Di balik riuhnya pasar pagi Desa Sukamaju, Baskara hanyalah seorang pemuda biasa yang bekerja sebagai kuli panggul karung beras. Tubuhnya tegap karena tempaan kerja keras, namun wajahnya selalu tenang dan ramah. Tidak ada yang menyangka bahwa di balik kesederhanaan itu, Baskara memikul sebuah rahasia besar. Ia adalah Ganggawangsa, pahlawan bertopeng yang selama setahun terakhir melindungi kota dari cengkeraman sindikat kriminal "Tangan Hitam".
Malam itu, hujan turun sangat deras. Petir menyambar bergantian, menciptakan bayangan-bayangan menakutkan di dinding kota. Baskara baru saja hendak merebahkan tubuhnya yang lelah ketika sebuah siaran berita darurat di radio tuanya memecah keheningan. Sindikat Tangan Hitam, yang dipimpin oleh seorang pria kejam bernama Braga, telah menyandera puluhan warga di dalam gedung walikota tua yang sudah terbengkalai. Mereka menuntut tebusan besar dan pembebasan anggota mereka yang ditahan polisi.
"Mereka tidak akan berhenti sampai kota ini hancur," bisik Baskara pada diri sendiri.
Rasa lelah di otot-ototnya mendadak sirna, digantikan oleh gelora kewajiban yang membakar dada. Ia membuka sebuah peti kayu rahasia di bawah tempat tidurnya. Di dalamnya terbaring jubah hitam legam dengan pelindung dada perak, serta sebuah topeng ukiran khas Jawa yang memancarkan aura wibawa. Saat mengenakan topeng itu, Baskara bukan lagi kuli panggul yang miskin. Ia adalah benteng terakhir keadilan.
Dengan gerakan cepat dan senyap, Ganggawangsa melompati atap-atap gedung di tengah guyuran hujan. Air hujan yang menerpa wajahnya terasa dingin, namun fokusnya tak tergoyahkan. Sesampainya di gedung walikota tua, ia melihat dari jendela atas: puluhan warga, termasuk anak-anak dan lansia, duduk gemetar di lantai dengan tangan terikat. Lima orang penjaga bersenjata tajam dan api mondar-mandir dengan angkuh.
Ganggawangsa tidak langsung menerobos. Seorang pahlawan tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga otak. Ia memecahkan kaca jendela di sisi barat untuk memancing perhatian.
Prang!
"Hei, suara apa itu? Kau, periksa ke sana!" perintah salah satu anak buah Braga.
Saat dua penjaga mendekati sumber suara, Ganggawangsa turun dari langit-langit seperti bayangan. Dengan dua pukulan cepat dan presisi pada titik saraf leher, kedua penjaga itu tumbang tanpa sempat berteriak. Menggunakan kegelapan ruangan, ia bergerak maju. Satu per satu penjaga berhasil dilumpuhkan dengan teknik bela diri tangan kosong yang efisien, menghindari pertumpahan darah yang tidak perlu.
Namun, Braga bukanlah lawan yang mudah. Menyadari anak buahnya bertumbangan, pria bertubuh raksasa itu langsung menarik seorang anak kecil dan menodongkan sebilah belati ke leher sang anak.
"Keluar kau, tikus bertopeng! Atau anak ini akan mati!" teriak Braga geram, matanya liar memandang sekeliling ruangan yang remang-remang.
Ganggawangsa melangkah keluar dari balik pilar beton. Langkah kakinya terdengar mantap di atas lantai yang berdebu. "Lepaskan anak itu, Braga. Urusanmu adalah denganku, bukan dengan mereka yang tidak berdaya."
"Hahaha! Sang pahlawan kesayangan kota," cemooh Braga. Tanpa peringatan, ia mendorong anak itu dan menerjang Ganggawangsa dengan sabetan belati yang membabi buta.
Pertarungan sengit pun terjadi. Braga memiliki kekuatan fisik yang luar biasa; setiap tebasan belatinya mampu meretakkan pilar beton. Ganggawangsa terpaksa terus menghindar, melompat, dan menangkis menggunakan pelindung lengan peraknya. Kilatan logam beradu menciptakan percikan api di tengah kegelapan.
Dalam satu momen krusial, Ganggawangsa melakukan kesalahan kecil. Kakinya tersandung puing lantai, membuatnya kehilangan keseimbangan. Braga tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia melayangkan tendangan keras yang mengenai dada Ganggawangsa, melempar sang pahlawan hingga menghantam dinding. Topengnya retak, dan rasa sakit yang luar biasa menjalar di tulang rusuknya.
"Hanya segini kemampuanmu?" Braga berjalan mendekat, mengangkat belatinya tinggi-tinggi untuk serangan pamungkas.
Di saat kritis itu, Ganggawangsa melihat ke arah para sandera. Di mata anak kecil yang tadi disandera, tidak ada lagi ketakutan, melainkan secercah harapan yang besar. Anak itu berbisik lirih, "Ayo, pahlawan... bangun..."
Mendengar bisikan itu, keyakinan Ganggawangsa bangkit berlipat ganda. Kekuatan sejati seorang pahlawan tidak berasal dari otot atau senjatanya, melainkan dari besarnya tekad untuk melindungi orang lain.
Saat belati Braga menghunjam ke bawah, Ganggawangsa berguling dengan cepat. Ia memanfaatkan momentum itu untuk menyapu kaki Braga hingga penjahat besar itu terjatuh. Sebelum Braga sempat bangkit, Ganggawangsa melompat dan mendaratkan satu pukulan pamungkas berenergi penuh tepat di rahang Braga. Pemimpin sindikat itu pun terkapar, pingsan tak sadarkan diri.
Suasana hening sejenak sebelum akhirnya pecah oleh sorak-sorai dan tangis haru para sandera. Ganggawangsa segera memotong tali-tali yang mengikat warga. Polisi yang akhirnya tiba di lokasi langsung mengamankan Braga dan anak buahnya.
Ketika walikota dan para wartawan masuk untuk mencari sang penyelamat, Ganggawangsa sudah menghilang. Ia kembali menyelinap ke dalam kegelapan malam, menembus hujan yang mulai mereda.
Keesokan paginya, matahari terbit dengan cerah, menyinari Desa Sukamaju yang damai. Di pasar, Baskara kembali mengangkut karung beras di pundaknya sambil meringis sedikit menahan sakit di rusuknya. Seseorang di dekatnya sedang membaca koran dengan tajuk utama: "Ganggawangsa Kembali Selamatkan Kota!"
Baskara hanya tersenyum tipis mendengarnya. Ia tidak butuh pujian, penghargaan, ataupun nama yang dikenal dunia. Baginya, melihat senyum aman di wajah warga kota sudah lebih dari cukup untuk membuatnya kembali mengenakan topeng itu malam nanti.