Ayu 14 tahun datang cuma bawa tas sekolah dan surat kematian orang tuanya. Rahman 26 tahun waktu itu lagi merintis bengkel, tiba-tiba dipanggil Ibu: "Mulai hari ini kamu punya adik."
Rahman nggak jago jadi kakak. Dia cuma tahu caranya nungguin Ayu pulang les sampai maghrib, marahin kalau Ayu lupa makan, dan diam-diam nabung buat kuliah Ayu.
Sekarang.
Ayu 24 tahun, sudah kerja di Malang, sudah bisa bayar kos sendiri tapi tetap pulang tiap minggu. Rahman 36 tahun, semua perjodohan dari Ibu selalu dia tolak halus. Alasannya sama: "Aku belum selesai jaga Ayu, Bu."
Sampai Ibu sakit tipes kemarin. Di ruang tamu, Ibu bilang pelan, "Kalau Ibu kenapa-kenapa, siapa yang jaga Ayu? Rahman, nikahi saja adikmu. Ibu tenang."
Ruangan itu langsung sepi. Ayu yang biasanya manggil "Mas Rahman" cuma bisa nunduk. Rahman yang biasanya paling lantang, untuk pertama kalinya nggak bisa jawab.
Malamnya, bukan lamaran yang terjadi. Rahman malah ngajak Ayu ngobrol di teras, bukan sebagai kakak-adik.
"Yu, kamu anggap Mas apa selama ini?"
Ayu jawab jujur, "Dulu pelindung. Sekarang... aku nggak tahu. Aku nyaman, tapi aku takut nyaman itu karena aku hutang budi."
Rahman ngangguk. "Mas juga. Kalau Mas nikahin kamu karena disuruh Ibu, Mas ngerasa ngambil kesempatan dari anak 14 tahun yang dulu Mas gendong pas dia demam. Mas nggak mau itu."
Mereka sepakat minta waktu. Bukan langsung nikah. 3 bulan nggak tinggal serumah. Ayu tetap di kosnya, Rahman tetap di rumah. Ketemu sebagai Rahman dan Ayu, bukan Mas dan Adik. Dari situ baru kelihatan, rasa aman itu ternyata pelan-pelan berubah jadi rasa ingin pulang ke orang yang sama.
Oke, lanjut setelah malam di teras itu. Ini bagian paling penting, di mana Rahman berhenti jadi "Mas" dan mulai jadi laki-laki yang serius.
Lanjutan - Rahman Serius Sama Ayu
3 bulan mereka beneran jaga jarak. Ayu di kos daerah Lowokwaru, Rahman di rumah Sukun. Nggak serumah lagi.
Seriusnya Rahman kelihatan bukan dari kata-kata manis, tapi dari dia yang berhenti ngatur.
Dulu kalau Ayu pulang malem, Rahman langsung tanya "Dari mana, sama siapa?" Sekarang dia cuma chat: "Yu, kalau masih di luar, kabarin ya. Mas khawatir, bukan ngelarang."
Dulu Rahman selalu mutusin buat Ayu. Sekarang tiap minggu dia datang ke kos Ayu, cuma duduk di warung kopi depan kos, nggak masuk kamar. Dia cerita bengkelnya lagi dia rapikan, dia lagi nabung bukan buat pesta, tapi buat rumah kecil kalau Ayu nanti mau.
Puncaknya hari Minggu sore di Alun-alun Malang.
Rahman nggak bawa Ibu. Dia datang sendiri.
"Yu, 10 tahun Mas jadi kakak kamu. Itu peran paling gampang. Sekarang Mas mau coba peran yang paling susah, jadi orang yang Ayu pilih, bukan yang Ayu terpaksa terima."
"Mas mau ngelamar kamu, tapi bukan ke Ibu. Ke kamu dulu. Kalau kamu bilang belum, Mas tunggu. Kalau kamu bilang nggak, Mas tetap jadi kakak kamu sampai kapanpun. Nggak ada hutang budi di sini."
Ayu nangis di situ. Baru pertama kalinya dia ngerasa posisinya setara. Bukan anak pungut yang harus balas budi, tapi perempuan 24 tahun yang ditanya mau atau nggak.
Jawaban Ayu bukan langsung iya. Dia bilang, "Mas, ajak aku ketemu Ibu Bapak lagi. Tapi kali ini aku datang bukan sebagai adik angkat Mas. Aku datang sebagai Ayu."
Minggu depannya, Rahman datang resmi ke rumah orang tuanya sendiri, bawa Ayu. Bukan bawa adiknya, tapi bawa calonnya. Dia ngomong ke Bapak Ibu: "Pak, Bu, aku mau menikahi Ayu bukan karena kasihan, tapi karena aku mau seumur hidup pulang ke orang yang sama."Itu bagian paling canggungnya. Yang bikin Ayu salting bukan kata-katanya, tapi arti kata itu yang udah ganti.
Lanjutin ya adegan itu —
"Tapi mas?"
"Khmm?"
Rahman langsung berhenti ngelap gelas. Dia tau nada itu. Nada Ayu kalau mau ngomong tapi takut salah.
Ayu duduk di ujung kursi teras, jilbabnya dirapiin terus. Dari dulu manggilnya Kakak, kalau lagi manja manggil Abang. Sekarang disuruh manggil Mas. Mas yang beda.
"Tapi mas... kalau nanti Ayu manggil Mas, Mas yang mana?" suaranya kecil. "Mas yang nyuruh Ayu belajar dulu? Atau Mas yang... sekarang?"
Rahman ketawa pelan. Bukan ngetawain.
"Mas yang mana aja tetep Mas yang sama, Yu. Yang dulu ngomelin kamu gara-gara nggak makan, sama yang sekarang nungguin jawaban kamu di alun-alun kemarin, orangnya sama."
Dia geser gelas teh anget ke depan Ayu, biar nggak terlalu dekat.
"Ayu canggung ya?"
Ayu ngangguk cepet. Mukanya merah.
"Ya canggung lah mas. Dulu Ayu kalau manggil Abang tuh minta uang jajan. Sekarang manggil Mas... Ayu malu."
Rahman ngerti. Dia nggak maksa Ayu langsung mesra.
"Ya udah. Kalau masih canggung, panggil Abang aja dulu. Nggak apa. Mas nggak akan marah."
"Abang kan udah selesai tugasnya jagain adik. Sekarang biar Mas yang belajar tugas baru, jagain Ayu sebagai perempuan yang Mas pilih. Jadi panggilnya pelan-pelan aja, sampai Ayu ngerasa Mas ini bukan lagi kakak Ayu."
Ayu diem lama. Terus dia coba lagi, pelan banget.
"Mas... nanti kalau Ayu salah masak?"
Rahman langsung jawab, "Ya Mas yang makan duluan."
Ayu akhirnya ketawa. Baru di situ panggilan "Mas" nya keluar nggak gemeter lagi.
Itu pertama kalinya Ayu manggil Mas bukan karena disuruh Ibu, tapi karena dia mau.
Lanjut adegan yang bikin Ibu nangis itu.
---
Sore itu di rumah Sukun. Ibu lagi ngulek sambal di dapur, Bapak nonton TV. Ayu bantuin iris-iris.
Rahman baru pulang dari bengkel, tangannya masih ada oli.
Refleks, Ayu hampir kepleset kayak dulu.
"Kak, tolong ambilin — eh..."
Semua di dapur diem.
Ayu langsung merah. 10 tahun manggil Kakak, Abang. Lidahnya masih kesangkut.
Rahman yang di pintu cuma senyum. Dia nggak ngebenerin di depan orang tua, dia nunggu Ayu sendiri yang benerin.
Ayu tarik napas.
"Mas... tolong ambilin piringnya."
Satu kata itu.
Ibu yang lagi ngulek berhenti. Bapak yang nonton TV ngecilin volumenya.
Rahman jalan pelan, ambil piring itu, terus ditaruh depan Ayu. Bukan dilempar kayak dulu waktu masih jadi kakak yang nyuruh adiknya cuci piring. Ditaruh pelan.
"Makasih, Mas," Ayu pelan banget, tapi jelas.
Ibu tiba-tiba balik badan, pura-pura ngelap mata pakai ujung celemeknya.
Bapak cuma bilang, "Wes. Pantas."
Malam itu setelah maghrib, Bapak manggil mereka berdua di ruang tengah. Nggak ada lamaran mewah. Cuma teh, gorengan, dan Bapak yang ngomong to the point.
"Rahman, Bapak titip Ayu bukan sebagai adikmu lagi. Sebagai anak perempuan Bapak yang satu-satunya. Kamu jaga bukan karena kasihan, tapi karena kamu pilih."
Terus Bapak lihat Ayu.
"Yu, Bapak sama Ibu ngangkat kamu dulu karena kamu nggak punya siapa-siapa. Sekarang kalau kamu mau nikah sama Rahman, kamu harus mau karena kamu punya pilihan. Bukan karena kamu nggak punya pilihan lain. Kamu paham?"
Ayu nangis. Baru di situ dia ngerasa beneran jadi anak, bukan anak angkat.
"Paham, Pak. Ayu mau, karena Ayu mau pulang ke Mas Rahman. Bukan karena Ayu disuruh."
