CINTA TERPAUT JAUH
"Cup muahhh!"
Kenceng banget. Ciuman itu mendarat di pipi kiri Lana, di tengah ruangan meeting yang sepi jam 6 sore itu.
Lana langsung panik, ngusap pipinya yang panas.
"Pak! Nanti ada yang liat!"
Bosnya, Pak Arga, yang terkenal paling dingin satu kantor itu cuma nyengir tipis sambil ngunci pintu dari dalam. Ceklek.
"Tenang. Udah saya kunci," katanya santai, padahal detak jantung Lana udah kayak drum.
Lana, 23 tahun, staff baru divisi desain. Dan sejak bulan lalu, dia jadi satu-satunya orang yang tau kalau Pak Arga yang kalau di luar judesnya minta ampun itu, kalau berdua jadi bucinnya minta ampun.
"Pak Arga, ini masih jam kantor," bisik Lana sambil mundur, punggungnya udah mentok meja.
"Lana-nya aja yang nggak mau orang kantor tau. Bukan saya," Arga mendekat, tapi nggak nyentuh lagi. Dia berhenti satu langkah di depan Lana, tangannya masuk saku celana. "Padahal kalau boleh, saya pengen tempel foto kamu di mading kantor. Tulisannya: Maaf, dia punya saya."
Lana ngakak. Ya itu masalahnya.
Di luar, Arga itu Bos Dingin. Usia 32, kerjaannya marah-marah kalau revisi telat, nggak pernah senyum.
Di dalam ruangan terkunci ini, dia yang nempel-nempel manja.
"Pak, kalau ketauan Bu Sinta HRD gimana? Bisa di-SP aku pacaran sama atasan."
"Siapa yang pacaran?" Arga ngangkat alis.
Lana melot. "Loh?!"
"Saya lagi mendekati kamu. Belum sah. Jadi belum melanggar peraturan," jawabnya serius banget, padahal ngeselin. "Makanya, kapan jawaban buat saya?"
Itu. Lana selalu menghindar tiap Arga nanya itu.
Bukan karena nggak suka. Justru karena suka banget. Lana takut. Takut dibilang pansos, takut kariernya dianggap cuma karena deket sama bos, takut omongan orang kantor yang pedes.
Lana nunduk. "Aku... aku cuma nggak mau orang mikir aku dapet proyek bagus karena aku deket sama Bapak."
Arga akhirnya paham. Nada suaranya yang tadinya bercanda jadi pelan.
"Lana, liat saya."
Lana ngangkat muka.
"Proyek kamu bagus karena kamu yang ngerjain sampai jam 11 malam kemarin. Bukan karena saya. Saya suka kamu bukan karena kamu pinter kerja aja. Saya suka kamu karena kamu satu-satunya yang berani bilang 'desain Bapak jelek, Pak' di depan muka saya."
Lana inget kejadian itu dan langsung malu lagi.
Arga ngeluarin tangannya dari saku, nggak cium lagi, cuma ngerapihin rambut Lana yang berantakan.
"Jadi gimana? Kita mau sembunyi-sembunyi terus di ruangan terkunci, atau... kamu kasih saya kesempatan buktiin ke orang kantor kalau saya bisa profesional?"
Lana gigit bibir. Jantungnya masih kenceng.
"Janji ya, di luar ruangan ini Bapak tetep jadi Bos Dingin?"
Arga ketawa kecil. "Tergantung. Kalau kamu tetep manggil 'Pak' terus, saya bisa dingin terus."
"Terus maunya dipanggil apa?"
Arga condongin badan, bisik deket telinga Lana:
"Panggil 'sayang' pas cuma berdua aja. Boleh?"
Muka Lana langsung merah tomat lagi.
Lanjutannya — Pulang Kantor Jam 7
Hujan rintik.
Lana sengaja jalannya cepet banget ke halte. Tas ranselnya di peluk. Dia tau persis mobil hitam Pak Arga masih parkir di basement.
Dia mau ngindar. Habis kejadian di ruangan tadi, mukanya masih panas.
Baru 3 langkah dari lobi, lampu mobil nyala. Tut!
Mobil Arga pelan-pelan ngikutin dia dari samping.
Kaca mobil turun.
"Lana."
Lana pura-pura nggak denger, jalan makin cepet.
Mobilnya tetep ngikutin. Akhirnya Arga minggir, turun, nggak peduli hujan.
"Lana, Sayang."
Dalam satu gerakan halus tapi kenceng, dia nahan ujung tas Lana — nggak narik kasar, cuma nahan biar Lana berhenti.
"Kamu mau ngindarin saya?" suaranya pelan, tapi keliatan banget kangennya. "Padahal saya kangen terus dari tadi."
Lana ngos-ngosan. "Pak, ini depan kantor! Nanti satpam liat!"
"Biarin. Sekalian biar mereka tau siapa yang saya tungguin tiap sore," Arga buka pintu penumpang depan. "Masuk. Saya anter. Halte masih jauh, udah mau deres hujannya."
Lana akhirnya nyerah. Bukan karena ditarik, tapi karena hujan udah makin kenceng dan dia emang capek.
Di dalam mobil anget, wangi mobil Arga yang khas itu langsung nyergap.
Arga nggak langsung jalan. Dia matiin mesin bentar, noleh ke Lana.
"Dari tadi kamu diem terus abis saya bilang kangen."
Lana mainin tali tasnya. "Aku bingung jawabnya gimana, Pak."
"Arga aja. Kalau di mobil cuma kita berdua, jangan panggil Pak."
"Arga..."
Baru kepanggil namanya sekali, Arga langsung condong. Tangannya nahan sandaran kursi Lana, ngasih jarak biar Lana bisa mundur kalau nggak nyaman.
"Boleh?"
Lana yang jawab dengan ngangguk pelan.
Baru deh — ciuman kedua hari itu. Beda sama yang di kantor yang kenceng dan buru-buru.
Yang ini lama, pelan, dalam. Tangan Arga cuma di pipi Lana, nggak kemana-mana. Lana yang awalnya kaku, pelan-pelan balas.
Sampai akhirnya Lana yang mukul pelan dada Arga karena kehabisan napas.
"Hhh... Pak! Arga!"
Arga ketawa, napasnya juga berantakan, dahinya ditempelin ke dahi Lana.
"Kangennya udah agak mendingan sekarang," bisiknya iseng.
Lana melotot manja sambil ngusap bibirnya. "Itu namanya nganterin atau ngecas kangen?"
"Keduanya," Arga nyalain mobil lagi, senyumnya nggak hilang-hilang. "Sekarang, Sayang mau dianter kemana? Ke rumah atau... kita mampir makan dulu? Biar nggak ada yang bilang bosnya nggak kasih makan karyawannya."
Lana akhirnya ketawa juga.
"Ke rumah aja. Tapi janji nggak ada ciuman ketiga di depan gang rumahku. Tetangga aku kepo, Pak!"
"Arga."
"Ya, Arga! Janji?"
Arga pura-pura mikir. "Saya usahakan."
Mobil hitam itu pun jalan pelan nembus hujan, ninggalin kantor yang udah sepi.
PART 3 - KEGREBEK MAGHRIB
Mobil hitam Arga baru aja belok masuk gang rumah Lana.
"Udah sini aja, Kak! Sini aja berhentinya!" Lana panik. "Jangan sampai depan rumah banget!"
Arga nurut, tapi senyumnya ngeledek. "Kenapa? Takut ketahuan warga?"
"Takut ketahuan Ibu!"
Belum selesai ngomong, dari pagar rumah yang catnya ijo mint itu, udah ada yang teriak.
"Lana! LANA! Itu kamu ya?"
Lana merem. Mati aku.
Ibunya Lana, Bu Lastri, pakai mukena setengah jadi, berdiri di teras sambil bawa sajadah.
Adzan maghrib barusan selesai dari mushola sebelah.
Arga yang tadinya bos dingin yang paling ditakutin sekantor, langsung gugup. Dasi yang udah kendor buru-buru dibenerin.
Bu Lastri jalan cepet nyamperin mobil. Lana buru-buru turun.
"Ibu! Ini... ini..."
"Ini siapa, Nak? Temen kantor?" Bu Lastri senyum ramah, ngeliatin Arga dari atas sampai bawah.
Arga langsung keluar mobil, nunduk sopan banget. Beda 180 derajat sama yang di kantor.
"Saya Arga, Bu. Atasan Lana di kantor. Tadi sekalian searah, jadi saya antar."
"Oh atasan toh! Ya Allah, makasih ya, Nak Arga. Mampir dulu, Nak. Pas maghrib. Sholat dulu di dalam."
Lana ngasih kode mata ke Arga: jangan!
Arga nangkepnya: harus.
"Nggak usah repot, Bu, saya—"
"Udah masuk aja. Laki-laki kalau pas maghrib jangan di jalan. Nggak barokah. Ayo, Nak!"
Nggak bisa nolak. Arga dituntun masuk ke rumah kecil yang rapi dan wangi itu.
Di ruang tamu, sajadah udah digelar dua.
"Lana, ambil mukena! Nak Arga jadi imam ya, sekalian. Ibu di belakang."
JEDER.
Lana hampir keselek ludah. Arga juga diem.
"Bu? Jadi imam?" Lana berbisik.
"Loh iya. Kan ada laki-laki. Masa ibu yang jadi imam. Ayo, Nak Arga, ibu percaya kamu bisa."
Ini ujian paling berat buat Bos Dingin.
Arga natap Lana, Lana natap Arga.
Akhirnya Arga ambil wudhu di kamar mandi belakang. Lana sama ibunya udah siap di belakangnya.
Suasana hening. Lampu ruang tamu agak redup.
Arga berdiri di depan, pakai kemeja putih yang tadi pagi dipake meeting sama klien penting. Suaranya yang biasanya dingin buat marahin karyawan, sekarang pelan dan getar.
"Allahu Akbar..."
Bacaan maghribnya pelan, tartil, merdu. Nggak nyangka.
Lana di belakang, di atas sajadah, hampir nangis. Bukan karena bacaannya, tapi karena ngeliat punggung lebar Arga yang jadi imam di rumahnya sendiri.
Selesai 3 rakaat. Salam.
