Mulai sekarang, kau harus melupakannya!" Nira menjelaskan sekali lagi pada Zukhraa.
"Tapi aku sangat menyukainya…"
"Lupakan dia, itu adalah yang terbaik." Berharap Zukhraa memahami situasi.
Zukhraa memandang Zulee. Terlihat air mata keluar deras dari kedua pelupuk matanya. Sangat sakit untuk Zukhraa rasakan.
Itu hal yang sangat membingungkan. Ia harus memilih antara teman yang selalu mengingatkan dalam kebenaran dan selalu mengkhawatirkan dia atau orang yang selama ini ia harapkan untuk menjadi pendamping hidupnya dengan usaha yang selama ini ia capai untuk bersama dengannya.
Usaha itu sama sekali tak sia-sia. Dan sekarang ia mendapatkannya. Namun takdir berkata lain. Ternyata Zulee selama ini sangat menyukai Boo Jin. Seorang idol ternama dan tersukses di negaranya. Dengan usahanya yang pasti sangat susah dan sangat ketat, sekarang ia berhasil. Seperti Zukhraa yang berhasil mendapatkan hati Boo Jin dengan usaha yang keras dan tidak mudah untuk didapat.
***
Suatu hari saat Zukhraa pergi ke taman bersama Boo Jin yang sedang tour bulan ini. Zulee ternyata mengikutinya. Sebenarnya Zukhraa sangat senang hari itu. Boo Jin membelikan es krim rasa stroberry kesukaannya. Sedangkan Boo Jin memilih es krim rasa coklat.
"Kau suka coklat?" Tanya Zukhraa kepada Boo Jin.
"No."
"Apa kamu suka es krim?"
"No."
"Lalu kenapa kau membelinya dan ikut memakannya?"
Boo Jin lumayan mengetahui bahasa Zukhraa. Namun ia belum fasih melafalkan.
"Cause I like you."
Zukhraa tersenyum malu-malu lalu memakan lagi es krim itu. Dengan belepotan ia memakan. Dia pun lupa membawa tisu.
Kenapa aku lupa membawanya? Bisanya aku makan sangat kotor.
"Why?"
"Tisu."
"Come here."
Zukhraa melamun. Dia menyuruhnya datang padanya? Kenapa? Dasar kamu jangan percaya diri amat Zukhraa.
"Come here."
"Ah, iya. Apa yang akan kamu lakukan? Kau membawa tisu atau kain atau semacamnya?"
"No."
Zukhraa terperanjat ketika Boo Jin menjawab tidak. Lalu apa yang akan dilakukannya? Apa dia mau mengelap bibirku? Benarkah? Tidak! Itu tidak boleh terjadi!! Boo Jin sangat sopan. Dia tidak akan menyakitiku bukan.
"Come here."
"Kau mau apa?"
"Tara!!!"
"Headband?"
"Emm!" Mulai mengeluarkan aegyo.
"Heii..! Hentikan itu! Jangan lakukan sekarang ataupun nanti."
"Wae?(kenapa)?"
"Aku ingin sekali mencubit pipimu. Tolong jangan lakukan lagi di depanku." Mengambil dan mengamati sehelai kain persegi dengan motif batik dengan warna yang agak condong kemerahan.
"Kiyowo(imut)." Tersenyum dengan senyuman khasnya yang berbentuk seperti balok. Dan itulah salah satu alasan mengapa Zukhraa menyukai pria yang berlagak seperti bocah di depannya ini.
"Ji..? Apa kau tega sesuatu terjadi pada kain kesayanganmu ini?" Masih memegang kain itu sambil melipatnya.
"Gwaenchana(tidak apa-apa)."
"Tidak. Ini ku kembalikan." Menyerahkan sehelai kain itu di hadapan Boo Jin. "Aku tak suka barang kesayangan orang lain jadi kotor begitu saja karena diriku."
"Aku akan pergi ke toilet sebentar untuk membasuhnya. Tunggu di sini. Jangan pergi kemana-mana. Jika kau pergi aku akan membencimu karena tidak patuh." Katanya lagi lalu berlalu dari tempat Boo Jin dan Zukhraa duduk tadi.
**
Di tempat Zulee berada, dia mendengar percakapan mereka dari tadi.