Seminggu setelah itu akadnya cuma di rumah. Nggak di gedung. Penghulunya tetangga sendiri.
Pas ijab, Rahman yang biasanya tangan nya kuat buka baut motor, tangannya gemeter.
Ayu yang duduk di balik tirai, pas denger Rahman bilang "Saya terima nikahnya", dia yang tadinya manggil Kakak, Abang, Mas dengan canggung, pertama kalinya manggil dengan lega di dalam hati.
Malam pertama jadi suami istri nggak ada yang heboh. Mereka cuma duduk lagi di teras yang sama kayak malam canggung itu.
Ayu masih manggil, "Mas..."
Rahman jawab, "Khmm?"
"Tehnya kurang gula nggak?"
Rahman ketawa. "Pas. Kayak 10 tahun lalu kamu bikinin buat Kakakmu, pas juga sekarang buat suamimu."
Ayu nyender pelan ke kursi, bukan ke Rahman. Masih jaga jarak. Tapi udah nggak takut lagi salah manggil.
Nah ini bagian paling saltingnya. Yang bikin canggung bukan kamarnya, tapi kamarnya masih sama, orangnya masih sama, tapi statusnya udah beda.
Malam-malam setelah akad, rumah di Sukun itu sepi. Ibu Bapak udah tidur di kamar depan.
Dulu kalau Ayu takut, dia ketok pintu kamar Rahman: "Kak, Ayu takut, boleh tidur di sini?"
Sekarang pintu yang dia ketok itu pintu kamarnya sendiri juga.
Di dalam kamar, Rahman udah gelar kasur. Dia sengaja masih pakai sarung, duduk di pinggir, nggak di tengah. Ayu masuk pakai baju tidur panjang yang paling sopan yang dia punya, rambut masih agak basah habis wudhu.
Hening.
Ayu: "Mas..."
Rahman: "Khmm?"
Ayu: "Ayu tidur sebelah mana?"
Padahal 10 tahun dia tau persis sebelah mana. Dulu kalau demam, Rahman yang ambilin kompres di sebelah itu. Sekarang dia nanya lagi, karena dulu sebelah itu posisi adik, sekarang posisi istri.
Rahman geser bantalnya.
"Kamu di sini aja, Yu. Yang dekat lampu. Kalau silau Mas yang matiin."
Ayu baring, kaku banget. Selimutnya ditarik sampai dagu. Rahman baringnya masih ngadep tembok, sengaja ngasih punggung. Bukan karena nggak mau, tapi karena dia tau Ayu masih salting.
Lima menit diem. Sepuluh menit diem. Cuma suara kipas angin.
Terus Ayu nyeletuk pelan,
"Mas, dulu Ayu kalau mimpi buruk langsung manggil Abang. Sekarang kalau mimpi buruk manggil apa?"
Rahman balik badan pelan.
"Ya panggil Mas juga. Bedanya, sekarang Mas boleh nggak cuma bilang 'udah tidur lagi', tapi boleh temenin sampai mimpi buruknya hilang."
Ayu ketawa kecil, terus nangis kecil. Bukan nangis sedih.
"Salting tau, Mas. Tangan Ayu dingin terus."
Rahman nggak langsung pegang. Dia buka telapak tangannya di tengah, di antara mereka.
"Kalau dingin, taruh sini aja dulu. Nggak usah digenggam kalau belum mau."
Ayu pelan-pelan naruh ujung jarinya aja di telapak Rahman. Nggak digenggam. Cuma nempel.
Dan malam itu mereka nggak langsung jadi suami istri yang gimana-gimana. Mereka jadi dua orang yang ngobrol sampai jam 1 pagi, tentang besok masak apa, tentang bengkel yang mau dikasih nama apa, tentang Ayu yang masih keceplosan mau manggil Kakak.
Sampai akhirnya Ayu ketiduran duluan, dengan ujung jari masih nempel di telapak Rahman. Rahman yang matiin lampu.
Saltingnya masih ada. Tapi salting yang aman. Karena yang bikin Ayu salting bukan takut, tapi karena akhirnya dia ngerasa dipanggil Mas bukan sebagai adik yang dijaga, tapi sebagai perempuan yang dipilih.
Pagi pertamanya yang paling kocak.
Ayu bangun jam 5, reflex 10 tahun. Langsung ke dapur, bikin teh, goreng telur, persis kayak dulu kalau Rahman mau ke bengkel pagi.
Bedanya, dulu dia teriak dari dapur,
"Kak! Sarapannya udah!"
Pagi itu mulutnya kepleset lagi.
"Kak, sarap —"
Langsung diem. Sendok di tangannya jatuh ke wajan.
Rahman yang baru keluar kamar mandi, rambut masih basah, pakai kaos oblong, denger itu. Dia berhenti di pintu dapur.
Ayu langsung merah, nunduk.
"Maaf, Mas... kepleset."
Rahman jalan pelan, ambil sendok itu, cuciin.
"Iya, istriku. Sarapannya udah. Makasih ya."
Satu kata itu — istriku — bikin Ayu salting seharian. Bukan Kakak manggil adiknya, tapi suami manggil istrinya.
Di meja makan, Ibu liat mereka berdua duduknya masih ada jarak satu kursi. Ibu senyum-senyum aja.
"Ayu, nanti kalau Rahman ngomel masalah oli, jangan dipanggil Kakak lagi. Panggil Mas, biar dia nggak ngerasa lagi ngomelin adiknya."
Ayu makin salting, Rahman malah ngakak.
Siangnya Rahman ke bengkel, Ayu berangkat kerja. Pas pamit, biasanya Ayu salim kayak ke kakak. Pagi itu Rahman tahan tangannya pelan.
"Salimnya sekarang di sini, Yu."
Dia tunjuk keningnya. Ayu salim, keningnya nempel sebentar di tangan Rahman. Tangan Ayu gemeter.
Sepanjang hari di tempat kerja, Ayu senyum-senyum sendiri tiap inget kata istriku tadi.
Malamnya, pas Rahman pulang, Ayu udah nggak nanya "Tidur sebelah mana?" lagi. Dia udah tau sebelahnya. Tapi masih dengan ritual yang sama — taruh ujung jari dulu di telapak Rahman, baru pelan-pelan digenggam kalau udah nggak dingin lagi.
Rahman nggak pernah narik. Dia nunggu Ayu yang genggam duluan.
Itu yang bikin Ayu pelan-pelan berani. Dari yang manggilnya kepleset Kakak, jadi Mas yang malu-malu, jadi Mas yang sekarang kalau manggil udah nggak gemeter lagi.
Hari itu Ayu izin nggak masuk kerja.
Udah 3 tahun dia nggak ke Blitar. Makam Bapak Ibunya di pemakaman umum di daerah Srengat, Blitar. Dari Malang naik motor 2 jam lebih.
Pagi-pagi Rahman udah panasin motor, bawa jas hujan dua, air bunga mawar di botol Aqua bekas, sama tisu basah.
Ayu masih pakai kerudung hitam polos. Di jalan dia nggak banyak ngomong. Tangannya meluk tas di depan, bukan meluk Rahman. Masih salting kalau harus pegangan di motor sekarang statusnya beda.
Rahman ngerti. Dia nggak ngebut.
Sampai di makam, rumputnya udah agak tinggi. Ayu jongkok, bersihin pelan-pelan pakai tangannya sendiri. Rahman nggak langsung bantu. Dia berdiri agak di belakang, ngasih Ayu waktu sendiri.
Ayu gelar tiker kecil, taruh bunga.
"Pak, Bu... Ayu datang."
Suaranya langsung pecah.
"Maaf lama nggak kesini, Yu nggak enak kalau kesini sendiri. Dulu Ayu cuma adik angkat orang, Pak, Bu. Sekarang..."
Dia noleh ke belakang, lihat Rahman yang berdiri agak jauh, nunduk sopan.
"Pak, Bu, ini Mas Rahman. Yang dulu Ayu panggil Kakak, Abang. Sekarang suami Ayu."
Rahman maju pelan, jongkok di sebelah Ayu, tapi nggak terlalu dekat. Dia ikut nyiram air bunga ke dua makam itu.
"Pak, Bu, saya Rahman. Titip Ayu ya ke saya. Saya janji jaga Ayu bukan cuma sebagai adik yang dulu Bapak Ibu tinggalkan, tapi sebagai istri saya. Kalau Ayu kangen, saya antarkan lagi kesini."
Ayu nangis di situ. Bukan nangis sedih kayak 10 tahun lalu pas ditinggal. Nangis lega. Karena untuk pertama kalinya dia datang ke makam Bapak Ibunya bukan sebagai anak yatim yang sendirian, tapi dianter suaminya.
Rahman nggak banyak ngomong. Dia cuma buka tisu, kasih ke Ayu, terus duduk di sebelah, nungguin Ayu selesai doa. Sesekali dia ikut usap batu nisan yang lumutnya tebal.
Pas selesai, Ayu bisik lagi ke makam,
"Pak, Bu, Ayu udah nggak manggil dia Kakak lagi. Ayu manggil Mas sekarang. Dan Ayu nggak salting lagi kalau manggilnya."
Di perjalanan pulang Malang-Blitar, Ayu yang tadinya pegangan tas, pelan-pelan pegangannya pindah ke jaket Rahman. Nggak meluk, cuma pegang ujung jaketnya biar nggak jatuh.
