I swear on my life that I've been tried to be a good girl. Tonight, I don't wanna be her.
🃏🔪🃏🔪🃏
Aku baru saja keluar dari bangunan tersembunyi yang kerap ramai dikunjungi. Gang sempit bercahaya minim itu menyapaku. Setelah melewati jam-jam yang melelahkan, aku hendak berjalan pulang ke neraka yang disebut rumah.
"Hei, Pirang! Bagaimana rasanya kalah setelah menang judi lima belas kali berturut-turut? Hahaha!"
Aku menoleh dengan wajah dihiasi senyuman indah. Otakku cermat menghitung berapa banyak orang yang tersenyum karena lelucon sampah tadi. "Oh, hai! Akan kuberi tahu bagaimana rasanya."
Woosshh! Srak! Srak! Srak!
Senyumanku melebar, tatkala kartu as hitam itu kembali menempel ditanganku. Ah, darah dari lima preman mabuk itu membuatnya terlihat semakin cantik. Aku mendekati mereka yang kini terkapar sekarat di atas tanah.
"Hei, Bodoh! Bagaimana rasanya memiliki leher yang nyaris putus? HAHAHAHA!"
Malam itu, aku kembali terpaksa menjadi diriku yang sebenarnya.
🃏🔪🃏🔪🃏
"Siswa yang mendapatkan peringkat satu tahun ini adalaaahh ... Yero Mikaruu!"
Aku tersenyum lebar dengan dagu terangkat. Ratusan pasang mata menyorotku, merasa kagum sekaligus iri. Kakiku perlahan melangkah ke arah panggung, meninggalkan barisan para pecundang sekolah. Namun, dahiku mengernyit bingung. Seorang gadis familiar tiba-tiba ikut berjalan di sebelahku.
"Apa yang kau lakukan, Yuriko?" tanya Pak Kepala Sekolah. "Apa?! Kan kau sendiri yang memanggilku!" bentakku tanpa ampun. Tatapan heran dari gadis bodoh yang mengekor ini benar-benar membuatku gila.
Dia berdeham, lalu menunjukkan bagian depan sertifikat berbordir emas di tangannya. "Maaf, kali ini yang dipanggil adalah Yero Mikaru, bukan Yuriko Michiru. Silakan kembali ke barisanmu," tegas Pak Kepala Sekolah.
"HAHAHAHA!" Lautan pecundang itu langsung serempak tertawa keras. Raut wajah lega, senyuman bahagia, sorakan, makian, semuanya seolah menginjak-injak kepalaku.
Namun seketika, senyuman penuh arti terukir di wajahku. Tanpa aba-aba, aku memeluk erat tubuh kecilnya, lalu berbisik, "Selamat ya, Mikaru. Setelah lima kali berturut-turut membunuh harapan semua orang, kau berhasil membebaskan mereka dari tanganku."
Ah ... jika saja aku sedikit lebih kuat, pasti menyenangkan bisa membuatnya pingsan di tempat.
"Te-terima kasih, Michiru ...." lirihnya ketakutan. Aku mengangguk, menepuk bahunya dua kali, lalu kembali dengan senyum percaya diri. Sebagian besar murid sekolah terpaku bingung menatapku yang terlihat baik-baik saja.
Atau lebih tepatnya, mereka takut menatap ledakan gunung berapi raksasa yang tercermin di mataku.
Hari ini, aku dipaksa menelan kekalahan. Namun besok, aku akan membalasnya dengan senyum kemenangan.
🃏🔪🃏🔪🃏
Ruangan megah memenuhi pandanganku. Seorang pria berkuasa duduk di balik kursi putar yang membelakangiku. "Maaf, tetapi yang dipanggil kali ini adalah Yero Mikaru, bukan Yuriko Michiru. HAHAHA!!!" Tawa jahatnya bergema keras. Untung saja ruangan ini kedap suara.
"Aku rasa selera humormu bermasalah, Tuan Yuriko," sinisku. Dia berdiri tegap, kemudian berjalan santai mendekatiku. "Jangan salahkan selera humorku. Salahkan harga dirimu yang layak ditertawakan!" Aku tersenyum kecil. Kali ini suaranya begitu tegas dan penuh ancaman.
Setelah sekian lama menikmati singgasana juara umum pertama, aku ditendang paksa dan jatuh berlumuran rasa malu.
"Kalau begitu bantu aku, Bodoh! Kami hanya selisih beberapa poin, kan?! Jika saja kau—"
"Shhhttt ...!" Aku sontak terpaku diam. Badan dari pistol kebanggaannya menempel di depan bibirku.
