Aku senyum kecut.
"Ganteng doang gak bikin kenyang, Mit," jawabku pelan. "Apalagi kalau tiap bangun tidur rasanya kayak lagi ngontrak di rumah sendiri."
Mita diem. Dia tau aku dari SMA, tau gimana kerasnya Bapak kalau udah bilang "ini yang terbaik buat kamu."
Dan sore itu, yang terbaik buat aku adalah Dika.
---
Aku pulang maghrib. Motor Beat bapak masih di depan. Berarti Dika udah pulang juga.
Dari luar, rumah keliatan normal. Lampu teras nyala, sandal Dika rapi di samping sandal Bapak. Di dalam, bau sayur sop.
Dika di dapur. Pake kaos oblong, lagi ngaduk panci.
"Kamu dari mana?" tanyanya, gak nengok.
"Dari Mita."
"Udah makan?"
Itu Dika 3 bulan ini. Tanggung jawab. Terlalu tanggung jawab malah.
Gaji dia utuh dikasih ke aku, dia cuma minta uang bensin. Tiap subuh dia yang bangunin Bapak buat sholat. Kamar mandi yang mampet dia yang benerin. Malam kalau Bapak batuk, dia yang pertama bangun.
Tapi kamar kami masih kayak kos-kosan. Kasur satu, tapi ada guling tinggi di tengah. Batas negara yang tidak tertulis.
Malam pertama itu, setelah Bapak ngasih serep kunci kamarku ke dia, dia cuma duduk di lantai. Punggungnya nyender ke tembok.
"Lin," katanya. "Aku tau kamu nikah sama aku cuma demi Bapak."
Aku diem, masih gemetar di ujung kasur pake kebaya akad yang belum sempat ganti.
"Dan aku juga udah jujur dari awal. Aku nikah demi punya anak. Ibu aku sakit, dia pengen lihat cucu sebelum... ya. Jadi kita sama-sama punya utang. Aku gak akan maksa kamu. Sampai kamu bilang iya, aku tidur di bawah aja."
Dan dia beneran tidur di bawah. 3 bulan.
Sampai kewajiban itu... ya, terjadi juga. Bukan karena dia maksa. Karena aku capek pura-pura jadi patung. Karena suatu malam Bapak nangis di ruang tamu bilang "Bapak tenang sekarang lihat kamu ada yang jaga". Karena Dika gak pernah ngeremehin aku walau tau aku gak cinta dia.
Kami melakukannya tanpa cinta. Tapi dengan izin. Dengan lampu dimatiin dan banyak canggungnya. Habis itu kami sama-sama diem, saling membelakangi, dan besoknya tetap sarapan bareng kayak gak ada apa-apa.
---
"Mita bilang kamu ganteng tau," celetukku malam itu sambil naruh piring.
Dika ketawa pendek. "Mita temen kamu yang rambutnya merah itu?"
"Iya."
"Dia bener."
Aku melotot. Dia malah senyum. Senyum pertama yang bener-bener santai setelah 3 bulan.
"Lin," katanya tiba-tiba serius. "Kalau suatu hari kamu udah gak butuh nikah demi Bapak lagi... kamu masih mau tetap di sini demi apa?"
Aku gak bisa jawab.
Di luar, suara Bapak batuk lagi. Dika langsung berdiri, ambil air putih hangat.
Dan aku cuma duduk di situ, ngeliatin punggung suamiku yang ganteng, yang rajin, yang nikah sama aku cuma demi anak, yang sampai sekarang belum pernah sekalipun manggil aku "sayang".
Telat hari ke-6 aku masih pura-pura bego.
Hari ke-8 aku mulai panik.
Biasanya aku tuh jam-nya karet banget, tapi gak pernah selewat ini. Dan mualnya itu loh. Pagi-pagi di Malang kan dingin, biasanya aku langsung ngopi item. Minggu itu, baru nyium baunya aja perutku langsung berontak.
Aku gak bilang ke siapa-siapa. Testpack-nya aku beli di apotek agak jauh, di dekat kampus, biar gak ada yang kenal. Aku sembunyiin di dalam kotak pembalut, di lemari paling atas.
Hasilnya dua garis. Samar, tapi ada.
Aku duduk di lantai kamar mandi lama banget. Tangan gemetar lagi, kayak habis akad kemarin. Bedanya, kemarin gemetar karena takut nikah. Sekarang gemetar karena... jadi beneran.
Kalau aku hamil, berarti utang Dika lunas. Anak yang dia mau dari awal itu ada. Terus habis itu apa? Dia selesai sama aku?
Makanya aku diem. Aku gak bilang.
Tapi Dika tuh pinter. Terlalu pinter buat ukuran suami yang katanya nikah cuma demi anak.
Hari ke-9, dia pulang kerja bawa kresek Indomaret. Isinya aneh. Susu UHT plain, roti tawar, jahe merah, sama jeruk.
"Loh, mas kok belanja?" tanyaku.
Dia naruh kresek di meja. "Kamu pucet. Kopi di dapur masih utuh dari kemarin. Biasanya tinggal ampas."
Aku kaku.
"Terus semalem kamu bolak-balik kamar mandi. Masuk angin ya?" lanjutnya, sambil pura-pura buka kulkas. Gak natap aku.
Dari situ perhatiannya berubah. Pelan, tapi kerasa banget.
Biasanya dia minta tolong aku angkatin galon. Minggu itu dia angkat sendiri, gak ngomong. Biasanya dia masak pedes level setan. Minggu itu sayurnya bening semua. Sop, bayam, gak pake cabe sama sekali.
