---bab 1
*DISCLAIMER*
Cerpen ini adalah karya fiksi. Nama tokoh, tempat, dan kejadian di dalam cerita adalah hasil imajinasi penulis. Jika ada kesamaan nama atau tempat dengan kehidupan nyata, itu murni kebetulan.
Cerita ini bertujuan untuk menginspirasi dan mengedukasi. Tidak ada maksud untuk menyinggung pihak manapun.
*Judul: Membunuhmu
Soleh anak kelas 2 SD yang masih polos dan belum mengerti apapun.
Dia anak broken home. Dia dirawat oleh ibunya.
Ayahnya entah pergi kemana. Setiap aku menanyakan ayah kepada ibu, ibu enggan memberitahukan.
Saat aku kecil, aku mempunyai satu teman yang sering bermain bersama. Teman ku bernama Udin. Entah mengenal rokok dari mana.
Udin mencoba rokok yang diambil dari ayah nya. Aku pun, saat masih polos, ikut dengan Udin dan sembunyi-sembunyi untuk mencoba rokok itu.
"Soleh, coba hisap."
"Huuu... Ah, rasanya pahit."
"Kenapa kau menyukai rokok, Udin? Padahal rasanya tidak enak."
"Kau belum terbiasa. Setelah terbiasa, pasti suka. Memangnya kau suka?"
"Iya lah. Kalau aku sudah besar nanti, pasti akan ku beli semua merek rokok."
"Memangnya kau mampu?"
"Tidak sih."
"Eh, ada orang. Siapa itu?"
"Kita ketahuan. Lari, Soleh!"
"Anak-anak itu sedang apa? Mereka di tempat seperti ini."
"Huh, hampir saja. Untung tidak ketahuan. Eh, koreknya kemana, Soleh?"
"Korek? Hah, ketinggalan, Din. Rokoknya ada tidak?"
"Ada nih, setengah lagi."
"Huuuh, untung saja tidak tertinggal. Gue balik dulu ya, Din. Besok main lagi."
"Besok sekolah, kocak."
"Nanti setelah pulang sekolah."
"Ya, ngerokok lagi."
"Tidak ah, pahit."
4 tahun kemudian...
---
---
"Sudah lama kejadian itu ya, Din."
"Iya. Sekarang kau malah suka rokok. Dulu katanya pahit."
"Eh, itu dulu. Sekarang setiap ada masalah, selalu pelarianku ke rokok."
"Leh, kau ada masalah apa emangnya?"
"Biasa, masalah keluarga."
"Oh, emangnya ibumu belum tahu soal ini?"
"Belum sih. Sekarang kusembunyikan. Nanti kalau ketahuan pasti repot."
"Kau sendiri bagaimana?"
"Kemarin bapakku tahu soal ini, tapi dia tidak memberitahu kepada ibu."
"Kau masih mending punya bapak yang baik kepadamu. Sedangkan aku..."
"Yehh, malah bahas itu. Sabar aja, Leh. Mungkin ini pelajaran bagimu agar tidak seperti bapakmu."
"Gue pulang dulu ya. Besok sekolah nggak?"
"Sekolah lah, kan gue rajin."
"Yo, cabut."
Sepulangnya ke rumah, Soleh segera gosok gigi dan mandi agar mulutnya tidak bau rokok.
Ibunya bekerja sebagai pembuat kerajinan agar bisa menghidupi keluarga mereka.
"Ibu, Soleh bantu ya?"
"Tidak apa-apa, Nak. Tugasmu itu belajar. Dan jangan kamu main sama si Udin lagi."
"Kenapa?"
"Dia itu anak yang tidak bener. Selalu merokok."
"Ibu tahu dari mana?"
"Dari ayahnya. Kemarin dia sudah memarahi si Udin, tapi dia malah kabur."
"Ibu, aku selalu merokok, Bu. Maaf."
"Apa? Kamu merokok? Kenapa?"
"Dulu aku diajak sama Udin, Bu. Maaf."
"Ya sudah. Kamu harus janji sama ibu, jangan main sama si Udin lagi. Bisa nggak? Dan satu lagi, jangan merokok."
"Oke, Bu. Maaf, aku tidak akan mengecewakan ibu lagi. Kali ini aku akan fokus sekolah."
