"Mama aku mau diambilin makan juga dong" melas ku namun tetap saja wanita paru baya yang menjabat jadi ibu kandung ku itu tak memperdulikan ku malahan dia tersenyum kearah bocah laki-laki yang kira-kira seumur lima tahun.
Selalu saja begini! aku selalu saja tak diperdulikan!
Namaku Nissa Sareswari, umur ku 17 yang pertanda aku telah Sma.
Beginilah hidup ku yang amat tak berarti, semenjak aku memegang cermin besar digudang semua seakan tak menganggapku ada! ini sungguh tak adil.
Brak.
Aku mengebrak meja dengan kencang namun tetap saja ketiga makhluk yang amat ku sayang itu tak memperdulikan ku! bahkan Ayah ku yang selama ini menyanyangi ku pun ikut tak menggangap aku ada.
Sebenernya dimana letak kesalahan ku ha! apa hanya gara-gara cermin itu! semua seakan menjauh dari ku!
Drap....Drap....Drap.
Aku belari kencang sembari menangis menuju sekolahan ku berada,tak masalah nanti jika satpam disana bertanya Kenapa aku? toh nanti juga satpam itu ikut tak memperdulikan ku.
Oh ya semenjak kejadian itu pula aku tiba-tiba menjadi gadis indigo! ini sangat tak enak! melihat semua hantu dengan rupa buruk mereka! menatap ku seolah aku mangsa mereka! lalu selalu berkata...
"Teman"
"Mati"
Selalu itu yang mereka ucapkan! kala aku datang! aku muak dengan ini semua! sungguh! Tak ada yang bisa aku ajak curhat disini, kenapa semua seperti ini sih? ini bukan hari ulang tahun ku!
Aku tak kuat menjalani ini seumur hidup! menjalani dua minggu saja aku seakan ingin mati rasanya.
"Arrgh, berhenti berbicara teman dan mati saja sia*an!" teriak ku kepada para hantu yang menatapku.
"Kau.....Teman....Kami"
"Aku bukan teman mu! dan juga! sejak kapan manusia menjadi teman hantu ha?"
"Mati...."
"Arrgh! hiks Mama hiks Papa hiks Adek hiks hiks" aku tak tahan lagi dengan ini semua! Dimana kehidupan ku yang damai! mengapa....Mengapa! ini terjadi padaku!
Tiba-tiba saja ada yang menepuk bahu ku dari belakang, aku lantas menoleh. Menatap pria asing yang menggunakan kacamata tebal dikedua matanya, terlihat seperti laki-laki cupu.
"Hei aku bisa membantu mu, tolong temui aku dibelakang sekolahan ini" mengapa dia mengajak ku ke tempat sepi?
"Tenang lah aku tak akan berbuat jahat" jawabnya seakan tau apa yang sedang aku pikirkan sekarang, aku mengangguk lantas mengikutinya dari belakang menuju belakang sekolah.
Setelah sampai, aku tetap menatapnya waspada.
"Kau sudah mati"
Apa! tiga kata itu mampu membuat ku diam membisu lantas menatapnya tajam "kau....Kau jangan berbicara sembarangan!"
"Aku serius! belakangan ini aku mengikuti mu diam-diam, Aku terkejut saat membaca lembaran yang ditempeli dimana-mana! foto dilembaran itu adalah kau!" pria itu menatap ku serius "Kau mau tau apa isi lembaran itu?"
Aku mengganguk perlahan, rasa tak enak langsung menyelimuti diriku.
"Dicari anak hilang! sebenarnya dimana tubuh mu berada?mengapa hanya ada roh mu saja? aku selalu mengikutimu karena ku kira kau roh jahat yang membuang sendiri tubuhmu! namun melihat kau sangat furstasi didunia lain, aku mengurungkan niat ku untuk menuduhmu yang tidak-tidak"
"Sekarang dimana tubuh mu berada?"
"A a aku tak tau... setelah aku memegang cermin digudang lama ku tiba-tiba saja dunia ku seperti ini!"
"Hum, jadi itu masalahnya"
"Apa aku bisa kembali lagi seperti semula? aku mohon! aku ingin kembali"
"Bisa! sekarang ayo cari tubuh mu!"
"Tapi.... Mama, Papa ku selalu melarang ku tuk menyentuh cermin itu dan juga cermin itu ditulisi tanda kuno dengan berbagai jimat" aku menelan saliva ku "Tulisan itu berbunyi, menyentuh berarti mati"
"APA? sebenernya ada apa dengan cermin itu?"
"Entahlah Papa aku bilang itu cermin dari leluhur kita oleh sebab itu aku jadi penasaran dan melanggar aturan, hiks coba saja aku tak main-main hiks"
"Sudahlah kau hanya tak tau itu saja, tapi... karena itu begitu tubuhmu tak akan pernah bisa ditemukkan sebab aku juga tak tau dimana cermin misterius itu menyembunyikan tubuh mu"
"Hiks jadi? a a aku...."
Pria itu menatap sendu diriku "Tenang saja aku akan menjadi teman mu!" senyuman itu.....persis seperti Ayah! hangat dan menyenangkan.
"Hum" angguk ku semangat, mulai hari ini aku akan belajar menerima diriku sendiri walaupun ku tau akan sulit rasanya namun ku tak sendiri....
Ada dia.... Tino