Duh, Aji...
Definisi bucin duduk sebangku tuh kayak gitu. Apalagi deskripsinya Lily - cantik, manis, lucu kaya Yakult - itu akurat banget. Kecil, manis, bikin nagih, abis liat sekali pengen liat terus.
Lanjutannya kayak gini kali ya:
Engkau memang pantas untuk disukai
Engkau memang pantas untuk disayangi
Hati ini tak akan pernah terbagi
Setiap pagi jam 07.15, pas bel belum bunyi, Aji udah nyanyi itu di dalam kepala. Bukan buat siapa-siapa, khusus buat Lily.
Lily yang rambutnya dikuncir setengah, yang kalau nulis miring ke kiri, yang kalau ketawa ditutupin tangan. Yang botol minumnya selalu Yakult yang 2 botol diikat karet itu.
Dan sekarang dia duduk persis di sebelah Aji. Jaraknya cuma satu penggaris.
Masalahnya, Aji kalau udah gugup malah jadi kaku. Mau nyapa aja jadi: "eh, penghapus... boleh pinjam... penghapusmu..."
Padahal di kepala udah konser full.
Oke, gas. Aji kita bikinin soundtrack sama kisahnya sekalian.
1. LIRIK FULL - "Pantas Untuk Disayangi"
[Verse 1]
Jam tujuh lima belas kau datang lagi
Dua Yakult diikat karet di tangan kiri
Rambut diikat setengah, senyum ditahan
Kelas berisik, aku malah diam-diaman
[Chorus]
Engkau memang pantas untuk disukai
Engkau memang pantas untuk disayangi
Hati ini tak akan pernah terbagi
Sudah kau kunci dari hari pertama lagi
[Verse 2]
Pelajaran MTK jadi puisi semua
Kau bilang "pinjam penghapus ya"
Aku jawab iya padahal salah tulis nama
Sibuk ngitung berapa kali kau lihat ke sini
[Bridge]
Aku bukan penyanyi, suaraku pas-pasan
Tapi kalau buat kamu, aku berani nyanyian
Nggak keras, cukup kamu aja yang dengar
Di sebelah, sedekat penggaris dan penghapus yang hilang
[Chorus - pelan]
Engkau memang pantas untuk disukai
Engkau memang pantas untuk disayangi
Kalau boleh jujur, dari bangku sebelah ini
Aku sudah jatuh, manisnya kaya Yakult tiap hari
[Outro]
Lucu kaya Yakult...
Bikin betah di sini.
---
3 hari yang lalu.. Kursi Sebelah Yang Kosong
Senin jam pertama selalu jadi jam paling ngantuk. Kecuali Senin ini.
Bu Ratna masuk bawa map absen sama satu anak di belakangnya.
"Anak-anak, ini Lily. Murid baru pindahan dari Sidoarjo. Mulai hari ini gabung di kelas kita."
Satu kelas langsung noleh. Termasuk Aji.
Lily. Rambut sebahu, poni agak miring, tasnya masih agak kebesaran. Di tangan kanan dia tenteng botol minum, di kiri... beneran, dua Yakult yang diikat karet gelang.
Bu Ratna ngedarin pandangan. "Duduknya... di sebelah Aji saja ya. Kan kosong."
Aji yang dari tadi pura-pura nulis, pulpennya berhenti di tengah huruf A.
Kursi sebelahnya emang kosong dari awal semester. Tempat dia naruh jaket, tempat dia selonjor kalau ngantuk. Sekarang jadi tempat paling deg-degan sekelas.
Lily jalan pelan ke arahnya. Wangi sampo bayi kecampur penghapus stroberi.
"Hai," katanya pelan, hampir berbisik. "Boleh di sini ya?"
Aji ngangguk. Kenceng banget. Kayak lagi ditanya mau juara kelas.
Lily duduk. Ngeluarin buku tulis, penggaris, dan satu Yakult dia taruh di meja. Satu lagi masuk laci.
Pelajaran dimulai. Aji berusaha fokus ke papan tulis. Gagal.
Setiap Lily nulis, rambutnya jatuh ke samping. Setiap dia bingung, dia gigit ujung pulpen. Dan Aji, yang biasanya jago MTK, tiba-tiba lupa rumus Phytagoras.
Di tengah pelajaran, Lily noleh dikit.
"Eh, Aji..."
Jantung Aji naik ke tenggorokan.
"...boleh pinjam penggaris? Punyaku patah."
Aji ngasih penggaris tanpa ngeliat. Tangannya agak gemeter.
Lily ketawa kecil, ditutupin tangan. "Makasih ya."
Dan di dalam kepala Aji, lagu itu langsung ke-putar lagi otomatis, volume full.
Engkau memang pantas untuk disukai...
Bab 2: Jam Kantin
Bel istirahat bunyi persis jam 09.30.
Satu kelas langsung rusuh. Kursi diseret, ada yang lari ke kantin kayak dikejar satpol.
Aji masih diem di kursinya. Rencananya mau ke kantin, tapi kalau dia pergi sekarang, kesannya ninggalin Lily yang masih baru. Kalau dia diem, kesannya aneh juga.
Lily lagi beresin buku MTK-nya. Terus dia ngeluarin kotak bekal bening dari tas.
Kotaknya dibuka. Isinya roti tawar. Empat lembar, dipotong segitiga, pinggirannya masih ada. Selai coklatnya agak beleber ke tutup kotak.
"Beuh," batin Aji. Bekal anak SD banget. Gemes.
Lily ngelirik Aji yang dari tadi ngeliatin bekalnya.
"Kamu belum ke kantin?" tanya Lily.
Aji panik. Dia baru inget, di laci mejanya ada Yakult. Bukan punya Lily, tapi punya dia. Tadi pagi dia beli di Indomaret depan sekolah karena... ya karena Lily bawa Yakult kemarin. Alasan yang bodoh tapi jujur.
"Ada," kata Aji, sok cool. Dia ngeluarin satu botol Yakult dingin. "Ini... buat kamu. Kalau mau."
Lily ketawa, lagi-lagi ditutupin tangan.
"Loh, kita samaan. Aku juga bawa Yakult, tapi punyamu lebih dingin."
"Tukeran aja," Aji nyeletuk cepet. Terlalu cepet sampai dia sendiri kaget.
Lily ngangguk. Dia ngambil satu segitiga roti tawarnya, selai coklatnya masih lumer.
"Nih, tukeran sama roti. Mamaku yang bikin. Katanya biar nggak jajan gorengan terus. Kamu mau? Pinggirannya jangan dimakan ya kalau nggak suka, aku juga nggak suka."
Aji nerima roti itu kayak nerima piala.
Mereka makan di bangku itu aja, nggak jadi ke kantin. Kantin lagi rame, berisik, bau gorengan dan kuah bakso jadi satu. Di kelas lebih enak. Sepi.
