JUDUL: SALAH KAMAR
Apartemen The Lavande, lantai 21.
Nayla lari pakai flat shoes, napas ngos-ngosan, rambut berantakan. Di belakangnya, suara cowok teriak:
"NAYLA! KITA NGOMONG DULU!"
Itu Damar. Mantannya. Yang udah 3 bulan putus tapi masih ngerasa punya hak buat ngatur hidup Nayla.
Nayla panik, liat lorong panjang. Semua pintu apartemen mirip.
Di ujung, ada satu pintu kebuka dikit. Nggak mikir panjang, Nayla nyelonong masuk, langsung tutup pintu, kunci.
"BRUK!"
Baru napas lega, dia denger suara air mati.
"Hm?"
Nayla noleh.
Di depan kamar mandi yang pintunya kebuka, berdiri seorang pria. Rambut basah, air masih netes. Cuma pakai handuk putih di pinggang. Dada... ya ampun.
Nayla langsung teriak:
"AAAAAAAAAAAH!"
Langsung tutup mata pakai dua tangan, balik badan ke pintu.
Pria itu juga kaget setengah mati, langsung narik handuknya lebih kenceng.
"WOI! SIAPA KAMU?!"
Nayla masih tutup mata, suaranya gemeter.
"Maaf maaf saya salah kamar, maaf! Saya nggak liat! Saya nggak liat sumpah! Saya tutup mata!"
"Ini kamar saya! Kamu ngapain masuk?!"
"Maaf, Pak! Saya salah kamar! Saya keluar sekarang!"
Nayla muter badan masih tutup mata, mau buka kunci pintu. Tangannya gemeter, nggak ketemu.
Tiba-tiba dari luar pintu,
"NAYLA! AKU TAU KAMU DI DALAM! BUKA!"
TOK TOK TOK! Pintu digedor kenceng.
Itu suara Damar. Udah di depan pintu.
Nayla pucet. Langsung balik badan lagi, masih tutup mata, bisik panik ke pria handukan itu:
"Tolong... tolong jangan kasih tau saya di sini..."
Pria itu ngerutkin alis. Masih nahan handuknya.
"Nggak. Keluar. Ini urusan kamu, jangan bawa-bawa saya."
"Tolong, Pak... sebentar aja... mantan saya di luar, dia maksa mau ajak saya balikan, dia kasar... saya takut... 5 menit aja, abis dia pergi saya keluar..."
Nayla buka matanya dikit, ngintip dari sela jari. Matanya udah berkaca-kaca.
Pria itu liat ke pintu yang masih digedor.
"NAYLA! JANGAN KEK ANAK KECIL!"
Pria itu dengar nada bentakannya. Tatapannya berubah.
Dia mendesah.
"Ya udah. Diam di situ. Jangan noleh."
Dia jalan cepat ke lemari, ambil kaos hitam sama celana pendek, masuk lagi ke kamar mandi — 10 detik — keluar udah pakai baju. Handuknya udah nggak ada.
Udah rapi, tapi rambutnya masih basah.
Dia jalan ke pintu, buka sedikit. Nggak dibuka full.
Di luar, Damar berdiri emosi.
"Liat cewek masuk sini nggak, Bro?"
Pria itu bersandar di kusen pintu, badannya nutupin celah biar Damar nggak bisa ngintip ke dalam.
"Cewek? Nggak ada."
"Bohong! Tadi dia masuk sini! Nayla!"
"Eh, sopan dikit. Ini apartemen saya. Nggak ada cewek di sini kecuali nyokap saya lagi telepon," jawabnya dingin.
Nayla di dalam, di pojok dekat dapur mini, jongkok, nahan napas, peluk tasnya erat.
Damar masih nggak percaya, mau ngintip. Pria itu langsung tutup pintu sedikit lagi.
"Mau saya panggil security? Lo gedor-gedor pintu orang."
Damar akhirnya mundur, ngedumel, "Kalau liat Nayla bilang suruh hubungin gue."
"Ya."
Pintu ditutup. Kunci lagi.
Hening.
Pria itu balik badan, liat Nayla yang masih jongkok di pojok.
"Udah pergi."
Nayla berdiri pelan. Mukanya masih merah, antara malu abis liat dada orang sama takut.
"Makasih... makasih banyak, Pak..."
Pria itu ambil handuk kecil buat ngeringin rambutnya.
" lain kali kalau salah kamar, liat dulu penghuninya lagi ngapain."
Nayla nunduk dalam. "Maaf... saya beneran panik... Saya Nayla... kamar saya di lantai 19, saya lari ke sini karena panik pencet lift..."
Pria itu duduk di sofa, masih ngeringin rambut.
"Arkana," jawabnya singkat. "Lantai 21. Kamar 2107. Dan ini bukan hotel yang bisa salah kamar seenaknya."
Nayla makin malu. "Saya ganti rugi deh, Pak Arkana... saya... saya beliin handuk baru?"
Arkana ngelirik Nayla, terus ketawa kecil pertama kalinya.
"Handuk saya nggak kenapa-napa. Yang kaget kamu."
Hening lagi. Tapi heningnya beda. Nggak tegang kayak tadi.
Di luar, suara langkah Damar udah hilang.
Nayla liat jam di HPnya. Udah 10 menit.
"Saya... saya keluar ya, Pak. Makasih udah nolongin..."
Baru mau jalan ke pintu, Arkana manggil.
"Nay."
Nayla noleh.
"Kalau dia ngejar lagi, teriak aja. Kamar saya di atas kamar kamu. Kedengeran."
Nayla senyum kecil, lega.
"Makasih, Pak Arkana."
Arkana berdiri, bukain pintu buat Nayla, ngecek lorong dulu mastiin aman.
"Lorong aman. Turun pakai tangga darurat aja, jangan pakai lift. Biar nggak ketemu dia di lobi."
Nayla angguk, jalan keluar pelan.
Pas udah di luar pintu, dia balik lagi.
"Pak... maaf tadi... liat..."
Arkana langsung pura-pura batuk.
"Udah, lupain. Anggap kamu nggak liat apa-apa."
Padahal kupingnya merah.
Pintu 2107 ketutup lagi.
Nayla turun pakai tangga darurat sambil senyum-senyum sendiri — antara masih takut sama Damar, sama malu abis salah masuk kamar cowok yang... ya ampun, dadanya...
Di dalam kamar 2107, Arkana ngaca, ngeringin rambut, ngomel sendiri.
"Gila... hari apes apaan ini... mandi doang ada cewek teriak di kamar sendiri..."
Tapi senyumnya nggak ilang.
"Udah, lupain. Anggap kamu nggak liat apa-apa."
Padahal kupingnya merah.LANJUTAN - GANTI RUGI
Nayla udah di depan pintu, tangan udah megang gagang pintu.
"Makasih banyak ya, Pak Arkana. Saya janji nggak salah kamar lagi."
Baru mau buka —
"Eh, mau kemana?"
Suara Arkana dari belakang, santai.
Nayla balik badan, bingung.
"Kan... kan udah selesai, Pak? Mantan saya udah pergi. Saya udah nggak ngumpet lagi."
Arkana masih duduk di sofa, rambutnya masih setengah basah, handuk kecilnya masih di leher. Dia natap Nayla dari ujung kaki sampai ujung rambut — bukan tatapan yang aneh, tatapan orang lagi mikir.
Nayla jadi salting, ngerapihin kerudungnya yang agak miring gara-gara lari tadi.
"Kenapa, Pak?"
Arkana senyum tipis.
"Cocok."
"Cocok apa?"
"Sebagai ganti rugi karena kamu udah bikin saya kaget hampir jantungan pas habis mandi, kamu harus temenin saya makan malam besok di restoran bawah."
Nayla tercekat.
"Pak?"
Arkana berdiri, jalan pelan ke arah Nayla, tapi berhenti dengan jarak sopan — nggak mepet.
"Restoran bawah apartemen ini sepi kalau makan sendirian. Kebetulan besok saya ada reservasi, temen saya batal. Daripada mubazir."
Nayla masih bengong.
"Makan malam... sama saya?"
"Iya. Sebagai terima kasih karena udah saya tolongin, dan sebagai permintaan maaf karena kamu udah teriak liat saya pakai handuk doang. Fair kan?"
Nayla gigit bibir. Mikir. Tadi udah ditolongin, masa nolak?
"Tapi... saya nggak enak, Pak... kita kan baru kenal..."
"Nayla, kan?" Arkana nyebut namanya. "Kalau kamu nggak nyaman, nggak usah. Saya nggak maksa. Tapi kalau kamu mau, saya janji restorannya rame, bukan tempat sepi-sepi. Dan abis makan kamu bisa langsung pulang ke lantai 19."
Kalimat "nggak maksa" itu bikin Nayla lega.
Nayla akhirnya angguk kecil. "Boleh deh, Pak... asal makannya nggak malem-malem banget ya..."
"Jam 7. Deal?"
"Deal."
Arkana senyum, lega.
"Mana HP kamu?"
Nayla ngeluarin HP-nya, masih agak ragu, tapi dikasih.
Arkana nggak ngutak-atik galeri atau apa. Dia cuma buka dial, ngetik nomornya sendiri, terus miss call.
HP Arkana yang di meja geter.
Tit... tit...
"Tuh. Itu nomor saya. Save aja, Arkana 2107. Biar besok nggak salah kamar lagi, kamu save alamat yang bener."
Nayla ngeliat layar HP-nya, ada panggilan tak terjawab dari nomor baru.
Disimpen.
"Udah saya save, Pak."
"Oke. Sekarang kamu boleh keluar beneran. Lewat tangga darurat ya, inget?"
Nayla angguk, buka pintu. Sebelum keluar, dia balik lagi sekilas.
"Pak Arkana, besok saya pakai baju apa? Restorannya formal ya?"
Arkana ngelirik piyama rumah Nayla yang masih agak berantakan abis lari.
"Pakai baju yang bikin kamu nggak perlu lari-lari lagi di lorong. Yang nyaman."
Nayla ketawa kecil, mukanya merah.
"Siap, Pak."
Pintu 2107 ketutup.
