Wajah cantik yang ku warisi dari mama yang selalu di kagumi semua orang justru menjadi kelemahan terbesar yang tak bisa ku tutupi.
Nama ku syfa dan aku memiliki wajah yang sangat mirip dengan ibuku, mulai dari mata hingga gerak-gerik dan cara bicara, bahkan senyum ku sering di katakana ciplakan mama, dan itu adalah sebuah kebanggaan untuk ku pada saat itu, di saat keluarga ku masi harmonis.
Namun setelah perselingkuhan ibuku dengan seorang rekan kerja ayah semuanya berubah, ibu ku pergi dengan kekasihnya dan meninggalkan aku bersama ayah yang kini sangat membenci wajah ini.
Aku sempat mengecat rambut ku atau memotongnya sangat pendek serta memakai lensa untuk mengubah penampilan ku, namun semua sia-sia.
Setiap kali aku mendekati ayah, ayah selalu melemparkan barang-barang di sekitarnya mulai dari asbak, buku, gelas dan sebagainya agar aku tak menunjukan wajah ku di hadapan ayah.
Namun bagaimanapun ia membenci ku ia tetap melakukan kewajibanya sebagai orang tua, ayah masi membayar uang sekolah ku dan mentranfer uang jajan ku, hubungan yang aneh ini terus berlanjut hingga ayah menikahi tante rita.
Tak seperti yang di bayangkan semua orang, meski menjadi ibu tiri untuk ku di usia muda, tante rita dapat bersikap sangat lembut pada ku dan selalu berusaha untuk memperbaiki hubungan ku yang semangkin hari semangkin renggang dengan ayah.
Sekarang umur ku sudah menginjak 17 tahun dan wajah mama semangkin tergambar jelas di wajah ku. Kini jika aku melihar cermin aku bisa melihat dengan jelas wajah mama di sana, wajah yang sangat ku benci, wajah yang kini membuatku mendapat pukulan berutal dari ayah setiap kali ia melihat ku.
Hari terus berlalu dan aku semangkin jarang pulang kerumah karna takut di pukuli oleh ayah. Namun seakan semesta belum puas melihat lebam-lebam di sekujur tubuh ku, aku pun kembali mendapatkan romor buruk di sekolah, rumor tentang ku yang kabur dari rumah dan menjadi simpanan peria kaya terus beredar di seluruh sekolah.
Dan seperti yang bisa di tebak, aku pun di bully satu sekolah. Semua tempat di sekolah mulai dari kelas, kantin, bahkan toilet sekolah menjadi neraka bagi ku, tak ada lagi tempat yang tersisa di dunia ini untukku, ya itu lah yang kini terfikirkan oleh ku.
Aku rindu kehidupan ku yang dulu, di saat ayah dan ibu selalu datang ke kamar ku hanya untuk menanyakan tentang bagai mana aku menghabiskan waktu di sekolah atau hanya untuk menemaniku agar tak bosan belajar sendiri di kamar.
Aku pulang dengan seragam sekolah yang basah dan kotor, beberapa goresan dan lebam terukir jelas di wajah, lengan dan siku ku, aku memasuki rumah yang langsung di sambut wajah khawatir tante rita. Aku di hujani berbagai pertanyaan dari tante rita namun ku abaikan.
Sekilas aku melihat ayah yang sedang menghabiskan makan malamnya tampa memperdulikan kehadiran ku. “ya udah kalo syfa gak mau cerita ke tante gak papa, kita keatas dulu ya biar tante ambil kotak P3K dulu”
Perasaan ku sangat hancur saat ini, aku hanya inggin setidaknya ayah datang dan menatap ku sekali saja.
“AKU HAMIL” teriaku yang sontak menghentikan langkah tante rita yang hendak mengabil kotak P3K dan membuat ayah menghampiriku dengan tatapan berapi-api, seakan murka ayah mulai memukul ku tampa henti dan mengeluarkan upatan-upatan yang bahkan tak lagi terdengar menyakitkan bagi ku yang sering mendengarnya.
“ya aku tau kau sangat mirip dengan wanita itu, kau bahkan tak kalah murahnya dengannya, setelah sekian banyak uang yang ku keluarkan untuk membiyayai hidup mu, dan ini balasanmu?, oh ya lagi pula kalian kan hanya bisa membawa aib untuk keluarga, dasar tidak berguna” ayah menendang tubuh ku yang kini meringkuk di depannya.
Ya... setidaknya dengan kebohongan itu akhirnya ayah menghampiriku dan tak mengabaikan ku seperti tadi, fikir ku.
Tante rita terus berusaha menahan lengan ayah dan memintanya untuk berhenti, namun ayah seakan kehilangan kesadaranya ia mulai menendang wajah ku, sesekali ia menarik rambut ku sebelum membenturkan kepala ku ke lantai.
Darah mulai mengalir dari pelipis ku kesadaran ku pun menghilang. Beberapa jam kemudian aku terbangun di kamar ku dengan kepala yang sudah di perban, seluruh tubuh ku terasa sakit namun sakit di hati ku lah yang paling dominan saat ini, bisikan dan fikiran-fikiran anah terus berputar di kepala ku, tampa ku sadari aku telah masuk ke kamar ayah.
Aku membuka laci kecil di pinggir lemari dan menambil sebuah pistol, air mata ku mengalir tampa henti dan tangan ku mulai bergetar melihat ayah yang telah tertidur lelap di samping tante rita.
“Ayo mulai semua dari awal ayah” bisik ku yang dengan cepat melepaskan tembakan tepat di kepala ayah, darah menyembur dari lubang di kepalanya yang di sambut dengan teriakan histeris dari tante rita yang telah terbangun dari tidur lelapnya.
“Maaf tante!. Tante sangat baik sama syfa, tapi pada akhirnya syfa gak bisa ngasi ayah untuk tante” aku pun menembak kepala ku sendiri dan terjatuh tepat di dekat ayah, dalam sepersekian detik rasa sakit dan perih menguasai tubuh ku, tangisan dan teriakan histeris tante rita masi terdengar samar-samar hingga ajal menjemput ku.
-Tamat-