"Kita baru aja ketemu?"
Firman yang barusan membanting satu perampok sampai tersungkur itu cuma merapikan lengan kemejanya yang kusut, lalu menatapku seolah aku barang yang baru dia beli.
"Kenalin saya Firman," katanya santai.
"Alana," jawabku masih gemetaran, napasku masih ngos-ngosan habis lari dua blok.
Dia mengangguk. "Oke, Alana. Saya baru saja menyelamatkan nyawa kamu. Tas kamu selamat, kamu selamat. Imbalannya wajar, kan?"
"Wajar apanya?! Kamu minta aku jadi ISTRI!"
Bukan pacar. Bukan teman dinner. Istri. Kontrak 3 bulan.
Dia mengeluarkan satu kartu nama hitam doff dari dompetnya dan menyodorkannya.
Firman Adiwangsa - CEO
Oh. Pantes.
"Kamu pikir semua perempuan bisa dibeli pakai kartu nama?" Aku melotot.
"Bukan dibeli. Disewa," koreksinya, dan itu malah bikin lebih parah. "Dengar dulu. Nenek saya sakit. Keinginan terakhirnya sebelum operasi besar minggu depan cuma satu: lihat saya menikah. Saya nggak punya waktu cari pacar, apalagi menikah beneran."
"Terus kenapa harus saya?"
"Karena kamu terlihat... tidak akan betah lama-lama jadi istri saya. Dan itu bagus. Saya butuh yang pasti mau cerai setelah 3 bulan."
Logikanya gila tapi... jujur?
Aku menatap tas ranselku yang resletingnya sudah jebol karena ditarik perampok tadi. Di dalamnya cuma ada sisa uang 200 ribu dan surat tagihan kos yang sudah telat 2 bulan.
Firman seolah bisa baca pikiranku.
"3 bulan. Kamu tinggal di apartemen saya. Semua kebutuhan ditanggung. Hutang kos kamu lunas. Saya kasih 50 juta di akhir kontrak. Tidak ada kontak fisik tanpa izin. Ada perjanjian hitam di atas putih."
Aku terdiam.
50 juta.
Baru ketemu 10 menit yang lalu, aku hampir kehilangan nyawa. Sekarang aku ditawari jadi istri kontrak oleh pria yang wajahnya seperti habis keluar dari cover majalah, tapi kelakuannya seperti debt collector.
"Kalo saya nolak?"
Firman tersenyum miring untuk pertama kalinya. Senyum yang bahaya.
"Ya nggak apa-apa. Kamu bisa pulang jalan kaki lewat gang tadi lagi. Siapa tahu teman-teman perampok tadi masih nunggu."
Sialan.
Dia tahu aku nggak punya pilihan.
Aku menghela napas panjang, mengulurkan tangan yang masih gemetar.
"Alana. Istri kontrak 3 bulan. Tapi ada syarat tambahan."
"Apa?"
"Jangan jatuh cinta sama saya."
Dia tertawa kecil. "Tenang saja, Alana. Justru itu klausul pertama yang saya tulis di kontrak."
PART 2 - MALAM PERTAMA DI APARTEMEN 3 MILIAR
Aku kira "tanda tangan kontrak" itu bakal di kafe atau kantor notaris.
Ternyata di dalam mobil Alphard hitamnya, 5 menit setelah kejadian perampokan itu, dengan lampu jalan sebagai saksi.
Firman mengeluarkan map kulit dari jok belakang. Di dalamnya sudah ada dokumen 10 lembar yang bahkan sudah dijilid rapi. Seolah dia memang sudah menyiapkan ini untuk siapapun perempuan malang yang dia selamatkan hari ini.
"Anda ini sudah merencanakan kejahatan ini, ya?" bisikku sambil baca cepat.
PERJANJIAN PERNIKAHAN KONTRAK
Pasal 1: Durasi 3 bulan. 1 November 2026 - 1 Februari 2027.
Pasal 2: Pihak Kedua (Alana) wajib berperan sebagai istri yang sah, manis, dan cinta mati di depan keluarga Pihak Pertama, khususnya Nenek.
Pasal 3: Dilarang jatuh cinta. Dilarang cemburu. Dilarang menuntut hak waris.
Pasal 4: Kamar terpisah. No physical contact kecuali untuk keperluan akting. Maksimal gandengan tangan. Cium? Hanya jika Nenek memaksa.
Aku berhenti di pasal 4. "Maksimal gandengan tangan?"
"Ya. Saya nggak tertarik sentuh-sentuh wanita yang baru kenal 10 menit," jawabnya enteng sambil menyodorkan pulpen mahal.
"Kamu pikir saya tertarik?!"
"Bagus kalau begitu. Tanda tangan."
Aku tanda tangan dengan tangan masih gemetar. Alana Pratiwi. Resmi jadi istri kontrak CEO.
Apartemennya di lantai 32.
Begitu pintu terbuka, aku langsung menyesal pakai sandal jepit swallow yang putus sebelah gara-gara lari tadi.
Lantainya marmer. Sofanya lebih mahal dari biaya kuliahku 4 tahun. Dan harumnya... harum cowok mahal yang habis mandi.
"Kamar kamu yang itu," tunjuk Firman ke pintu paling ujung. "Kamar saya yang ini. Jangan pernah masuk tanpa ketuk. Dapur silakan pakai. Tapi jangan berisik jam 5 pagi."
"Memangnya saya maling?"
"Pengalaman punya ART yang suka blender jam 5 pagi."
Aku melempar ransel jebolku ke kasur super empuk itu. Kasurnya memantul. Ya Tuhan, ini kasur apa awan?
Baru 10 menit aku rebahan, pintu kamarku diketuk.
Firman sudah ganti kaos oblong hitam, rambutnya masih basah. Tampilannya jauh lebih... manusia. Dan bahayanya, jauh lebih ganteng.
"Nenek mau video call besok pagi jam 7. Dia mau kenalan sama kamu," katanya sambil bersandar di kusen pintu.
"Secepat itu?! Saya harus ngomong apa?"
"Bilang kamu istri saya. Bilang kamu bahagia. Bilang kamu mencintai saya apa adanya."
Aku melotot. "Akting saya jelek."
Dia mendekat dua langkah. Tiba-tiba jarak kami cuma setengah meter. Jantungku yang baru saja tenang habis dikejar perampok, sekarang deg-degan lagi karena alasan yang beda.
"Gampang kok aktingnya," bisiknya, matanya menatap mataku lurus. "Tinggal lihat saya seperti ini..."
Dia mengangkat tanganku yang bebas, menggenggamnya pelan. Hangat.
"...lalu tersenyum."
Aku membeku. Tangannya besar dan kasar, beda sama mukanya yang rapi. Ini tangan orang yang beneran pernah berantem tadi buat nyelamatin aku.
"Gini?" Aku mencoba tersenyum, tapi yang keluar malah meringis kram.
Firman langsung melepas tanganku dan menghela napas.
"Oke, kita butuh latihan semalaman."
"Tunggu," aku menahan tangannya balik. "Kalau Nenek kamu tahu kita kontrak?"
Wajah Firman yang tadi santai, mendadak mengeras.
"Dia nggak akan pernah tahu. Kalau dia tahu, kontrak batal, kamu nggak dapat 50 juta, dan saya..." dia berhenti. "Saya akan kehilangan satu-satunya keluarga yang saya punya."
Untuk pertama kalinya, aku lihat bukan CEO arogan di depanku. Tapi cucu yang ketakutan.
Jam 6:55 pagi besok, video call itu akan menentukan apakah aku bisa bayar kos atau tidak.
Dan entah kenapa, aku lebih takut mengecewakan Nenek yang belum pernah aku temui, daripada Firman.