Malamnya, guling pembatas negara itu masih ada. Tapi dia gak tidur di bawah lagi. Dia tidur di atas, tapi ngasih jarak sejauh mungkin, selimutin aku pelan-pelan pas aku pura-pura tidur.
Puncaknya hari ke-12. Aku muntah jam 5 pagi. Kenceng banget sampai Bapak kebangun.
Dika yang pertama lari ke kamar mandi. Dia iket rambutku, ngusap punggungku, ngasih air putih anget.
Habis itu dia gak nanya "kamu hamil ya?". Dia cuma jongkok depan aku yang lemes di lantai.
"Lin," bisiknya. "Kamu gak usah ngomong kalau belum siap. Tapi boleh gak, mulai hari ini yang aku jaga bukan cuma Bapak, tapi kamu juga?"
Aku nangis di situ. Akhirnya jebol juga.
"Bukan karena anaknya, Mas?" tanyaku isak.
Dia diem lama. Terus jawab jujur lagi, kayak malam pertama dulu.
"Awalnya iya. Demi anak. Tapi dua minggu ini aku sadar, aku lebih takut kamu kenapa-kenapa daripada aku gak punya anak."
Guling di tengah kasur malam itu, untuk pertama kalinya, dia yang geser sendiri.
Di kamar aku diem lama banget habis dari klinik.
Aku pergi diem-diem. Bilangnya ke Bapak mau ke kampus Mita, padahal aku muter ke klinik di Jl. Soekarno Hatta. Yang kecil, yang bidannya gak banyak nanya.
Di ruang tunggu isinya ibu-ibu semua. Aku doang yang dateng sendirian, pake hoodie kebesaran, masker mentok sampai mata. Malu. Takut.
Pas dipanggil, tanganku dingin lagi.
Dokternya cuma USG perut, oles gel dingin. Layarnya burem-burem, terus dia diem, terus senyum.
"Selamat ya, Bu. Sudah 10 minggu. Detak jantungnya sudah ada, nih. Lihat kedip-kedip ini."
10 minggu.
Cepet banget.
Itu berarti bukan dari yang telat kemarin. Itu dari awal-awal... pas kita masih canggung, masih pake guling di tengah, masih matiin lampu dan gak ngobrol habisnya itu.
Aku keluar klinik bawa satu lembar foto hitam putih kecil. Foto USG. Bentuknya masih kayak kacang. Di pojoknya ada tulisan 10W0D.
Sepanjang jalan pulang naik angkot, aku nangisin foto itu. Bukan karena sedih. Karena bingung mau naruh rasa ini di mana. Aku nikah demi Bapak, Dika nikah demi anak. Sekarang anaknya beneran ada. Jadi kami ini apa? Lunas?
Sampai rumah aku langsung kunci kamar lagi. Kayak habis akad dulu.
Aku selipin foto itu di bawah bantal. Aku diem. Lama.
Sore, Dika pulang. Aku denger dari dalam kamar dia naruh sepatu, naruh kunci motor, terus manggil.
"Lin? Bapak bilang kamu dari tadi di kamar gak keluar."
Aku gak jawab.
Dia ngetok pelan. Gak maksa buka kayak dulu Bapak ngasih serep kunci itu.
"Lin, aku beli bubur ayam. Yang gak pake lada. Kamu belum makan siang kan?"
Aku masih diem. Air mata netes lagi.
"Kalau kamu mau diem aja hari ini gapapa," katanya dari balik pintu. Suaranya capek, tapi lembut. "Aku taruh di depan pintu ya. Nanti kalau dingin aku angetin lagi."
Langkahnya mundur.
Dan baru di detik itu aku sadar, perhatian Dika dua minggu ini bukan lagi perhatian suami yang nungguin anaknya jadi. Itu perhatian orang yang takut istrinya kenapa-kenapa sendirian di dalam kamar.
Aku ngambil foto USG dari bawah bantal. Tanganku gemetar lagi. Untuk ketiga kalinya.Foto itu jatuh pas aku keburu narik selimut.
Aku gak sadar kesenggol. Melayang pelan ke lantai, mendarat pas di depan pintu yang kebuka sedikit.
Dika yang mau naruh bubur di depan pintu, berhenti. Dia liat.
Dia pungut.
Lama banget dia diem. Ngeliatin kertas hitam putih kecil itu. Jemarinya gede, jadi foto itu keliatan makin kecil di tangannya.
Aku langsung nangis lagi. Gak bisa ditahan. Nangis yang sesenggukan, yang malu.
"Kalau anak ini udah lahir lunas kan?"
Suaraku pecah.
"Lunas kan, Mas? Ibu Mas udah lihat cucu, Bapak aku udah tenang, utang kita beres. Habis itu kita selesai kan?"
Dika masih diem. Diemnya lama banget sampai aku takut dia marah. Atau sampai aku takut dia malah seneng.
Terus dia duduk. Di lantai. Persis di tempat dia duduk malam pertama dulu. Punggung nyender ke pintu.
"Lin," akhirnya dia ngomong. Pelan.
"Awalnya aku pikir iya. Lunas."
Dia ngelus foto itu pake jempol, hati-hati banget kayak takut kesetnya luntur.
"Aku nikah mikirnya simpel. Aku kasih kamu rumah, kamu kasih aku anak. Ibu aku bisa senyum sebelum berobat lagi. Transaksi. Makanya aku jujur hari pertama."
Dia narik napas panjang.
"Tapi 3 bulan ini aku pulang bukan mikirin anak, Lin. Aku pulang mikirin, kamu udah makan apa belum. Motor kamu bensinnya masih ada apa enggak. Bapak batuknya kumat apa enggak. Guling di tengah kasur itu geser apa enggak."
