OLIVIA
Olivia — semua orang manggilnya Oliv — 18 tahun, anak kota yang mendadak harus jadi anak kampung.
Bukan karena dihukum. Ayah ibunya dosen, lagi dinas penelitian keluar kota 6 bulan di Kalimantan. Daripada Oliv sendirian di rumah, dititipin lah dia ke rumah Bibi Lastri di kaki Gunung Arjuno.
Hari pertama Oliv ngerasa kayak kesetrum alam.
Jam 5 pagi udah rame. Bukan suara klakson, tapi suara ayam, suara lesung, bapak-bapak berangkat ke ladang bawa cangkul di pundak. Kabut masih turun, dinginnya nusuk sampe tulang. Di belakang rumah bibi ada sungai jernih, ibu-ibu nyuci sambil ngobrol ketawa-ketawa, anak-anak kecil mandi sambil lempar-lemparan air.
Oliv yang biasanya bangun jam 9 karena kuliah online, sekarang dipaksa bangun jam 5 sama suara kentongan dan wangi nasi jagung yang dikukus Bibi.
"Betah ya kamu disini, Nduk?" kata Bibi.
Oliv cuma senyum. Betah sih... sepi, tapi tenang.
Sampai hari ketiga.
Siang itu Oliv disuruh Bibi nganterin singkong rebus ke rumah Pak Lurah yang agak di atas. Jalan setapaknya licin habis hujan. Oliv pake sandal jepit, bawa rantang, sok-sokan jadi gadis desa padahal jalannya masih kaku kayak orang kota.
Di tikungan dekat jembatan bambu, dia hampir kepeleset.
"Eh!"
Tiba-tiba ada tangan yang nahan lengannya. Kenceng.
Cowok. Umurnya kayaknya 20-an awal. Kaosnya udah lusuh, celana lapangan, topi capingnya miring. Mukanya... capek, tapi gantengnya tuh yang tipe pendiam. Kulitnya sawo matang karena matahari. Di punggungnya gendong anak kecil perempuan, mungkin umur 4 tahun, tidur ngorok.
"Pelan-pelan. Licin," katanya datar. Singkat.
Itu pertama kalinya Oliv ketemu Afan.
---
Oliv udah denger nama itu dari ibu-ibu di sungai.
Afan.
Anak sulung yang jadi idaman satu kampung. Bapaknya merantau ke Malaysia gak pernah pulang, ibunya stroke udah 2 tahun gak bisa jalan. Jadi Afan yang ngurus semua. Pagi ke ladang, siang ngarit, sore jualan kayu bakar, malem jagain ibunya sama dua adiknya yang masih kecil-kecil. Si Cantik yang di gendong tadi namanya Ais, sama si Bima umur 7 tahun yang super aktif.
Semua cewek di kampung naksir dia. Tapi kata mereka, "percuma, Dek. Afan itu kayak batu sungai. Dingin, kaku, susah senyum."
Dan bener.
Setelah nolongin Oliv gak kepeleset, Afan langsung lepas tangannya.
"Makasih," kata Oliv, masih deg-degan.
Afan cuma angguk. "Hati-hati." Terus jalan lagi, tanpa nengok.
Oliv bengong. Di kota, kalau cowok nolongin cewek pasti minimal minta IG. Ini? Kayak nolongin kucing nyebrang doang.
Tapi anehnya, justru itu yang bikin Oliv penasaran.
Sorenya, pas Oliv balik dari sungai habis cuci piring — masih belajar cara nyuci piring di sungai tanpa sabunnya hanyut — dia liat Afan lagi di depan rumahnya yang papan.
Rumahnya paling sederhana di ujung kampung. Afan lagi nyuapin ibunya yang duduk di kursi roda kayu. Suaranya pelan banget, beda sama tadi siang.
"Ibu, dikit lagi ya... pinter..."
Terus si Ais kecil tadi kebangun, narik-narik kaos Afan minta digendong lagi. Afan dengan sabarnya gendong lagi, sambil tangannya tetap nyuapin ibunya.
Dingin? Kaku? Iya.
Tapi baiknya... beda level.
Oliv yang dari jauh ngintip di balik pohon pisang, tiba-tiba ngerasa dadanya anget. Untuk pertama kalinya setelah 3 hari di kampung, dia ngerasa jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya.
Bukan karena udara sejuk kampung lagi.
"Bu, itu siapa?"
Oliv nanya sambil masih ngintip dari balik pintu dapur. Tangannya pura-pura ngulek sambel, padahal matanya ngikutin punggung Afan yang udah jauh di jalan setapak, gendong Ais.
Bibi Lastri yang lagi ngiris tempe, nggak perlu nengok juga udah tau.
"Oh, itu Afan," Bibi senyum tipis. "Anak Lorong Bambu ujung."
Bibi lap tangan di celemeknya, terus duduk di bale bambu dekat Oliv.
"Kamu lihat tadi dia gendong adiknya terus, to?"
Oliv angguk pelan.
Bibi nghela napas. Nada suaranya berubah jadi pelan, kayak orang lagi cerita yang disayang.
"Afan itu... kasihan, Nduk. Umurnya baru 21. Seumuran kakak tingkatmu kali ya. Harusnya dia udah di Malang kuliah, dulu ranking satu terus di SMP. Pinter pol anaknya."
"Lho terus, Bi?"
"Bapaknya itu... ya sudahlah. Pergi katanya kerja di Malaysia pas Afan kelas 2 SMA. Awalnya ngirim uang, lama-lama hilang. Nomornya mati. Ibunya, Bu Siti, syok, terus stroke. Jatuh di kamar mandi. Sejak itu nggak bisa jalan."
Bibi ngiris tempe lagi, tapi matanya menerawang.
"Sejak itu Afan yang jadi bapak, jadi ibu. Ladang setengah petak peninggalan mbahnya yang dia garap. Kalau pagi dia ke ladang, Ais sama Bima dititipin ke tetangga. Kalau siang dia ngarit buat kambingnya Pak Haji, dibayar 30 ribu. Sore jualan kayu bakar keliling. Malem mijitin ibunya."
Oliv diem. Ulekan di tangannya berhenti.
"Pernah ada yang mau bantu, Nduk. Perangkat desa mau bawa ibunya ke panti, adiknya mau diurusin saudaranya di Blitar. Tapi Afan nggak mau. Katanya, 'Ini keluarga saya, Bi. Selagi saya kuat, biar di sini saja.'"
"Jadi... dia nggak pernah main, Bi?"
Bibi ketawa kecil.
"Main gimana? Anak-anak muda di sini kalau malam minggu nongkrong di gardu, main gitar. Afan nggak pernah ikut. Bukan sombong. Dia tuh malu, Nduk. Malu kalau ditanya ini itu. Makanya kelihatan dingin, kaku. Padahal kalau sama ibunya sama adiknya... ya Allah, lembutnya bukan main. Pernah Bima demam tinggi tengah malam, dia gendong lari-lari dari sini sampai puskesmas 2 kilo, hujan-hujan."
Bibi lirik Oliv.
"Kenapa? Kamu naksir?"
"Eh! Enggak! Ngawur Bibi!" Oliv langsung merah sampe ke leher. "Aku cuma... kaget aja. Kok ada cowok kayak gitu."
Bibi cuma nyengir, godain.
"Hati-hati ya, Nduk. Banyak kembang desa di sini yang patah hati gara-gara Afan. Dikasih senyum aja enggak pernah, tapi tetep ditungguin di jembatan."
Oliv manyun, tapi di dalam dadanya aneh.
Seumur hidup di kota, cowok yang dia kenal itu yang pinter ngomong, pinter gombal, pinter bikin story IG.
Baru kali ini dia ketemu cowok yang ngomongnya irit, tapi kerjanya banyak.
Malamnya, Oliv nggak bisa tidur. Suara jangkrik keras banget di kampung. Dari jendela kamarnya yang papan, dia bisa lihat samar-samar lampu minyak dari rumah ujung lorong. Rumah Afan.
Lampu itu masih nyala jam 10 malam. Masih kedengeran samar suara anak kecil nangis, terus suara cowok yang ngedongengin pelan-pelan.
Oliv narik selimutnya. Gunungnya dingin banget malam itu. Tapi entah kenapa, bayangan tangan yang tadi nahan dia biar nggak kepeleset itu masih kerasa angetnya.
---
Pagi itu kabut masih tebal banget.
Oliv habis disuruh Bibi beli gula sama kopi di warung Bu Min. Jalan pulangnya dia sengaja lewat Lorong Bambu — padahal kalau lewat jalan utama lebih cepet.
Ransel kecilnya berat. Isinya bukan cuma gula. Tadi di warung dia ngeliat ada permen susu sama biskuit Roma kelapa yang digantung-gantung. Tiba-tiba kepikiran Ais sama Bima.
Pas hampir lewat depan rumah papan itu, dari kolong rumah ada yang lari kecil.
"Bima! Jangan lari!"
Ternyata Ais sama Bima. Bima yang umur 7 tahun pake kaos kebesaran, Ais yang kemarin digendong sekarang udah bisa lari-lari, rambutnya masih acak-acakan baru bangun.
Mereka berhenti pas di depan Oliv. Bima natap Oliv lama.
"Kakak yang kemarin hampir jatuh di jembatan ya?" tanya Bima polos.
Oliv kaget, terus ketawa.
"Iya. Kamu inget?"
Ais malah langsung ngumpet di balik kaki kakaknya, tapi ngintip.
Oliv langsung jongkok. Sejajar. Biar nggak keliatan tinggi.
"Nih," Oliv buka plastik warung, "Kakak beli ini kebanyakan. Bantuin abisin ya?"
Dia keluarin dua permen susu, sama dua bungkus biskuit kecil.
Mata Bima sama Ais langsung berbinar. Di kampung, biskuit kayak gitu tuh termasuk mewah. Biasanya cuma pas lebaran.
Buat mereka, itu harta karun.
"Buat... buat kita?" Bima pelan.
"Iya. Buat kalian aja. Kakak udah sarapan."
Baru aja Ais mau ambil, ada suara berat dari belakang.
"Bima. Ais."
Afan.
Dia baru keluar dari belakang rumah, bawa ember berisi pakan ayam. Kaosnya basah keringat, padahal masih jam 7 pagi. Pasti habis dari ladang.
Ngeliat Oliv jongkok depan adiknya, mukanya langsung berubah. Kaku lagi. Datar.
"Bima, masuk," katanya pendek.
Bima langsung ciut. Ais langsung meluk kaki Afan.
Oliv berdiri, agak gugup tapi gengsi.
Afan jalan mendekat. Jaraknya dijaga, nggak terlalu dekat.
"Maaf," kata Afan, nadanya dingin tapi sopan. "Nggak usah repot-repot."
Dia mau ngembaliin biskuitnya. Tangannya udah ngambil pelan dari tangan Bima.