PART 3 - BOS YANG MELANGGAR KONTRAKNYA SENDIRI
Seminggu jadi Nyonya Adiwangsa, aku hafal jadwal Firman lebih dari jadwal kuliahku sendiri.
Jam 5.30 bangun, lari.
Jam 7.00 rapat.
Jam 10.00 ngomel-ngomel ke karyawan lewat telepon.
Jam 11 malam baru pulang, dengan muka capek.
Dan selama seminggu itu, dia sangat profesional.
Terlalu profesional. Sampai menyebalkan.
Sampai hari ke-8.
Hari itu aku ada wawancara kerja part-time di sebuah cafe di Senayan. Aku pamit pagi-pagi, pakai kemeja putih satu-satunya yang masih layak.
Firman yang lagi minum kopi hitam di pantry cuma melirik sekilas.
"Mau kemana?"
"Wawancara kerja. Kan di kontrak nggak dilarang kerja?"
"Nggak," jawabnya singkat. "Pulang jam berapa?"
"Belum tahu."
Dia diam. Oke, profesional.
Tiga jam kemudian, wawancara selesai. Aku diterima! Gaji lumayan buat tambahan bayar kos nanti kalau kontrak ini selesai.
Aku lagi ketawa-ketawa sama manager cafe yang ternyata kakak kelas SMA-ku dulu, namanya Revan. Kami foto bareng buat story Instagram.
Detik itu juga HP ku bergetar.
Firman: Dimana?
Firman: Kok belum pulang?
Firman: [Foto screenshot IG story ku sama Revan] Siapa ini?
Firman: Alana, jawab.
Aku bengong. Ini CEO atau pacar posesif yang baterainya lowbat?
Aku balas: Wawancara udah selesai. Diterima. Ini teman SMA.
Dibalas langsung: Share live location. Saya jemput.
Lima belas menit kemudian Alphard hitam itu sudah ngerem mendadak di depan cafe. Firman turun, masih pakai kemeja kantor yang lengan digulung, kacamata hitamnya nyangkut di kepala. Mukanya... cemberut.
Revan yang di sebelahku langsung ciut.
"Alana, pulang," katanya, nadanya datar tapi matanya nggak lepas dari Revan.
"Eh? Oh, iya, ini Firman, suami—"
"Saya suaminya," potong Firman cepat, lalu menarik tanganku. Bukan gandengan tangan akting buat Nenek. Ini genggaman erat, jari-jarinya masuk ke sela jariku.
Melanggar Pasal 4.
Di mobil, AC-nya dingin banget, tapi suasananya lebih dingin.
"Kamu nggak profesional," protesku.
"Kamu duluan yang nggak profesional. Foto rangkul-rangkulan sama cowok lain padahal status masih istri orang. Istri SAYA," tekannya di kata saya.
Aku melongo. "Itu teman! Dan ini cuma kontrak, inget? Pasal 3! Dilarang cemburu!"
"Siapa yang cemburu? Saya cuma menjaga aset perusahaan. Kalau Nenek lihat foto itu, image kita rusak."
Alasan yang dibuat-buat.
Malamnya, puncak ketidak-profesionalannya terjadi.
Aku keluar kamar mau ambil air, dan menemukan Firman tidur di sofa ruang tengah. Sofa yang persis di depan pintu kamarku.
"Ngapain tidur di sini? Kamar kamu kan ada."
Dia membuka mata setengah ngantuk. Rambutnya berantakan.
"Kamar saya AC-nya rusak," bohongnya terang-terangan. Apartemen 3 miliar AC rusak?
"Terus?"
"Berisik. Sofa sini lebih tenang."
Padahal jelas-jelas dia bisa dengar kalau aku keluar kamar tengah malam.
Aku mau balik ke kamar, tapi dia nahan pergelangan tanganku pelan.
"Alana."
"Hm?"
"Tadi... selamat ya, udah diterima kerja."
Suaranya pelan banget, beda sama yang di mobil tadi.
"Oh. Makasih."
Dia masih megang tanganku. Lama. Kelewat lama untuk gandengan akting.
"Firman, kamu lagi melanggar kontrak lagi," bisikku. "Ini udah lewat jam akting buat Nenek."
Dia malah menarik tanganku sedikit, sampai aku harus agak membungkuk.
"Iya. Saya tahu," jawabnya, matanya nggak ngeles lagi. "Lalu kenapa kamu belum lepasin?"
Sial.
Aku yang seharusnya melepas, malah diam.
Seminggu lalu dia yang bikin aturan: Jangan jatuh cinta sama saya.
Sekarang?
Kayaknya dia duluan yang jatuh.
PART 4 - SIDAK NENEK JAM 2 PAGI
Aku nggak melepas tangan Firman.
Dia juga nggak melepas tanganku.
Kami ketiduran begitu saja di sofa. Aku di ujung kiri, dia di ujung kanan, tapi tangan masih nyangkut di tengah seperti kabel kusut. AC ruang tengah yang katanya rusak itu ternyata dinginnya kebangetan.
Aku kebangun karena suara TING TONG bel apartemen yang dipencet berkali-kali seperti orang kesetanan.
Jam 02.13.
Firman juga kebangun, kaget. Rambutnya berantakan, matanya masih setengah kebuka.
"Siapa—"
Bel itu bunyi lagi. Disusul suara ketukan tongkat.
"FIRMANN! BUKA! NENEK TAHU KAMU DI DALEM!"
Kami berdua langsung duduk tegak seperti kesetrum.
NENEK?!
Firman panik, ini pertama kalinya aku lihat CEO 3 miliar itu panik sampai tendang selimut.
"Nenek seharusnya masih di Bandung! Operasinya minggu depan!" bisiknya sambil buru-buru merapikan kaosnya.
"Nenek kamu punya kunci?!" bisikku lebih panik.
"Nggak! Tapi dia punya—"
Pintu terbuka.
Ternyata resepsionis lobi sudah membukakannya. Karena siapa yang berani nolak nenek-nenek umur 75 tahun yang bawa rantang dan tongkat sambil bilang "Saya mau lihat cucu saya sudah berani bawa istri atau belum!"
Nenek itu kecil, kerudungnya rapi, tapi matanya... laser.
Matanya langsung scan kami berdua di sofa. Selimut satu. Dua bantal jatuh. Tanganku masih digenggam Firman.
Sunyi 3 detik.
Nenek tersenyum. Senyum yang bikin merinding.
"Oh. Jadi begini ya, 'kamar terpisah' nya?"
Mampus.
Aku langsung loncat berdiri. "Ehm, Nenek! Selamat datang! Saya Alana, ist—"
"Istri kontraknya, kan?"
Dunia berhenti.
Firman yang lagi minum air langsung keselek. "NEK?!"
Aku juga mau pingsan di tempat.
Nenek meletakkan rantangnya di meja dengan BRAK. Lalu duduk di kursi single dengan anggun, tongkatnya disandarkan.
"Kamu pikir Nenek pikun? Firman, kamu itu dari kecil kalau bohong kupingnya merah. Dari kamu telpon video call kemarin, kuping kamu sudah kayak kepiting rebus," kata Nenek sambil menatap tajam ke Firman.
Lalu dia menatapku, tatapannya melunak.
"Dan kamu, Neng Alana. Nenek lihat cara kamu lihat cucu Nenek. Itu bukan cara lihat bos yang ngasih 50 juta. Itu cara lihat orang yang habis diselamatkan dan diam-diam berharap diselamatkan lagi setiap hari."
Aku terdiam. Ketahuan semua.
"Nek, maaf, kami—" Firman mencoba jelaskan.