Rahman ngerasa itu dari spion. Dia senyum di balik helm.
"Yu, kalau capek sandaran aja."
Ayu jawab pelan, masih dengan suara habis nangis,
"Iya, Mas."
Dan untuk pertama kalinya, kata Mas itu keluar di jalan, di atas motor, bukan karena canggung, tapi karena dia mau.
Pulang dari makam, hujan turun tipis di Kademangan.
Rahman nggak langsung tancap gas ke Malang. Dia belokin motor ke warung pecel lesehan pinggir sawah, yang atapnya dari terpal biru. Warung yang dulu Ayu bilang, "Dulu Bapak sering ajak Ayu makan di sini habis dari sawah, Mas."
Mereka duduk lesehan, pesan dua pecel, teh hangat dua. Sendal jepit Rahman basah, kerudung Ayu agak lepek kena hujan.
Baru suapan kedua, Ayu diem. Terus dia mulai cerita. Cerita yang 10 tahun dia simpen sendiri, nggak pernah diceritain ke Ibu angkatnya, nggak pernah ke Rahman waktu masih jadi Kakak.
"Dulu Bapak Ayu bukan orang kaya, Mas. Buruh tani. Kalau pulang dari sawah, tangannya masih bau lumpur, tapi selalu bawa gorengan satu buat Ayu. Disimpen di saku celananya, sampai penyet."
"Ibu Ayu jualan jamu gendong. Tiap Ayu demam, Ibu nggak punya uang ke dokter, Ibu cuma tempel daun jambu di jidat Ayu sambil bacain sholawat semalaman."
Ayu senyum, matanya berkaca-kaca lagi tapi beda sama di makam tadi. Ini senyum kangen.
"Waktu Bapak Ibu kecelakaan itu, Ayu umur 14, Ayu inget banget tetangga bilang 'Ayu jadi anak yatim, kasihan'. Ayu takut dipanggil kasihan terus, Mas. Makanya pas diangkat sama Ibu Bapakmu, Ayu nggak pernah cerita tentang Bapak Ibu asli Ayu. Ayu takut kalau Ayu cerita, orang mikir Ayu nggak bersyukur."
Rahman berhenti makan. Dia dengerin, nggak motong.
"Padahal Ayu kangen dipanggil kasihan sama Bapak Ibu Ayu sendiri."
Rahman geser piringnya, terus geser duduknya agak dekat, tapi masih jaga jarak. Dia nggak meluk, dia cuma taruh sendoknya.
"Yu, kamu boleh kangen dua-duanya. Boleh sayang Ibu Bapak di Malang yang ngerawat kamu 10 tahun, boleh juga kangen Bapak Ibu di Blitar yang ngelahirin kamu. Nggak ada yang harus kamu pilih."
Ayu lihat Rahman. Baru kali ini dia ngerasa ada orang yang nggak nyuruh dia jadi adik yang kuat, atau jadi istri yang harus tegar. Cuma nyuruh jadi Ayu.
"Mas, kalau nanti kita punya anak..."
Ayu kepleset lagi, langsung salting, mukanya merah padam lihat sawah.
"Eh, maksud Ayu... kalau..."
Rahman pura-pura batuk biar Ayu nggak makin salting, tapi kupingnya juga merah.
"Kalau nanti kita punya rezeki anak, kita ceritain ya tentang Mbah-Mbahnya yang di Blitar sama yang di Malang. Biar dia tau dia punya dua rumah."
Ayu ngangguk, suapan pecelnya berhenti di mulut. Teh hangatnya dia pegang pakai dua tangan biar anget.
Hujan masih turun tipis. Di warung pecel pinggir sawah Blitar itu, untuk pertama kalinya Ayu nggak ngerasa jadi anak angkat yang numpang, atau istri baru yang canggung.
Dia ngerasa jadi Ayu aja. Yang ditemenin Mas Rahman pulang.
Sampai Malang udah jam 9 malem. Udara Malang dingin, lampu teras rumah Sukun masih nyala.
Ibu duduk di kursi kayu depan, pakai sarung, nungguin. Bapak udah ngantuk di dalam tapi TV masih nyala.
Motor Rahman masuk pelan-pelan. Ayu turun duluan, helmnya masih dipegang Rahman.
Ibu langsung berdiri.
"Piye, Yu? Ziarahnya? Lancar? Makam Bapak Ibumu piye?"
10 tahun Ibu nanya itu. Dulu tiap Ayu pulang dari Blitar sendiri, Ibu nanyanya gini: "Piye adikku, capek ya?" Sebagai Ibu angkat.
Malam itu Ibu nanyanya beda. Nada nya bukan ke anak angkatnya. Nada nya ke mantunya.
Ayu jongkok depan Ibu, taruh botol kosong bekas bunga tadi di lantai teras. Tangannya masih dingin.
"Lancar, Bu. Makamnya bersih, Ayu udah siram. Ayu ceritain tadi... Ayu bilang ke Bapak Ibu Ayu di Blitar kalau Ayu sekarang..."
Ayu ngelirik Rahman yang lagi parkir motor, helmnya ditaruh.
"...kalau Ayu sekarang dianter Mas Rahman terus."
Ibu langsung peluk Ayu. Peluk yang beda sama pelukan 10 tahun lalu waktu pertama kali Ayu datang bawa tas sekolah. Dulu pelukan Ibu tuh pelukan kasihan. Malam itu pelukan Ibu tuh pelukan lega.
"Loh, ya Alhamdulillah to, Yu. Bapak Ibumu pasti seneng lihat kamu dianter suamimu."
Kata suamimu itu yang bikin Ayu pecah lagi. Dari tadi di makam Blitar dia nangis sebagai anak, di warung pecel dia nangis sebagai Ayu, di teras itu dia nangis sebagai istri.
Dia manggil, tapi kali ini nggak kepleset.
"Bu... makasih ya udah ngerawat Ayu dari umur 14. Makasih udah ngasih Mas Rahman ke Ayu."
Ibu nangis beneran sekarang. Bapak yang dari dalam denger, keluar pakai sarung juga.
"Wes, wes, masuk dulu. Tehnya Ibu bikinin. Kalian kehujanan ya?"
Di dalam, Rahman duduk di lantai, Ayu duduk di sebelahnya, tapi sekarang nggak ada jarak satu kursi lagi. Deket. Ibu tuangin teh.
Bapak lihat mereka berdua, terus bilang pelan ke Rahman,
"Man, kamu tadi di makam doa apa?"
Rahman jawab jujur,
"Aku doa, Pak. Kalau dulu Bapak titip Ayu ke Bapak Ibu, sekarang Bapak Ibunya Ayu yang di Blitar titip Ayu ke aku. Aku janji nggak akan bikin Ayu ngerasa jadi anak titipan lagi."
Ayu denger itu, tangannya yang dari tadi dingin, pelan-pelan masukin tangannya ke bawah meja, nyari telapak Rahman yang tadi di warung pecel cuma ditempel ujung jarinya.
Malam itu dia genggam duluan. Nggak cuma ujung jari.
Digenggam beneran.
Ibu lihat dari dapur, pura-pura nggak lihat, sambil senyum sambil ngaduk gula.
Besok paginya jam 5 lagi.
Ayu bangun, tapi nggak langsung lari ke dapur.
Dia lihat Rahman masih tidur, napasnya pelan. Untuk pertama kalinya kamar itu nggak bikin dia salting. Selimut yang semalem dia tarik sampai dagu, sekarang ada di dada aja.
Dia pelan-pelan keluar, ke dapur. Ibu udah di sana, lagi ngulek bumbu.
Dulu 10 tahun, tiap pagi Ayu pasti bilang, "Bu, Ayu bantu apa?" dengan nada anak angkat yang nggak enak kalau nggak bantu.
Pagi itu Ayu bilang sama, tapi nadanya beda.
"Bu, Ayu bantu apa?"
Ibu noleh, senyum.
"Loh, menantu Ibu kok tanya gitu. Ya sini, bantu Ibu ngulek. Biar Mas Rahman sarapannya pedes, biar semangat ke bengkel."
Kata menantu Ibu itu yang bikin Ayu diem sebentar. Dulu dia takut dipanggil menantu tuh kayak orang luar. Pagi itu dipanggil menantu kok rasanya kayak dipanggil anak beneran.
Ayu jongkok sebelah Ibu, ngulek bareng. Tangannya masih belum jago, bumbunya loncat-loncat.
Ibu ketawa, "Loh, Yu, ngulek aja masih kayak dulu waktu umur 14 kamu ngulek pertama kali."
Ayu ketawa juga. "Iya Bu, Ayu kan belajarnya dari Ibu terus."
Terus Ayu pelan bilang,
"Bu, makasih ya. Dulu Ibu ngangkat Ayu sebagai adiknya Mas Rahman. Sekarang Ibu ngasih Ayu sebagai istrinya Mas Rahman. Ayu nggak pernah ngerasa jadi titipan lagi."
Ibu berhenti ngulek. Matanya berkaca-kaca tapi nggak nangis kayak semalem. Dia usap punggung Ayu.
