### SURAT CINTA UNTUK MASA LALU
Ada cinta yang tidak pernah selesai, ada luka yang tidak pernah sembuh, dan ada surat yang seharusnya tidak pernah dibuka.
Surat Terakhir dari Masa lalu
Hujan turun perlahan di luar jendela kamar Nara.
Malam itu, Nara sedang membereskan barang-barang peninggalan ibunya yang baru saja meninggal dunia. Di antara tumpukan pakaian lama dan album foto, ia menemukan sebuah kotak kayu kecil yang terkunci.
Kotak itu tampak sangat tua.
Di bagian atasnya tertulis namanya.
UNTUK NARA, ANAKKU. BUKALAH KETIKA KAMU SUDAH SIAP MENGETAHUI KEBENARAN.
Dengan tangan gemetar, Nara membuka kotak tersebut.
Di dalamnya terdapat beberapa foto lama, sebuah kalung perak, dan setumpuk surat yang diikat menggunakan pita merah.
Surat paling atas membuat napasnya tertahan.
Tulisan di amplop itu berbunyi:
SURAT CINTA UNTUK MASA LALU.
Nara membuka surat tersebut perlahan.
Untuk seseorang yang pernah menjadi cinta terbesar dalam hidupku.
Maaf karena aku harus menyembunyikan kebenaran selama bertahun-tahun. Aku tidak pernah berhenti mencintaimu, bahkan setelah kita dipisahkan oleh keadaan.
Nara mengerutkan kening.
Siapa seseorang yang dimaksud ibunya?
Ia melanjutkan membaca.
Jika suatu hari Nara membaca surat ini, berarti rahasia yang selama ini kusimpan akhirnya harus terungkap.
Tiba-tiba ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk dari nomor tidak dikenal.
Nomor Tak Dikenal:
"Jangan baca surat itu sampai selesai, Nara."
Nara terkejut.
Belum sempat ia membalas, pesan kedua masuk.
"Karena ibumu tidak pernah menceritakan siapa ayah kandungmu."
Jantung Nara berdegup kencang.
Ia kembali menatap surat di tangannya.
Di bagian bawah terdapat sebuah nama yang ditulis dengan tinta merah.
ADITYA.
Nama yang selama ini selalu dihindari ibunya setiap kali Nara bertanya tentang masa lalu.
Tiba-tiba terdengar ketukan pintu.
Tok... tok... tok...
"Nara, buka pintunya."
Suara itu membuat tubuhnya membeku.
Itu suara Aditya.
Lelaki yang selama ini ia cintai.
Namun, bagaimana mungkin Aditya mengetahui isi surat tersebut?
Nara berjalan perlahan menuju pintu.
Sebelum membukanya, ia mendengar suara Aditya berbisik dari luar.
"Nara, aku harus mengatakan sesuatu. Selama ini aku bukan kebetulan hadir dalam hidupmu."
Nara membuka pintu.
Aditya berdiri dengan wajah pucat.
Di tangannya terdapat sebuah foto lama.
Foto seorang perempuan muda yang sedang menggendong bayi.
Perempuan itu adalah ibu Nara.
Sedangkan bayi dalam foto tersebut adalah...
Nara sendiri.
Aditya menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku datang bukan untuk mencintaimu, Nara. Aku datang untuk mengembalikan sesuatu yang sudah lama dirampas dari keluargaku."
Nara terdiam.
"Apa maksudmu?"
Aditya menghela napas panjang.
"Aku adalah anak dari lelaki yang dicintai ibumu sebelum dia menikah dengan ayahmu."
Dunia Nara seolah berhenti.
Namun, Aditya belum selesai.
"Ada satu hal lagi yang harus kamu tahu."
Ia menyerahkan sebuah amplop terakhir.
"Surat ini ditulis oleh ayah kandungmu."
Dengan tangan gemetar, Nara membuka amplop tersebut.
Hanya ada satu kalimat di dalamnya.
"Nara, jika kamu sudah membaca surat ini, berarti aku telah gagal melindungimu dari kebenaran bahwa selama ini orang yang kamu panggil ayah bukanlah ayah kandungmu."
Air mata Nara jatuh.
Ia menatap Aditya, berharap lelaki itu mengatakan bahwa semuanya hanya kebohongan.
Namun, Aditya justru berlutut di hadapannya.
"Nara... maafkan aku. Ada rahasia yang jauh lebih besar daripada yang kamu bayangkan."
Dan malam itu, Nara menyadari sesuatu.
Terkadang, surat cinta bukan ditulis untuk menyatakan perasaan.
Melainkan untuk menyimpan sebuah kebohongan yang terlalu menyakitkan untuk diucapkan.
Tidak semua kisah cinta berakhir dengan kebahagiaan. Sebagian justru dimulai dari rahasia yang terkubur di masa lalu.