Nenek mengangkat tangan. "Nenek nggak marah. Nenek cuma kecewa."
"Kecewa?"
"Iya. Kecewa karena kontraknya cuma 3 bulan."
Hah?
Nenek membuka rantang. Isinya opor ayam masih mengepul.
"Nenek kesini bukan mau marah. Nenek kesini mau masakin kalian. Karena Nenek tahu, biasanya kalau sudah tidur gandengan tangan di sofa jam 2 pagi, itu bukan lagi soal kontrak. Itu sudah soal... nggak mau kehilangan."
Firman menunduk. Kupingnya merah lagi.
Aku? Pipi ku panas sepanas opor itu.
Nenek berdiri, menepuk-nepuk sofa di antara kami.
"Sudah, lanjut tidurnya. Tapi besok pagi, Nenek mau kontrak yang baru."
"Kontrak baru?" tanya kami barengan.
Nenek tersenyum jahil.
"Kontrak seumur hidup. Gratis. Nggak pakai 50 juta."
Lalu Nenek masuk ke kamar tamu seolah ini apartemen dia, meninggalkan kami berdua di sofa, masih gandengan tangan, dengan jantung yang deg-degannya sudah nggak bisa disembunyikan lagi pakai pasal-pasal.
Firman menoleh ke aku.
"Alana..."
"Jangan," potongku cepat, tapi suaraku gemetar. "Jangan ngomong apa-apa yang bikin aku melanggar Pasal 3 juga."
Dia tersenyum. Senyum pertama yang bukan CEO, bukan penyelamat, tapi... Firman saja.
"Terlambat. Saya sudah melanggarnya dari hari pertama ngelihat kamu lari dikejar perampok pakai sandal jepit putus itu."
"Dasar! Bikin perjanjian sendiri dilanggar sendiri! Pokoknya saya nggak mau tau, saya masih profesional, bapak yang nggak profesional dari awal!" ujar Alana.
Alana langsung berdiri dari sofa, menyilangkan tangan di dada. Mukanya merah, bukan karena malu lagi, tapi karena kesal. Sandal jepit putusnya yang kemarin sudah dibelikan Firman yang baru — tapi sengaja dia nggak pakai, biar tetap bisa ngedumel.
Firman yang masih duduk di sofa malah mendongak, menatap Alana dari bawah dengan senyum yang... ya ampun, nyebelinnya minta ampun.
Bukannya minta maaf, malah makin jadi.
"Oh, jadi saya yang nggak profesional?" katanya santai, lalu bersandar lebih dalam ke sofa, tangannya direntangkan di sandaran. Posisi yang bikin kaos hitamnya ketarik naik dikit. "Coba diingat lagi, Nyonya Alana yang terhormat. Siapa yang tadi malam ketiduran duluan di dada saya?"
"APA?! Saya nggak—"
"Siapa yang ngoroknya halus banget, terus ngigau 'Firman jangan ambil selimutnya'?"
Muka Alana langsung sepanas kompor. "Saya nggak ngigau!"
"Dan siapa," Firman berdiri sekarang. Pelan-pelan mendekat. Alana mundur selangkah, sampai punggungnya mentok dinding dingin apartemen. "Siapa yang tangannya nggak mau dilepasin pas saya sudah mau lepas?"
Jarak mereka tinggal sejengkal.
Alana bisa lihat jelas tahi lalat kecil di bawah mata Firman yang baru dia sadari ada.
"Itu namanya refleks kaget!" Alana masih ngeyel, suaranya sudah mengecil.
"Refleks kaget yang bertahan 4 jam 22 menit?" Firman melirik jam dinding. "Saya hitung."
Alana mau protes lagi, tapi Firman sudah mengangkat kedua tangannya, menyerah.
"Oke, oke. Saya ngaku. Saya nggak profesional dari awal."
"Hah?"
"Kontrak itu," bisik Firman, suaranya turun jadi pelan, cuma buat Alana yang dengar. Nenek di kamar tamu sudah ngorok halus. "Sejak awal saya bikin bukan buat ditaati."
Alana mengerutkan kening. "Maksudnya?"
Firman menunduk, dahinya hampir menyentuh dahi Alana. Napasnya hangat.
"Pasal 3: Dilarang jatuh cinta. Saya tulis itu bukan buat kamu, Alana. Tapi buat saya. Biar saya ingat jangan jatuh cinta. Tapi..." dia tertawa kecil, frustrasi sama dirinya sendiri. "Gagal total. Hari pertama aja saya sudah ngelanggar."
"Kenapa?"
"Karena mana ada orang yang habis dirampok, ketakutan setengah mati, tapi masih sempat ngomel 'Mas, sandal saya putus, gimana mau lari?!' sambil nangis ingusan. Kamu tuh..."
Firman berhenti. Matanya turun ke bibir Alana yang lagi manyun.
"Alana, kalau saya makin nggak profesional lagi gimana?"
Alana menahan napas. "Makin nggak profesional gimana?"
Firman tidak menjawab pakai kata-kata.
Dia mengambil selimut yang tadi jatuh, menyampirkannya pelan ke bahu Alana yang kedinginan karena AC. Tangannya tidak langsung lepas. Dia merapikan ujung selimut itu, jemarinya tanpa sengaja — atau sengaja — menyentuh leher Alana.
Sentuhan sekilas. Tapi cukup buat bikin Alana merinding.
"Itu namanya pelanggaran Pasal 4, Pak," bisik Alana, suaranya hampir hilang.
"Saya tahu," jawab Firman. "Makanya saya mau tanya... mau saya lanjutin pelanggaran selanjutnya, atau kamu mau lapor ke Nenek?"
Dari kamar tamu, tiba-tiba terdengar suara Nenek setengah mengantuk tapi jelas banget:
"LANJUTIN AJA, FIRMAN! NENEK PURA-PURA TIDUR! JANGAN BANYAK TANYA!"
Alana: "NEK!!!"
Firman langsung ngakak, nggak bisa nahan lagi. Tawanya lepas, tawa pertama yang benar-benar bukan tawa CEO.
PART 6 - BALAS DENDAM ISTRI KONTRAK
Oke, Firman mau main nggak profesional? Alana bisa jauh lebih nggak profesional.
Besok paginya, setelah insiden selimut jam 2 pagi dan Nenek yang jadi komentator dadakan, Alana bangun dengan satu misi: BIKIN FIRMAN KESEL.
"Alana, hari ini saya meeting penting sama investor dari jam 10 sampai jam 3 sore. Jangan bikin ulah. Nenek saya titip di apartemen, beliin bubur kalau dia bangun," pesan Firman sambil merapikan dasi. Sudah balik mode CEO super rapi lagi.
Alana yang lagi makan roti bakar Nenek cuma senyum manis. Senyum yang terlalu manis.
"Siap, Pak Firman. Saya akan jadi istri yang sangat, sangat profesional hari ini."
Firman curiga. Tapi dia keburu telat.
Jam 10.05, meeting dimulai di lounge lantai 45 gedung yang sama.
Jam 10.07, HP Firman getar.
Notifikasi Instagram.
alana.pratiwi baru saja posting story.
Foto selfie sama seorang cowok. Cowok tinggi, putih, kemejanya kebuka dua kancing. Bukan Revan kemarin. Ini lebih... bad boy.
Captionnya: "Ditemenin jalan sama Aldo, temen lama. Ademmmm ☺️"
Firman: —
Di ruang meeting, investor dari Singapura lagi presentasi soal angka. Firman angguk-angguk, tapi matanya nggak lepas dari HP di bawah meja.
Jam 10.15.
Story lagi.
