### MYSTERY AND DESTINY
### Bab: Sebelum Waktu Membawa Mereka Tumbuh
2027 — Rumah Keluarga Anggara
Senja perlahan turun di rumah keluarga Anggara. Cahaya jingga menyusup melalui jendela-jendela besar, jatuh di lantai ruang keluarga yang mulai dipenuhi bayangan panjang. Dari halaman terdengar suara burung yang sesekali bersahutan, sementara angin sore menggerakkan tirai tipis di dekat jendela.
Ardy baru saja melangkah melewati ruang keluarga ketika sepasang kaki kecil kembali mengikutinya.
Ke mana pun pria itu pergi, Aisyah selalu berada tidak jauh darinya. Gadis kecil itu bahkan rela meninggalkan mainannya hanya untuk mengejar sang ayah.
Ardy berhenti.
Aisyah yang berjalan di belakangnya ikut berhenti, kemudian mendongak dengan kedua mata berbinar.
"Ayah, gendong."
Ardy menoleh. Senyum tipis muncul di wajahnya sebelum ia membungkuk dan mengangkat putri kecilnya ke dalam pelukan.
"Ada apa, hm? Dari tadi mengikuti Ayah terus."
Aisyah melingkarkan kedua tangannya di leher sang ayah. Setelah menemukan posisi yang nyaman, gadis kecil itu menyandarkan pipinya di bahu Ardy.
"Ayah, nanti kalau Aisyah sudah besar, apakah Ayah masih mau menggendong Aisyah?"
Langkah Ardy terhenti sejenak.
Ia menatap wajah kecil yang kini berada dekat dengan wajahnya. Pertanyaan sederhana itu membuatnya tersenyum, lalu mengusap punggung putrinya perlahan.
"Kalau Ayah masih kuat, tentu Ayah akan menggendong Aisyah. Tapi kalau nanti Ayah sudah tidak kuat, mungkin saat itu Aisyah yang harus membantu Ayah berjalan."
Aisyah segera mengangkat kepalanya.
"Memangnya Ayah nanti bisa jadi lemah?"
Ardy terkekeh.
"Hahaha, tentu saja bisa, Sayang."
"Tidak bisa!"
"Kenapa tidak bisa?"
"Karena Ayah kuat."
Ardy tertawa kecil mendengar jawaban itu. Ia mengangkat tubuh Aisyah sedikit lebih tinggi, seolah ingin menunjukkan bahwa kedua lengannya memang masih cukup kuat untuk menggendong putri kecilnya.
"Memang sekarang tangan Ayah masih kuat menggendong Aisyah. Kaki Ayah juga masih kuat mengejar Aisyah kalau kamu berlari ke sana kemari."
Aisyah tersenyum bangga.
"Tapi manusia tidak selamanya muda, Aisyah."
Senyum di wajah gadis kecil itu perlahan menghilang.
"Aisyah tidak mau Ayah menjadi tua."
Ardy terdiam sesaat.
Ada sesuatu dalam kalimat sederhana itu yang menyentuh bagian terdalam hatinya. Bagi Aisyah, ayahnya mungkin akan selalu menjadi pria paling kuat di dunia. Seseorang yang bisa mengangkat tubuhnya dengan mudah, mengejarnya ketika berlari, dan datang setiap kali ia memanggil.
Barangkali, di mata anak-anak, orang tua memang seharusnya tidak pernah berubah.
Ardy mengecup kening putrinya.
"Kalau begitu, Aisyah harus sering-sering memeluk Ayah sekarang."
"Kenapa?"
"Karena Ayah juga kadang ingin sekali waktu berjalan lebih pelan."
Aisyah mengerutkan kening. Ia tampak berusaha memahami perkataan ayahnya.
"Kenapa begitu, Ayah?"
Ardy memandang putrinya cukup lama sebelum menjawab.
"Karena setiap kali Aisyah belajar sesuatu yang baru, Ayah senang. Ayah senang melihat Aisyah tumbuh, semakin pintar, dan bisa melakukan banyak hal sendiri."
Ia berhenti sebentar, membetulkan posisi Aisyah dalam gendongannya.
"Tapi di sisi lain, Ayah juga sedih. Sebab itu berarti Aisyah semakin besar. Sedikit demi sedikit, ada hal-hal yang dulu selalu Aisyah lakukan bersama Ayah, yang mungkin nanti tidak akan Aisyah butuhkan lagi."
Aisyah memeluk lehernya lebih erat.
"Kalau Aisyah sudah besar, Aisyah masih tetap anak Ayah, kan?"
