*RAMBUT DI ATAS GENTENG*
Kejadian tahun 2014 lalu.
Rumah biru, sebutan rumah yang kami tinggali berdua.
Rumah orang tua istriku. Terasnya tinggi sepinggang, sekeliling depan rumah.
Di depan persis ada pohon jengkol tua, besar, rantingnya udah sampai di atas atap genteng.
Ibu mertua dan Kakak-kakaknya sudah punya rumah sendiri. Rumah ibu mertua hanya dihalangi beberapa rumah.
Adik bungsunya masih di pesantren, sedangkan sang kakak beda RT.
Jadi memang kalau siang pun sepi.
Aku kerja jadi supir. Kerja di jalan membuat ku pulang jam 8, jam 9 malam ta' menentu.
Istriku, Sumi, memang lebih sering sendirian.
10 bulan nikah, akhirnya Sumi positif hamil.
Anak pertama. Kami senang bukan main. Dari awal hamil dia rajin periksa.
Malam itu jadwal Sumi periksa. Jam 9 malam. Aku baru pulang, motor masih panas.
"Yang, ganti baju dulu, kita langsung berangkat ya," kataku.
Sumi sudah siap di teras. Duduk di bibir teras, kakinya digantung. Di tangannya ada sapu lidi 7 batang diikat karet, ujungnya diselipkan bangle dan paku kecil. Kata emak dulu, orang hamil harus bawa itu. Buat jaga-jaga.
Aku masuk ke dalam, buka baju kerja.
Dari dalam, aku dengar Sumi manggil, suaranya nahan takut.
"Yang... Yang sini cepet!"
Aku pikir dia mules. Aku keluar setengah telanjang dada, masih pakai sarung.
Sumi masih duduk di teras, tapi badannya kaku. Dia nunjuk lengannya.
"Yang... ini rambut apa?"
Aku deketin. Di lengan kanan Sumi, ada sehelai rambut hitam, panjang, gerak ke depan ke belakang ketiup angin.
Rambut Sumi sendiri di kuncir, pendek sebahu.
Ini rambutnya panjang banget, halus, agak basah.
Sumi ngikutin helai itu pakai matanya.
Ujung bawahnya di lengan dia. Ujung atasnya...
Aku ikut melihat ke atas.
Rambut itu menjuntai dari atas. Dari gelapnya atap genteng. Atau dari ranting pohon jengkol yang ngegantung di atas rumah. Panjangnya tidak wajar. Seperti ada seseorang yang sedang tiduran di atas genteng, dan rambutnya dibiarin jatuh ke bawah sampai nyentuh orang di teras.
Angin malam itu tidak ada. Tapi rambut itu bergerak sendiri. Ke depan, ke belakang. Gesek-gesek kulit Sumi.
Aku merinding seketika.
"Rambut siapa, Yang? Panjang banget..." Sumi berbisik. Tangannya gemetar, tapi dia tidak berani megang rambut itu.
Aku mau ngambil, tapi tanganku juga takut.
Aku lihat ke atas lagi. Di atas genteng, di sela-sela daun jengkol, gelap. Tapi seperti ada yang lebih gelap dari gelapnya malam.
"MASUK! MASUK DALAM!" aku teriak.
Kami lari masuk, banting pintu papan. Kunci. Lampu di ruang tengah kami hidupkan seterang terangnya. Akhirnya kami tidak jadi pergi periksa.
Karena takut.
Di luar sepi, sunyi, jangkrik pun tidak bunyi.
_
*SOSOK HITAM LEGAM*
Setelah malam rambut itu, kami mencoba hidup biasa.
Aku tetap berangkat kerja jam 7 pagi. Sumi di rumah, nyapu, masak, nahan sepi. Tapi sejak kejadian itu, dia jadi sering mengelus perutnya. Katanya dingin.
Sorenya, dia ke kamar mandi. Celana dalamnya ada flek. Sedikit, tapi coklat kehitaman.
"Sumi nge-flek, Yang..." katanya lirih pas aku pulang.
Aku panik. Malam itu dia tidur tidak nyenyak.
Besoknya masih flek. Masih hitam. Kami langsung ke bidan pagi-pagi sebelum aku kerja.
Bu Bidan periksa, wajahnya serius.
