Udara pagi yang terasa berat menyelimuti perjalanan Dani dan kelimanya menuju Desa Sibor. Bukan udara segar pegunungan biasa — ada bau tanah lembap bercampur aroma daun kering yang terus masuk ke dalam kabin mobil sejak mereka memasuki jalan setapak desa. Dani memutar setir pelan, matanya terus menatap jalan yang makin sempit, sementara Lasma duduk di sebelahnya, jari‑jarinya tanpa sadar memutar ikatan rambut hitam yang ia pakai sejak berangkat.
“Kamu yakin lokasi campingnya di sini, Ni?” tanya Lasma suaranya pelan, matanya melirik ke jendela tempat pepohonan berdiri rapat seolah sedang mengawasi mobil mereka lewat.
“Iya, temenku yang pernah ke sini kirim koordinatnya. Dia bilang pemandangannya luar biasa,” jawab Dani, tapi nada suaranya sedikit goyah saat melihat tidak ada satu pun rumah warga yang terlihat sejauh ratusan meter.
Frans yang duduk di belakang merangkul bahu Angel, “Sudah dua puluh menit kita lewat pohon‑pohon ini, aku belum lihat tanda‑tanda desa sama sekali.”
Monica menggenggam tangan Joni lebih erat, “Aku merasa ada yang salah dari tempat ini… rasanya seperti kita sedang diawasi.”
Belum sempat Joni menjawab, sesosok pria paruh baya muncul tiba‑tiba dari balik pohon besar, berdiri tepat di pinggir jalan tanpa suara. Dani mengerem mendadak sampai ban mobil mengeluarkan decitan keras. Semua orang terkejut, jantung mereka seolah berhenti berdetak sejenak. Pria itu adalah Pak Marlon, Pak RT desa, wajahnya tidak tersenyum seperti yang mereka bayangkan sebelumnya, tatapannya tajam menatap keenam orang satu per satu.
“Kalian rombongan yang mau camping dekat makam tua itu?” tanyanya suara rendah, tidak menyapa ramah sama sekali.
Dani menelan ludah, “I‑iya Pak, kami berencana mendirikan tenda di area datar dekat bak umum.”
Pak Marlon menggelengkan kepala perlahan, matanya beralih menatap Lasma yang rambutnya sedikit terurai di bahu, “Aku sudah bilang lewat pesan sebelumnya, ini bukan tempat liburan biasa. Ada tiga larangan mutlak yang tidak boleh dilanggar sedikit pun. Pertama: semenjak matahari terbenam sampai matahari terbit besok pagi, perempuan‑perempuan di kelompok ini harus mengikat rambutnya rapat‑rapat, tidak boleh ada sehelai rambut pun terurai. Kalau terurai… ia akan menemukan siapa yang ia cari.”
Lasma mengernyit, “Siapa yang Pak maksud?”
Pak Marlon tidak menjawab pertanyaannya, ia melanjutkan kalimatnya dengan nada semakin berat, “Kedua: Jangan pernah berpelukan, apalagi berciuman di dekat barisan makam tua sebelah bak umum. Mereka benci melihat kasih sayang yang tidak sah di atas tanah mereka. Ketiga: Jam sembilan malam ke atas, jangan keluar tenda meskipun kalian mendengar suara panggilan nama kalian, suara tangisan anak kecil, ataupun suara orang meminta tolong dari arah makam dan hutan Gonggong. Suara itu bukan manusia.”
Frans tertawa paksa untuk menutupi rasa tegangnya, “Mungkin itu cuma legenda desa Pak, kami akan berhati‑hati kok.”
“Legenda?” Pak Marlon menatap Frans tajam, “Tiga tahun lalu ada sekelompok anak muda persis seperti kalian. Mereka menertawakan larangan ini juga. Hanya empat yang pulang, dua lainnya hilang sampai sekarang, sisa rambut panjang mereka ditemukan tergeletak di depan makam tua pagi harinya.”
Darah seolah membeku di pembuluh darah mereka semua. Namun karena sudah jauh menempuh perjalanan, mereka tetap memutuskan mendirikan tiga tenda di lokasi yang direncanakan, tepat di antara bak umum dan barisan makam tua yang batu nisannya sudah keropos dimakan waktu. Selesai mendirikan tenda, matahari mulai terbenam, langit berubah menjadi warna abu‑abu gelap. Lasma sempat mengikat rambutnya rapat, tapi saat mandi di bak umum ia melepaskan ikatan rambutnya sebentar untuk mencuci rambut, lalu lupa mengikatnya kembali karena terburu‑buru kembali ke tenda.
Malam jatuh sepenuhnya. Mereka menyalakan api unggun kecil untuk menghangatkan badan. Angin dingin bertiup kencang membawa aroma tanah basah, suara jangkrik tiba‑tiba berhenti sepenuhnya seolah semuanya bersembunyi.
Angel merapatkan jaketnya, “Kenapa tiba‑tiba sunyi sekali ya?”
Belum ada yang menjawab, terdengar suara bisikan halus dari arah makam tua, suara perempuan yang memanggil nama Lasma berulang‑ulang.
Lasma merinding seketika, “Kalian… kalian dengar itu? Dia memanggil namaku!”
Frans bangkit berdiri sambil memeluk Angel lebih erat, “Jangan‑jangan cuma angin yang lewat di antara batu nisan, jangan panik!”
“Angin tidak bisa memanggil nama orang secara jelas, Frans!” balas Lasma suaranya bergetar, ia baru sadar rambutnya terurai panjang menjuntai ke bahu.
Saat itu bayangan tinggi berambut panjang melintas cepat di antara batu nisan makam tua, cahaya api unggun sempat menyinari sosok itu sekejap. Monica berteriak pelan menutup mulutnya, “Ada sesuatu di sana! Dia sedang berdiri menatap kita!”
Mereka semua menoleh ke arah makam, tapi sosok itu sudah hilang tertelan kegelapan. Dani menarik Lasma masuk ke dalam tenda dengan cepat, “Cepat ikat rambutmu sekarang Lasma!”
Lasma gemetar mencari ikatan rambutnya, tapi ikatan rambut hitam yang ia pakai sejak berangkat sudah hilang entah ke mana.
Malam semakin larut, mereka berpisah ke masing‑masing tenda. Sekitar jam sepuluh malam, terdengar ketukan pelan di dinding tenda Dani dan Lasma: tok… tok… tok…
Dani berbisik ke telinga Lasma yang sudah menangis ketakutan, “Jangan jawab ketukan itu, Pak Marlon bilang jangan merespon apa pun malam ini.”
Ketukan berhenti, lalu suara perempuan yang lembut terdengar tepat di luar tenda mereka, “Kamu lupa mengikat rambutmu ya… aku sudah lama menunggu orang yang membiarkan rambutnya terurai di sini… ikutlah bersamaku…”
Suara itu begitu dekat, seolah bibir sosok itu hanya berjarak beberapa senti dari kain tenda tipis yang memisahkan mereka. Lasma memeluk Dani dengan erat, air mata menetes deras, napasnya tersengal‑sengal karena takut. Dani bisa merasakan tubuh Lasma gemetar hebat di pelukannya, ia menutup mulut Lasma agar ia tidak mengeluarkan suara apa pun.
Di tenda Frans dan Angel, hal serupa terjadi. Suara tangisan anak kecil terdengar meminta tolong persis di depan pintu tenda mereka. Frans menahan keinginan untuk membuka tenda meskipun hatinya bergejolak ingin menolong si anak itu. Di tenda Joni dan Monica, mereka melihat bayangan rambut panjang yang melintas berulang kali di atas tenda mereka.