Oliv yang dari kemarin nahan penasaran, akhirnya meledak juga.
Tapi bukan marah. Lebih ke gemes.
Oliv tahan tangan Afan. Sekilas aja.
"Kamu Afan kan? Makasih ya kemarin udah nolong saya!"
Afan diem, bingung ditahan gitu.
Oliv narik napas, terus ngomong cepet-cepet kayak takut keburu dipotong.
"Saya Olivia! Saya cuma mau ngasih buat adik kamu aja kok, nggak buat kamu! Jadi nggak usah balikin! Biarin mereka aja!"
Terus... biar nggak keliatan salting, Oliv langsung puter badan. Jalan cepet-cepet ninggalin halaman rumah Afan. Sandal jepitnya sampe hampir lepas.
"Gulanya Bibi jangan lupa!" teriaknya dari jauh, padahal gulanya ketinggalan di tangannya sendiri.
Di belakang, Bima sama Ais bengong. Afan masih berdiri dengan biskuit di tangannya.
Bima bisik ke Afan, "Kak, Kakak cantik itu galak ya?"
Afan nggak jawab. Dia ngeliatin punggung Oliv yang buru-buru lewat jembatan bambu, sambil ngomel-ngomel sendiri.
Baru pertama kali ada cewek kota yang nggak takut sama muka juteknya. Malah ngotot.
Dan di tangannya, biskuit Roma kelapa itu masih anget. Kayak sengaja dibeliin.
Afan jongkok lagi.
"Ya udah. Makan sana. Bagi dua sama Ais," katanya pelan. Suaranya yang tadi kaku, sekarang lembut lagi.
Ais langsung sobek bungkusnya, terus nyodorin patahan pertama ke mulut Afan.
"Kakak juga!"
Afan akhirnya senyum. Senyum pertama hari itu. Kecil, tipis, tapi ada.
Dan dari jauh di balik pohon pisang — iya, Oliv ngintip lagi — dia ngeliat senyum itu.
Kena deh.
Malam di kampung itu jam 8 udah kayak jam 12 malam di kota.
Sepi. Cuma suara jangkrik sama suara sungai.
Gardu ronda di tengah kampung biasanya rame sama bapak-bapak, tapi malam ini kosong. Bapak-bapak lagi ada kumpulan di balai desa. Lampunya yang kuning redup nyala sendirian.
Di gardu itu ada Oliv.
Dia duduk bersila di atas tikar pandan. Laptopnya nyala, cahayanya mantul ke mukanya. Rambutnya diiket ke atas berantakan, pake kacamata bulat yang biasanya cuma dipake pas ngerjain tugas. Kaos oversize sama celana training Bibi yang kebesaran.
Bener-bener mode mahasiswi dikejar deadline.
"Ya ampun, sinyalnya..." Oliv ngedumel sendiri, ngulang-ngulang slide PPT Kewarganegaraan.
Tiba-tiba dari bawah gardu ada suara kecil.
"Kak Oliv?"
Bima sama Ais. Masih melek. Pake sarung yang diseret-seret. Ais gendong boneka sobek.
"Belum tidur?" Oliv kaget.
"Belum ngantuk," kata Bima. "Di rumah gelap. Lampu minyaknya mati."
Ais langsung manjat ke gardu tanpa permisi, duduk mepet banget sama Oliv, nempel.
Oliv yang tadinya mau ngerjain tugas, langsung reflek tutup laptop setengah.
"Lho kok ditutup?" Bima protes.
"Enggak, Kakak lagi... eh, mau nonton film? Mau nggak?"
Dua anak itu langsung angguk kenceng.
Akhirnya tugas kuliahnya ke-skip. Oliv buka folder film — untung ada film kartun yang dia download sebelum ke kampung. Upin & Ipin.
Laptopnya yang 14 inch jadi bioskop paling mewah se-Lorong Bambu malam itu.
Ais ketawa ngakak ngeliat Ipin jatuh. Bima serius banget nonton sambil makan sisa biskuit pagi tadi. Oliv ketawa juga, kacamatanya melorot.
Dari jauh, ada yang ngeliatin.
Afan.
Dia baru selesai nyuci piring dan mijitin ibunya. Keluar rumah nyariin adiknya yang hilang, taunya nongol di gardu.
Dia jalan ke gardu. Langkahnya pelan.
Biasanya, kalau Afan dateng, semua mata langsung ke dia. Semua cewek langsung benerin jilbab.
Tapi malam ini beda.
Bima cuma bilang, "Kak, sini nonton!" tanpa nengok.
Ais malah makin nempel ke Oliv, "Kak Oliv, yang itu lucu lagi!"
Dan Oliv... Oliv sengaja nggak liat Afan.
Ini pertama kalinya dalam hidup Afan, dia yang dicuekin.
Oliv fokus ke laptop, pura-pura jadi kakak yang paling asik sedunia. Sesekali benerin iket rambutnya, benerin kacamatanya, ketawa bareng Ais.
Afan berdiri di tangga gardu. Canggung. Tangannya masih basah habis cuci piring. Kaosnya yang tadi pagi lusuh, sekarang udah ganti yang lebih bersih, tapi tetep aja sederhana.
"Udah malam. Pulang," kata Afan akhirnya, suaranya pelan. Itu mode kakaknya keluar.
Bima langsung manyun, "Dikit lagi, Kak..."
Oliv baru nengok. Sekilas. Datar. Persis kayak gaya Afan kemarin siang.
"Oh, Afan," katanya enteng, kayak baru sadar ada orang. "Adikmu pinjem bentar ya. Nanggung filmnya 10 menit lagi. Kalau mau, duduk aja."
Terus dia balik lagi ke layar. Nggak nawarin tempat duduk secara spesial. Nggak salting kayak kemarin.
Afan diem.
Dia naik pelan ke gardu. Duduk di ujung paling jauh. Nggak deket Oliv. Jaga jarak.
Tapi matanya... nggak bisa bohong. Dari ujung itu dia ngeliatin.
Ngeliatin gimana Ais ketiduran di pangkuan Oliv. Ngeliatin gimana Oliv yang tadinya jutek, sekarang sabar banget ngelus-ngelus rambut Ais biar nggak kebangun. Ngeliatin kacamata Oliv yang mantulin cahaya film.
Gadis kota yang kemarin dia pikir manja dan ribet, ternyata bisa bikin adiknya yang susah tidur jadi anteng cuma dalam 10 menit.
Filmnya selesai. Ais udah ngorok halus di pangkuan Oliv. Bima juga ngantuk-ngantuk ayam.
Oliv pelan-pelan tutup laptopnya. Baru deh dia nengok beneran ke Afan.
Sepi.
"Udah selesai," bisik Oliv.
Afan angguk. Dia bangun, gendong Ais dengan gampang. Satu tangan gendong Ais, satu tangan tuntun Bima yang setengah merem.
Sebelum turun, dia berhenti sebentar di depan Oliv.
"Makasih," katanya. Kali ini nggak dingin. Suaranya rendah, capek, tapi tulus. "Udah ditemenin."
Oliv senyum kecil, ngerapihin kacamatanya yang miring.
"Sama-sama. Besok nonton lagi ya?"
Afan nggak jawab iya atau enggak. Cuma angguk sekali. Tapi sebelum turun tangga, dia nengok lagi.
"Kacamata nya... cocok."
Terus dia turun cepet-cepet, kayak orang yang baru sadar abis ngomong apa.
Oliv bengong di gardu. Pegang gagang kacamatanya.
Jantungnya... deg lagi.
Dan lampu gardu yang kuning redup itu, malam ini berasa paling terang se-kampung.
Sejak malam di gardu itu, polanya kebalik.
Dulu Afan yang diuber-uber. Sekarang Afan yang sering nggak sengaja papasan.
Pagi-pagi pas Oliv bawa ember ke sungai — yang udah mulai jago nyuci baju nggak pake hanyut — Afan lewat bawa cangkul. Dulu cuma angguk. Sekarang berhenti.
"Airnya lagi dingin, jangan lama-lama," katanya.
Siang pas Oliv pulang dari warung, Afan lagi benerin pagar bambunya yang miring. Padahal pagar itu udah miring 3 bulan nggak dibenerin. Kebetulan banget dibenerin pas jam Oliv lewat.
Sore pas Oliv duduk di teras ngerjain tugas, Bima sama Ais lari-lari ke rumah Bibi.
"Kak Oliv ada?"
Bibi Lastri cuma geleng-geleng sambil ngulek sambel dari dapur.
"Nduk, kamu buka penitipan anak ya sekarang?"
Oliv ketawa, "Biarin, Bi. Rame."
Beda. Itu kata yang paling pas.
Cewek-cewek yang dulu ngejar Afan itu cantik-cantik, dandan, kalau ke rumah Afan bawa martabak, bawa kue, ngomongnya lembut dibuat-buat. Tapi kalau disuruh gendong Ais yang lagi ingusan? Mundur. Kalau disuruh duduk nemenin Bu Siti yang ngomongnya udah nggak jelas karena stroke? Canggung.
Oliv nggak gitu.
Suatu siang Afan harus ke kecamatan ngurus bantuan pupuk. Sehari full nggak di rumah. Biasanya dia titipin ibunya ke tetangga. Tapi hari itu tetangganya lagi ke sawah semua.
Oliv yang liat pintu rumah Afan kebuka, ibunya sendirian di kursi roda depan pintu, langsung masuk tanpa mikir panjang.
"Bu Siti, sendirian aja?"
Bu Siti nggak bisa jawab jelas, cuma "Aa... aa..." tangannya gemeter.
Oliv nggak panik. Dia duduk di bawah, sejajar. Dia ambilin air minum, terus ngelapin sudut bibir Bu Siti yang berliur. Pelan. Nggak jijik.
Terus dia cerita aja. Ngalor ngidul. Tentang tugas kuliahnya, tentang kucing di Malang, tentang kenapa dia nggak bisa bikin tempe goreng seenak Bibi Lastri.
Bu Siti dengerin, kadang ketawa dengan suara serak.
Pas Afan pulang sore, dengan karung pupuk di punggung, dia berhenti di depan rumahnya sendiri.
Kaget.
Oliv lagi di dalam, lagi nyuapin ibunya bubur. Sambil disuapin, sambil diusap punggungnya.
"Pelan-pelan ya Bu..."
Afan berdiri di pintu. Nggak bersuara.
Untuk pertama kalinya seumur hidup, ada orang lain selain dia yang nyuapin ibunya. Dan ibunya... mau. Malah kelihatan tenang.
Oliv baru sadar Afan udah pulang pas sendoknya habis.
"Eh! Udah pulang?" Oliv kaget. "Aku tadi liat Ibu sendirian, jadi... maaf ya aku masuk aja. Nggak papa kan?"
Afan naruh karungnya. Napasnya masih ngos-ngosan.
"Nggak papa," katanya pelan.
