"Woi bangun!!" teriak Adit, hingga Juno hampir terjatuh dari kasur.
"Busyet, bisa budek ni gue!" celetuk Juno kesal, sambil mengusap wajah.
Adit melemparkan handuk ke wajah Juno,"Buruan, hari ini kita uts tau!"ujarnya.
"Oh my ghoss! Gue lupa Dit!" seru Juno, segera ia berlari menuju kamar mandi. Jurus andalannya cuci muka sama gosok gigi. Lalu ia mengenakan seragam sekolahnya dan tak lupa semprot minyak wangi yang banyak.
"Behh, sesak gue ngirup bau minyak wangi loe Jun!" ujar Adit sambil melenggang membawa tas dipundaknya.
"Tungguin woi!" Juno setengah berlari menyusul Adit, menuruni anak tangga asrama mereka.
Tempat sekolah mereka memiliki fasilitas asrama, yang berhadapan langsung dengan gedung sekolah mereka. Asrama itu memiliki lima lantai, serta terbagi dua menjadi dua sisi. Sisi kanan untuk anak lelaki dan sisi kiri untuk anak perempuan.
Saat di tangga utama mereka berpapasan dengan beberapa cewek kelas tujuh, sebagai senior yang baik mereka harus selalu ramah dengan junior.
"Pagi cewek cantik!" sapa Juno, sembari tersenyum. Adit hanya diam saja berjalan didepan Juno.
"Pagi kak!" ujar mereka.
"Sempat-sempatnya loe tebar pesona pagi-pagi! Pikirin tuh gimana loe jawab soal uts nanti!" tukas Adit.
Juno hanya terkekeh,"Tenang aja, gue tahu siapa yang bisa bantuin!" ujarnya.
Sepanjang lorong menuju kelas, banyak cewek yang menyapa mereka, secara mereka berdua merupakan most wanted di sekolah itu. Bukan karena prestasi akademiknya, namun selain memiliki wajah yang tampan rupawan, Juno merupakan kapten tim basket sekolah, sedangkan Adit salah satu anggota timnya.
Oleh sebab itu mereka banyak digandrungi para cewek disekolah.
"Hei bro, santai banget! Udah siap kayaknya uts nanti!" sapa Rado, sambil melakukan tos dengan Juno.
Juno berjalan sambil merangkul pundak Adit dan Rado,"Gampang itu mah!" ujarnya yakin.
Mereka bertiga memasuki kelas sembilan C, lalu duduk di bangku masing-masing. Juno melirik ke arah seorang cewek cupu, yang duduk tak jauh dari tempat duduknya. Sebuah ide terbit di pikirannya.
Ia melangkah menuju tempat duduk si cewek cupu.
Adit melihat Juno berjalan kesana,"Wuih, gila! Mau ngapain si casanova itu dibangku si cupu!" serunya.
Rado ikut melihat," Kesambet kali tu anak!" tukasnya.
Juno berdiri tepat disamping cewek berkacamata tebal itu,"Eh loe, pindah gih ditempat duduk gue! Gue mau duduk di sini!" serunya kepada cowok bermata sipit yang duduk disamping cewek itu.
"Iy..iya Jun, bentar gue beresin buku dulu!" ujar Kim terbata, lalu beranjak menjauh sambil membawa buku dan tasnya.
"Ngga apa kan gue duduk disamping loe?" tanya Juno.
Cewek itu melihat sekilas sambil membenahi letak kaca matanya,"Iya nggak apa-apa! Kamu bebas duduk dimana aja!" ujarnya.
Juno pun menarik kursi itu lalu duduk dan meletakkan tasnya di laci meja, "Btw nama kamu Joana kan?" tanya Juno. Cewek itu pun mengangguk.
"Hmm...Loe kan anak pinter, boleh nggak nanti gue nyontek pas uts nanti! Soalnya semalam gue sakit gigi, jadi lupa belajar!" bujuknya, namun Joana hanya terperanga mendengar ucapan Juno.
"Boleh yach, please! Tar gue traktir makan bakso pak Mungkur deh!" pintanya sambil mengatupkan kedua telapak tangannya.