Pagi hari tiba perlahan, cahaya matahari menembus kabut tebal yang menyelimuti area tenda. Ketika mereka keluar tenda dengan wajah pucat pasi, mereka melihat ikatan rambut hitam milik Lasma tergantung rapi di atas batu nisan makam tua paling besar, dan ada bekas jejak kaki telanjang yang ukurannya sangat panjang berjalan lurus menuju arah Hutan Gonggong.
Pak Marlon datang ke lokasi itu pagi itu, melihat ikatan rambut yang tergantung di batu nisan, wajahnya langsung berubah pucat pasi, “Kalian melanggar laranganku… rambutnya terurai semalam. Dia sudah menandai Lasma.”
Lasma jatuh berlutut ke tanah, tangannya gemetar menunjuk ikatan rambutnya yang tergantung di batu nisan, “Aku tidak tahu kapan ia mengambil ikatan rambutku… apakah ia akan mengambilku juga Pak?”
Pak Marlon menunduk menatap tanah, suaranya berat penuh penyesalan, “Bukan berarti langsung diambil… tapi dia akan terus mengikutimu ke mana pun kamu pergi. Sekarang dia sudah tahu siapa kamu.”
Udara pagi masih terasa dingin menusuk tulang ketika kelima orang itu berdiri mematung menatap ikatan rambut hitam Lasma yang tergantung rapi di ujung batu nisan keropos. Kabut tipis belum sepenuhnya terangkat, menyelimuti barisan makam tua sehingga batas antara pepohonan dan batu nisan hampir tidak terlihat jelas. Lasma masih berlutut di tanah lembap, bahunya bergetar hebat. Jari‑jarinya mengepal kuat menahan isakan tangis yang hampir keluar.
Pak Marlon melangkah mendekat, wajahnya pucat pasi, tatapannya menatap ikatan rambut itu lalu beralih ke wajah Lasma.
“Sudah kubilang semalam, dia sudah menandaimu. Kalian harus segera berkemas dan pergi dari sini sebelum matahari naik ke tengah langit,” ucap Pak Marlon dengan suara gemetar, matanya menunjuk ke arah jalan keluar desa yang masih tertutup kabut.
Dani mengangkat kepalanya, rahangnya mengeras. Ia melirik ke arah hutan Gonggong yang tersembunyi di balik kabut tebal.
“Pak Marlon, kami tidak bisa pulang begitu saja. Lasma masih punya ikatan rambutnya tergantung di sana, dan aku penasaran apa yang sebenarnya ada di air terjun yang warga desa bicarakan. Kami mau masuk ke hutan itu sebentar saja, ke lokasi air terjun lalu langsung kembali ke sini untuk pulang ke kota,” ucap Dani tegas.
Pak Marlon menggelengkan kepala dengan cepat, tangannya mengayun menolak permintaan Dani.
“Jangan masuk ke hutan itu hari ini! Apalagi ke air terjunnya. Hari ini adalah hari ketika kabut tebal turun ke dasar lembah, batas antara dunia kita dan tempat itu menjadi tipis sekali. Kalian tidak tahu apa yang menunggu di sana!” seru Pak Marlon suaranya meninggi.
Frans melangkah maju berdiri di samping Dani, wajahnya tampak ragu tapi tetap bersikeras.
“Pak, kami sudah jauh‑jauh datang ke sini. Kami tidak akan lama, paling lama satu jam saja kami ada di sana. Kami akan tetap berkelompok, tidak ada yang berpisah satu sama lain,” ucap Frans mencoba meyakinkan Pak Marlon.
Monica menggenggam lengan Joni erat, matanya menatap hutan dengan takut.
“Dani… aku rasa kita sebaiknya mendengarkan Pak Marlon. Aku tidak mau hal yang lebih buruk terjadi pada Lasma,” bisik Monica pelan.
Joni mengusap punggung Monica perlahan, tapi ia juga ikut penasaran dengan rahasia desa itu.
“Kita hati‑hati saja ya, kalau terasa aneh kita langsung lari kembali,” bisik Joni ke telinga Monica.
Pak Marlon menatap kelima orang itu bergantian selama beberapa detik, napasnya naik turun. Ia tahu tidak akan bisa menghentikan mereka yang sudah keras kepala. Akhirnya ia menghela napas panjang, air matanya hampir menetes.
“Baiklah… aku izinkan kalian masuk ke sana. Tapi ingat tiga aturan ini, jangan sampai dilanggar. Pertama: Jangan berpisah walau satu langkah pun, tetap saling pegang tangan agar tidak ada yang terpisah di balik kabut. Kedua: Jangan memanggil nama siapa pun saat sudah dekat air terjun, siapa pun yang memanggil nama kalian jangan menoleh ke arah suara itu. Ketiga: Jangan terlalu lama berdiri di tepi air terjun, jangan mencoba berbicara dengan sosok apa pun yang kalian lihat di balik kabut. Kalau kabut tiba‑tiba semakin tebal, langsung berpegangan tangan dan berjalan kembali mengikuti arah aliran air ke luar hutan. Aku tidak bisa menjamin nyawa kalian kalau melanggarnya,” ucap Pak Marlon dengan nada pasrah.
Dani mengangguk cepat, ia membantu Lasma berdiri dari tanah. Lasma masih gemetar tapi ia mengangguk setuju ikut masuk ke hutan bersama yang lain.
Kelima orang itu berjalan masuk ke dalam Hutan Gonggong. Kabut semakin tebal seiring mereka masuk ke dalam, sinar matahari hampir tidak bisa menembus dedaunan rapat di atas kepala mereka. Suara burung yang biasanya terdengar di hutan itu hilang sepenuhnya, hanya terdengar suara gemericik air yang semakin keras seiring mereka berjalan maju. Angin berhembus dingin membawa aroma air basah bercampur bau tanah kuburan yang menyengat hidung.
Mereka saling berpegangan tangan agar tidak terpisah. Dani berjalan paling depan memegang tangan Lasma, di belakangnya ada Frans memegang Angel, lalu Joni yang memegang tangan Monica.
“Apakah jalannya benar Dani? Rasanya kita sudah berjalan lebih dari empat puluh menit,” tanya Angel suaranya bergetar sambil menoleh ke sekeliling kabut yang putih pekat.
“Gemericik air semakin dekat, kita hampir sampai,” jawab Dani matanya menatap lurus ke depan meskipun pandangannya hanya bisa mencapai beberapa meter saja.
Beberapa langkah kemudian air terjun itu muncul di balik kabut pekat. Airnya jatuh tenang ke kolam berwarna kehitaman, kabut putih melingkupi seluruh tepian kolam seolah ada sesuatu yang menjaga tempat itu.
Lasma tiba‑tiba menarik tangannya dari genggaman Dani tanpa disadari, matanya menatap lurus ke arah tengah kolam air terjun seolah ada sesuatu yang memanggilnya dari sana.
“Lasma! Jangan lepaskan tanganku!” seru Dani segera meraih tangan Lasma, tapi tangannya hanya menangkap udara kosong.
Lasma berjalan perlahan maju menuju tepi kolam, kakinya melangkah tanpa ragu seolah ada suara yang ia kenal memanggil namanya dari tengah kabut di atas kolam.
“Lasma, berhenti! Ingat apa yang dikatakan Pak Marlon!” teriak Frans sambil berlari mendekat bersama Angel, Joni dan Monica.
Belum sempat mereka mendekat, kabut yang melingkupi kolam tiba‑tiba berputar kencang menutupi seluruh pandangan mereka seketika. Angin menderu keras, suara gemericik air berubah menjadi suara bisikan ribuan perempuan yang memanggil nama Lasma secara bersamaan. Semua orang menutup telinga karena bisikan itu terasa menusuk langsung ke kepala mereka.