Dia akhirnya natap aku. Matanya merah.
"Kalau kamu anggap anak ini pelunasan, berarti kamu anggap aku nyewa kamu. Dan aku gak pernah mau nyewa kamu. Aku mau..."
Dia berhenti. Nelen ludah.
"Aku mau jadi bapaknya. Bukan cuma yang bikinnya. Boleh?"
Bubur ayam di depanku udah dingin. Foto USG di tangan Dika basah kena air mata aku, bukan air mata dia.
Dia gak langsung peluk. Dia nunggu. Tangannya ngebuka di lantai, nunggu aku yang nyamperin.
"Lin, kalau kamu mau pergi habis anak ini lahir, aku gak akan tahan. Tapi kalau kamu tanya lunas apa enggak... buat aku enggak. Utangku ke kamu malah baru mulai."
Aku ngomongnya sambil nangis, jadi suaranya jelek banget. Serak.
"Maksudnya apa?"
Dika masih duduk di lantai, foto USG masih di tangannya. Dia gak langsung jawab. Dia liat foto itu lagi, kayak lagi ngafalin bentuknya.
"Bukannya itu kan yang Mas mau?" lanjutku. "Dari awal Mas udah jujur. Mas nikah demi punya anak. Sekarang anaknya udah ada. Jadi kan lunas. Mas dapet yang Mas mau, aku dapet Bapak tenang. Selesai."
Dika ketawa kecil. Ketawa yang capek.
"Iya," katanya. "Itu yang aku mau. Bulan pertama."
Dia akhirnya naruh foto itu pelan di lantai, di antara kita berdua. Biar kita liat bareng.
"Tapi Lin, kamu inget gak? Bulan pertama itu aku juga maunya kamu jangan masak buat aku. Jangan nyuci baju aku. Kita kayak dua orang asing yang sewa kamar sama."
Aku inget. Aku sengaja masak cuma buat Bapak. Baju dia aku biarin di keranjang.
"Bulan kedua, kamu yang mulai naruhin vitamin Bapak di meja aku. Kamu yang ngingetin aku kalau Ibu telpon. Bulan ketiga, kamu muntah jam 5 pagi dan aku yang paniknya setengah mati. Itu bukan di perjanjian awal kita, Lin."
Dia ngusap mukanya.
"Jadi kalau kamu tanya maksudnya apa... maksudnya, yang aku mau dulu itu anak. Titik. Siapa ibunya terserah. Sekarang yang aku mau itu tetep anak, tapi ibunya harus kamu. Gak bisa orang lain."
Aku diem. Air mataku malah makin deres.
"Kalau lunas itu artinya habis lahiran kamu boleh pergi, aku gak mau lunas," katanya, suaranya pelan tapi jelas banget. "Aku maunya nambah utang. Utang bangunin kamu sahur, utang ngajarin anak kita naik sepeda, utang temenin Bapak kontrol sampai tua. Boleh gak utangnya aku cicil seumur hidup?"
Aku gak jawab pake kata-kata. Aku cuma geser. Dari ujung kasur, pelan-pelan, sampai lututku nyentuh foto USG itu.
Dika gak narik aku. Dia cuma buka tangannya lagi, kayak tadi. Nunggu.
"Boleh aku pegang?" tanyanya, matanya ngelirik ke perutku yang masih rata, masih ketutup daster.
Aku ngangguk. Pertama kalinya setelah 3 bulan lebih, aku yang narik tangannya buat nempel di perutku.
Anak ini belum ada detak yang bisa dirasa dari luar. Tapi tangan Dika anget banget.
7 bulan kemudian perutku udah gede banget.
Tidur miring salah, telentang sesek, duduk kelamaan boyokku panas. Baju-baju lamaku gak ada yang muat. Bapak sampe beliin aku daster-daster baru di Pasar Besar, yang adem.
Rasa sedih itu masih ada. Aku kira kalau udah hamil gede, sedihnya hilang sendiri. Ternyata enggak.
Aku tetep ngelipet baju-baju kecil itu. Baju kodok warna kuning, kaos kaki yang seuprit, bedong. Aku cuci, aku setrika, aku masukin ke tas yang udah Dika siapin di pojok kamar. Tanganku ngerjain, tapi hatiku masih sering nanya, "aku beneran siap jadi ibu?"
Yang paling sakit itu malam-malam.
Tiap jam 9 malem, Dika pasti udah di kamar. Dia abis isya, abis ngobrol sama Bapak, terus duduk di lantai, sandaran ke kasur, persis di sebelah perutku.
Dia ngajak ngobrol anaknya.
" Dek, hari ini jangan tendang ibunya kenceng-kenceng ya. Ibunya tadi seharian nyuci, capek."
" Dek, nanti kalau udah keluar, bantuin bapak jaga ibu ya. Ibu kamu itu keras kepala, gak mau bilang kalau capek."
Suaranya pelan. Kadang dia bacain Al Fatihah, ditempelin tangannya anget di perutku.
Dan tiap denger itu, dadaku sakit.
Bukan sakit kontraksi. Sakit yang di dalem.
Karena dia udah sayang banget sama anak yang bahkan belum lahir. Sementara aku... aku masih inget jelas tanganku gemetar habis akad, inget aku ngunci kamar, inget kalimatku sendiri, "Saya nikah sama Mas cuma demi Bapak!"
Anak ini ada karena transaksi. Bukan karena aku mau dinikahin Dika. Bukan karena aku cinta.
Malam itu aku gak tahan.
"Mas udah dong," potongku pelan. Air mataku netes lagi. Di 7 bulan ini aku jadi gampang nangis.
Dika berhenti ngusap. "Kenapa?"