Aji nyedot Yakult-nya pelan. Lily makan rotinya pelan, pinggiran rotinya dia sisihin di sudut kotak.
"Kok pinggirannya nggak dimakan?" tanya Aji.
"Teksturnya aneh," jawab Lily jujur. "Kamu makan aja kalau mau."
Dan Aji, tanpa mikir dua kali, ngambil pinggiran roti tawar yang udah disisihin Lily dan dimakan.
Lily bengong. "Ih, itu kan bekas aku sisihin."
"Enak kok," kata Aji. Mukanya merah. "Soalnya... rotinya dari kamu."
Hening dua detik. Terus Lily ketawa lagi. Kali ini agak keras, sampai keliatan giginya yang agak gingsul satu.
"Gombal banget kamu, Ji."
Di luar, ada teman-teman Aji yang lewat depan kelas mau ke kantin. Rafi ngintip dari jendela, terus bisik-bisik ke yang lain sambil nunjuk Aji sama Lily. Aji pura-pura nggak liat.
Di dalam kepalanya, lagu itu ganti lirik sendiri.
Engkau memang pantas untuk roti tawarnya dibagi...
Bab 3: Pulang Sekolah
Bel pulang bunyi jam 14.00. Lebih berisik dari bel istirahat.
Aji sengaja ngelama-lamain beresin buku. Biar bisa jalan bareng Lily sampai gerbang. Strategi anak sebangku yang baru jadian temen tukeran roti.
"Bareng aja yuk sampai depan," kata Aji, pura-pura santai padahal resleting tasnya nyangkut.
"Boleh," kata Lily sambil masukin kotak bekal kosongnya. Pinggiran roti yang tadi disisihin udah hilang. Dimakan Aji.
Mereka jalan berdua lewat koridor. Lewat kelas 11 IPA 2, lewat mading yang isinya foto lomba kebersihan, lewat tukang cilok yang mangkal di dalam gerbang.
Di gerbang depan, ada satu motor Beat hitam parkir agak minggir. Di atas motor ada cowok umur dua puluh tujuh an, kemeja batik coklat, celana bahan hitam, sepatu pantofel yang masih mengkilap. Rambutnya rapi belah samping. Tas kerja hitamnya ditaruh di depan.
PNS banget auranya.
Lily langsung lambaikan tangan. "Bang!"
Cowok itu buka helm.
Aji langsung otomatis ngerapihin seragamnya yang tadi keluar setengah. Kancing atas yang biasanya dibuka, mendadak dikancingin.
Pas mereka udah deket, abangnya Lily ngeliat Aji dulu dari atas sampai bawah. Bukan sinis, tapi tatapan abang-abang yang lagi nge-scan.
"Itu siapa Li?" tanyanya. Nadanya datar, tapi sopan.
Lily narik lengan tas Aji dikit, kayak ngenalin mainan barunya.
"Itu temen baru aku bang, namanya Aji," kata Lily enteng. "Duduk sebangku sama aku."
Aji langsung nunduk setengah, salimnya setengah jadi.
"Siang bang," kata Aji. Suaranya agak serak. "Aji, bang. Temen sekelas Lily."
Abangnya Lily ngangguk, terus senyum. Ternyata senyumnya mirip Lily. Gingsulnya juga sama satu.
"Oh, Aji. Abang Ilham," katanya. "Abangnya Lily. Makasih ya udah temenin Lily, dia kan baru. Masih nyasar-nyasar di sekolah."
"Enggak nyasar kok bang," Lily protes. "Aku udah hafal kantin."
Ilham ketawa. "Iya, hafal kantin doang."
Terus Ilham ngeliat kotak bekal Lily yang kosong. "Bekalnya abis?"
"Abis. Dituker sama Yakult-nya Aji," kata Lily jujur banget.
Aji pengen ngilang ditelan aspal gerbang.
Ilham ngeliat botol Yakult kosong di saku samping tas Aji. Terus ngeliat Aji lagi.
"Oalah, pantesan," kata Ilham, nadanya jadi agak iseng. "Yakult for Yakult ya?"
Lily langsung mukanya merah. "Apaan sih bang!"
Aji juga merah, tapi dia ketawa juga. Nggak bisa nahan.
"Udah, ayo pulang Li. Helmnya pakai. Aji rumahnya mana?"
"Di daerah Sukun bang," jawab Aji. "Naik angkot."
"Oh deket. Hati-hati ya Ji. Besok jangan lupa balikin penggaris Lily, itu penggaris abang soalnya."
Aji melongo. "Loh, itu penggaris abang?"
Lily ngakak di balik helm. "Iya! Makanya jangan dipatahin!"
Motor Beat hitam itu pelan-pelan jalan ninggalin gerbang. Lily dadah dari belakang, helmnya kebesaran jadi agak oglak-oglak.
Aji berdiri di gerbang sendirian, tasnya masih nyangkut resletingnya, di tangan masih megang tutup kotak bekal Lily yang ketinggalan.
Bab 4: Plot Twist di Ruang Tamu
Aji pulang naik angkot, turun di gang Sukun. Jalan kaki sambil nenteng tutup kotak bekal Lily yang ketinggalan di tasnya.
Di kepala udah nyusun kalimat buat besok: "Li, tutup bekalmu ketinggalan, besok aku balikin ya, plus Yakult lagi..." - kalimat pahlawan banget.
Sampai depan rumah, langkahnya berhenti.
Ada motor Beat hitam parkir di depan pagar. Yang tadi di gerbang sekolah.
Platnya sama. Helm yang kegedean buat Lily tadi, sekarang ngegantung di spion.
Aji bengong. "Loh..."
Dia masuk pelan. Dari ruang tamu kedengeran suara ketawa cewek yang dia kenal banget.
Kak Naya. Kakaknya Aji. Umur 24, kerja di kelurahan, yang tiap hari ngomel kalau Aji naruh handuk basah di kasur.
Dan di sofa ruang tamu, duduk si kemeja batik coklat. Abang Ilham. Udah nggak pakai sepatu pantofel, tapi masih rapi.
Mereka berdua lagi minum teh. Akrab banget.
Ilham yang pertama ngeliat Aji di pintu.
"Loh... Ji?" Matanya melotot.
Aji juga melotot. "Bang Ilham?"
Kak Naya bingung, ngeliat adiknya sama pacarnya saling tunjuk.
"Kalian... kenal?" tanya Kak Naya.
Ilham masih shock. "Ini... ini Aji yang cerita tadi, yang. Yang duduk sebangku sama Lily."
Kak Naya noleh ke Aji. "Lily yang mana?"
"Adiknya Bang Ilham, Kak!" jawab Aji masih kaget. "Murid baru di kelas aku!"
Satu ruang tamu hening tiga detik. Terus Kak Naya ngakak duluan.
"HAH? Jadi selama ini kamu yang diceritain Ilham? 'Adik pacar aku punya temen baru namanya Aji tukeran Yakult'? Ya ampun Ji, dunia sekecil tutup bekal!"