"Assalamualaikum warahmatullah..."
Bu Lastri selesai doa duluan, senyumnya lebar banget.
"Alhamdulillah, adem dengernya. Nak Arga rajin ngaji ya?"
Arga yang mukanya merah karena grogi cuma bisa garuk kepala. "Belajar, Bu."
Bu Lastri terus berbisik ke Lana, tapi sengaja agak kenceng biar Arga denger, "Atasan kamu ganteng, sopan, bisa ngimamin. Ibu sih setuju aja, Lan."
"IBUUU!"
Lana mau masuk ke bumi rasanya. Arga di depan malah batuk nahan ketawa.
Pas Bu Lastri ke dapur bikin teh, tinggal mereka berdua di ruang tamu.
Arga langsung bisik cepet ke Lana, "Gimana? Lulus jadi calon menantu?"
"Pak! Arga! Malu tau!" Lana mukul lengannya pelan.
Arga ketawa kecil, terus ngelirik ke dapur. Mastiin ibu nggak liat, dia cepet-cepet kecup lagi ujung jilbab Lana.
"Syhh... itu bonus karena udah berhasil jadi imam dadakan."
Lana melotot, tapi senyumnya nggak bisa bohong. Deg-degannya beda. Kalau tadi di kantor deg-degan karena takut ketahuan, sekarang deg-degan karena... kayaknya Ibunya beneran setuju.
PART 4 - UJIAN MAKAN MALAM
"Bu, Lana bersih-bersih dulu ya, habis kehujanan," pamit Lana buru-buru ke kamar.
"Iya, Nak. Ibu siapin makan. Nak Arga tunggu sini ya, jangan pulang dulu."
Tinggal Arga di ruang tamu sama Bu Lastri yang sibuk di dapur.
Biar nggak canggung, Arga buka laptop. Kebiasaan Bos Dingin — gabut dikit, cek stok, cek email.
Stok gudang Cikarang... laporan desain Lana...
Tapi pikirannya kemana-mana.
5 menit kemudian.
Pintu kamar Lana kebuka.
Lana keluar. Rambutnya masih agak basah, mukanya fresh abis cuci muka, nggak pakai make up kantor lagi.
Dan dia pakai piyama pendek selutut buat di rumah. Beda banget sama Lana yang tadi pakai blazer rapi di kantor.
Arga yang lagi liat laptop langsung ngangkat kepala dan... nge-freeze.
Lana yang tadinya santai langsung sadar. "Eh!"
Dia langsung grogi, narik-narik bawah piyamanya. "Maaf! Maaf! Aku lupa bawa baju panjang ke kamar mandi! Tadi buru-buru!"
Arga langsung — dengan sekuat tenaga jadi Gentleman — buang muka ke laptop lagi. Dehem keras.
"Eh... nggak... nggak apa-apa," katanya, suaranya agak serak. Dia nelan ludah, tapi bukan karena yang aneh-aneh, lebih karena kaget dan nahan sopan.
Bos Dingin yang biasa ngomong lancar pas meeting, sekarang malah salah tingkah liat keyboard.
Bu Lastri datang bawa piring dari dapur. "Ayo, makan! Lana, kamu kok pakai itu? Dingin loh, Nak. Sana ambil selimut!"
"I-iya Bu, ini mau makan dulu," Lana cepet-cepet duduk di meja makan, mejanya kecil jadi lutut mereka hampir aduh.
Makanannya sederhana — ayam goreng, sayur sop, tempe, sambal.
Makan malam paling canggung sedunia.
Bu Lastri makan sambil senyum-senyum. "Nak Arga kerja di mana aslinya? Orang tua di mana?"
Arga jawab sopan, sesekali lirik Lana yang nunduk terus makan nasinya diaduk-aduk.
"Nak Arga udah punya pacar?"
"Bu!" Lana keselek.
Arga hampir keselek juga. Dia ngelirik Lana yang mukanya udah merah kayak sambal.
"Belum, Bu. Lagi... lagi berusaha meyakinkan seseorang," jawab Arga jujur, matanya nggak lepas dari Lana.
Bu Lastri pura-pura nggak paham. "Oh, ya harus berusaha keras. Perempuan itu sukanya yang jelas, nggak cuma pinter kerja."
Lana di bawah meja, kakinya nendang pelan kaki Arga. Jangan aneh-aneh, Pak!
Arga malah di bawah meja, balas nahan kaki Lana pakai kakinya, biar nggak jatuh saking groginya.
Di atas meja mereka jaim-jaiman ditanya calon mertua.
Di bawah meja, perang kaki yang nggak ada yang mau ngalah.
Lana akhirnya nyerah, bisik pelan banget cuma buat Arga denger, "Pak Arga, kalau Ibu tau Bapak di kantor galak, Ibu pasti nggak setuju."
Arga bisik balik, sama pelannya, "Makanya, bantuin Bapak biar di rumah nggak galak terus. Mau?"
Lana nggak jawab. Tapi senyumnya... senyumnya udah jawab semuanya.
PART 5 - PAMITAN DI PAGAR
Makan malam selesai. Piring bersih, tapi teh Bu Lastri masih anget.
"Nak Arga, makasih banyak ya udah diimamin, udah mau makan seadanya," Bu Lastri berdiri, beresin piring. "Ibu ke belakang dulu cuci piring. Lana, anterin Nak Arga sampai depan ya."
Dapet lampu hijau.
Tinggal mereka berdua di teras depan. Lampu teras kuning temaram. Suara jangkrik dari gang sebelah.
Arga udah rapi lagi, laptop masuk tas, kemejanya dimasukin lagi. Balik jadi Bos Rapi.
Lana nganterin sampai pagar ijo mint itu. Masih pakai piyama selututnya, tapi sekarang pakai cardigan pinjaman ibunya biar nggak dingin.
Canggung. Angin malam lewat.
"Lana," Arga buka suara dulu. Tangannya masuk saku, nahan diri biar nggak asal nyentuh. "Sering-sering aja ya kayak gini."
Lana ngangkat alis. "Kayak gimana?"
"Kayak ini. Saya nganterin, terus disuruh sholat, terus makan. Walaupun tadi saya hampir jantungan disuruh jadi imam."
Lana ketawa kecil. "Bapak grogi ya tadi? Padahal biasanya kalau di kantor ngomongnya lantang."
"Beda. Kalau di kantor yang dengerin staf. Kalau di sini yang dengerin calon..."
Arga nggak lanjutin. Digantung.
"Calon apa?" Lana mancing.
Arga ngedeket selangkah. Jaraknya tinggal setengah meter. Pagar jadi saksi.
"Calon ibu mertua," bisiknya pelan, cuma buat Lana denger.
Lana langsung mukul pelan lengan Arga. "Pak!"
Arga ketawa, tapi terus suaranya jadi lebih pelan lagi, lebih personal.
"Oya btw," katanya, nunduk dikit biar sejajar sama Lana. "Rambut kamu wangi banget. Bikin kangen."
Lana otomatis megang rambutnya yang masih agak basah itu. "Tadi kan habis keramas..."
"Iya. Wanginya masih kecium sampai sekarang. Dari pas di mobil tadi."
Hening lagi. Lana bisa denger detak jantungnya sendiri.
Arga nggak minta cium, nggak minta peluk. Dia cuma berdiri di situ, natap Lana lama.
"Besok di kantor, balik jadi Bos Dingin lagi ya, Pak?" tanya Lana tiba-tiba.
"Tergantung," Arga senyum miring khasnya. "Kalau staff saya yang satu ini nggak mancing-mancing pakai rambut wangi lagi, saya bisa dingin."
"Siapa yang mancing!"
"Kamu."
Lana manyun. Arga gemes liatnya.
Akhirnya, sebelum benar-benar pamit, Arga cuma berani nyentuh ujung cardigan Lana, ngerapihin yang agak miring.
"Udah, masuk. Dingin. Sampai rumah saya kabarin."
"Pak Arga hati-hati di jalan."
"Arga."
"Arga... hati-hati di jalan."
Baru dipanggil tanpa 'Pak', senyum Arga langsung beda. Puas.
Dia jalan ke mobilnya, buka pintu, tapi sebelum masuk dia balik badan lagi.
"Lana!"
"Hmm?"
"Besok jangan pakai piyama itu ke kantor ya. Saya bisa nggak fokus rapat."
"ARGA!"
Mobil hitam itu pun pergi pelan-pelan dari gang, ninggalin Lana di pagar yang mukanya merah, antara malu sama seneng, sambil megangin rambutnya yang katanya wangi itu.
Dari dalam rumah, suara Bu Lastri teriak, "Lana! Ngapain bengong di luar! Masuk! Dingin!"
Lana lari kecil masuk rumah, senyumnya nggak ilang-ilang sampai tidur.
PART 6 - BESOK PAGINYA: MODE BOS DINGIN ON
Jam 08.00 WIB. Kantor.
Semua balik normal. AC dingin, printer berisik, Bu Sinta HRD udah ngomel-ngomel soal absen telat.
Lana datang pakai blazer krem rapi, rambut diikat kuda, lipstik tipis. Beda 180 derajat sama Lana piyama selutut semalam.
Meja Lana di luar, persis depan ruangan kaca Bos Dingin.
Jam 08.15.
Notifikasi Slack masuk.
Pak Arga: Lana, file revisi kemarin tolong kirim ke email saya. Sekarang.
Lana: Siap, Pak.
Nggak ada emoji. Nggak ada "Sayang". Dingin.
Lana ngirim file, terus ngintip dari sela monitor. Di dalam ruangan kaca, Arga lagi serius telponan sama klien, muka datar, dasi rapi.
Jah, beneran mode Bos Dingin lagi, batin Lana.
Jam 10.00 — Meeting mingguan.
Semua staff duduk melingkar. Lana presentasi desainnya.
Arga duduk di ujung meja, pulpen diputer-puter.
"Desain ini warnanya terlalu rame, Lana. Revisi. Kurang tegas," katanya dingin, di depan semua orang.
Staff lain langsung diem. Tatapannya kasian ke Lana.
Lana nunduk, "Baik, Pak. Nanti saya revisi."
Padahal semalam, di bawah meja makan, kaki mereka adu kaki.