"Usia kandungan 11 Minggu', detak jantung normal. "Kecapekan ini. Istirahat total ya, Bu. Jangan banyak gerak dulu. Ini obatnya diminum."
"Jam 5 sore kalau masih flek, harus USG ke Rumah Sakit. Takutnya ada apa-apa." Kata Bu Bidan.
Aku berangkat kerja dengan was-was. Sumi di rumah sendirian lagi, istirahat di atas ranjang besi itu.
Jam 4 sore, dia tidak tahan. Dia jalan ke rumah ibunya yang beda 2 rumah.
Cerita semua, dari rambut yang menjuntai dari genteng, sampai flek hitam itu.
Di sana ada paman. Paman Sumi ini orangnya pendiam, ngerti-ngerti sedikit.
Paman cuma diam mendengarkan. Lalu dia bilang, "Sini."
Sumi disuruh duduk sila di tengah rumah. Paman duduk di belakangnya. Kedua telapak tangannya ditempelkan di punggung Sumi. Tidak baca apa-apa yang keras, cuma komat-kamit pelan.
Ibu Sumi yang melihat bilang, bulu kuduk paman berdiri semua. Tangannya dingin. Ibu Sumi ikut merinding lihatnya.
Seperti ada yang ditarik. Seperti ada yang berat.
Selesai itu paman tidak ngomong apa-apa. Cuma bilang, "Sudah. Pulang."
Anehnya, jam setengah 6 sore, pas Sumi sampai rumah, fleknya berhenti. Berhenti total. Kami pikir sudah aman. Jadi tidak jadi USG.
Kami salah.
Jam 8 malam, Sumi mulai mules. Melilit, hilang. Melilit lagi, hilang lagi. Jaraknya lama.
"Perutku mules, Yang," katanya sambil keringat dingin.
Aku pikir masuk angin. Aku kerokin punggungnya.
Jam 10 lewat, mulesnya berubah. Bukan mules biasa. Sumi pegang perut bawahnya, mukanya pucat.
"Yang... kayaknya... mau keluar..."
Dia lari ke kamar mandi. Aku ngikutin dari belakang.
Baru setengah buka celana —
*Ada yang jatuh.*
Kecil. Sebesar ibu jari orang dewasa. Tidak ada darah. Tidak ada kantong. Langsung janin. Warnanya abu-abu pucat.
Sumi gemetar, berbisik, "Yang... janin kita..."
Baru setelah dia melangkah keluar dari kamar mandi menuju kamar, darahnya menyusul. Deras. Sepanjang jalan dari kamar mandi ke kamar, lantai papan jadi merah. Darah mengalir, netes, membasahi kaki.
Sumi keguguran.
Aku panik. Aku telpon ibu Sumi, tidak diangkat. Aku bingung. Akhirnya aku tinggalkan Sumi sendirian di kamar yang sudah bersimbah darah itu — aku lari ke rumah ibunya. Rumahnya gelap, dikunci. Mungkin sudah tidur. Sudah jam 11 malam.
Untung di depan rumah ibunya, ada Pak Ruslan tetangga, lagi duduk teleponan di teras.
"Pak! Tolong Pak! Istri saya pendarahan!"
Pak Ruslan langsung keluarin mobil pick-upnya. Aku gendong Sumi dari kamar, darah masih netes di kaosku. Kami bawa ke klinik bidan tadi.
Di klinik, bidan bilang, "Masih banyak sisa jaringan. Harus dikuret. Bawa ke RS sekarang."
Ibu Sumi akhirnya nyusul ke klinik. Dari klinik, Sumi langsung dibawa ke rumah sakit. Ibu yang nemenin.
Aku disuruh pulang untuk ambil salinan surat dan baju ganti Sumi.
Bayangkan. Aku pulang sendirian ke rumah itu jam 12 malam.
Rumah kosong. Lampu redup. Bau amis darah menusuk hidung. Dari kamar mandi sampai kamar berceceran darah merah hitam. Dinginnya bukan main, padahal tidak ada angin. Sepi yang sepi banget.
Aku ngepel darah anakku sendiri sambil nangis. Selesai, aku langsung balik lagi ke RS.
3 hari Sumi dirawat pasca kuret. 3 hari rumah itu kosong total.