Ilham baru ngeh. Mukanya langsung berubah dari mode PNS tegas jadi mode salting.
"Astaga... jadi kamu adiknya Naya toh, Ji? Pantesan tadi di gerbang... kamu salimnya sopan banget. Abang kirain kamu modus sama adek abang."
"Emang modus bang," celetuk Kak Naya.
"KAK!" Aji protes, mukanya udah merah sampai telinga.
Ilham ketawa, tapi terus jadi serius lagi. Dia natap Aji.
"Ji, ini abang baru tau ya. Jadi... tolong rahasiain dulu ke Lily kalau abang tuh... sering dimarahin kakakmu gara-gara lupa buang sampah. Jaga wibawa abang sebagai abang yang PNS ini."
"Terus aku juga jaga rahasia kalau abang Lily ternyata pacarnya kakak aku?" Aji nyaut cepet.
Kak Naya nyembur tehnya.
Ilham ngelus dada. "Anak SMA jaman sekarang pinter-pinter negosiasinya."
Malam itu grup WA keluarga Aji rame. Kak Naya ngirim foto: foto Aji lagi bengong di gerbang sekolah tadi siang, difotoin Ilham diam-diam dari motor.
Captionnya: Terdeteksi bucin Yakult.
Lily belum tau apa-apa. Besok di sekolah bakal lebih rame.Bab 5: Upacara Senin
Senin pagi. 06.45. Lapangan SMA udah panas padahal matahari baru naik setengah.
Lily datang agak telat, rambutnya masih agak basah. Dia langsung cari barisan kelasnya, 11 IPA 3.
Dari jauh dia udah liat Aji. Tapi Aji yang ini beda sama Aji yang di kelas.
Aji yang di kelas itu kalem, ngomongnya pelan, kalau ditanya jawabnya "iya... enggak... boleh..." kayak robot lowbat.
Aji yang di lapangan ini lagi berdiri di barisan paling belakang sama Rafi dan dua anak cowok lainnya. Topinya miring, dasinya belum dikencengin, lagi praktek jadi pembina upacara.
Dengan suara berat ditahan, Aji niru Pak Kepsek:
"...anak-anakku sekalian yang saya banggakan, yang saya cintai seperti anak sendiri padahal kalau nilai kalian jelek saya marahin..."
Satu barisan belakang langsung nahan ketawa. Rafi sampai batuk-batuk.
Lily yang liat dari barisan cewek langsung melongo. Terus ngakak pelan. Ketutup masker.
Aji belum liat Lily. Dia lanjut, sekarang jadi dirigen.
"Dan sekarang... menyanyikan lagu wajib... Yakult... cintaku padamu..."
"JI! Diam! Kepsek liat!" bisik Rafi sambil mukul lengan Aji.
Aji langsung pasang muka serius lagi. Pas banget Pak Kepsek beneran noleh ke barisan belakang. Aji langsung hormat paling tegak se-Indonesia.
Lily dari barisan depan ngintip ke belakang. Pas mata mereka ketemu, Aji kaget. Mukanya yang tadi kocak langsung balik mode kalem lagi. Sok khusyuk liat bendera.
Lily malah makin ketawa. Dia nutup mulut pakai tangan, bahunya naik turun.
Upacara kelar jam 07.30. Semua bubar rebutan masuk kelas biar nggak kepanasan.
Lily langsung nyamperin Aji yang lagi jalan sambil benerin topi miringnya.
"Kirain kamu kalem," kata Lily, masih nahan senyum. "Ternyata kamu kocak juga ya."
Aji langsung salting. "Eh... itu... tadi..."
"Tadi bagus loh jadi Pak Kepsek," lanjut Lily. "Mirip banget. Apalagi pas bagian Yakult."
Satu kelas yang lewat pada ketawa denger itu.
Rafi nimbrung, "Li, kamu baru tau ya? Aji itu di kelas emang kalem, tapi aslinya dia stand up comedian gagal. Cita-citanya masuk TV tapi nyasar ke IPA 3."
"Enak aja gagal," protes Aji, tapi dia udah ketawa juga. Nggak bisa jaim lagi.
Dan untuk pertama kalinya, Lily liat Aji ketawa lepas. Bukan senyum kaku kayak pas minjemin penggaris. Tapi ketawa ngakak sampai giginya keliatan semua.
Lucu. Nggak kaya Yakult lagi. Lebih kaya... permen karet yang meletup-letup.
"Besok upacara lagi ya," kata Lily. "Aku mau liat kamu jadi Bu Ratna."
"Ogah," kata Aji. "Tarifnya mahal. Bayarnya harus pakai roti tawar pinggiran lagi."
Lily ngeluarin kotak bekalnya dari tas. Hari ini isinya lagi-lagi roti tawar coklat. Dan satu botol Yakult.
"Nih," katanya. "Uang bayarannya. Tapi pinggirannya aku makan sendiri hari ini. Soalnya udah tau bakal dimakanin kamu lagi."
Mereka jalan berdua ke kelas, ninggalin lapangan upacara yang masih panas. Di belakang, Rafi teriak: "Woy pengantin Yakult, jangan mesra-mesraan di lapangan!"
Aji sama Lily kompak: "DIEM!"
Terus ketawa bareng.
Bab 6: Motor Kempes
Bel pulang jam 14.00 lagi. Tapi hari ini gerbang depan agak sepi.
Lily duduk di kursi kelas sambil ngeliatin HP-nya. Mukanya agak manyun.
"Kenapa Li?" tanya Aji yang lagi masukin buku pelan-pelan, padahal udah selesai dari 10 menit lalu. Nungguin.
"Abang aku nggak bisa jemput," kata Lily nunjukin chat WA.
Chatnya singkat, khas PNS:
Bang Ilham: Li, maaf ya nggak bisa jemput. Motor abang kempes di parkiran kelurahan. Kena paku. Abang masih nunggu tukang tambal. Kamu naik ojek aja ya? Atau bareng temen dulu nggak apa.
Di bawahnya ada foto. Motor Beat hitam itu, bannya yang belakang kempes total, peyot. Di sebelahnya ada Kak Naya jongkok sambil megangin senter HP, mukanya panik.
Aji langsung baca peluang. Ini momen pahlawan kesiangan part 2.
"Eh, kalau gitu bareng aku aja," kata Aji cepet. "Rumahku kan di Sukun, searah sama rumahmu yang di daerah Gadang itu kan? Lewat. Kita naik angkot AL bareng. Turunnya aku dulu, terus kamu lanjut dikit."
Lily mikir sebentar. "Beneran nggak ngerepotin?"
"Enggak! Sama sekali enggak!" Jawab Aji kekencengan. Satu kelas yang masih ada langsung noleh.
Rafi dari belakang nyeletuk, "Wih, sopir pribadi Yakult."