Dia masuk, jongkok di sebelah Oliv. Tangannya gantiin mangkok bubur itu. Jarak mereka deket banget. Oliv bisa nyium bau matahari dan keringat dan tanah dari kaos Afan. Bau kerja.
"Nih Bu, dilanjutin Afan ya," kata Oliv lembut ke Bu Siti, terus berdiri mau pamit.
Baru dua langkah, Bu Siti narik ujung kaos Oliv. Pelan.
"Ba... baik... nduk..." kata Bu Siti susah payah. "Baik..."
Oliv matanya langsung berkaca-kaca. Dia jongkok lagi, salim tangan Bu Siti yang keriput.
"Ibu istirahat ya."
Afan ngeliat semua itu. Dari samping.
Cewek kota yang dia kira bakal ngeluh karena nggak ada AC, nggak ada sinyal, nggak ada cafe.
Ternyata kerudungnya aja nggak pernah ribet. Bajunya itu-itu aja, kaos sama celana training Bibi. Nggak pernah minta diantar motor. Jalan kaki terus. Kalau dikasih gorengan sama ibu-ibu sungai, dimakan beneran, nggak cuma dipegang buat foto.
Terlalu baik. Terlalu sederhana. Nggak neko-neko.
Malamnya, pas Oliv udah pulang, Bima nanya ke kakaknya.
"Kak, Kak Oliv baik ya?"
Afan yang lagi nyuci mangkok bekas bubur ibunya, diem lama.
"Iya," jawabnya akhirnya, pelan banget. "Baik banget."
Dan untuk pertama kalinya, Afan ngerasa takut.
Takut kalau kebaikan kayak gitu cuma sementara. Karena 6 bulan lagi, Oliv pasti balik ke kotanya. Balik ke dunia yang terang, yang rame, yang nggak ada bau kayu bakar dan ember pakan ayam.
Sementara dia... akan tetep di sini. Di Lorong Bambu ujung.
Sejak hari itu Afan sengaja jaga jarak.
Bukan karena benci. Justru karena... terlalu suka.
Pagi-pagi dia berangkat ke ladang lebih awal, biar nggak papasan. Kalau liat Bima lari ke rumah Bibi Lastri, dia panggil pulang dengan alasan disuruh belajar. Gardu ronda yang biasanya dia lewatin kalau pulang ngarit, sekarang dia muter lewat jalan belakang.
Oliv ngerasa? Awalnya enggak.
Karena buat Oliv, semuanya murni. Nggak ada niat deketin Afan. Dia bener-bener tulus sayang sama Bima, sama Ais, sama Bu Siti.
Dan yang Afan nggak tau —
Setiap siang, pas Afan di ladang, Oliv datang ke rumah papan itu. Bukan bawa biskuit lagi. Bawa buku catatan kecil.
Oliv itu kuliah semester 3 Fisioterapi. Jurusan terapi.
"Ayo Bu, kita gerakin pelan-pelan ya jarinya," bisik Oliv suatu siang, sambil duduk di lantai depan Bu Siti. "Satu... dua... pinter..."
Dia ngajarin Bu Siti gerakin jari-jari yang kaku, ngurut pelan betisnya yang udah lama nggak dipake jalan, ngajarin cara duduk tegak biar nggak pegel. Semua pelan, semua sabar. Nggak maksa.
"Kalau Ibu rajin, nanti bisa pegang sendok sendiri lagi lho," kata Oliv sambil senyum.
Bu Siti nangis. Bukan karena sakit. Karena udah 2 tahun nggak ada yang ngomongin kesembuhan, cuma ngomongin kasihan.
Bima sama Ais duduk di sebelah nontonin, kadang ikutan ngitung, "Satu... dua... tiga!"
Sampai suatu sore, Oliv sadar.
Udah tiga hari Afan nggak keliatan. Biasanya minimal kedengeran suara kayu dibelah. Ini sepi.
Sore itu Oliv lagi duduk santai di batu besar di sungai. Tempat favoritnya. Kakinya dicelupin ke air yang dingin banget, rambutnya dikuncir berantakan, bawa buku catatannya.
Afan lewat. Bawa dua ikat kayu bakar di punggung. Pasti mau jual ke warung.
Oliv manggil.
"Fan!"
Afan berhenti. Nggak nengok dulu.
Oliv turun dari batu, jalan mendekat. Nggak manja, nggak ngambek. Biasa aja.
"Kenapa kayak jaga jarak?" tanya Oliv, to the point. Matanya natap lurus. "Aku ada salah ya?"
Afan akhirnya nengok. Mukanya balik lagi jadi batu sungai itu. Dingin, kaku.
"Nggak ada," katanya pelan banget, hampir kalah sama suara sungai.
"Terus kenapa menghindar? Bima sama Ais aja aku suruh pulang terus."
Afan nunduk. Kayu di punggungnya berat. Tapi yang berat bukan kayunya.
"Oliv..." suaranya serak. "Kamu... kamu terlalu baik sama keluarga saya."
Oliv ngernyit, "Terus? Salah?"
"Bukan salah." Afan ngatur napas. "Cuma... kamu kan cuma di sini 6 bulan. Abis itu kamu balik ke Malang. Kuliah lagi. Ke kota lagi."
Dia ngeliat Oliv sekilas, terus buang muka lagi ke sungai.
"Kalau kamu terlalu baik, nanti adik-adik saya kebiasaan. Nanti kalau kamu pulang, mereka sedih lagi. Ibu saya juga."
Jujur. Itu pertama kalinya Afan ngomong panjang kayak gitu ke cewek.
Oliv diem. Ngerti. Jadi ini alasannya.
Bukan karena Afan benci. Tapi karena Afan takut. Takut kehilangan lagi, setelah bapaknya pergi.
Oliv malah ketawa kecil. Bukan ketawa ngejek. Ketawa lega.
"Ya ampun, kirain kenapa," kata Oliv sambil duduk lagi di batu, nepuk-nepuk batu di sebelahnya nyuruh Afan duduk. "Sini, taruh dulu kayunya. Berat tau."
Afan ragu, tapi nurut. Kayunya ditaruh di pinggir sungai. Dia duduk, jaga jarak satu meter.
Oliv ngelurusin kakinya di air.
"Fan, aku bantuin Bu Siti bukan karena aku mau disukai kamu lho ya," kata Oliv santai, sambil mainin air pake kakinya. "Aku bantu karena aku bisa. Kebetulan jurusanku terapi. Kebetulan Ibu butuh. Udah, gitu aja."
Dia nengok ke Afan, senyumnya polos, nggak ada modus.
"Lagipula, siapa bilang kebaikan itu harus dibales dengan tetap di sini terus? Kalau nanti aku balik ke Malang, Bima sama Ais kan masih bisa video call sama aku. Bu Siti juga udah tau gerakan tangannya, bisa dilanjutin sendiri."
Kata-kata sesederhana itu.
Nggak neko-neko. Nggak drama.
Afan yang selama ini mikirnya muter-muter, takut ini takut itu, tiba-tiba berasa... enteng.
Dia ngeliatin Oliv yang lagi mainin air, kacamatanya agak melorot, kuncirnya miring.
Tanpa sadar...
Afan senyum.
Senyum kecil. Tipis banget. Cuma naik di ujung bibir kiri. Nggak pernah ada orang sekampung yang pernah liat senyum itu. Bahkan Bima sama Ais jarang liat kakaknya senyum kayak gitu.
Senyum yang bukan karena sopan. Tapi karena lega. Karena untuk pertama kalinya ada orang yang nggak nuntut dia buat bales kebaikan dengan sesuatu yang dia nggak punya.
Oliv yang liat senyum itu langsung bengong.
"Lho? Kamu bisa senyum toh?"
Afan langsung balik kaku lagi, pura-pura batuk, muka merah.
"Berisik," katanya pelan, tapi senyumnya masih nyisa dikit.
Sungai sore itu dingin, tapi batu besar yang mereka dudukin anget kena matahari.
Sore itu angin sungai udah mulai dingin. Azan ashar dari masjid kampung udah lewat setengah jam lalu, langit mulai agak jingga.
Oliv masih duduk di batu, kakinya masih di air. Ngomongnya enteng, kayak lagi ngomongin mau makan apa malam ini.
"Oya Fan, kalau kamu mau lanjut kuliah saya bisa bantu!" ujar Oliv tiba-tiba.
Afan yang lagi ngeliatin air langsung nengok. Kaget.
"Maksudnya?"
Oliv narik kakinya dari air, ngeringin pake ujung celananya yang basah.
"Ya kuliah. Katanya Bibi kamu pinter banget dulu. Sayang kalau berhenti. Bapakku di Malang punya kenalan banyak di kampus. Kalau kamu mau, nanti bisa daftar lagi. Biaya bisa sambil kerja."
Afan bingung. Matanya langsung ngeliat ke arah rumahnya di ujung lorong. Mikirin ibunya yang di kursi roda, mikirin Bima yang masih kelas 2 SD, Ais yang masih ngompol kalau malam.
Diem lagi. Kaku lagi.
Oliv ngeliat raut itu langsung tau.
"Fan!" Oliv agak keras manggilnya biar balik fokus.
"Kalau boleh... saya mau bantu Ibu kamu sembuh. Beneran. Ini tugas praktekku juga, jadi nggak ngerepotin. Kalau udah agak sembuh, udah bisa aktifitas dikit-dikit..."
Oliv ngambil napas.
"Kalau mau, kamu kerja di rumah Bapakku aja! Di Malang! Sekalian Ibu kamu juga, adik kamu juga!"
Afan makin bingung, "Kerja apa?"
"Di sana jaga kosan! Bapakku punya kos putri 2 lantai, yang jaga udah tua mau pensiun. Kosnya rame, bersih, kamu tinggal di bawah sama Ibu sama adik-adik. Bima bisa sekolah di sana, deket. Saya sibuk kuliah, jadi nggak bisa jagain kosan!"
Ngomongnya berderet, cepet, tapi matanya serius. Nggak ada basa-basi kasihan. Lebih kayak nawarin partner kerja.
Afan nunduk. Tangannya ngeremas-remas ujung kaosnya.
Di kepalanya rame.
Kuliah lagi? Jaga kosan di kota? Ibu bisa ikut? Adik-adik sekolah di kota?
Itu mimpi yang udah dia kubur 3 tahun lalu pas bapaknya nggak pulang.
Tapi harga dirinya juga ada. Dia nggak mau kelihatan numpang, nggak mau dikasihani.
Oliv yang udah 18 tahun tapi ngomongnya kayak bos kecil itu, bikin dia bingung harus jawab apa.
Akhirnya Afan ngomong pelan banget.
"Pikir-pikir dulu ya, Liv. Kamu masih 4 bulan di sini. Jangan ngomongin ke situ dulu."
Nada suaranya bukan nolak. Lebih kayak... takut berharap ketinggian.