"Jangan diajak ngobrol terus. Sakit."
Dia kaget. "Sakit perutnya? Mau ke bidan sekarang?"
Aku geleng. "Bukan. Sakit di sini," aku tunjuk dada. "Lihat Mas udah sayang banget sama dia. Aku jadi inget, aku kesini bukan karena mau. Aku kesini karena disuruh Bapak. Anak ini jadi ada karena aku terpaksa nikah. Jahat gak aku, Mas?"
Kamar hening. Cuma ada suara kipas angin.
Dika gak langsung jawab pake kata-kata manis. Dia emang gak pernah gitu.
Dia cuma geser duduknya, jadi sejajar sama aku, terus bilang,
"Lin, kamu gak jahat. Kamu jujur. Dari awal kamu jujur. Yang jahat itu kalau kamu pura-pura cinta padahal enggak. Kamu enggak gitu."
"Terus anak ini gimana? Dia lahir dari ibu yang nikahnya aja gak mau."
Dika naruh lagi tangannya di perutku, tapi nunggu aku angguk dulu baru nempel.
"Anak ini lahir dari ibu yang tetep tanggung jawab walau sedih. Ibu yang tetep lipetin bajunya walau nangis. Ibu yang tetep periksa tiap bulan ke klinik walau awalnya gak mau. Itu lebih dari cukup buat dia, Lin. Cinta itu nanti nyusul. Bapak aja dulu nikah sama Ibu gak langsung cinta katanya."
Aku nangis kejer malam itu. Perut gede, daster basah, Dika cuma diem ngusap punggungku.
Tas persalinan di pojok kamar udah siap. Bidan udah bilang 3 minggu lagi perkiraan. Bapak udah siapin nama.
Tapi aku masih belajar, gimana caranya jadi ibu, padahal jadi istri aja aku masih belajar.
Aku gak liat pas Dika adzanin.
Anaknya udah lahir jam 4 subuh di klinik. Perempuan. 3,1 kilo. Nangisnya kenceng banget, sampai Bapak yang nunggu di luar langsung sujud.
Bidan naruh dia di dadaku. Anget, licin, rambutnya masih basah. Aku liat mukanya, terus langsung buang muka. Bukan karena gak sayang. Karena kebanyakan rasanya.
Sedihnya double. Senengnya juga double.
Seneng karena akhirnya selesai, dia selamat, aku selamat. Sedih karena pas liat dia, aku inget lagi, dia ada bukan karena aku pengen nikah sama Dika. Dia ada karena aku nikah demi Bapak.
Terus Bidan manggil Dika.
Dika masuk masih pake jaket kerja, sepatunya aja belum dilepas bener. Matanya sembab. Dia yang dari tadi bolak-balik wudhu di mushola klinik.
Bidan bilang, "Ayahnya adzanin ya."
Aku langsung tutup mata. Gak kuat.
Aku denger suara Dika gemetar. Pertama kali seumur hidup aku denger Dika adzan sedeket itu, dan suaranya pecah di tengah.
Allahu Akbar... Allahu Akbar...
Aku nangis kejer di ranjang itu. Bidan kira aku nangis karena haru. Padahal aku nangis karena aku ngerasa jadi orang luar di momen itu. Itu anakku, tapi yang sah ngasih nama, yang sah manggil dia ke dunia, bapaknya.
Sorenya keluarga Dika datang.
Ibunya Dika yang sakit itu dateng pake kursi roda, dibawain anaknya yang ragil. Bawa rantang, bawa kain gendong baru, bawa perhiasan kecil buat bayi.
Dari pintu aku udah denger, "Wah, hidungnya kayak Dika!"
"Alhamdulillah, Ibu bisa lihat cucu sebelum..."
Semua ngerubungin Dika. Dika gendong anaknya kayak udah jago dari lahir. Disusuin? Gak bisa, tapi dia yang gantiin popok, dia yang tepuk-tepukin punggungnya pas gumoh, dia yang gak tidur semaleman cuma buat mastiin napas bayinya teratur.
Aku duduk di pojok ranjang klinik, masih pake sarung, perut kempes tapi masih perih. Nonton.
Dan itu yang sakit.
Sakit liat Dika sayang banget sama anaknya. Karena di kepalaku muter terus, "dia emang cuma butuh anak. Sekarang anaknya udah ada. Aku udah gak dibutuhin lagi."
Ibunya Dika nyamperin aku, salim, terus bilang pelan, "Makasih ya, Lin. Kamu udah kasih Ibu cucu cantik. Dika titip ya."
Titip. Kata itu yang bikin aku meledak lagi di dalem.
Malamnya, klinik udah sepi. Keluarga pulang. Bapak pulang ambil baju. Tinggal kita bertiga.
Bayinya tidur di box kecil sampingku. Dika duduk di lantai lagi, kayak malam pertama dulu.
Dia liat aku gak tidur.
"Kamu belum liat mukanya yang bener, Lin," katanya pelan.
"Aku takut, Mas."
"Takut kenapa?"
"Takut kalau aku liat dia, aku makin sayang, tapi Mas makin selesai sama aku."
Dika diem lama. Terus dia berdiri, ngambil box bayinya pelan-pelan, dan naruh di antara kita. Bukan di pangkuan dia. Di tengah.
"Lin, liat deh. Alisnya kayak kamu kalau lagi ngambek."
Aku akhirnya liat. Bener. Alisnya tebel, ngerut dikit.
Dan untuk pertama kalinya sejak akad, aku nangis bukan karena sedih doang. Ada senengnya. Seneng yang perih.
Malam pertama di rumah, Malang dinginnya nusuk tulang.