Hari ke-4, Sumi pulang. Lemas. Pucat. Aku ambil libur. Siang harinya aku kuburkan janin itu. Di samping rumah, persis di bawah pohon jambu, di samping kamar kami. Kecil, aku kasih batu pertanda.
Malamnya, kami tidur.
Ranjang besi kami tinggi setengah meter. Aku tidur di pojok, menghadap tembok. Sumi membelakangiku, menghadap pintu. Kami satu bantal, tapi ada jarak di tengah. Semakin ke bawah, jarak kami makin lebar, membentuk segitiga.
Sumi pegal tidur miring terus. Dia mau balik badan.
Pas kepalanya nengok ke belakang, mau menghadap aku —
Dia berhenti.
Di tengah-tengah kami berdua, di celah kosong antara aku dan dia, ada seseorang lagi yang sedang tiduran.
Laki-laki.
Rambutnya hitam legam. Tapi leher dan telinganya lebih hitam dari rambutnya, hitam gosong. Pakai baju pangsi hitam, ikat kepala hitam. Kepalanya menghadap ke arahku. Tidur miring persis seperti kami.
Sumi tidak bisa teriak. Badannya kaku. Dia cuma bisa di dalam hati baca,
_"Astaghfirullah hal'adzim..."_ berulang kali.
Mau bangunin aku, sosok itu ada di tengah. Mau lari keluar, tidak ada tenaga. Rumah kosong, siapa yang mau nolong jam segitu.
Karena capek, takut, dan habis keguguran, Sumi akhirnya ketiduran lagi dengan sosok itu masih di tengah kami.
Besok paginya, Sumi cerita ke ibunya sambil nangis.
Ibu Sumi langsung lemas. Ternyata ibu sudah tahu.
"Le, rumah yang kalian tempati itu... dulu rumahnya Wak Ujang," kata ibu pelan.
Wak Ujang itu, waktu masih hidup, rumahnya di tanah itu persis. Satu sore, dia lagi makan di teras. Petir menyambar. Dia kesamber petir di teras rumahnya sendiri. Tergeletak di bawah, hangus.
Setelah dia meninggal, rumahnya dibiarkan lapuk, tidak ada yang berani nempatin. Akhirnya dijadikan kandang ayam sama saudaranya. Lama-lama tanahnya dijual ke bapaknya Sumi, dibangun ulang jadi rumah yang sekarang kami tempati.
Ibu di ceritakan ole Ma Iros, rumahnya di belakang rumah biru, masih ponakannya Wak Ujang. Dia yang lihat sendiri Wak Ujang tergeletak hangus di teras.
Plot twist nya, di samping rumah biru ada makam keluarga udah di pager sekelilingnya, ada beberapa makamnya juga udah lama, di situ ada pohon kecapi besar. Dan yang menunggu pohon tersebut adalah si rambut panjang itu. Rambutnya panjang sampe terseret ke tanah.
Dari cerita Ma Iros, sebenernya tanah yang di beli ayah Sumi adalah tanah yang sudah di wakafkan untuk makam keluarga. Tapi karena Warisan, salah satu dari hak waris menjualnya.
_
*TAMBAHAN*
Beberapa tahun kemudian kami punya rumah sendiri, setelah kami pindah, Imron adik bungsu Sumi menempati rumah biru tersebut sendirian, terkadang ada temannya menginap. Imron lulusan pesantren dan belum menikah.
Kamar yang digunakan bekas kamar kami, sedangkan kamar depan dibiarkan kosong.
Malam itu Imron tidur larut malam. Sendirian. Biasanya ada yang datang main game kumpul bersama, tapi itu tidak ada, sepi.
Alhasil Imron langsung tertidur lelap di atas kasur yang tingginya hanya 50cm di atas lantai. Dia merasa terganggu oleh sesuatu yang ada di atas mukanya...
Beberapa kali dia mengusap wajah nya dengan kasar, tapi sesuatu itu tetap mengganggu tidurnya.
Sambil menahan kantuk iya membuka mata,
Dan sesuatu yang mengganggu itu adalah RAMBUT... rambut yang tergerai panjang, lebat sedang menjuntai diatas mukanya.
Imron yang ngantuk pun ta perduli dengan apa yang dilihatnya, Kemudian tidur lelap sampai pagi...
_selesai_
Note_ Kata orang tua jaman dulu, kalau lagi hujan banyak petir/geluduk ga boleh makan