Ketika kabut berputar mereda beberapa detik kemudian, tepi kolam itu sudah kosong. Lasma menghilang tanpa jejak. Tidak ada suara teriakan, tidak ada riak air di kolam kehitaman itu seolah Lasma tidak pernah berdiri di sana sedetik sebelumnya.
“LASMA!!!” teriak Dani sekuat tenaga sambil berlari ke tepi kolam, matanya menyapu seluruh permukaan air yang tenang.
Monica menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata langsung mengalir deras di pipinya, “Dia hilang… Lasma benar‑benar hilang!”
Angel memeluk lengan Frans erat, tubuhnya gemetar hebat menatap kolam yang tenang tanpa riak sama sekali, “Tadi dia ada di sini beberapa detik yang lalu… ke mana dia pergi?”
Frans menatap sekeliling kabut yang masih tersisa, suaranya gemetar mencoba menenangkan yang lain meski jantungnya hampir meledak karena takut, “Kita harus cari dia! Dia tidak mungkin menghilang begitu saja!”
Joni berjalan ke arah semak‑semak di sisi kolam sambil memanggil nama Lasma pelan tapi ia segera berhenti mengingat peringatan Pak Marlon, “Jangan terlalu keras memanggil namanya… nanti kita malah memanggil hal lain ke sini juga!”
Dani berjalan ke arah semak‑semak sebelah kiri kolam, matanya menyapu setiap sudut yang tertutup kabut. Suara langkah kaki halus terdengar dari balik kabut beberapa meter di depannya, langkah kaki perempuan yang berjalan pelan menjauh ke arah bagian dalam hutan.
“Lasma ! Apakah itu kamu ? Jawab aku !” seru Dani sambil melangkah maju mengejar suara langkah kaki itu.
“Dani berhenti! Jangan maju sendirian!” teriak Frans mengejar Dani bersama tiga orang lainnya.
Ketika mereka sampai ke tempat asal suara langkah kaki itu, tidak ada siapa‑siapa. Hanya sehelai rambut panjang milik Lasma yang tergeletak di atas batu besar, dan bekas jejak kaki telanjang yang mengarah lebih dalam ke jantung hutan Gonggong yang kabutnya semakin pekat.
Dani mengambil helai rambut itu dengan tangan gemetar, napasnya tersengal‑sengal. Ia sadar bahwa Lasma tidak jatuh ke kolam air terjun. Ia dibawa masuk lebih dalam ke hutan itu.
“Kita harus kembali memanggil Pak Marlon sekarang juga, dia satu‑satunya orang yang tahu tempat ini,” ucap Dani suaranya serak penuh penyesalan menatap arah hutan yang semakin gelap di balik kabut.
Di balik kabut pekat yang beberapa meter dari posisi mereka, sesosok sosok perempuan berambut panjang berdiri diam menatap kelima orang itu tanpa mengeluarkan suara apa pun, sebelum perlahan menghilang tertelan kegelapan hutan bersama sosok Lasma yang tidak sadarkan diri di belakangnya…
Dani masih menggenggam helai rambut panjang Lasma di telapak tangannya, napasnya tersengal‑sengal sementara kabut dingin terus menempel di kulit mereka berlima. Frans baru saja hendak berbalik berlari menuju desa untuk memanggil Pak Marlon ketika Joni menarik lengan bajunya dengan kuat.
“Jangan! Kita jangan cari Pak Marlon dulu,” ucap Joni suaranya bergetar, matanya menatap arah hutan yang semakin pekat. “Ingat ucapan Pak Marlon tadi? Dia sudah bilang tidak bisa menjamin nyawa kita kalau kita masuk ke sini. Kalau kita kembali ke sana, kemungkinan besar dia akan melarang kita masuk lagi dan Lasma akan semakin sulit ditemukan sebelum hari gelap.”
Monica menggigit bibirnya rapat, matanya berkaca‑kaca, “Tapi kita cari Lasma sendirian? Kita tidak tahu apa yang ada di dalam sana…”
“Lasma adalah teman kita. Kita tidak bisa meninggalkannya begitu saja,” potong Dani tegas, ia memasukkan helai rambut Lasma ke dalam saku jaketnya. “Kita tetap berkelompok, ikuti jejak kaki telanjang itu. Kalau terasa benar‑benar berbahaya, baru kita kembali.”
Frans menghela napas berat lalu mengangguk pelan, Angel hanya bisa memeluk lengannya erat tanpa bantahan lagi. Kelimanya pun melangkah masuk lebih dalam ke Hutan Gonggong, mengikuti bekas jejak kaki yang samar di atas tanah lembap. Sinar matahari semakin sulit menembus dedaunan, udara terasa makin berat seolah ada ratusan pasang mata yang mengawasi setiap langkah mereka.
Sementara itu, Lasma yang tadi terpisah dari kelompoknya sadar perlahan. Kepalanya terasa pening hebat, ia tidak ingat bagaimana caranya bisa sampai ke tempat ini. Sekelilingnya penuh kabut putih pekat, suara gemericik air terjun sudah tidak terdengar lagi — digantikan suara bisikan halus perempuan yang saling bersahutan dari segala arah. Ia mencoba berdiri tapi kakinya terasa lemas sekali, rambutnya terurai panjang menjuntai ke bahu tanpa ikatan sama sekali.
“Di mana aku…?” gumam Lasma sambil menatap sekeliling dengan mata yang kabur.
Ia berjalan perlahan maju, kakinya menginjak daun‑daun kering yang mengeluarkan suara krek‑krek pelan. Beberapa langkah ke depan, ia melihat sesosok perempuan berdiri membelakanginya di bawah pohon besar yang batangnya bengkok ke arah tanah. Sosok itu mengenakan baju panjang berwarna putih kusam, rambutnya sangat panjang sampai menutupi seluruh punggungnya, bahkan menyentuh permukaan tanah yang lembap.
Lasma menelan ludah dengan susah payah, jantungnya berdegup kencang hingga terasa sesak di dada.
“Maaf… apakah Anda melihat teman‑temanku?” tanya Lasma pelan, ia berharap itu adalah warga desa yang tersesat ke hutan.
Sosok perempuan itu tidak menjawab sama sekali, tubuhnya diam membeku seolah tidak mendengar suara Lasma sedikit pun. Lasma mencoba melangkah satu langkah mendekat untuk melihat wajahnya, tapi begitu ia menggeser kakinya, sosok itu perlahan menoleh ke arahnya — dan Lasma langsung membeku di tempat.
Wajah perempuan itu tidak ada kulitnya, hanya permukaan daging kering yang kusam, matanya adalah dua lubang kosong yang gelap, dan mulutnya ternganga lebar tanpa bibir seolah terus berbisik tanpa henti. Rambut panjangnya yang menyentuh tanah tiba‑tiba bergerak merayap ke arah kaki Lasma seperti ular‑ular kecil yang hidup.
Lasma tidak bisa menahan teriakan ketakutan yang meledak dari tenggorokannya: “AAAAAAA!!!”
Ia berbalik seketika dan berlari sekuat tenaga menjauhi sosok itu, air mata langsung mengalir deras di pipinya, napasnya tersengal‑sengal karena takut. Di belakangnya terdengar suara gemerisik daun kering, seolah sosok perempuan itu sedang berjalan pelan mengejarnya tanpa terburu‑buru — seolah ia hanya bermain sebelum benar‑benar menangkapnya.
Lasma berlari sampai kakinya terasa nyaris lumpuh, sampai ia berhenti di depan gundukan tanah yang ditumbuhi rumput tinggi — sebuah makam tua yang tidak pernah ia lihat sebelumnya di dalam hutan itu. Di atas makam itu tertulis nama perempuan yang sama persis dengan nama yang terus‑menerus memanggil namanya sejak mereka tiba di Desa Sibor.