Ardy tersenyum. Kali ini senyumnya terasa lebih lembut.
"Selamanya, Aisyah. Kamu akan selalu menjadi anak gadis kecil Ayah di mata Ayah, meskipun suatu hari nanti kamu sudah besar."
"Selamanya?"
"Selamanya."
Aisyah tampak puas dengan jawaban itu. Ia kembali menyandarkan kepalanya di bahu Ardy, seolah persoalan tentang masa depan sudah selesai.
Sementara itu, Ardy masih menggendongnya tanpa tergesa-gesa.
Ia tidak tahu berapa lama lagi putri kecilnya akan meminta digendong seperti ini. Mungkin beberapa tahun lagi Aisyah sudah merasa terlalu besar untuk berada dalam pelukannya. Mungkin suatu hari nanti, ketika Ardy membuka kedua tangannya, gadis kecil itu justru akan berlari melewatinya karena memiliki banyak hal lain yang ingin dilakukan.
Dan ketika hari itu tiba, Ardy tahu dirinya akan tetap tersenyum.
Namun, mungkin setelah Aisyah pergi, ia akan berdiri lebih lama dari biasanya, mengenang berat tubuh kecil yang dahulu begitu mudah ia angkat.
Menjadi orang tua ternyata memang aneh.
Dulu, kita berdoa agar anak-anak tumbuh sehat, mandiri, dan kuat. Kita ingin mereka bisa berjalan tanpa terjatuh, berani mencoba hal baru, dan tidak selalu bergantung kepada kita.
Namun, setiap kali mereka bertambah besar, ada bagian kecil dari kebersamaan yang perlahan menghilang.
Tangan mungil yang dahulu selalu mencari tangan kita saat berjalan, suatu hari akan berani melangkah sendiri.
Suara mereka yang dahulu memanggil kita untuk hal-hal sederhana, kelak mungkin akan semakin jarang terdengar.
Dan rumah yang dulu dipenuhi tangisan, tawa, langkah kaki berlarian, serta pertengkaran kecil memperebutkan mainan, suatu hari mungkin akan menjadi jauh lebih tenang.
Barangkali saat itulah kita baru benar-benar memahami arti kehilangan.
Bukan kehilangan karena seseorang pergi untuk selamanya, melainkan kehilangan masa-masa yang tidak mungkin diulang.
Kita merindukan anak yang dulu tertidur di dada kita. Merindukan tangan kecil yang menggenggam jari kita erat-erat. Merindukan suara mereka yang memanggil dari kejauhan, bahkan ketika kita hanya pergi ke ruangan sebelah.
Karena itu, aku tidak ingin terlalu sibuk dengan duniaku sendiri sampai lupa menikmati masa ketika mereka masih kecil.
Aku ingin memeluk mereka selagi mereka masih mau dipeluk. Mendengarkan cerita mereka, bahkan ketika ceritanya berulang kali membahas hal yang sama. Menemani mereka bermain meskipun terkadang aku lelah.
Aku ingin tetap menjadi tempat pertama yang mereka cari ketika ingin bercerita.
Sebab aku tahu, suatu hari nanti mereka akan memiliki dunia sendiri. Mereka akan bertemu orang-orang baru, memiliki rahasia kecil, dan menyimpan cerita yang mungkin tidak lagi selalu mereka ceritakan kepadaku.
Dan ketika hari itu tiba, aku tidak ingin menyesal karena terlalu banyak melewatkan hari-hari sederhana yang sebenarnya bisa kunikmati bersama mereka.
Waktu mungkin tidak bisa diperlambat, tetapi selama mereka masih kecil, aku ingin hadir sepenuhnya.
Ardy kembali melangkah setelah Aisyah mulai memainkan kerah bajunya.
Dari arah ruang keluarga, ia melihat Hana sedang duduk di sofa sambil menggendong Sarah yang masih kecil dengan jarik. Tubuh mungil bayi itu bersandar nyaman di dada ibunya, sementara Hana sesekali mengusap punggungnya perlahan.
Rambut Hana sedikit berantakan. Ada beberapa helai yang jatuh di dekat pipinya. Ia tampak begitu sibuk memperhatikan Sarah sampai tidak menyadari kedatangan suaminya.
Ardy berhenti di hadapannya.
Untuk beberapa saat, ia hanya memandang kedua orang yang paling dicintainya itu.
Dulu, hidupnya dipenuhi hal-hal yang tidak pernah ingin ia kenang. Ada masa ketika ia menjalani hari-hari tanpa tujuan, seolah hidup hanya tentang menyelesaikan satu kewajiban sebelum menghadapi kewajiban berikutnya.