"Yu, kamu itu dari dulu bukan titipan. Kamu itu jawaban. Waktu Rahman 26 tahun belum nikah-nikah, Ibu doa minta ditemenin anak perempuan di rumah. Allah ngirim kamu. Ibu rawat kamu sebagai adiknya Rahman, karena cuma itu cara Ibu yang Ibu tau waktu itu. Sekarang Ibu rawat kamu sebagai anak Ibu sendiri, sebagai istrinya Rahman, karena itu cara Ibu yang Ibu tau sekarang."
Pas itu Rahman keluar kamar mandi, lihat mereka berdua di dapur. Dia nggak ngomong apa-apa. Dia cuma sandaran di pintu dapur, lihat Ayu yang dulu diajarin ngulek, sekarang ngulek bareng Ibunya sebagai istri.
Rahman bilang pelan,
"Yu, sarapannya nanti aja. Mas mau ke bengkel dulu. Salimnya mana?"
Ayu berdiri, masih bau bawang di tangannya, salim ke Ibu dulu, baru ke Rahman. Dulu salimnya ke Kakak itu buru-buru. Pagi itu salimnya lama. Keningnya nempel di punggung tangan Rahman agak lama.
Rahman bisik pelan biar cuma Ayu yang denger,
"Mas berangkat ya, istriku."
Ayu yang semalem udah berani genggam tangan di bawah meja, pagi itu berani jawab pelan, tapi jelas,
"Iya, Mas. Hati-hati."
Ibu di belakang pura-pura nggak denger, padahal senyumnya sampai ke telinga. Bapak dari ruang tengah teriak,
"Wes, wes, sarapannya keburu dingin! Menantu sama anak mantu ini mesra terus!"
Dan untuk pertama kalinya, kata menantu dan anak mantu itu nggak bikin Ayu canggung. Malah bikin dia ngerasa pulang.
Sekarang rutinitasnya ganti total.
Jam 7 pagi, motor Rahman udah nyala depan rumah. Ayu masih kerja di JNE Express cabang Blimbing, Malang. Dulu waktu masih jadi adik, Rahman cuma bilang "Hati-hati ya Dik, di jalan."
Sekarang tiap pagi dia yang nganter, tiap sore dia yang jemput. Jadi tukang ojek pribadinya Ayu.
Pagi ini Ayu buru-buru, seragam JNE kuningnya belum disetrika rapi, jilbabnya agak miring.
"Mas, cepet Mas, absen Ayu jam 8!"
Rahman yang lagi lap helm Ayu, helm yang dulu cuma helm sisa, sekarang helm baru yang dia beliin khusus buat Ayu, warnanya kuning juga biar matching sama seragam JNE.
"Ya ya, istriku yang semangat kerja ini, helmnya pakai dulu. Jangan kepleset lagi manggil Kakak di depan customer loh ya."
Ayu ngakak sambil naik motor. Sekarang kalau dibonceng, dia udah nggak pegang tas lagi. Pegangannya udah pindah ke pinggang jaket Rahman. Nggak meluk erat, cuma pegang, tapi Rahman tau itu pegangan istri, bukan pegangan adik.
Sampai depan JNE, satpam udah hafal.
"Pagi Mbak Ayu, dianter Mas Rahman lagi ya?"
Ayu salting tiap ditanya gitu. Dulu satpam manggil "Adiknya Mas Rahman ya Mbak?" Sekarang manggil "Istrinya."
Ayu turun, benerin seragam.
"Mas, pulang Ayu jam 5 ya. Kalau JNE rame bisa jam setengah 6."
Rahman angguk, "Iya. Mas di bengkel aja. Nanti jam 5 Mas udah di sini. Kalau Ayu belum keluar, Mas tunggu di warung kopi depan."
Dan beneran, tiap sore jam 5 teng, motor Rahman udah parkir di depan JNE】. Kadang bawa gorengan, kadang bawa teh pucuk dingin.
Karyawan JNE lain udah hafal. "Wah, suaminya Mbak Ayu setia banget jemput terus."
Ayu yang dulu waktu jadi adik angkat nggak enak kalau ngerepotin Kakaknya, sekarang kalau pulang kerja capek, langsung sandaran kepalanya di punggung Rahman di motor.
Di lampu merah Sawojajar, Ayu ngomong pelan di balik helm,
"Mas, makasih ya udah anter jemput terus. Padahal bengkel Mas juga rame."
Rahman jawab tanpa noleh,
"Loh, dulu Mas nganterin adiknya sekolah biar pinter. Sekarang Mas nganterin istrinya kerja biar dia tetep bisa jadi Ayu, bukan cuma jadi istrinya Rahman. Beda tugasnya, Yu."
Sampai rumah, Ibu udah nungguin di teras.
"Wes, paket JNE-nya pulang dianter kurir pribadinya."
Ayu turun, helmnya dilepasin Rahman. Rambutnya lepek, mukanya capek, tapi senyum.
Sekarang Ayu nggak bingung lagi kalau ditanya orang, "Kerja di mana Mbak?" Dia jawab, "Di JNE, Mas. Suami saya yang antar jemput."
Kata suami saya itu yang dulu bikin salting, sekarang bikin bangga.
Gajian pertama setelah nikah.
Ayu gajian JNE tanggal 1. Biasanya dulu pas masih jadi adik, gajinya langsung dia kasih ke Ibu, "Bu, buat belanja." Sekarang pas udah jadi istri, dia bagi dua. Setengah buat Ibu, setengah dia simpen di amplop coklat kecil.
Pulangnya nggak langsung dijemput Rahman. Ayu bilang di WA, "Mas, Ayu pulang agak telat ya, ada urusan."
Rahman di bengkel udah mikir macem-macem, takut JNE lembur berat. Jam setengah 6 dia udah nunggu di depan JNE, bolak-balik.
Jam 6 Ayu keluar, bawa kantong plastik Matahari. Mukanya capek tapi senyumnya ditahan-tahan.
Di motor, Rahman nanya, "Tas apa Yu? Paket retur?"
Ayu cuma bilang, "Bukan. Nanti di rumah aja bukanya."
Sampai rumah, Ibu sama Bapak lagi nonton TV. Ayu tarik Rahman ke kamar. Pintu dikunci — pertama kalinya kamar mereka dikunci bukan karena salting, tapi karena Ayu mau surprise.
Dia buka plastiknya. Isinya kemeja kerja warna biru dongker, bahan tebal, kantong dua di depan. Kemeja bengkel yang bagus, bukan kaos oblong yang udah buluk yang biasa Rahman pakai.
"Mas, ini buat Mas."
Rahman diem. Dia pegang kemejanya. 36 tahun hidup, dibeliin baju sama Ibu udah biasa. Dibeliin baju sama adiknya dulu pernah, pas Ayu SMP pakai uang THR, beliin kaos 35 ribuan di pasar.
Tapi dibeliin baju sama istrinya, yang dulu adiknya, itu pertama kali.
"Yu... ngapain boros-boros..."
Ayu langsung potong, masih pakai logat JNE kalau lagi ngejelasin ke customer,
"Ngapain boros gimana? Ayu kan istrinya Mas. Masa suami Ayu ke bengkel pakai kaos sobek terus. Nanti pelanggan mikir bengkel Mas nggak laku. Ini Ayu beli pakai gajian Ayu sendiri, bukan minta Ibu."
Rahman coba kemejanya di depan cermin lemari yang retak. Pas. Lengannya pas, kantongnya pas buat naruh obeng kecil.
Ayu bantuin ngerapihin kerahnya dari belakang. Tangannya agak gemeter, karena dulu kalau benerin kerah Kakaknya itu biasa, sekarang benerin kerah suaminya rasanya beda.
"Gimana Mas? Pas?"
Rahman lihat ke cermin, lihat Ayu di belakangnya.
"Pas, Yu. Pas banget. Mas jadi kayak... bapak-bapak yang beneran punya istri yang perhatian."
Ayu salting, mukul pelan punggung Rahman.
"Apaan sih Mas, bapak-bapak terus."
Malam itu Rahman nggak ganti baju lagi. Kemeja biru dongker itu dia pakai sampai malem, padahal di dalam rumah. Ibu lihat dari dapur, langsung godain,
"Wah, kemeja baru? Dibeliin istrinya ya Man? Pantas nggak dilepas-lepas. Beda ya dibeliin adik sama dibeliin istri?"
Rahman cuma garuk kepala, kupingnya merah. Ayu yang di dapur lagi cuci piring, teriak dari dalam,
"Bu, bilangin Mas jangan dipakai tidur kemejanya, nanti kusut!"
Dan untuk pertama kalinya, di rumah itu ada suara istri yang ngomelin suami, bukan suara kakak yang ngomelin adik.
Malam itu juga, ruang tamu jadi panggung godaan.
Rahman masih pakai kemeja biru dongker barunya. Nggak mau dilepas. Ayu udah ganti daster, rambutnya diiket, lagi lipet baju di lantai.
Ibu duduk di karpet sambil ngupas kacang, Bapak di kursi kayu sambil ngopi. TV nyala tapi nggak ada yang nonton. Semua fokus ke dua orang itu.
Bapak buka duluan,
"Man, kemeja bengkel kok dipakai di ruang tamu? Mau kondangan apa mau ngelas?"