Sejak hari itu, Soleh menepati janjinya. Rokok yang dulu dianggap keren, kini ia tahu perlahan membunuhnya. Bukan cuma paru-parunya, tapi juga masa depannya.
---
"Soleh, kenapa kau tidak ingin merokok lagi?"
"Sudah lah, Din. Rokok itu tidak baik untukmu. Bertobatlah, Din."
"Dah dulu ya, Din. Gue mau balik. Gue punya kerjaan sekarang."
"Emangnya kerja apa lu? Kerja kau kan merokok?"
"Heh, itu dulu. Sekarang gue punya kerjaan sebagai pembuat cerita."
"Hahhh..."
"Assalamualaikum, Bu. Aku pulang."
"Waalaikumsalam. Tumben sekarang mengucapkan salam, biasanya tidak."
"Aku mau tobat, Bu. Aku tidak mau mengecewakan ibu lagi, kan aku sudah janji."
"Yasudah, bagus kalau mau tobat. Udah sholat tobat belum?"
"Belum, Bu."
"Sholat tobat dulu, tapi sholat Dhuhur dulu. Setelah Dhuhur nanti sholat tobat."
"Baik, Bu."
"Niatnya hafal tidak?"
"Hafal kok, Bu. Tenang."
"Yasudah, wudhu dulu sana."
Soleh pun berwudhu dan melaksanakan shalat. Ia tau bahwa merokok itu tidak baik, karena rokok itu membunuhmu. Setelah selesai sholat, Soleh membuka hp.
"Ahh, mau buat cerita apa ya? Belum punya inspirasi lagi. Cari inspirasi dulu lah."
"Ibu, Soleh main dulu ya?"
"Jangan merokok?"
"Tidak kok, Bu."
"Oke, ibu percaya sama kamu."
"Inspirasi dari mana ya? Coba tanya orang-orang dulu ah."
------
Setelah Soleh selesai mencari inspirasi, Soleh pulang dan membuat cerita di Fizzo Novel.
"Judulnya yang bagus apa ya? Hemm... oh, itu saja, Anak yang Ingin Bertaubat.
Soleh membuat cerita sampai azan Ashar berkumandang.
"Nak, sholat dulu sana!"
"Baik, Bu. Aku sholat di mushola ya."
"Iya, hati-hati."
"Tumben ke mushola, biasanya main sama Udin."
"Enggak, Pa Ustadz."
Mereka pun sholat berjamaah.
"Mau pulang, Soleh?"
"Iya, Pa. Nanti Magrib balik lagi, mau ngaji."
"Boleh, ke sini saja. Anak-anak juga banyak yang ngaji."
"Oke."
Sepulangnya di rumah, Soleh mandi dan pergi lagi ke mushola.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
"Eh, datang juga, Soleh?"
"Iya, Pa Ustadz."
Azan berkumandang, mereka melaksanakan shalat.
"Eh, Soleh, antri kalau mau ngaji."
"Eh, iya maaf."
"Kamu Iqro berapa, Soleh?"
"Baru Iqro 6."
"Kamu Iqro berapa?"
"Wah, aku baru 5, jadi malu."
"Padahal kita sama-sama kelas 6. Eh, btw, kamu nggak kelihatan main sama Udin?"
"Iya, nggak lagi."
"Dia bergaul sama anak-anak dari desa sebelah loh."
"Gapapa, bukan urusan ku."
"Eh, malah pada ngobrol. Maju, yang lain sudah selesai."
"Eh, maaf, Pa Ustadz."
Mereka mengaji dan dilanjutkan sholat Isya.
"Sudah mau pulang ya?"
"Iya nih."
------
"Sama-sama. Yo, pulangnya takut ada hantu."
"Cih, takut sama hantu."
Suasana di desa sangat sepi. Lalu ada suara orang memanggil, "Hi... hi... hi... hihi..."
"Ahh, hantu!" Suara orang berbisik.
"Lari!"
Sesampainya di rumah, Soleh segera tidur.
*Tanggal 12, 2025*
_Tu... tuk... tuk..._
"Bangun, Soleh! Sudah pagi, nanti kesiangan."
Soleh bangun.