Oliv ngerti. Dia nggak maksa. Dia berdiri, nepuk-nepuk celananya yang basah.
"Oke! Yaudah, santai aja. Nggak usah dipikirin sekarang. Anggep aja aku ngawur."
Terus dia liat langit. Udah mulai gelap.
"Oke! Yaudah gua cabut dulu udah mau maghrib!"
Oliv loncat dari batu besar, hampir kepeleset lagi — hampir aja tragedi jembatan terulang — terus lari kecil ke arah rumah Bibi. Tas buku catatannya digendong asal.
"Kayunya jangan lupa!" teriaknya dari jauh.
Afan masih duduk di batu itu. Kayu bakarnya masih di pinggir sungai.
Dari masjid, azan maghrib mulai kedengeran. Panjang, merdu, menggema di antara gunung.
Di rumahnya, lampu minyak udah nyala. Pasti Bima nyalain.
Afan ngeliatin punggung Oliv yang lari-lari kecil menerobos kabut tipis yang mulai turun.
Baru kali ini ada orang yang nawarin masa depan, bukan cuma nawarin kasihan.
Dan untuk pertama kalinya, Afan nggak langsung bilang "nggak usah".
Dia bilang, "pikir-pikir dulu".
Itu aja udah kemajuan besar buat batu sungai kayak dia.
Oliv udah hafal ngadepin orang kayak Afan.
Orang yang kalau disayang, malah mundur. Kalau dikasihani, malah mengeras. Harus diomongin to the point, nggak bisa muter-muter.
Sore itu di batu sungai yang sama, Oliv nggak mainin air lagi. Dia duduk tegak.
Afan duduk di sebelahnya. Masih agak nunduk. Besek singkong yang kemarin dia taruh di pagar Bibi Lastri udah kosong — tandanya Bibi udah ambil.
Oliv ngeluarin kertas kecil dari saku celananya. Kertas sobekan buku catatannya yang udah lecek. Ada nomor HP tulis tangan.
"Fan, ini nomer saya," kata Oliv, nyodorin kertas itu. Nggak romantis, nggak pake lipetan hati. Biasa aja. "Nomer WA juga sama."
Afan ngambil pelan. Tangannya yang kasar karena cangkul megang kertas kecil itu hati-hati banget, takut sobek.
"Fan, saya besok pagi mesti pulang, nggak jadi bulan depan," lanjut Oliv. Suaranya cepet, tapi jelas. "Tadi siang Bapak nelpon. Dinasnya udah selesai lebih cepat. Tiketnya udah dibeliin buat besok jam 6 pagi."
Afan kaget, langsung nengok. "Besok?"
"Iya. Besok."
Hening sebentar. Cuma suara sungai.
Oliv narik napas panjang.
"Fan, tolong pikir-pikir tawaran ini ya! Saya mau kamu maju. Kamu sukses. Adik kamu, Ibu, punya kehidupan yang layak!"
Dia ngeliat Afan lurus-lurus. Kali ini nggak ada senyum polos. Serius.
"Khmm... soal kuliah kalau mau biar Bapakku yang atur! Bapakku kenal dekan di UB. Kamu pinter, Fan. Sayang banget kalau cuma ngurusin ladang setengah petak terus. Kamu bisa lebih."
Afan ngeremas kertas itu. Kertasnya sampai agak basah karena keringat tangannya.
"Liv... saya..." Suaranya pelan banget. Berat. "Saya nggak punya apa-apa buat bales..."
"Siapa yang minta bales?" potong Oliv cepet. Udah hafal. "Afan, dengerin ya. Saya bantu Ibu kamu bukan karena saya mau kamu jadi pacar saya atau apa. Saya bantu karena saya bisa. Saya nawarin kerjaan jaga kosan bukan karena kasihan. Tapi karena Bapak saya emang butuh orang jujur. Kamu jujur. Titik."
Kata-kata itu... nancep.
Afan diem lama. Matanya merah lagi. Sejak kemarin.
Akhirnya dia angguk. Pelan. Tapi pasti.
"Saya pikirin. Beneran saya pikirin, Liv."
Oliv senyum. Akhirnya. Lega.
"Oke. Janji ya? Jangan cuma dianggep angin lalu."
Afan masukin kertas itu ke saku celananya yang paling dalam. Dijaga bener-bener.
"Janji."
Azan maghrib dari jauh udah mulai kedengeran lagi. Besok pagi Oliv harus pergi jam 5 subuh.
Oliv berdiri, nepuk-nepuk celananya.
"Yaudah, aku balik dulu. Mau packing. Titip Bima sama Ais ya. Bilangin kakaknya bawel ini pulang dulu."
Afan ikut berdiri.
Sebelum Oliv jalan, Afan manggil pelan.
"Oliv."
Oliv nengok.
"Makasih... udah nggak pernah nganggap keluarga saya beban."
Oliv ketawa kecil, matanya juga udah berkaca-kaca tapi ditahan.
"Ngawur. Keluarga kamu tuh kuat banget tau. Aku yang belajar banyak di sini."
Terus dia lari kecil ninggalin sungai, ninggalin Afan yang masih berdiri di batu besar itu, megangin kertas nomor HP di sakunya.
---
Besok paginya jam 5.
Mobil travel udah nunggu di depan rumah Bibi Lastri. Kabut masih tebal banget.
Oliv meluk Bibi Lastri lama.
Di ujung jalan, agak jauh, ada 4 orang berdiri.
Bu Siti duduk di kursi roda barunya — yang rodanya udah nggak bunyi decit lagi karena kemarin Oliv minyakin — didorong Afan. Bima sama Ais pegangan tangan, masih ngantuk, tapi melek.
Mereka nggak mendekat. Cuma ngeliatin dari jauh. Nggak mau bikin Oliv makin sedih.
Oliv ngeliat mereka, dadanya sesak. Dia lambaikan tangan kenceng-kenceng.
"Daaah! Bima! Ais! Bu Siti!"
Ais lambaikan tangan balik sambil teriak, "Kak Oliv jangan lupa pulang lagi!"
Afan... dia cuma angguk dari jauh. Tapi tangannya, dia angkat kertas kecil yang kemarin dikasih Oliv. Ditunjukin ke Oliv. Artinya: aku simpen.
Mobil jalan. Kabut ketutup lagi.
Di dalam mobil, HP Oliv getar.
Pesan masuk, dari nomor tak dikenal.
Liv, hati-hati di jalan. Ini Afan.
Oliv senyum sambil nangis. Ngetik balik cepet.
Ditunggu di Malang ya, penjaga kos baru :)
Di Lorong Bambu ujung, Afan masih berdiri sampai mobilnya hilang di tikungan gunung. Di sakunya, nomor itu masih anget.
Untuk pertama kalinya dalam 3 tahun, dia ngeliat jalan ke depan. Bukan cuma ngeliat hari ini harus makan apa.
Sebulan setelah Oliv pulang.
Rumah papan di Lorong Bambu ujung udah agak beda. Lebih rapi. Kursi roda Bu Siti udah nggak di depan pintu terus, sekarang sering di dalam, dekat jendela biar bisa lihat ladang.
HP Afan — HP kentang yang layarnya retak di ujung — jarang ada kuota. Paling cuma buat dengerin murottal kalau malam. Tapi sejak dikasih nomor Oliv, dia nyisihin uang kayu bakar buat beli kuota 2GB.
Malam itu, pas lagi ngecas HP di colokan satu-satunya, notifikasi IG muncul.
Olivia Shalena bikin story.
Afan pencet.
Isinya video agak goyang, diambil temennya. Di rumah sakit. Oliv pake jas praktikum putih, rambutnya diiket rapi, pake kacamata, lagi bimbing seorang ibu-ibu buat ngangkat tangan pelan-pelan. Kayak yang dia lakuin ke Bu Siti dulu. Di captionnya: praktikum fisioterapi RSUD Malang hari ke-3. capek tapi seru.
Nggak ada filter cantik. Nggak ada joget-joget. Cuma Oliv yang serius, tapi senyum pas ibu itu berhasil gerakin tangannya.
Afan nonton video itu 4 kali. Diulang-ulang.
Bukan karena kangen — ya kangen sih — tapi karena dia jadi inget omongan Oliv di batu sungai.
"Saya mau kamu maju."
Malam itu juga, setelah Bima sama Ais tidur, Afan duduk di depan Bu Siti. Lampunya cuma lampu minyak.
"Bu," suaranya pelan tapi serius. Nggak kayak biasanya yang cuma laporan ladang.
"Oliv nawarin kita pindah ke Malang. Jaga kosan bapaknya. Bima sama Ais bisa sekolah di sana. Ibu bisa berobat yang bener di rumah sakit besar. Saya... saya bisa kuliah lagi."
Bu Siti yang udah bisa ngomong agak jelas, natap anaknya lama.
Bu Siti tau anaknya gengsi. Bu Siti tau anaknya takut jadi beban orang.
Tapi Bu Siti juga udah ngerasain tangannya bisa pegang sendok lagi karena anak kota itu.
Bu Siti pegang tangan Afan yang kapalan.
"Berangkat... Nak," bisik Bu Siti, suaranya masih serak tapi tegas. "Ibu... mau sembuh... di sana..."
Itu pertama kalinya Bu Siti minta sesuatu buat dirinya sendiri setelah 2 tahun.
Afan nangis. Nggak ditahan lagi kayak di sungai dulu. Nangis beneran di pangkuan ibunya.
2 hari kemudian.
Jam 10 pagi, ada mobil Avanza hitam masuk Lorong Bambu. Jalan yang biasanya cuma dilewatin motor sama gerobak kayu, sekarang ada mobil kota.
Supirnya keluar, sama seorang bapak-bapak umur 50-an, pake kemeja batik rapi, berkacamata. Wajahnya mirip Oliv banget. Tegas tapi ramah.
Bapaknya Oliv.
Satu kampung keluar rumah ngintip. Termasuk Bibi Lastri yang langsung lari-lari dari dapur.
"Assalamualaikum, cari rumahnya Afan?" tanya Bapak.
Afan yang lagi nyuci baju adiknya di sungai, dipanggil Bima dengan napas ngos-ngosan.
"Kak! Kak! Ada mobil! Katanya bapaknya Kak Oliv!"
Afan lari ke rumah, masih basah. Nemu Bapaknya Oliv udah duduk di bale bambu depan rumahnya, ngobrol sama Bu Siti. Nggak jijik duduk di bale yang miring itu.
"Perkenalkan, saya Pak Haris, bapaknya Oliv," kata Bapak sambil salim sama Bu Siti.
Ini yang Afan nggak tau selama 5 bulan.
Oliv cuma punya Bapak.
Yang selama ini disebut "Ibu" di telepon — "saya udah ngomong sama Bapak Ibu saya" — itu bukan ibunya. Ibunya Oliv udah nggak ada sejak Oliv SMP. Yang disebut "Ibu" itu Bu Ratna, rekan kerja Bapaknya di kampus yang emang sering bantu urus kosan. Sebatas rekan kerja, nggak lebih. Bapaknya Oliv nggak pernah nikah lagi.
