malam. Tidak ada kabut tebal disekitarnya.
"Astaga Rava" seru Lina kaget melihat melihat keberanian Rava yang berbalik menengok ke belakang.
"Tidak terjadi apa-apa pun" jawab Rava sambil mendengus kasar merasa dikibuli oleh Chiko.
"Sudah ayok jalan lagi" imbuh Rava enteng.
Baru beberapa langkah mereka berjalan, hingga akhirnya sebuah benda tajam menembus dada Rava dari belakang.
"Aaaa" teriak Rava penuh kesakitan sebelum ambruk ke tanah.
"Ravaa" teriak Lina kaget melihat tubuh Rava telah bersimbah darah.
Lina dengan sigap menopang tubuh Rava yang sudah tersungkur ditanah.
"Rava bangun Rava" ucap Lina gugup melihat darah yang terus mengalir. Ia bingung harus melakukan apa untuk menolong Rava.
"Chiko?" teriak Lina terlonjak kaget meihat Chiko yang kini sudah berada didekatnya.
Chiko tersenyum miris melihat keadaan Rava yang kini sudah membeku ditempatnya dengan lubang sebesar kepalan tangan menganga lebar didadanya.
"Bukankah tadi sudah ku peringatkan agar jangan berbalik menoleh ke belakang" ucap Chiko yang ikut prihatin dengan Rava yang mati menggenaskan.
"Ini hal yang akan terjadi jika seseorang melanggar pantangan yang sudah ku peringatkan" sambung Chiko.
"Tapi bagaimana ini bisa terjadi?" tanya Lina disela isak tangisnya.
"Ada sesosok makhkuk asing yang mengincar kalian sebagai tumbal, itu lah sebabnya kalian hanya berputar-putar ditempat yang sama karena pintu keluar dari hutan ini telah dikunci secara gaib oleh makhkuk itu"
"Aku yang tak sengaja melihat kalian merasa iba jika kalian harus mati muda disini, oleh karena itu aku membukakan pintu rahasia agar kalian bisa keluar dengan pantangan kalian tidak boleh berbalik menengok kebelakang"
"Namun sayangnya, teman mu terlalu keras kepala dan mengabaikan peringatan ku. Jadi, harga ini lah harga yang di bayar" ucap Chiko lirih.
Isakan Lina semakin kencang, merasa lalai karena tidak bisa menjaga sahabantnya. Chiko mengelus pundak Lina lembut.
"Sdahlah. Ini bukan salahmu ini adalah akibatnya jika seseorang mengangap enteng perkataan orang lain".
Lina mengangguk lemah, membenarkan perkataan Chiko.