Hujan turun sejak sore, membasahi jalanan kota yang mulai sepi. Di sebuah kedai kopi kecil di sudut jalan, seorang pemuda bernama Arka duduk sendirian di dekat jendela.
Di hadapannya terdapat secangkir kopi yang mulai dingin dan sebuah buku yang sejak tadi tidak benar-benar ia baca.
Arka bukan orang yang pandai berbicara. Ia lebih suka menyimpan pikirannya sendiri, membiarkan dunia berlalu tanpa merasa perlu ikut campur. Baginya, hidup hanyalah perjalanan panjang yang harus diselesaikan, meskipun ia sendiri tidak tahu ke mana tujuannya.
Sampai seorang gadis datang dan mengubah sore itu menjadi sesuatu yang tidak pernah ia bayangkan.
Gadis itu mengenakan jaket krem dengan rambut yang sedikit basah karena hujan. Ia memandang sekeliling kedai, mencari tempat duduk, tetapi semua meja telah terisi.
Kecuali meja Arka.
"Maaf, boleh duduk di sini?" tanyanya sambil menunjuk kursi di seberang Arka.
Arka mengangguk singkat.
"Terima kasih."
Gadis itu duduk, lalu memesan cokelat panas. Beberapa menit berlalu dalam keheningan sebelum ia melirik buku di hadapan Arka.
"Kamu suka membaca?"
"Kadang-kadang."
"Kalau begitu, kenapa bukunya dari tadi nggak dibuka?"
Arka menatap bukunya, kemudian menatap gadis itu.
"Aku sedang memikirkan sesuatu."
Gadis itu tersenyum kecil. "Berarti bukunya kalah menarik sama pikiranmu sendiri."
Untuk pertama kalinya hari itu, Arka hampir tertawa.
"Namaku Nara," kata gadis itu sambil mengulurkan tangan.
"Arka."
Dan begitulah semuanya dimulai.
Bukan dengan bunga, bukan dengan puisi, apalagi janji-janji indah. Hanya dua orang asing yang bertemu di sebuah kedai kopi saat hujan turun.
Namun, terkadang, hal-hal besar memang berawal dari sesuatu yang sangat sederhana.
Setelah pertemuan itu, Arka tidak menyangka akan bertemu Nara lagi.
Namun, tiga hari kemudian, gadis itu kembali muncul di kedai yang sama.
"Eh, si pemikir!" seru Nara ketika melihat Arka.
Arka mengangkat alis. "Kamu selalu memanggil orang dengan julukan aneh?"
"Hanya orang yang menarik."
"Jadi, menurutmu aku menarik?"
Nara terdiam sejenak, kemudian tertawa.
"Jangan terlalu percaya diri!"
Sejak saat itu, mereka mulai sering bertemu.
Kadang mereka berbicara tentang film, makanan, atau hal-hal tidak penting yang entah mengapa terasa menyenangkan. Pada hari lain, mereka hanya duduk bersebelahan sambil menikmati hujan.
Nara adalah kebalikan Arka.
Ia mudah tertawa, suka bercerita, dan selalu menemukan sesuatu yang menarik dalam hal-hal kecil. Baginya, langit mendung tetap indah, kopi yang terlalu pahit masih bisa dinikmati, dan hari buruk bukan alasan untuk berhenti tersenyum.
Suatu sore, Nara bertanya, "Arka, menurutmu cinta itu apa?"
Arka mengalihkan pandangan dari jendela.
"Kenapa tiba-tiba bertanya begitu?"
"Karena aku penasaran."
"Mungkin cinta itu alasan seseorang bertahan."
Nara menggeleng pelan.
"Menurutku, cinta bukan cuma alasan untuk bertahan. Cinta juga alasan seseorang ingin pulang."
"Pulang ke mana?"
Nara tersenyum.
"Ke seseorang yang membuatnya merasa tidak sendirian."
Arka tidak menjawab.
Namun, malam itu, ketika pulang ke rumah, ia terus mengingat perkataan Nara.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia menantikan hari esok.
Bukan karena ada sesuatu yang harus ia lakukan, melainkan karena ada seseorang yang ingin ia temui.
Bulan berganti.
Kedai kopi itu menjadi tempat favorit mereka. Arka bahkan mulai hafal pesanan Nara: cokelat panas dengan sedikit kayu manis.
Ia juga mulai memperhatikan hal-hal kecil tentang gadis itu.
Nara selalu menyisakan sedikit minuman ketika sedang sedih. Ia sering menatap langit ketika memikirkan sesuatu. Dan setiap kali tertawa terlalu keras, ia akan menutup mulutnya sendiri seolah malu pada suaranya.
Arka menyukai semua itu.