"DIEM RAF!" kompak Aji sama Lily.
Mereka jalan berdua keluar gerbang. Tukang cilok udah mau tutup, tukang tambal ban depan sekolah lagi rame.
Di angkot AL yang ngetem depan sekolah, udah ada 3 anak. Aji naik duluan, terus narik tangan tas Lily biar naiknya gampang. Gaya kakak-kakak banget, padahal tangannya gemeter.
Angkot jalan pelan, musiknya dangdut koplo pelan.
Lily masih megang HP, ngebales chat abangnya.
Lily ngetik: Iya bang nggak apa, aku pulang sama Aji naik angkot.
Dua centang biru langsung. Terus Ilham bales:
Bang Ilham: Aji? ADIKNYA NAYA? Ya Allah jaga ya Ji! Jangan ngebut angkotnya! Titip Lily!
Aji yang ngintip dari samping langsung panik. "Buset, abangmu kayak mau ngirim paket."
Lily ketawa. "Abangku emang gitu. Sejak pacaran sama Kak Naya jadi makin protektif. Katanya biar dapet restu."
Aji langsung kepancing. "Oh iya, jadi... kamu udah tau ya? Kalau Kak Naya itu kakak aku?"
"Udah tau dari tadi pagi," kata Lily santai. "Kak Naya nge-DM aku di IG. Bilangnya 'Hai Lily, aku kakaknya Aji, salam kenal ya, jangan kaget kalau Aji di sekolah kalem tapi di rumah norak'."
Aji pengen loncat dari angkot.
"Terus kamu jawab apa?" tanya Aji lemes.
"Aku jawab: iya kak, udah tau kok noraknya. Tadi pagi jadi Pak Kepsek di upacara."
Angkot berhenti di pertigaan Sukun. Harusnya Aji turun di sini.
Tapi Aji nggak turun.
"Kok nggak turun?" tanya Lily.
"Ntar aja. Aku anterin kamu dulu sampai Gadang. Abis itu aku jalan balik. Motor abangmu kan kempes, masa kamu turun angkot sendirian," kata Aji. Sok cool lagi, padahal dalam hati ngitung sisa uang jajan buat naik angkot balik lagi cukup apa enggak.
Lily diem sebentar, terus senyum. Senyum yang nggak ditutupin tangan.
"Baik banget kamu, Ji."
Angkotnya lanjut jalan. Lewat perumahan, lewat masjid, lewat tukang es degan.
Aji ngeluarin sesuatu dari saku tasnya. Tutup kotak bekal bening Lily yang kemarin ketinggalan. Yang udah dia cuci.
"Nih, ketinggalan kemarin," kata Aji.
Lily nerima, terus langsung buka tasnya. Ngeluarin satu botol Yakult dingin.
"Tukeran lagi?"
"Tukeran lagi."
Dan di angkot AL yang agak oleng itu, dua anak SMA tukeran Yakult sama tutup kotak bekal, disaksisin ibu-ibu bawa belanjaan sama supir angkot yang nyetel lagu Engkau memang pantas untuk disayangi dari radio. Kebetulan banget.
Bab 7: Teras Rumah Lily
Angkot AL berhenti di gang kecil daerah Gadang. Gangnya ada pohon mangga gede, di bawahnya ada pos ronda.
"Nah sini," kata Lily. "Rumahku yang pagar hijau itu."
Aji turun duluan, bayarin angkotnya. 6000 untuk berdua. Sisa uang jajannya tinggal 4000 buat balik. Nggak apa.
Mereka jalan kaki masuk gang. Baru lima langkah, udah keliatan dari jauh.
Di teras rumah pagar hijau, ada dua orang lagi duduk di kursi plastik. Motor Beat hitam yang tadi kempes sekarang disandarin ke tembok, bannya masih peyot, di sebelahnya ada pompa injak pinjeman tetangga.
Bang Ilham duduk sambil ngelap keringet pakai tisu. Kemeja batiknya udah dilipet lengannya. Kak Naya duduk sebelahnya, kipas-kipas pakai tutup ember, sambil ngasih Ilham minum air putih.
Mereka berdua noleh pas liat Aji sama Lily datang bareng.
Lily langsung lari kecil. "Bang! Kak Naya!"
Ilham berdiri. "Nah kan! Selamat sampai!"
Kak Naya juga berdiri, tapi ngeliat Aji langsung senyum jail.
"Wih, kurir Yakult Express sampai juga," kata Kak Naya.
Aji langsung kaku lagi. Mode kalemnya balik otomatis. Beda banget sama Aji yang kocak di upacara tadi pagi.
"Siang... kak... siang bang," kata Aji nunduk.
Ilham ketawa, nepuk pundak Aji. "Makasih banyak ya Ji udah nganterin Lily. Abang tadi beneran apes, kena paku payung di parkiran kelurahan. Dorong dari sana sampai sini sama Naya. Olahraga gratis."
"Bohong," bisik Kak Naya ke Lily. "Padahal dia nggak bisa pompa sendiri, jadi aku yang pompa."
"Eh denger loh!" protes Ilham.
Lily sama Aji ketawa bareng. Suasananya langsung cair.
Terus Lily inget sesuatu. Dia ngeluarin tutup kotak bekal bening dari tasnya.
"Nih Kak Naya, ini tutup bekal aku kemarin ketinggalan di kelas. Udah dicuciin Aji."
Kak Naya nerima, terus ngeliat Aji dengan tatapan oh-jadi-kamu-sudah-sejauh-ini-ya.
"Wah, udah dicuciin? Rajin banget adik kakak," goda Kak Naya. "Gimana, Ji? Udah balikin penggaris abang Ilham belum?"
"Udah kak! Tadi pagi aku balikin ke Lily!"
Ilham ikutan nimbrung, "Nah, ngomong-ngomong soal balikin, Yakult yang tadi pagi mana? Abang haus nih abis dorong motor."
Aji sama Lily kompak ngeluarin botol Yakult kosong dari tas masing-masing.
"Udah abis bang," kata mereka barengan. Terus saling liat, terus ketawa lagi.
Di teras itu, ada 4 orang. Satu PNS dengan motor kempes, satu kakak yang jadi mak comblang dadakan, dan dua anak SMA yang duduk di tangga teras, kaki nggantung, minum Yakult baru yang diambilin Kak Naya dari kulkas Lily.
Sore di Malang agak mendung. Anginnya enak.
Ilham ngeliat Aji sama Lily yang duduk agak jauhan tapi sering curi-curi pandang, terus dia bisik ke Naya.
"Yang, kayaknya bentar lagi kita bakal sering ketemu di acara keluarga deh."
Naya bisik balik, "Siapin aja mental, adikmu tukang gombal, adikku tukang roti tawar."
Aji yang denger samar-samar langsung keselek Yakult.
Lily reflek nepuk punggung Aji. "Pelan-pelan!"