Meeting selesai. Semua keluar.
Lana paling terakhir, pura-pura beresin laptop lama.
Pintu ruangan ketutup.
Ceklek. Dikunci lagi.
Detik itu juga mode-nya ganti.
Bos Dingin yang tadi nyender, langsung berdiri, jalan ke arah Lana.
"Rame ya warnanya?" bisik Arga, beda banget nadanya sama yang di meeting tadi. Senyumnya ngeledek.
Lana manyun, "Bapak sih! Malu tau dimarahin depan orang!"
"Kan saya udah janji. Di luar ruangan ini saya harus dingin. Biar nggak ada yang curiga," Arga nyender ke meja, deket banget. "Tapi di dalam... boleh dong saya minta kompensasi karena udah acting dingin?"
"Kompensasi apa?"
Arga ngelirik pintu yang udah kekunci, terus ngelirik rambut Lana yang hari ini diikat.
"Rambutnya nggak wangi kayak semalam. Diikat lagi."
Lana kaget, langsung megang kuncirnya. "Kan di kantor nggak boleh gerai, Pak! Peraturan Bapak sendiri!"
"Iya, makanya saya komplain sebagai... sebagai penggemar pribadi."
Lana ngakak, akhirnya nggak manyun lagi.
Arga ngeluarin satu kotak kecil dari laci mejanya, disodorin ke Lana.
"Apaan?"
"Buka."
Isinya jepit rambut kecil warna krem, mahal keliatannya.
"Tadi pagi lewat toko pas berangkat. Keinget rambut kamu yang wangi itu. Kirain kamu bakal gerai lagi hari ini."
Lana bengong. Bos dingin yang kalau minta revisi nggak pakai hati itu, pagi-pagi mampir toko aksesoris.
"Pak... Arga..."
"Pake ya nanti kalau pas berdua aja. Jangan di kantor. Nanti saya beneran nggak bisa dingin."
Di luar, ada yang ngetok pintu.
"Pak Arga! Meeting sama vendor jam 10.30!"
Mode Bos Dingin langsung ON lagi dalam 1 detik.
Arga balik ke kursinya, dehem.
Lana cepet-cepet masukin kotak itu ke saku blazernya.
Arga buka kunci pintu, dengan suara lantang, "Masuk!"
Staf vendor masuk. Lana keluar dengan muka profesional, seolah-olah barusan cuma dimarahin soal warna desain.
Padahal di sakunya, ada jepit rambut, dan di hatinya, ada yang deg-degan nggak karuan.
Begitulah cinta terpaut jauh — eh, cinta terpaut dekat tapi harus jaim.
Jarak meja mereka cuma 3 meter. Tapi pas jam kantor, rasanya jauh banget.
PART 7 - KEJAR-KEJARAN DI PARKIRAN
Jam 17.29.
Lana udah mode siap kabur. Laptop mati, botol minum masuk tas, blazer dilipet.
Di Slack, chat baru masuk lagi.
Arga: Tunggu di lobi. Saya anter.
Lana liat, terus langsung ngetik:
Lana: Nggak usah, Pak! Hari ini aku pulang sendiri aja ya.
Arga: Kenapa?
Lana: Tadi Bu Sinta HRD liatin aku terus abis meeting. Kayaknya curiga. Aku takut.
Lana nggak nunggu dibales. Langsung ngacir. Naik lift duluan, jalan cepet-cepet ke halte biar nggak papasan.
Tapi...
Bos Dingin itu kalau udah gemes, nggak bisa dibilangin.
Arga dari ruangan kaca liat Lana setengah lari. Langsung ambil kunci mobil, tas, jalan cepet juga. Nggak lari, tapi langkahnya panjang-panjang.
Satpam di lobi sampe bingung, "Pak Arga mau kemana buru-buru?"
Di parkiran belakang yang agak sepi, Lana lagi jalan nunduk sambil dengerin lagu biar nggak dengerin apa-apa.
Tiba-tiba dari belakang:
"Lana."
Lana kaget, hampir jatoh headsetnya.
Arga udah di belakangnya, napasnya agak ngos-ngosan. Nggak nyentuh sama sekali, jaga jarak satu meter.
"Kamu ngindarin saya lagi?"
Lana balik badan, manyun. "Bukan ngindarin! Aku cuma... nggak mau ketahuan, Pak! Tadi Bu Sinta nanya 'Lana deket ya sama Pak Arga?' Aku bingung jawabnya!"
Arga diem, ngertiin.
Terus dia senyum, bukan senyum bos, senyum Arga yang semalam jadi imam di rumahnya.
"Ya udah. Kalau kamu nggak mau dianter, nggak apa-apa. Saya nggak maksa," katanya pelan. Tangannya tetep di saku, nggak narik-narik. "Saya cuma gemes aja. Tadi di kantor harus marah-marahin kamu, padahal pengennya bilang desain kamu bagus."
Lana yang tadinya tegang, langsung luluh.
"Gemesnya gimana?"
"Gemesnya kayak pengen bilang... ya udah kalau nggak mau dianter mobil, jalan kaki bareng sampai halte aja boleh nggak? Nggak naik mobil. Jalan aja. Kayak orang biasa."
Lana ngeliat ke arah lobi, mastiin Bu Sinta udah pulang. Sepi.
"Jalan aja? Nggak pakai mobil?"
"Iya. Saya parkir lagi mobilnya. Kita jalan."
Dan beneran.
Mobil hitam mahal itu ditinggal di parkiran.
Bos dan staff-nya itu jalan berdua di trotoar Jakarta jam setengah 6 sore, rame, berisik, nggak ada yang peduli.
Nggak gandengan, nggak pelukan. Jaraknya masih sopan, setengah meter.
Tapi ngobrolnya...
"Jepitnya mana? Dipakai nggak?" tanya Arga.
Lana ngeluarin dari saku, "Nggak berani pakai di kantor. Nanti dikira Bapak kasih hadiah biar nggak dimarahin."
"Ya emang."
"Pak!"
"Arga."
"Arga!"
Sampai di halte, bis Lana dateng.
Lana naik satu kaki, terus balik lagi.
"Pak Arga, makasih ya udah nggak maksa."
Arga ngangguk. "Saya nggak akan pernah maksa kamu, Lan. Kalau kamu bilang nggak mau, ya nggak mau. Saya tungguin sampai kamu mau."
Lana senyum lebar, senyum pertama hari itu yang bener-bener lepas.
"Besok aku mau dianter lagi. Tapi jangan pakai mobil. Jalan kaki aja kayak gini ya?"
Arga ketawa, puas banget.
"Siap, Sayang. Besok saya siapin kaki yang kuat buat ngejar kamu lagi."
Pintu bis ketutup. Lana dadah-dadah dari dalam bis.
Arga berdiri di halte sampai bisnya hilang di tikungan, baru balik ke parkiran lagi buat ambil mobilnya.
Cinta terpaut jauh? Enggak. Sekarang jaraknya udah tinggal setengah meter di trotoar.
PART 8 - HUJAN KEDUA
Sore itu janji jalan kaki gagal total.
Baru jam 4 sore, langit udah mendung pekat. Jam 4.30, deres.
Hujan gede banget, yang kalau jalan kaki sampai halte pasti basah kuyup.
Lana masih di mejanya, ngeliatin jendela. Slack bunyi.
Arga: Masih mau jalan kaki?
Lana: *Hujannya gede banget, Pak :( *
Arga: Tunggu di lobi bawah. 5 menit. Saya bawa mobil ke depan.
Kali ini Lana nggak nolak. Nggak ada drama buru-buru.
Di lobi, semua karyawan lain juga pada nunggu hujan reda. Bu Sinta HRD juga ada.
Lana jadi grogi lagi. Tapi Arga pinter.
Mobilnya berhenti persis di depan lobi, kaca dibuka dikit.
"Bu Sinta, Lana, bareng aja sampai stasiun? Saya searah. Kasian hujannya gede," katanya dengan suara Bos Dingin yang formal banget.
Bu Sinta malah seneng, "Wah makasih Pak Arga! Tapi saya udah dijemput suami, Pak. Lana aja tuh yang kasian rumahnya jauh."
Mulus. Lana masuk mobil depan, Bu Sinta dadah-dadah.
Begitu mobil keluar dari area kantor dan hujan masih deres, mode-nya ganti lagi.
Hening di mobil, cuma suara hujan sama AC.
"Pak?" Lana manggil duluan.
"Lan?" Arga jawab, matanya tetep fokus nyetir, tapi tangannya yang satu ngeraih tangan Lana, genggam pelan. Nggak maksa, cuma nawarin. Lana balas genggam.
"Makasih ya udah pinter bohongnya tadi."
"Bukan bohong. Emang searah. Searah sama hati kamu," godanya.
Lana ngakak, "Gombal!"
Di lampu merah yang lama karena hujan, mobil berhenti.
Arga noleh. Lana juga noleh.
"Lan, boleh?"
Lana tau maksudnya. Dia ngangguk pelan.
Ciuman lagi. Yang di mobil pas hujan itu beda. Nggak buru-buru, nggak kenceng kayak yang pertama di ruangan. Pelan, anget, lama karena lampu merahnya juga lama.
Tangan Arga cuma di pipi Lana, ngerapihin rambutnya yang kena air hujan tadi.
Sampai klakson mobil belakang bunyi tin tin! Lampu udah ijo.
Mereka berdua kaget, ketawa bareng.
"Pak! Jalan!"
"Arga!"
"Iya, Arga! Jalan!"
---
20 menit kemudian, sampai di gang rumah Lana lagi. Untuk kedua kalinya.
Kebetulan pas adzan maghrib lagi. Kayak deja vu.
Bu Lastri udah di teras lagi, kali ini bawa payung.
"Loh, Nak Arga lagi! Pas banget! Maghrib lagi! Ayo masuk dulu!"
Lana sama Arga saling tatap. Ya udah, takdir.
Masuk lagi. Wudhu lagi. Sajadah digelar lagi.
Tapi kali ini beda.
Waktu Arga jadi imam, bacaan suratnya lebih panjang, lebih tenang. Lana di belakang, dengerinnya sampai meremang.