Di dalam, Arkana ngeliat panggilan tak terjawab di HP-nya — nomor Nayla. Disimpen juga.
" Nayla 1907," ketiknya.
Di lantai 19, Nayla turun tangga darurat sambil liat kontak baru itu, senyum-senyum sendiri.
Gara-gara dikejar mantan, malah dapet jadwal makan malam sama cowok yang dadanya... eh, yang kamarnya salah dimasukin.
Mau lanjut part besoknya pas makan malam, ternyata restorannya lagi ada live music dan Arkana diminta nyanyi?
Pintu 2107 ketutup lagi.
Nayla turun pakai tangga darurat sambil senyum-senyum sendiri — antara masih takut sama Damar, sama malu abis salah masuk kamar cowok yang... ya ampun, dadanya...
Di dalam kamar 2107, Arkana ngaca, ngeringin rambut, ngomel sendiri.
"Gila... hari apes apaan ini... mandi doang ada cewek teriak di kamar sendiri..."
Tapi senyumnya nggak ilang.PART 3 - MAKAN MALAM
Restoran bawah apartemen The Lavande, jam 7 malam.
Nayla turun dari lift lantai 19.
Beda banget sama kemarin yang lari-lari pakai flat shoes rambut berantakan.
Hari ini dia pakai dress putih selut, simpel, nggak ketat. Rambutnya dijepit dua di belakang, poninya nyempong ke depan karena baru dikeriting tadi sore. Pakai flat shoes putih lagi, tapi yang bersih.
Dia jalan pelan ke arah restoran, nenteng tas kecil, grogi.
Di ujung restoran, dekat jendela kaca, Arkana udah duduk.
Nayla pas liat, langsung berhenti di tengah jalan.
Ini bener nggak sih?
Arkana yang tadi siang cuma pakai kaos hitam celana pendek rambut basah habis mandi, sekarang...
Pakai kemeja putih lengan digulung sampai siku, jam tangan hitam, rambut udah rapi disisir ke belakang. Duduknya tegak. Keliatan dewasa banget. Keliatan... Om-om.
Beda 180 derajat.
Arkana yang udah duduk juga liat Nayla. Kaget juga.
Yang tadi siang masuk kamarnya cewek panik rambut berantakan tutup mata teriak "Aaaaaah", sekarang...
Cewek pakai dress putih, rambut dijepit dua, poni nyempong, keliatan kayak anak kuliahan yang nyasar ke restoran orang dewasa.
Mereka saling tatap dari jauh 5 detik.
Arkana angkat tangan dikit.
"Ngapain berdiri di situ?"
Nayla jalan mendekat, makin grogi.
Duduknya nggak di depan Arkana, tapi agak geser. Arkana malah berdiri, narik kursi di sampingnya, bukan di depannya.
"Duduk sini," katanya, pelan tapi nggak bisa ditolak.
Nayla duduk di sampingnya. Jadi sebelahan, bukan hadap-hadapan. Meja panjang, mereka duduk berdampingan ngadep ke jendela.
Jaraknya masih sopan, ada 1 jengkal.
Sunyi.
Pelayan dateng bawa menu.
"Mau pesan apa?" tanya Arkana, suaranya datar. Dingin. Mode Om Dewasa ON.
Nayla buka menu, nggak ngerti.
"Samain aja kayak Bapak..." bisiknya kecil.
"Arkana."
"Hah?"
"Panggil Arkana aja. Jangan Bapak terus, kayak lagi rapat sama dosen."
"Oh... iya, Kak... Pak... Arkana..."
Arkana pesen dua paket grill sama dua jus jeruk. Pelayan pergi.
Sunyi lagi.
Nayla mainin jepit rambutnya, grogi liat Arkana dari samping. Rahangnya tegas, urat tangannya keliatan pas megang gelas.
Dalam hati Nayla gumam: Ini bener nggak sih? Kok kayak Om-om dewasa banget, astaga! Tadi siang kayak anak gym, sekarang kayak CEO...
Arkana di sampingnya juga diem, tapi bukan karena dingin. Dia juga bingung.
Tadi siang dia nolongin cewek panik yang teriak-teriak. Sekarang cewek itu duduk di sebelahnya pakai dress putih rambut dijepit dua, wangi vanila, duduknya anteng kayak anak kecil yang disuruh les.
"Cocok?" tanya Arkana tiba-tiba.
Nayla kaget. "Cocok apa?"
"Dress-nya."
Nayla langsung nunduk, narik ujung dress-nya.
"Ke... kependekan ya? Maaf, aku cuma punya ini yang putih..."
"Enggak. Cocok sama jepitnya."
Nayla makin nunduk, poninya nyempong nutupin mata.
Obrolannya nggak romantis sama sekali. Nggak ada gombal.
Yang satu dingin, ngomong seperlunya, tatapannya lurus ke depan.
Yang satu grogi, ngomongnya kecil, matanya nggak berani liat ke samping, cuma berani liat piring kosong di depannya.
Makanan dateng.
Mereka makan dalam diam. Cuma suara sendok sama piring.
Sesekali Arkana ngelirik Nayla, liat Nayla susah motong daging grill-nya.
Tanpa ngomong, Arkana geser piring Nayla, potongin dagingnya jadi kecil-kecil, balikin lagi.
Nayla kaget. "Eh, makasih..."
Arkana cuma angguk, lanjut makan punya sendiri.
Nggak romantis, tapi... bikin Nayla yang grogi dari tadi agak tenang.
Di tengah makan, Nayla akhirnya berani ngomong kecil, masih liat ke depan, nggak berani liat Arkana.
"Kak Arkana... kemarin makasih ya... kalau nggak ada Kakak, aku nggak tau gimana..."
Arkana jawab masih dingin, tapi suaranya lebih pelan.
"Udah lewat. Makan aja."
Nayla angguk. Lanjut makan.
Malam itu, makan malam ganti rugi itu isinya cuma dua orang yang duduk sebelahan, satu dingin kayak Om-om kantor, satu grogi kayak anak magang nyasar — nggak ada obrolan bunga-bunga, cuma jus jeruk, grill yang dipotongin, dan sesekali Arkana narik kursi Nayla biar nggak kejauhan.
PART 4 - TETANGGA BARU
Pagi itu, jam 7.30.
Nayla keluar kamar 1907 mau buang sampah, masih pakai piyama tidur sama kuncir berantakan. Belum mandi.
Pas buka pintu, pintu sebelah — 1908 — juga kebuka.
Yang keluar bawa kardus.
Arkana.
Pakai kaos hitam, celana pendek, rambut masih berantakan habis bangun.
Nayla langsung JEDER.
"LAH?!"
Arkana yang sewa di lantai 21 habis, pindah ke lantai 19. Sebelahan sama Nayla. 1908. Pas sebelah.
Kebetulan sama-sama mau masuk lorong.
Nayla panik, langsung nutupin mukanya pakai kantong sampah yang dipegangnya.
"JANGAN LIAT! JANGAN LIAT! AKU BELUM MANDI!"
Arkana? Tenang banget. Santai. Nggak kaget sama sekali, kayak udah tau bakal ketemu.
Dia taro kardusnya di depan pintu, bersandar di kusen, liat Nayla yang nutupin muka pakai kantong sampah.
"Nayla."
"Iya?!" jawabnya masih dari balik kantong sampah.
"Besok temenin saya cari gaun ya."
Kantong sampahnya turun dikit. Mukanya nongol, bingung.
"Gaun?"
"Iya, gaun buat seseorang."
Nayla ngerutin alis, kantong sampahnya masih di depan muka.
"Kenapa harus saya, Pak?"
"Kamu kan perempuan jadi lebih jeli. Saya nggak ngerti ukuran perempuan."
"Buat siapa emangnya?"
Arkana nggak jawab langsung. Dia ambil kunci dari saku, buka pintu 1908-nya lagi.
"Nanti saya ceritain besok. Jam 10 pagi, di lobi bawah. Jangan pakai kantong sampah."
Pintu 1908 ketutup.
Nayla masih berdiri di depan pintu 1907 megang kantong sampah, bengong.BESOKNYA - JAM 10 PAGI, LOBI.
Nayla beneran dateng. Pakai kemeja putih sama jeans, rambut dijepit dua lagi.
Arkana udah nunggu, pakai kemeja biru muda, rapi. Beda lagi sama Arkana kardus tadi pagi.
"Mana orangnya?" Nayla nanya, ngeliat sekeliling.
"Ikut aja."
Mereka ke mall deket apartemen. Masuk ke butik gaun.
Arkana langsung bilang ke mbak SPG-nya, "Cariin yang cocok buat dia," sambil nunjuk Nayla.
Nayla kaget. "Loh? Katanya buat seseorang?"
"Iya, seseorangnya kamu."
"Hah?!"
Belum sempet protes, mbak SPG udah narik Nayla ke fitting room, ngasih 3 gaun.
Gaun 1: putih panjang, simple.
Gaun 2: dress sage green selutut.
Gaun 3: dress navy buat kondangan.
Nayla nyoba satu-satu, keluar dari fitting room malu-malu.
Arkana duduk di sofa depan fitting room, mode Om Dewasa dinginnya nyala lagi. Nggak muji lebay, cuma angguk.
"Yang putih bagus."
"Yang hijau juga masuk."
"Yang navy... coba puter."
Nayla muter, dress navy-nya muter.
Arkana diem bentar, terus manggil SPG.
"Bungkus semua."
Nayla langsung panik, keluar dari fitting room masih pakai dress navy.
"Pak! Nggak usah! Mahal! Saya nggak butuh gaun!"
"Butuh," jawab Arkana santai. "Kemarin makan malam pakai dress putih satu-satunya. Masa mau makan malam lagi pakai itu lagi?"
"Loh, kita mau makan malam lagi?"
"Enggak. Kita mau ke toko sebelah."
Selesai dibungkus 1 gaun, 2 dress. Nayla nenteng 1 plastik, Arkana nenteng 2 plastik.
Terus jalan ke toko sebelah — toko perhiasan.
Nayla makin bingung.
"Kak, ini buat apa lagi?"