Video Alana lagi di toko buku, Aldo ngerangkul bahunya dari belakang sambil nunjukin buku. "Katanya aku cocok baca ini? 😆"
Tangan Firman yang megang pulpen sampai berbunyi krek.
"Mr. Firman? Are you okay? You look... tense?" tanya investor itu.
"I'm fine. Very fine. My wife is just... being very professional," jawab Firman dengan senyum yang dipaksakan.
Jam 10.32.
Story lagi. Kali ini boomerang berdua lagi minum boba, sedotannya tukeran.
Caption: "Seharian bakal sama Aldo deh kayaknya. Seru! @ aldo.pratama"
@ aldo.pratama itu langsung Firman kepoin. Bio-nya: Model | DJ | Free Spirit.
TITIK DIDIH FIRMAN MELEDAK.
Dia langsung berdiri di tengah presentasi.
"Sorry, gentlemen. My wife is being kidnapped. I mean— my wife needs me. Meeting paused 15 minutes!"
Dia keluar tanpa nunggu jawaban, langsung telepon Alana. Tidak diangkat. Di-telepon lagi. Tidak diangkat. Di-telepon Aldo — nomor yang dia dapat dari Nenek yang ternyata sudah dihasut Alana — juga tidak diangkat.
Firman turun pakai lift ekspres, dasinya sudah longgar, kemejanya berantakan.
Dan dia menemukan Alana di taman bawah apartemen. Duduk di bangku. Sama Aldo. Ketawa-ketawa. Jaraknya... lumayan dekat.
Alana melihat Firman datang dengan muka merah padam, langsung pura-pura kaget.
"Loh? Pak Firman? Bukannya meeting sampai jam 3?"
Firman nggak menjawab. Dia menatap Aldo dari atas ke bawah.
"Aldo, ya?"
Aldo berdiri, pasang senyum model. "Yo, bro. Firman ya? Suaminya Alana? Alana banyak cerita soal—"
"Bagus," potong Firman dingin. Lalu tanpa basa-basi, dia menarik tangan Alana, menariknya berdiri dari bangku.
"Loh loh mau kemana?!" Alana protes, tapi dalam hati dia puas. Rencana berhasil.
"Meeting saya masih jalan. Tapi istri saya lagi nggak profesional. Jadi saya harus bawa pulang dulu," kata Firman sambil tetap menggenggam tangan Alana erat banget. Kali ini bukan genggaman akting.
Dia menoleh ke Aldo. "Thanks sudah temenin istri saya. Mulai besok, nggak usah lagi."
Aldo bengong. "Eh?"
Alana ditarik masuk lobi. Begitu pintu lift tertutup dan cuma berdua, Alana langsung ngedumel sambil senyum menang.
"Dasar! Bapak yang mulai duluan! Sekarang ngerasain kan digangguin pas lagi meeting?"
Firman menekan tombol lantai 32, lalu menekan tombol STOP. Lift berhenti di tengah.
Alana kaget. "Eh! Ngapain berhentiin lift?!"
Firman bersandar ke dinding lift, melipat tangan. Napasnya masih ngos-ngosan habis lari.
"Kamu sengaja, kan?" tanyanya, matanya tajam.
"Apa?"
"Jalan sama Aldo. Posting story. Biar saya cemburu."
Alana buang muka, tapi senyumnya nggak bisa ditahan. "Siapa yang cemburu? Katanya profesional? Pasal 3: Dilarang cemburu, Pak."
Firman maju selangkah. Lift sempit jadi makin sempit.
"Oke. Saya cemburu. Puas?" bisiknya, jujur untuk pertama kalinya hari ini. "Saya nggak profesional. Saya cemburu buta liat istri kontrak saya jalan sama model DJ free spirit itu. Sekarang giliran kamu. Kamu ngerasain apa liat saya meeting terus ninggalin kamu?"
Alana terdiam. Jantungnya deg-degan lagi.
"Aku..." suaranya kecil. "Aku kesel. Kamu lebih milih meeting daripada aku."
Itu pengakuan paling jujur Alana seminggu ini.
Firman tersenyum. Bukan senyum menang. Senyum lega.
"Bagus. Berarti kita sama-sama nggak profesional. Jadi..." dia menekan tombol PLAY lagi, lift mulai jalan. "Mulai sekarang, nggak usah pakai pasal-pasal lagi. Gimana?"
Alana melotot. "Terus kontraknya?"
"Robek aja".
"Jangan gila pak!" Alana manyun di sofa, bantalnya dipeluk erat kayak tameng.
"Iya saya yang gila!" ujar Firman masih kesal, dasinya sudah dia lempar entah kemana, kancing kemejanya kebuka satu. Dia mondar-mandir di depan Alana kayak singa dikandangin.
"Nenek udah pulang, tinggal kita berdua lagi! Enak aja kamu jalan sama Aldo! Posting-posting segala!"
Alana buang muka ke jendela. "Kan bapak yang mulai duluan nggak profesional. Saya cuma bales."
"Balesnya nggak gitu caranya!"
Firman berhenti mondar-mandir. Lalu duduk di meja kopi persis di depan Alana. Deket banget. Lutut mereka hampir nempel.
Alana langsung siaga. "Mau apa bapak?"
Firman menatap Alana lama. Napasnya masih berat habis marah.
"Gara-gara cemburu buta, saya mau nagih kewajiban seorang istri saat itu juga," katanya pelan.
Alana langsung melotot sampai matanya mau keluar.
"PAK!!!"
"Pak apa?"
"Kita kan kontrak! Kewajiban istri apaan?! Di kontrak nggak ada pasal begitu!"
Firman malah senyum miring. Senyum licik yang baru Alana lihat hari ini. Senyum yang bikin Alana tahu dia bakal kalah debat lagi.
"Ada. Pasal tambahan yang baru saya bikin 5 menit lalu di lift. Pasal 5."
"Pasal 5 apaan?!"
Firman nyender, suaranya dibuat santai padahal matanya masih nyala kesel plus... cemburu.
"Pasal 5: Jika salah satu pihak bikin pihak lain cemburu buta sampai ninggalin meeting penting, maka pihak yang bikin cemburu wajib menjalankan kewajiban istri selama 24 jam penuh. Tanpa protes."
Alana bengong. "Itu pasal ngarang!"
"Iya. Saya yang bikin kontrak, saya yang berhak ngarang," jawab Firman enteng. "Dan kewajiban pertama seorang istri malam ini adalah..."
Alana sudah siap-siap mau teriak lagi.
"...temenin suaminya makan malam. Soalnya suaminya belum makan dari jam 12 siang gara-gara meeting, terus ditinggal kabur gara-gara kepikiran istrinya jalan sama DJ."
Alana: "..."
Loh?
Kirain apa.
Firman berdiri, masuk ke dapur yang super mewah tapi nggak pernah dipakai itu, lalu balik lagi bawa dua piring kosong.
"Dan kewajiban kedua," lanjutnya, naruh piring di depan Alana. "Masak. Berdua. Soalnya di kulkas cuma ada telur sama kimchi buatan Nenek. Saya nggak bisa masak."
Alana yang tadinya manyun, mau nggak mau ngakak.
"Hah? Itu kewajiban istri?"
"Iya. Kewajiban istri versi saya yang lagi gila ini. Daripada saya suruh kewajiban lain yang bikin kamu teriak 'PAK!' lagi, mending ini, kan?" kata Firman sambil nyengir.
Alana akhirnya bangun dari sofa, masih manyun tapi manyun pura-pura.
"Dasar CEO aneh. Bikin pasal sendiri, ngelanggar sendiri, sekarang maksa masak."
"Tapi kamu lakuin kan?" Firman ngikutin Alana ke dapur.