Bayinya nangis terus dari jam 8 malem. Nangis yang kenceng, yang bikin Bapak bolak-balik dari kamarnya.
Dika udah nyoba semua.
Digendong sambil jalan muter ruang tamu, masih nangis.
Diayun pake kain gendong baru dari ibunya Dika, masih nangis.
Diazani lagi pelan-pelan, dibacain sholawat, diputerin white noise dari Youtube, tetep nangis. Mukanya merah, tangannya ngepal.
"Perutnya kembung kali?" kata Bapak.
Dika udah panik. Baju kaosnya basah keringet, padahal di luar dingin. "Tadi di klinik katanya sehat semua, Pak. Nyusunya juga mau."
Aku duduk di kasur, masih perih, masih pake gurita. Nahan ngantuk, nahan perih, nahan rasa bersalah karena dari tadi aku diem aja. Aku takut salah gendong.
Jam 11, Dika nyerah. Dia nyamperin aku, nyodorin bayi yang masih nangis kejer itu.
"Lin, coba kamu deh. Aku gak bisa."
Aku ambil. Grogi. Tanganku masih gemetar, kayak pas akad dulu.
Anehnya, baru aja kepalanya nempel di dadaku, nangisnya berhenti. Langsung. Kayak ada tombol off.
Hening. Cuma sisa isaknya, hik... hik...
Dika sama Bapak langsung diem, saling liat.
Aku gendong, aku goyang pelan. Aku gak pinter, aku cuma ngikutin insting. Aku tempelin pipiku ke ubun-ubunnya yang masih bau klinik.
Dia diem. Tidur. Napasnya anget di leherku.
Dika duduk pelan di lantai lagi. Tempat favoritnya. Dia liat kita berdua.
"Ternyata dia milih kamu," katanya pelan. Gak ada nada cemburu. Ada lega, ada kaget.
"Milih gimana?"
"Dari tadi aku gendong, dia nangis. Kamu yang dia cari."
Aku nangis lagi. Malam itu nangis ke berapa kali gak kehitung.
Hari ke-7. Aqiqah kecil-kecilan di rumah.
Gak ngundang banyak orang. Cuma Bapak, Ibu Dika yang dianter adiknya Dika, Mita, sama Pak RT. Ayamnya dua, dari tabungan Dika yang katanya emang udah dia siapin dari bulan ke-4 aku hamil.
Aku duduk di kamar, masih pake daster, rambut masih diiket seadanya. Bayinya di box, tidur, pake baju putih baru.
Dika masuk bawa kertas kecil. Sobekan dari buku tulis.
"Lin, Ibu tadi bisikin nama. Katanya kalau perempuan, kasih nama Khadijah. Biar kuat kayak istri Nabi."
Aku diem. Dalam hati, oh ya, emang ini anaknya Dika dan Ibunya. Aku cuma...
"Terus aku bilang ke Ibu, jangan," lanjut Dika cepet, kayak takut aku salah paham. "Bukan kamu yang hamilin, Lin? Masa namanya Ibu yang nentuin."
Dia duduk di lantai lagi. Selalu di lantai.
"Aku sama Bapak udah ngobrol. Katanya, yang berhak ngasih nama pertama itu ibunya. Yang ngelahirin."
Dia nyodorin kertas itu ke aku. Kosong.
"Tulis, Lin. Kamu mau manggil dia apa seumur hidup?""Ngga papa, kasih nama sesuai kemauan ibu kamu aja."
Aku ngomongnya halus. Senyum malah. Senyum yang paling capek selama 10 bulan ini.
Dika langsung diem. Kertas sobekan yang tadi dia sodorin masih di tangannya.
"Lin..."
Aku potong. "Gak apa-apa beneran, Mas. Kan dari awal emang gini. Nikahnya demi Bapak, anaknya demi Ibu kamu. Jadi namanya sekalian aja demi Ibu kamu. Cocok."
Aku balik badan, masuk kamar, gendong Aluna yang belum jadi Aluna itu dari box-nya. Padahal dia lagi tidur enak.
Malemnya aku diem.
Bener-bener diem. Bapak manggil buat makan, aku bilang udah kenyang. Ibu Dika pamit pulang, aku cuma salim, gak banyak ngomong.
Di kamar, aku tidurin bayi itu menghadap tembok. Punggungku ngadep Dika.
Jam 10 malem, Dika masuk. Bawa dua gelas susu, satu buat aku yang dari tadi gak disentuh.
"Lin-"
"Udah, gak usah dibahas!" potongku lagi. Suaranya kenceng dikit, Aluna yang belum punya nama itu kaget, tangannya kejang.
Dika langsung pelanin suara. "Iya, maaf."
Dia duduk lagi di lantai. Jauh. Gak maksa.
Hening lama. Cuma ada suara Aluna ngeces.
Terus dia ngomong, pelan banget.
"Tadi aku nyebut nama Ibu bukan karena aku mau nurutin Ibu, Lin. Aku nyebut karena aku takut kamu ngerasa sendirian ngasih nama. Jadi aku kasih contoh satu."
Aku masih diem, tapi dengerin.
"Ibu aku tadi siang bisikin Khadijah. Aku bilang ke Ibu, 'Bu, biar Lina aja yang milih, kasian dia yang berjuang'. Ibu bilang, 'Ya udah, Khadijah aja buat nama kedua, biar dapet berkahnya'. Makanya aku tulis Aluna Khadijah. Aluna dari kamu, Khadijah dari Ibu. Bukan Khadijah doang."
Aku masih ngadep tembok.