Selesai sholat, Bu Lastri doa agak lama. Abis itu Bu Lastri masuk ke dalam, ninggalin teh anget di meja.
"Bu ke dalam dulu ya, siapin gorengan. Kalian ngobrol aja di sini."
Lagi-lagi ditinggal berdua di ruang tamu.
Lana masih pakai mukena, Arga masih pakai sajadah.
"Pak... makasih ya udah mau jadi imam lagi," bisik Lana.
Arga duduk di lantai, sejajar sama Lana, tapi jaga jarak sopan karena masih pakai mukena.
"Lan," Arga ngomong pelan, serius. "Enak ya kayak gini."
"Kayak gimana?"
"Kayak... pulang. Hujan-hujan, nganter kamu, terus sholat di sini. Nggak kayak bos dan staff. Kayak... ya kayak pulang ke rumah."
Lana hatinya berdegup kenceng banget di dalam mukena.
"Arga... kalau terus kayak gini, aku bisa beneran jatuh cinta loh."
Arga senyum, senyum paling tulus minggu ini.
"Loh, kirain belum?"
Lana mukul pelan bahu Arga pakai ujung mukenanya.
Dari dapur, Bu Lastri teriak, "Gorengannya udah jadi! Nak Arga jangan pulang dulu!"
Mereka berdua ketawa bareng, pelan, biar nggak kedengeran sampai dapur.
Malam itu hujan masih deres di luar, tapi di dalam rumah kecil itu anget banget.
PART 9 - GORENGAN DAN OMONGAN SERIUS
Gorengan Bu Lastri itu juara.
Tempe anget, bakwan jagung, plus sambel kecap. Di luar hujan masih deres, jadi paling enak emang ngobrol sambil ngemil di ruang tamu.
Arga duduknya udah nggak kaku lagi. Lana udah ganti mukena, pakai baju rumah yang lebih sopan — kaos panjang sama celana panjang, abis diomelin Ibu gara-gara kemarin pakai piyama pendek.
"Tambah lagi, Nak Arga," Bu Lastri nyodorin piring.
"Udah kenyang banget, Bu. Enak banget gorengannya," Arga tulus.
Lana cuma ngeliatin, senyum-senyum. Jarang-jarang liat Bos Dingin makannya lahap kayak gitu.
Piring udah mau habis, teh udah setengah. Hujan di luar udah reda jadi rintik.
Bu Lastri ngelap tangan pakai serbet, terus natap Arga agak lama. Tatapan ibu-ibu yang... menilai.
Lana langsung tegang. Aduh, mode interogasi Ibu on.
"Nak Arga," Bu Lastri mulai. "Ibu boleh nanya sesuatu yang agak pribadi nggak?"
Arga langsung duduk lebih tegak. "Boleh banget, Bu. Silakan."
"Maaf ya kalau Ibu lancang. Ibu liat, Nak Arga ini atasan Lana. Tapi kok... perhatian banget sama Lana. Nggak cuma nganterin. Tadi Ibu liat dari dapur, cara kamu liat Lana itu beda."
Lana hampir keselek bakwan. "Ibu!"
Arga kaget, tapi nggak menghindar. Dia malah ngeliat Lana sebentar, kayak minta izin.
Lana ngangguk pelan. Mukanya merah, tapi ngangguk.
Arga narik napas panjang.
"Bu... sebenarnya saya udah lama suka sama Lana," katanya jujur, suaranya pelan tapi jelas. Nggak ada gombal. "Di kantor saya memang bosnya. Saya tau itu nggak ideal. Makanya saya nggak pernah maksa Lana, nggak pernah pakai jabatan saya buat apa-apa."
Dia lanjut, tangannya di atas lutut, agak gemeter — pertama kalinya Bos Dingin gemeter bukan karena meeting.
"Semalam dan hari ini, saya kesini bukan karena saya atasan yang nganterin staff. Saya kesini karena saya... saya pengen kenal Ibu. Pengen Ibu tau kalau saya serius. Saya tau Lana takut orang kantor ngomongin dia. Saya janji sama Ibu, saya akan jaga nama baik Lana di kantor. Profesional tetap profesional."
"Dan di luar kantor?"
"Di luar kantor... kalau Ibu sama Lana izinin, saya pengen jadi orang yang boleh nganterin Lana pulang terus. Nggak cuma pas hujan."
Hening.
Cuma suara rintik hujan di genteng.
Bu Lastri diem lama. Terus senyum. Senyum lega.
"Ibu itu dari kemarin udah tau, Nak," katanya pelan.
Lana sama Arga bengong bareng. "Hah?"
"Lana itu kalau cerita soal kantor, nyebutnya 'Pak Arga galak, Pak Arga dingin, Pak Arga begini begitu'. Tapi matanya berbinar-binar. Ibu kan ibunya. Tau lah kalau anaknya lagi suka sama orang."
Lana mau nangis malu, nutup muka pakai bantal kursi.
Bu Lastri ketawa, terus nepuk tangan Arga.
"Kalau kamu serius, Ibu nggak akan ngalangin. Lana udah 23, udah bisa milih. Tapi satu pesan Ibu..."
"Iya, Bu?"
"Jangan bikin Lana nangis karena kerjaan. Kalau di kantor kamu marah, marahnya sebagai bos aja, jangan bawa-bawa perasaan. Kalau di luar kantor, sayangin dia yang bener. Bisa?"
Arga langsung angguk, matanya agak berkaca-kaca. "Bisa, Bu. Saya janji."
Lana yang dari tadi nutup muka pakai bantal, ngintip dikit.
Arga ngeliat Lana, terus ngomong lagi, kali ini ke Lana.
"Lan, denger kan? Ibu udah kasih lampu hijau. Jadi... besok di kantor, boleh nggak saya nggak usah jadi Bos Dingin terus?"
Lana ketawa sambil masih malu, "Nggak boleh! Tetep harus dingin! Kalau nggak, Bu Sinta beneran curiga!"
Bu Lastri ikut ketawa, "Ya udah, sana anterin... eh, temenin Lana di teras dulu. Hujannya udah reda. Ibu beresin piring."
Dan untuk pertama kalinya, mereka berdua duduk di teras malam-malam abis hujan, nggak sembunyi-sembunyi, nggak takut ketahuan.
Karena di rumah itu, mereka udah nggak perlu sembunyi lagi.
PART 10 - BOS MANJA
Habis kejadian hujan dan lampu hijau dari Bu Lastri, ada yang berubah.
Bukan di depan orang kantor. Di depan orang kantor, Pak Arga tetep Bos Dingin Level 1000.
Tapi kalau udah di ruangan kaca yang terkunci itu...
Manja-nya kumat.
Jam 08.45 pagi. 15 menit sebelum meeting sama direksi.
Tok tok tok.
Lana masuk bawa map. "Pak, ini data buat meeting nanti."
Arga yang udah pakai kemeja putih rapi, dasinya masih dipegang, belum kepasang.
"Lan, sini," katanya pelan.
Lana nutup pintu — udah otomatis ngunci. Di luar kaca buram, staff lain cuma liat siluet.
"Kenapa dasinya belum dipasang, Pak? Meeting 15 menit lagi loh."
Arga nyodorin dasinya ke Lana. Dasinya biru dongker.
"Nggak bisa. Tadi buru-buru. Pakein dong."
Lana bengong. "Pak Arga, ini kantor!"
"Arga aja. Kan pintunya kekunci. Cuma 30 detik. Abis itu saya balik jadi Bos Dingin lagi, janji."
Nggak bisa nolak. Lana narik napas, maju selangkah.
Tangannya agak gemeter ngelingkerin dasi itu. Arga nunduk, biar Lana gampang.
Jaraknya deket banget. Lana bisa cium parfum Arga yang seger, Arga bisa liat Lana yang serius ngaturin dasinya.
"Udah rapi belum?" tanya Lana pelan, sambil ngerapihin kerah Arga.
Arga nggak jawab. Dia malah natap Lana lama.
"Belum," bisiknya.
"Apanya yang belum?"
"Belum dibayar upah pasang dasinya."
Lana ngerti mau kemana arahnya. "Pak!"
"Arga."
"Arga! Ini mau meeting!"
"30 detik aja."
Dan ya, ujungnya pelukan.
Pelukan cepet, anget, dari Arga yang tingginya 180 ke Lana yang cuma 158. Kepala Lana pas di dada Arga.
Lana yang awalnya protes, akhirnya meluk balik sebentar.
"Udah? Udah dibayar?" bisik Lana di dada Arga.
"Belum lunas," jawab Arga iseng.
Terus ciuman lagi. Ciuman pagi yang cepet, bukan yang lama kayak di mobil pas hujan. Ciuman kening — cup! — yang bikin rambut Lana yang tadi wangi itu agak berantakan lagi.
"Pak! Rambutku!"
"Eh, Arga. Dan itu biarin, biar wangi saya kecium sampai meeting."
Lana mukul pelan dada Arga, terus buru-buru benerin dasinya yang barusan dipasang.
Tok tok!
"Pak Arga, meetingnya 5 menit lagi!"
Mode switch — ON.
Arga langsung lepas pelukan, balik ke kursi bosnya, muka datar, suara berat.
"Ya, saya kesana. Lana, tolong file-nya diprint rangkap tiga."
Lana juga langsung mode staff profesional. "Siap, Pak."
Pintu kebuka. Mereka keluar bareng, jarak 1 meter, muka sama-sama serius.
Nggak ada yang tau, 2 menit yang lalu, di ruangan terkunci itu, Bos Dingin minta dipakein dasi sama staff-nya, ujungnya pelukan sama ciuman kening.
Itu rahasia kecil mereka. Rahasia yang bikin jam kantor yang panjang itu jadi nggak berat-berat amat.
Sampai jam pulang nanti, giliran siapa yang ngejar siapa lagi?
PART 11 - DIAJAK KENALAN KELUARGA
Sabtu siang. Bukan hari kerja.
Lana udah deg-degan dari jam 6 pagi.
Alasannya: chat semalam.
Arga: Besok Sabtu free nggak?
Lana: Free, Pak. Kenapa?
Arga: Jangan panggil Pak. Besok pakai baju yang rapi ya. Yang sopan. Aku jemput jam 10.
Lana: Mau kemana?