Jadi kosan putri itu beneran cuma diurus Bapaknya sendirian. Makanya butuh orang jujur yang bisa dipercaya tinggal di sana.
"Oliv nggak ikut?" tanya Afan pelan, masih berdiri di pintu, grogi.
Pak Haris ketawa, "Nggak. Dia ada kelas anatomi. Dari kemarin udah heboh nungguin di kosan. Katanya 'Pak, jangan lupa bawain Bima sama Ais ya, jangan ketinggalan'. Padahal saya mau ngobrol serius sama kamu dulu."
Pak Haris ngeliat sekeliling rumah papan itu. Nggak ada tatapan kasihan. Tatapannya kayak lihat orang berjuang.
"Oliv cerita banyak soal kamu, Fan. Soal Ibu, soal adik-adik. Bapak salut. Umur 21 bisa jaga keluarga kayak gini."
Afan nunduk.
"Jadi gini," lanjut Pak Haris, "Bapak nggak mau kamu anggap ini belas kasihan. Ini kerja. Jaga kosan 20 kamar, bersihin, catat uang masuk. Gajinya ada. Kamar di bawah buat kamu sama Ibu sama adik-adik. Listrik air Bapak tanggung. Bima sama Ais Bapak daftarin sekolah. Kamu, kalau mau kuliah lagi, Bapak bantu daftar. Sore kan kosan sepi, bisa kuliah."
Bu Siti nangis lagi. Bima sama Ais meluk kaki Afan kenceng.
Afan yang udah nahan 3 tahun nggak nangis di depan orang, sekarang matanya merah lagi di depan Bapaknya Oliv.
"Terima kasih, Pak..." suaranya hampir nggak keluar.
Pak Haris berdiri, nepuk pundak Afan yang kekar karena ngarit.
"Jangan makasih ke saya. Makasih ke anak saya. Dia yang maksa Bapak kesini. Tiap hari ngomel 'Pak, kapan ke kampung Afan?'."
Di Malang, di lantai 2 kosan putri yang catnya pink,
Oliv lagi duduk di tangga, pake kacamata, rambut diiket ke atas lagi, laptopnya kebuka tapi nggak dikerjain. Matanya ngeliatin ke gerbang terus.
Nungguin suara Avanza hitam itu masuk.
Besok paginya jam 7, Malang cerah banget. Nggak kayak kabut di kampung Bibi.
Oliv turun dari lantai 2 kosan. Udah rapi. Rambutnya diiket ke atas lagi, kacamatanya dipake, pake kaos polos sama celana kulot. Di punggungnya ada tas ransel yang berat isinya buku anatomi.
Di bawah, keluarga Lorong Bambu udah bangun semua. Bu Siti duduk di teras kamar bawah, udah bisa ngupas bawang pelan-pelan buat bantu-bantu. Bima lagi nyapu halaman kosan dengan sapu yang kegedean buat badannya. Ais duduk manis sambil makan sisa biskuit kemarin.
Afan? Afan lagi ngepel lantai koridor kosan. Kaosnya udah ganti — kaos polos hitam yang tadi malam ditaruh Oliv di atas lemari. Ternyata pas di badan Afan.
Oliv berhenti di tangga paling bawah.
"Fan, Bu, betah-betah ya di sini," kata Oliv sambil senyum. Suaranya masih agak ngantuk.
Bu Siti angguk-angguk seneng, "Betah, Nduk. Enak... bersih..."
Oliv nengok ke Afan yang masih ngepel.
"Oh ya Fan, nanti jam 1 kita ke kampus ya. Aku udah janjian sama bagian pendaftaran. Bawa ijazah SMA kamu sama KK. Biar aku temenin."
Afan berhenti ngepel. Kaget. "Jam 1 siang ini?"
"Iya. Kan kamu bilangnya mau dipikirin? Ini udah aku pikirin buat kamu," jawab Oliv enteng, sambil benerin tali ranselnya. "Nggak usah grogi, cuma tanya-tanya dulu."
Terus Oliv nunjuk ke atas, ke arah tumpukan kresek di depan kamar Afan.
"Oya, di atas itu ada baju buat ganti, buat Ibu sama adik juga. Aku sama Bu Ratna kemarin nyortirin baju-baju layak pakai. Ada gamis buat Ibu, ada seragam SD buat Bima yang masih bagus, ada baju-baju Ais juga. Cobain ya, Bu."
Bu Siti langsung berkaca-kaca lagi. Dari kemarin dikasih terus.
Oliv liat jam di HP-nya. "Yaudah aku pulang dulu ke rumah utama ya. Ini kosan bukan rumah aslinya aku. Rumahku agak masuk gang lagi 10 menit dari sini."
Oliv jalan ke gerbang. Di gerbang ada dua kendaraan: motor matic putih yang kinclong, sama sepeda listrik warna cream yang agak kecil.
Semua orang ngira Oliv bakal pake motor matic.
Tapi Oliv malah naik sepeda listriknya. Pake helm sepeda yang lucu.
Ngiiing...
Sepeda listriknya nyala pelan.
Afan yang ngeliatin dari koridor, nggak tahan nanya, "Liv, kenapa nggak pake motor aja? Lebih cepet."
Oliv berhenti, nengok sambil ketawa, kacamatanya melorot dikit.
"Boros bensin, Fan! Lagian sepeda ini enak, pelan, bisa liat-liat jalan. Motor matic itu punya Bapak, aku minjem doang kalau hujan."
Terus dia gas pelan.
"Fan! Jam 1 jangan lupa! Mandi dulu! Pake kemeja yang di kresek atas ya! Biar ganteng!"
Teriaknya dari ujung gang, sambil tangannya dadah-dadah ke Bima sama Ais yang lari-lari ngejar sampe gerbang.
Afan berdiri masih megang pelan, ngeliatin punggung Oliv yang makin jauh pake sepeda listrik cream itu.
Di sebelahnya, Bu Siti yang udah pake gamis pemberian Oliv — yang ternyata pas banget — bisik pelan,
"Baik ya, Nduk Oliv itu, Fan..."
Afan cuma angguk. Senyum kecilnya itu muncul lagi. Kali ini agak lama hilangnya.
"Baik banget, Bu."
Jam 1 nanti dia bakal ke kampus lagi. Setelah 3 tahun ngira hidupnya cuma bakal di ladang setengah petak sama kayu bakar.
Dan semua itu gara-gara cewek yang hampir kepeleset di jembatan bambu, yang sekarang pulang pake sepeda listrik padahal punya motor matic.
Hidup kadang emang sesederhana itu.
Setahun.
Setahun itu cepet banget kalau di Malang.
Ibu Afan udah pulih. Beneran pulih. Sekarang bukan cuma bisa pegang sendok, tapi udah bisa jalan pelan-pelan pake tongkat di dalam kosan, udah bisa masak sayur bening sendiri, udah bisa ngomelin Bima kalau nggak ngerjain PR. Bu Siti yang dulu cuma bisa bilang "Aa...", sekarang udah jadi tukang cerita di kosan putri. Anak-anak kosan manggilnya "Mbah Siti".
Bima udah kelas 3 SD, ranking 2. Ais udah nggak ngompol lagi, udah bisa baca tulis.
Afan? Afan udah beda banget.
Kuliahnya jalan. Jurusan Pertanian UB, kelas sore. Pagi jaga kosan, sore kuliah, malam ngerjain tugas di meja kayu yang dulu dipake Oliv nonton Upin Ipin. IPK semester pertamanya 3,6. Anak-anak kosan putri yang dulu manggil dia "Mas penjaga kos", sekarang manggil "Kak Afan" sambil minta diajarin bikin laporan praktikum.
Semua karena satu kertas nomor HP lecek itu.
Sampai suatu Jumat, Afan baru tau.
Jumat jam 11 siang, kosan sepi karena anak-anak jumatan. Afan nyari Oliv di lantai 2, mau nanya soal tagihan listrik.
Kamar Oliv kosong. Tas ranselnya nggak ada. Sepeda listriknya juga nggak ada.
Bu Ratna yang lagi di bawah bilang enteng, "Oh, Oliv? Tiap Jumat emang gitu, Fan. Jumat Berkah. Dia bagi-bagi nasi kotak di depan masjid besar sama bapaknya. Dari dulu. Sejak ibunya nggak ada."
Afan bengong.
Terus Minggu kedua bulan itu, Afan liat lagi. Oliv pamit pagi-pagi bawa 2 dus buku tulis sama susu kotak.
"Mau kemana, Liv?" tanya Afan.
"Kepanti. Minggu kedua kan? Aku tiap minggu kedua ke panti asuhan deket Suhat. Biasa, main sama adek-adek di sana."
Ngomongnya enteng. Kayak ngomong mau ke Indomaret.
Afan baru ngerti.
Selama setahun ini, selama dia mikir Oliv baik ke ibunya, baik ke adiknya itu spesial... ternyata Oliv emang gitu ke semua orang.
Bukan pencitraan. Emang dari sananya gitu.
Sore itu, setelah dari panti, Oliv pulang capek. Duduk di tangga kosan, rambutnya berantakan lagi, kacamatanya agak miring. Afan】 udah nungguin di bawah dengan dua gelas es teh.
Oliv duduk, langsung minum.
Afan natap dia lama. Akhirnya ngomong.
"Jadi? Kamu?"
Oliv yang lagi minum hampir keselek. "Jadi kenapa?"
"Jadi kamu... tiap Jumat bagi nasi? Tiap minggu kedua ke panti? Dari dulu?"
Oliv diem sebentar, terus ketawa kecil. Nggak bangga, nggak pamer.
"Ngga usah kaget ya," kata Oliv sambil ngelap keringetnya. "Makanya saya bilang dari awal, saya deketin Ibu kamu, adik kamu bukan karena saya suka sama kamu!"
Dia ngomongnya jujur, polos, to the point kayak di batu sungai dulu.
"Aku emang gitu, Fan. Bapakku ngajarin gitu. Ibu aku dulu juga gitu. Jadi kalau aku baik ke Bima, ke Ais, ke Bu Siti, ya karena mereka butuh. Bukan karena aku mau kamu suka sama aku atau apa."
Hening.
Biasanya Afan kalau digituin bakal kaku lagi, bakal mundur lagi.
Tapi kali ini enggak.
Kali ini Afan malah... nyengir.
Pertama kalinya dalam hidupnya, Afan nyengir lebar banget. Giginya keliatan semua. Matanya sampai menyipit. Bukan senyum tipis di ujung bibir kayak di batu sungai dulu. Ini nyengir beneran. Lepas.
"Ya justru itu," kata Afan, suaranya agak keras karena nahan ketawa. "Justru karena kamu nggak ada niat disukain, makanya..."