Ia menyukai cara Nara bercerita, cara gadis itu mengingat hal-hal kecil, dan cara kehadirannya membuat dunia yang biasanya terasa membosankan menjadi lebih berwarna.
Namun, Arka tidak pernah mengatakannya.
Ia takut.
Bukan takut ditolak, melainkan takut kehilangan sesuatu yang bahkan belum sempat ia miliki.
Suatu hari, Nara datang dengan wajah yang berbeda. Tidak ada senyum lebar, tidak ada cerita panjang. Ia hanya duduk dan menatap cangkirnya.
"Ada apa?" tanya Arka.
Nara menggeleng.
"Nggak apa-apa."
"Kamu selalu bilang begitu kalau ada sesuatu."
Gadis itu tersenyum tipis. "Sejak kapan kamu memperhatikanku?"
Arka terdiam.
Sejak kapan?
Mungkin sejak Nara menertawakan bukunya yang tidak pernah dibaca. Mungkin sejak gadis itu mengingat pesanannya. Atau mungkin sejak hari ketika Arka menyadari bahwa ia mulai menghitung waktu berdasarkan kapan mereka akan bertemu lagi.
"Aku selalu memperhatikanmu," jawab Arka akhirnya.
Nara mengangkat wajah.
Untuk beberapa detik, mereka saling menatap tanpa mengatakan apa-apa.
Kemudian Nara memalingkan wajahnya ke jendela.
"Arka, bagaimana kalau suatu hari aku pergi?"
Arka merasakan sesuatu mengganjal di dadanya.
"Pergi ke mana?"
"Ke tempat yang jauh."
"Aku akan mengunjungimu."
"Kalau kamu nggak tahu alamatku?"
"Aku akan mencarimu."
Nara tertawa kecil, tetapi matanya terlihat berkaca-kaca.
"Kamu bahkan belum tahu apakah aku ingin ditemukan."
Arka tidak memiliki jawaban untuk itu.
Ia hanya tahu satu hal: membayangkan Nara menghilang dari kehidupannya terasa jauh lebih menakutkan daripada yang ingin ia akui.
Seminggu kemudian, Nara tidak datang ke kedai kopi.
Arka mengira gadis itu sedang sibuk.
Hari kedua, ia masih menunggu.
Hari ketiga, ia mulai khawatir.
Hari keempat, ia menyadari bahwa ia tidak memiliki nomor telepon Nara, tidak mengetahui alamat rumahnya, bahkan tidak tahu di mana gadis itu biasanya menghabiskan waktu selain di kedai tersebut.
Ia hanya tahu namanya.
Nara.
Nama sederhana yang kini memenuhi pikirannya sepanjang hari.
Pada hari kelima, pemilik kedai memberikan sebuah amplop kepadanya.
"Ini dititipkan gadis yang biasa duduk bersamamu."
Tangan Arka mendadak terasa dingin.
Di dalam amplop itu terdapat selembar surat.
Arka,
Maaf karena pergi tanpa mengucapkan selamat tinggal.
Aku sebenarnya ingin memberitahumu lebih awal, tetapi setiap kali melihatmu, aku selalu mengurungkan niatku.
Aku akan pindah ke kota lain untuk melanjutkan sekolah. Keputusan ini sudah dibuat keluargaku sejak lama.
Aku tahu kita baru mengenal satu sama lain dalam waktu singkat. Mungkin bagimu, aku hanyalah seorang gadis yang kebetulan duduk di meja yang sama ketika hujan turun.
Tapi bagiku, kamu adalah seseorang yang membuat hari-hari biasa terasa istimewa.
Terima kasih karena sudah mendengarkan cerita-ceritaku. Terima kasih karena mengingat pesananku. Dan terima kasih karena membuatku merasa bahwa keberadaanku berarti bagi seseorang.
Aku tidak tahu apakah kita akan bertemu lagi.
Tapi kalau suatu hari kita bertemu di bawah langit yang sama, aku harap kamu masih mengingatku.
Nara.
Arka membaca surat itu berkali-kali.
Ia ingin marah karena Nara pergi tanpa memberinya kesempatan untuk mengucapkan selamat tinggal. Ia ingin mengejar gadis itu, menanyakan mengapa ia tidak pernah memberitahunya lebih awal.
Namun, di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih besar.
Sebuah pengakuan yang terlambat.
"Aku juga menyukaimu, Nara," bisiknya.
Sayangnya, tidak ada siapa pun di sana yang bisa menyampaikan kalimat itu kepada gadis yang telah pergi.
5. Di Bawah Langit yang Sama
Tiga tahun berlalu.
Arka telah berubah. Ia menjadi lebih terbuka, mulai berani mencoba hal-hal baru, dan tidak lagi menghabiskan terlalu banyak waktu sendirian.
Namun, ada satu kebiasaan yang tidak pernah hilang.