Selama ini aku selalu memperhatikan Zukhraa sebagai temanku. Begitupun dia juga selalu khawatir akan diriku. Tapi apakah sekarang takdir akan berubah? Aku tidak mau membencimu. Aku menyukai sifatmu yang hampir mirip sepertiku. Karena kita lahir sangat berdekatan. Aku tak ingin sifatmu berubah padaku karena hal ini. Ini semua juga salahku. Aku mengaku salah.
Memandang idolanya itu sekilas dari kejauhan seperti menaruh harapan terakhir dalam hidupnya lalu melangkah pergi dari sana.
Namun seketika juga ada yang mencegatnya. Tangannya digenggam lembut dari belakang mengisyaratkan untuk berhenti dari langkahnya.
"Zulee."
"Eh?" Membalikkan badannya dan melihat orang yang telah menghentikannya. "Zukhraa?"
"Zulee. Kamu sedang apa di sini?"
"Tidak ada. Aku cuma jalan-jalan saja." Ucapnya ragu sambil menyunggingkan senyum kecutnya.
"Sendiri?"
"Iya. Lihat, aku sedang sendiri dan sekarang bersamamu." Meringis.
"Kau tak sibuk? Kan hari ini jadwal kamu kerja bukan?"
"Iya."
"Semangat ya!" Zulee hanya menjawab dengan senyuman.
"Aku pergi." Katanya sambil melambaikan tangannya pada Zukhraa.
Aku tau kau Zulee menyembunyikan sesuatu dariku. Tapi apa? Lalu kembali kepada Boo Jin.
"I'm tired."
"Maaf jadi menunggu lama." Lalu duduk di sebelah Boo Jin. "Nih, aku beli es segar."Memberikan satu bungkus es teh kepada Boo Jin dan Boo Jin pun langsung menerimanya.
"Gomawo (terima kasih)." Menyeruput minuman tersebut lalu berkomentar. "Igeo mwoeyo (ini apa?)"
"Es teh. Ice tie. Bagaimana? Enak tidak rasanya?" Menunggu jawaban dari Boo Jin. Melihatnya serius.
"Eumm.. " Menyerot sampai es teh sebungkus itu habis tak tersisa.
"Eotteyo? ( Bagaimana menurutmu?) "
"Daedabeun… ( Jawabannya adalah… )" Memutus perkataannya yang membuat Zukhraa makin penasaran.
"Daedabeunyo? ( Apa jawabannya?)" Zukhraa menunggunya untuk menjawab soal satu ini. "Ppareum ( cepat)"
"Dalda (manis)."
Zukhraa senang sekali hari ini. Rasanya ia ingin segera menikah dan mencubit pipi imut Boo Jin.
"Sijanghasimhae ( aku lapar )" kata Boo Jin sambil mengelus perutnya yang sixpack sambil mengeluarkan aegyonya.
Zukhruf harus tetap menahan godaan ini.
"Iya. Tunggu beberapa menit kemudian."
Tak lama setelah mereka makan di tempat itu, dan untung saja tidak ada yang mencurigai mereka,
"Mari pulang. Aku lelah juga di sini. Kamu pulang ke hotel. Aku pun juga pulang ke rumahku." Mulai berdiri dari sana.
Sepertinya ini sudah terlalu lama. Aku tidak boleh lama-lama berduaan.
"Ayo Boo Jin."
"Gajima ( jangan pergi )." Lalu beranjak dan menghadap ke arah Zukhraa. Zukhraa menghentikan langkahnya.
"Gidarida ( tunggu )."
Zukhruf membalikkan badannya dan menatap Boo Jin.
Boo Jin mengambil sesuatu lalu memberikan sehelai kain tadi dan mengikatkannya di pergelangan Zukhraa. "Gago shipda ( aku akan pergi )." Selesai mengikat ia menatap Zukhraa agak lama.
Zukhraa merasa canggung. Dia lumayan pilu ketika orang di hadapannya ini tadi mengucapkan kata pergi. Memang benar juga ini sudah satu bulan Boo Jin berada di sini. Sekarang ia harus kembali bukan?
"Jinsimiya ( apakah kamu serius? )." Matanya mulai berkaca-kaca. Apakah ini akan menjadi waktu dan tempat terakhir kali mereka bertemu? Masalahnya ia belum yakin takdir apa yang akan terjadi selanjutnya pada mereka.
