Tiga hari setelah ruko baru diresmikan, Rian beres-beres kontrakan petak lama Mak Leha yang mau dikosongkan.
Di bawah tikar lapuk tempat Mak Leha meninggal dulu, Rian nemu sesuatu.
Bukan uang. Bukan emas.
Kotak kayu kecil. Kunci gembok karatan.
Di dalam kotak, ada KTP. 2 KTP.
KTP pertama: *LEHA BINTI SARIM, lahir 1965.*
KTP kedua: *LELA BINTI SARIM, lahir 1965.* Foto sama persis. Kembar identik.
Rian lemes. Duduk di lantai kontrakan.
Mak Leha punya kembaran?
Malam itu Rian dan Aurel buka lagi buku resep Mak Leha. Di halaman paling belakang, yang sobek setengah, ada tulisan kecil pakai pensil, tulisan Mak Leha yang gemetar:
_"Rian, kalau kamu baca ini, berarti Lela sudah mati. Maafkan Ibu bohong. Yang mati di kontrakan itu bukan Ibu. Itu Tante Lela. Kembaran Ibu. Ibu masih hidup. Jangan cari Ibu. Ibu malu."_
Aurel merinding, "Maksudnya... yang kita kubur kemarin itu bukan Mak Leha?"
Rian langsung lari ke makam. Tengah malam. Bawa cangkul.
Aurel narik, "Rian gila! Jangan!"
Rian gali. Tidak dalam. Makam murah cuma 1 meter.
Pas kain kafan dibuka... Rian lihat wajahnya. Memang mirip Mak Leha, tapi ada tato kecil di leher belakang. Tato bintang. Mak Leha tidak punya tato.
Itu Lela.
Jadi Mak Leha masih hidup. Kemana?
---
*2 HARI KEMUDIAN - CIANJUR*
Dapat info dari tetangga kontrakan: 3 hari sebelum "Mak Leha" meninggal, ada mobil jemput perempuan mirip Mak Leha jam 2 pagi. Mobilnya bukan Alphard hitam. Mobil pick-up sayur.
Rian dan Aurel naik motor butut ke Cianjur. Alamat KTP Lela: Kampung Cijedil, Cianjur. Rumah panggung kayu.
Di sana, ada perempuan tua lagi nyapu halaman. Mirip banget sama yang dikubur. Tapi tidak ada tato bintang. Dan matanya masih jernih, tidak sakit-sakitan.
Itu Mak Leha. Asli.
Mak Leha lihat Rian datang, sapunya jatuh.
"Rian..."
Rian tidak bisa ngomong. 6 bulan dia nangis di kuburan yang salah.
Mak Leha peluk Rian. Bau kayu bakar. Bau yang Rian kangen.
"Maafkan Ibu, Nak..."
Di dalam rumah panggung, Mak Leha cerita. Cerita yang 27 tahun ditutup.
Mak Leha dan Lela kembar. Cantik dua-duanya. Dulu kerja di pabrik tekstil Tanah Abang. Hendra Gunawan, yang masih preman, suka sama Mak Leha. Mak Leha nolak. Hendra perkosa Mak Leha di gudang pabrik. Hamil Rian.
Mak Leha kabur ke Senen, jadi tukang gorengan. Lela, adik kembarnya, malah jadi simpanan Hendra beneran karena dijanjikan uang. Lela yang jadi "Leha" versi mafia. Yang dapat rumah, dapat uang, tapi hidupnya hancur jadi pemabuk dan penjudi.
2 tahun lalu, Lela kena kanker paru-paru karena ngerokok terus. Tidak punya uang berobat. Dia datang ke Mak Leha di Senen.
"Kak, aku mau mati. Boleh nggak aku mati di kontrakan Kakak? Biar anak Kakak, Rian, dikira anak Hendra, dapat warisan. Aku sudah dosa banyak. Biar matiku berguna."
Mak Leha awalnya nolak. Tapi Lela maksa. Lela minum racun tikus pelan-pelan biar matinya kayak serangan jantung.
Dan rencana Lela berhasil. Rian dapat 500 juta. Tapi bukan karena warisan mafia. Karena kebenaran.
Mak Leha yang asli kabur ke Cianjur karena malu. Malu sama Rian. Malu karena adiknya jadi tumbal.
Aurel yang denger cerita itu, nangis. Dia peluk Mak Leha.
"Tante Leha... Tante Lela itu pahlawan Tante... Dia tuker nyawanya biar Rian bisa hidup..."
Mak Leha angguk, "Iya. Lela memang nakal. Tapi sayang sama Kakaknya."
Rian berdiri. Lihat sawah Cianjur yang hijau.
"Bu, ayo pulang."
Mak Leha kaget, "Pulang kemana?"
"Pulang ke ruko. Sekarang kita punya ruko. Ibu jualan gorengan lagi. Bukan di kontrakan petak. Di ruko. Ibu jadi bos. Aurel sama saya jadi karyawan Ibu."
Mak Leha nangis.
---
*1 MINGGU KEMUDIAN - RUKO PASAR SENEN*
Papan nama ruko diganti lagi.
Dulu: "Warung Gorengan Mak Leha - Cabang 2 - Anti Mafia"
Sekarang: *"Warung Gorengan Mak Leha & Lela - Kembar - Dari Tanah Abang Sampai Senen, Tetap Gorengan."*
Di dapur, ada 2 foto sekarang. Foto Mak Leha dan foto Lela yang ada tato bintang.
Di bawahnya tulisan baru, tulisan tangan Rian:
_"Satu diperkosa mafia, jadi tukang gorengan jujur. Satu jadi simpanan mafia, mati jadi pahlawan. Dua-duanya ibu saya."_
Warung rame lagi. Lebih rame dari sebelumnya. Karena sekarang yang goreng 2 orang: Mak Leha asli dan Aurel.
Rian? Rian tetap tukang parkir. Tapi sekarang pakai rompi baru. Tulisan di belakang rompi: *"PARKIR GRATIS BUAT YANG BELI GORENGAN MAK LEHA & LELA - ANAK MAFIA TOBAT."*
Sore itu, ada tamu tak diundang. Bukan Alphard hitam. Becak.
Turun seorang kakek kurus, pakai peci hitam, bawa tongkat. Itu Pak Jago yang sudah keluar penjara karena jadi saksi kasus 2,3 Triliun.
Gigi emasnya sudah tidak ada. Diganti gigi ompong.
"Rian... Aurel... ada gorengan gratis buat mantan mafia gigi ompong nggak?"
Rian lihat Aurel. Aurel lihat Mak Leha. Mak Leha angguk.
Ada.
Kursi plastik kosong yang selama ini disiapin, akhirnya ada yang duduk.
Pak Jago duduk, makan tempe goreng Mak Leha.
Baru satu gigitan, nangis.
"Enak... kayak gorengan yang dulu saya makan waktu masih jadi kuli, sebelum jadi pembunuh..."
Mak Leha taruh 1 piring lagi di depan Pak Jago.
"Makan yang banyak, Pak. Di sini nggak ada mafia. Adanya kembar tukang gorengan."
Dan sore itu di Pasar Senen, untuk pertama kalinya, mantan anak mafia, mantan artis anak pembunuh, mantan simpanan mafia yang jadi pahlawan, tukang gorengan yang diperkosa mafia, dan tangan kanan mafia yang ompong, makan gorengan satu meja.
Tidak ada Alphard hitam. Adanya wajan hitam.
Tidak ada warisan 2 Triliun. Adanya warisan resep tempe yang tidak pernah gosong kalau gorengnya pakai hati yang sudah memaafkan.