"Terpaksa! Daripada bapak ngamuk lagi!
Alana cukup keras buat Firman malah nolak mentah-mentah.
"Enggak mau!"
Firman yang masih megang spatula berlumur telur itu bengong. "Enggak mau apa?"
"Enggak mau jalan sama bapak besok! Bapak kan masih cemburu buta! Saya mau mandi!"
Itu alasan paling klasik sejagad istri kontrak kalau sudah kalah debat.
Alana langsung kabur dari dapur yang berantakan itu, masuk ke kamar, mengunci pintu. KLEK.
Firman di luar cuma bisa garuk kepala yang nggak gatal.
"Alana! Telurnya gosong!"
"BIARIN! SAYA MAU MANDI!"
Firman menghela napas panjang. Ya udah. Kasih waktu. Cewek kalau manyun emang butuh air anget.
Jam 8 malam.
Suara shower masih gemericik.
Jam 9 malam.
Masih gemericik.
Jam 10 malam.
Firman yang sudah beresin dapur — dengan hasil yang lebih berantakan — mulai mondar-mandir depan kamar Alana.
"Alana? Kamu masih hidup?"
Nggak ada jawaban. Cuma suara air.
"Alana? Air apartemen ini bayarnya per kubik, lho!"
Tetap nggak ada jawaban.
Jam 11 malam. Firman mulai panik.
"Alana? Serius. Kamu nggak apa-apa?"
Dia ketuk pintu kamar. Nggak dikunci lagi ternyata, Alana lupa kunci pas buru-buru masuk kamar mandi.
Di dalam kamar, handuk Alana masih tergantung rapi. Tapi pintu kamar mandinya tertutup. Lampu nyala. Suara air sudah berhenti, ganti jadi hening banget.
"Alana?" Firman ketuk pintu kamar mandi pelan. "Kamu ketiduran ya?"
Nggak ada sahutan.
Firman panik beneran sekarang. Cemburunya hilang, ganti jadi takut.
"Alana! Saya masuk ya! Saya tutup mata!"
Nggak ada jawaban.
Dia buka pintu pelan-pelan, matanya langsung lihat ke atas, ke plafon, nggak berani lihat bawah.
Di dalam bathtub besar itu, air angetnya masih ngebul tipis. Dan Alana... ketiduran dengan posisi duduk, kepala miring ke pinggiran bathtub, masih pakai baju — dia mandi aja masih pakai kaos oblong sama celana pendek rumah, saking buru-buru pengen ngeles dari Firman.
Rambutnya basah setengah. Mukanya pules banget. Bibirnya manyun bahkan dalam tidur.
Firman langsung lega setengah mati, tapi detik kemudian manyun lagi.
"Alana. Alana! Bangun!"
Alana menggeliat, kaget. "Hm? Eh? Udah jam berapa?"
"Jam setengah 12 malam! Kamu ketiduran di bathtub dari jam 8! Airnya sudah dingin! Kalau masuk angin gimana?!"
Alana masih ngantuk, ngelihat Firman yang berdiri di depan bathtub dengan muka panik plus kesal plus... mata yang dipaksa lihat ke plafon terus.
"Ngapain bapak liat plafon?"
"Saya... saya jaga profesionalitas! Pasal 4! Nggak lihat! Makanya bangun!"
Alana malah ngakak kecil, suaranya serak habis ketiduran di air anget.
"Padahal saya pakai baju lengkap tau, Pak. Takut bapak ngintip."
Firman akhirnya berani lihat bawah, dan lihat Alana memang pakai kaos kebesaran — kaos dia yang dipinjam Alana kemarin karena kaos Alana belum kering.
Kaosnya kebasahan.
Firman langsung ambil handuk besar di gantungan, dilempar ke muka Alana biar ketutup.
"Pakai! Keluar! Nanti kamu sakit! Saya bikinin teh anget!"
Alana berdiri dengan sempoyongan, dibungkus handuk kayak lontong, air bathtubnya tumpah kemana-mana.
Baru dua langkah, kakinya kepleset.
"Eh—"
Firman sigap nangkep. Satu tangan nahan punggung Alana yang masih basah, satu tangan nahan handuknya biar nggak lepas.
Posisi mereka... deket banget lagi. Di kamar mandi yang uapnya masih ngebul.
Alana yang ngantuk tadi langsung melek total.
"Pak..."
"Iya, saya yang gila," Firman potong, masih nahan Alana biar nggak jatuh. "Gila karena istri kontrak saya keras kepala, nolak diajak jalan, milih ketiduran di bathtub sampai tengah malam."
Alana manyun lagi di dalam handuknya. "Kan bapak yang bikin saya kesel duluan."
"Ya udah. Kita impas. Sekarang kewajiban istri yang kedua malam ini: minum teh anget buatan suami yang nggak bisa masak, terus tidur di kasur yang bener, bukan di bathtub."
Alana mau nolak lagi, tapi bersin.
"Hatchim!"
Firman tanpa banyak ngomong lagi, langsung tuntun Alana — masih dibungkus handuk kayak kepompong — keluar dari kamar mandi, dudukin di kasur.
"Keringin rambut dulu. Saya ambil teh."
Alana ngeringin rambut pakai hairdryer.
Wenggggg...
Wanginya sampo stroberi campur vanilla itu langsung nyebar ke seluruh kamar, keluar lewat celah pintu, sampai kecium Firman yang lagi ribet bikin teh di pantry.
Firman yang lagi nyoba nggak gosongin air — iya, air aja hampir gosong di tangannya — langsung diem. Wangi itu... wangi yang sama pas Alana pertama kali masuk apartemen seminggu lalu. Wangi yang bikin dia gagal fokus rapat.
Dia bawa dua mug teh anget, balik ke kamar Alana dengan niat tulus mau jadi suami siaga.
Pintu kamar Alana kebuka dikit.
Firman masuk tanpa ketuk — kebiasaan jeleknya kalau lagi panik.
Dan...
"Alana, tehnya—"
Alana lagi berdiri depan cermin, hairdryer masih di tangan kanan, rambutnya masih setengah basah. Dia sudah ganti baju. Baju tidur pendek selutut yang kemarin Nenek beliin pas sidak. Katanya biar "nggak masuk angin kalau AC dingin". Warnanya kuning pastel, ada gambar bebek-bebek kecil.
Kali ini Alana pakai baju tidur pendek itu.
Firman kaget. Matanya langsung naik ke plafon lagi — reflek profesional yang sudah dia latih semalaman.
Puh! Teh yang baru dia seruput hampir nyembur balik ke mug.
"ASTAGFIRULLAH! ALANA!"
Alana kaget, hairdryernya dimatiin.
"Kenapa sih Pak?! Lebay!"
"Kamu! Baju! Itu! Kenapa pendek?!"
Alana lihat ke bawah, lihat baju bebeknya. "Ini baju tidur! Kan Nenek yang beliin! Katanya biar adem! Bapak yang suruh saya ganti baju basah tadi!"
"Iya saya suruh ganti, tapi nggak sependek itu!"
Firman masih ngadep plafon, mug tehnya dipegang erat kayak pelampung. Mukanya merah.
Alana yang awalnya manyun, tiba-tiba dapat ide jahil. Balas dendam belum selesai ternyata.
Dia jalan pelan-pelan mendekat ke Firman yang masih setia menatap plafon.
"Pak..." panggilnya pelan.
"Apa?! Jangan deket-deket!"
"Tehnya mau tumpah lho, Pak."
Firman mau ngasih mug-nya, tapi tangannya gemetaran. Alana ambil mug itu, sengaja — jari mereka senggolan lagi.
Firman mundur selangkah. "Alana, matiin dulu hairdryernya. Kita ngobrol profesional."