Arga: Kenalan sama keluarga aku. Mama udah nanyain kamu terus semenjak aku cerita pulang maghrib dari rumah kamu.
Lana hampir jatoh dari kasur.
Kenalan keluarga Bos Dingin? Bos yang kalau di kantor semua orang takut itu punya keluarga kayak gimana?
Jam 10 pas, mobil hitam Arga udah di depan gang. Lana keluar pakai gamis krem simple sama kerudung coklat yang tadi pagi disetrika dua kali sama Ibu.
Bu Lastri dari teras teriak, "Nak Arga, titip Lana ya! Jangan digalakkin!"
"Siap, Bu!" Arga jawab sambil bukain pintu mobil buat Lana — gentleman total.
Di mobil, Lana tangannya dingin.
"Pak... Arga... keluargamu kayak gimana? Galak juga kayak kamu di kantor?"
Arga ketawa. "Justru kebalikannya. Mama itu... rame. Bapak juga santai. Aku aja yang dinginnya mutasi sendiri."
"Mama udah tau aku?"
"Udah. Aku cerita semua. Cerita kamu yang berani bilang desain aku jelek. Mama langsung bilang, 'Nah itu baru calon mantu pemberani!'"
"ARGA!"
---
Rumahnya Arga beda banget sama bayangan Lana. Bukan rumah mewah yang dingin. Rumahnya anget, banyak tanaman, ada suara TV nyala di dalam.
Baru masuk pagar, pintu udah kebuka.
"Argaaaa! Mana Lana-nya!" Seorang ibu usia 50-an, pakai daster batik, rambut pendek, lari kecil nyamperin.
Itu Mama Arga.
Lana langsung disalamin, dipeluk. "Ya Allah, ini toh Lana yang bikin anak Mama senyum-senyum sendiri ngeliatin HP? Cantiknya!"
Lana malu banget, ngelirik Arga yang mukanya merah.
"Mama!"
Di ruang tamu, ada Bapaknya Arga yang lagi baca koran, senyum ramah. "Oh jadi ini Lana yang bikin stok kantor beres terus itu? Pantesan Arga betah di kantor."
Keluarganya rame, nggak ada jaim-jaim. Ditanya-tanya, dikasih makan buah, dikasih teh, dikasih kue.
Lana yang awalnya takut, 15 menit kemudian udah ketawa lepas.
Sampai sesi foto keluarga.
Mama Arga ngeluarin HP. "Ayo, foto berdua! Arga, rangkul dong Lana! Masa kaku kayak patung!"
Arga yang biasanya dingin, kalau disuruh mamanya langsung nurut. Tangannya pelan-pelan ngerangkul bahu Lana.
"Gini, Mah?"
"Kurang deket! Lana-nya mepet lagi!"
Lana mepet, Arga mepet. Foto pertama canggung.
Foto kedua, Mama bilang, "Arga, senyum dong! Jangan kayak mau PHK orang!"
Semua ketawa. Arga akhirnya senyum lebar, senyum yang cuma Lana yang biasa liat di ruangan terkunci.
Klik.
Abis foto-foto, Mama Arga bisik ke Lana pas di dapur pas ambil kue.
"Lana, makasih ya."
"Untuk apa, Tante?"
"Karena Arga yang dingin itu jadi mau cerita lagi di rumah. Dari dulu dia kalau kerja, kerja terus. Semenjak ada kamu, dia pulang cerita. 'Ma, tadi Lana gini, Ma, tadi Lana gitu.' Ibu seneng liatnya."
Lana matanya berkaca-kaca. "Saya juga... seneng bisa kenal Arga, Tante."
Di ruang tamu, Arga ngintip dari pintu dapur. "Mah, jangan lama-lama bisik-bisiknya. Nanti Lana dibajak."
Mamanya jawab, "Berisik! Sana tunggu di depan!"
Pas pulang sore, di mobil lagi.
Lana masih megangin foto hasil tadi yang dikirim Mama Arga. Foto mereka berdua, rangkulan, senyumnya sama-sama anget.
"Gimana? Lulus nggak kenalan keluarga?" tanya Arga sambil nyetir.
Lana nyender ke kursi, capek tapi bahagia.
"Lulus banget. Ternyata Bos Dingin itu turunan ke mana ya? Keluargamu rame semua."
Arga ketawa, terus pelan-pelan ngeraih tangan Lana lagi di atas persneling.
"Turunan Bapak. Bapak juga dulu dingin, lulusnya pas ketemu Mama. Kayak aku... lulusnya pas ketemu kamu."
Lana diem, terus bisik, "Arga..."
"Hmm?"
"Makasih ya udah ngajakin aku kesini."
Arga ngelirik sebentar, senyum.
"Besok giliran aku main ke rumah kamu lagi ya. Kangen gorengan Bu Lastri. Sama... kangen yang bikin gorengannya ada."
Mobil hitam itu jalan pelan di sore Sabtu, nggak buru-buru pulang. Karena sekarang, Lana nggak cuma disukai bosnya — dia udah disukai satu keluarga.
PART 12 - ANAK SENDIRI
Lana pikir, kenalan keluarga itu paling 1 jam terus pulang.
Salah besar.
Begitu Lana duduk di ruang tamu rumah Arga, Mamanya Arga itu... langsung nempel.
"Lana, sini duduk deket Tante," kata Mama Arga, narik tangan Lana biar duduk mepet di sofa.
Lana belum sempat jawab, piring buah udah di depan muka.
"Makan, Nak. Anggurnya manis loh. Tante beli tadi pagi khusus buat kamu. Arga bilang kamu suka anggur."
Lana ngelirik Arga. Kapan aku bilang suka anggur?
Arga cuma nyengir, bisik, "Aku karang."
Papa Arga yang dari tadi baca koran juga nimbrung.
"Lana kerja di bagian desain ya? Pantesan. Tangan Arga itu nggak ada seni-seninya. Tuh liat pot tanaman Mama, dipindahin sama Arga jadi kayak kuburan."
"PAH!" Arga protes.
Satu rumah ketawa. Lana juga ketawa sampe perut sakit. Bos Dingin yang di kantor ditakutin satu divisi, di rumahnya jadi bahan roasting keluarganya sendiri.
15 menit.
Cuma 15 menit, Lana udah kayak anak sendiri.
Mama Arga udah cerita, "Nanti kalau ke sini lagi, baju Lana Tante setrikain ya? Tante punya gamis yang warnanya cocok sama kamu."
Papa Arga udah bilang, "Nanti kalau Arga galak di kantor, laporin ke Papa aja. Biar Papa setrap."
Lana yang awalnya kaku, sekarang udah nyender, udah disuapin kue sama Mama.
Arga ngeliatin dari sofa seberang, senyumnya nggak ilang-ilang. Seneng liat Lana cocok.
Sampai puncaknya pas Mama Arga abis beresin piring buah.
Mama duduk lagi, natap Arga sama Lana bergantian. Tatapan ibu-ibu yang udah nggak sabar.
Terus, dengan santainya, ceplos:
"Jadi kapan, Ga? Jangan lama-lama, Ibu mau cucu."
SE-RUMAH HENING.
Lana: BRUK! Anggur yang lagi dipegang jatoh ke piring.
"Bu... Bu Lastri... eh Mama!" Lana keselek, batuk. Mukanya merahnya udah bukan merah malu lagi, merah tomat.
Arga juga kaget, tapi dia... dia malah ketawa pelan. Nggak panik.
Dia ngeraih tangan Lana yang dingin di atas sofa — di depan Mama Papanya — genggam erat.
Terus jawab, santai tapi matanya serius natap Mamanya:
"Segera, Bu."
Lana langsung noleh ke Arga, mata melotot.
"SEGERA?!" bisik Lana kenceng, cuma buat Arga denger. "Arga! Kita baru... baru kenalan keluarga hari ini!"
Arga bisik balik, tetep genggam tangan Lana, "Iya segera. Segera aku kenalin lagi minggu depan. Biar Mama nggak nagih cucu terus. Mama kan gitu kalau udah sayang sama orang, langsung dianggap anak sendiri."
Mama Arga yang denger bisik-bisik mereka malah ketawa ngakak.
"Lihat tuh, Pa! Udah cocok! Lana-nya aja udah kaget kayak liat hantu, kayak Ibu dulu pas dilamar Bapak!"
Papa Arga cuma geleng-geleng sambil senyum, "Sabar, Ma. Kasih napas anaknya. Baru juga duduk 30 menit udah minta cucu."
Mama nggak mau kalah, "Loh, Ibu kan nggak minta sekarang! Ibu minta... tahun depan! Atau... dua tahun lagi deh. Ya, Ga?"
Arga ngelirik Lana yang masih shock pegang anggur.
"Bu, kasih aku waktu buat lamar anaknya Bu Lastri dulu ya. Kalau Bu Lastri udah kasih, baru aku kasih cucu buat Ibu."
Lana yang tadinya shock, denger kata "lamar", langsung lemes.
Dari anggur jatoh, sekarang hatinya yang jatoh.
Mama Arga langsung peluk Lana lagi.
"Anak cantik, jangan kaget ya. Tante emang gini orangnya. Kalau udah sayang, langsung Tante anggap anak sendiri. Tante seneng banget kamu mau main kesini."
Lana pelan-pelan senyum, masih deg-degan. "Iya, Tante... aku juga seneng. Anggap aja... aku betah di sini."
Di bawah meja, Arga ngelus punggung tangan Lana pelan, nenangin.
"Betah? Ya udah, jangan pulang. Nginep sini aja," celetuk Mama lagi.
"MA!" Arga sama Lana kompak teriak.
Satu rumah ketawa lagi, rame banget.
Sore itu, Lana pulang bukan sebagai tamu. Pulang sebagai "anak sendiri" yang baru 2 jam kenal, tapi udah ditagih cucu.
Di mobil pulang, Lana masih ngomel.
"Arga! Mama kamu tadi ngomong cucu! Aku kaget tau!"
Arga nyetir sambil senyum, tangan satu masih genggam tangan Lana.
"Terus kamu mau nggak? Jadi cucu... eh, jadi mantunya Mama beneran?"
Lana diem lama, ngeliat jalanan sore.