"Kalau kamu bilang 'kasih aja sesuai kemauan Ibu', itu berarti Aluna-nya ilang dong? Padahal Aluna itu satu-satunya nama yang kepikiran pas kamu lagi sedih-sedihnya dengerin lagu itu. Aku udah hafal, Lin. Tiap malem kamu setel lagu itu pelan-pelan pas aku pura-pura tidur."
Aku baru sadar. Dia denger.
"Jadi... boleh gak Aluna-nya tetep? Kalau kamu kecewa sama aku, jangan nama anak kita yang dikorbanin."
Bayi di pelukanku tiba-tiba ngulet, terus nangis kecil. Reflek aku ayun.
Dika gak berdiri. Dia masih di lantai, nungguin aku balik badan.
"Lin, aku tau kamu capek jadi istri titipan. Tapi boleh gak, untuk sekali ini, kamu jadi ibu yang beneran mau? Yang mau namain anaknya sendiri?"
Aku akhirnya balik. Mata bengkak.
Aluna - masih mau aku sebut Aluna - nangis di dadaku.
Aku sodorin ke Dika. "Gendong. Namanya Aluna. Titik."
Dika kaget, terus senyum. Senyum lega pertama malam itu. Dia ambil Aluna pelan, terus bisik di telinganya,
"Denger ya, Aluna. Tadi Ibumu ngambek, tapi tetep kamu dibelain."
Aku ke rumah Mita bawa Aluna. Alasan ke Bapak mau posyandu, padahal aku butuh ngobrol sama orang yang gak manggil aku "ibunya Aluna" atau "istrinya Dika".
Mita bukain pintu, liat aku gendong gendongan depan, langsung diem.
"Ya Allah, Lin," katanya.
Aku langsung jebol di terasnya. Belum sempet duduk.
"Sakit, Mit," ujarku. Suaraku kecil, takut Aluna kebangun.
Mita gak nanya sakit apanya. Dia langsung meluk. Pelan. Tangannya melingkar, gak kena Aluna.
"Sabar, Lin," bisiknya. Itu doang. Tapi cukup.
Di dalem, Aluna tidur di karpet, dikelilingin bantal. Aku sama Mita duduk di lantai, pake teh anget yang udah dingin.
"Gimana?" tanya Mita akhirnya.
Aku cerita. Dari yang Aluna nangis cuma mau sama aku, dari yang Dika adzanin, dari keluarga Dika dateng, sampai yang nama.
"Jadi pas dia bilang Khadijah, aku langsung... down, Mit. Aku udah susah payah mikir Aluna itu apa. Itu lagu yang aku setel tiap malem pas aku ngerasa sendirian di rumah itu. Terus tiba-tiba kayak... ya udah, kasih aja nama Ibu kamu aja sana. Aku capek jadi orang yang ngalah terus."
Mita dengerin sambil ngelus punggungku.
"Lin, Mita tau jadi kamu gak mudah," katanya pelan. "Nikah demi Bapak, hamilnya dibilang lunas, sekarang udah punya anak malah harus bareng terus sama orang yang kamu aja gak tau kamu suka apa enggak sama dia. Ditambah soal nama lagi. Lengkap."
Aku angguk. Itu persis yang ada di kepalaku tapi gak bisa aku rangkai.
"Terus pas aku bilang 'kasih aja nama Ibu kamu', Dika malah bilang Aluna-nya mau diilangin? Ya makin sakit lah. Aku kan maunya sekali aja, sekali aja di pernikahan ini ada yang beneran kemauanku. Bukan kemauan Bapak, bukan kemauan Ibu Dika."
Mita diem lama. Terus dia noel Aluna yang tidur, alisnya yang tebel itu.
"Lin," katanya. "Kamu sadar gak? Tadi kamu cerita, yang bikin kamu sakit pas Dika sayang banget sama Aluna. Yang bikin kamu sakit pas namanya mau diganti. Kalau kamu beneran gak suka sama Dika, kamu harusnya lega kan? Lega kalau dia sayang anaknya doang, bukan kamu. Lega kalau namanya terserah Ibunya. Tapi kamu malah sakit."
Aku diem.
"Jangan-jangan sakitnya bukan karena kamu dipaksa nikah, Lin. Sakitnya karena sekarang kamu udah terlanjur pengen pernikahan ini dianggap beneran. Pengen Aluna itu anak kalian berdua, bukan anak lunas-lunasan."
Aluna ngeliat di karpet, ngulet, tangannya nyari-nyari.
Aku buru-buru gendong lagi. Bau susunya nempel di bajuku.
"Mit, kalau aku ternyata suka sama Dika gimana? Kan malu. Kan awalnya aku bilang cuma demi Bapak."
Mita ketawa kecil. "Ya gak papa, Lin. Dulu demi Bapak. Sekarang demi Aluna. Besok demi kamu sendiri juga boleh. Izinnya dari kamu, bukan dari akad kemarin."
Di luar, motor Dika kedengeran berhenti. Dia emang nganterin tadi, nunggu di warung kopi depan gang Mita.
Mita ngelirik jendela. "Tuh, yang katanya gak kamu suka, nungguin dari tadi gak ngeluh."
Pulang dari rumah Mita, Dika gak nanya aku cerita apa.
Di motor, Aluna di depan pake gendongan, aku di belakang, tangan Dika satu megangin stang, satu nahan punggung Aluna biar gak goyang.
Sampai rumah, Aluna tidur lagi. Bapak udah tidur.
Aku taruh Aluna di box, mau ganti daster. Dika masih di pintu kamar, gak masuk.
"Lin," panggilnya.
Aku diem. Masih inget tadi di rumah Mita aku bilang, kalau aku ternyata suka sama Dika gimana.
"Boleh aku jujur lagi sekali? Kayak malam pertama dulu?"