Rahman langsung kaku.
"Ng... anu Pak, kemejanya enak, Pak. Adem."
Ibu nyambung, nggak mau kalah,
"Adem? Atau nggak mau dilepas karena dibeliin istrinya? Dulu dibeliin kaos pasar sama Ayu waktu SMP aja kamu pakai seminggu nggak dicuci. Sekarang dibeliin kemeja bagus, mau dipakai tidur juga ya?"
Ayu yang lagi lipet baju JNE kuningnya, mukanya langsung merah. Dia nunduk, pura-pura fokus lipet.
Rahman ngelirik Ayu, minta bantuan. Ayu malah ngebalik,
"Bu, bilangin Mas tuh, kemeja baru jangan buat tidur, nanti bau oli."
Ibu ketawa ngakak,
"Loh, sekarang udah berani ngomelin suaminya ya Yu? Dulu waktu masih jadi adik, dimarahin Kakaknya aja diem aja nangis di dapur. Sekarang gantian kamu yang ngomelin?"
Bapak geleng-geleng sambil seruput kopi.
"Wes, wes. Bapak Ibu ini punya anak satu, ngangkat adik satu. Sekarang adiknya jadi istrinya anaknya. Di ruang tamu ini yang satu salting, yang satu salting, Bapak Ibu yang pusing lihatnya."
Rahman garuk kepala, kupingnya merah sampai leher. Kemeja barunya ditarik-tarik.
Ayu udah nggak tahan, dia lempar lipetan baju ke muka Rahman pelan.
"Mas tuh, disuruh lepas kemejanya malah dipamerin terus ke Bapak Ibu!"
Rahman nangkep baju itu, terus malah dipakaiin di kepala Ayu kayak kerudung.
"Nah, sekarang gantian kamu yang pakai kemeja Mas. Biar adil."
Ruang tamu langsung rame. Ibu sampai geleng-geleng sambil bilang,
"Ya Allah, anak mantu sama menantu ini kayak bocah SMP pacaran. Padahal udah nikah!"
Bapak cuma geleng-geleng lagi, tapi senyumnya lebar. Dia lihat Ayu yang dulu datang umur 14 pendiem, sekarang berani lempar baju ke suaminya di ruang tamu rumahnya sendiri. Dan lihat Rahman yang dulu kaku jadi kakak, sekarang kaku jadi suami yang salting dibeliin baju.
Di situ Bapak tau, keputusannya 10 tahun lalu ngangkat Ayu, dan keputusannya kemarin nyuruh mereka nikah, nggak salah.
Lampu ruang tamu dimatiin. Tinggal lampu dapur yang kuning remang-remang.
Ibu sama Bapak udah masuk kamar. Pintunya dikunci pelan, tapi masih kedengeran Ibu ngomong ke Bapak, "Pak, lihat anak-anak itu... ya Allah..."
Di karpet, kacang yang tadi diupas Ibu tumpah semua gara-gara Ayu lempar baju ke Rahman. Berantakan.
Tinggal mereka berdua yang jongkok beresin.
Ayu pungutin satu-satu, mukanya masih merah habis digodain. Rahman pungutin juga, kemeja biru dongker barunya sekarang dilipet di lengan biar nggak kotor.
Sepi. Cuma suara kacang masuk ke baskom plastik, tek... tek...
Terus Ayu bisik pelan, biar nggak kedengeran Ibu Bapak,
"Mas, malu tau digodain terus..."
Rahman noleh, jongkoknya jadi deket banget sama Ayu. Lutut ketemu lutut.
"Biarin," bisiknya balik. "Berarti Ibu Bapak seneng liat kita. Dulu waktu kamu masih manggil Kakak, Ibu Bapak nggak pernah godain gini. Dianggep bocah terus. Sekarang digodain, berarti Ibu Bapak udah ngeliat kita sebagai suami istri beneran."
Ayu masih nunduk pungutin kacang.
"Tapi Ayu malu, Mas. Tiap Ayu mau manggil Mas aja masih mikir dulu, takut kepleset Kakak. Lah ini digodain depan Bapak Ibu."
Rahman ngambil satu kacang dari tangan Ayu, terus naruh lagi ke baskom.
"Ya nggak apa. Mas juga malu. Mas pakai kemeja baru ini aja malu, diliatin Bapak terus. Tapi Mas seneng. Soalnya baru pertama kali ada yang beliin Mas baju bukan karena Mas kakaknya, tapi karena Mas suaminya."
Ayu berhenti pungutin kacang. Dia liat Rahman.
Kemeja biru dongker itu di lampu remang-remang keliatan pas banget di badan Rahman. Bukan lagi Kakak yang pulang bengkel bau oli. Tapi Mas Rahman, suaminya.
"Mas, kemejanya jangan dipakai tidur ya," Ayu bisik lagi, tapi kali ini senyum.
Rahman ketawa pelan, takut kedengeran Ibu.
"Iya, istriku. Nggak dipakai tidur. Dipakai buat nganterin istriku kerja di JNE terus."
Baskom kacang udah penuh lagi. Tapi mereka berdua masih jongkok, nggak berdiri. Deket-deketan di karpet ruang tamu yang udah gelap.
Ayu yang tadinya cuma berani nempel ujung jari di telapak Rahman, malam itu berani nyandarin kepalanya sebentar ke bahu Rahman. Cepet, cuma dua detik, terus langsung bangun lagi salting.
"Udah, Mas. Beresinnya udah. Ayu ngantuk."
Rahman berdiri duluan, tarik tangan Ayu pelan biar bangun.
"Iya, ayo. Istriku ngantuk."
Dan mereka jalan ke kamar, matiin lampu dapur, bawa baskom kacang yang udah beres, ninggalin ruang tamu yang tadi rame digodain Ibu Bapak.
Di kamar, gulingnya masih ada di tengah.
Guling kapuk yang udah 5 tahun, sarungnya motif batik coklat. Dari malam pertama akad sampai semalem, guling itu jadi pembatas salting. Ayu di kiri ngadep tembok, Rahman di kanan ngadep tembok. Di tengah guling jadi tembok ketiga.
Malam ini beda.
Rahman udah baring duluan, kemeja biru dongker barunya udah digantung rapi di belakang pintu. Dia pakai kaos oblong lagi. Lampu kamar udah dimatiin, tinggal lampu tidur kecil kuning di pojok.
Ayu masuk, rambutnya masih agak basah habis wudhu. Dia liat guling itu masih di tengah. Tapi dia nggak langsung baring ngadep tembok kayak biasa.
Dia baring, terus pelan-pelan muter badannya. Bukan ngadep tembok lagi. Ngadep Rahman.
Rahman yang tadinya ngadep tembok juga, ngerasa kasurnya gerak. Dia balik badan pelan.
Kaget. Ayu ngadep dia. Mukanya keliatan di lampu tidur remang-remang. Masih pakai guling di tengah, tapi mukanya udah nggak sembunyi.
"Mas..."
"Khmm?"
"Gulingnya masih di tengah aja ya?"
Rahman angguk cepet.
"Iya, di tengah aja, Yu. Sampai kamu bilang geser."
Hening sebentar. Dulu kalau mereka berdua di kamar sebagai kakak adik, heningnya canggung karena nggak tau mau ngomong apa. Sekarang heningnya canggung karena kebanyakan yang mau diomongin.
Ayu ngomong duluan,
"Mas, tadi di ruang tamu Ayu malu, tapi Ayu seneng digodain Ibu. Soalnya dulu waktu Ayu masih dipanggil adik angkat, Ibu nggak pernah godain gini. Sekarang digodain, Ayu ngerasa... Ayu beneran jadi bagian keluarga ini. Bukan numpang."
Rahman senyum di gelap.
"Mas juga. Dulu Mas takut kalau Mas nikah, Ayu kesepian di rumah. Sekarang Mas takut kalau Mas ke bengkel, Ayu kesepian di JNE nggak ada yang jemput."
Ayu ketawa pelan, terus tangannya yang di atas guling, pelan-pelan dorong gulingnya dikit. Nggak digeser jauh. Cuma beberapa senti, biar jarak mukanya sama Rahman nggak sejauh kemarin.
"Mas, besok anterin Ayu lagi ya?"
"Iya. Tiap hari."
"Jemput juga?"
"Iya. Tiap hari. Sampai Ayu bosen liat motor Mas di depan JNE."
Ayu nggak bosen. Malah dia yang sekarang tiap jam 5 sore udah ngintip dari jendela JNE, nunggu motor Rahman parkir.
Malam itu mereka tidur ngadep-ngadepan, dengan guling batik coklat masih setia di tengah sebagai penjaga salting terakhir. Ayu nggak lagi naruh ujung jari aja di telapak Rahman. Malam itu telapaknya nempel utuh di atas guling, dan telapak Rahman nempel di atas telapaknya.
Nggak digenggam kenceng. Cuma ditempel. Anget.
Jam 4 subuh, Malang dingin banget. Kabut tipis masuk dari ventilasi kamar.
Rahman kebangun duluan. Biasanya dia yang bangun duluan buat subuhan ke masjid. Lampu tidur kuning masih nyala remang.
Dia noleh.
Guling batik coklat yang semalem masih gagah di tengah sebagai penjaga salting, sekarang udah kegeser. Miring.