"Kan saya lagi ngeringin rambut. Ini kewajiban istri biar nggak sakit, kata bapak."
Firman kalah lagi. Telak.
Akhirnya dia nyerah, duduk di lantai — tempat dia tadi mau tidur jagain Alana — masih ngadep tembok.
"Ya udah. Keringin. Saya di sini aja. Ngadep tembok. Sampai kamu selesai."
Alana ngakak di dalam hati. Firman yang tadi cemburu buta sampai stop lift, yang ngarang Pasal 5, sekarang malah jadi patung yang ngadep tembok gara-gara baju bebek kuning.
Dia matiin hairdryer. Kamar jadi hening. Cuma ada suara AC.
"Pak, udah."
Firman masih ngadep tembok. "Udah apa?"
"Udah kering."
Firman pelan-pelan noleh. Alana sudah duduk di kasur, selimutan sampai leher, cuma kelihatan mukanya sama rambutnya yang masih agak lembab dan wangi itu. Baju bebeknya sudah ketutup selimut.
Firman lega. Napasnya baru normal lagi.
Dia nyodorin mug teh anget ke Alana.
"Minum. Habis itu tidur bener. Jangan di bathtub lagi."
Alana minum tehnya. Manisnya pas. Padahal Firman nggak bisa masak.
"Pak," panggil Alana pelan.
"Hm?"
"Kalau saya pakai baju tidur pendek gini lagi besok, bapak bakal nyembur teh lagi nggak?"
Firman hampir nyembur lagi untuk kedua kalinya malam itu.
"ALANA!"
Dan malam itu, tehnya habis bukan karena diminum, tapi karena kebanyakan ketawa.
Giliran Firman yang nglindur.
Jam 2 pagi.
Alana kebangun karena denger suara orang ketawa pelan di bawah.
Hih... hihihi... bebek...
Alana ngintip dari atas kasur. Firman masih di lantai sebelah kasurnya, pakai bantal tipis dan selimut yang tadi dia ambil dari sofa. Posisi tidurnya miring, matanya merem rapat. Tapi mulutnya...
"Lah? Matanya merem tapi mulutnya ngedumel!" bisik Alana.
Firman nglindur lagi, kali ini lebih jelas.
"Hahaha... bebek kuning... banyak banget... di kasur saya..."
Alana melotot. "Bebek?!"
"Jangan... jangan berisik... bebeknya mau tidur..." Firman masih merem, tapi tangannya gerak-gerak kayak lagi ngusir sesuatu. "Bebeknya... wangi stroberi..."
Alana langsung duduk. Mukanya antara mau ngakak sama mau sebel.
"Pak! Pak Firman! Bangun!"
Firman nggak bangun. Malah lanjut nglindur, kali ini ketawa lebih keras.
"Hahaha... bebeknya manyun... persis kayak istrinya..."
Alana nggak tahan. Dia ambil bantal gulingnya, dipuk-pukin pelan ke punggung Firman.
"Pak! Bangun! Ngeledekin baju saya ya dalam mimpi juga?!"
Firman kegelian kena bantal, tapi masih merem.
"Bebeknya... galak... tapi lucu..."
Puk! Puk!
"Bangun!"
Akhirnya Firman kebangun, kaget. Matanya masih ngantuk, rambutnya berantakan nempel di dahi.
"Hah? Apa? Gempa?"
Alana berdiri di atas kasur, masih pakai baju bebek kuning itu, rambutnya berantakan habis tidur, bantal guling di tangan kayak mau perang.
"Bapak barusan nglindur ketawa-ketawa sendiri ngeledek baju tidur saya yang kayak bebek! Kedengeran sampai saya kebangun jam 2 pagi!"
Firman bengong beberapa detik, ngumpulin nyawa. Lalu... dia malah ketawa beneran. Bukan nglindur lagi. Ketawa ngakak sampai perutnya sakit di lantai itu.
"HAHAHAHA—"
"Jangan ketawa!"
"Gimana nggak ketawa? Saya mimpiin bebek kuningnya beneran jalan-jalan di apartemen! Terus bebeknya ngomel 'Dasar! Bapak nggak profesional!'"
"Itu saya!"
"Iya makanya! Bebeknya kamu!"
Alana manyun, duduk lagi di kasur, narik selimut bebeknya sampai dagu. "Dasar bapak! Di dunia nyata ngeledekin, di mimpi juga ngeledekin!"
Firman masih ngakak, tapi pelan-pelan berhenti. Dia duduk bersandar ke sisi kasur Alana, jadi sekarang mereka sejajar, cuma beda tinggi lantai dan kasur.
"Alana," panggilnya, suaranya masih serak habis bangun tidur.
"Apa!"
Firman noleh ke atas, lihat Alana yang manyun dengan baju bebeknya.
"Jujur ya, baju itu..."
"Kenapa?! Jelek?!"
"...lucu. Lucu banget."
Alana mau protes lagi, tapi Firman lanjut cepat.
"Dan wangi. Dan... bikin saya nggak bisa tidur nyenyak kalau nggak lihat. Makanya kebawa mimpi."
Hening.
Jam 2 lewat 5 pagi. AC berdengung. Di luar jendela lantai 32, lampu kota Malang kelap-kelip.
Alana yang tadinya manyun, pipinya pelan-pelan merah. Bukan karena marah.
"Pakai alasan aja bapak tuh," bisiknya kecil.
Firman nyengir. "Iya. Saya lagi cari alasan biar boleh tetap tidur di lantai sini. Boleh nggak?"
Alana nggak jawab. Dia malah ambil selimut satunya, dilempar ke bawah ke arah Firman.
"Nih! Selimut! Jangan nglindur lagi! Berisik!"
Firman nangkap selimut itu. Wangi stroberi lagi.
"Siap, Nyonya Bebek."
"Jangan panggil bebek!"
"Oke, Nyonya Stroberi."
Alana lempar bantal lagi. Kena muka Firman.
Tapi kali ini, Firman nggak ngelak.
PART 7 - BAPAK DATANG
Pagi jam 7.
Alana sudah siap mau keluar. Baju kerja cafe yang kemarin diterima sudah rapi, rambutnya sudah kering — nggak pakai hairdryer biar nggak ada yang nglindur lagi — dan baju bebek kuning sudah dilipet rapi di lemari.
Firman masih di dapur, lagi mencoba bikin telur dadar yang bentuknya masih lebih mirip peta Indonesia daripada telur.
"Pak, saya berangkat dulu ya! Shift pagi!" teriak Alana dari depan pintu.
Tiba-tiba...
TOK TOK TOK! Pintu apartemen diketuk keras. Bukan bel. Ketukan yang Alana kenal banget. Ketukan sabar tapi bikin jantung ketinggalan.
Alana dan Firman saling lihat.
"Siapa?" bisik Firman.
Alana pucat. "Ketukannya... kayak Bapak..."
Pintu dibuka.
Benar.
Bapak. Pakde Slamet. Pakai batik coklat yang biasanya dipakai kalau ke kondangan, bawa tas kresek hitam isi... ayam goreng? Wajahnya capek, kayak habis naik bus semalaman dari kampung.
"Alana?"
Alana langsung panik. Tas kerjanya jatuh.
"BAPAK?! Kok di sini?!"
Firman juga panik. Telur dadarnya gosong, dia matikan kompor buru-buru. Celemeknya masih nyangkut.
Bapak menatap Alana, lalu menatap Firman, lalu menatap apartemen mewah lantai 32 itu, lalu menatap baju kerja Alana.
"Alana, Bapak dapat kabar dari Bu Kos. Katanya kamu sudah dua minggu nggak pulang kos. Katanya kamu... ikut laki-laki? Bapak naik bus malam-malam kesini..."