"Iya, Bu. Soleh bangun, lagian masih jam 5."
"Katanya mau rajin? Sekarang subuh dulu sana, nanti bantu ibu bersih-bersih rumah."
"Iya, Bu."
Jam menunjukkan pukul 06:30.
"Berangkat dulu ya, Bu."
"Iya, hati-hati."
"Hey! Hey, bocah! Mau ke mana kau?"
"Hah? Udin, sedang apa kau menghalangi jalanku?"
"Ya sudah jelas, untuk membully-mu! Kenapa kau menghiraukanku kemarin, hah?"
"Teman-teman, pukul dia!"
"Siap, Bos!"
Tanpa ampun, pukulan itu menghujam perut, wajah, dan punggungnya. Soleh hanya bisa meringkuk, menahan sakit.
"Rasakan itu! Cuh!"
"Cepat pergi, teman-teman!"
Suara teman-temannya, "Sudah selesai, pergi, pergi!"
"Awas, kalian akan kubalas nanti!"
_Tap... tap... tap..._
Suara langkah kaki yang semakin mendekat.
Soleh terbaring dan pingsan.
"Soleh... Soleh... Soleh... tahan ya!"
------
*DI RUMAH SAKIT*
_Tok.. tok.. tok.._
Soleh, kami datang.
Soleh membuka mata pelan. "Eh, teman-teman. Repot-repot kalian jenguk aku."
"Tidak apa-apa, kita kan teman," jawab mereka.
Lalu Soleh melihat ke belakang. "Pak Guru juga ada."
"Iya, Soleh. Kenapa kau bisa seperti ini?" tanya Pak Guru.
"Saat akan berangkat sekolah, aku dipukul oleh geng Udin, Pak," jawab Soleh pelan.
"Wah, wah, ternyata Udin lagi," kata Pak Guru menggeleng.
"Wah, si bajingan itu! Pantas saja dia tidak masuk sekolah selama beberapa hari ini," seru salah satu temannya.
"Kan kuhajar kau, Udin!" teriak teman lainnya.
"Hey, sudah sudah! Jangan ribut, pasien lain pasti terganggu," Pak Guru melerai.
"Maaf, Pak."
"Sudah ya, kami titip uang ini dari teman-teman agar dapat meringankan biaya rumah sakit," kata Pak Guru.
"Terimakasih, Pak."
"Eh ngomong-ngomong, ibuku kemana ya?"
"Oh, ibumu di luar."
"Kami pergi dulu ya, Soleh. Cepat sembuh."
"Iya, terimakasih teman-teman dan Pak Guru."
"Sama-sama."
_Klek._ Pintu ditutup dan suara menjadi hening. Soleh mengambil buah dari bingkisan yang dibawakan teman-temannya.
_Krauk._ Buah apel yang segar.
*KEESOKAN HARINYA*
"Soleh mau berangkat."
"Iya, Bu. Sekarang hari Jumat, pulangnya cepat."
"Hati-hati di jalan ya, kalau ketemu si Udin lari saja."
"Iya, Bu."
_Klek..._
Hari yang cerah. Untung sekolah tidak begitu jauh. Sekarang aku harus berhati-hati. Bismillah, semoga bisa.
"Hah hah hah, bocah bodoh ini mau sekolah lagi."
"Cih, kalian rupanya datang lagi. Aku tidak takut lagi!"
"Kau itu cuma sendiri."
"Hah, siapa bilang aku sendiri? Teman-teman!"
"Tiga lawan lima, sudah pasti kita yang menang!"
"Lawan bocah yang sedang sakit, tidak bisa berbuat apa-apa."
"Siapa bilang, hah!"
"Kabur..."
"Kalian tahan mereka!"
"Oke."
"Mau kemana kau, hah!"
"Si Soleh sedang sakit, beraninya sama dia!"
"Kalian semua cabut! Kita tidak punya urusan dengan mereka, dasar bodoh!"
"Beraninya kau!"
"Sudah cukup, Raka. Yang penting si Soleh selamat."
"Ayo kita berangkat, nanti telat."
"Yo."
_Kreeet..._ Gerbang sekolah dibuka.
"Untung kita tepat waktu."
"Iya, tapi si bodoh itu kemana ya?"