Dan untuk pertama kalinya, Aji nggak salting pas ditepuk Lily. Dia malah ketawa sambil batuk.
Bab 8: Gosip Angkot AL
Selasa pagi. Jam 06.50. Aji baru injek gerbang sekolah.
Belum sampai kelas, udah dicegat.
"WOY! INI DIA SOPIR ANGKOT AL!" teriak Rafi dari lorong. Satu lorong langsung noleh.
Aji pengen balik badan pulang lagi.
Di papan tulis kelas 11 IPA 3, ada tulisan gede pakai spidol warna pink, tulisan Rafi banget:
AJI + LILY = PULANG BARENG + DIJEMPUT KELUARGA BESAR + MOTOR KEMPES = SAH?
Di bawahnya digambarin hati, di dalamnya ada tulisan Yakult.
Satu kelas langsung sorak pas Aji masuk.
"Wuuu..."
Lily baru masuk 2 menit setelah Aji, langsung mukanya merah. Dia liat papan tulis, terus liat Aji, terus langsung duduk sambil nutup muka pakai buku.
"Siapa yang nulis ini?!" tanya Bu Ratna yang tiba-tiba udah di pintu. Bu Ratna wali kelas, killer tapi kalau udah senyum bahaya.
Semua langsung diem, nunjuk Rafi.
Rafi berdiri tegak. "Saya Bu, sebagai humas kelas, saya hanya menyampaikan fakta lapangan. Kemarin Aji pulang bareng Lily naik angkot AL, terus sampai rumah Lily disambut abangnya yang PNS sama kakaknya Aji. Motornya kempes Bu, jadi saksi bisu cinta mereka."
Satu kelas meledak ketawa.
Bu Ratna ngeliat tulisan itu, terus ngeliat Aji sama Lily yang duduk sebangku, yang jaraknya hari ini agak jauhan, ada tas di tengah sebagai pembatas darurat.
Bu Ratna malah senyum.
"Oh gitu," kata Bu Ratna. "Bagus dong pulang bareng. Daripada pulang sendiri-sendiri malam-malam. Tapi papan tulisnya hapus ya, Rafi. Kamu yang nulis kamu yang hapus. Sambil nyanyi lagu wajib."
Rafi disuruh maju hapus papan tulis sambil nyanyi Indonesia Raya. Aji ketolong.
Jam istirahat, gosipnya makin liar.
Di kantin, ibu kantin aja udah tau. "Lily, yang kemarin pulang sama Aji ya? Cocok loh, yang satu bawa roti, yang satu bawa Yakult."
Lily yang lagi beli es teh langsung keselek. Aji yang di sebelahnya yang lagi pesen gorengan, langsung sigap ngasih tisu. Gerakannya udah hafal.
"Lu udah kayak suami siaga ya Ji?" ledek Rafi lagi, nongol entah dari mana bawa gorengan 5 biji.
Kali ini Aji nggak kalem lagi. Aji yang versi upacara kemarin keluar.
"Rafi," kata Aji dengan suara pembina upacara, "kamu ini sebagai humas kelas kok gosipnya nggak akurat. Bukan disambut keluarga besar, tapi disambut dua orang yang dorong motor kempes. Tolong revisi beritanya ya."
Satu kantin ketawa.
Lily ngeliatin Aji. Yang kemarin dia kira kalem, ternyata kalau udah di depan orang banyak malah paling kocak. Paling berani.
Pas Rafi pergi, Lily bisik pelan ke Aji.
"Ji, kamu nggak malu ya digosipin kayak gini?"
Aji mikir sebentar, terus nyedot es tehnya.
"Dulu malu," katanya jujur. "Tapi kalau yang digosipin sama kamu, gapapa. Asal gosipnya yang bener. Kemarin kan emang pulang bareng."
Lily diem, terus ngeluarin kotak bekalnya. Hari ini isinya masih roti tawar coklat, tapi sekarang pinggirannya udah nggak disisihin. Udah dimakan semua.
"Nih," kata Lily nyodorin satu segitiga roti. "Buat pahlawan angkot AL."
Aji nerima. "Tuker Yakult?"
"Tuker."
Dan di meja kantin yang rame itu, di tengah gosip yang makin gede, dua orang itu tukeran bekal lagi kayak nggak ada yang liat. Padahal satu kantin liat.
Bab 9: Lamaran
Sabtu sore. Rumah Aji di Sukun.
Aji lagi selonjor di ruang tamu, minum Yakult dingin sisa dari kulkas. Kak Naya duduk rapi banget, pakai gamis, nggak biasanya. Di sebelahnya Bang Ilham, pakai batik yang sama kayak pas jemput Lily, tapi sekarang lebih wangi, rambutnya lebih rapi, sepatu pantofelnya kinclong banget.
Di depan mereka ada Bapak sama Ibu Aji. Di meja ada teh, kue lapis, sama piring kacang yang belum dibuka. Suasana formal.
Aji nggak ngerti ada acara apa. Kirain mau arisan.
Terus Kak Naya buka suara, suaranya agak gemeter.
"Bapak, Ibu... aku sama Ilham... mau minta restu. Kita mau lamaran bulan depan. Kalau boleh."
Bapak Aji ngangguk pelan. Ibu Aji langsung nutup mulut, matanya berkaca-kaca.
Aji yang lagi nyedot Yakult, langsung...
BYUUUR.
Nyembur. Yakult-nya muncrat ke karpet.
Semua noleh ke Aji.
"Masa gua sama Lily iparan?!" kata Aji kenceng, nggak sengaja keceplosan. Suaranya setengah teriak setengah kaget.
Kak Naya langsung melotot. "Aji!"
Bang Ilham yang tadinya tegang mau lamaran, langsung ngakak. Nggak bisa nahan. "HAHAHA itu yang ada di otak kamu pertama kali, Ji?"
Aji ngelap mulutnya pakai lengan. "Lah iya lah! Kan Lily adiknya Abang Ilham! Kalau Kak Naya nikah sama Bang Ilham, berarti Lily jadi adik ipar aku! Terus aku jadi kak iparnya Lily?!"
Di saat yang sama, dari pintu samping, Lily nongol. Tadi dia emang diajak Kak Naya datang sekalian, katanya mau main. Dia pakai kerudung pink, bawa kotak bekal. Dia denger semua.
Mukanya Lily juga kaget, sama persis kayak Aji.
"Loh? Jadi... aku sama Aji iparan?" katanya pelan.
Satu ruang tamu hening. Terus pecah.
Ibu Aji ketawa, Bapak Aji ketawa, Kak Naya ketawa sambil mukul lengan Ilham.
Ilham yang udah agak tenang, jelasin sambil masih ngakak.
"Iya, secara teknis begitu. Kalau Kak Naya jadi istri abang, Lily jadi adik ipar kamu, Ji. Kamu jadi kak iparnya Lily."
Aji langsung duduk lemes di lantai. "Gila... gue belum sempat nembak, udah jadi kak ipar."