Dia berhenti. Gak dilanjutin. Mukanya merah.
Oliv ngernyit, "Makanya kenapa?"
Afan garuk-garuk kepalanya yang udah nggak gondrong lagi, udah dipotong rapi kayak anak kuliahan.
"Makanya susah nggak disukain, Liv."
Oliv bengong. Gelas es tehnya berhenti di tengah jalan ke mulut.
Afan yang biasanya batu sungai, yang biasanya cuma bisa ngomong "pirik-pikir dulu ya", sekarang ngomong gitu sambil nyengir lebar kayak orang abis menang lotre.
Oliv yang pinter ngadepin orang kayak Afan aja, kali ini kalah.
Mukanya merah sampe ke kuping. Kacamatanya makin melorot.
"Fan! Ngawur!"
Afan ketawa. Ketawa beneran. Suaranya keras, menggema di kosan pink itu.
Di dalam, Bu Siti yang lagi masak, Bima sama Ais yang lagi berantem rebutan penghapus, ngintip dari jendela.
Ngeliat kakaknya ketawa selebar itu untuk pertama kalinya.
Dan Oliv yang pura-pura sebel, tapi senyumnya juga nggak bisa ditahan.
Setahun lalu dia dateng ke kampung cuma buat numpang 6 bulan.
Sore itu di teras kosan, abis es teh tadi.
Afan masih nyengir-nyengir sendiri, Oliv masih pura-pura sebel tapi pipinya masih merah.
Terus Oliv iseng nanya, sambil mainin sedotan es tehnya.
"Terus gimana Fan? Ke depannya? Maksudnya lu mau bikin rumah atau benerin rumah yang di kampung?"
Rumah papan di Lorong Bambu ujung itu masih ada. Nggak dijual. Cuma dikunci, kadang dititipin ke Bibi Lastri.
Afan yang tadinya nyengir lebar, langsung diem. Mikir.
Beneran mikir. Alisnya ketemu lagi. Mode batu sungai-nya balik.
Dia natap jauh ke jalan.
Kalau dulu, jawabannya pasti "nggak tau". Tapi sekarang beda. Sekarang dia kuliah Pertanian. Dia udah punya tabungan dari gaji jaga kosan. Ibunya udah sehat. Adiknya sekolah bagus.
"Rumah di kampung..." kata Afan pelan, lama. "Mau dibenerin dulu atapnya. Biar nggak bocor kalau hujan. Biar Bibi bisa..."
Belum selesai ngomong.
Oliv udah ngelirik jam HP. Jam 5 sore.
"Ahh kelamaan mikirnya!" potong Oliv tiba-tiba, berdiri cepet sambil ngibasin rambutnya yang diiket. "Udah ya, Oliv mau kencan dulu!"
Afan yang lagi serius mikir masa depan langsung nge-freeze.
"Kencan?"
"Iya, kencan," kata Oliv enteng, masuk ke kamar lantai 2, ngambil tas kecil. "Masa penjaga kosan doang yang boleh mikir masa depan? Aku juga boleh dong."
Dia turun lagi, udah ganti baju. Pake kemeja kotak-kotak yang rapi, bukan kaos oblong biasanya. Parfumnya kecium samar.
Afan berdiri juga. Sapu pel yang tadi dipegang, jadi kenceng genggamannya.
"Kencan sama siapa?" Suaranya pelan, tapi... beda. Ada nada panik dikit yang dia sendiri nggak sadar.
Oliv senyum jahil. Senyum yang udah setahun nggak dia keluarin ke Afan. Senyum ngerjain.
"Rahasia dong. Pokoknya ganteng. Anak Fakultas Teknik. Tadi abis bantuin aku bawa dus ke panti."
Afan diem. Matanya ngikutin Oliv yang dorong sepeda listriknya keluar gerbang.
Sepeda listrik cream itu bunyi lagi. Ngiiing...
Oliv naik, dadah-dadah ke Bu Siti, ke Bima, ke Ais.
Pas lewat depan Afan, Oliv berhenti sebentar.
"Fan," bisiknya pelan, cuma Afan yang denger.
"Kalau mikirnya udah selesai, susul ya. Aku di cafe depan kampus. Cafe yang ada es kopi susu gula aren itu. Jam 7 aku masih di sana kok."
Terus wusss pergi.
Afan masih berdiri di teras kosan. Nahan pel.
Bima dateng dari belakang, narik kaos Afan.
"Kak, Kak Oliv kencan beneran?"
Ais ikut-ikutan, "Kak Oliv jangan sama orang lain, sama Kakak aja!"
Afan jongkok, ngeliatin dua adiknya.
Terus dia ngeliat ke tumpukan kresek baju pemberian Oliv yang masih ada di kamar. Ngeliat ijazah SMA-nya yang udah ditaruh di map rapi buat daftar kuliah — yang udah selesai. Ngeliat rumah kosan pink yang dia jaga setahun ini jadi rumah beneran.
Kelamaan mikir?
Nggak. Dia udah selesai mikirnya dari lama.
Jam 5.10 sore.
Afan masuk kamar, ganti kaos hitamnya dengan kemeja yang sama yang disuruh Oliv pagi tadi — kemeja kotak-kotak biru yang ternyata kembaran sama kemeja Oliv? Dia nggak sadar.
Sisir rambut cepet-cepet di kaca pecah kamar mandi.
"Bu, saya keluar sebentar ya! Jaga adik-adik!" teriaknya ke Bu Siti.
Terus dia lari. Nggak naik motor. Lari. Ke arah cafe depan kampus.
Soalnya kalau naik motor matic Bapaknya Oliv, kelamaan manasin.
Kalau lari, 10 menit sampe.
Dan untuk pertama kalinya, batu sungai itu lari bukan karena disuruh, bukan karena ngarit, tapi karena nggak mau keduluan anak Teknik.
Cafe depan kampus jam 5.20 sore.
Rame anak-anak kuliahan nongkrong. Bau kopi susu gula aren nyengat.
Di pojokan, deket colokan, ada satu meja. Sendirian.
Oliv.
Laptopnya kebuka, buku anatomi numpuk, rambutnya diiket berantakan lagi pake pulpen. Kemeja kotak-kotaknya sama persis sama yang dipake Afan — cuma beda ukuran. Gak ada anak Teknik ganteng. Gak ada kencan. Cuma Oliv sendirian, sibuk ngetik laporan praktikum, sesekali nyeruput es kopi.
Pintu cafe kebuka kenceng. Kring!
Afan masuk. Ngos-ngosan. Keringetan. Kemeja kotak birunya agak lecek karena lari 10 menit dari kosan. Napasnya masih nggak teratur.
Oliv nengok. Langsung...
"HAH?!" Terus ngakak.
"Fan? Ya ampun, kamu lari?"
Afan diem, jalan ke meja Oliv, narik kursi, duduk. Napasnya masih ngos-ngosan.
"Katanya... kencan..."
Oliv nutup laptopnya pelan, senyumnya jahilnya balik lagi. Suka banget ngerjain Afan.
"Oh, kencanku? Udah selesai. Tadi. 5 menit."
Afan ngernyit, "Terus?"
"Terus aku nungguin penjaga kosan yang lama mikirnya itu," kata Oliv sambil nyodorin es kopi susunya ke Afan, "Minum gih, ngos-ngosan banget."
Afan minum, masih diem. Malu. Ketahuan panik.
Oliv malah ngledekin lagi, nyender ke meja, dagunya ditopang tangan.
"Fan, dulu pas di kampung aku denger loh banyak yang suka sama kamu? Yang cantik-cantik, yang bawa martabak itu? Kenapa nggak mau?"
Pertanyaan yang dari dulu pengen dia tanyain.
Afan diem. Lama.
Tangannya ngeremas gelas plastik es kopi itu. Bukan karena marah. Karena mikir jawaban yang jujur.
Terus dia jawab. Pelan, tapi jelas. Nggak muter-muter kayak dulu lagi.
"Soalnya... mereka sukanya sama Afan doang," kata Afan, natap meja. "Bukan sama Ibu. Bukan sama Bima sama Ais. Bukan sama rumah yang bocor itu."
Dia nengok ke Oliv. Matanya merah dikit karena capek lari.
"Pas liat rumah saya, mereka mundur. Pas disuruh gendong Ais yang lagi ingusan, mereka nggak mau. Pas disuruh duduk sama Ibu yang ngomongnya belum jelas, mereka canggung."
Afan narik napas.
"Aku nggak butuh yang suka sama aku doang, Liv. Aku butuh yang betah sama keluarga aku juga. Yang mau duduk di bale bambu miring. Yang mau nyuapin Ibu. Yang mau main sama adik-adik aku di sungai, walau celananya basah."
Hening. Cafe rame, tapi di meja pojokan itu kayak sepi.
Oliv diem. Senyum jahilnya hilang.
Soalnya Afan nggak lagi ngomongin cewek-cewek kampung itu. Dia lagi ngomongin Oliv. Tanpa nyebut nama Oliv.
Oliv pura-pura batuk, biar nggak keliatan matanya berkaca-kaca. "Ih, jadi curhat."
Afan nyengir lagi. Nyengir lebar yang kedua kalinya dalam setahun itu.
"Terus kamu nanya kenapa nggak mau sama mereka... ya karena nunggu yang kayak kamu, Liv. Yang dateng nggak bawa martabak, tapi bawa buku catatan terapi. Yang kencannya aja di cafe sambil ngerjain laporan panti."
Oliv langsung nutup muka pake kedua tangannya.
"Fan!!! Ngawur banget sumpah!!"
Tapi dari sela-sela jarinya, keliatan kupingnya merah semua.
Afan ketawa pelan. Nggak keras kayak kemarin. Ketawa lega.
"Udah, ayo pulang. Laporanmu belum selesai kan? Nanti aku bantuin ngetik di kosan. Bima bisa bantuin bikinin daftar pustaka."
Oliv ngintip dari jarinya, "Beneran mau bantuin?"
"Beneran. Kan penjaga kosan harus serba bisa."
Oliv beresin laptopnya cepet-cepet, masukin ke ransel. Af an berdiri, bayarin es kopinya di kasir — pake uang hasil gaji kosan pertama yang dia sisihin.
Mereka keluar cafe bareng. Sepeda listrik cream masih di parkiran. Motor matic nggak dipake.
"Fan, boncengin ya? Sepedaku lowbat," kata Oliv manja, pertama kalinya manja beneran ke Afan.
Afan ngangguk. Naik sepeda listrik itu. Kecil buat badan dia yang tinggi.
Oliv duduk di belakang, pegangan tas ransel Afan pelan.
Sepeda listrik itu jalan pelan, ngiiing... pelan banget, nggak kuat nanjak, hampir nggak jalan karena boncengan dua orang.
Dua orang pake kemeja kotak-kotak kembaran, boncengan sepeda listrik lowbat, pelan-pelan balik ke kosan pink.