"Wah benar-benar buaya cap srigala si Juno, lihat sampe memohon gitu sama si cupu!" ujar Rado, melihat tingkah Juno dari tempat mereka duduk.
"Minta di santet tuh dia, ada maunya aja deket-deket sama si cupu, coba kalau nggak!" ejek Adit sambil melipat bukunya.
"Beneran, kamu mau bantuin aku nanti!" ucap Juno melihat Joana mengangguk.
Buk Willa memasuki ruang kelas, seketika kelas yang begitu riuh menjadi senyap.
"Sekarang kita akan uts, letakkan semua tas dan buku kedepan kelas! Cukup alat tulis yang ada di meja kalian!" seru Buk Willa.
"Duh, celaka dua belas ni! Do gimana nih!" bisik Adit sambil berjalan mengikuti yang lain sambil membawa tas.
Rado menaikkan kedua pundaknya,"Entahlah Dit, gue pasrah! Liat si Juno dia nya heppy -heppy aja!" ujarnya menunjuk kearah Juno.
Ujian berlangsung dengan khidmat, Juno dengan santai menulis lembar jawaban. Dengan bodohnya si Joana memberi tahu semua isi lembar jawabannya. Bel tanda istirahat berbunyi dan semua siswa mengumpul lembar jawaban kedepan. Tak terkecuali Adit dan Rado yang lembar jawaban mereka hanya berisi sedikit.
"Yok, kita kekantin! Tadikan gue udah janji beliin kamu bakso!" ujar Juno, berjalan melenggang sambil memegang pundak Joana. Joana merasa gugup, untuk pertama kalinya ia dekat dengan cowok paling populer di sekolah.
"Makasih banyak yah untuk yang tadi, kalo kamu ngga bantuin mungkin aku kena hukuman deh sama Buk Willa!" ujar Juno sambil menyuap bakso ke mulutnya.
Semua siswa dan siswi disekolah itu berbisik-bisik melihat Juno makan bersama cewek cupu.
Jam pulang sekolah. Juno, Adit dan Rado bermain bola kaki dilapangan. Sekali-kali bermain permainan yang jarang mereka mainkan.Karena terlalu semangat menendang bola, bola itu terpental jauh hingga menuju semak-semak disamping sekolah.
"Duh, gimana sih loe Jun, gawangnya disono noh, bukan disitu!" tunjuk Rado kesal.
Juno cengengesan sambil menggaruk kepala," Sorry, iya gue yang ambil!" ujarnya. Juno pun berjalan menuju arah bola itu menghilang. Disibaknya semak-semak dan rumput belukar itu.
"Kok bisa gedung sebagus ini, sampingnya semak belukar kek gini, mana serem lagi!" ujarnya sambil terus mencari.
Setelah di cari ternyata, bola itu menggelinding didekat sebuah pohon beringin besar. Diambilnya bola itu, namun seauatu yang menyembul di tanah, membuat perhatiannya teralihkan. Diusapnya tanah itu menggunakan tangannya, sebuah kain hitam membungkus sebuah kotak. Diambil dan dibukanya bungkusan itu.
"Buat apa kertas-kertas ini di tempelin di sini!" gumamnya sambil melepaskan kertas yang menepel di kotak itu satu persatu. Ia pun membuka kotak itu, ternyata isinya dua buah patung kayu kecil bergambar wanita jepang.
"Jun, loe tidur apa nyari bola sich! Lama banget!" pekik Adit.
"Iya tunggu bentar bro!" sahutnya, dibawanya kotak dan bola itu dalam pelukannya.
Ia berlari menghampiri teman-temannya, " Lama banget dah, kaya anak cewek aja!" cetus Rado yang duduk berselonjor di atas tanah.
Adit mengambil kotak di pelukan Juno, "Apaan nih! Nemu dimana loe!" desis Adit sambil membuka kotak itu. Ia terkejut saat melihat isinya, sebuah boneka wanita.
"Wuih sejak kapan loe maen yang ginian!" ledek Adit mengangkat boneka berwarna merah itu.
"Coba gue lihat!" Rado merebut boneka ditangan Adit."Oh ini mah boneka Kosesi! Itu loh boneka khas Jepang." ujarnya.