"Kau tahu, kan? Aku sudah menjadi kepala sekolah yang sangat adil, bahkan sebelum kau bersekolah di sini. Aku tidak peduli kau anakku atau bukan. Gunakan otak cerdasmu itu dan berjuanglah untuk mahkotamu sendiri!" tegasnya dengan mata melotot tajam.
Aku tertegun, benar-benar terkejut hingga tak sanggup mengeluarkan suara. Namun beberapa detik kemudian, senyuman miring terbit di wajahku. Rasa tegang, jantung yang berdebar keras, bulu kuduk yang merinding, semuanya benar-benar nikmat!
"AHAHAHAHA!!!" Dia refleks melangkah mundur, menatap heran anaknya yang mendadak terbahak-bahak seperti orang gila. Aku meraung, menarik wajahku turun, juga menjilat jari-jariku sendiri. Sungguh kenikmatan yang tiada tara!
"Aahh~ Terima kasih, Pak Yuriko! Berkat Anda, saya bisa menikmati cita rasa ketegangan yang sesungguhnya! Oohhh, ini sangaaatt luar biasa! AHAHAHAA!!!"
DOR! Aku tersentak kaget, menatap horor kepada pistol yang mengarah ke atap.
"Hentikan omong kosong ini, Michiru. Pergi dari hadapanku. Jangan kembali sebelum kau berhasil menang judi lagi. Dan ... balas dendam." Dia tersenyum miring, tertawa keras, lalu pulang ke singgasana khusus pimpinan sekolah.
"Ahh ... tentu saja. Mahkota itu pasti akan kurebut kembali. Jika tidak, maka lebih baik tidak memiliki kepala sekalian. Bye! Hahaha!"
🃏🔪🃏🔪🃏
"Hai, Yuriko! Bagaimana rasanya kalah setelah menang lima kali berturut-turut? Hahaha!" Seseorang berteriak saat aku berjalan melewati koridor utama sekolah. Rasanya seperti deja vu. Mungkin karena aku terlalu banyak dapat kesialan belakangan ini.
Namun, aku akan menanggapi kalimat itu. Seperti Yuriko Michiru manis tetapi mematikan yang sangat mereka kenal.
"Hmm ... rasanya luar biasa! Kau mau mencobanya? Ah, maaf, aku lupa. Waktumu di sekolah ini tidak lama lagi, kan? Apa di dunia ini juga?"
Siswa itu tersentak, menatapku tajam dengan ekspresi yang sulit diartikan.
"Haha! Kasihan! Semuanya, lihat! Yuriko menjadi gila karena tempatnya digeser!"
Dahiku mengernyit, alisku tertekuk, dan mulutku menganga lebar. Kenapa para pecundang ini malah melawanku?!
Mereka terbahak-bahak, berdiri melingkariku, lalu kembali melemparkan kalimat sarkas dan sinis kepadaku. "Kami semua sudah sadar tentang kebusukanmu! Topeng senyuman itu tidak cukup kuat untuk menutupi baunya! Dasar wanita pejudi!"
DEG! DEG! DEG!
Jantungku berdetak keras, dunia terasa berputar kencang, dan kakiku tak lagi sanggup berdiri tegak. Ekspresiku berubah total, keringat dingin langsung membanjiri wajahku.
Kenapa mereka bisa tahu?!
"Lihat! Dia terdiam! Berarti rumor itu benar!" Seorang gadis berambut hitam ikut menimpali.
Rumor? Kenapa bisa ada rumor yang tersebar? Apa semua orang sudah tahu sisi gelapku?!
Mereka bersorak-sorai, menuduhku dan menyumpahiku dengan kalimat tak pantas. Aku memandang ke sekeliling, semuanya terasa begitu asing. Tidak ada satu pun yang menunduk takut, apalagi mencium sepatuku.
Apa ini artinya, aku sudah tidak perlu berpura-pura lagi?
"I swear on my life that I've been tried to be a good girl. Tonight, I don't wanna be her," bisikku, tak membiarkan orang lain mendengarnya.
"AHAHAHA!" Mereka terperanjat kaget, serempak melompat mundur, dan membiarkanku menggila sendirian di tengah. "IYA! BENAR! AKU ADALAH PUTRI JUDI DI KOTA INI! PECUNDANG SEPERTI KALIAN HANYALAH KUMAN YANG MENEMPEL DI BAJUKU! AHAHAHA!"