Arkana nggak jawab, langsung bilang ke mas-mas perhiasan.
"Cariin kalung yang cocok buat dress putih tadi."
Mas-nya ngeluarin kalung tipis ada liontin kecil.
Arkana ngambil, liat, terus tanpa nanya — langsung kalungin ke leher Nayla.
Jaraknya deket. Tangan Arkana dingin.
Nayla diem, nggak bisa ngomong. Poninya nyempong, matanya ngeliat ke bawah, grogi.
Arkana abis masangin, mundur selangkah, liat.
"Cocok."
Nayla megang liontinnya, kecil, berkilau.
"Kak... ini... ini semua buat saya?"
Arkana masukin struk ke plastik gaun, terus ngasih semua plastiknya ke Nayla.
"Tadi kamu tanya gaun buat siapa. Sekarang udah tau kan?"
Nayla masih megang kalungnya, matanya berkaca-kaca, antara malu sama terharu.
"Tapi kenapa... kenapa sebanyak ini... kita kan baru kenal..."
Arkana jalan duluan keluar toko, terus jawab pelan, tapi sekali ngomong bikin Nayla diem.
"Karena kemarin kamu salah masuk kamar saya cuma pakai panik. Besok-besok kalau salah masuk lagi, minimal masuknya pakai gaun yang bagus. Biar saya nggak kaget lagi liat kamu tutup mata teriak-teriak."
Nayla yang tadinya mau nangis terharu, langsung ngakak.
"KAK ARKANA!"
PART - KEPELESET DI 1908
Siang, lantai 19.
Lantai 1908 baru di pel habis, masih licin.
Nayla habis dari 1907, bawa 2 gelas es teh, pakai kaos kaki, jalan buru-buru ke 1908.
"Kak, es tehnya—"
SRET!
Kepleset.
Gelas hampir jatuh, tapi Arkana yang lagi duduk di sofa langsung berdiri, nangkep Nayla.
Bukan nangkep gelasnya. Nangkep orangnya.
Nayla jatuh ke pelukan Arkana. Es teh aman di meja.
Posisinya... deket banget. Hidung ketemu hidung. Poni Nayla nyempongnya nempel di jidat Arkana.
"Om? Eeh..."
Nayla kaget, matanya kedip-kedip.
Arkana megang pinggang Nayla biar nggak jatuh lagi, napasnya ketahan.
"Nggak papa?"
Nayla angguk pelan, masih di pelukan.
"Licin..."
Arkana liat Nayla, Nayla liat Arkana. Jaraknya cuma se-nafas.
Arkana pelan, nanya dulu — nggak langsung.
"Masih mau di sini?"
Nayla yang masih deg-degan gara-gara kepleset, jawab kecil, jujur.
"Kangen..."
Bukan kangen es tehnya. Kangen deketnya.
Arkana ngerti. Dia majuin dikit, pelan, nanya pakai mata dulu, bukan langsung.
Nayla merem pelan. Nggak ngedorong. Nggak menghindar. Mau.
Ciuman.
Ciuman orang dewasa. Bukan ciuman kaget anak kecil. Pelan, singkat, sama-sama mau.
Cuma beberapa detik.
Abis itu Nayla langsung nunduk, mukanya merah semua, poni nyempongnya nutupin mata.
Arkana masih megang pinggang Nayla, biarin dia nunduk di dadanya.
Hening. Cuma AC bunyi.
"Masih mau?" Arkana bisik, pelan, nahan senyum.
Nayla mukul pelan dada Arkana, masih nunduk.
"Kak! Orang kepleset!"
"Keplesetnya sengaja ya?"
"Enggak! Beneran licin!"
Arkana ketawa kecil, lepasin pelukannya pelan, benerin jepit dua Nayla yang miring gara-gara kepleset tadi.
"Ya udah, duduk. Es tehnya diminum, lantainya biar kering dulu."
Mereka duduk di sofa 1908, es tehnya masih utuh. Nayla duduknya agak jauh, masih salting, mainin ujung kaos kakinya.
Arkana duduk sebelahnya, nggak mepet, ngasih ruang.
"Ntar kalau nikah lebih ya dari ini," Nayla nyeletuk kecil, masih nunduk, suaranya hampir nggak kedengeran.
Arkana kaget, terus senyum.
"Iya. Ntar kalau nikah, pelnya nggak usah licin-licin lagi. Biar nggak kepleset. Biar jalannya pelan aja."
Nayla langsung lempar bantal kecil ke Arkana.
"KAK!"
Arkana nangkep bantalnya, ketawa.
Di lantai 1908 yang masih licin, 2 gelas es teh masih utuh, 1 bantal di lantai bekas kepleset, dan 2 orang dewasa yang habis ciuman pertama gara-gara pelan.
Arkana ketawa juga, pertama kalinya ketawa lepas nggak dingin.
Mereka jalan pulang ke apartemen bawa 3 kantong gaun sama 1 kotak perhiasan kecil, sebelahan — 1907 sama 1908.
PART 5 - MANTAN DATANG LAGI
Malemnya, jam 9 malam.
Nayla baru selesai mandi, lagi coba gaun putih yang tadi dibeliin Arkana. Resleting belakang masih setengah, belum kekancing.
Tiba-tiba —
TOK TOK TOK! kenceng banget di pintu 1907.
"Nayla! Buka! Gue tau lo di dalam!"
Suara Damar lagi.
Nayla langsung panik, lepas gaun putihnya buru-buru, ganti pakai kaos rumah. Tangannya gemeter ngancing pintu.
"Damar, udah malem! Pulang! Kita udah selesai!"
"Belum selesai! Lo gara-gara cowok lain kan?! Yang kemarin di lantai 21 itu?!"
Di luar, Damar ngedor-gedor makin kenceng. Tetangga 1906 udah ngintip.
Pas Nayla mau teriak minta tolong —
BRAK!
Pintu 1908 sebelah kebuka.
Arkana keluar. Masih pakai kaos hitam celana pendek, rambut masih agak basah habis mandi. Mukanya datar, tapi rahangnya keras.
Dia jalan ke depan pintu 1907, berdiri di antara pintu Nayla sama Damar.
"Damar."
Damar noleh, kaget.
"Om... Om Arka?"
Nayla yang ngintip dari balik pintu juga kaget.
"OM?!"
Arkana natap Damar dingin. Beda dinginnya pas di restoran. Ini dingin yang bikin orang diem.
"Ngapain kamu di sini malem-malem gedor-gedor pintu orang?"
Damar yang tadinya galak sama Nayla, langsung ciut setengah.
"Om... ini... ini urusan gue sama Nayla..."
"Urusan apa? Jam 9 malem teriak-teriak di lorong apartemen? Kamu pikir ini rumah kamu?"
Damar masih ngeyel, "Dia mantan gue, Om! Dia selingkuh gara-gara Om ya?!"
Arkana nggak jawab. Dia maju selangkah, dorong bahu Damar pelan tapi kenceng sampai Damar mundur dua langkah sampai mentok dinding lorong.
"DORONGNYA NGGAK KENCENG, TAPI BIKIN MENTAL."
"Jaga mulut kamu."
Suaranya pelan, tapi semua yang di lorong denger.
Damar yang didorong, emosinya naik lagi.
"Apaan sih Om! Belain dia!"
Mereka hampir berantem. Damar udah kepal tangan. Arkana masih berdiri tegak, nggak kepal tangan, cuma tatapannya nggak lepas.
Nayla yang liat dari pintu langsung teriak, "UDAH! DAMAR PULANG!"
Security dari bawah denger rame, naik ke lantai 19.
Damar liat security dateng, akhirnya mundur, ngerapihin jaketnya.
"Oke, oke gue pergi! Tapi urusan kita belum selesai, Om!"
Dia nunjuk Arkana.
"Om?"
Arkana masih diem.
Damar pergi sambil ngedumel, masuk lift dibuntutin security.
Lorong sepi lagi.
Nayla buka pintu lebar, mukanya pucet.
Arkana masih berdiri di depan pintu 1907, napasnya masih agak berat.
Nayla bisik, gemeter, "Pak Arkana... tadi... tadi Damar bilang Om..."
Arkana ngusap mukanya, mendesah.
"Iya, dia keponakan saya."
Nayla kaget setengah mati.
"KEPONAKAN?!"
"Anak kakak saya. Anak pertama kakak saya. Makanya saya tau dia. Dari kecil emang keras kepala kalau mau sesuatu."
Nayla langsung lemes, duduk di lantai depan pintunya, masih pakai kaos rumah.
"Jadi... jadi selama ini... aku pacaran sama keponakan tetangga sebelah kamar aku... yang... yang nolongin aku dari keponakannya sendiri..."
Arkana jongkok di depan Nayla, sejajar.
"Nayla, dengerin."
"Enggak... pantesan tadi dia manggil Om..."
"Nayla."
Nayla noleh, matanya berkaca-kaca.
"Justru karena dia keponakan saya, saya nggak bakal biarin dia gangguin kamu lagi. Tadi saya dorong dia bukan karena saya mau berantem. Karena kalau nggak saya dorong, dia bakal dobrak pintu kamu."
Nayla diem, masih shock.
"Terus... terus gaun-gaun tadi... kalung tadi..."
Arkana natap Nayla lama.
"Gaun tadi bukan karena kamu mantan keponakan saya. Gaun tadi karena kamu Nayla. Yang kemarin salah masuk kamar saya teriak-teriak tutup mata."
Nayla yang tadinya pucet, pipinya jadi merah lagi.
Arkana berdiri, ngulurin tangan ke Nayla yang masih duduk di lantai.
"Masuk. Kunci pintu. Besok kalau dia dateng lagi, ketok kamar saya dulu, jangan buka pintu kamu."
Nayla megang tangan Arkana, berdiri.
"Pak... Om... Kak... aku harus manggil apa sekarang?"
Arkana yang udah jalan balik ke kamar 1908, berhenti, noleh, senyum tipis pertama kalinya malem itu.
"Panggil Arkana aja. Om cuma buat Damar."
Pintu 1907 ketutup pelan.