Ayu yang semalem tidurnya rapi di kiri, ngadep Rahman, sekarang posisinya agak nyerong. Kepalanya ngadep Rahman, tangannya masih di atas guling, tapi gulingnya udah ketarik ke dadanya. Selimutnya agak turun.
Dingin.
Rahman liat Ayu ngelindur pelan, narik selimut, terus narik guling makin deket. Bukan sengaja. Ngelindur nyari anget.
Dulu waktu masih jadi adik, kalau Ayu kedinginan di kamarnya, dia ketok pintu Rahman: "Kak, selimut Ayu tipis." Rahman yang ambilin selimut tebal dari lemari Ibu.
Sekarang selimut tebalnya udah di kamar yang sama. Dan yang nyari anget bukan adiknya lagi.
Rahman nggak bangunin. Dia diem aja.
Dia pelan-pelan tarik ujung selimutnya, terus diselimutin ke bahu Ayu. Bukan ditarik kenceng. Cuma ditutupin pelan biar nggak masuk angin.
Ayu masih merem, tapi pas selimut anget nutup bahunya, dia gumam pelan, masih setengah mimpi,
"Mas... dingin..."
Rahman jawab pelan banget, hampir nggak kedengeran,
"Iya, Yu. Tidur lagi aja."
Ayu yang masih merem, tangannya yang di atas guling, reflek nyari anget lagi. Kali ini bukan guling yang dia pegang. Ujung jarinya kena ujung kaos Rahman yang di balik guling.
Dia nggak narik. Cuma nempel. Terus ketiduran lagi.
Rahman yang udah melek, ngeliat itu. Guling penjaga salting itu akhirnya kalah sama dinginnya Malang jam 4 subuh.
Dia nggak geser gulingnya balik ke tengah. Dia biarin miring gitu. Dia ambil HP di lantai, matiin alarm subuh yang belum bunyi, biar Ayu bisa tidur 10 menit lebih lama.
Dia baring lagi, ngadep Ayu yang masih ngelindur, dengan guling yang udah nggak di tengah-tengah banget lagi.
Baru jam setengah 5, Ayu kebangun. Kaget liat posisinya udah deket, gulingnya miring, tangannya nempel di kaos Rahman.
Langsung duduk, mukanya merah, rambutnya berantakan.
"Mas! Ayu... Ayu ngelindur ya? Gulingnya..."
Rahman pura-pura baru bangun, padahal udah melek dari tadi.
"Nggak, Yu. Gulingnya yang ngelindur, bukan kamu."
Ayu salting se-kamar, langsung benerin gulingnya balik ke tengah dengan panik.
"Maaf Mas, Ayu nggak sengaja... Ayu dingin..."
Rahman duduk, pakai sarungnya, senyum,
"Nggak apa. Kalau dingin bilang aja. Kan sekarang Mas tidurnya di sini, bukan di kamar sebelah lagi. Nggak usah ketok pintu lagi."
Ayu nunduk, tapi kali ini nggak nangis malu. Dia ketawa kecil.
"Iya, Mas."
Dan pagi itu untuk pertama kalinya, Ayu berangkat ke JNE bukan dianter sebagai adik yang diantar kakaknya, dan bukan dijemput sebagai istri yang masih salting.
Tapi berangkat sebagai Ayu yang semalem gulingnya kalah sama kangen anget.
Jam istirahat JNE Blimbing, jam 12 siang.
Ayu makan di belakang, di gudang paket, bareng Mbak Sari senior JNE yang udah tau cerita Ayu dari awal.
Mbak Sari godain dulu,
"Yu, piye? Masih dianter jemput Mas Rahman terus? Romantis tenan suamimu itu."
Ayu yang biasanya cuma senyum malu, siang itu keceplosan. Masih salting gara-gara pagi tadi gulingnya miring.
"Anu Mbak... tadi pagi guling Ayu di rumah... kegeser..."
Mbak Sari langsung melek,
"Loh, guling? Guling yang di tengah itu ta? Yang kamu cerita dulu jadi pembatas salting?"
Ayu ngangguk, mukanya merah, nasinya diaduk-aduk nggak dimakan.
"Iya Mbak. Ayu ngelindur kedinginan. Terus Mas Rahman nggak bangunin. Gulingnya sekarang miring."
Mbak Sari langsung teriak pelan, heboh ala ibu-ibu JNE,
"Waaaa Mbak Ayu! Berarti benteng saltingnya udah jebol! Wah, Mas Rahman pasti seneng!"
Satu gudang yang lagi istirahat langsung noleh. Ayu makin salting, pengen ngumpet di balik paket-paket.
"Enggak Mbak, bukan gitu... cuma... cuma anget aja..."
Mbak Sari nggak mau berhenti godain,
"Ya udah sana video call Mas Rahman. Bilang gulingnya jangan dibalikin lagi."
Ayu yang biasanya nggak berani video call Rahman pas kerja karena takut ganggu bengkel, siang itu berani. Tangannya gemeter pencet video call.
Di bengkel, Rahman lagi di kolong motor, tangan belepotan oli. HP nya di atas meja, bunyi.
Anak magang bengkel teriak, "Mas Rahman, Mbak Ayu video call!"
Rahman buru-buru lap tangan pakai majun, angkat.
Di layar, muka Ayu merah, backgroundnya tumpukan paket JNE kuning.
"Mas..."
"Khmm? Kenapa Yu? Paket hilang?"
Ayu lihat kanan kiri, takut kedengeran Mbak Sari.
"Mas, nanti malem... gulingnya... jangan dibalikin ke tengah lagi ya."
Rahman di bengkel langsung diem. Anak magangnya yang di belakang denger, langsung godain,
"Waaaa Mas Rahman, gulingnya apa Mas?"
Rahman kupingnya merah, tapi senyumnya nggak bisa ditahan. Oli di tangannya masih nempel.
"Iya, Yu. Nggak dibalikin. Biarin miring aja. Kalau kamu dingin lagi, tinggal tarik selimut Mas aja, nggak usah tarik guling."
Ayu di JNE langsung nutup muka pakai jilbabnya, malu, tapi di layar keliatan senyum.
"Iya Mas. Ayu lanjut kerja dulu ya. Nanti jam 5 jemput ya Mas?"
"Iya, istriku. Jam 5 Mas udah di depan."
Video call mati. Mbak Sari di gudang langsung tepuk tangan,
"Wes, Mbak Ayu ini! Gulingnya udah nggak di tengah! Sah!"
Ayu cuma bisa nunduk, lanjutin makan pecelnya, tapi senyumnya nggak ilang sampai sore.
Sore itu jam 5 teng, motor Rahman udah parkir depan JNE. Ayu keluar, helm kuningnya udah disiapin.
Pas naik motor, Ayu bisik di belakang helm, cuma Rahman yang denger,
"Mas, makasih ya tadi nggak diketawain pas Ayu video call."
Rahman jawab,
"Ngapain diketawain. Mas seneng. Berarti istri Mas udah nggak manggil Kakak lagi di siang bolong."
Malam itu guling batik coklatnya beneran nggak dibalikin ke tengah.
Ayu yang naruh. Pas beresin kasur, dia geser gulingnya ke pinggir, mepet tembok. Jadi di tengah kasur kosong. Nggak ada tembok ketiga lagi.
Rahman masuk kamar, liat guling udah di pinggir, langsung berhenti di pintu.
"Yu, gulingnya?"
Ayu duduk di kasur, di tangannya ada kemeja biru dongker yang dia beliin kemarin. Kemeja yang pagi tadi dipakai Rahman ke bengkel, sore tadi baru dicuci Ibu, udah kering, udah wangi.
Ayu lipet kemeja itu jadi kotak kecil, terus ditaruh di sebelah bantalnya. Bukan dipakai, cuma dilipet jadi bantal kecil.
"Gulingnya Ayu geser, Mas. Soalnya..."
Dia malu-malu nunjuk lipetan kemeja biru itu.
"Ayu pinjem ini ya? Buat sebelah Ayu. Biar anget. Kan kemejanya Mas masih bau bengkel dikit, Ayu suka baunya."
Rahman duduk di pinggir kasur, nggak langsung baring. Dia liat kemejanya yang dilipet jadi bantal kecil di sebelah bantal Ayu.
"Yu, itu kemeja kotor loh, buat apa jadi bantal?"
"Bukan kotor, Mas. Udah dicuci Ibu. Tapi masih ada bau Mas dikit. Ayu kalau cium bau itu nggak kedinginan."
Dulu waktu Ayu masih jadi adik, dia kalau kangen Bapak Ibunya di Blitar, dia peluk guling. Sekarang kalau kangen anget, dia peluk lipetan kemeja suaminya.
Rahman baring pelan, ngadep Ayu. Nggak ada guling di tengah lagi. Jarak mereka cuma sejengkal, tapi masih jaga.
Ayu baring ngadep Rahman juga. Di antara mereka cuma ada lipetan kemeja biru dongker itu.
"Mas, kalau gini Ayu nggak salting lagi?"
Rahman senyum di lampu tidur kuning.
"Salting dikit nggak apa, Yu. Yang penting nggak ngadep tembok lagi."