Lily duduk di sebelah Aji, juga lemes. Kotak bekalnya ditaruh di tengah.
"Terus gimana dong?" kata Lily pelan, cuma Aji yang denger. "Masa aku manggil kamu Kak Ipar di kelas?"
"Jangan," kata Aji cepet. "Mending manggil Aji aja. Kak Ipar tuh kayak bapak-bapak."
"Terus kalau kita... ehm... kalau kita jadian, kita jadian sama ipar sendiri dong?"
Aji ngeliat Lily. Lily ngeliat Aji. Dua-duanya merah.
Kak Naya yang denger dari belakang langsung nyeletuk, "Nah! Makanya buruan jadian sebelum lamaran, biar pas lamaran statusnya udah jelas, bukan cuma teman sebangku yang tukeran roti pinggiran!"
"BURUAN KATANYA?!" Aji sama Lily kompak teriak.
Ilham ngangkat tehnya kayak mau toast. "Gini ya, daripada bingung iparan, mending abang kasih restu duluan. Aji, abang sebagai calon kakak ipar sekaligus abang dari cewek yang kamu taksir, abang restuin kamu deketin Lily. Tapi... jangan lupa balikin penggaris abang yang dipinjem Lily kemarin. Itu penggaris PNS, aset negara."
Satu ruangan ketawa lagi. Lebih kenceng.
Malam itu, setelah lamaran kecil-kecilan itu selesai, Aji sama Lily duduk di teras depan, kaki nggantung. Motor Beat yang udah nggak kempes lagi diparkir di depan.
Di antara mereka ada dua Yakult dan satu kotak roti tawar coklat yang pinggirannya udah dimakan semua, nggak disisihin lagi.
"Ji," kata Lily pelan.
"Hmm?"
"Kalau kita iparan, berarti nanti kalau di sekolah ada yang nanya, aku jawabnya gimana? 'Ini pacar aku, sekaligus kakak ipar aku'?"
Aji mikir sebentar, terus nyengir kocak versi upacara Senin.
"Jawab aja, 'Ini Aji, teman sebangku, tukang ojek angkot AL, sekaligus calon kakak ipar yang masih ngutang tutup bekal'."
Lily ketawa ngakak sampai helm Ilham yang di atas motor jatuh.
Bab 10: Protes di Kamar
Kamar Aji ukuran 3x3. Ada poster Persebaya, meja belajar yang bukunya numpuk tapi yang dibuka cuma satu, dan tumpukan baju yang dikategorikan sebagai "masih wangi" sama "udah nyerah".
Pintu kamarnya ditutup. Agak dibanting. Nggak kenceng, soalnya takut dimarahin Ibu.
Aji langsung rebahan di kasur, muka nempel bantal.
"Gak adil," gumamnya ke bantal.
Di atas meja, ada tutup kotak bekal bening Lily yang belum dibalikin. Di sebelahnya ada botol Yakult kosong yang tadi siang dia minum pas lamaran.
Aji duduk, ngambil botol Yakult kosong itu, dijadiin mic.
"Selamat malam para hadirin," katanya ke tembok. "Saya Aji, umur 17 tahun, siswa 11 IPA 3, hobi tukeran bekal, cita-cita jadi kakak ipar."
Dia rebahan lagi.
"Ya Allah, masa gua sama Lily iparan? Gimana ceritanya coba? Kemarin masih deg-degan pinjem penggaris, sekarang besok harus manggil Lily 'dek' dengan status resmi keluarga?"
Dia buka HP. Grup kelas rame.
Rafi udah nyebar berita baru:
BREAKING NEWS: AJI RESMI JADI CALON KAKAK IPAR LILY. LAMARAN KAKAKNYA AJA, DIA YANG NYEMBUR YAKULT.
Di bawahnya ada 47 chat "wkwkwk" sama sticker.
Aji matiin HP-nya.
Terus dia ngomong lagi sendiri, kali ini lebih pelan.
"Kalau gue nembak Lily terus diterima, berarti gue pacaran sama adik ipar gue sendiri. Kalau gue putus, Lebaran jadi canggung. Kalau gue nggak nembak, nyesel, soalnya tiap kumpul keluarga ngeliat dia makan roti tawar pinggiran."
"Terus kalau gue jadi kak ipar, gue harus lebih dewasa dong? Padahal gue aja disuruh buang sampah sama Kak Naya masih lupa."
Dia ngambil tutup bekal Lily, dielus-elus.
"Padahal enak lho jadi teman sebangku. Bisa tukeran Yakult, bisa ngakak di upacara. Kalau jadi ipar, jadi formal nggak ya? Masa manggilnya 'Lily, tolong operin sambal, Dek Ipar'? Aneh banget."
Pintu kamarnya diketok.
Tok tok tok.
"Ji, kamu nggak apa?" suara Kak Naya dari luar.
"Gapapa kak!" jawab Aji cepet, suaranya masih serak abis protes.
Pintu dibuka dikit. Kak Naya ngintip, bawa piring kue lapis sisa lamaran tadi.
"Gapapa gimana, dari tadi ngomong sendiri. Kedengeran sampai ruang tamu. Katanya 'masa gua iparan' 20 kali."
Aji langsung duduk tegak, pura-pura main HP.
Kak Naya masuk, naruh kue di meja.
"Ji, dengerin kakak ya," kata Kak Naya duduk di ujung kasur. "Kakak tau ini aneh buat kamu. Tiba-tiba calon pacar kamu jadi calon adik ipar kamu."
"Banget kak," kata Aji lemes.
"Tapi justru bagus tau," lanjut Kak Naya. "Berarti kamu bisa ketemu Lily terus. Kumpul keluarga, Lebaran, arisan, semua ada Lily. Kamu nggak perlu alasan pinjem penggaris lagi buat ketemu."
Aji mikir. Bener juga.
"Terus," Kak Naya lanjut sambil nyengir jail, "kalau kamu jadian sama Lily, abang Ilham nggak bisa galak-galak ke kamu. Soalnya kalau dia galak, kakak jitak. Kamu aman."
Aji mulai ketawa dikit.
"Jadi... aku nggak perlu protes ya kak?"
"Protes aja, tapi di kamar aja. Di depan Lily jangan. Nanti dia kira kamu nggak mau iparan sama dia."
Pas Kak Naya keluar, HP Aji getar.
Chat dari Lily.
Lily: Ji, kamu marah ya jadi iparan sama aku?
Lily: Aku di kamar juga lagi protes sendiri. Masa aku harus manggil kamu kak ipar. Aneh.
Aji langsung ketik cepet, jari gemeter.
Aji: Enggak marah Li. Aku cuma kaget. Tapi gapapa kan? Kita tetap teman sebangku dulu. Urusan iparan mah nanti.
Lily: Iya. Teman sebangku yang tukeran Yakult. Iparannya nanti aja kalau kakak kita udah sah.