Terus jawab kecil, "...mau. Tapi lamar Ibu aku dulu."
Arga langsung ngerem pelan di pinggir jalan, nggak peduli ada motor di belakang.
"Serius?"
Lana angguk, malu-malu.
Arga nggak pakai lama — di pinggir jalan sore itu, di depan tukang cilok — dia cium kening Lana lama.
Bukan ciuman buru-buru di ruangan kaca. Bukan ciuman lampu merah.
Ciuman "segera, Bu" yang tadi dia janjiin ke Mamanya.
PART 13 - KECOLONGAN
Besoknya, Senin.
Lana kayak nggak habis ditagih cucu kemarin.
Di kantor? Balik 100% mode Staff Profesional.
"Pak, laporan stoknya sudah saya email ya, Pak."
"Baik, Bu Lana, saya cek."
Kaku. Dingin. Jarak 1 meter kalau ngobrol. Nggak ada sisa-sisa "segera, Bu" kemarin sore.
Arga di dalam ruangan kaca ngeliatin dari jauh sambil mikir, Kemarin udah genggam tangan depan Mama Papa, hari ini dipanggil Pak lagi.
Jam 16.30. Biasanya Lana pulang jam 17.30 nunggu dijemput.
Hari ini jam 16.45, kursinya kosong.
Slack Arga bunyi centang satu.
Lana udah ngilang.
Arga: Lan? Pulang?
Centang dua, nggak dibales.
Arga langsung berdiri, ambil kunci mobil, turun ke lobi. Satpam bingung lagi.
"Pak Arga buru-buru lagi?"
"Bu Lana liat nggak, Pak?"
"Oh, Bu Lana tadi jam 4 udah pulang, Pak. Katanya mau ke pasar sama ibunya."
Kecolongan.
Padahal Arga udah nyiapin rencana — mau nganter, mau mampir beli martabak buat Bu Lastri buat lanjutin omongan "segera" kemarin.
Ya udah, Arga langsung gas. Beli martabak manis 2 loyang di jalan — coklat keju kesukaan Bu Lastri, yang satunya keju susu kesukaan Lana.
Sampai di rumah Lana jam 17.15. Pagar ijo mint itu kebuka dikit.
Arga parkir, turun bawa martabak, dengan pede ketok pagar.
"Assalamualaikum, Bu!"
Yang buka pintu... Lana.
Lana yang udah ganti baju rumah, rambut diiket berantakan, muka kaget setengah mati liat Arga ada di depan rumahnya bawa martabak.
"PAK... ARGA?!"
Lana masih pakai daster bunga-bunga, bukan gamis krem kemarin. Daster yang buat tidur siang.
"Kok Bapak udah di sini?! Aku baru sampai 10 menit yang lalu!"
Arga juga kaget, ngeliat Lana dasteran.
"Lah kamu yang ninggalin saya di kantor! Saya ngejar ke sini! Kirain kamu masih di jalan!"
Dari dalam rumah, Bu Lastri keluar.
"Loh, Nak Arga? Loh, kok bisa bareng? Lana kan baru pulang, kamu kok udah sampai?"
Mereka berdua saling tatap, sama-sama kaget, sama-sama malu.
Lana yang tadi paginya biasa aja, cuek, dingin di kantor, ternyata pulangnya kabur duluan biar nggak bareng.
Arga yang biasanya dingin, ternyata kecolongan dan malah sampai duluan di rumahnya — nungguin di teras kayak paket COD.
Bu Lastri ketawa ngakak liat mereka.
"Ya Allah, kalian ini kayak kejar-kejaran kucing! Sana masuk! Martabaknya keburu dingin!"
Di dalam, Lana masih ngomel pelan sambil tuang teh.
"Aku pulang duluan biar nggak dikira aku manja terus dianter Bapak. Eh Bapak malah udah di sini duluan."
Arga duduk, buka kotak martabak, nyodorin yang keju susu ke Lana.
"Ya abis kamu ngilang. Aku panik. Kirain kamu masih marah soal omongan Mama kemarin yang minta cucu itu."
Lana langsung diem. Ngambil martabak.
"Enggak marah," bisiknya kecil. "Cuma... kaget aja. Deg-degan."
"Deg-degan kenapa?"
"Deg-degan karena... 'segera'-nya Bapak itu kedengeran serius banget."
Arga ngeliat Bu Lastri lagi di dapur, mastiin nggak denger. Terus dia geser duduk, mepet dikit ke Lana.
"Emang serius," bisik Arga. "Makanya aku bawa martabak ini. Biar Bu Lastri luluh lagi."
Lana ngelirik martabak, ngelirik Arga.
"Pakai martabak doang mau ngelamar anaknya Bu Lastri?"
"Enggak. Pakai martabak dulu buat pemanasan. Lamarnya nanti... kalau kamu udah nggak kabur-kaburan lagi pulang duluan kayak tadi."
Lana ketawa, akhirnya. Ketawa lepas, dasternya agak miring, rambut berantakannya keliatan.
Arga ngeliat Lana dasteran itu, senyumnya beda lagi. Lebih anget daripada liat Lana pakai blazer kantor.
"Cakep juga dasternya," godanya.
"Pak!"
"Arga."
"Arga! Jangan liat!"
"Udah terlanjur liat. Dan udah terlanjur betah di sini duluan sebelum yang punya rumah dateng."
Bu Lastri dari dapur teriak lagi, "Martabaknya dimakan! Jangan pacaran terus di depan!"
Mereka berdua kaget, ketawa bareng.
Kecolongan hari ini malah jadi menang — Arga yang sampai duluan di rumah Lana, nungguin Lana pulang, kayak udah jadi yang punya rumah.
PART 14 - VC MALAM
Jam 21.30.
Arga udah sampai rumah. Lana juga udah di kamar, udah ganti piyama — kali ini yang panjang, kapok gara-gara kemarin diomelin Mama.
HP Lana geter.
Arga Video Call...
Lana liat. Senyum. Tapi nggak diangkat. Sengaja.
HP mati. Geter lagi.
Arga Video Call (2)...
Masih nggak diangkat. Lana malah guling-guling di kasur sambil senyum-senyum nahan ketawa.
Geter lagi.
Arga Video Call (3)... (4)... (5)...
5 kali. Nggak diangkat semua.
Lana ngintip chat.
Arga: Lan
Arga: Saya tau kamu lagi liat HP.
Arga: Layarnya nyala terus dari tadi.
Arga: Angkat, kalau nggak saya ke rumah lagi sekarang.
Lana langsung panik. Daster tadi pagi aja udah malu, apalagi sekarang pakai piyama doraemon.
2 detik kemudian, langsung kepencet hijau.
Kepencetnya buru-buru banget.
Layar nyala.
Muka Arga nongol di layar, rambutnya masih basah abis mandi, pakai kaos oblong — beda banget sama Bos Dingin dasian.
Muka Lana nongol juga, rambut acak-acakan, piyama doraemon.
Hening 3 detik, saling liat.
Terus ketawa bareng.
"Kamu ngapain nggak diangkat 5 kali?!" Arga langsung protes, tapi senyum.
Lana manyun di kamera, "Siapa suruh tadi di rumah Ibuku bilang 'segera' di depan Mama Papa kamu. Aku malu! Mama kamu nge-chat aku sore tadi nanya ukuran cincin!"
Arga langsung duduk tegak. "Hah? Mama nge-chat apa?"
Lana ngasih liat screenshot — Mama Arga beneran nanya: Lana sayang, jari kamu ukuran berapa ya? Tante mau liat-liat.
Lana langsung nutup muka pakai bantal.
"Lihat! Gara-gara Bapak!"
Arga di seberang layar ngakak puas.
"Ya udah bagus dong. Berarti restunya udah bukan lampu hijau lagi, udah lampu sorot panggung."
"Arga!"
"Lan," Arga tiba-tiba pelanin suara. Di VC malam itu, cuma ada mereka berdua. "Sini deketin HP-nya."
Lana ngedeketin.
Arga di layar juga ngedeketin.
Jaraknya tinggal layar HP.
"Kamu cantik deh kalau malu-malu gitu," bisik Arga.
Lana yang tadinya manyun, meleleh lagi.
"Gombal."
"Serius. Makanya tadi aku telpon terus. Kangen. Tadi di rumah kamu belum puas ngobrolnya, keburu Bu Lastri ngawasin terus."
Lana bisik balik, "Aku juga... kangen. Tapi gengsi kalau langsung diangkat. Masa ditelepon langsung diangkat, kayak nungguin."
"Emang nungguin kan?"
"Enggak!"
"Iya."
"Enggak!"
Mereka debat kecil di VC sampai jam 11 malam. Nggak ada topik penting. Cuma ngobrolin martabak yang masih sisa, daster bunga tadi pagi, sampai Mama Arga yang udah ngajak Lana bikin kue bareng minggu depan.
Sampai Lana ngantuk, matanya udah sayu di kamera.
Arga liat, suaranya jadi pelan banget.
"Udah, bobo ya. Besok di kantor jangan kabur duluan lagi."
Lana ngangguk, ngantuk. "Besok aku tungguin di lobi. Janji."
"Janji?"
"Janji. Nggak pakai drama 5 kali VC nggak diangkat lagi?"
Arga senyum, "Enggak. Besok aku cukup sekali aja. Soalnya besok... aku jemput langsung di mejamu."
Lana langsung melek lagi, "Jangan! Bu Sinta!"
"Ya udah, di lobi aja."
Lana ngangguk, senyum ngantuk.
"Good night, Pak Bos Manja."
"Good night, calon..."
Arga nggak lanjutin. Digantung lagi.
"Calon apa?!"
"Besok aku bisikin di lobi."
VC mati.
Lana banting HP ke kasur, guling-guling lagi, senyumnya nggak ilang-ilang sampai ketiduran — masih pakai piyama doraemon, masih dengan screenshot ukuran cincin dari calon ibu mertuanya.
PART 15 - LANJUTAN DI LOBI
Besok paginya, Selasa.
Lana nepatin janji. Nggak kabur jam 16.45 lagi.
Jam 17.30, dia beneran nunggu di lobi. Duduk manis di kursi tunggu, tas di pangkuan.