Bisikan‑bisikan yang tadinya dari segala arah kini berkumpul tepat di belakang telinganya, suara perempuan itu terdengar sangat dekat: “Kau datang menggantikan tempatku… ikutlah beristirahat di sini…”
Lasma berbalik dengan panik, sosok perempuan penunggu hutan itu sudah berdiri beberapa langkah di depannya. Rambut‑rambut panjangnya semakin banyak merayap ke arahnya, menjerat rumput di sekeliling makam. Lasma berteriak sekuat tenaga sekali lagi, suaranya pecah karena takut, ia berusaha berteriak memanggil nama Dani dan teman‑temannya meskipun ia tidak tahu apakah suaranya bisa sampai ke telinga mereka.
Sementara itu kelima orang yang sedang mencari Lasma tiba‑tiba mendengar teriakan Lasma yang samar dari arah sebelah kiri hutan.
“Itu suara Lasma!” seru Dani sambil berlari secepat mungkin ke arah sumber suara itu, yang lain segera mengejarnya meskipun kabut semakin tebal menghalangi pandangan mereka.
Namun semakin dekat ke arah teriakan itu, mereka mulai melihat hal‑hal aneh juga: bekas jejak kaki perempuan berukuran panjang yang tiba‑tiba muncul di tanah lalu hilang begitu saja, bau tanah kuburan semakin menyengat hidung, dan sesekali mereka melihat bayangan putih melintas cepat di balik pepohonan sebelum menghilang kembali ke kabut pekat. Monica sampai berhenti sejenak karena ia melihat sosok putih yang berdiri diam di balik pohon hanya beberapa detik sebelum menghilang, membuatnya berpegangan erat pada Joni sambil menahan tangis ketakutan.
Ketika mereka sampai ke area makam tua itu, mereka hanya melihat rumput yang bergerak kacau seolah ada sesuatu yang baru saja lewat di sana. Tidak ada Lasma, tidak ada sosok perempuan itu — hanya suara isakan tangis Lasma yang samar terdengar jauh lebih dalam ke arah jantung hutan, seolah dia terus dibawa menjauh sebelum mereka sempat menjangkaunya.
Dani mengepalkan tangannya kuat‑kuat, keringat dingin membasahi seluruh tubuhnya, “Dia masih hidup… dia menangis di depan kita. Kita harus lanjut ke sana sekarang juga!”
Frans menatap ke arah kabut yang semakin gelap, suaranya gemetar, “Tapi apakah kita benar‑benar siap menghadapi apa pun yang ada di depan sana?”
Isakan tangis Lasma perlahan memudar, tertelan kabut pekat yang makin menebal di atas hutan Gonggong. Angin dingin berhembus membawa bau tanah kuburan yang makin menyengat hidung kelima orang itu. Dani masih menatap ke arah dalam hutan dengan rahang mengeras, tekadnya untuk terus maju belum luntur sedikit pun. Namun keraguan yang sudah lama terpendam di hati teman‑temannya akhirnya meluap, menimbulkan pertengkaran hebat di tengah hutan yang sunyi itu.
“Kita harus lanjut sekarang juga! Lasma masih menangis di dalam sana, dia butuh bantuan kita!” seru Dani sambil melangkah satu langkah ke depan, tangannya mengepal kuat menahan panik yang meluap‑luap.
Frans segera menarik lengan Dani untuk menghentikan langkahnya, wajahnya merah padam karena emosi bercampur ketakutan.
“Berhenti Dani! Kamu mau kita semua hilang juga seperti Lasma? Apa kamu tidak sadar kita sudah terlalu jauh masuk ke sini? Kita bahkan tidak tahu arah pulang dengan pasti sekarang!” bentak Frans dengan suara meninggi, napasnya naik turun karena marah.
Dani melepaskan tarikan lengan Frans dengan kasar, matanya menatap tajam ke arah Frans.
“Jadi kamu mau kita meninggalkan Lasma sendirian di hadapan makhluk mengerikan itu? Bukankah kita datang ke sini bersama‑sama? Kalau bukan karena rasa penasaranmu juga, kita tidak akan sampai ke titik ini!” balas Dani tak mau kalah, nadanya penuh penyesalan sekaligus amarah.
Angel menarik lengan Frans dengan cemas, air mata sudah menggenang di matanya.
“Frans, Dani… jangan bertengkar begini! Kita harus berpikir jernih untuk menyelamatkan Lasma,” ucap Angel berusaha meredakan emosi keduanya, tapi suaranya tidak didengar sama sekali oleh kedua pria itu.
Monica bersandar erat ke arah Joni, tubuhnya gemetar hebat, ia sudah tidak sanggup menahan tangisnya lagi.
“Joni, aku mau pulang… aku takut sekali, aku tidak mau bertemu sosok perempuan itu juga,” bisik Monica sambil menyembunyikan wajahnya di dada Joni.
Joni mengusap punggung Monica perlahan, tapi akhirnya ia juga ikut angkat bicara dengan nada tegas.
“Dani, aku setuju dengan Frans. Tadi aku yang menolak memanggil Pak Marlon, aku akui itu kesalahanku. Tapi sekarang kita sudah kehilangan arah, kabut makin tebal dan matahari akan segera terbenam. Kalau kita lanjut maju buta‑butaan, bukan mustahil kita semua tersesat selamanya di hutan ini,” ucap Joni, nadanya berat penuh keraguan.
Dani menoleh ke arah Joni dengan tatapan tidak percaya.
“Jadi kalian semua menyerah pada Lasma begitu saja? Kalian tidak peduli lagi dengan keselamatannya?” tanya Dani suaranya serak, rasa kecewa mulai menguasai hatinya.
“Bukan berarti menyerah Dani! Kita butuh istirahat sebentar di tempat ini untuk menenangkan pikiran, baru setelah itu kita tentukan langkah selanjutnya. Kita tidak bisa bertindak gegabah saat emosi sedang meluap begini!” jawab Frans masih dengan nada tinggi, pertengkaran mereka terus berlanjut selama belasan menit, saling menyalahkan satu sama lain sampai tenaga mereka hampir habis.
Setelah bertengkar hebat, kelelahan emosi bercampur rasa kantuk yang berat tiba‑tiba menyerang mereka semua secara bersamaan — bukan kantuk biasa, melainkan rasa lemas yang seolah ada sesuatu yang menguras tenaga mereka dari balik kabut. Tidak ada yang punya kekuatan lagi untuk berdebat ataupun melangkah maju. Mereka akhirnya duduk diam berjarak beberapa meter satu sama lain di atas tanah lembap yang tertutup daun kering, masih saling memalingkan wajah karena amarah dan kekecewaan.
“Baiklah… kita istirahat sebentar di sini saja. Jangan tertidur ya, kita cuma beristirahat beberapa menit saja,” gumam Dani lemah sambil menyandarkan punggungnya ke batang pohon besar, matanya masih menatap ke arah dalam hutan.
Frans hanya mengangguk pelan tanpa menjawab, ia duduk bersebelahan Angel yang sudah menutup matanya sambil memeluk lututnya erat. Joni dan Monica juga duduk di seberang mereka, Monica masih sesenggukan pelan sebelum akhirnya matanya terpejam perlahan.
Rasa kantuk itu semakin kuat, seolah kabut dingin itu merayap masuk ke dalam tulang mereka dan memaksa kelopak mata mereka terkatup. Tanpa sadar satu per satu dari mereka pun tertidur pulas di tempat mereka berdiri tadi, tidak ada yang bisa menahan kantuk aneh itu lagi. Suasana hutan kembali sunyi, hanya suara gemerisik daun yang bergerak pelan tertiup angin.
