PEMBUNUH VS KECOA
Sinar matahari pagi mulai masuk melalui celah-celah tirai kamar Hikaru. Cahaya itu menerpa wajah Yoko hingga membuatnya perlahan mengerjapkan mata.
Dia merasakan sesuatu yang berat menindih perutnya.
Yoko mencoba membuka mata lebih lebar dan mengangkat kepala. Setelah pandangannya mulai jelas, dia terbelalak melihat Hikaru yang tertidur di lantai dengan kepala bersandar di atas tubuhnya.
Gadis itu masih terlelap.
Namun, perhatian Yoko segera beralih ketika menyadari pakaian mereka sudah tidak melekat di tubuh masing-masing. Beberapa potong pakaian bahkan berserakan di lantai.
Yoko mencoba mengingat apa yang terjadi semalam.
Namun, semakin dia berusaha mengingat, semakin kosong pikirannya.
Akhirnya, dia memindahkan kepala Hikaru dengan hati-hati. Setelah mengenakan kembali pakaiannya, Yoko mengambil selimut dan menyelimuti tubuh Hikaru. Dia kemudian mengangkat gadis itu ke atas kasur.
Setelah itu, Yoko kembali berbaring di lantai dengan posisi telungkup. Dia meletakkan dagu di atas kedua telapak tangannya yang bertumpuk, lalu memandangi wajah Hikaru yang masih tertidur pulas.
Tiba-tiba, matanya tertuju pada beberapa noda kemerahan di leher gadis itu.
Yoko kembali mencoba mengingat kejadian semalam.
Namun, tetap saja tidak ada yang berhasil dia ingat.
Akhirnya, dia bangkit dan berjalan menuju kamar mandi.
Setelah membersihkan tubuhnya, Yoko merasakan kesegaran air dingin yang membasahi kulitnya. Sempat menegang karena dinginnya air, dia kemudian menikmati sensasi menyegarkan tersebut.
Selesai mandi, dia berjalan menuju dapur dengan hanya mengenakan celana pendek. Kebiasaan itu sudah biasa dilakukannya ketika berada di kamarnya sendiri.
Yoko membuat dua cangkir kopi. Dia juga mengambil beberapa potong roti dari kulkas, memasukkannya ke dalam pemanggang, lalu menyalakannya.
Sesaat kemudian, terdengar suara Hikaru dari arah kamar.
"Yoko, lo udah bangun?"
Yoko menoleh.
"Udah. Lo mau gue buatin kopi sama roti panggang?"
Hikaru meregangkan kedua tangannya sambil menguap. Setelah bangkit dari kasur, dia melilitkan selimut ke seluruh tubuhnya dan berjalan menghampiri Yoko.
"Emang lo bisa masak roti?"
"Bisa. Kemarin diajarin sama Takeda di minimarket."
Hikaru memperhatikan tubuh Yoko yang tidak mengenakan baju. Tangannya kemudian menyentuh beberapa bekas luka di sana.
"Yoko, sebenarnya apa yang terjadi sama badan lo? Kenapa banyak banget bekas luka?"
Telunjuknya mengikuti garis-garis bekas luka yang tersebar di tubuh Yoko.
Yoko menarik napas panjang, kemudian mengembuskannya perlahan.
"Ini semua gue dapat dari seorang pria brengsek yang sudah merenggut segala yang gue miliki."
Namun, Yoko menghentikan ucapannya.
"Maaf, Hikaru. Gue nggak mau membahas itu lagi. Semuanya terasa begitu menyakitkan. Gue cuma pengin melupakan hal-hal yang nggak menyenangkan dalam hidup gue."
Mendengar perkataan itu, Hikaru segera memeluk tubuh Yoko dari belakang. Dia menempelkan kepalanya di punggung pemuda itu.
"Ya sudah, Yoko. Kita nggak usah mikirin hal-hal yang menyakitkan lagi."
Yoko berbalik dan menyentuh pundak Hikaru. Namun, sebelum sempat mengatakan sesuatu, gadis itu lebih dulu membuka suara.
"Yoko, semalam hebat sekali! Gue suka, deh!"
Yoko mengerutkan kening.
"Hikaru, sebenarnya apa yang terjadi semalam? Kok gue nggak ingat sama sekali?"
Hikaru menunjuk dua botol wine yang tergeletak di dekat pintu kamar.
"Setelah minum itu, lo langsung jadi gila. Gue sampai nggak bisa napas!"
Yoko menoleh ke arah botol-botol tersebut.
"Oh, ya ampun! Gue lupa kalau semalam kita merayakan hari pertama gue kerja."
"Iya. Ternyata lo nggak kuat minum, ya, Yoko?"
Yoko menggaruk kepalanya.
"Iya. Dulu gue hampir nggak pernah minum. Tapi semenjak keluarga gue berantakan, gue nggak punya siapa-siapa lagi. Nggak ada teman curhat, nggak ada yang mau mendengarkan gue."