"Kok loe tau sich, jangan-jangan loe suka maen ginian yah dirumah!" ujar Juno balas mengejek Rado.
"Sialan, siapa juga yang maen ginian! Sepupu gue pernah bawa ini, oleh-oleh dari Jepang!" kilah Rado.
"Mau loe apain nih boneka!" Ujar Adit, Juno tampak berpikir. Ia menjentikkan jarinya.
"Ada aja!"
Mereka kembali ke asrama karena hari sudah petang, Juno membersihkan boneka itu dengan lap lalu meletakkannya di atas meja belajarnya. Sedangkan kotak tempat boneka itu ia buang ke kotak sampah.
"Kok wajah boneka ini kaya gini yach?" tanya Adit heran. Juno memalingkan wajahnya menatap kearah boneka .
"Aneh apanya?"
"Yang baju merah wajahnya sangar kaya orang marah, dan yang baju kuning wajahnya tersenyum!" serunya sambil menatap kedua boneka itu.
"Yah suka-suka yang buatlah, mau wajah senyum, marah, jutek . Itumah bebas!" ucap Juno membalikkan badannya sambil memeluk bantal guling.
Malam beranjak, Juni dan Adit tertidur pulas. Semua lampu penerangan telah dimatikan, sebuah bayangan melesat melewati tempat tidur mereka, aura dingin menghembus dingin ditengkuk menjalar hingga ke kaki.
"Jun, kecilin donk ac-nya! Dingin nih!" ujar Adit sambil tetap terpejam. Namun Juno tidak menyahut."Woi kebo! Udah jadi mayat yak loe!" umpatnya kesal.
"Apaan sih Dit, teriak-teriak!" Ujar Juno tetap terpejam.
"Kecilin P.A ac-nya, kan remotnya sama loe!" tukas Adit sengit. Juno perlahan mencari remot ac di atas meja, di tekannya tombol ac itu hingga yang terkecil, lalu lanjut tidur.
Whuuuussssh...lagi-lagi sekelebatan banyangan melintas, kali ini Adit benar-benar menggigil karena dingin.
"Semprul loe Jun, gue minta dikecilin bukan dibesarin volume ac-nya!" desis Adit. Ia duduk lalu menghidupkan lampu dimejanya.
Ia berjalan sambil mengucek matanya, menuju meja didekat Juno."Jun, mana remotnya?" tanyanya."Jun bangun?" dia menggoyangkan tubuh Juno.
"Ishh..gangguin orang mimpi aja loe!" gumam Juno. Ia membuka matanya lalu duduk.
"Cepet mana remotnya! Beku gue nih!" ujar Adit sambil merapatkan selimutnya.
"Remot buat apa?" ujarnya.
"Dasar gila, dingin gini masih nanya!" semprot Adit kesal.
"Nih remotnya!" Juno meraih remot di bawah bantalnya."Lihat gue nggak nyentuh apa-apa tadi!" ucapnya.
Adit merampas remot di tangan Juno,"Iya, yah! Suhunya normal, jangan-jangan ac-nya rusak Jun?" serunya.
"Ya udah dech, besok kita laporan sama penjaga! Mending tidur lagi, pake jaket sama selimut aja biar anget!"sahut Juno.
Adit kembali ke ranjangnya, ia meraih jaket di kursi lalu merapatkan selimut. Juno hendak tidur, namun kedua boneka itu mengurungkannya.
" Perasaan tadi gue letakkan disitu, kok tiba-tiba di atas kusri!" gumam Juno.
"Lampunya Jun, matiin!" ujar Adit.
"Iya.."
Keesokannya. Dikelas, Juno menghampiri Joana di tempat duduknya."Hei!" sapanya. Joana tersenyum.
"Ntar pulang sekolah gue mau kasih loe sesuatu, anggap aja ucapan terima kasih gue kemarin!" cetusnya.
"Ngga usah kok, kemarenkan udah di traktir makan!" tolak Joana sambil mengibaskan tangannya.
"Ngga apa! Gratis juga, kamu pasti suka!"