Nada Bapak bukan marah. Nada Bapak itu... khawatir. Khawatir yang ditahan.
Alana langsung mau nangis. "Pak, bukan gitu, Alana bisa jelasin—"
Firman maju selangkah. Dia lepas celemeknya. Berdiri tegak.
"Selamat pagi, Pak. Saya Firman," katanya, suaranya balik jadi sopan banget, beda 180 derajat sama yang nglindur bebek semalam. Dia salim, cium tangan Bapak. "Saya suaminya Alana."
Bapak kaget. "Suami?"
Alana merem. Mampus. Habis sudah.
Tapi Firman nggak bohong pakai versi kontrak.
"Pak, boleh kita duduk dulu di dalam? Saya jelasin semuanya. Nggak ada yang Bapak perlu khawatirin. Alana baik-baik saja di sini."
Mereka duduk di sofa — sofa yang jadi saksi bisu semua pelanggaran pasal itu. Alana duduk mepet Bapak, genggam tangan Bapak erat. Firman duduk di depan, bawa teh anget yang tadi dia bikin — yang kali ini nggak tumpah.
Firman cerita. Jujur. Dari awal sampai akhir.
Dari Alana yang hampir dirampok. Dari dia yang nolong. Dari Nenek yang sakit dan butuh lihat cucu menikah. Dari kontrak 3 bulan, 50 juta, kamar pisah, Pasal 3 dilarang jatuh cinta yang dia sendiri yang langgar duluan.
Nggak ada yang ditutup-tutupin. Bahkan cerita soal Alana ketiduran di bathtub dan baju bebek kuning juga diceritain — yang bikin Bapak yang tadinya tegang, malah... senyum tipis.
Bapak diam lama. Menatap Alana.
"Alana, bener begitu ceritanya?"
Alana angguk, air matanya netes. "Iya Pak. Maaf Alana nggak cerita. Alana takut Bapak mikir Alana jual diri... Padahal... padahal awalnya memang karena uang kos, Pak..."
Bapak menghela napas panjang. Lalu mengelus kepala Alana.
"Bapak yang minta maaf, Nduk. Bapak nggak bisa kirim uang banyak bulan kemarin. Bapak tahu kos kamu nunggak. Bapak malah curiga."
Lalu Bapak menatap Firman.
"Nak Firman," kata Bapak, suaranya berat. "Bapak cuma punya Alana. Dari kecil dia keras kepala. Kalau dia bilang nggak mau, ya nggak mau. Kalau dia bilang mau mandi, dia bisa mandi sampai ketiduran di air."
Firman dan Alana saling lirik. Kok Bapak tahu kebiasaan bathtub itu?
"Tapi," lanjut Bapak, "Bapak lihat tadi. Waktu Bapak ketuk pintu, kamu yang pertama berdiri di depan Alana. Bukan di belakang. Waktu Alana panik, kamu yang jelasin, bukan Alana yang disuruh jelasin sendiri. Itu bukan kelakuan laki-laki yang cuma sewa istri 3 bulan."
Firman terdiam.
Bapak berdiri, membuka tas kresek hitamnya. Bukan ayam goreng. Isinya... pecel dan peyek buatan Ibu.
"Kalau memang cuma kontrak, Bapak nggak bisa maksa. Tapi kalau kamu, Firman, memang sudah nggak profesional seperti yang Alana bilang semalam — Bapak dengar dari luar pintu tadi, kalian berisik — ya jangan tanggung-tanggung nggak profesionalnya."
Bapak menepuk bahu Firman keras.
"Jaga anak Bapak yang baju tidurnya gambar bebek itu. Jangan cuma 3 bulan."
Alana bengong. "BAPAK DENGER?!"
Bapak ketawa untuk pertama kalinya pagi itu. "Dengar semua! Dari 'jangan gila pak!' sampai 'bebeknya wangi stroberi!' Tembok apartemen ini tipis, Nduk!"
Firman: "..........."
Alana: Mukanya sudah merah kayak kepiting rebus. Persis kayak kuping Firman waktu bohong ke Nenek.
Pagi itu, Alana nggak jadi berangkat kerja shift pagi.
Pas Bapak pamit, Alana langsung buru-buru pakai sepatu.
"Bapak hati-hati di jalan ya! Nanti Alana telpon!"
Bapak sudah masuk lift sambil bawa sisa pecel yang nggak habis, ngasih jempol ke Firman dari jauh. "Jaga ya, Firman! Jangan cuma 3 bulan!"
Pintu lift ketutup.
Alana langsung balik badan, ambil tas kerjanya yang jatuh tadi.
"Pak, saya berangkat dulu! Udah telat shift pagi!"
Baru dua langkah ke arah pintu—
"Lana!"
Firman nahan.
Bukan narik kasar. Cuma tangannya nahan pintu apartemen biar nggak kebuka. Badannya berdiri di depan pintu. Jadi Alana ketahan di antara Firman dan pintu.
Alana mendongak. "Pak, minggir, saya telat!"
Firman nggak minggir. Napasnya masih agak berat habis ngobrol sama Bapak tadi.
"Tadi Bapak kamu bilang apa?" tanya Firman pelan.
"Bapak bilang apa? Banyak!"
"Yang terakhir. Jangan cuma 3 bulan."
Alana diem. Jantungnya yang dari tadi sudah naik turun gara-gara Bapak datang, sekarang naik lagi.
"Itu kan Bapak... asal ngomong aja..."
"Alana," Firman manggil lagi, kali ini bukan "Alana" yang tegas, tapi "Lana" yang pelan. Pertama kalinya dia manggil "Lana".
"Lana, kalau kontraknya habis bulan Februari nanti, kamu beneran mau pergi?"
Alana genggam tas kerjanya makin erat.
"Ya... kan memang perjanjiannya gitu. Saya dapat 50 juta, bapak dapat Nenek seneng. Selesai."
Firman masih di depan pintu. Nggak ngasih jalan.
"Terus kerjaan cafe itu? Jalan sama Aldo? Baju bebek kuningnya mau kamu bawa pergi juga?"
"Pak, ini nggak ada hubungannya sama—"
"Ada hubungannya!" potong Firman, akhirnya suaranya naik dikit. Bukan marah. Lebih kayak... takut.
"Sejak kapan ada hubungannya, Lana? Sejak kapan saya jadi cowok yang cemburu buta liat istri kontraknya jalan sama orang lain? Sejak kapan saya jadi cowok yang tidur di lantai cuma buat dengerin istrinya ngorok halus di kasur? Sejak kapan saya ngarang Pasal 5 cuma biar kamu nggak pergi?"
Alana melotot. "Pak..."
Firman nunduk, dahinya hampir nempel ke dahi Alana yang masih pakai sepatu kets itu. Jaraknya deket banget. Pintu masih ketahan di belakangnya.
"Tadi di depan Bapak kamu, saya jujur semuanya. Sekarang saya mau jujur lagi, tapi cuma ke kamu. Nggak ada Bapak, nggak ada Nenek."
Alana napasnya ketahan.
"Saya nggak mau kontraknya selesai."
Hening.
Di luar, suara lift naik turun. Di dalam, cuma suara AC dan detak jantung Alana yang kedengeran sampai ke telinga Firman.
"Pak, minggir dulu, saya... saya harus mikir," bisik Alana pelan. Matanya sudah berkaca-kaca, tapi bukan mau nangis sedih.
Firman pelan-pelan minggirin badannya dari pintu. Nggak nahan lagi.
Pintu kebuka.
Alana bisa pergi kalau mau. Shift paginya nunggu. Cafe-nya nunggu. Aldo juga mungkin masih nunggu di DM.