Dia menunjuk botol-botol di dekat pintu.
"Kecuali mereka."
Hikaru menyandarkan tubuhnya ke dada Yoko. Dia mendongak dan menyentuh dagu pemuda itu dengan lembut.
"Sekarang sudah ada gue. Kalau lo mau cerita, cerita aja. Kalau mau ngomong, ngomong aja. Kalau mau nakal..."
Hikaru tidak melanjutkan kalimatnya.
Dia justru mengangkat wajah dan mencium bibir Yoko dengan lembut.
Yoko membalas ciuman itu selama beberapa saat.
Setelah melepaskan pelukannya, Yoko mendekatkan bibir ke telinga Hikaru dan berbisik dengan suara pelan.
"Hikaru, elo mandi, dong. Badan lo bau aneh!"
Hikaru langsung menjerit dan menarik telinga Yoko.
"Yoko! Lo jahat, deh! Ini kan bau Lo sendiri!"
Keduanya kembali saling memandang.
Hikaru kemudian melingkarkan tangan ke leher Yoko dan mengangkat wajahnya, hendak kembali mencium bibir pemuda itu.
Namun, tiba-tiba terdengar suara keras.
KLAK!
Roti melompat dari pemanggang.
Ciuman mereka pun gagal.
Yoko segera mematikan pemanggang, sementara Hikaru bergegas menuju kamar mandi.
Yoko mengambil piring, meletakkan roti panggang di atasnya, lalu mengoleskan selai. Dia sempat mencium aroma roti tersebut sebelum tangannya menjulur untuk meraih cangkir kopi.
Namun, tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar mandi.
"Yoko! Tolong!"
Yoko terdiam sejenak dan mencoba mendengarkan.
"Yoko! Buruan tolongin gue!"
Yoko langsung meletakkan cangkirnya.
"Ya ampun, Hikaru! Kenapa lagi?"
Dia segera bergegas menuju kamar mandi.
Begitu membuka pintu, Yoko langsung terkejut melihat pemandangan di hadapannya.
Hikaru berdiri di atas kloset sambil menghadap tembok. Wajahnya mendongak, sementara tangan kanannya berpegangan pada dinding dan tangan kirinya menunjuk ke lantai.
"Ada apa, Hikaru? Kok lo sampai naik ke atas kloset?"
"Itu... itu... itu, Yoko! Tolongin!"
Yoko mengikuti arah telunjuk Hikaru.
Di sana, seekor kecoa sedang berjalan mondar-mandir di lantai kamar mandi.
Yoko mengernyit.
"Itu kan cuma kecoa, Hikaru."
"Ya ampun! Gue nggak peduli itu kecoa atau apa! Gue geli ngelihatnya! Tolong buruan bunuh, terus buang!"
Yoko menatap Hikaru dengan heran.
"Hikaru, lo kan pembunuh. Masa sama kecoa aja takut?"
"Gue nggak takut, Yoko! Gue cuma geli ngelihatnya!"
"Tapi kecoanya kecil banget."
"Udah, jangan banyak omong! Buruan ambil sandal atau apa, terus matiin kecoa itu!"
"Ya sudah, ya sudah."
Yoko keluar dari kamar mandi. Beberapa saat kemudian, dia kembali membawa sandal.
Tanpa banyak bicara, dia mengangkat sandal tersebut, lalu memukul kecoa itu hingga gepeng.
"Udah, Hikaru! Kecoanya udah gue bunuh!"
Hikaru masih berdiri di atas kloset.
"Buangin sekalian! Gue geli ngelihatnya!"
Yoko menggelengkan kepala.
"Ya ampun. Pacar gue pembunuh sadis, tapi sama kecoa aja takut."
"Udah cukup bercandanya! Buruan buang!"
Yoko segera mengambil kecoa tersebut, membuangnya ke dalam kloset, lalu menyiramnya.
Setelah memastikan kecoa itu sudah tidak ada, Hikaru perlahan menoleh dan memperhatikan sekeliling.
Merasa keadaan sudah aman, dia akhirnya mengulurkan tangan ke arah Yoko.
"Yoko, tangkap dong!"
Namun, Yoko pura-pura tidak mendengar.
Dia justru kembali menggoda Hikaru.
"Hikaru, lo itu berani membunuh orang, masa sama kecoa aja takut?"
Hikaru langsung melompat ke pelukan Yoko.
"Yoko! Gue benci kecoa!"
Yoko menahan tubuhnya sambil tersenyum jahil.
"Benci atau takut?"
"Bodo amat!"
Hikaru segera meninggalkan Yoko dan keluar dari kamar mandi dengan wajah kesal.
Sementara itu, Yoko masih berdiri sambil memperhatikan tingkah pacarnya.
Dia menggelengkan kepala.
Pembunuh kok takut kecoa?