Sepulang sekolah.Juno dan Joana berjalan bersama menuju asrama,"Ngga apakan ikut keasrama cowok?" tanya Juno, Joana mengangguk.
"Ceklek" Juno membuka knop pintu,"Masuk aja, terserah mau duduk dimana!" ujarnya. Ia meletakkan tas di atas meja.
Joana duduk di sofa kecil ruangan Juno,"Temen kamu mana Jun?" Joana memberanikan diri. Juno memutar kepalanya.
"Adit main basket sama yang laen!"sahutnya, sambil membawa dua buah kokeshi kehadapan Joana.
" Nih, lihat! Kamu suka ngga?"
Joana mengambil kokeshi berwarna kuning,"Benar cantik!" ucapnya sambil mengusap wajah kokeshi itu. Tanpa sengaja, saat meletakkan boneka di tangannya, ia menyenggol boneka yang satunya hinggah terjatuh.
"Duh, maaf! Aku ngga sengaja!" ujar Joana. Ia berusaha mengambil boneka yang terjatuh di bawau kolong meja. Tiba-tiba saat ia menundukkan kepala.
"Ahhhhh..." teriak Joana sambil menjauh. Juno pun heran melihat Joana.
"Kenapa loe Jo?" tanya Juno mendekat dan memegang pundak Joana.
Joana memeluk lengan Juno karena ketakutan,"Itu..itu..disana! Ada...ada!" ujarnya terbata.
"Ngga ada apa-apa kok! Cuma ada boneka ini!" Juno mengambil boneka yang terjatuh.
"Gue mau pulang Jun!" Joana segera berlari menjauh dari asrama Juno.
"Dia ngga mau boneka ini!" desahnya.
Juno menghela napas panjang, lalu ia meletakkan kembali kedua boneka itu di atas meja.
Jam menunjukkan pukul tujuh malam, Juno sedang bermain gitar dan Adit tengah bermain game, tiba-tiba Rado datang bersama Seiki.
"Wah bawa apaan tuh!" ujar Adit meletakkan gitarnya.
"Gue sama Seiki tadi jalan, trus mampir beli siomay!" ujar Rado meletakkan bungkusan plastik di atas meja.
"Jun, loe mau ngga!" tanya Rado, mereka bertiga tengah duduk sambil membuka bungkusan makanan.
"Dia lagi galau! Cuekin aja!" ledek Adit,meletakkan siomay ke piring lalu menyantapnya.
"Kenapa emang!"
"Si cupu ngga mau di beri boneka itu, trus langsung pergi gitu aja!" papar Adit.
Juno beranjak mendekat sambil membawa piring dan sendok,"Mana punya gue?" ujarnya.
"Sok jual mahal banget si cupu, pake sok-sok an nolak pemberian loe!" tukas Rado.
"Dia tadi ketakutan bro, dia bilang ada hantu cewek di kolong meja!"ucap Juno.
" Apa...!!!" ucap mereka serentak.
"Sumpeh loe! Kaya gimana rupanya, cantik ngga?" celetuk Rado sambil tertawa.
"Hari gini masih percaya hal kek gituan!" sambung Adit.
"Gimana ceritanya sampe dia liat hantu?" tanya Seiki penasaran.
"Jangan bilang kalo loe percaya ama yang begituan ki?" sambung Juno.
"Kata bibi gue, hantu tu emang ada bro! Secara bibi gue tu dulunya Miko?" tutur Seiki.
"Apaan tuh Miko!"
"Cari noh di mbah gugle?" sembur Seiki.
"Gue mah nggak percaya yang begituan, kata mak gue, tampol aja pake sendal kalo beneran aja!" Rado tertawa keras, hingga makanan dimulutnya muncrat.
"Woles donk, makan kaya bebek gitu!" ejek Seiki.
"Penasaran gue, ceritain donk?"bujuk Seiki.
Juno pun menceritakan kejadian tadi siang kepada mereka,
"Coba liat, boneka manis gini ngga mau!" ucapnya, sambil memandang kedua boneka di tangannya itu.
Malam semakin larut, Rado dan Seiki kembali ke kamar mereka, kamar mereka di lantai lima. Suasana lorong asrama yang begitu sunyi, membuat bulu kuduk meremang.