Aku angguk. Gak liat dia.
Dia masuk, duduk lagi di lantai. Tempatnya dia kalau mau ngomong serius.
"Maaf," katanya. Langsung.
"Maaf yang pertama, karena dari awal aku ngomong 'nikah demi punya anak' itu jujur, tapi jahat. Aku gak mikir, kamu denger itu gimana rasanya. Kayak kamu cuma... tempat."
Aku remes dasterku.
"Maaf yang kedua, soal nama. Aku nyebut Khadijah bukan karena Ibu maksa. Ibu malah bilang 'terserah Lina'. Aku yang bego nyebutnya di depan kamu. Aku takut kalau aku bilang 'terserah kamu' kamu malah ngerasa aku gak peduli. Jadi aku lempar nama Ibu biar keliatan aku nanya keluarga. Padahal harusnya aku bilang, 'Lin, kamu yang kasih nama, aku ikut'."
Suaranya pelan, tapi jelas.
"Maaf yang ketiga, Lin. Selama Aluna lahir, aku sayang Aluna sampai lupa, yang lahiran itu kamu. Yang sobek itu kamu, yang gak tidur itu kamu, yang nangis di kamar mandi karena ASI gak keluar itu kamu. Aku malah sibuk jadi bapak siaga, lupa jadi suami siaga."
Aluna ngeliat di box, tangannya gerak-gerak.
Dika liat aku, matanya merah.
"Aku nikah awalnya memang demi anak, Lin. Itu jujurnya. Tapi sekarang... kalau Aluna ditanya bapaknya mau apa, bapaknya mau ibunya gak sedih lagi tiap malem. Boleh gak aku ganti alasannya? Dulu demi anak, sekarang demi kamu sama Aluna?"
Aku gak tahan. Air mata yang tadi aku tahan di rumah Mita jebol lagi di sini.
Malam itu aku meledak beneran.
Bukan nangis pelan-pelan kayak biasanya. Meledak.
Aluna udah tidur di box, Bapak udah tidur. Tinggal kita berdua di dapur, aku lagi nyuci botol.
Dika nyamperin dari belakang, mau bantuin bilas.
Dan langsung aja pecah.
"Aku capek tau, Mas! Nikah cuma demi Bapak! Mas juga bilang nikah demi anak! Gila!"
Botol di tanganku aku banting ke bak, untung plastik gak pecah.
"Aku hidup kayak gak hidup, mati tapi gak mati! Tiap hari aku bangun, masak, nyusuin, lipet baju, terus apa? Aku siapa, Mas? Aku Lina apa aku istrinya Dika doang? Ibunya Aluna doang?"
Dika kaget. Dia mundur selangkah, gak nyentuh aku sama sekali.
"Bulan depan aku gak bisa gini terus! Aku masih mau lanjut kerja! Aku masih mau lanjut kuliah! Skripsiku masih nganggur di kos Mita! Aku masih 23, Mas! Aku gak mau abis di dapur doang!"
Hening. Cuma suara air keran netes.
Aku ngos-ngosan. Dada sesek. Habis ngomong itu aku langsung nyesel, takut Dika bilang "makanya jangan manja" atau "kan udah jadi ibu".
Dika diem lama. Lama banget. Dia ngeliat botol-botol yang belum aku cuci, ngeliat dasterku yang basah, ngeliat mataku yang bengkak.
Terus dia ngomong. Pelan. Jujur lagi.
"Ya udah."
Aku ngerut. "Ya udah apa?"
"Ya udah, lanjut."
"Ha?"
"Lanjut kerja. Lanjut kuliah. Bulan depan daftar lagi. Aluna sama aku, sama Bapak. Aku shift pagi, Bapak di rumah. Kamu kuliah siang. Kalau kamu kerja, aku yang jaga malem. Kan dari awal aku bilang aku tanggung jawab. Tanggung jawab bukan cuma kasih uang, Lin. Tanggung jawab biar kamu tetep jadi Lina."
Aku bengong.
"Mas serius?"
"Serius. Aku nikah demi anak, Lin. Tapi anak itu gak akan bahagia kalau ibunya ngerasa mati tapi gak mati. Aluna butuh kamu yang hidup, bukan kamu yang jadi bayangan."
Dia ambil botol yang aku banting tadi, dia cuci pelan-pelan.
"Aku dulu mikir, kalau udah punya anak, tugasku selesai. Ternyata enggak. Tugasnya baru mulai, bikin ibunya gak nyesel nikah sama aku."
Malam itu kita gak pelukan. Kita gak baikan ala sinetron.
Kita cuma duduk di lantai dapur berdua, ngelanjutin nyuci botol bareng. Aluna nangis, kita gendong gantian.
Dan untuk pertama kalinya, aku ngerasa kalimat "nikah demi Bapak" itu gak seberat kemarin. Karena sekarang, aku mau lanjut kuliah demi aku sendiri, dan ada yang dukung.
Aku balik kuliah semester 6 yang kemarin aku cuti.
Hari pertama masuk, rasanya aneh banget. Aku pake kemeja rapi, pake tas ransel, bukan daster. Aluna aku tinggal sama Dika sama Bapak di rumah. Di jalan ke kampus naik angkot, ASI-ku rembes, aku nangis di angkot. Malu.
Kampus masih sama. Bau fotokopian masih sama. Temen-temen masih manggil "Lin, kemana aja?" Aku cuma senyum. Gak ada yang tau aku udah nikah, udah punya anak 3 bulan.