Sementara itu Lasma yang terpisah dari mereka masih berada di dekat makam tua itu, ia tidak berani menutup matanya sama sekali. Ia mendengar suara langkah kaki pelan yang berputar‑putar mengelilingi makam tua itu berulang kali, bisikan nama‑namanya terus terdengar dari segala arah. Ia berusaha menahan tangisnya agar suaranya tidak terdengar oleh sosok perempuan penunggu hutan itu, matanya terus menatap sekeliling kabut pekat dengan penuh ketakutan sambil berharap teman‑temannya akan segera datang menyelamatkannya sebelum hari benar‑benar gelap.
Di dekat tempat kelima orang itu tertidur pulas, bayangan putih tinggi berambut panjang melintas pelan di balik batang pohon, berdiri diam menatap tubuh mereka yang tidak berdaya itu selama beberapa detik sebelum perlahan menghilang kembali ke dalam kabut pekat — seolah ia sengaja membiarkan mereka tidur untuk sesuatu yang akan terjadi saat mereka bangun nanti…
Kabut dingin terus menyelimuti tempat mereka beristirahat. Kelima orang itu tertidur pulas bersandar pada batang‑batang pohon, jarak di antara mereka masih terpisah akibat pertengkaran hebat yang baru saja selesai. Kantuk yang menyerang mereka bukan rasa lelah biasa — seolah ada sesuatu yang mendorong kesadaran mereka masuk ke dalam mimpi yang sama persis, seolah‑olah sosok penunggu hutan itu sengaja menanamkan gambaran mengerikan ke dalam pikiran mereka.
Di dalam mimpi itu, mereka semua berdiri di depan makam tua yang tadi sempat mereka lihat. Langit berwarna abu‑abu gelap tanpa ada sinar matahari sedikit pun. Lasma berdiri membelakangi mereka tepat di depan makam itu, rambut panjangnya terurai menutupi seluruh tubuhnya. Dani memanggil namanya berulang kali, tapi Lasma tidak menoleh sama sekali. Ketika angin bertiup kencang, rambut Lasma bergerak perlahan ke samping — dan mereka melihat sosok perempuan berwajah lubang kosong berdiri tepat di belakang Lasma, kedua tangannya perlahan menutup bahu Lasma.
“Lasma! Lari!” teriak Frans dalam mimpinya, suaranya serak tapi tidak ada suara apa‑apa yang keluar dari tenggorokannya.
Lasma menoleh perlahan ke arah mereka. Wajahnya sudah tidak ada ekspresi ketakutan lagi, matanya kosong sama persis seperti sosok penunggu hutan itu. Ia tersenyum tipis ke arah kelima temannya, lalu perlahan berbalik dan berjalan masuk ke dalam lubang tanah besar di depan makam tua itu. Tanpa perlawanan sedikit pun ia turun ke dalam lubang itu, tanah perlahan‑lahan menutup lubang tersebut sampai tidak ada lagi sisa jejak keberadaannya. Sosok penunggu hutan itu menoleh ke arah mereka ber lima, mulutnya ternganga lebar seolah tertawa pelan sebelum ikut menghilang ke bawah tanah.
Semua orang di mimpi itu merasakan keputusasaan yang berat — seolah Lasma benar‑benar sudah berakhir mengenaskan di sana. Dani berusaha berlari maju untuk menahannya, tapi kakinya terasa menancap ke tanah lembap dan tidak bisa bergerak sama sekali. Monica menangis histeris, Angel menutup matanya agar tidak melihat pemandangan itu, Joni membeku di tempat sementara Frans berteriak sekuat tenaga sampai paru‑parunya terasa perih.
“Lasmaaa!!!”
Teriakan Dani menggema di hutan, dan itu menjadi pemicu mereka semua terbangun secara bersamaan.
Dani tersentak bangun, napasnya tersengal‑sengal, keringat dingin membasahi seluruh pakaiannya. Frans juga terbangun sambil terengah‑engah, wajahnya pucat pasi. Monica masih menangis sesenggukan meskipun sudah terbangun sepenuhnya, Angel memeluk dirinya sendiri sambil gemetar, sedangkan Joni menatap sekeliling dengan tatapan bingung — perasaan mimpi itu masih tertinggal kuat di hati mereka, seolah apa yang baru saja mereka lihat bukanlah sekadar khayalan tidur.
“Kalian… apakah kalian juga memimpikan hal yang sama?” tanya Dani suaranya bergetar, matanya menatap satu per satu wajah teman‑temannya.
Frans mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah, “Iya… aku melihat Lasma masuk ke dalam tanah di depan makam tua itu. Aku merasa itu nyata sekali.”
Monica mengusap air matanya, “Aku juga melihatnya… aku pikir aku benar‑benar melihat Lasma meninggal di depan mata kita.”
Angel mengerutkan kening lalu menoleh ke sekeliling hutan, dan saat itulah ia menyadari ada yang salah dengan alam di sekitar mereka.
“Tunggu… lihat matahari tadi sebelum kita tidur itu ada di sebelah barat kan? Sekarang posisi cahaya justru ada di arah timur!” seru Angel sambil menunjuk ke arah cahaya samar yang menembus celah dedaunan.
Semua orang segera menoleh ke arah yang ditunjuk Angel, lalu mereka menyadari tanda‑tanda alam yang berbalik itu satu per satu. Burung‑burung yang seharusnya terbang mencari tempat bersarang saat sore hari justru berkicau seolah pagi hari tiba, embun baru muncul kembali di atas daun‑daun kering meskipun mereka baru beristirahat kurang dari setengah jam. Arah aliran air kecil yang tadi mengalir ke arah air terjun sekarang berbalik arah mengalir menjauhinya, dan angin yang tadinya bertiup dingin dari arah makam tua sekarang berhembus keluar dari dalam hutan — seolah waktu di tempat ini berputar mundur atau arah kompas alam telah berubah total.
“Ini tidak masuk akal… kita cuma tidur beberapa puluh menit saja, bagaimana bisa embun pagi muncul kembali?” gumam Joni sambil berjongkok menyentuh embun dingin di atas daun, jemarinya basah sepenuhnya.
Dani berdiri perlahan, rasa takut bercampur penyesalan memenuhi hatinya. Mimpi tadi masih menghantui pikirannya, tapi bagian dalam dirinya masih menolak percaya Lasma sudah hilang selamanya.
“Kalau arah alam berbalik, berarti arah ke makam tua juga sudah berubah. Jejak kaki yang tadi kita ikuti mungkin sekarang ada di arah sebaliknya,” ucap Dani sambil menunduk menelusuri tanah lembap di sekeliling tempat mereka tidur.
Beberapa langkah ke arah tempat yang tadinya mereka anggap arah keluar hutan, ia menemukan jejak kaki Lasma — jejak kaki telanjang yang samar itu berjalan lurus ke depan sampai berhenti tepat di depan makam tua yang sama persis dengan yang ada di mimpi mereka. Tidak ada jejak kaki yang menjauh dari makam itu, seolah Lasma benar‑benar berhenti di sana tanpa melangkah lagi.
Frans mendekat dan menatap makam tua itu dengan napas terhenti, “Jejaknya berakhir di sini… persis seperti yang kita lihat di mimpi tadi.”
Monica bersembunyi di belakang Joni sambil menatap makam tua itu dari kejauhan, “Apakah mimpi kita itu adalah kenyataan ? Apakah Lasma benar‑benar sudah ada di bawah sana?”
Angel menutup mulutnya rapat, air mata kembali menetes di pipinya sementara Dani berjalan mendekat ke makam tua itu perlahan‑lahan. Saat ia sampai di depan batu nisan yang keropos itu, ia melihat sepotong kain kecil milik Lasma tersangkut di celah batu nisan — kain yang sama yang Lasma pakai di lengan bajunya sebelum ia menghilang di tepi air terjun.