Malam itu mereka tidur ngadep-ngadepan tanpa guling. Ayu tangannya di atas lipetan kemeja biru itu, Rahman tangannya di sebelahnya, nggak nimpa, cuma di sebelah. Angetnya nyampe.
Jam 2 pagi, Ayu ngelindur lagi. Bukan narik guling. Narik lipetan kemeja itu ke dadanya, dipeluk.
Rahman yang kebangun karena kipas angin mati, liat Ayu meluk kemejanya sambil merem. Dia nggak bangunin. Dia cuma tarik selimut pelan, selimutin Ayu sama kemeja birunya sekalian.
Dan pagi itu, untuk pertama kalinya, Ayu bangun bukan karena dingin. Tapi karena wangi kemeja biru dongker yang dia peluk semaleman.
Paginya seperti biasa, tapi beda.
Jam 5, alarm HP Rahman belum bunyi. Dia udah bangun duluan, duduk di pinggir kasur, liat Ayu masih merem, meluk lipetan kemeja biru dongkernya yang semalem jadi bantal. Guling batik coklat masih setia di pinggir tembok, pensiun.
Rahman nggak bangunin. Dia ke kamar mandi dulu, wudhu, terus ke masjid dekat rumah. Biasanya kalau berangkat subuhan dia nggak pamit, takut Ayu kebangun. Pagi itu dia bisik pelan sebelum keluar,
"Yu, Mas ke masjid dulu ya."
Ayu masih merem, tapi jawab pelan, setengah mimpi,
"Iya Mas..."
Jam setengah 6, pintu kamar diketok pelan.
Ibu masuk bawa dua gelas teh, kayak biasa tiap pagi. Dulu tiap pagi Ibu masuk kamar Rahman cuma taruh teh buat anak bujangnya. Sekarang Ibu masuk kamar bawa dua gelas, buat anak dan menantunya.
Ibu berhenti di pintu. Liat kasur.
Guling yang biasanya di tengah, sekarang di pinggir. Di tengah ada lipetan kemeja biru dongker yang dipeluk Ayu.
Ibu langsung balik badan, pura-pura nggak lihat, tapi senyumnya kedengeran.
"Wes, Bapak! Gulingnya udah pensiun!"
Bapak dari ruang tamu jawab, "Pensiun piye Bu?"
"Pensiun! Sekarang yang jaga bukan guling, tapi kemeja biru!"
Ayu kebangun gara-gara suara Ibu, langsung duduk panik, kemeja biru di pelukannya jatuh.
"Bu! Ibu... Ayu... anu..."
Ibu taruh teh di meja, geleng-geleng tapi matanya seneng.
"Nggak apa Yu, nggak apa. Ibu cuma nganter teh. Gulingnya biarin aja di pinggir. Kalau udah nggak dipakai, nanti Ibu cuci sarungnya."
Ibu keluar, tutup pintu pelan. Kedengeran dari luar Ibu bilang ke Bapak, "Pak, anak-anak itu wes nggak pakai guling lagi."
Di dalam kamar, Ayu salting, nutup muka pakai kemeja biru itu.
"Mas, Ibu liat..."
Rahman yang baru pulang dari masjid, masuk kamar, liat Ayu masih meluk kemejanya, langsung ketawa pelan.
"Ya biarin Bu liat, Yu. Biar Ibu tau menantunya nggak kedinginan lagi malem-malem."
Ayu lempar kemeja itu pelan ke Rahman, Rahman tangkep.
"Mas pakai lagi gih kemejanya, udah pagi. Nanti Ayu setrika lagi malem."
Rahman pakai kemeja biru itu lagi, masih anget bekas dipeluk Ayu semaleman. Dia pakai ke bengkel, Ayu pakai seragam JNE kuningnya.
Jam 7, motor nyala depan rumah seperti biasa. Ayu naik, helm kuningnya udah disiapin Rahman. Pegangannya udah nggak di tas lagi, udah di pinggang jaket.
Ibu di teras teriak seperti biasa,
"Hati-hati ya! Jangan ngebut!"
Tapi pagi itu Ibu nambahin,
"Gulingnya nggak usah dibawa ke JNE loh Yu!"
Ayu teriak balik dari atas motor, malu tapi ketawa,
"Ibuuu!"
Motor jalan pelan ke arah Blimbing. Paginya seperti biasa. Anter, jemput, kerja, pulang. Cuma gulingnya aja yang sekarang pensiun beneran.
Malam Minggu. Pertama kalinya setelah nikah mereka keluar bukan karena disuruh Ibu beli sesuatu, bukan karena antar jemput JNE.
Keluar beneran berdua. Pacaran halal kata Mbak Sari di JNE.
Jam 7, Ayu udah rapi. Nggak pakai seragam JNE kuning. Pakai kemeja putih sama rok panjang coklat, jilbabnya yang baru dibeliin Ibu. Rahman masih pakai kemeja biru dongkernya yang sekarang jadi kemeja kesayangan, udah disetrika Ayu sampai licin.
Ibu di ruang tamu pura-pura nonton TV, padahal ngintip dari ujung mata.
"Mau kemana?" tanya Ibu, padahal udah tau.
Rahman jawab, "Mau jalan Bu, ke alun-alun aja."
Bapak nyambung godain, "Wes, wes, Malam Minggu. Jangan pulang malem-malem loh. Ayu besok masih kerja JNE."
Ayu salting, salim ke Ibu Bapak. Rahman salim juga. Motor nyala.
Tujuan nggak jauh. Alun-alun Malang. Parkir motor deket masjid Jami.
Dulu waktu Ayu masih jadi adik, kalau diajak Rahman ke alun-alun, duduknya jauh, Rahman beli cilok, Ayu makan sendiri. Rahman main HP bengkel.
Malam Minggu itu beda. Mereka duduk di bangku kayu bawah pohon beringin. Beli cilok satu porsi berdua, tusukannya rebutan.
Ayu bisik,
"Mas, orang-orang liatin Ayu nggak?"
"Enggak. Orang liatin ciloknya."
Ayu ketawa, terus pelan-pelan tangannya yang dari tadi di pangkuan, geser dikit, nempel di tangan Rahman yang lagi pegang tusuk cilok. Bukan genggam. Nempel aja. Kayak di kasur pas gulingnya udah pensiun.
Rahman nggak narik. Dia biarin nempel, terus tusuk ciloknya dia kasih ke Ayu.
"Yu, kamu yang makan. Mas udah kenyang liat kamu nggak manggil Kakak lagi di depan orang."
Di alun-alun, ada keluarga kecil lewat, anaknya manggil Ayu "Mbak JNE!" Ayu dadah.
Rahman liat Ayu, terus bilang pelan,
"Yu, makasih ya udah mau keluar Malam Minggu sama Mas. Padahal Mas nggak pinter ngajak jalan. Bisanya cuma bengkel sama rumah."
Ayu jawab,
"Nggak apa Mas. Ayu juga nggak pinter jalan-jalan. Dulu kan Ayu kalau Malam Minggu di kamar aja, ngerjain PR. Sekarang Malam Minggu Ayu di alun-alun, sama Mas."
Jam 9 mereka pulang. Lewat Kayutangan, beli es teh dua. Di motor, Ayu udah nggak pegang pinggang jaket lagi. Sekarang pegangannya agak naik, meluk pelan dari belakang, dagunya nempel di punggung Rahman yang pakai kemeja biru dongker.
Sampai rumah, Ibu Bapak udah pura-pura tidur, tapi lampu teras masih nyala, sengaja nggak dimatiin biar mereka lihat jalan pulang.
Motor masuk pelan. Ayu turun, helmnya dilepasin Rahman.
Ibu buka pintu pelan,
"Piye Malam Minggunya?"
Ayu jawab, masih salting tapi seneng,
"Rame Bu, tadi beli cilok."
Rahman nambahin,
"Iya Bu, ciloknya satu porsi berdua."
Ibu geleng-geleng lagi, tapi senyumnya lebar,
"Wes, wes, masuk. Gulingnya udah Ibu cuci, tapi kayaknya nggak bakal dipakai lagi ya?"
Ayu sama Rahman saling lihat, terus ketawa bareng.
Malam itu setelah Malam Minggu.
Motor udah diparkir, helm kuning Ayu udah digantung. Ibu Bapak udah masuk kamar, lampu ruang tamu dimatiin. Tinggal lampu tidur kuning di kamar mereka.
Guling batik coklat udah beneran pensiun. Dilipet rapi di pojok lemari sama Ibu tadi sore.
Di kasur, cuma ada dua bantal dan lipetan kemeja biru dongker yang semalem jadi bantal kecil. Malam ini kemeja itu nggak dilipet lagi. Dipakai Rahman tadi pas ke alun-alun, sekarang digantung lagi di belakang pintu.
Jadi di tengah kasur kosong. Nggak ada apa-apa.
Ayu duduk di pinggir kasur, masih pakai jilbabnya, belum dilepas. Rahman duduk di sebelahnya, jaraknya masih sejengkal, tapi nggak kaku kayak dulu.
Hening sebentar. Bukan hening canggung kayak malam-malam pertama. Hening yang anget.
Rahman ngomong duluan, pelan,
"Yu, capek ya tadi jalan?"
Ayu geleng, senyum.