Malam itu, Nayla tidur pakai kaos rumah, gaun putihnya masih tergantung di lemari, kalung kecilnya masih di meja — dan di sebelah kamarnya, ada Om dari mantannya yang jadi tetangga sebelahnya.
Nayla masih berdiri di depan pintu 1907, belum masuk. Tangannya masih megang gagang pintu.
Pas Arkana udah mau masuk ke 1908, Nayla nahan.
"Kak Arkana!"
Arkana noleh lagi.
"Kenapa?"
Nayla ngerutin alis, inget kejadian kemarin di lantai 21.
"Terus kenapa kemarin Damar panggil Bapak 'Bro'?"
Arkana diem sepersekian detik, terus senyum tipis, senyum yang agak... males jelasin tapi harus jelasin.
"Oh, itu."
Dia bersandar lagi di kusen pintu 1908.
"Damar itu anak kakak saya, tapi umur saya sama kakak saya beda 12 tahun. Saya anak terakhir. Jadi umur saya sama Damar cuma beda 7 tahun."
Nayla ngitung di jari. "7 tahun?"
"Iya. Saya 28, Damar 21. Jadi dia dari kecil nggak pernah manggil saya Om kalau lagi santai. Manggilnya Bro, Bang, kadang Arka doang."
"Terus kenapa tadi manggil Om?"
"Karena takut."
"Takut?"
Arkana angguk.
"Dia manggil Om cuma pas dua momen. Satu, pas dia butuh duit. Dua, pas dia tau dia salah dan saya udah mode serius. Tadi dia tau dia salah, makanya manggil Om."
Nayla manggut-manggut, mulai paham.
"Ooooh... jadi Om muda..."
Arkana langsung ngerutkin alis.
"Jangan mulai kamu juga manggil Om."
Nayla yang tadi masih pucet gara-gara shock, langsung ketawa kecil.
"Habisnya cocok, Kak! Tadi pas di restoran aja aku mikir, ini Om-om dewasa banget!"
"See? Kan? Makanya Damar manggil Bro, biar saya keliatan nggak setua itu. Eh kamu malah mancing-mancing manggil Om."
Nayla nutup mulut, nahan ketawa. Poni nyempongnya goyang-goyang.
"Maaf, Kak Arkana. Nggak jadi manggil Om. Janji."
Arkana natap Nayla, dari atas sampai bawah. Nayla masih pakai kaos rumah, rambut masih agak basah habis mandi, kalung yang tadi dibeliin masih belum dilepas dari leher.
"Masuk sana, udah malem. Dingin."
Nayla angguk, mau masuk, terus balik lagi.
"Kak... kalau Damar tau aku tetanggaan sama Om mudanya... eh, sama Kakak... dia bakal makin marah nggak ya?"
Arkana masukin tangan ke saku celana pendeknya.
"Biarin. Urusan Damar sama saya, biar saya yang beresin. Urusan kamu, cukup kunci pintu kamu yang bener. Jangan salah masuk kamar orang lagi."
Nayla manyun, "Sekali doang padahal salah masuknya..."
"Sekali aja bikin saya hampir jantungan."
"Ya maaf..."
Mereka diem lagi di lorong sepi lantai 19. AC lorong bunyi pelan.
Arkana akhirnya ngomong, suaranya lebih pelan, nggak dingin lagi.
"Nayla, besok pagi jangan kemana-mana dulu ya. Saya mau ajak Damar kesini. Dia harus minta maaf langsung ke kamu. Bukan lewat saya."
Nayla kaget. "Minta maaf? Nggak usah, Kak..."
"Harus. Biar dia berhenti."
Nayla liat Arkana, ngeliat tatapan seriusnya. Nggak bisa nolak.
"Oke... jam berapa?"
"Jam 9 pagi. Di depan kamar kamu. Saya temenin."
"Oke..."
Nayla masuk ke 1907, tutup pintu, kunci. Dari dalam masih kedengeran suara Arkana nutup pintu 1908.
Di kamarnya, Nayla rebahan di kasur, megang kalung kecilnya, masih mikir.
Bro... Om... Kak Arkana...
Pantesan dadanya keker, ternyata Om muda yang rajin nge-gym... eh!
Dia tutup muka pakai bantal.
Di kamar sebelah, Arkana rebahan juga, ngeliat chat WA dari Damar yang masuk bertubi-tubi.
Damar: Om sorry tadi
Damar: Om jangan bilang Mama Papa gue ya
Damar: Om itu cewek yang di 1907 cewek gue Om
Arkana ketik balik cuma satu kalimat:
Arkana: Besok jam 9 ke lantai 19. Minta maaf ke dia. Jangan telat.
PART 6 - JAM 9 PAGI
Jam 8.55 pagi, lantai 19.
Nayla udah mandi, pakai kemeja putih sama jeans lagi — dress-nya nggak dipake, sayang. Tapi kalung kecil yang kemarin dibeliin Arkana masih dipake. Lupa dilepas pas tidur.
Pintu 1907 kebuka dikit, dia ngintip lorong.
Di depan pintu 1908, Arkana udah berdiri. Pakai kaos hitam lagi, celana jeans, tangan disilang. Mode Om Muda Siaga.
Jam 9.00 pas.
TING! Lift kebuka.
Damar keluar. Pakai hoodie hitam, muka ngantuk, bawa plastik roti.
Jalan ke lorong 1907-1908 sambil nunduk.
"Om..."
Arkana cuma angguk, "Masuk. Minta maaf yang bener."
Damar jalan ke depan pintu 1907. Nayla buka pintu full, berdiri di belakang pintu, agak sembunyi.
Damar liat Nayla, langsung nunduk dalam.
"Nay... sorry ya kemarin malem gue... gue kelewatan... gue gedor-gedor pintu lo... sorry..."
Suaranya kecil. Beda banget sama yang teriak-teriak kemarin.
Nayla diem, megang ujung kemejanya.
"Iya... nggak papa..."
Damar masih nunduk, mau ngasih plastik roti.
"Ini... buat permintaan maaf... roti bakar kesukaan lo dulu..."
Baru mau dikasih, mata Damar naik — ngeliat leher Nayla.
Kalung tipis, liontin kecil berkilau.
Damar kenal kalung itu.
Kemarin malem dia liat struk di IG Story temennya yang kerja di toko perhiasan mall bawah. Ada nama: Arkana P. beli kalung.
Damar langsung noleh ke Arkana.
"Om... itu... itu kalung..."
Arkana masih bersandar, santai.
"Kenapa?"
"Om beliin?"
"Iya."
Damar bengong, liat Nayla, liat kalungnya, liat Arkana lagi.
"Nay... lo... lo..."
Nayla langsung panik, tangannya nutupin kalungnya.
"Bukan! Bukan kayak yang kamu pikir! Ini... ini kemarin Kak Arkana beliin karena... karena..."
"Karena dia salah masuk kamar saya dan saya bikin dia kaget hampir jantungan," potong Arkana, datar. "Jadi saya ganti rugi."
Damar masih bengong.
"Ganti rugi kalung? Om... Om serius?"
Arkana maju selangkah.
"Damar, dengerin Om sekali aja. Kamu sama Nayla udah selesai 3 bulan lalu, kan? Kamu sendiri yang bilang di depan keluarga."
"Iya..."
"Nah, kalau udah selesai, jangan diganggu lagi. Kemarin kamu gedor pintu cewek malem-malem, itu bukan cowok. Itu bocah."
Damar nunduk lagi, malu.
"Sorry, Om... sorry, Nay..."
Nayla yang dari tadi diem, akhirnya ngomong pelan.
"Damar, makasih rotinya... tapi aku udah nggak bisa balikan. Beneran."
Damar angguk pelan. Ngerti.
"Oke... gue ngerti..."
Dia naruh roti di depan pintu Nayla, terus balik badan mau pergi.
Baru jalan dua langkah, dia balik lagi, ngeliat Arkana sama Nayla yang berdiri sebelahan — satu 1908, satu 1907.
"Om... tapi... kalau Om sama Nayla... itu... boleh?"
Arkana ngerutkin alis. "Apa maksudnya boleh?"
"Ya... maksudnya... Om kan Om gue... Nay kan mantan gue..."
Arkana jawab tanpa mikir, suaranya tetep tenang tapi bikin Damar diem.
"Damar, Nayla itu tetangga Om. Tetangga 1907. Bukan mantan siapa-siapa di lorong ini. Paham?"
Damar diem 3 detik, terus angguk.
"Paham, Om."
"Bagus. Sekarang turun, jangan naik ke lantai ini lagi kalau nggak diundang."
"Siap, Om."
Damar masuk lift, pergi.
Lorong sepi lagi. Tinggal roti bakar di lantai sama dua orang yang masih berdiri sebelahan.
Nayla jongkok ambil rotinya, masih megang kalungnya.
"Kak... Damar liat kalungnya... dia pasti mikir aneh-aneh..."
Arkana jongkok juga, sejajar sama Nayla.
"Biarin dia mikir. Yang penting kamu tau itu kalung ganti rugi, bukan kalung lamaran."
Nayla ketawa kecil, lega.
"Tapi kalung lamaran benerannya kayak apa, Kak?"
Arkana yang lagi jongkok, langsung berdiri kaget.
"Nayla!"
Nayla ngakak, berdiri juga, masih megang roti bakar sama kalungnya.
"Canda, Kak! Canda!"
Arkana geleng-geleng, tapi senyumnya ketahan.
"Masuk sana, sarapan. Roti dari mantan jangan dibuang, sayang."
"Siap, Om Muda!"
"Eh!"
Pintu 1907 ketutup sambil ada suara Nayla ketawa dari dalam.
Arkana balik ke 1908, ngeliat chat dari Damar lagi.
Damar: Om, kalungnya bagus. Cocok sama Nayla.
Damar: Titip Nayla ya Om. Jangan digalakin kayak galakin gue.
Arkana ketik balik:
Arkana: Urus kuliah lo aja. Jangan urus tetangga Om.
Di 1907, Nayla makan roti bakar sambil liat kalung di kaca, senyum-senyum sendiri.
