Aku bekerja di sebuah rumah sakit sebagai dokter muda. Setiap hari aku bertemu pasien dengan berbagai penyakit. Ada yang sembuh, ada yang tidak. Aku belajar untuk tidak terlalu terikat, agar bisa bekerja profesional. Tapi ada satu pasien yang selalu membuatku ingat arti cinta: Pak Ahmad.
Pak Ahmad adalah pasien stroke. Ia sudah dirawat selama enam bulan. Istrinya, Bu Aminah, selalu menemaninya. Setiap hari, Bu Aminah datang pagi, membawa makanan, memijat kaki Pak Ahmad, dan bercerita tentang hal-hal kecil. Pak Ahmad tidak bisa bicara, tapi matanya selalu mengikuti istrinya.
Suatu hari, aku bertanya, “Bu, apa Ibu tidak lelah?”
Bu Aminah tersenyum. “Lelah. Tapi saya sudah janji akan menemani dia sampai akhir.”
“Apa Ibu tidak pernah marah?”
“Pernah. Tapi cinta itu tidak punya batas, Dok. Saya mencintainya bukan karena dia sehat. Saya mencintainya karena dia adalah dia.”
Aku terdiam. Kata-kata Bu Aminah menghantui pikiranku. Selama ini aku sering membatasi cinta: harus cantik, harus sehat, harus sempurna. Tapi Bu Aminah mengajarkanku bahwa cinta sejati tidak punya batas.
Pak Ahmad meninggal sebulan kemudian. Bu Aminah menangis, tapi ia tersenyum. “Dia sudah tenang, Dok. Saya sudah menemani sampai akhir.”
Aku menatapnya. “Ibu kuat sekali.”
“Bukan kuat, Dok. Hanya cinta.”
Sejak hari itu, aku berubah. Aku mulai melihat pasien bukan sebagai penyakit, tapi sebagai manusia. Aku mulai mendengarkan lebih banyak, tersenyum lebih sering, dan mencintai pekerjaanku dengan lebih tulus.
Cinta memang tidak punya batas. Ia bisa hadir di ruang rumah sakit, di kolong jembatan, di kantor, di mana saja. Selama kita mau memberi, selama itu pula cinta akan tumbuh.