"Kok gue merinding yach!" ujar Seiki, mengusap tengkuknya sambil terus melangkah.
"Cemen loe, kebawa cerita nya Juno tadi pasti!" dengus Rado.
"Beneran nih!"
Tiba-tiba lampu lorong berkedip-kedip, lalu mati seketika."Woi Do, bawa ponsel ga!Idupin senternya!" seru Seiki.
Terbersit ide jahil di otak Rado, ia berjalan menepi tanpa suara.
"Do..Do...Woi Rado! Jangan bercanda donk!"tukas Seiki, sambil berjalan meraba dinding lorong.
Terdengar suara Jeritan dari dari arah belakang Seiki." Aaahhhhh...!"
"Do..Loe kenapa?" tanya Seiki panik.
Secara ajaib lampu kembali hidup, seakan tak terjadi apa-apa. Seiki berjalan kearah asal suara tadi."Gue yakin tadi suara Rado!" gumam Seiki, memutar arahnya kebelakang.
Seiki terperangah"Radooooo!".
Suara sirine ambulans, berbunyi memecah kesunyian malam. Asrama yang tadi sepi, kini ramai oleh siswa yang berkerumun.
Rado di bawa menggunakan tandu dan di bawa ke rumah sakit dengan mengendarai ambulans.
"Bisa ceritakan pada saya, kenapa Rado bisa begitu?" tanya Pak. Slamet selaku ketua yayasan di temani oleh tim penyidik kepolisian.
Seiki ketakutan,"Sa...saya tidak tahu pak! Pas mau balik ke kamar, tiba- tiba lampu mati trus saat lampu lembali hidup, Rado sudah kaya itu pak!" ucapnya sambil gemetaran.
"Baik, sebaiknya kalian semua kembali kekamar masing-masing! Biar para kami yang menyelesaikan kasus ini!" ujar petugas dari kepolisian.
"Tidur di kamar kita aja Ki! Loe pasti syok!" ucap Juno.
Mereka kembali ke kamar asrama,"Loe tidur di atas aja dech! Biar gue di bawah!" tukas Adit.
"Maaf gue nyusahin loe!"
"Biasa aja kali, teman juga!" Adit membuka lipatan kasur dan menggelarnya di lantai.
Ia pun berbaring sambil mengenakan selimut, namun saat ia memejamkan matanya dan mulai terlelap, sesuatu yang dingin menyentuh ujung kakinya. Adit terhenyak, lalu membuka matanya. Untung lampu tidak dimatikan, hingga ia bisa melihat sekita.
Juno sudah terlelap, demikian pula dengan Seiki. Ia kembali merebahkan tubuhnya, dengan posisi miring. Ia melihat sesuatu di kolong ranjang Juno, lama ia memandangnya dan.
"Huwaaaaaahhh...!!" Adit tersentak hingga mundur menempel di ranjang Seiki.
Mendengar teriakan Adit, Seiki dan Juno yang sudah terlelap Kembali terjaga.
"Kenapa loe Dit?" tanya Seiki bingung.
"Iya loe kenapa teriak gitu?" sambung Juno.
"Aa....aaa...aa ada Setan!" ujarnya terbata.
"Setan apaan! Loe ngelindur yah!" hardik Juno, sambil mengucel mata.
"Sumpah gue beneran liat tadi!" sahut Adit yakin.
"Loe halusinasi kali Dit! Lagian kok kita ngga di ganggu!" sambung Seiki.
"Demi kepala naga di perahu, gue beneran liat tadi!" ucap Adit sambil mengangkat tangannya keatas.
Juno mengambil air putih dan memberikannya ke Adit,"Nih minum dulu! Biar ngga ngigau lagi!" tutur Juno.
"Loe aja dech tidur di atas, gue di bawah!" sahut Seiki.
Adit menggeleng,"Ngga bisa, kita berdua aja!" ujarnya segera naik di ranjang. Akhirnya mereka terlelap hingga pagi.
Disekolah ramai siswa yang membicarakan tentang kecelakaan yang menimpa Rado,
"Jun." terdengar suara memanggil Juno, ia pun menoleh ke arah suara itu, ternya Joana yang memanggilnya.