Akhirnya mereka harus berpisah di tempat ini.
"Annyeong." Sambil melambaikan tangannya kepada Zukhraa.
Sedangkan Zukhraa hanya diam sambil memandang kepergian Boo Jin. Zukhraa menahan agar air matanya tidak jatuh. Ia menatap punggung Boo Jin yang sudah menjauh darinya.
***
Hari esok dan seterusnya Zukhraa sangat kesepian. Ia tak dibolehkan untuk berhubungan dengan Boo Jin karena masalah agensi.
Satu minggu setelah hari perpisahan itu, Zukhraa memutuskan untuk pergi ke rumah Zulee. Di sana ia mendapati Zulee bersama dengan satu sahabatnya yang bernama Hana. Hana adalah sahabat Zukhraa dan juga teman bagi Zulee. Karena Zukhraa dekat dengan Hana, maka dari itu Zulee memanggil Hana untuk ke rumahnya.
"Hana…" Zulee saat itu menangis di pelukan Hana. Hana pun membalas pelukannya. Sudah satu jam Hana di sana menenangkan hati Zulee.
Zukhraa yang baru datang kebingungan dengan situasi ini. "Hana. Zulee kenapa ini?" Tanyanya saat belum mengetahui kebenarannya.
"Jika boleh cerita aku akan menceritakan padamu." Katanya pelan. Lalu mengusap punggung Zulee. Sedangkan Zulee masih terisak.
"Ayo kita bicara baik-baik. Jangan menangis Zulee. Ceritakan masalahmu padaku. Aku tak senang melihatmu lemah seperti ini." Mengambil alih Zulee dan menuntunnya ke sofa ruang tamu.
"Zukhraa kau jangan terkejut jika tau masalah yang terjadi." Kata Hana.
"Memang ada masalah apa?"
"Zukhraa… Aku benar-benar menyukainya. Bisakah kau memberikannya? Aku janji akan memberikan apapun yang diinginkan Boo Jin. Aku akan bahagiakan dia. Ok?" Menjelaskan dengan isak tangisnya.
Jadi karena Boo Jin? Dia juga menyukainya? Kenapa aku baru tau?
Batinnya.
"Aku mempelajari bahasa itu dari awal dan kamu juga belajar. Kamu tahu, aku belajar demi dia. Boo Jin. Dan sekarang? Zukhraa… kumohon kali ini turuti permintaan aku. Walau aku bukan sahabatmu. Aku yakin ini yang terbaik buat kita." Menangis
Jadi sebab itu ia belajar bahasanya? Zukhraa menghembuskan nafas perlahan. Menetralkan pikirannya.
"Zukhraa… " memandang dengan mata berkaca-kaca.
Zukhraa terlihat melamun sebentar. Memikirkan apa yang seharusnya menjadi keputusannya. "Ambil saja. Aku beri padamu."
Zulee berjalan ke arah Zukhraa dan memeluknya erat. "Saranghada"
Zukhraa membalas pelukan itu dan menenangkan Zulee agar berhenti mengeluarkan air mata, "Orae gidarisyeosseoyo"
Walau sebenarnya aku mempelajari bahasa itu juga demi dia. Aku rela mempelajari bahasanya setiap hari dan setiap saat. Agar aku bisa kuliah di sana. Menggapai cita-cita. Lalu berusaha agar takdir dapat mempertemukan aku dengannya. Boo Jin. Namun setelah susah-susah dapat bertemu, bahkan dia berniat untuk memilikiku, semua itu sirna begitu saja. Usahaku yang kulakukan selama ini harus kukorbankan. Aku sayang. Aku tak akan mengecewakan. Hanya karna satu orang. Yang belum tentu akan menjadi kebanggaan. Keluargaku sangat membencinya. Dia beda keyakinan. Dan kepercayaan. Aku mengetahui sejak dulu mengenalnya. Bahkan aku sudah yakin, semua ini akan terjadi suatu saat. Dan inilah saatnya. Aku harus merelakannya. Entah apa yang ada dipikirannya. Aku terus mencoba untuk kuat. Zulee… kau sangat penting dari apapun. Aku memberikannya untukmu. Karena aku yakin keluargamu sangat mendukung hal itu.
'Nujungan yeogiseo naeryeoya dwae'
'Jigeum kkeutnaeryeogohae'