Staff lain udah pada pulang. Lobi agak sepi.
Arga turun dari lift jam 17.35, rapi, dasi biru dongker yang kemarin dipakein Lana masih kepasang.
Dia jalan ke arah Lana, tapi masih mode Bos Dingin karena satpam masih ada.
"Lana, pulang bareng? Saya searah," katanya formal.
Lana berdiri, akting juga, "Boleh, Pak. Terima kasih."
Masuk mobil. Pintu ketutup.
Baru 10 detik di dalam mobil yang kedap suara, mode Bos Manja langsung ON.
Arga nggak langsung nyetir. Dia noleh ke Lana.
"Lan, masih inget pertanyaan semalam?"
"Pertanyaan apa?"
"Yang 'calon apa' yang nggak aku lanjutin di VC."
Lana langsung inget. Mukanya merah.
"Oh... itu."
Arga ngedeketin, pelan. Nggak cium, cuma bisikin. Persis di sebelah telinga Lana, pelan banget, cuma Lana yang denger.
"Calon istriku."
Lana bengong. Napasnya berhenti sepersekian detik.
Mobil di parkiran lobi itu hening. AC doang yang bunyi.
"Arga..." suara Lana kecil banget.
Arga mundur lagi, natap Lana. Nggak bercanda. Matanya serius, tapi anget.
"Aku nggak mau lama-lama kayak kata Mama. Aku mau segera. Tapi aku mau pastiin kamu juga mau. Nggak aku paksa. Kalau kamu bilang belum siap, aku tunggu. Tapi kalau kamu bilang mau..."
Dia nggak lanjutin pakai kata-kata.
Dia buka laci dashboard mobilnya.
Di dalamnya ada kotak beludru kecil. Nggak dibuka. Cuma diliatin ke Lana.
Kotak cincin.
Lana langsung nutup mulut pakai tangan.
"ARGA! Ini apa?!"
"Ini... ukuran yang Mama tanyain kemarin," bisik Arga pelan. "Aku udah tanya Bu Lastri diam-diam minggu lalu. Katanya kalau Lana udah lulus jadi anak di keluarga aku, aku boleh lanjutin ke step selanjutnya."
Lana matanya berkaca-kaca. Tadi pagi biasa aja, cuek di kantor, sekarang di lobi, di dalam mobil, disodori kotak yang bikin jantungnya mau copot.
"Jangan dibuka sekarang," Arga buru-buru nutup laci lagi. "Nanti dulu. Di rumah kamu. Depan Bu Lastri. Biar sah. Biar nggak dikira aku culik kamu di lobi kantor."
Lana masih nutup mulut, masih shock.
"Jadi... calon apa?" Arga nanya lagi, senyumnya ngeledek tapi tangannya gemeter megang setir.
Lana yang tadinya shock, akhirnya ketawa sambil nangis kecil.
"Calon istri Bos Dingin yang manja!"
Arga ketawa lega. Akhirnya nyetir keluar dari lobi.
Sepanjang jalan ke rumah Lana, Lana nggak berhenti ngeliatin laci dashboard itu. Sesekali ngelirik Arga yang pura-pura fokus nyetir, padahal telinganya merah.
Malam ini, di rumah pagar ijo mint itu, bakal ada martabak lagi — tapi beda rasanya.
Karena malam ini, Arga nggak cuma bawa martabak.
PART 16 - LAMARAN PAKAI MARTABAK
Malam itu, rumah pagar ijo mint rame.
Bukan rame pesta, rame deg-degan.
Di ruang tamu, ada Bu Lastri duduk di tengah, pakai kerudung rapi. Lana duduk di sebelah Ibunya, pakai gamis krem yang kemarin dipakai kenalan keluarga — sengaja diganti lagi biar rapi.
Di depan mereka, Arga duduk sendirian, bawa 2 kotak martabak — yang tadi di mobil — plus satu kotak beludru kecil yang dari tadi di laci dashboard.
Nggak ada cincin berlian gede. Nggak ada bunga 100 tangkai. Cuma martabak anget dan teh manis.
Tapi suasananya... lebih tegang dari meeting direksi.
Arga narik napas.
"Bu Lastri..."
"Iya, Nak Arga?"
"Maaf kalau mendadak. Saya kesini mau... mau ngelamar Lana."
Lana yang di sebelah Bu Lastri langsung nunduk, tangannya diremes-remes.
Bu Lastri diem, natap Arga lama.
"Nak Arga serius?"
"Serius, Bu. Saya udah ngomong sama Mama Papa saya. Mereka udah setuju, udah anggap Lana anak sendiri. Sekarang saya mau minta izin Ibu."
Arga buka kotak beludru itu pelan. Di dalamnya cincin simple, nggak norak, ada satu mata kecil.
"Bu, saya tau Lana masih muda, saya juga masih banyak kurangnya. Tapi saya janji, saya akan jaga Lana. Di kantor saya akan tetep profesional, di rumah saya akan belajar jadi imam yang bener buat Lana. Kayak waktu maghrib kemarin."
Bu Lastri matanya berkaca-kaca. Ngelirik Lana.
"Lana gimana, Nak? Kamu mau?"
Lana ngangkat kepala, matanya juga berkaca-kaca, ngeliat Arga yang gemeteran megang kotak.
"Mau, Bu..." bisiknya kecil, tapi jelas.
Bu Lastri senyum, nangis. "Ya udah, Ibu kasih. Ibu restuin."
Arga lega, mau masangin cincinnya ke jari Lana.
Tapi abis itu, drama kedua dimulai.
"Bu, kalau boleh..." Arga ngomong lagi, lebih pede abis direstuin. "Saya maunya nikahnya seminggu lagi."
Lana langsung kaget.
"SEMINGGU?!"
Bu Lastri juga kaget, "Loh, Nak? Cepet banget?"
Arga ngotot, "Iya, Bu. Saya udah nggak sabar. Lagian biar nggak kelamaan pacaran. Saya takut... saya takut lama-lama godaan banyak. Saya mau halalin cepet."
Lana protes, manyun.
"Nggak bisa seminggu! Aku belum siap! Baju belum ada! Undangan belum! Aku maunya sebulan!"
"Sebulan kelamaan!" Arga balas, manja-nya keluar lagi.
"Seminggu kecepetan!"
"Sebulan kelamaan!"
Bu Lastri yang di tengah jadi penengah kayak wasit.
"Udah udah, kalian ini kayak anak kecil rebutan martabak. Tengah-tengah aja gimana?"
Mereka berdua noleh ke Bu Lastri.
"Dua minggu," kata Bu Lastri. "Seminggu buat siapin yang penting-penting, seminggu lagi buat tenang. Gimana?"
Lana sama Arga saling tatap.
Lana: "Dua minggu..."
Arga: "Dua minggu..."
Terus kompak: "Oke!"
Bu Lastri ketawa, "Ya udah sah. Dua minggu lagi nikah."
Malam itu, cincin simple itu akhirnya kepasang di jari manis Lana. Ngepas banget — Mama Arga emang jago ngira-ngira ukuran.
Arga masanginnya pelan, tangannya masih gemeter.
Pas udah kepasang, Lana ngeliatin jarinya sendiri, terus bisik ke Arga:
"Pak Bos, jadi mulai besok aku nggak boleh dipanggil Bu Lana lagi dong?"
Arga bisik balik, pelan biar Bu Lastri nggak denger:
"Mulai besok, panggilannya tetep Bu Lana di kantor. Tapi di rumah... panggilannya istriku."
Lana mukanya merah, tapi senyumnya lebar banget, nggak bisa disembunyiin.
Martabak 2 loyang habis malam itu. Dimakan bertiga sambil ngobrolin tanggal, sambil sesekali Arga sama Lana adu kaki di bawah meja — kayak malam pertama dulu, tapi sekarang udah halal buat direncanain.
PART 17 - SEMINGGU KEMUDIAN, GODAANNYA KENCENG BANGET
Baru seminggu abis lamaran. Kurang seminggu lagi menuju hari H.
Secara agama, mereka udah tunangan, belum halal. Nggak boleh berduaan, nggak boleh peluk-peluk, nggak boleh cium-cium lagi.
Secara kantor? Makin parah godaannya.
Karena sekarang statusnya jelas. Cincin udah melingkar di jari Lana — yang sengaja ditutupin pakai cincin fashion biar nggak ditanya Bu Sinta.
Hari Senin, di kantor.
Lana masuk pakai kerudung rapi. Arga udah di ruangan kaca.
Dulu sebelum lamaran, Arga manja minta dipakein dasi, ujungnya pelukan, ciuman.
Sekarang? Nggak bisa.
Pintu ruangan kaca sengaja dibuka setengah sama Arga. Biar nggak fitnah.
Lana masuk nganterin laporan, jarak 1 meter.
"Pak, ini laporan final buat nikahan... eh, buat klien," keceplosan.
Arga yang lagi ngetik, ngangkat kepala. Ngeliat Lana, ngeliat cincin yang ngintip di balik jarinya.
Senyum.
"Makasih, Bu Lana."
"Bu Lana" - sekarang panggilannya beda. Lebih berat.
Lana mau keluar, Arga manggil pelan.
"Lan."
Lana balik badan. "Ya, Pak?"
"Semangat ya seminggu lagi."
Cuma itu. Nggak ada pelukan. Nggak ada ciuman kening. Padahal dulu tiap hari ada "upah pasang dasi".
Lana angguk, keluar.
Di luar, Lana ngelus dada sendiri. Tahan, Lan. Seminggu lagi.
Siangnya, di pantry.
Lana lagi bikin kopi. Arga masuk juga mau bikin kopi.
Berdua doang di pantry. Sepi.
Dulu kalau berdua di pantry, pasti Arga mepet, bisik, "Kangen."
Sekarang...
Arga ngambil gelas, jaraknya sengaja jauh.
Lana ngaduk kopi, tangannya gemeter.
"Pak, kopinya nggak dikasih gula?" tanya Lana biar nggak hening.
Arga jawab, "Udah manis liat kamu."
Lana: "PAK!"
Arga langsung tutup mulut, ngelirik CCTV pantry.
"Sorry sorry, keceplosan. Kebiasaan."
Mereka ketawa kecil, tapi ketawanya nahan.