Joana mendekat,"Gue udah dengar tentang Rado, gue turut prihatin!" tukasnya.
"Makasih! Kenapa loe!" tanya Juno melihat kegelisahan Joana.
"Sebenarnya...semalam gue ketemu sepupu gue,dia punya indra keenam, trus gue cerita tentang kejadian kemaren!" tutur Joana sambil meremas jarinya.
"Trus, apa kata sepupu loe!"
"Sebaiknya loe cepat buang boneka koheshi itu, ada yang ngga beres sama tu boneka!"ucapnya, mata hitam nya yang bening menunjukkan kesungguhan.
Juno menceritakan benerap kejadian yang dialami teman-temannya semalam.
" Lalu sekarang kalian mau gimana!" ujar Joana menatap Adit, Seiki dan Juno bergantian.
"Gini aja Jun, aku telpon bibiku aja dulu!" usul Seiki.
"Bener tuh Jun, gue takut balik ke asrama!" sambung Adit.
"Bener Jun, kalian harus cari orang pinter buat buat ngusir roh hantu itu." ujar Joana menimpali
Seiki mengajak pamannya menuju asrama mereka, setelah Seiki menghubunginya lewat telpon, ia segera datang.
"Perkenalkan ini bibi gue! Bibi Yui!" ujar Seiki memperkenalkan.
"Terima kasih bibi Yui, sudah mau datang kemari!" ujar Juno. Bibi Yui hanya mengangguk.
"Mari bi lewat sini!" Seiki menuntun jalan menuju kamar Juno dan Adit.
"Ini kamarnya bi! Silahkan lihat!" ujar Juno.
Yui memandang setiap sudut ruangan kamar itu, hingga pandangannya, jatuh tepat pada boneka koseshi berwarna merah, dengan rambut hitam kelam.
"Dimana kalian menemukannya?" ujar bi Yui.
"Eh..anu bi pas kita maen bola trus tanpa sengaja saya nemuin boneka itu didalam sebuah kotak berbungkus kain hitam!" papar Juno.
"Seharusnya kalian tidak membukanya, dimana kotak itu?" ujar Yui.
"Ehmm...kayaknya udah saya buang deh kekotak sampah!" jawab Juno.
"Celaka, bagaimana kita bisa menyegelnya bila kotaknya sudah tidak ada!" desah Yui.
"Jadi gimana nih bi!" tanya Seiki.
"Nanti malam saya kesini lagi! Saya harus menyiapkan alat dulu untuk menyegelnya kembali!" tukas Yui. Lalu ia pamit pergi.
"Nah loh, gimana kita sekarang! Gue ngga berani masuk ni kamar!" tukas Adit sambil bersandar di tepian tangga.
"Kalian bisa dikamarku dulu, sampai bi Yui datang!" usul Joana memberanikan diri.
"Tapi gimana dengan teman sekamar kamu?" tanya Juno.
"Oh, dia lagi pulang ke rumahnya!" sahut Joana bohong, padahal ia tidak memiliki teman sekamar, karena orang tuanya membayar utuh satu kamar untuknya.
"Ya udah, yuk cabut! Lagian gue gerah, mau mandi!" tukas Adit.
"Kalo gitu gue keatas dulu, ambilin celana sama baju gue buat kalian!" usul Seiki.
Siswa-siswa saling berbisik melihat kedatangan tiga cowok keren keasrama wanita,"Ya ampun, mereka kenal sama Joana!" ujar mereka.
"Ga nyangka, beruntungnya si cupu!" ucap lainnya.
Kamar Joana sangat luas, wajar saja karena ia tinggal sendirian.
"Kayanya luasan kamar elo dach, dari pada yang kita?" celetuk Adit.
"Ehm..kalian aja yang ngga bisa nyusun barang!" elak Joana sembari tersenyum.
"Kasurnya satu, temen loe tidur dimana?" sahut Seiki datang sambil membawa pakaian dan ransel.
"Kami berdua, lagian ranjangnya kan besar!" kilahnya.