Salah masuk kamar gara-gara dikejar mantan, eh malah dapet tetangga Om muda, dapet 3 gaun, dapet kalung, plus dapet tukang usir mantan gratis.
PART 7 - RAHASIA ARKA
seMinggu kemudian
"Kak?"
Sepi. Suara shower kedengeran dari dalam. Arkana lagi mandi.
Nayla mau balik, tapi mata dia ngeliat ke meja kerja di deket jendela.
Laptop Arkana kebuka, nyala.
Wallpaper-nya...
Nayla mendekat pelan.
Foto.
Foto seorang cewek pakai dress biru muda, lagi ketawa sambil pegang gelas jus. Rambutnya dijepit dua, poninya nyempong. Duduk di restoran.
Itu... dia.
Nayla. Setahun yang lalu.
Restoran yang sama di bawah apartemen.
Waktu itu dia masih sama Damar. Damar ngajakin makan malam keluarga besar, ngenalin Nayla ke keluarganya.
Di ujung meja, ada Arkana. Duduk diam, pakai kemeja putih. Om muda yang waktu itu cuma disapa "Om Arka" sama Nayla, nggak banyak ngomong.
Nayla inget, waktu itu Arkana sempat foto-foto keluarga. Katanya buat dikirim ke grup keluarga.
Ternyata...
Salah satu fotonya nggak kekirim ke grup.
Kesimpen. Dijadiin wallpaper laptop pribadi. Udah setahun.
Suara shower mati.
Arkana keluar pakai handuk di leher lagi, kaos hitam belum dipake.
"Lo ngapain di—"
Dia berhenti. Liat Nayla berdiri di depan laptopnya.
Nayla noleh, muka kaget, nunjuk laptop.
"Kak... ini... ini aku kan?"
Arkana diem. Ketahuan.
Handuk di lehernya dipegang lebih kenceng. Muka yang biasanya dingin, sekarang merah.
"Iya."
"Ini... waktu makan malam keluarga Damar... setahun lalu..."
"Iya."
"Kakak simpen? Dijadiin wallpaper?"
Arkana jalan pelan ke mejanya, nutup laptopnya pelan. Nggak panik.
"Duduk dulu."
Nayla duduk di kursi kerja Arkana, masih shock.
Arkana duduk di pinggir kasur, ngadep Nayla.
"Nayla, waktu itu Damar ngenalin kamu sebagai pacarnya. Di restoran bawah. Kamu pakai dress biru itu, rambut kamu dijepit dua, kamu ketawa terus karena grogi ketemu keluarga besar Damar."
Nayla inget, angguk pelan.
"Di meja itu, semua orang ngobrol sama Damar. Kamu diem, grogi. Saya yang duduk paling ujung liat kamu mainin sedotan jus terus karena bingung mau ngomong apa. Terus kamu ketawa kecil, poninya nyempong."
"Terus Kakak foto?"
"Saya foto keluarga. Tapi pas ngedit, foto kamu yang lagi ketawa itu... nggak sengaja ke-save sendiri. Nggak kekirim ke grup."
Nayla megang kalung kecil di lehernya, yang dibeliin Arkana.
"Jadi... Kakak... udah suka... dari dulu?"
Arkana nggak langsung jawab. Dia ngeliat Nayla lama.
"Diam-diam suka, iya."
Ruangan 1908 hening. AC bunyi pelan.
"Damar nggak tau. Keluarga nggak tau. Saya juga nggak pernah ganggu kalian waktu masih pacaran. Saya cuma simpen fotonya."
Nayla nunduk, pipinya merah. Poni nyempongnya nutupin mata.
"Kenapa nggak bilang?"
"Karena waktu itu kamu pacarnya keponakan saya. Nggak etis."
"Terus kenapa sekarang... beliin gaun... beliin kalung... pindah ke sebelah..."
Arkana senyum, senyum yang udah nggak dingin lagi.
"Karena sekarang kamu bukan pacar keponakan saya lagi. Kamu tetangga saya. 1907. Yang kemarin salah masuk kamar saya teriak-teriak tutup mata."
Nayla ketawa kecil, air matanya nongol dikit, antara kaget sama terharu.
"Jadi... ganti rugi makan malam kemarin... itu alasan doang?"
"Iya. Alasan biar bisa duduk sebelahan sama cewek yang fotonya udah setahun jadi wallpaper laptop saya."
Nayla nutup muka pakai dua tangan.
"Kak Arkana... curang..."
Arkana berdiri, jalan ke arah Nayla, jongkok di depan kursinya, sejajar.
"Nayla, boleh saya jujur sekali lagi?"
Nayla ngintip dari sela jari.
"Apa?"
"Besok temenin saya cari gaun lagi ya. Tapi bukan gaun buat kamu. Gaun buat saya pakai pas ngelamar kamu nanti. Biar matching sama gaun putih kamu."
Nayla langsung berdiri kaget.
"KAK!"
Arkana ketawa lepas, ketawa paling kenceng sejak pindah ke 1907.
Nayla mukul pelan bahu Arkana pakai bantal kursi.
"Curang! Curang! Jadi selama ini..."
"Selama ini apa?"
"Selama ini aku yang grogi liat Om-om dewasa, ternyata Om-nya udah naksir duluan!"
Arkana ngeraih tangan Nayla yang lagi mukul-mukul, genggam pelan.
"Boleh nggak?"
"Boleh apa?"
"Boleh lanjut suka-nya nggak diam-diam lagi?"
Nayla diem, matanya berkaca-kaca, tapi senyumnya lebar.PART 8 - HABIS KETAUAN WALLPAPER
"ASTAGA!"
Nayla langsung lari dari 1908 ke 1907.
BRAK! Pintu 1907 ketutup kenceng.
Di dalam kamarnya, dia rebahan di kasur, nutup muka pakai bantal, kaki nendang-nendang kasur.
"ASTAGA ASTAGA ASTAGA! JADI WALLPAPERNYA AKU! UDAH SETAHUN! DIA SUKA AKU DARI AKU MASIH SAMA DAMAR!"
Pipinya merah semua. Kalung kecilnya masih dipake.
Di kamar sebelah, 1908.
Arkana masih duduk di pinggir kasur, laptopnya masih ketutup. Muka dinginnya balik lagi, tapi kupingnya merah.
Dia ngelus rambutnya yang masih basah.
"Anjir... ketahuan..."
Sejak saat itu, canggung.
Nayla tiap ketok pintu pinjem gula jadi jarang. Kalau ketemu di lorong, cuma senyum kecil terus langsung masuk kamar.
Arkana juga balik dingin lagi. Tapi dinginnya beda. Dingin yang nahan.
Nggak godain, nggak manggil "Nay, sini". Cuma angguk kalau ketemu.
Dua hari gitu terus.HARI KETIGA - SORE, HUJAN DERES.
Jam 5 sore, hujan deres banget.
Nayla baru pulang dari kampus, nggak bawa payung. Kejebak di halte depan apartemen, 50 meter lagi sampai lobi. Pakai kemeja putih, tas digendong depan biar nggak basah, rambut dijepit dua-nya udah agak lepek.
Dia nelpon ojek online, nggak ada yang ambil.
Di lantai 19, Arkana baru pulang dari gym, dari balkon 1908 liat ke bawah.
Liat sosok kecil di halte.
Dress putih? Bukan. Kemeja putih. Jepit dua. Poni nyempong yang lepek.
Nayla.
Arkana nggak mikir panjang. Ambil payung hitam gede di deket pintu, turun pakai tangga darurat, lari nerobos hujan.
Di halte, Nayla masih jongkok, ngeliat hujan.
Tiba-tiba, bayangan nutupin dia.
Payung hitam.
"Nay, ayo."
Suara Arkana. Napasnya agak ngos-ngosan habis lari.
Nayla noleh, kaget.
"Kak Arkana?!"
"Ayo, pulang. Hujan deres."
Nayla geleng-geleng, masih gengsi gara-gara kejadian wallpaper kemarin.
"Ng... nggak usah, Kak... aku bisa sendiri... bentar lagi reda..."
Arkana nggak jawab. Nggak maksa. Dia cuma geser payungnya lebih ke Nayla, biar Nayla nggak ketetesan sama sekali, dia sendiri bahunya basah sebelah.
"Payung saya gede. Cukup buat berdua. Kalau kamu nunggu reda, bisa sejam."
Nayla liat bahu Arkana yang basah.
"Kak... bahu Kakak basah..."
"Gapapa. Ayo."
Kali ini suaranya pelan, nggak dingin.
Nayla akhirnya berdiri pelan, masih jaga jarak.
Mereka jalan berdua dari halte ke lobi apartemen. Payung hitam gede.
Nayla di kiri, Arkana di kanan. Arkana megang payung agak miring ke Nayla, jadi dia yang kehujanan sebelah.
Sepanjang jalan 50 meter itu nggak ada obrolan.
Cuma suara hujan di payung.
Pas udah sampai lobi, Nayla rambutnya masih kering, cuma ujung kemejanya agak basah. Arkana? Kaos hitamnya basah sebelah, rambutnya basah lagi.
Nayla ngeliat itu, nggak tega.
"Kak... masuk angin nanti..."
Arkana ngibasin payungnya, tutup.
"Udah biasa."
Mereka masuk lift berdua. Lantai 19.
Di lift, hening. Cuma mereka berdua.
Nayla mainin ujung kemejanya, akhirnya ngomong kecil.
"Kak... makasih ya... udah jemput..."
Arkana liat ke depan, ke angka lift.
"Saya nggak jemput. Saya liat tetangga saya kehujanan."
Nayla senyum kecil.
"Oh... tetangga..."
"1907."
"Iya, 1907..."
TING! Lantai 19.
Pintu lift kebuka.
Mereka jalan ke lorong. Masih sebelahan.
Pas di depan pintu 1907 dan 1908, Nayla berhenti.
"Kak..."
Arkana berhenti juga.
"Kenapa?"
Nayla masih nunduk, megang tasnya.
"Wallpaper-nya... masih dipake?"
Arkana diem 2 detik, terus jawab, masih dingin tapi jujur.