Dani mengambil potongan kain itu dengan tangan gemetar, kepalanya menunduk dalam. Rasa bersalah meluap di dadanya karena ia bersikeras masuk ke hutan meskipun sudah diperingatkan Pak Marlon, dan pertengkaran tadi membuat mereka terpisah fokus sehingga Lasma semakin sulit diselamatkan.
Tiba‑tiba angin berhembus kencang sekali, rumput di atas makam tua itu bergerak kacau seolah ada sesuatu yang bergerak di bawah permukaan tanah. Suara bisikan halus nama Lasma terdengar lagi dari arah makam itu, kali ini disertai suara isakan tangis pelan — suara Lasma, tapi nadanya tidak penuh ketakutan lagi, melainkan lemah dan pasrah.
Frans menarik napas dalam‑dalam, menatap teman‑temannya bergantian, “Apakah kita gali tanah makam ini untuk memastikan keberadaannya… atau kita mundur dulu dan cari jalan keluar sebelum keadaan makin parah?”
Potongan kain milik Lasma masih tergenggam erat di tangan Dani. Kakinya melangkah maju satu langkah menuju gundukan makam tua yang rumputnya tadi bergerak kacau. Napasnya naik turun, tatapannya sudah dipenuhi tekad bulat untuk menggali tanah itu demi memastikan keadaan Lasma.
“Kita harus gali sekarang juga! Lasma ada di bawah sana, dia masih mengeluarkan suara tangis tadi!” seru Dani sambil menunduk mencari batu besar yang bisa ia pakai untuk mencungkil tanah di atas makam.
Frans segera berlari maju dan menahan bahu Dani dengan kuat, wajahnya memerah karena menentang keras‑keras keputusan itu.
“Dani, berhenti! Ini makam orang yang sudah dikuburkan, kita tidak boleh merusaknya! Kalau kita gali, kita bisa membangkitkan amarah penunggu hutan itu lebih parah lagi!” bentak Frans suaranya meninggi.
Joni juga melangkah maju berdiri di samping Frans, tangannya menggeleng cepat menahan Dani, “Aku setuju dengan Frans! Kita tidak tahu apa yang ada di bawah sana, belum tentu itu Lasma. Kalau kita merusak makam ini, kita semua tidak akan bisa keluar dari hutan Gonggong hidup‑hidup!”
Dani menepis tangan Frans dari bahunya dengan kasar, amarah bercampur rasa bersalah meluap di dadanya.
“Kalian pengecut ya? Kalau kalian tidak mau bantu, aku akan gali sendirian! Apakah kalian mau diam saja sementara Lasma menderita di bawah tanah itu?” balas Dani rahangnya mengeras, tinjunya sudah terangkat ke udara, hampir menghantam wajah Frans yang berdiri tepat di depannya.
Belum sempat tinju Dani turun menghantam, suara tawa pelan namun menggema tiba‑tiba pecah dari arah atas batu nisan makam tua itu — tawa yang tidak terdengar seperti suara manusia mana pun, melengking dan menusuk telinga sampai kepala mereka terasa berdenyut sakit. Suara tawa itu berputar mengelilingi mereka berempat selama beberapa detik lalu menghilang sepenuhnya, berganti tiupan angin kencang yang menusuk kulit sampai tulang, daun‑daun kering berputar kencang di sekeliling mereka menutupi pandangan sejenak.
Angin dingin itu seolah menyiram emosi panas yang ada di hati mereka sekaligus. Tanpa sadar keempat orang itu saling berpelukan erat secara spontan, tubuh mereka gemetar hebat, masing‑masing membisikkan doa di dalam hati agar selamat dari tempat mengerikan ini. Dani menurunkan tinjunya perlahan, amarahnya lenyap digantikan rasa takut yang mendalam menyadari apa yang hampir ia lakukan tadi.
Beberapa menit kemudian angin kencang itu mereda kembali, kabut tipis kembali menyelimuti area makam. Dani melepaskan pelukan itu perlahan, kepalanya menunduk dalam, suaranya serak penuh penyesalan.
“Aku… minta maaf kepada kalian semua. Aku terlalu egois, memaksakan kehendakku sampai hampir memukul Frans. Sepertinya… Lasma benar‑benar sudah hilang di sini,” ucap Dani air mata menetes di pipinya, ia sudah mulai pasrah menerima kenyataan pahit itu.
Frans mengusap wajahnya lelah, ia mengangguk pelan menerima permintaan maaf Dani tanpa ada dendam lagi, Monica dan Angel juga menunduk diam merasakan kesedihan yang sama.
“Ayo kita bersiap cari jalan keluar dari hutan ini secepat mungkin sebelum keadaan makin buruk,” ajak Joni lemah sambil memegang bahu Monica yang diam membeku menatap ke arah pohon besar di sebelah makam.
Monica tidak menjawab ajakan Joni, matanya masih terpaku ke arah pohon raksasa itu, jari‑jarinya gemetar menunjuk ke sana.
“Tunggu… lihat ke sana… ada sesuatu yang tergeletak di balik rumput tinggi dekat pohon itu… aku melihat sepasang kaki…” gumam Monica suaranya nyaris tidak terdengar.
Keempat orang itu menoleh serentak ke arah yang ditunjuk Monica. Di balik rumput setinggi pinggang yang bergetar pelan, tampak sepasang kaki telanjang yang terjulur keluar, tidak bergerak sama sekali. Jantung mereka seolah berhenti berdetak sejenak. Mereka saling pandang ragu, lalu berjalan mendekat dengan langkah sangat lambat dan takut‑takut, tangan saling menggenggam erat satu sama lain.
Semakin dekat mereka mendekat, mereka bisa melihat pakaian yang dikenakan sosok itu — jaket abu‑abu milik Lasma yang robek di bagian lengan, persis sama seperti yang ia pakai sejak berangkat camping. Begitu rumput tinggi itu mereka singkirkan perlahan, mereka tertegun: itu adalah Lasma! Ia tergeletak telungkup di tanah lembap, tubuhnya penuh luka lecet dan goresan di lengan serta kaki, rambut panjangnya menutupi wajahnya, tubuhnya dingin namun dada nya masih terlihat naik turun pelan — ia masih hidup, hanya pingsan berat.
“Lasma!” seru Dani segera berjongkok dan membalikkan tubuh Lasma dengan hati‑hati. Wajah Lasma pucat pasi, ada luka gores kecil di dahinya, napasnya lemah tapi teratur.
Angel segera berjongkok di samping Dani sambil menekan luka gores di dahi Lasma pakai sapu tangan, “Dia masih bernapas! Dia pingsan saja!”
Frans mengusap keringat dingin di dahinya, napasnya terengah‑engah lega sekaligus terkejut, “Bukan di bawah makam… dia terjatuh pingsan di balik rumput dekat pohon itu saja! Mimpi kita tadi ternyata bukan kenyataan!”
Joni menoleh ke arah makam tua yang sunyi di belakang mereka, suaranya berbisik pelan, “Tapi kenapa jejak kakinya berakhir tepat di depan makam tadi ? Bagaimana dia bisa terjatuh sampai ke sini tanpa ada jejak langkah lagi?”
Monica memeluk dirinya sendiri sambil menatap Lasma yang masih pingsan, “Mungkin dia berlari ketakutan sampai ke sini lalu pingsan sebelum sempat melangkah lagi…”
Dani mengangkat kepalanya menatap wajah Lasma yang tenang meskipun penuh luka‑luka kecil, rasa pasrah yang tadi ada di hatinya berubah menjadi harapan baru. Ia mengangkat tubuh Lasma dengan hati‑hati agar bisa dibawa pulang secepat mungkin.