Aji senyum sendiri di kamar. Protesnya selesai.
Dia ngambil botol Yakult kosong di meja, terus ngomong lagi ke tembok, tapi kali ini pelan banget.
"Engkau memang pantas untuk... jadi adik ipar aku."
Bab 11: Antar Bareng
Senin pagi. 06.30. Gang Sukun masih berkabut tipis, khas Malang kalau habis hujan malamnya.
Motor Beat hitam itu udah nggak kempes lagi. Udah dipompa, udah dicuci, spionnya udah dilap.
Bang Ilham di depan, pakai batik Korpri rapi, sepatu pantofel kinclong. Di belakangnya duduk Lily, pakai kerudung pink, tasnya di punggung. Dan di paling belakang, agak mepet karena jok Beat itu kecil...
Aji.
Posisinya salah total. Tangan bingung mau pegangan kemana. Pegang besi belakang malu, pegang jaket Ilham lebih malu.
"Ji, pegangan yang bener! Nanti jatuh!" teriak Ilham dari depan sambil ngerem karena polisi tidur.
Aji akhirnya pegangan ke tas Lily. Lily ketawa kecil.
Satu gang dilewatin, dua gang dilewatin, semua ibu-ibu yang lagi nyapu ngeliatin. Motor PNS bawa dua anak SMA berangkat bareng.
Sampai depan gerbang sekolah jam 06.55. Pas jam paling rame.
Rafi udah nongkrong di gerbang sambil makan gorengan. Dia liat motor itu datang, langsung matanya melotot.
"ASTAGFIRULLAH!" teriak Rafi kenceng banget sampai satpam noleh.
Motor berhenti. Ilham turun, buka helm. Lily turun. Aji turun paling terakhir, kakinya agak kesemutan karena kejepit.
Rafi lari mendekat.
"Bang Ilham! Motornya udah sembuh bang!" kata Rafi, salim ke Ilham kayak ke pejabat.
"Udah dong," kata Ilham ketawa. "Tadi malem abang lembur mompa."
Terus Rafi noleh ke Aji sama Lily. "Jadi... kalian... berangkat bareng? Satu motor? Bertiga?"
Lily jawab duluan, santai, "Iya. Abangku nganterin. Soalnya searah."
"Seerah apa se-hati?" celetuk Rafi.
Aji yang dari tadi diem, langsung keluar mode kocak upacaranya lagi.
"Rafi, sebagai humas kelas, tolong catat ya. Hari ini Senin, 07.00, Aji dan Lily datang diantar PNS. Bukan pacaran, tapi antar iparan. Tolong beritanya yang akurat."
Satu gerbang ketawa.
Ilham yang denger kata iparan langsung ngakak juga. "Nah itu, pinter. Ayo udah sana masuk, abang mau lanjut ke kelurahan. Nanti siang abang jemput lagi ya, tapi yang dijemput sekarang dua, bukan satu."
Aji sama Lily jalan berdua masuk gerbang. Ditinggalin Ilham yang dadah-dadah kayak nganter anak TK.
Di koridor menuju kelas, semua mata ngeliatin.
Anak kelas 12 yang lagi piket ngintip dari jendela, anak kelas 10 yang baru datang langsung bisik-bisik.
Sampai di depan kelas 11 IPA 3, Bu Ratna udah berdiri di pintu, bawa buku absen.
Bu Ratna ngeliat Aji sama Lily datang bareng, terus senyum.
"Wah, kompak ya berangkatnya. Abis ini upacara ya, jangan lupa baris yang rapi. Aji di belakang lagi?"
"Siap Bu!" jawab Aji tegak. "Tapi hari ini saya nggak jadi Pak Kepsek Bu, saya jadi tukang ojek iparan."
Bu Ratna ketawa, padahal biasanya nggak pernah ketawa Senin pagi. "Masuk sana, tukang ojek."
Di dalam kelas, di bangku mereka, udah ada dua botol Yakult dingin di atas meja. Nggak tau siapa yang naruh. Di bawahnya ada kertas kecil tulisan tangan Lily:
Buat ongkos angkot kemarin. Makasih ya udah nganterin.
Aji duduk, Lily duduk. Jarak tas pembatas yang kemarin ada, hari ini udah nggak ada. Diganti sama dua botol Yakult yang dijejerin.
Lily bisik, "Ji, jadi sekarang kita berangkat bareng terus ya? Kan abang aku yang nganter?"
Aji bisik balik, "Iya. Tapi besok aku yang di tengah ya, biar adil. Soalnya tadi aku di belakang kesemutan."
Lily nutup mulut nahan ketawa. "Enak aja. Kamu di belakang terus, biar nggak bisa liat jawaban MTK aku."
Bel upacara bunyi. Mereka berdua keluar kelas bareng, jalan sebelahan, di belakang Rafi yang masih sibuk nyebar gosip baru di grup WA:
BREAKING NEWS: AJI DAN LILY RESMI DIANTAR PNS. STATUS: IPARAN SEBANGKU.
Bab 12: Kasti Iparan
Jam ke 5-6. Pelajaran olahraga. Lapangan belakang SMA panasnya kayak wajan.
Pak Hendro guru olahraga udah berdiri di tengah bawa peluit.
"Oke anak-anak! Hari ini kasti! Bagi dua tim! Tim A pakai rompi kuning, Tim B rompi biru!"
Aji sama Lily udah pasrah. Biasanya kalau pelajaran olahraga mereka kepisah jauh. Aji jago lari tapi nggak bisa mukul, Lily nggak bisa dua-duanya tapi semangat.
Pak Hendro bagi kertas undian. Rafi maju duluan.
"Rafi tim kuning!"
"Yes!"
"Lily tim kuning!"
Lily loncat kecil. "Yes!"
"Aji... tim kuning juga!"
Aji sama Lily saling liat. Satu tim.
Game mulai. Tim kuning mukul dulu.
Giliran Lily mukul. Dia pegang pemukulnya kayak pegang sapu. Dipukul, meleset. Dipukul lagi, meleset lagi. Ketiga kalinya...
POK!
Kena! Bolanya nggak jauh, cuma nggelinding 3 meter. Tapi kena.
"LARI LI!" teriak satu tim.
Peraturan kasti di sekolah Aji agak beda. Kalau habis mukul, harus lari keliling tiang sambil gandengan tangan sama pasangan satu tim. Biar kompak katanya Pak Hendro. Padahal biar rame.
Pasangan Lily? Aji. Soalnya yang paling deket.
Aji langsung maju, tangannya agak ragu.
Lily udah ngulurin tangan duluan.
"Gandeng Ji! Nanti keburu mati!"
Aji megang tangan Lily. Kecil, agak berkeringat karena panas.
Mereka lari berdua. Aji di depan narik dikit, Lily di belakang hampir jatuh karena rok olahraga.
Satu lapangan langsung heboh.