Seseorang tiba-tiba membelah kerumunan, berlari masuk ke bagian dalam lingkaran. "Apa yang terjadi?! Kau kenapa, Michiru?!"
Ahh ... si pemeran utama baru saja bergabung di dalam meja permainan.
"Eh? Waahh ... kita kedatangan tamu istimewa. Hai, Mikaru! Aku senang sekali kau datang ke sini!" ucapku seraya memeluknya erat. Dia terdiam seribu bahasa, kebingungan melihat sikapku yang berubah total.
Aku tersenyum lebar, memegang kedua tangannya dengan mata berbinar. "Kau tahu? Aku sangat senang hari ini, karena semua orang berhasil membuka topengku! Padahal kukira mereka terlalu pecundang untuk membongkar rahasiaku. Ternyata aku salah! Hahaha!"
Mikaru bergetar gugup, perlahan-lahan mundur menjauhiku. "Karena sudah basah, sekalian nyebur saja, kan? Jadi hari ini, aku akan memuaskan semua rasa penasaran kalian!" Keringatku bercucuran sangkin antusiasnya.
"Mari bermain, Mikaru! Aku sangat ingin merebut tahktaku kembali. Kau tidak keberatan, kan? Lagi pula, mahkotanya tidak cocok bersarang di kepalamu. Hahaha!" Semakin lama tubuh Mikaru semakin bergetar hebat. Sudah kuduga, dia sama sekali tidak menantang.
"Baiklah! Kita akan bermain judi kecil-kecilan, lebih tepat disebut taruhan, sih. Aku memiliki sesuatu yang berharga di sini ...." Tanganku merogoh saku rok yang sudah dimodifikasi.
"Tadaaa!" Kerumunan murid langsung menahan napas shock, tatkala melihat pistol yang kutampilkan dengan bangga. Mereka tertegun, semakin bergerak menjauhi kami. Aku terkekeh geli menyaksikan sikap khas kaum pengecut itu.
"Mi-michiru ... ka-kau—"
"Shhhttt ...!" Pistol indahku menempel di bibirnya, mencegah si protagonis mengeluarkan petuah. "Sudahlah, Mikaru. Kita nikmati saja, yah? Hehehe~"
"Jadi, peraturannya mudah kok. Kamu cuma perlu menebak angka berapa yang sedang kupikirkan sekarang, dari angka satu sampai sepuluh, fufufu~" Pipiku merona merah, terlalu antusias hingga kesulitan bernapas.
"A-apa?! Mana mungkin—"
"Jika kau salah atau tidak mau menebak, peluru gurih ini akan menyusup masuk di antara saraf-saraf otakmu."
Berhasil! Ekspresi Mikaru sekejap berubah total. Jarak kami kira-kira tiga langkah, tetapi terasa begitu dekat karena pistol yang sengaja aku todongkan.
"Tapi ... kalau kau mau mengakui aku jauh lebih baik darimu, dan akulah yang layak menjadi juara umum pertama, maka kau bisa menembakku tanpa persyaratan lain."
"A-apa?! Michiru, sadarlah! Kau tidak—"
"Aku tidak apa? Tidak waras?"
DOR! Satu tembakan melayang bebas ke lantai atas. Mikaru jatuh terduduk, menatap horor ke arah bekas yang tercipta. "JAWAB!" desakku.
"Baiklah! Baiklah!" Mikaru menyerah, tak sanggup menghadapi tekanan atmosfer yang aku berikan. Senyum licik merekah di wajahku, menunggu Mikaru mengucapkan kalimat itu.
"Ka-kau jauh lebih baik dariku ... da-dan kaulah yang la-layak menjadi ... ju-juara umum pertama ...."
DOR!
Semua orang tersentak kaget ketika aku menarik pelatuknya. Mikaru berteriak histeris, sedangkan murid yang sadar penuh langsung bergerak cepat ke tengah. Aku tersenyum miring, lalu membalikkan badan.
"Bodoh. Langkah kakimu yang besar itu masih terdengar. Maaf, mungkin kau tidak akan bisa berjalan untuk beberapa minggu. Atau mungkin ... selamanya. Hahaha!" Aku berjalan santai, melewati kerumunan dan si pengecut yang tadi berusaha membiusku.
Namun, langkahku terhenti sejenak. Aku menoleh ke belakang, menatap Mikaru yang masih shock hingga tak sanggup bergerak. "Terima kasih untuk mahkota dan tahktanya. AHAHAHA!"
🃏🔪🃏🔪🃏
Terima kasih sudah membaca;)