Godaan paling kenceng itu bukan pas berdua. Tapi pas...
Malamnya, VC.
Ini yang paling nyiksa.
Jam 10 malam, jadwal VC wajib.
Lana di kamar, Arga di kamar.
Layar nyala.
"Lan, hari ini berat banget," Arga curhat, mukanya capek. "Tadi pengen banget narik kamu pas di pantry. Tapi nggak bisa."
Lana juga manyun di kamera, "Aku juga. Tadi pengen dipakein dasi lagi. Eh nggak jadi."
"Seminggu lagi ya?" Arga nanya, kayak anak kecil minta kepastian.
Lana angguk. "Seminggu lagi. Tahan ya, Pak Bos Manja?"
Arga ngangguk, terus tiba-tiba ngedeketin kamera, bisik.
"Lan, abis nikah nanti, aku balas semua pelukan yang ketahan seminggu ini ya. Aku catet loh. Hari Senin 1 pelukan ketahan, hari Selasa 2 pelukan..."
Lana ketawa, pipinya merah.
"Dasar Bos pencatat utang pelukan!"
"Utang pelukan sama utang ciuman. Nanti dibayar lunas."
"Arga!"
"Eh, calon suami."
Lana nutup muka pakai bantal lagi. Tiap malam kayak gitu.
Godaan kenceng bukan berarti mau macem-macem. Godaan kenceng itu rasanya pengen cepet-cepet halal, pengen cepet-cepet duduk di pelaminan bareng, pengen cepet-cepet jadi imam beneran, bukan cuma imam maghrib numpang.
Di ujung VC, Arga selalu bilang kalimat yang sama, yang bikin Lana kuat nahan seminggu:
"Good night, calon istriku. Seminggu lagi ya, aku jemput kamu bukan pakai mobil kantor lagi, tapi pakai baju pengantin."
Lana jawab, "Good night, calon imamku."
VC mati. Mereka tidur dengan jarak rumah yang jauh, tapi hati yang udah tinggal nunggu 7 hari lagi.
PART 18 - HARI H
Hari H lancar.
Nggak hujan. Langit cerah.
Akad jam 9 pagi di rumah Bu Lastri. Sederhana. Nggak mewah. Cuma ada keluarga inti, Mama Papa Arga, Bu Lastri, sama 2 saksi dari KUA.
Arga pakai beskap putih. Tangan yang biasanya tanda tangan PHK orang, hari ini gemeteran megang mic.
Lana pakai kebaya putih simple, kerudungnya ada payet kecil. Cantiknya beda — cantik yang bikin satu ruangan diem.
Waktu ijab kabul, Arga suaranya agak serak tapi lancar. Sekali tarik napas, sah.
"SAH!"
Bu Lastri nangis. Mama Arga nangis lebih kenceng. Papa Arga tepuk tangan paling keras.
Lana nangis di balik kerudung.
Arga? Bos Dingin yang nggak pernah nangis di kantor itu matanya merah. Pas salaman sama Lana pertama kali sebagai suami, tangannya masih gemeter.
PART 19 - MALAM PERTAMA
Malam.
Jam 20.30.
Rumah masih sepi. Cuma mereka berdua.
Lana udah ganti. Kebaya putih tadi pagi udah dilipet rapi di koper. Sekarang dia pakai piyama putih panjang — piyama baru, masih ada lipatan tokonya. Rambutnya udah dilepas, nggak pakai sanggul lagi, tergerai panjang.
Arga juga udah ganti. Beskap putihnya udah digantung. Sekarang pakai kaos putih sama sarung — sarung yang dipakai pas akad tadi.
Mereka duduk di kamar. Kamar Arga yang dulu rapi kayak kamar hotel, sekarang ada koper Lana di pojokan.
Keduanya capek.
Seharian akad, salaman, foto-foto, beres-beres. Kaki Lana pegel pakai heels seharian. Mata Arga ngantuk karena dari semalem nggak tidur — deg-degan.
Arga ngeliat Lana yang duduk di pinggir kasur, ngantuk, ngusap mata.
"Lan," panggil Arga pelan.
"Hmm?" Lana jawab, suaranya udah ngantuk.
"Tidur yuk. Capek kan?"
Lana angguk. "Capek banget."
Arga berdiri, matiin lampu utama. Nyalain lampu tidur yang kuning temaram.
Kasurnya gede, spreinya putih baru diganti Mama Arga tadi pagi.
Lana naik pelan, rebahan di sisi kiri. Arga di sisi kanan.
Nggak ada canggung yang aneh. Karena mereka udah janji, malam pertama itu bukan soal apa-apa. Malam pertama itu soal akhirnya bisa tidur tanpa jarak.
Arga narik selimut, selimutin Lana dulu, baru dirinya.
Lana miring, ngadep ke Arga.
Arga juga miring, ngadep ke Lana.
Jarak mereka tinggal sejengkal.
"Pak Bos," bisik Lana ngantuk.
"Sst, panggil Mas aja sekarang," bisik Arga balik, senyum ngantuk.
"Mas..."
"Hmm?"
"Makasih ya udah seharian jadi imamku."
Arga ngeraih tangan Lana di atas bantal, genggam.
"Besok juga, lusa juga, seterusnya."
Lana senyum, matanya udah mau merem.
Arga ngedeketin, cium kening Lana lama — kayak di mobil lobi kemarin, tapi sekarang nggak perlu buru-buru.
"Selamat tidur, istriku."
Lana jawab pelan, udah setengah mimpi.
"Selamat tidur, suamiku..."
Nggak sampai 5 menit.
Dua-duanya ketiduran. Pulas.
Tangan masih gandengan di atas bantal. Piyama putih Lana masih rapi. Sarung Arga masih rapi.
Di luar, jangkrik bunyi. Di dalam, AC nyala pelan.
Malam pertama mereka nggak ada drama apa-apa. Cuma tidur. Tidur capek yang tenang, karena untuk pertama kalinya, mereka pulang ke rumah yang sama, kasur yang sama, tanpa perlu VC, tanpa perlu kejar-kejaran pulang duluan, tanpa perlu ngitung utang pelukan.
Karena utang pelukannya udah lunas siang tadi. Malam ini, waktunya istirahat.
Besok pagi, Lana bakal bangun pertama kali sebagai istri dan bikin teh buat suaminya. Dan Arga bakal bangun pertama kali sebagai suami dan nggak perlu minta dipakein dasi lagi — karena yang masangin dasinya udah tidur di sebelahnya.
EPILOG - 2 TAHUN KEMUDIAN
2 tahun kemudian.
Pagi.
Rumah yang dulu sepi pas malam pertama itu sekarang rame.
Di ruang tamu yang dulu cuma ada mereka berdua, sekarang ada suara kecil lari-lari.
"Mas! Mas! Lihat! Adek bisa pakai dasi Papa!"
Lana keluar dari dapur, masih pakai daster bunga-bunga favoritnya — daster yang sama yang bikin Arga betah nungguin di teras dulu. Bedanya, sekarang dasternya agak ketarik-tarik sama tangan kecil.
Di gendongannya, ada anak perempuan. Umur 1 tahun setengah. Rambutnya keriting tipis, matanya bulat, pipinya tembem. Cantiknya... plek-ketiplek Lana.
Namanya Aina.
Aina Lestari Arga.
Arga yang udah pakai kemeja putih rapi mau berangkat kantor, jongkok di depan anaknya.
Dasi biru dongkernya — dasi yang sama yang dulu minta dipakein Lana — sekarang dipegang-pegang sama Aina.
"Wah, pinter ya anak Papa. Mau pakein dasi Papa lagi kayak Mama dulu?"
Lana ketawa dari dapur. "Jangan diajarin manja kayak Papanya ya!"
Aina nggak ngerti, dia cuma ketawa, terus narik-narik dasi Papanya sampai miring.
Arga biarin. Dulu dasi miring 1 cm aja langsung dibenerin. Sekarang dasi miring ditarik anaknya, dibiarin.
Lana jalan mendekat, bawa bekal kantor Arga. Dengan gerakan yang udah hafal 2 tahun, dia benerin dasi Arga — kayak di ruangan kaca dulu.
Bedanya, sekarang ada Aina di tengah-tengah mereka, ikutan benerin pakai tangan kecilnya.
"Udah rapi belum, Ma?" tanya Arga, kalimat yang sama persis kayak 2 tahun lalu.
Lana senyum, cium kening Arga — terus cium kening Aina.
"Udah rapi, Pak Bos. Dua-duanya rapi."
Arga ngangkat Aina, gendong. Aina langsung meluk leher Papanya.
Bu Lastri datang dari pintu belakang bawa gorengan anget. Mama Papa Arga datang dari depan bawa bubur buat Aina.
Rumah yang dulu cuma mereka berdua, sekarang penuh.
Mama Arga langsung peluk Aina. "Cucu cantik Ibu! Cantiknya kayak Mamanya!"
Papa Arga nyaut, "Hidungnya kayak Papanya tuh! Dinginnya jangan diturunin ya, Na!"
Semua ketawa.
Arga ngeliat sekeliling — istrinya yang masih cantik kayak pertama kali diliat di kantor, anak perempuannya yang cantiknya kayak Lana, dua keluarga yang jadi satu di ruang tamu.
Janji "Segera, Bu. Ibu mau cucu" 2 tahun lalu itu udah lunas.
Lunas pakai anak perempuan cantik yang sekarang lagi narik-narik dasi Bos Dingin.
Sebelum berangkat kantor, Arga bisik ke Lana, pelan, di depan Aina yang masih merem melek.
"Lan, makasih ya."
"Untuk apa?"
"Untuk mau dipakein dasi dulu. Kalau nggak, nggak ada Aina yang cantik kayak kamu ini."
Lana mukul pelan dada Arga, kayak dulu di ruangan kaca.
"Berangkat, Pak! Nanti telat meeting!"
"Siap, Bu Lana!"
Dan pagi itu, Bos Dingin berangkat kantor dengan dasi agak miring bekas tarikan anaknya, bekal dari istrinya, dan foto keluarga baru di dompetnya — foto yang dulu cuma foto berdua di photobox, sekarang jadi foto bertiga.
TAMAT.