Bener kata kamu, di rumah terus tuh sakit. Sakitnya bukan capek nyuci botol. Sakitnya tiap liat Bapak duduk di teras, aku inget, oh iya aku di sini karena Bapak. Tiap liat Dika lipet baju Aluna, aku inget, oh iya dia di sini karena pengen anak. Tiap liat kaca, aku liat diriku, aku lupa aku siapa selain ibunya Aluna.
Di kampus, aku jadi Lina lagi. Yang dikejar dosen karena revisi, yang dimintain catatan sama Mita, yang bisa ketawa kenceng di kantin.
Tapi jam 11 siang, Dika pasti ngechat.
"Aluna baru bangun, nyariin. Video call mau?"
Atau Bapak yang ngechat, "Bapak udah jemur baju Aluna, kamu pulang jam berapa?"
Aku balik jam 2. Dari mahasiswi jadi ibu lagi.
Minggu pertama itu neraka. Aluna GTM, aku ada kuis, Bapak batuk lagi, Dika lembur. Aku ngerjain makalah sambil gendong Aluna, Aluna nangis kena air mataku yang netes ke pipinya.
Pernah suatu malem aku meledak lagi ke Dika, "Mas, aku nyesel cuti kemarin! Harusnya aku jangan cuti! Harusnya aku jangan nikah!"
Dika gak marah. Dia cuma ambil Aluna dari gendonganku, terus bilang,
"Ya udah seselin sekarang, gapapa. Besok kamu berangkat lagi. Aku di sini."
Dan bener, besoknya aku berangkat lagi.
Pelan-pelan, Bapak yang dulu jadi alasan aku nikah, sekarang jadi alasan aku betah pulang. Tiap aku pulang kuliah, Bapak udah gendong Aluna di teras, "Wih, mama sarjana pulang."
Dika yang dulu nikah demi anak, sekarang tiap malem nanyain, "Skripsimu bab 3 udah? Mau aku bacain?"
Sakitnya masih ada. Kadang di kelas aku tiba-tiba kangen bau Aluna. Kadang di rumah aku tiba-tiba kangen jadi Lina yang bebas.
Tapi sekarang sakitnya gak bikin aku pengen ngunci kamar lagi. Sakitnya bikin aku pengen cepet-cepet selesein kuliah, biar Aluna nanti liat, ibunya bukan cuma nikah demi Bapak. Ibunya juga lulus demi dia.
5 tahun kemudian.
Ruang praktekku kecil. Di ruko deket kampus, yang dulu aku beli fotokopian skripsi. Papan di depan tulisannya masih baru:
Alina Pramana, M.Psi., Psikolog
Pasien pertamaku hari itu perempuan, 22 tahun. Nangis di sofa.
"Dok, saya nikah karena dijodohin orang tua. Saya gak cinta sama suami saya."
Aku diem. Senyumku kecut. Kayak dulu.
"Terus gimana, Dok?"
Aku ambil tisu, sodorin.
"Gak apa-apa kalau awalnya gak cinta, Mbak. Saya juga dulu gitu."
Dia ngangkat muka. "Dokter juga?"
Aku angguk. Di meja, foto bingkai kecil. Aku wisuda S2 profesi, pake kebaya, gendong Aluna yang waktu itu umur 2 tahun nangis kejer karena kepanasan, Dika di sebelahku pake batik minjem Bapak yang kebesaran, mukanya tegang nahan ngantuk.
"Cerita saya panjang," kataku. "Nikah demi Bapak. Suami saya nikah demi anak. Kami tidur dipisah guling 3 bulan. Saya pernah ngerasa hidup kayak gak hidup, mati tapi gak mati."
Pasienku nangis makin kenceng. Karena ngerasa ditemenin, bukan diceramahin.
Jam 5 sore, praktek tutup. Aku pulang.
Rumah masih sama. Catnya udah ganti krem. Motor Beat Bapak udah ganti Scoopy putih, yang nyicil Dika.
Di teras, Bapak lagi ngajarin Aluna umur 4 tahun baca Iqro. Aluna pake seragam TK, alisnya masih tebel kalau ngambek, persis aku.
Dika baru pulang kerja, masih pake seragam. Dia gak jadi orang kaya. Tetep jadi staf biasa di kantornya dulu. Gajinya masih utuh dikasih ke aku, dia masih minta uang bensin.
Lihat aku pulang, dia cuma bilang,
"Capek, Dok?"
Aku taruh tas, peluk Aluna dulu, peluk Bapak, terus peluk Dika. Bau keringet, bau oli.
"Capek, Mas. Tapi hari ini aku nolongin satu orang."
Malamnya kita makan di lantai lagi. Bertiga, eh berempat sama Bapak. Gak ada yang istimewa. Sayur sop bening yang dulu Dika masak pas aku mual, sekarang Aluna yang minta.
Gak ada pelukan drama, gak ada kata-kata puitis.
Dika nyuci piring, aku ngelap meja, Aluna gambar, Bapak nonton TV.
Suami istri biasa aja.
Tapi kalau ditanya kapan cinta itu dateng, aku juga bingung jawabnya.
Mungkin pas Dika adzanin Aluna dan aku gak kuat liat. Mungkin pas Aluna cuma mau diem digendongan aku. Mungkin pas Dika bilang "ya udah, lanjut kuliah". Mungkin pas dia nungguin aku sidang skripsi bawa Aluna di luar.
Gak ada momen petirnya. Adanya cicilan. Dicicil tiap hari.
Dulu aku nikah demi Bapak. Sekarang aku pulang demi mereka. Demi Bapak yang udah tenang, demi Aluna yang manggil aku Mama, demi Mas Dika yang masih duduk di lantai kalau mau ngomong serius.
Lunas? Enggak.
Justru karena gak pernah lunas, makanya kami tetep bareng.
Selesai.