Anak-anak kosan yang liat dari lantai 2 langsung teriak-teriak heboh.
"Wuuu... Kak Afan! Kak Oliv!"
Bu Siti di bawah yang lagi nyapu, liat mereka, cuma senyum. Ngerti.
Nggak perlu rumah baru. Nggak perlu benerin rumah kampung dulu.
Rumahnya udah di sini.
Malam itu di teras kosan, setelah boncengan sepeda lowbat tadi, suasananya masih enak.
Bima sama Ais udah tidur di dalam, pules. Bu Siti udah masuk kamar. Lampu teras kosan yang kuning itu nyala temaram. Cuma ada Afan sama Oliv, duduk di dua kursi plastik, di depan tumpukan laporan praktikum Oliv yang belum selesai.
Oliv ngeluarin HP-nya, liat email. Mukanya berubah. Dari yang ketawa-ketawa tadi jadi serius lagi.
"Oya Fan," kata Oliv pelan, nggak ngeliat Afan, ngeliat layar HP-nya. "Besok bapak mau aku lanjut kuliah di Jerman."
Afan yang lagi benerin resleting tas Oliv, tangannya berhenti.
"Titip kosan ya."
Sunyi.
Suara jangkrik dari kebun belakang kosan jadi kedengeran jelas banget.
Afan kaget. Beneran kaget. Kemeja kotak-kotak yang tadi dipake bareng, rasanya tiba-tiba berat.
"Berapa lama?" Suara Afan pelan. Hampir bisik.
Oliv akhirnya nengok. Matanya udah berkaca-kaca dari tadi ditahan.
"2 tahun. Aku mau jadi dokter spesialis dalam, Fan. Bukan cuma terapis."
Bukan main-main. Jerman. Dokter spesialis. Itu mimpi Oliv dari SMP, yang pernah dia ceritain sekali pas di batu sungai dulu, yang Afan kira cuma mimpi iseng.
Afan diem lama banget. Lama. Kayak waktu di sungai dulu pas ditanya kenapa jaga jarak.
Di kepalanya muter. 2 tahun. Itu lama. Dulu 6 bulan aja rasanya lama banget. Ini 2 tahun.
Kalau dulu, Afan yang lama pasti langsung bilang, "Ya udah, sana. Nggak usah balik." Batu sungai mode on.
Tapi Afan sekarang udah beda. Setahun di Malang, kuliah, jaga kosan, liat ibunya bisa jalan lagi, bikin dia ngerti satu hal: orang yang sayang itu bukan yang ditahan biar nggak pergi, tapi yang didukung biar terbang lebih tinggi.
Afan narik napas panjang.
"Jerman... dingin ya?" tanyanya, pertanyaan paling Afan banget. Nggak nyambung tapi tulus.
Oliv ketawa kecil sambil nangis. "Dingin banget. Katanya minus."
"Terus... kapan berangkatnya?"
"Besok lusa. Visa udah jadi dari bulan lalu. Bapak baru berani ngomong sekarang karena takut aku nggak mau ninggalin kosan... ninggalin kalian."
Afan angguk-angguk. Ngerti.
Terus dia berdiri, masuk ke kamar bawah sebentar. Keluar lagi bawa sesuatu.
Kertas kecil. Kertas lecek yang dulu dikasih Oliv di sungai. Nomor HP Oliv yang pertama. Yang udah setahun dia simpen di dompet sobeknya, sampe tulisannya udah agak luntur.
Dia taruh di meja depan Oliv.
"Liv, dulu kamu kasih aku ini, bilang 'pikir-pikir tawaran ini'. Aku pikirin, dan hidup aku berubah."
Sekarang Afan nyodorin dompet sobeknya yang kosong — karena kertasnya udah di meja.
"Sekarang giliran aku. Aku titip ini ke kamu. Biar kamu inget, di Malang ada kosan pink yang harus kamu pulangin."
Oliv nangis beneran sekarang. Nggak ditahan lagi.
"Fan... 2 tahun lho..."
"2 tahun itu cepet," kata Afan, nyengir lagi. Nyengir lebar yang ketiga kalinya dalam hidupnya, tapi kali ini nyengirnya sambil matanya merah. "Ibu aja dari nggak bisa pegang sendok jadi bisa masak sayur bening cuma setahun. Apalagi kamu. 2 tahun di Jerman nanti pulang-pulang udah jadi dokter beneran. Terus bisa periksa Ibu gratis."
Oliv ketawa di tengah nangisnya. "Ih, itung-itungan."
Afan jongkok, sejajar sama Oliv.
"Liv, kamu dulu nggak ragu ninggalin Malang buat ke kampung Bibi 6 bulan demi bantu orang. Sekarang jangan ragu ninggalin Malang buat ke Jerman demi jadi orang yang bisa bantu lebih banyak orang lagi. Termasuk Ibu aku."
Oliv nutup muka lagi kayak di cafe tadi.
"Janji ya titip kosan? Titip Bima Ais sama Ibu?" bisik Oliv dari balik tangannya.
"Janji," kata Afan. "Kosan aman. Ibu aman. Adik-adik aman. Nilaimu juga aman, nanti aku bantuin jagain IPK-mu lewat video call tiap malam. Kalau ada anak Teknik ganteng yang deketin kamu di Jerman, aku..."
"Apa?" Oliv ngintip.
"...aku suruh belajar bahasa Jawa dulu, biar bisa ngomong sama Ibu."
Oliv ngakak kenceng. Ngakak sambil nangis. Ngakak yang berisik sampe Bu Siti kebangun dan ngintip dari jendela, kirain berantem.
Malam itu, sepeda listrik cream nggak dipake. Motor matic putih juga nggak.
Mereka duduk aja di teras kosan pink sampe jam 11 malam, ngobrolin Jerman sedingin apa, ngobrolin kosan mau dicat warna apa pas Oliv pulang, ngobrolin Bima nanti mau jadi apa.
2 tahun. Bukan perpisahan. Cuma jeda.
2 tahun itu.
2 tahun itu bukan kaleng-kaleng.
Berkat kerja keras Afan, tabungannya beneran menggunung.
Dari penjaga kosan, dia diangkat jadi admin kosan. Karena Afan jujur dan teliti, bapaknya Oliv ngenalin ke temennya yang punya kantor distributor alat pertanian di Malang. Afan yang kuliah pertanian, masuk jadi staff gudang dulu. Nggak gengsi.
Setahun kemudian, karena dia pinter ngatur stok, pinter ngomong sama petani — maklum, anak ladang — dia diangkat jadi manajer.
Gajinya bukan gaji penjaga kosan lagi. Gaji manajer.
Rencana demi rencana yang dulu cuma diomongin di teras kosan pink itu jadi.
Rumah petak pertama di pinggiran Malang kebeli. Nggak besar, tapi milik sendiri. Ada 2 kamar, dapur beneran, bukan dapur kayu. Bu Siti nangis 3 hari pas pindah.
Kehidupannya lebih baik. Jauh lebih baik. Bima sekarang udah SMP, les Inggris. Ais udah SD, jago gambar.
Rumah di kampung, yang di Lorong Bambu ujung itu, akhirnya dijual. Atas persetujuan Bu Siti dan Bibi Lastri. Uangnya buat tambah beli rumah di Malang sama buat tabungan kuliah Bima Ais. Afan nggak nangis pas jual. Soalnya dia tau, rumah bukan soal bambu atau papan, rumah itu soal orangnya. Dan orangnya udah di Malang semua.
Dan selama 2 tahun itu, Afan nungguin Oliv.
Beneran nungguin.
Bapaknya Oliv cuma dateng beberapa bulan sekali buat cek kosan, bawa kabar Oliv. Katanya di Jerman minus 10 derajat, Oliv nangis kangen bakso. Katanya Oliv lulus ujian bahasa Jerman dengan nilai bagus, katanya Oliv sempet sakit karena kebanyakan belajar.
Oliv video call tiap minggu. Kadang jam 2 pagi waktu Malang karena beda waktu 6 jam. Afan selalu angkat.
Hingga tiba saatnya.
Jumat sore. Bandara Juanda.
Afan berdiri di ruang kedatangan. Beda banget dari 2 tahun lalu.
Jasnya rapi. Jas hitam yang baru dia beli kemarin di Matahari, masih agak kaku dipake. Rambutnya dipotong rapi, klimis. Sepatunya pantofel mengkilap — pinjeman dari Pak Haris, karena sepatu Afan cuma sepatu safety kantor.
Tangannya keringetan. Dipegangin satu buket bunga kecil — bukan mawar mahal, cuma baby breath putih sama aster, yang dia tau Oliv suka karena simple.
Pintu kedatangan kebuka.
Dan Oliv keluar.
Pakai dress putih. Nggak mewah, tapi elegan. Panjangnya selutut, lengannya panjang, bahannya jatuh. Rambutnya udah nggak diiket asal pake pulpen lagi, udah dipotong sebahu, rapi. Kacamatanya masih sama, tapi lebih tipis.
Beda dari 2 tahun yang lalu. Lebih dewasa. Lebih capek, keliatan matanya, tapi lebih... bersinar.
Di belakangnya, Pak Haris dorong koper besar.
Oliv ngeliat sekeliling, nyari-nyari. Terus matanya ketemu Afan yang pake jas rapi di pojokan, megang bunga sambil salah tingkah.
Oliv berhenti. Kopernya dilepas.
"Fan?"
Afan jalan pelan, masih kaku karena jasnya.
"Oliv."
Nggak ada pelukan film-film. Soalnya di bandara rame.
Oliv senyum. Senyum yang 2 tahun nggak diliat langsung sama Afan.
"Kamu... jas-jasan?" kata Oliv sambil ketawa kecil, air matanya langsung jatuh. "Ya ampun, Afan."
Afan nyodorin bunga, tangannya gemetar.
"Buat dokter baru. Selamat pulang, Dok."
Oliv terima bunganya, dipeluk ke dada.
"Kamu beda banget, Fan."
"Kamu juga. Cantik. Dokter beneran."
Hening sebentar. Orang lalu lalang bawa koper.
Oliv ngelap air matanya, terus ngomong jujur kayak biasanya. Nggak ditutup-tutupin.
"Fan, aku sempet pacaran lho di sana. Sama anak Indonesia juga, di Berlin. 6 bulan. Tapi putus di tengah jalan."
Afan angguk. Nggak kaget. Nggak cemburu meledak. Udah dewasa.
"Aku tau. Bapak cerita."
"Terus kamu nggak marah? Nggak nungguin sia-sia?"
Afan nyengir. Nyengir lebar yang keempat kalinya dalam hidupnya, yang sekarang udah jadi trademark kalau ketemu Oliv.
"Enggak. Soalnya aku juga udah beda banget, Liv. Dulu aku penjaga kosan yang nggak berani ngomong. Sekarang aku manajer yang berani nungguin dokter spesialis pulang pake jas pinjaman."
