“Tidak semua yang hadir ingin dianggap ada. Sebagian hanya menunggu seseorang menyadari bahwa mereka belum pernah pergi.”
Jam menunjukkan pukul 17.46 ketika Naya menyadari sesuatu yang aneh.
Ada tiga puluh tujuh nama di daftar absensi kelasnya.
Padahal, XII IPA 3 hanya memiliki tiga puluh enam siswa.
“Ra, sejak kapan kelas kita ada anak namanya Laras?” tanya Naya kepada sahabatnya.
Kirana yang sedang memasukkan buku ke tas mendadak berhenti.
“Siapa?”
“Laras. Nomor absen tiga puluh tujuh.”
Wajah Kirana berubah pucat.
“Nay, jangan bercanda.”
“Gue serius.”
Kirana merebut kertas itu. Matanya bergerak cepat membaca setiap nama.
Lalu dia berbisik, “Naya, nama terakhir di sini punya siapa?”
“Laras.”
“Nggak ada, Nay.”
Naya menoleh.
Di tangannya, tulisan itu masih terlihat jelas.
37. Laras Ayuningtyas — HADIR.
Keesokan paginya, Naya menemukan sebuah kursi tambahan di pojok belakang kelas.
Kursi itu menghadap tembok.
“Sejak kapan ada kursi di situ?” tanyanya.
Bima mengangkat bahu. “Dari kemarin, kayaknya.”
“Emang siapa yang duduk di sana?”
“Mana gue tahu. Lo kira gue satpam inventaris?”
Naya mendekati kursi tersebut.
Di permukaan mejanya terdapat tulisan yang diukir dalam-dalam.
JANGAN PANGGIL NAMAKU.
Bel masuk berbunyi.
Bu Ratih datang membawa buku absensi.
“Sebelum pelajaran, Ibu absen dulu, ya.”
Satu per satu nama dipanggil.
“Bima Pratama?”
“Hadir!”
“Kirana Putri?”
“Hadir, Bu.”
“Naya Maharani?”
“Hadir.”
Kemudian Bu Ratih terdiam.
Keningnya berkerut.
“Laras Ayuningtyas?”
Seketika ruangan menjadi dingin.
Dari pojok belakang terdengar suara perempuan.
“Hadir, Bu.”
Naya menoleh cepat.
Kursi itu kosong.
Tetapi sekarang posisinya menghadap papan tulis.
Bu Ratih menjatuhkan buku absensi.
Saat istirahat, Naya dan Kirana menemui penjaga sekolah yang sudah bekerja selama puluhan tahun.
Begitu mendengar nama Laras, lelaki tua itu langsung menutup pintu posnya.
“Siapa yang manggil namanya?”
“Bu Ratih, Pak.”
Wajah lelaki itu mengeras.
“Dulu ada siswi bernama Laras. Dia sering dikucilkan teman sekelasnya. Suatu hari, dia menghilang. Setelah itu, namanya selalu muncul lagi di buku absensi, meskipun sudah dihapus berkali-kali.”
“Terus sekarang dia di mana, Pak?” tanya Naya.
Penjaga itu menatap mereka lama.
“Yang harus kalian tanyakan bukan dia di mana.”
“Terus?”
“Siapa yang sekarang duduk di tempatnya?”
Pukul 17.46.
Naya kembali ke kelas untuk mengambil ponselnya yang tertinggal.
Koridor sudah sepi.
Ketika memasuki ruangan, dia mendengar suara kursi bergeser.
Kreeeek.
Kursi pojok belakang bergerak sendiri.
Di atas mejanya tergeletak buku absensi.
Naya membukanya dengan tangan gemetar.
Nama Laras sudah tidak ada.
Sebagai gantinya, muncul tulisan baru.
37. Naya Maharani — HADIR.
Naya mundur.
Dari belakangnya terdengar suara perempuan berbisik.
“Terima kasih sudah menemukan tempatku.”
Lampu kelas padam.
Lalu terdengar suara Bu Ratih, entah dari mana.
“Naya Maharani?”
Naya ingin berteriak.
Tetapi mulutnya bergerak sendiri.
“Hadir, Bu.”
Keesokan paginya, Kirana datang paling awal.
Dia menemukan kursi tambahan di pojok belakang kelas.
Di atas meja terdapat sebuah ponsel milik Naya.
Layarnya menyala, menampilkan pesan yang belum terkirim.
Ra, kalau besok gue nggak masuk, jangan cari gue.
Kirana menangis sambil memanggil nama sahabatnya.
Namun, dari kursi kosong itu terdengar suara pelan.
“Jangan nangis, Ra. Gue di sini.”
Kirana membeku.
Suara itu memang milik Naya.
Tetapi yang membuatnya ketakutan bukan suara tersebut.
Melainkan tulisan baru yang perlahan muncul di permukaan meja.
38. Kirana Putri — MENUNGGU GILIRAN.
Dan dari pengeras suara sekolah yang sudah dimatikan sejak sore kemarin, terdengar bunyi bel masuk.
Disusul suara seorang perempuan.
“Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru.”