Waktu menunjukkan pukul setengah delapan, Yui mengenakan Hakamah merah ( Celana panjang )dan Haori putih ( Jaket putih), pakaian khas Miko. Arti Miko secara harfiah yaitu anak dewa, seorang dukun yang memiliki kekuatan supranatural dan biasa berhadapan dengan para Yokai.
Yui merupakan Miko yang tinggal di kuil Kyumizudera di Kyoto. Ia menghabiskan masa kecil hingga dewasa disana, namun setelah saudarinya menikah, ia ikut dan tinggal di Indonesia bersama saudarinya.
Waktu sekarang menunjukkan pukul setengah sepuluh malam, semua penghuni asrama sudah tidur dan kalau pun ada yang bangun tentu tak akan mendengar apapun.
Yui merapalkan sebuah mantra,"Keluarlah kau Yokai!" serunya.
Sebuah banyangan hitam berkelebat, melewati pucuk kepala mereka, rambut hitam panjang dengan kuku tajam dan matanya yang merah. Ia berdiri tepat di hadapan Yui.
"Watashi wa koroshimasu!" ( akan kubunuh) teriaknya dengan suara yang berat.
Juno dan lainnya saling berpelukan, berdiri tak jauh di belakang Yui.
"Pergilah atau musnah!" ujar Yui lantang.
"kik...kik..kik...kik!"
"Anata wa shinimasu!" ( matilah kalian ) tiba-tiba ia menyerang Juno dan mencekiknya, Joana dan lainnya berteriak ketakutan.
Yui mengeluarkan busur kayu Azusa miliknya dan memanah tepat di kepala si Yokai, yokai itu meraung.
"Hoaarrggg..."
Juno terbatuk-batuk akibat cekikan Yokai itu, lehernya memerah," Jun, loe ngga apa-apa kan?" ujar Joana terisak.
"Gue nggak apa-apa kok!" ucap Juno sambil terbatuk.
Yui merapalkan mantra, lalu sebuah lingkaran cahaya pentagram muncul tepat di bawah Yokai itu, sebuah sinar membentuk rantai muncul di tiap sisi lingkaran dan membelenggu tangan dan kaki serta tubuh Yokai itu.
"Watashi o yurushite!" ( ampuni aku ) geramnya.
"Shinaide kudasai!" ( kumohon jangan ) pintanya.
"Bagaimana bisa kau datang kesini!" tanya Yui.
Yokai itu menceritakan kisahnya, namanya Keiko Haruno. Ia putri seorang perdana mentri di zaman Edo. Sebagai anak seorang perdana mentri, ia selalu disanjung dan tak suka di cela.
"Kenapa kau bisa mati? Dan menjadi Yurei ( Hantu pembalas dendam )?" tanya Yui kemudian.
Rupanya ia tercebur kesungai, didorong oleh seseorang, namun ia tak tahu siapa? Arwahnya gentayangan dan marah pada semua orang, sampai akhirnya seorang biksu menyegelnya ke dalam boneka kokeshi dan meletakkannya di dalam kotak yang tersegel kertas mantra. Hingga akhirnya ia di temukan oleh Juno.
"Aku akan mengirim arwahmu pergi, lupakanlah semua yang sudah terjadi!" ujar Yui, Yokai itu hanya bisa pasrah. Ia tak sanggup untuk melawan.
Sebuah cahaya menyilaukan mata dan tiba-tiba roh gentayangan itu sudah menghilang.
"Akhirnya Yokai itu pergi dan menghilang selamanya!" ujar Seiki.
"Mau kita apakan boneka itu?" tanya Adit melihat boneka tergeletak itu.
"Sebaiknya kita buang saja!" sambung Joana.
Yui pun pulang, setelah sebelumnya ikut membantu menjelaskan kepada pihak penjaga, bahwa kamar Juno dan Adit di acak orang. Tentu saja itu bohong? Mana ada orang yang berani mengacak kamar Juno and the gank.
Boneka kokeshi itu diletakkan Juno di dalam kotak sampah, hingga....
"Bu lihat, ada boneka lucu! Dia tersenyum bu!" ujar anak kecil pemulung, sambil memandang kokeshi berbaju kuning itu...