Ia tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di rumah seperti ini, membawa seorang anak perempuan yang begitu manja kepadanya, sementara istrinya duduk di sofa dengan bayi mereka dalam gendongan.
Kehadiran Hana telah mengubah begitu banyak hal dalam hidupnya.
Bukan dengan cara yang besar atau tiba-tiba. Bukan pula karena Hana berusaha mengubahnya.
Perempuan itu hanya hadir dengan segala kesederhanaannya, membawa kehangatan yang dahulu tidak pernah Ardy pikirkan akan ia butuhkan.
Ardy membungkuk, lalu mengecup pipi Hana.
Hana menoleh dengan senyum kecil.
Namun, sebelum ia sempat mengatakan sesuatu, sepasang tangan mungil tiba-tiba terentang di antara wajah mereka.
Aisyah mendorong pelan dada ayahnya, berusaha memberi jarak antara Ardy dan Hana.
"Ayah!"
Ardy mengangkat alis.
"Ada apa?"
Aisyah menunjuk pipi Hana.
"Ayah mencium Mama!"
Hana langsung tertawa kecil. Ia mengamati putrinya yang kini berdiri di dekat sofa, masih memasang wajah tidak puas.
"Kenapa, Sayang?" tanya Hana lembut. "Mama kan istri Ayah."
Aisyah menggeleng kuat-kuat, lalu merentangkan kedua tangannya ke arah Ardy.
"Ayah sini!"
Ardy menatap putrinya, kemudian melirik Hana yang tampak berusaha menahan tawa.
"Sepertinya ada yang keberatan Ayah mencium istrinya sendiri."
Hana tersenyum semakin lebar.
"Sepertinya cinta pertama anak perempuan memang Ayahnya."
Ardy mendengus pelan, tetapi sudut bibirnya terangkat.
"Kalau begitu, bagaimana dengan Mama? Apa Mama tidak keberatan kalau Ayah punya penggemar kecil yang selalu mengikuti Ayah ke mana-mana?"
Hana menggeleng.
"Tidak. Mama justru senang melihatnya."
Ardy menatap istrinya sesaat. Kemudian ia kembali memandang Aisyah yang masih menunggu dengan kedua tangan terentang.
"Ada apa lagi, Nona kecil?"
Aisyah menunjuk pipinya sendiri.
"Ayah, kenapa hanya Mama yang dicium?"
Ardy terdiam sepersekian detik.
Lalu tawanya pecah.
"Oh, jadi itu masalahnya?"
Aisyah mengangguk mantap.
"Tentu saja."
"Baiklah, kemarilah."
Ardy membungkuk dan mengecup pipi kanan putrinya.
Aisyah tersenyum puas, tetapi hanya sesaat. Ia segera memiringkan wajahnya ke arah lain.
"Yang sebelah kiri juga!"
Hana kembali tertawa.
Ardy menggeleng sambil memenuhi permintaan putrinya. Ia mengecup pipi kiri Aisyah, lalu mengangkat gadis kecil itu kembali ke dalam pelukannya.
"Sudah?"
Aisyah mengangguk.
Namun, kedua tangannya langsung melingkar di leher sang ayah, seolah ingin memastikan tidak ada orang lain yang akan merebut tempatnya.
Ardy menatap Hana dengan ekspresi pasrah.
"Ini benar-benar versi mini Hana."
Hana mengangkat alis.
"Kenapa malah Mama yang disalahkan?"
"Karena kalau Ayah tidak menuruti keinginannya, dia akan terus meminta sampai dapat. Persis seseorang yang Ayah kenal."
"Siapa?" Hana pura-pura tidak mengerti.
Ardy menatap istrinya lekat-lekat.
"Kamu."
Hana tertawa, lalu menggeleng kecil.
"Aku tidak pernah seperti itu."
"Tentu saja. Menurutmu sendiri, kamu selalu benar."
"Memangnya tidak?"
Ardy mendecakkan lidah, tetapi senyumnya tidak hilang.
Ia kemudian melirik Aisyah yang kini kembali menyandarkan kepala di bahunya, lalu memandang Sarah yang masih nyaman dalam gendongan Hana.
Sebuah pikiran melintas di benaknya.
"Bagaimana nanti kalau anak-anak perempuan ini ngambek bersamaan?" tanyanya. "Aisyah, Sarah, nanti adik-adiknya juga mungkin begitu. Ditambah mamanya."