“Kita harus segera membawanya keluar dari hutan ini sekarang juga, dia butuh pertolongan medis segera,” ucap Dani tegas sambil menggendong Lasma di pundaknya.
Namun saat mereka berbalik hendak pergi, dari balik batang pohon besar tempat Lasma tergeletak tadi, sesosok bayangan putih melintas cepat sekali ke arah dalam hutan — seolah sosok penunggu hutan itu baru saja melepaskan Lasma secara sengaja dan membiarkan mereka menemukan gadis itu hidup‑hidup sebelum menghilang kembali ke kabut pekat. Tidak ada suara apa‑apa lagi, hanya angin sepoi‑sepoi yang berhembus pelan menyapu wajah mereka yang campur aduk antara lega menemukan Lasma hidup dan ketakutan menyadari bahwa sosok itu ada di sana sejak tadi mengawasi semuanya…
Dani menggendong tubuh Lasma yang masih pingsan di pundaknya dengan hati‑hati. Luka‑luka kecil di kaki Lasma mengeluarkan cairan darah tipis yang menetes ke atas daun‑daun kering. Keempat temannya berjalan mengelilingi Dani agar menahan dahan pohon yang menghalangi jalan, mereka berusaha mengikuti arah aliran air yang dulu mereka kira akan membawa mereka keluar dari hutan Gonggong. Kabut yang tadi tebal perlahan menipis, udara yang menusuk tulang terasa sedikit lebih hangat seiring mereka semakin mendekati lokasi air terjun tempat Lasma menghilang pertama kali.
Beberapa menit kemudian suara gemericik air yang familiar terdengar semakin keras. Saat mereka menembus barisan semak‑semak lebat, air terjun itu muncul di depan mata mereka. Berbeda dari sebelumnya yang tertutup kabut pekat, sekarang cahaya sore yang lembut menyinari percikan air yang memantulkan warna‑warna samar di udara. Aliran air jatuh tenang ke kolam jernih yang dasarnya terlihat berpasir halus, pemandangannya begitu indah dan memukau sampai‑sampai mereka sejenak lupa akan semua teror yang baru saja mereka alami.
“Indah sekali… aku tidak menyangka air terjun ini seindah ini,” gumam Angel pelan, matanya terpaku pada percikan air yang berkilau terkena cahaya sore.
Belum sempat Frans menjawab, bisikan halus yang lembut tiba‑tiba keluar dari balik aliran air terjun itu. Suaranya mirip suara perempuan yang pernah mereka dengar sebelumnya, tidak mengancam sama sekali melainkan terdengar menenangkan, masuk langsung ke pikiran mereka berempat seolah berbicara ke dalam hati.
“Rendamkan dia ke dalam air kolam ini. Air ini akan menyembuhkan luka‑lukanya, dia akan segera sadar kembali.”
Bisikan itu terulang dua kali, lalu menghilang sepenuhnya seolah tidak pernah ada suara apa‑apa dari balik air terjun tadi.
Keempat orang itu saling berpandangan, keraguan kembali muncul di wajah mereka. Dani menunduk menatap wajah pucat Lasma di gendongannya, hatinya terbelah antara takut dan harapan besar agar Lasma pulih secepat mungkin.
“Apakah… kita lakukan saja? Lasma kehilangan banyak tenaga, luka‑lukanya perlu disembuhkan,” ucap Dani suaranya ragu, matanya menatap permukaan kolam air terjun yang tenang.
Joni yang biasanya lebih banyak diam dan menerima keputusan orang lain tiba‑tiba melangkah maju, menentang keras keputusan itu dengan wajah tegang.
“Jangan Dani! Kita tidak tahu apakah bisikan itu benar‑benar ingin menyembuhkan Lasma atau justru menjebaknya lagi! Bagaimana kalau begitu saja kita rendam dia ke air itu, dia terhanyut arus atau menghilang persis seperti yang terjadi sebelumnya?” bentak Joni dengan nada meninggi, tangannya terulur menahan lengan Dani agar tidak melangkah mendekati kolam.
Dani mendongak menatap Joni dengan amarah yang bercampur kepanikan, rasa takut kehilangan Lasma membuatnya ingin percaya pada bisikan itu.
“Kalau itu benar, Joni ! Kalau air ini benar‑benar bisa menyembuhkan Lasma dan kita menolaknya, bagaimana kalau Lasma tidak pernah sadar lagi ? Apa kamu mau menanggung akibatnya?” balas Dani suaranya gemetar karena emosi, tatapannya tidak mau menyerah.
Frans dan Monica saling pandang bingung, Angel menggigit bibirnya rapat tidak tahu harus berpihak kepada siapa. Setelah bertengkar singkat selama beberapa menit, Dani menggelengkan kepala dan mengambil keputusan bulat. Ia tetap melangkah perlahan menuju tepi kolam meskipun Joni masih menahan tubuhnya dengan kuat. Akhirnya Joni mengalah dengan berat hati, ia tahu tidak bisa menghentikan Dani saat ini juga.
Dani melangkah masuk ke air kolam yang setinggi pinggang, ia menurunkan tubuh Lasma secara perlahan sehingga separuh tubuh Lasma terendam air dingin kolam air terjun itu. Begitu air menyentuh luka‑luka Lasma, keanehan mulai terjadi: kabut sisa yang masih menyelimuti hutan seketika lenyap sepenuhnya, langit yang tadinya terbalik arah berubah kembali normal menjadi warna jingga sore yang asli, suhu udara berubah menjadi hangat layaknya sore hari biasa seolah kutukan waktu di dalam hutan itu telah terangkat.
Setelah beberapa detik merendam Lasma, Dani mengangkat tubuh Lasma kembali keluar dari air kolam. Lasma masih belum sadar sepenuhnya tapi napasnya terasa jauh lebih kuat dibanding sebelumnya. Dani berjalan kembali ke tepi kolam menghampiri keempat temannya, matanya menatap mereka satu per satu dengan nada serius.
“Kalian semua genggam tangan satu sama lain sekarang. Mari kita berdoa di dalam hati secara bersamaan: memohon pengampunan kepada penghuni hutan karena kita telah masuk ke sini tanpa izin dan mengganggu ketenangan tempat ini, berdoa agar keenam kita bisa pulang ke desa dengan selamat,” ucap Dani tegas sambil mengulurkan tangannya ke arah teman‑temannya.
Tanpa bantahan sedikit pun mereka membentuk lingkaran, Dani masih memeluk Lasma di tengah lingkaran itu. Kelima orang itu saling menggenggam tangan erat, masing‑masing membisikkan doa permohonan maaf dan doa keselamatan di dalam hati dengan tulus. Tidak ada suara bisikan ataupun angin kencang yang mengganggu mereka kali ini — suasana hutan menjadi tenang dan damai seolah penghuni hutan itu menerima permohonan maaf mereka.
Setelah selesai berdoa, mereka berjalan keluar dari hutan Gonggong dengan arah yang jelas tanpa lagi tersesat. Saat mereka keluar menuju area bak umum tempat tenda mereka didirikan, mereka terkejut melihat Pak Marlon beserta beberapa warga desa sudah menunggu mereka di sana dengan wajah cemas. Pak Marlon segera berlari mendekat begitu melihat mereka keluar dari hutan.
“Kami sudah menunggu kalian sejak lama… kami takut kalian tidak bisa keluar dari sana lagi,” ucap Pak Marlon napasnya terengah‑engah, matanya langsung tertuju pada Lasma yang masih pingsan di gendongan Dani.