"Masih. Belum saya ganti."
"Kenapa nggak diganti?"
"Karena orangnya udah pindah ke sebelah kamar, ngapain ganti foto lama? Mending liat langsung."
Nayla langsung nutup muka lagi.
"KAK!"
Arkana ketawa kecil, buka pintu 1908-nya.
"Masuk, ganti baju. Nanti masuk angin. Payung saya taro depan pintu kamu, kalau butuh lagi ambil aja."
Pintu 1908 ketutup.
Nayla masih berdiri di depan 1907, muka merah, kemeja putihnya agak basah, jepit dua-nya lepek — tapi senyumnya nggak ilang dari halte tadi sampai sekarang.
Di dalam tasnya, kalung kecilnya masih nyantol.
PART 9 - DEMAM
Gara-gara hujan itu.
Jam 11 malem, 1908.
Arkana demam.
Badannya panas, kaosnya basah keringat, AC dimatiin. Payung hitam masih di depan pintu 1907 belum diambil.
TOK TOK TOK!
Nayla ketok pintu 1908, bawa payung yang udah dilipet rapi sama 1 gelas teh anget.
"Kak Arkana, payungnya aku balikin... eh..."
Pintu kebuka pelan.
Arkana berdiri, muka pucet, rambut berantakan.
"Kak... kok pucet?"
Arkana bersandar di kusen.
"Gapapa. Masuk angin dikit."
Nayla yang liat langsung panik, taro teh sama payung di meja.
"Kakak panas! Duh, gara-gara tadi ya bahunya basah!"
Arkana mau bilang gapapa lagi, tapi Nayla udah lari keluar.
"Jangan kemana-mana!"
5 menit kemudian, Nayla balik lagi bawa kantong plastik.
Isinya: bubur ayam, obat demam, koyo, sama air mineral.
"Ini pertama kalinya" dia ngos-ngosan habis lari ke minimarket bawah hujan-hujan.
Arkana yang lagi duduk di pinggir kasur liat Nayla yang rambutnya masih dijepit dua, sekarang pakai piyama, bawa bubur.
"Nay... nggak usah repot..."
"Diem! Makan!"
Nayla buka bubur, suapin? Nggak. Dia taro di meja.
"Makan sendiri bisa kan?"
"Bisa."
Arkana makan bubur pelan. Nayla duduk di kursi kerja, liatin.
Baru 3 suapan, Arkana berhenti, natap Nayla.
Lama.
Ini pertama kalinya Arkana natap Nayla lama, nggak cuma sekilas di lorong atau di restoran.
Matanya merah karena demam, tapi tatapannya jelas.
Nayla yang ditatap lama jadi salting.
"Kak... kenapa natap gitu?"
"Gapapa."
"Minum obatnya dulu..."
Nayla ambil obat sama air, kasih ke Arkana.
Pas ngasih air, tangan mereka kesenggol.
Arkana yang lagi demam, refleks megang tangan Nayla.
Anjir.
Tangan Nayla kecil, dingin. Tangan Arkana panas karena demam.
Nayla kaget, mau narik, tapi Arkana genggamnya pelan.
Hening.
Jarak mereka deket banget. Nayla jongkok di depan Arkana yang duduk di kasur. Payung hitam di lantai, bubur setengah kemakan di meja.
Muka Arkana makin deket, pelan, karena kebawa suasana, panas, pusing, plus cewek yang fotonya jadi wallpaper setahun ada di depan mata lagi ngerawat dia.
Hampir aja.
Hampir aja Arkana maju.
Nayla yang sadar, cepet-cepet ngalihin.
"Eh! K-KOM PRES! Kompres! Aku lupa beli kompres!"
Dia narik tangannya pelan, lari ke kamar mandi 1908, ambil handuk kecil, basahin air dingin.
Balik lagi, masih deg-degan, langsung tempelin handuk dingin ke jidat Arkana.
JEDER! Dingin.
Arkana langsung sadar, merem.
"Ah... dingin..."
Nayla masih nempelin handuk, tangannya gemeter.
"Kak... kalau demam jangan macem-macem..."
Arkana merem, napasnya berat, tapi senyum tipis.
"Maaf."
"Udah, merem aja. Aku temenin sampe obatnya ngaruh."
Arkana merem, handuk dingin di jidatnya. Nayla duduk di kursi sebelah kasur, jagain.
Setengah jam kemudian, obatnya mulai ngaruh, keringatnya keluar.
Arkana udah agak mendingan, buka mata pelan.
Nayla masih di situ, kepalanya udah ngantuk, sandaran di meja, tapi masih melek jagain.
"Nay, pulang. Udah malem."
Nayla ngantuk, geleng.
"Bentar lagi... takut Kakak panas lagi..."
Arkana pelan-pelan tarik selimut, terus ngomong pelan, suaranya serak karena demam.
"Makasih ya... tetangga 1907..."
Nayla senyum ngantuk.
"Iya, Om Muda 1908... cepet sembuh..."
Lampu kamar 1908 dimatiin, cuma lampu meja kecil yang nyala. Di luar hujan masih deres.
Di meja, bubur setengah abis, obat, sama payung hitam yang jadi penyebab demam sekaligus penyebab tetangga 1907 jagain semaleman.
PART 10 - TEMBAK FORMAL
Besok paginya, jam 6 pagi.
Arkana bangun, demamnya udah turun.
Di kursi sebelah kasurnya, Nayla ketiduran. Kepalanya nyender di meja, masih megang handuk kompres yang udah kering. Piyamanya agak berantakan, jepit dua-nya miring satu.
Arkana pelan-pelan bangun, ambil selimut, selimutin Nayla.
Nayla kebangun.
"Eh? Kak? Udah mendingan?"
"Udah. Obat kamu manjur."
Nayla berdiri, ngerapihin rambutnya yang berantakan.
"Ya udah aku balik ke 1907 ya, Kak. Mau mandi."
"Sebentar."
Nayla berhenti di depan pintu.
Arkana masih duduk di kasur, muka udah nggak pucet lagi. Dinginnya udah hilang, seriusnya balik.
"Nayla, nanti sore jam 7, kamu free?"
"Free, Kak. Kenapa?"
"Temenin saya di restoran bawah lagi. Ada yang mau saya omongin. Formal."
Nayla deg-degan. "Formal gimana?"
"Nanti tau."
JAM 7 MALAM, RESTORAN BAWAH - MEJA YANG SAMA KAYAK KEMARIN.
Nayla dateng pakai dress putih yang kemarin dibeliin Arkana — yang pertama kali. Rambutnya dijepit dua, poninya nyempong, rapi. Kalung kecilnya dipake.
Arkana udah duduk di meja yang sama, tapi beda.
Kemeja putih lengan nggak digulung, rapi dimasukin. Jam tangan hitam. Rambut rapi. Di meja, nggak ada menu. Cuma dua gelas air putih sama 1 kotak kecil beludru.
Nayla duduk di sampingnya, kayak kemarin. Grogi lagi.
"Kak..."
Arkana nggak langsung ngomong. Dia tarik napas dulu, liat ke depan, bukan liat Nayla — biar nggak grogi juga.
"Nayla."
"Iya, Kak?"
"Seminggu ini saya diem bukan karena saya marah kamu ketahuan wallpaper saya. Saya diem karena saya lagi mikir gimana caranya ngomong bener."
Nayla diem, dengerin.
"Saya 28. Kamu 21, ya?"
"22, Kak."
"22. Beda 6 tahun. Saya Om muda-nya Damar, mantan kamu. Saya tetangga kamu, 1908, kamu 1907. Posisi saya nggak enak kalau saya ngomong sembarangan."
Nayla angguk pelan.
"Saya suka kamu. Bukan baru kemarin pas kamu salah masuk kamar saya teriak tutup mata. Tapi dari setahun lalu, pas kamu masih jadi pacar keponakan saya. Saya simpen foto kamu, saya jadikan wallpaper, saya diem, karena waktu itu nggak etis buat saya maju."
Arkana akhirnya noleh, natap Nayla. Tatapannya lama, yang kayak waktu demam kemarin — tapi sekarang sadar, nggak demam.
"Sekarang kamu udah nggak sama Damar. Saya udah pindah ke sebelah kamu. Saya udah beliin kamu gaun, kalung, bubur pas saya demam. Saya udah ngerawat kamu pas dikejar mantan, kamu udah ngerawat saya pas demam. Kita udah impas."
Nayla ketawa kecil, matanya berkaca-kaca.
"Terus..."
Arkana geser kotak beludru kecil di meja ke depan Nayla.
Buka.
Isinya bukan cincin lamaran. Isinya gelang tipis, matching sama kalung kecil yang kemarin.
"Saya nggak mau nembak kamu pakai bunga-bunga gombal. Saya mau nembak kamu secara dewasa, formal, kayak orang 28 tahun nembak cewek yang mau dia ajak serius."
Dia ambil gelang itu, liat Nayla.
"Nayla Azura, 1907, yang setahun lalu salah masuk foto keluarga saya dan sekarang salah masuk kamar saya — boleh nggak saya jadi orang yang bangun pagi ketok pintu kamu bukan buat pinjem gula lagi, tapi buat ngajak sarapan beneran? Boleh nggak saya jadi pacar kamu?"
Hening.
Restoran agak rame, tapi meja mereka sepi.
Nayla liat gelang itu, liat Arkana yang mukanya serius, dinginnya hilang semua, tinggal gugupnya orang dewasa yang lagi nembak.
Nayla nggak langsung jawab iya.
Dia ambil gelang itu, pasang sendiri di tangannya. Klik.
Pas. Matching sama kalungnya.
Terus dia noleh ke Arkana, poninya nyempong, matanya merah dikit.
"Boleh, Kak."
Arkana diem 2 detik, kayak nge-lag.
"Boleh?"
"Iya, boleh. Tapi ada syarat."
"Syarat apa?"
"Jangan panggil saya 1907 lagi. Panggil Nayla aja."
Arkana ketawa, lega, napasnya yang ditahan dari tadi keluar.
"Oke, Nayla."