"Hey, kalian anak-anak masuk ke kelas!"
_Teng... teng... teng..._
"Dengar bel berbunyi, masuk sana."
"Baik, Pak."
"Huh, Udin kok di ruang BK? Sejak kapan dia sekolah."
"Jangan hiraukan, cepat ke kelas. Oke."
"Soleh, kau aman?"
"Iya, terimakasih sudah membantu."
"Oke, slow aja. Kita kan teman, lagi pula gue benci sama kelakuan dia."
Di ruang BK
---
*BAB 2: MURID BARU & RAHASIA RAKA*
Suasana hening di ruang BK.
"Udin, Udin!"
"Kenapa, Pak?"
"Kenapa kamu melakukan bullying?"
"Karena dia meninggalkan sirkel saya, Pak."
"Justru sirkel kamu itu yang tidak baik. Apa ini?"
"Ini, Pak..."
"Kamu berani-beraninya mau suap Bapak?"
"Enggak kok, ini uang dari Ayah saya, katanya agar saya tidak di-skors."
"Ya sama saja namanya suap! Sekarang Bapak skors kamu selama satu minggu. Silakan pulang!"
"Tapi, Pak..."
"Tapi apa?"
"Uangnya, Pak?"
"Ini Bapak sita. Sudah, pergi!"
*DI RUANG KELAS*
"Assalamualaikum anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Silakan masuk."
Klek.
"Emm... halo, perkenalkan nama saya Inok, salam kenal." Suaranya pelan.
"Oy, murid baru! Lebih keras dong suaranya!"
"Heh, jangan gitu Niko!"
"Inok, silakan kamu duduk di samping Soleh ya."
"Sini, Nok."
"Kenalkan, namaku Soleh."
"Oh iya, aku Inok."
"Aku panggil Inok ya?"
"Iya."
"Oke anak-anak, kita belajar Bahasa Indonesia ya."
"Iyaaa, Paaa..."
Beberapa jam kemudian.
_Teng... teng... teng..._
"Saatnya istirahat!"
"Istirahat, yey!"
"Nok, kamu belum tau daerah sekolah ini kan? Ku antar keliling, mau nggak?"
"Iya, aku panggil kamu Leh ya, nggak apa-apa kan?"
"Iya. Teman-teman, ke kantin yuk!"
"Yuk!"
"Kalian duluan aja, aku mau ke toilet dulu."
"Sudah hafal nggak jalannya, Nok?"
"Sudah, tadi pagi sempat kelewatan."
"Nanti ke kantin aja ya, dekat lapang."
"Iya."
"Huh, untung sempet, hampir aja nggak keburu."
Klek.
"Hei, hei... anak baru ya?"
"Iya, kenapa?"
"Minta uang sini."
"Uang apa?"
"Uang keamanan. Cepat sini kalau nggak ku hajar kau!"
"Ini..."
"Cuma cepe? Kurang!"
"Gak ada, adanya cuma segini. Halah, ya sudah cabut yuk!"
"Eh, Inok kenapa?"
"Gapapa, Leh."
"Ada yang bullying ya? Emang biasa sih di sini, sekolahnya kurang ketat pengawasannya. Namanya juga sekolah negeri."
"Eh iya, kita ke kantin yuk, yang lain udah nunggu."
_Teng... teng... teng..._
"Saatnya masuk!"
"Lah, cepat kali di sini?"
"Namanya juga hari Jumat."
"Ayo Nok, masuk ke kelas."
"Awas kau, bocah baru!"
"Hei, dia punya nama!"
"Gapapa, Leh."
*PELAJARAN PAI*
"Oke anak-anak, sekarang kita belajar PAI tentang ayat yang menenangkan hati."
_Allah berfirman: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya." (QS. Az-Zumar: 53)_
"Ada yang mau ditanyakan?"
"Tidak, Pak."
"Oke, jawab pertanyaan Bapak tentang ayat tadi. Yang benar boleh pulang."
"Kenapa Allah suka mengampuni dosa?"
Jawab Niko: "Karena Allah baik, Pak."
"Benar."
"Oke, yang pulang terakhir Raka, belajar lagi ya."
"Iya, Pak."
"Eh, kalian kenapa nungguin aku?"