"WOY GANDENGAN! GANDENGAN!" teriak Rafi yang jadi komentator dadakan dari pinggir. "INI DIA PASANGAN IPARAN SEBANGKU!"
Anak tim biru juga ikut sorak, bukan ngejek, tapi gemes.
Di tengah mereka lari, dari jalan samping lapangan yang tembus ke jalan raya, ada motor Beat hitam lewat pelan. Mau ke kelurahan.
Bang Ilham.
Dia liat lapangan, liat dua anak yang lagi lari gandengan tangan pakai rompi kuning, langsung ngerem mendadak. Helmnya dibuka dikit.
Matanya melotot.
Itu Aji sama Lily. Gandengan tangan. Di depan satu sekolah.
Ilham langsung ngeluarin HP, foto. Cekrek. Langsung kirim ke grup keluarga.
Ilham: [Foto Aji gandeng Lily lari kasti]
Ilham: Naya, liat adikmu. Sudah berani gandengan di lapangan. Abang sebagai PNS turut bangga.
Di lapangan, Aji sama Lily udah sampai tiang finish. Selamat, nggak mati. Tim kuning sorak.
Mereka lepasin tangan, tapi agak lama lepasnya. Masih malu-malu.
"Gimana Ji, aku jago kan?" kata Lily ngos-ngosan, mukanya merah karena lari sama panas.
"Jago banget," kata Aji juga ngos-ngosan. "Mukulnya 3 kali baru kena, larinya hampir jatuh, tapi gandengannya juara satu."
Lily mukul lengan Aji pelan. "Ngatain ya?"
Di pinggir lapangan, Ilham masih nongkrong di atas motor, nggak jadi berangkat ke kelurahan. Dia manggil.
"Lily! Aji! Sini!"
Mereka berdua jalan ke pinggir lapangan, masih pakai rompi kuning, masih keringetan.
Ilham senyum, tapi senyum abang-abang yang mau jail.
"Tadi gandengannya mesra banget ya? Udah kayak pasangan suami istri arisan RT."
"Bang!" Lily protes, mukanya merah lagi.
Ilham ngeliat Aji. "Ji, sebagai calon kakak ipar, abang nilai 9 dari 10 tadi gandengannya. Kurang 1 karena larinya kecepetan, Lily hampir jatuh. Lain kali pelan-pelan ya."
Aji nunduk, tapi senyumnya nggak bisa ditahan. "Siap bang."
Ilham ngeluarin dua botol Yakult dingin dari tas motornya. Kayak Doraemon.
"Nih, hadiah buat yang menang kasti. Dari Kak Naya. Katanya biar nggak dehidrasi."
Aji sama Lily nerima. Tukeran lagi? Enggak, kali ini minum bareng-bareng di pinggir lapangan, disaksikan satu tim kuning dan Rafi yang masih live report di grup kelas:
RAFI: BREAKING: GANDENGAN IPARAN TERJADI DI LAPANGAN KASTI. DISAKSIKAN PNS.
Ending: Iparan
Tiga bulan kemudian.
Aula kelurahan Sukun. Dekorasinya sederhana, ada bunga plastik, ada spanduk: Selamat Menempuh Hidup Baru Naya & Ilham.
Hari lamaran yang kemarin jadi beneran nikah.
Kak Naya pakai kebaya putih, cantik banget, beda jauh sama Kak Naya yang biasanya ngomel gara-gara handuk basah. Bang Ilham pakai batik yang sama kayak pas pertama kali jemput Lily, tapi sekarang pecinya rapi, sepatu pantofelnya nggak ada debu sama sekali. PNS resmi mau akad.
Aji jadi seksi sibuk. Bagian angkat-angkat kursi, bagian nyariin tisu buat Kak Naya yang nangis, bagian jagain kotak amplop.
Lily jadi penerima tamu di depan, pakai dress dusty pink, kerudung putih. Di sampingnya ada kotak isinya Yakult, buat tamu kecil-kecil. Idenya Lily.
Seharian mereka nggak sempat ngobrol. Cuma saling liat dari jauh. Aji lagi angkat es batu, Lily lagi salaman sama bu-bu PKK.
Sampai acara selesai, sore. Tamu udah pulang. Tinggal keluarga inti di teras aula.
Bapak Ibunya Aji lagi ngobrol sama Bapak Ibunya Lily. Kak Naya sama Bang Ilham lagi foto-foto.
Aji sama Lily duduk di tangga aula, kaki nggantung, kayak dulu di teras rumah Lily. Di antara mereka ada dua hal yang familiar: satu kotak roti tawar coklat sisa hajatan, sama dua botol Yakult dingin.
"Jadi resmi ya," kata Lily pelan, buka tutup Yakult.
"Resmi," kata Aji. "Mulai hari ini kamu adik ipar aku. Aku kakak ipar kamu."
Lily ketawa. "Aneh ya."
"Aneh banget."
Hening sebentar. Angin sore Malang dingin.
"Ji," kata Lily lagi. "Makasih ya udah jadi teman sebangku paling kocak."
"Samain," kata Aji. "Makasih udah jadi teman sebangku yang rotinya enak, walau pinggirannya kadang nggak dimakan."
Mereka tukeran. Terakhir kalinya tukeran roti sama Yakult di status teman sebangku. Mulai besok statusnya udah beda.
Aji nyedot Yakult-nya.
"Li, kamu nyesel nggak? Jadi iparan sama aku?"
Lily geleng. "Enggak. Malah seneng. Soalnya kalau jadi ipar, kita bakal ketemu terus. Lebaran, arisan, kumpul keluarga. Nggak bakal kepisah."
"Terus yang lagu itu gimana?" tanya Aji. "Yang engkau memang pantas untuk disukai itu?"
Lily senyum, senyum yang udah nggak ditutupin tangan lagi.
"Tetep pantas," katanya. "Tapi sekarang disukainya sebagai adik ipar. Bukan yang lain. Kita kan masih sekolah, Ji. Masih panjang."
Aji ngangguk. Ngerti.
Malam itu, di buku diary Aji yang nggak pernah dibuka orang, Aji nulis satu baris terakhir buat cerita ini:
Akhirnya kami jadi ipar. Aku nggak nikah sama Lily, Lily juga nggak nikah sama aku. Kami tetap Aji dan Lily, duduk sebangku, tukeran Yakult sama roti tawar. Hati ini tak akan pernah terbagi, karena sekarang hatinya udah dibagi jadi keluarga.
Di luar, Bang Ilham manggil, "Woy adik-adik ipar! Ayo foto keluarga!"
Aji sama Lily berdiri bareng, jalan ke tengah aula, berdiri sebelah-sebelahan, bukan sebagai pasangan, tapi sebagai ipar.
Dan Rafi yang jadi fotografer dadakan teriak dari belakang kamera:
"1, 2, 3... SENYUM IPARAN!"
Selesai.