Ariani sangat mencintai piano miliknya, hampir tiap hari dia selalu memainkan alat musik kesayangannya itu. Piano tersebut adalah hadiah pemberian dari ibunya. Dua tahun yang lalu ibunya meninggal dunia karena kecelakaan. Kini dia hanya tinggal berdua saja dengan Ayahnya.
Tiap hari Ayahnya menjual piano kesayangannya dengan harapan dapat memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari. Meski berkali-kali Ariani merengek di kaki Ayahnya dan memohon-mohon agar tidak menjual pianonya, Ayahnya tetap saja datar tidak memedulikannya lagi.
Ariani berharap Ayahnya lebih mengerti apa yang diinginkan putri sematawayangnya itu yang jelas-jelas sudah kehilangan ibu, ditambah lagi dengan kehilangan piano kesayangannya. Untuk pertama kalinya Dia sangat membenci Ayahnya.
Dan sekarang, Ariani harus meratapi kepedihannya. Sendirian dalam lemari gudang Dia menangis tersedu, sambil memeluk kedua lututnya yang dingin.
Ada hal membuat Ariani bersembunyi di dalam lemari, tiap malam dia mendengar alunan musik klasik yg biasa dia mainkan. Bersama dengan alunan musik itu selalu diikuti oleh penampakan sosok makhluk yang menyeramkan.
Lemari itu memang tidak terlalu besar, tetapi, dia terpaksa bersembunyi di sini. Tak ada tempat aman, dia takut. Dia sangat takut akan alunan melodi di luar sana. Dia berharap agar makhluk itu tidak berjalan perlahan menuju depan lemari dan membuka pintunya.
"Tidak...Aku tak dapat membayangkan bagaimana rupa wajahnya yg sudah hancur lebur penuh darah itu..." Ucap Ariani dalam hati sambil menangis
Ariani tiba-tiba tersadar. Dia mendengarkan dengan baik-baik, Alunan melodi itu berhenti. Suasana kembali senyap, akan tetapi justru itu yang semakin Dia takutkan.
"Tidak! Tidak! Ini mimpi..!! Tuhan, buatlah Dia yang diluar sana untuk tidak mencurigai isi lemari ini. Aku berharap padamu, selamatkan aku..." Ucap Ariana yang sedang ketakutan.
Ariani tidak dapat berkutik, Matanya membulat tak percaya... Makhluk menyeramkan dengan wajah hancur itu menemukan Dia bersembunyi di dalam lemari. Ariani berteriak ketakutan Wajah yang menyeramkan itu hanya berjarak beberapa inci darinya.
"Ariani.. aku menemukanmu..."
"Tidakk..!! ini mimpi...mimpi..." Teriak Ariani
Ariani tertawa-tawa keras dengan pandangan kosong di dalam ruang perawatan khusus, sementara itu diluar Ayahnya menatap khawatir pada putri satu-satunya itu.
"Pak, mohon maaf... Sepertinya Ariani butuh perawatan yang sangat khusus..." Ujar dokter yang berada diasamping Ayahnya.
Tak jauh darinya, ada beberapa benda seperti: miniatur piano kecil, sebuah kotak musik, dan boneka taddy yang sudah rusak.
"Lagi-lagi kami menemukannya sedang bermain-main di gudang rumah sakit ini, entah apa yang menuntunnya dan bisa sampai ke sana. Kami, pihak medis belum bisa menjelaskan lebih detaik" Bisik Dokter kepada Ayahnya.
Ayah Ariani menatap sedih putrinya sematawayangnya itu. Dia tak dapat mengerti akan kondisinya yang makin hari, semakin memburuk.
Ayah Ariani tertunduk, kemudian, sejenak kembali menatap anaknya lagi. Samar-samar, ia melihat bayangan yang mirip dengan mendiang istri tercintanya. Bayangan itu menatap tajam ke arahnya lalu tersenyum bengis.
*_TAMAT_*