"Ya kita kan teman. Kenalin, ini Inok."
"Inok, Raka, salam kenal."
"Kamu tinggal di mana, Nok?"
"Itu, di depan sekolah."
"Hah, deket dong!"
"Oke kami duluan dulu ya, Nok. Jangan lupa besok libur, kumpul di lapang."
"Ya."
"Eh Raka, tumben kamu ngaji semalam?"
"Eh iya sih, udah lama. Mau ku ceritakan nggak kenapa sebenarnya dulu aku sering PMO?"
"Hah, PMO itu apa?"
"Ya gampangnya aja, suka lihat video porno."
"Apa? Gak nyangka aku, Raka. Sekarang aku udah tobat dan program berhenti dari PMO sudah 101 hari."
"Oke, sama sih."
"Kau PMO juga?"
"Ya enggak lah, maksudnya gue juga lagi tobat."
"Dari apa?"
"Dari dosa membohongi orang tua."
"Eh sudah sampai, duluan dulu ya Leh, nanti Jumatan."
"Iya."
Sementara itu di jalan Raka bergumam, "PMO itu candu. Banyak yang nggak sadar bahayanya."
> *Catatan: PMO adalah singkatan dari Pornography, Masturbation, Orgasm - yaitu siklus kebiasaan buruk yang bisa merusak fokus, kesehatan, dan mental jika jadi candu.*
*JUMATAN DI MASJID KONOHA*
"Bu, aku pulang! Assalamualaikum!"
"Soleh, Ibu belanja dulu, kalau mau makan ada di dapur ya."
Teng! Ada pesan.
"Oy Leh, gue murid baru, save ya. Jumatan."
"Inok, siap."
"Oke Bu, berangkat dulu ya."
"Hati-hati."
"Ke masjid mana kita?"
"Ke masjid Konoha saja."
"Sampai, rumahnya besar juga si Inok."
"Nok! Inok!"
"Iya tunggu!"
Akhirnya sampai di masjid.
"Assalamualaikum para jamaah, kita akan melaksanakan sholat Jumat. Saat khutbah jangan mengobrol dan harap matikan HP kalian."
Khutbah dimulai.
_"Jangan biarkan dirimu hanyut oleh perkataan manusia. Kembalikan hatimu kepada Allah. Barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya. (QS. At-Talaq: 3)"_
Khatib membahas tentang cara terhindar dari fitnah Dajjal:
1. Memohon perlindungan kepada Allah
2. Menghafal 10 ayat pertama Al-Kahfi
3. Menjauhi tempat fitnah
4. Doa agar istiqomah
_"Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."_
"Sudah selesai, ceramah yang sangat berguna. Pulang yuk!"
"Tapi itu ada yang bagi-bagi Jumat Berkah."
"Gas ambil!"
"Terima kasih, Pak!"
"Rumahku sudah dekat, gue pergi dulu ya. Hati-hati Leh, Ka!"
"Nanti kumpul di lapang."
*LANJUTAN - DI JALAN PULANG*
"Soleh, bagaimana cara agar terhindar dari PMO ya?"
"Yo nggak tau."
"Tapi jangan bicarakan ini kepada siapapun ya."
"Oke."
"Dah sampai, untung rumahku dekat. Duluan, Soleh."
"Yo."
"Kenapa dia cerita, katanya jangan diceritain ke siapapun."
"Hei, bocah tengik! Din, Udin!"
"Wasap, ketemu lagi kita. Lagi-lagi kau sendiri, nggak ada temen kau?"
"Bacot Din. Gue nggak mau ribut sama lu lagi."
"Cih, Udin orang aneh."
Klek.
"Assalamualaikum!"
"Waalaikumsalam, udah pulang? Gimana, dapat apa Jumatan nya?"
"Oh, dapat ini Bu. Ayam."
"Oke, nanti Ibu masak buat sore ya."
"Oke Bu, aku ke lapangan dulu ya."
"Ganti dulu bajunya."
Oke sudah Bu
Cepat nya
"Siap. Main dulu ya Bu!"
"Hati-hati."
"Lah, di lapangan nggak ada siapa-siapa, ke pos aja lah."
*BERSAMBUNG...*
---