Tapi kakinya nggak jalan.
Dia berdiri di depan pintu yang sudah kebuka itu, tas masih di tangan, lalu balik badan lagi ngadep Firman.
"Kalau kontraknya nggak selesai, terus gantinya apa, Pak?"
Firman tersenyum. Senyum lega yang pertama kali Alana lihat tanpa beban CEO sama sekali.
"Gantinya... kamu nggak usah buru-buru berangkat. Temenin saya sarapan pecel yang gosong sama telur yang gagal itu dulu. Abis itu... kita pikirin sama-sama mau bikin pasal baru yang berapa lama."
Alana ngedumel lagi, tapi sambil ketawa kecil.
"Dasar! Bikin perjanjian sendiri, ngelanggar sendiri, sekarang mau bikin perjanjian baru lagi! Bapak tuh emang nggak profesional dari awal!"
Firman ketawa, narik kursi makan buat Alana.
"Iya. Saya yang nggak profesional. Dan saya mau tetap nggak profesional selamanya. Boleh, Nyonya Bebek?"
Alana akhirnya naruh tasnya. Duduk.
Seminggu kemudian.
Kontrak yang tadinya 3 bulan itu sudah nggak pernah dibahas lagi. Telur dadar Firman sudah lumayan nggak gosong. Alana sudah nggak telat shift pagi lagi — karena sekarang diantar jemput sama ojek pribadi yang cemburuan itu.
Malam itu, habis makan malam, Alana lagi duduk di sofa, ngeringin rambut lagi. Nggak pakai hairdryer, cuma pakai handuk. Baju bebek kuningnya sudah dicuci, gantinya baju tidur putih polos yang... ya, masih pendek selutut.
Firman duduk di karpet bawah, laptopnya nyala tapi nggak disentuh sama sekali dari tadi. Matanya ngeliatin Alana terus.
"Lana."
Alana yang lagi sisiran langsung berhenti. "Pak? Mau ngapain?"
Firman nggak jawab pakai kata-kata.
Dia cuma ngasih isyarat lewat matanya. Mata yang biasanya tajam kalau di meeting, sekarang... lembut banget. Natap Alana, terus turun sebentar ke bibir Alana, terus balik lagi ke mata Alana.
Isyarat yang jelas banget. Isyarat yang nunggu jawaban.
Mau cium suami istri yang sah.
Alana langsung ngerti. Mukanya langsung merah. Handuk di rambutnya jatuh.
"Pak... itu... di kontrak nggak ada..." bisiknya pelan, tapi nggak mundur.
Firman masih duduk di bawah, nggak maksa maju. Dia nunggu. Beneran nunggu jawaban Alana.
"Di kontrak nggak ada pasal cium, Lana," jawab Firman pelan. "Makanya saya nanya dulu. Lewat mata. Kalau kamu bilang enggak, saya balik ngadep laptop lagi. Nggak apa-apa."
Hening beberapa detik. Cuma ada suara AC.
Alana gigit bibir bawahnya. Jantungnya deg-degan kayak waktu pertama kali hampir dirampok dulu.
"Bapak tuh ya... nggak profesionalnya keterusan," bisik Alana, suaranya kecil banget, hampir nggak kedengeran.
"Tapi..."
Alana pelan-pelan turun dari sofa, duduk di karpet juga, sejajar sama Firman. Jarak mereka tinggal sejengkal.
"...kalau suami istri sah... emang harusnya gimana?"
Itu jawaban.
Firman senyum. Senyum yang lega, bukan senyum CEO menang tender.
Dia nggak langsung buru-buru. Dia angkat tangannya pelan, ragu-ragu, ngasih waktu buat Alana buat mundur kalau mau.
Tangannya nyentuh pipi Alana yang anget.
Alana nggak mundur. Malah merem pelan.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, pelanggaran Pasal 3 dan Pasal 4 yang mereka buat sendiri itu... dilanggar dengan sengaja, pelan-pelan, dan sama-sama mau.
Ciuman pertama yang bukan karena kontrak, bukan karena Nenek, bukan karena cemburu.
Cuma karena... sudah nggak tahan.
EPILOG - 4 TAHUN KEMUDIAN
Kontrak 3 bulan itu akhirnya... nggak pernah selesai.
Nggak ada yang robek, nggak ada yang tanda tangan pembatalan. Kertas kontrak 50 juta itu masih ada di laci meja kerja Firman, tapi sudah ditumpuk nota belanjaan, struk susu, dan gambar bebek kuning yang dicoret-coret krayon.
"Lana! Tolongin!"
Suara Firman dari ruang tengah. Panik lagi. Tapi bukan panik meeting lagi.
Alana keluar dari dapur, masih pakai celemek, rambutnya diikat berantakan. Di gendongannya ada satu buntut kecil.
Anak perempuan. Umur 2 tahun setengah. Rambutnya ikal berantakan persis kayak Firman habis bangun tidur, matanya sipit kalau ketawa, dan kalau manyun... ya ampun, manyunnya 100% fotokopian bapaknya.
Namanya: Luna.
Luna Alana Firman. Nama yang dipilih Nenek sebelum Nenek meninggal tahun lalu, sambil ketawa bilang "Biar kalau manyun berdua, bapaknya nggak bisa bedain mana istri mana anak."
"Luna-nya nggak mau pakai baju bebeknya, Lana!" keluh Firman sambil ngejar Luna yang lari-lari keliling sofa cuma pakai kaos kaki satu. Luna lagi mogok pakai dress kuning bebek yang Alana beliin.
Alana ngakak. "Kan aku sudah bilang! Dia nggak suka bebek!"
"Tapi ini kan baju warisan kamu!" Firman akhirnya berhasil nangkep Luna, digendong tinggi-tinggi. Luna ketawa ngakak.
Luna memang miripnya malah kayak Firman. Bukan Alana.
Hidungnya Firman. Matanya Firman. Bahkan gaya cemburu butanya pun... Firman banget. Kemarin pas Alana gendong anak tetangga yang cowok, Luna langsung manyun dan peluk kaki Alana sambil bilang "Mama punya Luna aja!"
Firman yang lihat itu malah bangga setengah mati.
"Tuh kan, anak bapak banget," bisik Firman ke Alana sambil Luna akhirnya mau pakai baju bebeknya — tapi kebalik.
Alana nyender di bahu Firman, ngeliatin Luna yang lagi sibuk berantakin pecel yang tadi Bapak kirim dari kampung.
"Pak," bisik Alana.
"Hm?"
"Anak kita miripnya sama bapak semua. Nggak ada mirip aku sama sekali."
Firman meluk Alana dari samping, satu tangan masih nahan Luna biar nggak jatoh dari sofa.
"Enak aja nggak ada mirip kamu. Sifat keras kepalanya? Tukang ngedumelnya? Jago bikin orang cemburu buta terus pura-pura mau mandi lama-lama? Itu semua kamu, Lana."
Alana mukul lengan Firman pelan. "Pak!"
Luna yang di tengah-tengah mereka ikut-ikutan mukul lengan Firman pakai tangan kecilnya. "Pak!"
Firman dan Alana saling lihat, terus ngakak bareng.
Di meja, kertas kontrak 3 bulan itu masih di sana. Di bagian bawah, ada tulisan baru pakai spidol warna-warni, tulisan tangan Alana yang ditimpa tulisan tangan Firman yang ditimpa coretan krayon Luna.
Tulisannya:
Pasal Baru: Kontrak diperpanjang seumur hidup. Gratis. Nggak pakai 50 juta. Pelanggaran Pasal 3 sangat dianjurkan.
- TAMAT -