"Terus... wallpaper-nya ganti ya. Ganti foto kita berdua yang baru. Jangan foto aku yang curian itu."
"Deal. Besok kita foto di restoran ini lagi, biar resmi."
Nayla angguk, senyumnya lebar, jepit dua-nya goyang.
Di meja sebelah, pelayan yang dari tadi ngintip langsung tepuk tangan kecil.
Arkana sama Nayla kaget, terus ketawa bareng.
Malam itu, di restoran bawah apartemen The Lavande, meja dekat jendela, cewek dress putih poninya nyempong sama cowok kemeja putih yang keliatan Om-om dewasa — akhirnya duduk sebelahan bukan sebagai tetangga yang salah kamar, tapi sebagai pacar.
Dan di laptop 1908, wallpaper setahun itu akhirnya ada temennya — foto baru malam itu, mereka berdua, Nayla masih pakai dress putih, Arkana masih kemeja putih, senyumnya sama-sama lega.JAM 7 MALAM, RESTORAN BAWAH - MEJA YANG SAMA KAYAK KEMARIN.
Nayla dateng pakai dress putih yang kemarin dibeliin Arkana — yang pertama kali. Rambutnya dijepit dua, poninya nyempong, rapi. Kalung kecilnya dipake.
Arkana udah duduk di meja yang sama, tapi beda.
Kemeja putih lengan nggak digulung, rapi dimasukin. Jam tangan hitam. Rambut rapi. Di meja, nggak ada menu. Cuma dua gelas air putih sama 1 kotak kecil beludru.
Nayla duduk di sampingnya, kayak kemarin. Grogi lagi.
"Kak..."
Arkana nggak langsung ngomong. Dia tarik napas dulu, liat ke depan, bukan liat Nayla — biar nggak grogi juga.
"Nayla."
"Iya, Kak?"
"Seminggu ini saya diem bukan karena saya marah kamu ketahuan wallpaper saya. Saya diem karena saya lagi mikir gimana caranya ngomong bener."
Nayla diem, dengerin.
"Saya 28. Kamu 21, ya?"
"22, Kak."
"22. Beda 6 tahun. Saya Om muda-nya Damar, mantan kamu. Saya tetangga kamu, 1908, kamu 1907. Posisi saya nggak enak kalau saya ngomong sembarangan."
Nayla angguk pelan.
"Saya suka kamu. Bukan baru kemarin pas kamu salah masuk kamar saya teriak tutup mata. Tapi dari setahun lalu, pas kamu masih jadi pacar keponakan saya. Saya simpen foto kamu, saya jadikan wallpaper, saya diem, karena waktu itu nggak etis buat saya maju."
Arkana akhirnya noleh, natap Nayla. Tatapannya lama, yang kayak waktu demam kemarin — tapi sekarang sadar, nggak demam.
"Sekarang kamu udah nggak sama Damar. Saya udah pindah ke sebelah kamu. Saya udah beliin kamu gaun, kalung, bubur pas saya demam. Saya udah ngerawat kamu pas dikejar mantan, kamu udah ngerawat saya pas demam. Kita udah impas."
Nayla ketawa kecil, matanya berkaca-kaca.
"Terus..."
Arkana geser kotak beludru kecil di meja ke depan Nayla.
Buka.
Isinya bukan cincin lamaran. Isinya gelang tipis, matching sama kalung kecil yang kemarin.
"Saya nggak mau nembak kamu pakai bunga-bunga gombal. Saya mau nembak kamu secara dewasa, formal, kayak orang 28 tahun nembak cewek yang mau dia ajak serius."
Dia ambil gelang itu, liat Nayla.
"Nayla Azura, 1907, yang setahun lalu salah masuk foto keluarga saya dan sekarang salah masuk kamar saya — boleh nggak saya jadi orang yang bangun pagi ketok pintu kamu bukan buat pinjem gula lagi, tapi buat ngajak sarapan beneran? Boleh nggak saya jadi pacar kamu?"
Hening.
Restoran agak rame, tapi meja mereka sepi.
Nayla liat gelang itu, liat Arkana yang mukanya serius, dinginnya hilang semua, tinggal gugupnya orang dewasa yang lagi nembak.
Nayla nggak langsung jawab iya.
Dia ambil gelang itu, pasang sendiri di tangannya. Klik.
Pas. Matching sama kalungnya.
Terus dia noleh ke Arkana, poninya nyempong, matanya merah dikit.EPILOG - 1 BULAN KEMUDIAN
Grup keluarga besar Damar lagi heboh.
Di grup WA Keluarga Besar H. Wijaya
Mama Damar: Damar, Om Arka katanya jadian? Sama siapa?
Damar: Gatau Ma, tanya Om Arka aja
Mama Damar: Katanya sama anak apartemennya?
Di apartemen lantai 19, situasinya...
Pintu 1907 sama 1908 udah nggak pernah dikunci kalau siang. Tengahnya dibuka, jadi kayak 1 rumah.
Nayla lagi rebahan di sofa 1908, pakai kaos oversize punya Arkana, rambut dijepit dua-nya lepas satu, nonton TV sambil makan roti bakar — roti bakar yang dulu dikasih Damar buat minta maaf, sekarang jadi langganan dibeliin Arkana.
Arkana di meja kerja, laptopnya kebuka.
Wallpaper-nya udah ganti.
Bukan foto curian setahun lalu lagi. Foto baru, mereka berdua di restoran bawah, Nayla pakai dress putih, Arkana kemeja putih, Nayla senyum poninya nyempong, Arkana senyum tipis.
TOK TOK TOK!
Ketokan kenceng di pintu 1908.
Nayla yang buka, masih makan roti.
Damar berdiri di depan pintu, bawa plastik martabak, muka shock.
"Nay..."
Nayla kaget, rotinya jatuh.
"DAMAR?!"
Damar masuk, liat sekeliling. Liat kaos yang dipake Nayla — kaos hitam punya Arkana yang ada tulisan GYM 5AM CLUB. Liat sofa berantakan ada 2 bantal. Liat laptop Arkana yang wallpapernya Nayla.
"OM! OM ARKA!"
Arkana keluar dari kamar mandi, habis mandi, rambut masih basah, handuk di leher — persis kayak hari pertama Nayla salah masuk kamar.
"Oh, Damar."
Damar nunjuk Nayla, nunjuk Arkana, bolak-balik.
"Jadi... jadi beneran?! Om jadian sama Nayla?! Mantan gue?!"
Arkana jalan santai, ambil roti bakar yang jatuh di lantai, buang.
"Iya."
"JAWABNYA IYA DOANG?!"
Nayla yang panik, langsung berdiri di tengah, jadi penengah.
"Damar, dengerin dulu—"
"Gue udah dengerin, Nay! Sebulan lalu Om bilang 'tetangga 1907, bukan mantan siapa-siapa'! Ternyata—"
"Ternyata sekarang jadi pacar Om," potong Arkana, dinginnya mode Om Muda keluar lagi. "Kenapa?"
Damar diem. Martabaknya masih dipegang.
Arkana duduk di sofa, narik Nayla duduk di sebelahnya — sebelahan kayak di restoran dulu.
"Damar, sini duduk."
Damar duduk di depan mereka, kayak anak kecil disidang.
"Satu, Nayla udah bukan pacar kamu 4 bulan. Dua, Om nggak pernah ngerebut. Om nungguin dia putus dulu setahun. Tiga, Om pindah ke 1908 bukan karena ngikutin kamu, tapi karena sewa Om di 21 habis. Jelas?"
Damar angguk pelan.
"Jelas, Om..."
"Terus kenapa bawa martabak?"
Damar naruh martabaknya di meja.
"Buat... buat minta restu... Mama nyuruh gue cek Om beneran jadian apa nggak... soalnya Mama mau ngundang... ngundang Nayla makan malam keluarga lagi..."
Nayla kaget. "Makan malam keluarga lagi?!"
"Iya... yang dulu... tapi sekarang... sebagai pacar Om Arka... bukan sebagai pacar gue..."
Lorong jadi hening.
Nayla ngeliat Arkana, Arkana ngeliat Nayla.
Arkana ngelus kepala Nayla, jepit dua-nya yang lepas satu dibenerin.
"Mau ikut?"
Nayla masih shock, tapi angguk pelan.
"Mau... tapi aku pakai dress yang mana? Yang putih?"
"Yang biru yang di wallpaper lama saya. Biar keluarga tau, cewek yang setahun lalu saya foto diam-diam, sekarang udah resmi jadi pacar saya."
Damar yang denger itu langsung berdiri.
"APA?! JADI FOTO WALLPAPER ITU?! OM FOTO NAYLA DIAM-DIAM SETAHUN LALU?!"
Arkana sama Nayla kompak noleh ke Damar.
"Oh, itu udah beres," kata Nayla santai sambil gigit roti bakar lagi.
"Iya, udah beres. Sekarang wallpapernya udah berdua," tambah Arkana.
Damar megang kepala.
"Gue... gue pusing... gue pulang dulu ya Om... martabaknya buat kalian aja... gue mau cerita ke Mama..."
Damar jalan ke pintu, keluar, masuk lift, masih megang kepala.
Di dalam 1908, Nayla ngakak ngeliat Damar pusing.
"Kak, Damar shock!"
"Biarin. Nanti juga terbiasa manggil kamu Tante."
"TANTE?!"
"Iya, kan kamu pacar Om-nya."
"KAK ARKANA!"
Arkana ketawa, narik Nayla yang mau mukul pakai bantal.
Di meja, martabak dari mantan masih anget, roti bakar dari pacar masih setengah, laptop wallpapernya udah berdua, dan pintu 1907 sama 1908 kebuka lebar — udah nggak ada lagi yang namanya salah kamar.
Karena yang salah kamar dulu, sekarang udah jadi penghuni tetap di sebelah
EPILOG 2 - DI RUMAH DAMAR
Rumah keluarga Wijaya, jam 9 malam.
Kamar Damar berantakan. Lampu dimatiin, cuma lampu meja nyala.
Damar duduk di pinggir kasur, ngoceh sendiri sambil ngisep rokoknya kenceng — kesel, bukan gaya-gayaan. Asbak udah penuh.