Dia benerin jasnya yang agak miring.
"Kalau kamu putus, berarti kamu masih milih pulang ke Malang. Ke kosan pink. Ke rumah kita. Itu aja udah cukup buat aku."
Oliv nangis lagi, tapi kali ini ketawa juga. Nangis ketawa jadi satu.
Pak Haris dari belakang pura-pura batuk kenceng, "Eh, udah, udah. Di rumah aja nangisnya. Malu diliatin orang. Kayak di film India."
Oliv sama Afan ketawa bareng.
Di parkiran, sepeda listrik cream itu udah nggak ada. Ganti mobil kecil — mobil bekas yang Afan beli dari tabungannya menggunung itu, buat antar jemput Ibu sama adik-adik.
Oliv naik di depan, sebelah Afan yang nyetir masih agak kaku karena baru bisa nyetir 3 bulan lalu.
Pak Haris di belakang, bawa bunga baby breath-nya Oliv, senyum-senyum sendiri ngeliat anaknya sama calon mantunya — yang dulu dia pungut dari Lorong Bambu.
Mobil jalan pelan dari Juanda ke Malang.
Bukan ke kosan pink lagi.
Tapi ke rumah petak yang udah ada tulisan kecil di pagarnya: "Rumah Keluarga Afan - Bu Siti, Bima, Ais".
Rumah yang dulu cuma rencana di teras kosan, sekarang beneran ada.
Dan di dalamnya, Bu Siti udah masak sayur bening banyak banget, Bima sama Ais udah bikin tulisan di karton: "WELCOME HOME KAK OLIV - DOKTER KITA!"
2 tahun nungguin, akhirnya pulang.
Seminggu setelah kepulangan.
Rumah petak Afan rame. Bu Siti udah bisa masak rawon sendiri sekarang, nggak cuma sayur bening. Bima sama Ais libur sekolah, jadi rumah berantakan kertas gambar "Welcome Home" yang belum dicopot.
Oliv udah mulai kerja di RSUD Malang, jadi dokter umum dulu sambil nunggu jadwal spesialis dalamnya. Jas putihnya sekarang lebih panjang. Beda sama jas praktikum dulu.
Sore itu, setelah maghrib, Afan ngajak Oliv duduk di teras rumah. Bukan di kosan pink. Di rumah mereka sendiri.
Lampu terasnya kuning, sama kayak lampu kosan pink dulu.
Afan gugupnya minta ampun. Jas rapi yang dipake di bandara kemarin udah nggak dipake. Dia cuma pake kemeja batik yang dibeliin Bu Siti, tangannya ngeremas kotak kecil beludru warna biru tua. Kotaknya udah lecet-lecet karena 2 tahun disimpan di lemari, dibuka tutup tiap malam pas Oliv video call dari Jerman.
Bu Siti, Bima, Ais udah disuruh masuk kamar duluan sama Afan. "Bu, nanti kalau saya panggil baru keluar ya."
Oliv dateng masih pake jilbab kerja, masih bawa stetoskop di tasnya. Duduk di kursi plastik sebelah Afan.
"Apaan sih Fan, serius banget mukanya? Kayak mau rapat RT," kata Oliv sambil ngelepas sepatunya.
Afan nggak jawab. Napasnya berat.
Dia buka kotak beludru itu pelan. Di dalamnya ada cincin. Nggak besar, nggak berlian gede kayak di sinetron. Cincin silver kecil, ada mata satu kecil di tengahnya. Hasil nabung menggunungnya selama 2 tahun jadi manajer, bukan dari gaji penjaga kosan lagi.
"Liv," suara Afan serak. Batu sungai mode total, tapi kali ini berani.
"Gue... aku beraniin diri ngajak serius. Bukan cuma jagain kosan bareng lagi. Bukan cuma temen video call tiap minggu. Aku mau... jagain kamu seterusnya. Boleh?"
Hening.
Oliv ngeliat cincin itu. Terus ngeliat muka Afan yang merah, keringetan, matanya nggak berani natap langsung.
Harusnya momen haru. Harusnya Oliv nangis lagi kayak di bandara.
Tapi Oliv malah...
Nyengir. Nyengir ngeselin.
Nyengir yang mirip banget sama nyengir lebar Afan yang pertama dulu di teras kosan pink.
"Fan..." kata Oliv sambil nyengir, dagunya ditopang tangan, ngeliatin Afan dari atas ke bawah. "Lama amat mikirnya? Seminggu lho aku pulang. Kirain kamu mau ngajak serius pas di bandara. Eh malah nunggu seminggu, pake rapat keluarga segala. Bima sampe ngintip dari jendela tuh."
Afan bengong. "Loh?"
"Ya elah, Fan. Bima udah bocorin dari 3 hari lalu. Katanya 'Kak Oliv, Kak Afan beli cincin lho'. Ya aku tau lah!"
Afan nengok ke jendela. Bima sama Ais langsung ngumpet, tapi ketawanya kedengeran.
Bu Siti dari dalam juga ketawa pelan.
Rencana serius Afan yang udah disiapin 2 tahun, bocor gara-gara Bima.
Oliv ngambil kotak cincin itu dari tangan Afan yang masih gemetar, ngeluarin cincinnya sendiri, terus dipake sendiri ke jari manisnya.
Pas banget. Soalnya Afan udah ngukur diam-diam pake cincin mainan Ais 6 bulan lalu pas video call.
Oliv ngangkat tangannya, pamerin cincinnya ke lampu teras yang kuning.
"Gimana? Cocok nggak?"
Afan masih bengong, belum move on dari nyengir ngeselin Oliv.
"Cocok... tapi... kamu belum jawab boleh apa enggak..."
Oliv berdiri, duduk lagi tapi sekarang lebih deket. Bahunya nempel bahu Afan.
Dia nyengir lagi, tapi kali ini nyengirnya deket banget sama kuping Afan, pelan.
"Boleh, Fan. Boleh banget. Dari dulu di batu sungai itu juga udah boleh."
Afan】... akhirnya...
Nangis. Beneran nangis. Bukan nangis malu kayak dulu di jalan setapak. Nangis lega.
Oliv panik, "Eh eh eh kok nangis?"
"Enggak... kaget... dikerjain..." kata Afan sambil ngelap mata pake lengan batiknya.
Dari dalam rumah, Bu Siti keluar bawa nampan teh, Bima sama Ais bawa kue lapis yang tadi siang bikin sama Bu Ratna. Mereka udah siap pesta kecil.
"SAH! SAH!" teriak Ais paling kenceng.
Bima teriak, "Akhirnya Kak Oliv jadi kakak beneran!"
Bu Siti cuma senyum, naruh tehnya, terus ngelus kepala Afan sama Oliv barengan.
"Alhamdulillah... akhirnya... rumahnya lengkap."
Di teras rumah petak kecil itu, di bawah lampu kuning yang sama kayak di kosan pink dulu, Afan yang dulu jaga jarak satu meter di batu sungai, sekarang duduk dempet sama Oliv yang pake dress putih elegan plus cincin silver kecil.
Sepeda listrik cream udah dijual. Ganti motor listrik yang bisa boncengan bertiga sama Bima Ais.
Kosan pink masih ada. Masih rame. Tapi sekarang yang jaga kosan bukan cuma Afan. Ada tulisan baru di depan gerbang kosan:
"Hubungi: Pak Afan & Bu Dokter Oliv - Pengelola Kos.
Tamat.
Dulu di batu sungai itu, Oliv cuma pengen liat Afan maju. Sukses. Punya kehidupan yang layak buat Ibu sama adik-adiknya.
Nggak pernah kepikiran lebih.
"Fan, tolong pikir-pikir tawaran ini! Saya mau kamu maju!"
Itu doa paling tulus yang pernah Oliv kasih ke orang yang baru dia kenal 5 bulan di Lorong Bambu.
Dan sekarang...
Doa itu kejadian beneran.
Afan maju. Beneran maju. Bukan cuma jadi penjaga kosan yang celananya basah kena air sungai, tapi jadi manajer yang jasnya rapi, yang bisa beli rumah petak sendiri, yang bisa sekolahin adik-adiknya, yang bisa bikin Ibunya bisa jalan lagi dan masak rawon sendiri.
Rumah di kampung yang bocor itu udah dijual. Ganti rumah yang nggak bocor lagi.
Tabungan yang dulu cuma recehan kayu bakar, sekarang menggunung.
Semua rencana jadi.
Dan dari semua rencana yang jadi itu, satu rencana yang paling Afan jaga dari hari pertama dikasih kertas nomor HP lecek di sungai:
Milih Oliv sebagai pendamping hidupnya.
Bukan sebagai hutang yang dia bayar.
Afan pernah bilang gitu ke Pak Haris malam sebelum ngasih cincin.
"Pak, saya mau nikahin Oliv bukan karena balas budi. Kalau balas budi, saya nggak akan pernah lunas. Ibu saya sembuh karena dia. Adik saya sekolah karena dia. Saya jadi manajer karena dia. Hutang saya kebanyakan."
"Terus kenapa, Fan?" tanya Pak Haris.
"Karena saya mau ngrasain hidup bareng beneran, Pak. Dulu saya cuma bertahan hidup. Sama Oliv, saya belajar hidup."
Malam ini, di rumah petak itu, setelah cincin silver kecil itu udah di jari Oliv, Afan ngomong hal yang sama ke Oliv, pelan, cuma berdua di teras sementara Bu Siti sama Bima Ais udah masuk kamar pura-pura tidur tapi kupingnya masih di pintu.
"Liv, aku milih kamu bukan buat bayar hutang. Aku milih kamu biar aku tau rasanya pulang kerja ada yang nungguin. Biar aku tau rasanya capeknya hilang karena ada yang nyengir ngeselin di teras."
Oliv yang tadinya nyengir ngeselin, sekarang diem. Matanya berkaca-kaca lagi. Yang ke sekian kalinya hari ini.
"Fan..."
"Jadi, boleh ya? Kita hidup bareng beneran? Bukan cuma kos-kosan bareng, tapi rumah bareng?"
Oliv angguk. Nggak pake nyengir lagi. Angguk pelan, tulus.
"Boleh, Fan. Boleh banget."
Dari anak kampung yang celananya basah karena nyuci jembatan bambu, sama anak kota yang hampir kepeleset di jembatan itu.
Sampai jadi manajer sama dokter di teras rumah yang lampu kuningnya sama kayak kosan pink dulu.
Perjalanan paling jauh bukan dari Lorong Bambu ke Malang.
Tapi dari "kasihan" jadi "sayang". Dari "titip kosan ya" jadi "titip hidup ya".
Dan malam itu, di Malang yang cerah, rumah petak kecil itu lampunya mati paling akhir. Karena yang punya rumah masih duduk di teras, ngobrolin warna cat kamar anak nanti mau pink kayak kosan dulu atau biru kayak jas Afan.
— TAMAT —