Ia melirik Hana dengan tatapan penuh arti.
"Wah, Ayah bisa kalah jumlah."
Hana tersenyum sambil membetulkan jarik yang membungkus tubuh Sarah.
"Memangnya selama ini Ayah pernah menang kalau berhadapan dengan kami?"
Ardy menatapnya.
Hana mengangkat wajah, senyumnya semakin jahil.
"Kalau anak-anak ngambek, Ayah pasti akan membujuk mereka. Kalau Mama yang ngambek, Ayah juga akan membujuk Mama. Jadi, menurutku, Ayah sudah tahu apa yang harus dilakukan."
"Jadi, selama ini aku sedang dilatih?"
"Tepat sekali."
Ardy menghela napas panjang, berpura-pura pasrah.
"Hebat. Ternyata aku tinggal di rumah yang seluruh penghuninya punya rencana sendiri."
Hana tertawa pelan.
"Kalau begitu, Ayah boleh pergi ke mana saja. Tidak ada yang melarang."
Ardy langsung menatapnya.
"Siapa bilang Ayah mau pergi?"
Suaranya terdengar ringan, tetapi ia mengeratkan pelukannya pada Aisyah.
"Ayah hanya sedang memikirkan bagaimana caranya bertahan hidup di tengah tiga perempuan."
Hana melirik putri kecilnya.
"Tiga? Bukankah masih ada aku?"
Ardy terdiam.
Kemudian ia memandang istrinya dengan ekspresi tidak percaya.
"Nah, kan. Baru saja Ayah bicara, jumlahnya sudah bertambah."
Hana tertawa sampai bahunya sedikit bergetar. Sarah yang berada dalam gendongannya bergerak kecil, membuat Hana segera mengusap punggung bayi itu dan menurunkan suaranya.
Ardy memperhatikan mereka dengan senyum yang perlahan berubah lembut.
Aisyah masih berada dalam pelukannya. Sarah kembali tenang di dada Hana. Senja di luar jendela semakin gelap, tetapi lampu-lampu rumah mulai menerangi ruangan dengan cahaya hangat.
Untuk beberapa saat, tidak ada yang perlu ia pikirkan selain mereka.
Tidak ada urusan perusahaan. Tidak ada ancaman yang harus diselidiki. Tidak ada masa lalu yang harus ia hadapi malam itu.
Hanya istri dan anak-anaknya.
Ardy menunduk, mencium puncak kepala Aisyah, kemudian mengulurkan tangan untuk menyentuh jemari Sarah yang menyembul dari balik jarik.
Hana memperhatikannya dalam diam.
"Ada apa?" tanyanya ketika menyadari tatapan suaminya.
Ardy menggeleng.
"Tidak ada."
"Kalau tidak ada, kenapa melihat kami seperti itu?"
Ia tersenyum tipis.
"Karena Ayah sedang menikmati waktu bersama kalian."
Hana tidak langsung menjawab. Senyumnya melembut, lalu ia mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Ardy yang berada di dekatnya.
"Kalau begitu, nikmati saja. Kami masih di sini."
Ardy membalas genggaman itu.
Ya, mereka masih di sini.
Aisyah masih akan meminta digendong. Sarah masih akan tertidur dalam pelukan ibunya. Dan Hana masih akan duduk di sampingnya, mengisi rumah yang dahulu tidak pernah ia bayangkan akan menjadi tempat paling ingin ia pulangi.
Suatu hari nanti, semuanya akan berubah.
Anak-anak akan tumbuh. Pelukan kecil itu mungkin akan semakin jarang ia dapatkan. Rumah ini akan memiliki lebih banyak ruang untuk kesunyian.
Namun, sore itu belum tiba.
Sore itu, Aisyah masih memeluk lehernya erat-erat, Sarah masih membutuhkan kehangatan ibunya, dan Hana masih menggenggam tangannya.
Maka Ardy tidak meminta waktu untuk berhenti selamanya.
Ia hanya berharap bisa mengingat hari ini dengan baik.
Sebab kelak, ketika anak-anaknya sudah tumbuh besar dan tak lagi berlarian mengejarnya, ia ingin memiliki cukup banyak kenangan untuk membuatnya tersenyum.
Kenangan tentang tangan kecil yang meminta digendong.
Tentang pipi yang harus dicium dua kali.
Dan tentang rumah yang pernah begitu ramai, sampai-sampai ia mengira dirinya akan kehabisan tenaga menghadapinya.
Barangkali, justru kegaduhan seperti itulah yang kelak paling ingin ia dengar kembali.