“Pak Marlon… kami mohon maaf sudah masuk ke hutan itu tanpa menghargai peringatan Anda. Kami mengganggu ketenangan penghuni hutan,” ucap Dani menunduk penuh penyesalan sambil menggendong Lasma ke arah warga desa yang sudah menyiapkan tempat istirahat di dekat bak umum untuk merawat Lasma terlebih dahulu sebelum mereka melanjutkan perjalanan pulang ke kota.
Pak Marlon mengangguk pelan menatap mereka, tatapannya tidak lagi marah melainkan penuh simpati, “Kalau kalian sudah memohon maaf dengan tulus… dia akan membiarkan kalian pulang kali ini. Tapi ingat, jangan pernah kembali lagi ke Hutan Gonggong.”
Langit jingga perlahan meredup menjadi ungu gelap saat warga desa membantu Dani menaruh Lasma di atas tikar yang sudah disiapkan dekat bak umum. Angin sore yang tadi hangat berubah sejuk, kabut tipis mulai turun kembali menyelimuti area tenda mereka. Pak Marlon berdiri di samping sambil mengusap wajah lelah, sementara Frans, Angel, Monica dan Joni duduk melingkar di sekeliling Lasma menunggu gadis itu sadar sepenuhnya. Beberapa menit kemudian kelopak mata Lasma bergerak pelan, lalu ia membuka matanya perlahan‑lahan.
“Lasma! Kamu sadar?” seru Dani mendekatkan wajahnya ke arah Lasma, nadanya campur aduk lega dan cemas.
Lasma mengerjap beberapa kali, kepalanya masih pening hebat. Ia menatap wajah teman‑temannya satu per satu sebelum mengerutkan dahi mengingat apa yang dialaminya di dalam Hutan Gonggong.
“Di… mana aku?” tanya Lasma suaranya lemah, tangannya menyentuh luka gores di dahinya yang sudah dibalut kain bersih milik warga desa.
“Kita sudah keluar dari hutan, dekat tempat kita mendirikan tenda tadi. Pak Marlon beserta warga desa sudah menunggu kita di sini,” jawab Angel pelan sambil memegang tangan Lasma.
Lasma menarik napas dalam‑dalam, matanya menatap ke arah hutan yang sudah gelap di kejauhan sebelum mulai menceritakan kejadian yang ia alami saat terpisah dari kelompok mereka di tepi air terjun.
“Saat aku berdiri di tepi kolam tadi… aku seolah dipanggil suara perempuan yang lembut. Kakinya berjalan maju tanpa bisa aku kendalikan. Aku dibawa masuk lebih dalam ke hutan sampai ke makam tua itu. Sosok perempuan berambut panjang berdiri di depanku… ia tidak langsung menyakiti aku. Ia hanya berdiri diam menatapku sambil berbisik bahwa kami datang ke wilayahnya tanpa rasa hormat, kami melanggar larangan desa dan mengganggu ketenangan tempat itu,” ceritanya pelan, bahunya bergetar sedikit mengingat sosok yang ia temui.
“Lalu kenapa kamu bisa tergeletak di dekat pohon besar itu?” tanya Joni penasaran, tatapannya penuh rasa ingin tahu sekaligus takut.
“Ia bilang ia tidak ingin mengambil nyawaku. Ia hanya ingin kami menyadari kesalahan kami. Saat kalian mulai saling bertengkar dan emosi meluap‑luap, ia membiarkan aku pingsan di balik rumput dekat pohon itu dan mengawasi kita semua dari kejauhan. Aku masih samar‑samar mendengar suara tawa menyeramkan serta angin kencang yang datang tadi, aku tahu itu adalah peringatan darinya agar kita berhenti saling menyalahkan,” lanjut Lasma sambil meneteskan air mata kecil di pipinya.
Semua orang terdiam mendengar penuturan Lasma itu, rasa bersalah kembali menyelimuti hati mereka — ternyata sosok penunggu hutan itu bukan ingin memburu mereka secara sengaja, melainkan hanya ingin mereka menghormati tanah desa tersebut. Hari pun semakin gelap, cahaya bulan mulai muncul samar di langit, suhu udara turun drastis. Melihat kondisi Lasma yang masih lemah dan tidak memungkinkan untuk tidur di tenda dingin malam ini, Dani menoleh ke arah Pak Marlon dengan nada sopan memohon bantuan.
“Pak Marlon, hari sudah sangat gelap dan Lasma masih belum pulih sepenuhnya. Apakah kami boleh bermalam di rumah Bapak malam ini? Kami tidak ingin kembali ke tenda dekat makam tua dalam keadaan begini,” tanya Dani menunduk sopan.
Pak Marlon menatap keenam orang itu sejenak, lalu mengangguk pelan sambil menghela napas panjang.
“Baiklah, ikutlah ke rumahku. Tapi ingat: malam ini jangan keluar rumah tanpa alasan apa pun, jangan menoleh ke arah arah hutan Gonggong lewat jendela, dan besok pagi‑pagi kalian harus segera berkemas pulang ke kota,” ucap Pak Marlon setuju mengizinkan mereka menginap.
Mereka membantu Lasma berdiri perlahan, berjalan mengikuti langkah Pak Marlon menuju rumah kayu sederhana miliknya yang tidak jauh dari bak umum. Di dalam rumah itu hangat karena ada tungku api yang masih menyala. Istri Pak Marlon segera menyiapkan tempat tidur tambahan untuk Lasma di ruang tengah, sedangkan kelima lainnya berbagi alas tikar di lantai ruang tamu. Sepanjang malam suasana rumah tenang sekali, tidak ada suara aneh sama sekali. Lasma beristirahat di tempat tidur empuk sampai napasnya jauh lebih stabil dibanding sebelumnya.
Malam berlalu tanpa gangguan sedikit pun. Saat cahaya matahari pagi menembus jendela rumah kayu Pak Marlon, mereka semua terbangun perlahan. Lasma sudah jauh lebih kuat dibanding malam sebelumnya, luka‑lukanya sudah tidak terasa perih lagi meskipun masih ada bekas goresan kecil di kulitnya. Setelah sarapan sederhana yang disiapkan istri Pak Marlon, mereka mengucapkan terima kasih dan permohonan maaf sekali lagi kepada Pak Marlon beserta istrinya.
“Terima kasih sudah menampung kami malam ini Pak, Bu. Kami benar‑benar menyesal sudah melanggar larangan desa dan masuk ke Hutan Gonggong tanpa hormat,” ucap Dani sambil menunduk dalam, yang lain ikut mengangguk menyampaikan permintaan maaf mereka.
Pak Marlon tersenyum tipis sambil menggelengkan kepala, “Sudahlah, kalian sudah minta maaf dengan tulus semalam. Sekarang cepatlah pulang ke kota, jangan pernah kembali lagi ke sini untuk hal‑hal yang tidak penting. Semoga perjalanan kalian pulang aman.”
Mereka berkemas barang‑barang yang tertinggal di lokasi camping, lalu naik ke mobil untuk memulai perjalanan pulang ke kota. Saat mobil mulai melaju meninggalkan Desa Sibor, Lasma menoleh ke arah arah Hutan Gonggong sekali lagi. Ia berharap tidak akan pernah kembali ke tempat itu lagi, meskipun ia tidak merasakan kebencian terhadap sosok penunggu hutan itu — hanya rasa hormat baru terhadap tempat‑tempat yang memiliki sejarah dan penghuni tak kasat mata di dalamnya.
Di dalam mobil kelima temannya saling berpandangan tanpa banyak bicara, kejadian dua hari terakhir meninggalkan luka batin sekaligus pelajaran berharga bagi mereka berenam untuk tidak meremehkan peringatan warga desa serta menghormati tempat‑tempat yang belum mereka ketahui sejarahnya.
.TAMAT.