"Gila... Om gue malah embat mantan gue yang mau gue ajak balikan! Gila sumpah gila!"
Ditarik lagi rokoknya, batuk.
"Padahal gue udah siapin kata-kata buat balikan... udah bawa roti bakar kesukaannya... eh malah..."
Pintu kamar diketok.
TOK TOK
"Damar, buka."
Suara Papanya Damar — Kakaknya Arkana.
Damar buru-buru matiin rokoknya, buang ke asbak, semprot parfum.
"Masuk, Pah..."
Papanya masuk, duduk di kursi depan kasur. Liat asbak penuh.
"Ngapain ngerokok di kamar?"
"Enggak, Pah... stres..."
"Stres kenapa? Gara-gara Om Arka sama Nayla?"
Damar diem, angguk.
Papanya mendesah.
"Damar, Papa mau jujur. Kamu tau nggak kenapa Om Arka kamu itu dari dulu nggak pernah pacaran lama?"
Damar ngelirik. "Kenapa?"
"Karena dia milih-milih. Cewek yang deketin dia banyak, tapi dia nggak pernah mau kalau dia nggak bener-bener suka. Sekali suka, dia serius. Kayak Papa dulu sama Mama kamu."
Damar masih diem.
"Nayla itu, Papa juga liat waktu kamu kenalin setahun lalu. Anaknya sopan, pendiem, grogi ketemu keluarga besar. Om Arka kamu dari ujung meja aja ngeliatin dia terus. Papa kirain dia cuma kasihan, ternyata..."
"Ternyata dia suka dari dulu, Pah?" potong Damar.
Papanya angguk.
"Dan kamu? Kamu pacaran sama Nayla 2 tahun, tapi tiap berantem kamu gedor pintu kosnya malem-malem. Kamu bilang mau balikan tapi caranya nakut-nakutin dia. Beda sama Om Arka."
Damar nunduk.
"Om Arka waktu liat Nayla kehujanan di halte, dia lari bawa payung gede, basah-basahan biar Nayla nggak basah. Pas Om Arka demam gara-gara itu, Nayla yang jagain semaleman pakai bubur sama kompres. Kamu pernah gitu, Mar?"
Damar geleng. Malu.
"Enggak pernah, Pah..."
Papanya berdiri, tepuk bahu Damar.
"Jadi kalau kamu bilang 'Om gue embat mantan gue', salah. Om gue nggak ngembat. Om gue ngejaga apa yang kamu sia-siain. Dan sekarang dia jaga beneran."
Damar masih nunduk, matanya merah, bukan karena rokok.
"Terus gue harus gimana, Pah?"
"Gimana apanya? Udah, relain. Doain aja Om sama Nayla langgeng. Besok kamu ikut makan malam keluarga, kamu salaman sama Nayla sebagai Tante kamu, bukan sebagai mantan kamu. Bisa?"
Damar kaget.
"Tante?!"
"Iya, Tante. Kan dia pacar Om kamu. Masa manggil Nayla terus."
Damar ketawa pahit, pertama kalinya malam itu.
"Anjir... gue punya Tante seumuran gue..."
"Seumuran nggak papa, yang penting Om kamu bahagia. Kamu juga cari yang baru, yang bener, jangan yang kamu gedor pintunya malem-malem."
Papanya keluar kamar.
Damar sendirian lagi. Asbaknya dia tutup, rokoknya nggak dia nyalain lagi. Dia buka HP, buka chat grup keluarga.
Dia ketik:
Damar: Ma, Pah, Om, Tante Nayla... besok gue ikut makan malam. Gue bawa martabak lagi.
Di apartemen lantai 19, 1907 dan 1908, Nayla lagi coba dress biru yang di wallpaper lama — yang setahun lalu dipake pas dikenalin ke keluarga Damar. Arkana duduk di sofa, liat Nayla muter-muter di depan kaca.
"Cocok," kata Arkana.
"Yang dulu juga bilang cocok," jawab Nayla, poninya nyempong.
"Iya, dari dulu cocok. Cuma dulu nggak berani bilang."
Nayla muter lagi, terus duduk di pangkuan Arkana — udah nggak grogi lagi kayak dulu di restoran.
"Kak, kalau besok aku dipanggil Tante sama Damar gimana?"
"Ya jawab, 'Iya, keponakan'."
Nayla ngakak.
Di rumahnya, Damar rebahan, ngeliat langit-langit kamar, masih nggak percaya mantan yang mau dia ajak balikan, sekarang bakal jadi Tante-nya sendiri.
ENDING - NIKAH BENERAN
2 tahun kemudian.
Gedung The Lavande Ballroom, lantai bawah apartemen yang dulu cuma tempat salah masuk kamar.
Dekorasinya putih semua.
Nayla berdiri di depan kaca, pakai gaun putih yang dulu dibeliin Arkana — yang pertama, yang 1 gaun 2 dress itu. Tapi sekarang udah dijahit ulang, jadi gaun nikah beneran. Bukan gaun makan malam lagi.
Rambutnya masih dijepit dua? Enggak. Hari ini di-sanggul. Tapi poninya masih nyempong, sengaja disisain.
Kalung kecil sama gelang tipis yang dulu matching, masih dipake. Dua-duanya.
Di luar pintu rias, ribut.
"Om Arka mana?!"
"Penghulunya udah dateng!"
Dan yang paling ribut...
"WOY TANTE GUE MANA?! TANTE NAYLA MANA?!"
Damar. Pakai batik, jadi panitia dadakan. Bawa HT, bawa plastik martabak — tradisi martabaknya masih kebawa dari hari minta restu dulu.
Dia masuk ke ruang rias tanpa ketok.
"Tante!"
Nayla noleh.
"Damar! Jangan manggil Tante dulu! Aku belum sah!"
"Udah sah di hati Om gue mah dari 2 tahun lalu pas wallpaper itu, Tan!"
Nayla ketawa, mukul pelan Damar pakai buket bunga.
"Jaga pintu sana, keponakan!"
"Siap, Tante!"
Damar keluar, ketemu Arkana di lorong.
Arkana pakai kemeja putih, jas hitam, rapi. Beda sama kaos hitam celana pendek yang dulu keluar bawa kardus pindah ke 1908.
"Om."
"Mar."
Damar benerin dasi Om-nya yang miring.
"Om, serius nih? Jadi beneran nikah sama mantan gue?"
Arkana natap Damar, senyum tipis — senyum yang sama kayak waktu dorong Damar pelan sampai mental di lorong lantai 19 dulu.
"Bukan mantan lo lagi, Mar. Mulai hari ini, dia Tante lo. Istri Om lo. Ibu dari anak Om nanti. Jelas?"
Damar merinding.
"Jelas, Om... merinding gue..."
"Bagus. Sekarang jagain pintu. Jangan ada yang salah masuk kamar pengantin kayak Tante lo dulu salah masuk kamar Om."
"Siap!"
---
AKAD - JAM 10 PAGI.
Penghulu: "Arkana Wijaya bin H. Wijaya, saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan Nayla Azura binti..."
Arkana genggam tangan penghulu, tangan satunya dingin. Tapi suaranya jelas, nggak grogi.
"Saya terima nikahnya Nayla Azura binti... dengan mas kawin tersebut... tunai."
Sah.
Nayla yang duduk di balik hijab, nangis. Poni nyempongnya basah air mata.
Di belakang, Damar yang jadi saksi, teriak paling kenceng.
"SAH! SAH! SAH!"
Semua ketawa.
---
RESEPSI - SIANG.
Nayla sama Arkana duduk di pelaminan, sebelahan — kayak dulu duduk di restoran bawah, sebelahan.
Bedanya, dulu nungguin makanan, sekarang nungguin tamu salaman.
Damar keliling bawa piring, jadi seksi konsumsi.
"Tante, Om, martabak lagi?"
Nayla angguk, "Mau, ponakan."
Arkana angguk juga, "Taruh sini, ponakan."
Damar naruh martabak, terus bisik ke Nayla.
"Tan, jujur aja, dulu pas gue pacaran sama lo, gue nggak pernah kepikiran lo bakal jadi Tante gue..."
Nayla bisik balik, "Aku juga nggak kepikiran bakal nikah sama Om yang wallpaper laptopnya aku..."
Mereka berdua ngakak.
Arkana yang denger, langsung rangkul Nayla.
"Udah, ponakan sana sana, Tante sama Om mau foto."
"Siap, Om Tante!"
Damar pergi, ninggalin pelaminan.
Di pelaminan, Arkana bisikin Nayla pelan, cuma Nayla yang denger.
"Nay, masih inget gaun putih ini?"
Nayla angguk.
"Dulu saya beliin karena kamu salah masuk kamar saya tutup mata teriak-teriak. Sekarang kamu pakai gaun ini beneran masuk kamar saya, nggak salah lagi."
Nayla nangis lagi, senyumnya lebar.
"Iya, Kak. Sekarang masuknya udah sah. Kamar 1907 sama 1908 udah nggak ada sekat lagi."
Arkana ngusap poni nyempong Nayla yang basah air mata.
"Selamat datang di 1908, istri saya."
"Selamat datang juga di 1907, suami saya."
Di bawah pelaminan, Damar teriak lagi pakai HT.
"PERHATIAN PERHATIAN, TANTE NAYLA DAN OM ARKA MAU FOTO WALLPAPER BARU!"
Semua tamu ketawa.
Dan di layar besar belakang pelaminan, fotonya ganti — bukan foto curian setahun lalu lagi, bukan foto restoran juga.
Foto hari ini.
Nayla pakai gaun putih, Arkana pakai jas hitam, Nayla ketawa poninya nyempong, Arkana senyum tipis — sama persis kayak foto di wallpaper laptop 1908 dulu, tapi sekarang halal, sah, dan Damar yang di belakang foto lagi angkat jempol sebagai keponakan, bukan sebagai mantan.
TAMAT - ARKA & NAYLA MENIKAH, DAMAR RESMI JADI KEPONAKAN YANG BAWA MARTABAK TERUS TIAP LEBARAN KE RUMAH TANTENYA.