Jiwa psikopatku muncul tak kala melihat seseorang yang dengan sengaja mendekat dan ingin masuk keperkarangan rumah yang telah aku aliri listrik pada besi pagar rumahku.
Aku mengetahui itu dari CCTV yang ku pasang beberapa hari menjelang malam natal tiba, sebab aku tahu akan banyak yang ingin mencuri pohon - pohon cemara yang sudah aku siapkan untuk aku antar pada para pelangganku besok.
Aku Jacson, Penjual pohon natal musiman yang tinggal di ujung kota, disini aku tinggal sendiri karena aku tak suka keramaian.
Karena mengetahui orang itu sedang berniat tak baik, aku lalu menyiapkan senapan biusku untuk melumpuhkannya, pertama - tama aku mematikan aliran listrikku bersamaan orang itu yang berusaha melumpuhkan aliran listrik yang ku pasang agar dia tak curiga.
Zzzzzzt. DUP
" Dasar pencuri kelas kakap, kau lihat aku akan memberimu pelajaran "
Aku lalu berjalan mengendap ke dekat jendela kamarku yang langsung mengarah ke halaman depan agar aku mudah untuk membidiknya.
Dengan Teropong anti kegelapan aku membidik leher dari orang itu dan,
SLUUUP
Jarum biusku tepat mengenainya dan tak lama orang itu tumbang dan aku mendatanginya.
" Kena kau ! "
Aku menarik kakinya dan menyeretnya di tanah
Sreeet
Sreet
Sreeet
Aku terus membawa orang itu hingga kedalam Rumah untuk memberikannya pelajaran dengan membaringkannya pada sebuah meja yang memiliki pisau bulat di bagian tengahnya yang mana itu adalah meja pemotong kayu.
.........
" Hmmmm, hmmmm " rontaan orang itu membuatku sadar setelah menunggunya bagun dari biusku.
" Sttttt jangan berisik " Ucapku sambil menghidupkan lampu dan menyoroti wajahnya.
Aku mengikat tubuhnya pada meja itu hingga dia tak bisa bergerak serta menyekap mulutnya dengan lakban hitam dan aku membaringkannya dengan mata pisau itu tepat di antara alat vitalnya agar semakin membuatnya jera dan takut untuk datang lagi kemari.
SREEET
Aku melepas paksa bekapan mulutnya.
" Aaaaaaa hug hug hug " Teriaknya kesakitan hingga sedu sedan.
" Ha ha ha ha, dasar lemah cuiiih " Lendir itu bersarang di wajahnya.
" Tolong jangan sakiti aku, aku mohon lepaskan, maafkan aku. "
" Merontalah sampai kau lemas, aku semakin suka bila kau tersiksa di depan mataku "
" Lepaskan aku "
" Lagi "
" Aku mohon, ampuni aku "
" lagi lagi, ha ha ha "
" Lepaskan " Teriaknya kuat
Aku menatapnya tajam dan mengorek kuping yang sakit akibat ulahnya.
" Teriak sekali lagi yang kencang " Pintaku sambil mendekatkan wajahku padanya.
" CUIIIH " Pria tak tahu adap ini meludahi ku,
Aku yang terkejut reflek mundur dan tak sengaja tangaku menyentuh tombol On pada mata pisau itu dan berputar
SREEEEEEEEENG
" Aku mohon jangan, bunuh aku, aku minta maaf "
Satu hal yang harus di ketahui mesin itu otomatis, bila hidup dia berjalan dengan sendirinya.
SREEEEENG
" AAAAAAAAAAAAAAA, AAAAA, AAA, "
Teriaknya kesakitan ketika Pisau itu berjalan membelah celananya hingga masuk ke bagian daging dan memuncratkan darah organ vitalnya ke mana - mana dan itu mengenaiku.
" Ha ha ha, rasakan kau "
Di sela ketawaku tiba - tiba aku merasa kepalaku pusing dan mataku berkunang - kunang. Aku lupa kalau aku mengidap Hemophobia. Aku phobia darah.
Darah dari pria ini memenuhi ruangan kerjaku dan bau anyirnya di mana - mana. Aku tak dapat menahan rasa pusing di kepalaku, aku hanya menutup mata dan berusaha berjalan untuk mencari pintu keluar.
Saat hendak keluar aku hanya menggunakan kedua tangaku seraya meraba untuk menuntunku dan karena tak melihat, tangaku menyetuh mata pisau yang masih membelah pria ini.
SREEEEENG
" Aaaaaaaa jariku, jariku ! jariku putus, Aaaaaa "
Tingkat Phobiaku meningkat ketika aku membuka mata dan melihat darah di tanganku mengalir deras keluar dari tiga jariku yang putus, aku tak bisa menahannya lagi, pandangku berubah hitam, aku merasa akan pingsan dan tubuhku jatuh.
Jatuh tepat di depan mata pisau itu dan ikut membelah kepalaku bersamaan tubuh penjahat ini
Tamat
Ketika Emosi sudah menguasai diri yang terjadi adalah lupa pada semuanya, termasuk juga lupa pada diri sendiri. itulah yang terjadi pada Jacson.