"Nggak capek, Mas. Ayu seneng. Ini Malam Minggu pertama Ayu jalan bukan sebagai adik yang diajak Kakaknya, tapi sebagai istri yang diajak suaminya."
Rahman denger itu, tangannya yang di kasur pelan-pelan geser, nggak narik tangan Ayu, cuma buka telapaknya di tengah, kayak dulu di warung pecel Blitar, kayak di ruang tamu pas beresin kacang.
Ayu liat telapak itu. Dulu dia cuma berani nempel ujung jari. Terus berani nempel telapak. Malam itu, untuk pertama kalinya, dia taruh tangannya utuh di atas telapak Rahman. Digenggam pelan.
Nggak kenceng. Nggak buru-buru.
"Mas, boleh ya Ayu deket dikit lagi? Gulingnya kan udah nggak ada."
Rahman angguk.
"Boleh, Yu. Sedeket yang kamu mau."
Ayu pelan-pelan nyenderin kepalanya ke bahu Rahman. Bukan jatuh, bukan dipaksa. Nyender pelan, kayak pas di motor tadi di Kayutangan.
Rahman diem aja, biarin. Tangannya yang satu lagi pelan-pelan nutupin selimut ke bahu Ayu, biar nggak dingin. Malang malem Minggu anginnya dingin.
Mereka nggak ngobrol banyak malam itu. Cuma duduk gitu, bahu ketemu bahu, tangan ketemu tangan, di kamar yang dulu kamarnya Kakak dan Adik, sekarang kamarnya suami dan istri.
Ayu bisik pelan, hampir ketiduran di bahu Rahman,
"Mas, makasih ya udah nungguin Ayu dari manggil Kakak sampai bisa manggil Mas kayak gini."
Rahman jawab pelan, sambil ngusap punggung tangan Ayu pakai jempolnya,
"Iya, Yu. Mas di sini aja. Nggak kemana-mana."
Malam itu pertama kalinya mereka ketiduran bukan ngadep tembok masing-masing. Tapi ngadep yang sama, bahu Ayu masih nyender di bahu Rahman, tangan masih genggam di atas selimut.
Gulingnya tetap di pojok lemari. Nggak dipakai lagi.
Pagi itu Ayu bangun duluan.
Jam 5, alarm Rahman belum bunyi. Lampu tidur kuning masih nyala.
Bedanya, Ayu nggak langsung duduk panik kayak kemarin-kemarin pas sadar gulingnya miring atau tangannya nempel di kaos Rahman.
Pagi itu dia kebangun, kepalanya masih nyender di bahu Rahman. Tangan mereka masih genggam di atas selimut. Selimutnya nutupin bahu Ayu rapi, yang nyelimutin Rahman semalem.
Ayu diem dulu beberapa detik. Nggak salting. Nggak buru-buru benerin guling. Nggak buru-buru tarik tangan.
Dia liat Rahman masih merem, napasnya pelan. Kemeja biru dongkernya masih digantung di belakang pintu, nggak dipakai jadi bantal lagi semalem.
Ayu bisik pelan, masih dengan suara bangun tidur,
"Mas..."
Rahman nggak langsung melek, tapi jawab, masih merem,
"Khmm?"
Dulu tiap Ayu manggil "Mas" dengan nada gitu, dia salting. Pagi itu enggak.
"Mas, Ayu bangun duluan ya. Ayu bikinin teh."
Rahman melek pelan, liat Ayu yang masih nyender di bahunya, nggak langsung kabur.
"Iya, Yu. Bangun pelan-pelan aja."
Ayu bangun, lipet selimutnya rapi. Nggak buru-buru keluar kamar kayak dulu kalau habis keceplosan deket. Dia jalan pelan ke dapur.
Ibu udah di dapur, lagi ngerebus air.
Ibu liat Ayu keluar kamar dengan rambut masih berantakan, senyumnya beda. Bukan senyum salting kayak seminggu lalu. Senyum tenang.
"Piye Yu, enak tidurnya?" Ibu godain pelan.
Ayu jawab, sambil ambil gelas,
"Enak, Bu. Nggak dingin."
Ibu ketawa kecil, tuang air panas.
"Wes, gulingnya beneran pensiun ya?"
Ayu ngangguk, malu tapi nggak salting lagi.
"Iya Bu. Pensiun."
Pas Rahman keluar kamar mandi, Ayu udah di meja makan, siapin dua gelas teh. Satu buat Rahman, satu buat dia. Nggak ada jarak satu kursi lagi.
Rahman duduk, Ayu duduk di sebelahnya.
Bapak keluar dari kamar, liat meja makan, liat guling batik coklat yang udah dilipet rapi di atas lemari ruang tamu, bukan di kamar lagi.
Bapak cuma geleng-geleng sambil senyum,
"Wes, akhirnya ruang tamu ini sepi. Nggak ada drama guling lagi."
Malam itu setelah guling pensiun.
Lampu tidur kuning masih nyala. Kasur udah nggak ada pembatas di tengah. Ayu baring ngadep Rahman, Rahman ngadep Ayu. Jaraknya cuma sejengkal.
Hening, tapi bukan hening canggung kayak dulu. Hening yang deg-degan.
Ayu bisik duluan,
"Mas, Ayu ngantuk tapi nggak bisa merem."
Rahman jawab pelan,
"Mas juga."
Terus Rahman nanya, pelan banget, nanya izin dulu,
"Yu, boleh Mas cium kening Ayu? Ciuman pertama sebagai suami, bukan sebagai Kakak."
Ayu diem sebentar, mukanya merah keliatan di lampu tidur. Terus dia ngangguk pelan.
"Boleh Mas."
Rahman maju pelan, cium kening Ayu sebentar aja. Cepet. Nggak lama.
Habis itu mereka berdua langsung diem, kaku, salting bareng-bareng. Ayu nutup muka pakai tangan, Rahman langsung balik ngadep langit-langit, garuk kepala.
Nggak ada yang bisa tidur habis itu.
Ayu bisik di balik tangannya, "Mas, jantung Ayu deg-degan."
Rahman jawab, suaranya juga deg-degan, "Mas juga. Sama."
Mereka nggak lanjut apa-apa lagi malam itu. Cuma baringan ngadep-ngadepan, tangan masih genggam di atas selimut, terus ketawa kecil-kecil karena salting, terus diem lagi, terus ketawa lagi.
Akhirnya Ayu ngantuk duluan, masih dengan tangan digenggam Rahman.
Rahman bisik terakhir sebelum Ayu merem,
"Tidur ya, istriku."
Ayu jawab setengah mimpi,
"Iya, Mas."
Epilog - 5 tahun kemudian.
Rumah di Sukun masih sama, cuma sekarang rame.
Di teras ada dua sepeda kecil, warna kuning sama biru. Sepeda kuning punya Kakak, sepeda biru punya Adik.
Anak pertama mereka perempuan, umur 4 tahun, namanya Rani. Rambutnya mirip Ayu, cerewetnya mirip Ibu. Anak kedua laki-laki, umur 2 tahun, namanya Arsyad. Matanya mirip Rahman, hobinya bongkar obeng di bengkel.
Pagi-pagi jam 7, motor Rahman masih nyala depan rumah seperti biasa. Bedanya sekarang yang dianter bukan cuma Ayu ke JNE Blimbing, tapi juga Rani ke TK.
Ayu masih kerja di JNE, sekarang jadi kepala shift. Berangkatnya masih dianter Rahman. Pulangnya masih dijemput Rahman, cuma sekarang di motor ada Rani di depan, Ayu di belakang.
Ibu sama Bapak udah nggak di ruang tamu lagi nungguin. Sekarang mereka di dalam, jagain Arsyad yang lagi belajar jalan, sambil geleng-geleng lihat ruang tamu yang berantakan mainan.
Malam Minggu mereka nggak lagi ke alun-alun berdua. Sekarang berempat. Ciloknya pesan dua porsi, satu buat berdua, satu buat Rani sama Arsyad rebutan.
Malam-malam, guling batik coklat yang dulu pensiun di pojok lemari, sekarang dipakai lagi. Tapi bukan sebagai pembatas salting Ayu sama Rahman. Dipakai Rani sama Arsyad yang tidur di tengah, diapit Ayu sama Rahman.
Kadang tengah malem Rani ngelindur manggil,
"Mama Ayu..."
Ayu yang dulu dipanggil adik angkat, Kakak, Mbak JNE, sekarang dipanggil Mama.
Rahman yang dulu dipanggil Kakak, Abang, Mas, sekarang dipanggil Ayah sama dua anaknya.
Di makam Blitar sama di makam Malang, Ayu sama Rahman masih ziarah tiap tahun, sekarang bawa dua anak. Ayu cerita ke Bapak Ibunya yang di Blitar,
"Pak, Bu, ini cucu-cucunya Ayu."
Dan cerita ke Ibu Bapaknya di Malang,
"Bu, Pak, makasih udah ngangkat Ayu dulu umur 14, jadi Ayu punya rumah ini sekarang."
Rumah yang dulu cuma ada Kakak dan Adik angkat yang canggung, sekarang ada suara Rani teriak minta dibeliin cilok, ada suara Arsyad nangis karena obengnya disita Rahman.
Nggak mewah. Tapi rame. Dan bahagia.
Selesai.