Setiap kali hujan turun, ia selalu kembali ke kedai kopi itu.
Bukan karena berharap Nara akan muncul begitu saja, melainkan karena tempat itu menyimpan bagian dari hidupnya yang tidak ingin ia lupakan.
Pada suatu sore di bulan November, Arka duduk di kursi yang sama. Di hadapannya terdapat secangkir kopi hangat.
Ia sedang membaca buku ketika sebuah suara terdengar dari belakang.
"Eh, si pemikir!"
Arka membeku.
Suara itu.
Ia mengenalinya bahkan sebelum sempat menoleh.
Perlahan, Arka mengangkat wajah.
Seorang gadis berdiri di sana dengan jaket krem dan rambut sebahu. Wajahnya sedikit berbeda dari yang ia ingat, tetapi senyumnya tetap sama.
Nara.
Untuk beberapa saat, Arka hanya menatapnya, seolah takut bahwa semua ini hanyalah bayangan yang akan menghilang jika ia berkedip.
Nara menunjuk kursi di seberangnya.
"Boleh duduk di sini?"
Arka berdiri begitu cepat hingga kursinya bergeser.
"Kamu..."
Nara tertawa kecil.
"Iya, aku."
"Kapan kamu kembali?"
"Baru kemarin."
"Kenapa nggak memberitahuku?"
Nara terdiam, lalu tersenyum lembut.
"Aku nggak tahu apakah kamu masih mengingatku."
Arka menatapnya lama.
"Tiga tahun, Nara."
"Hm?"
"Aku menunggumu selama tiga tahun."
Senyum Nara perlahan menghilang.
Arka menarik napas panjang. Selama bertahun-tahun, ia membayangkan berbagai hal yang akan dikatakannya jika mereka bertemu lagi. Ia menyusun kalimat-kalimat indah dalam pikirannya, tetapi kini semuanya terasa tidak berguna.
Jadi, ia memilih berkata jujur.
"Aku menyukaimu sejak dulu. Aku hanya terlalu takut untuk mengatakannya."
Mata Nara mulai berkaca-kaca.
"Kenapa baru bilang sekarang?"
"Karena dulu aku bodoh."
Nara tertawa di antara air matanya.
"Kamu memang bodoh."
"Aku tahu."
Mereka saling menatap, lalu tertawa bersama, seperti tiga tahun yang lalu.
Di luar, hujan mulai turun.
Arka memesan cokelat panas dengan sedikit kayu manis untuk Nara, sementara gadis itu duduk di hadapannya sambil menceritakan perjalanan hidupnya selama tiga tahun terakhir.
Kali ini, Arka mendengarkan setiap kata.
Ketika kedai mulai sepi, Nara menatapnya dengan serius.
"Arka, sekarang aku sudah kembali. Tapi aku nggak tahu berapa lama aku akan tinggal di sini."
Arka mengangguk.
"Aku mengerti."
"Kamu nggak takut aku pergi lagi?"
Arka tersenyum tipis.
"Tentu saja takut."
"Lalu?"
"Aku sudah belajar sesuatu selama tiga tahun ini."
"Apa?"
Arka menatap mata Nara.
"Kalau kita terus takut kehilangan seseorang, kita mungkin tidak akan pernah berani memilikinya."
Nara terdiam.
Kemudian, perlahan, ia mengulurkan tangannya di atas meja.
Arka menyambutnya.
Tidak ada janji bahwa mereka akan selalu bersama. Tidak ada kepastian bahwa kehidupan akan memberi mereka jalan yang mudah.
Namun, untuk pertama kalinya, keduanya tidak ingin membiarkan ketakutan menentukan akhir cerita mereka.
Di luar jendela, hujan terus membasahi kota.
Dan di dalam kedai kecil itu, dua hati yang pernah terpisah akhirnya menemukan jalan untuk saling mendekat kembali.
Arka menatap Nara dan berkata pelan, "Kali ini, jangan pergi tanpa pamit."
Nara menggenggam tangannya sedikit lebih erat.
"Kali ini, kalau aku pergi, aku akan mengajakmu."
Arka tertawa kecil.
"Ke mana?"
Nara tersenyum.
"Ke mana pun, selama kita masih bisa melihat langit yang sama."
Malam itu, Arka akhirnya memahami sesuatu yang tidak pernah ia mengerti sebelumnya.
Cinta bukan tentang menemukan seseorang yang berjanji tidak akan pernah pergi.
Cinta adalah tentang keberanian untuk membuka hati, meskipun kita tahu bahwa tidak semua hal di dunia ini bisa kita pertahankan selamanya.
Dan terkadang, seseorang yang kita kira hanya singgah sebentar justru menjadi alasan kita ingin tinggal lebih lama di dunia ini.
Tamat.