Delon bukan pelukis galeri.
Dia pelukis jalanan. Tas carrier butut, buku sketsa A3 yang sudutnya sudah menguning, dan sekotak cat air setengah kering.
Aturannya cuma satu: setiap tempat yang membuat dadanya sesak karena terlalu indah, harus dilukis. Kalau tidak, dia merasa sudah berkhianat.
Dari Dieng sampai Savana Sumba, semua sudah jadi cat di bukunya.
Pagi itu, angkot terakhir menurunkannya di sebuah desa yang bahkan tidak ada di Google Maps. Namanya Desa Kalijaga. Supirnya bilang, "Mas, di atas sana ada air terjun. Tapi jarang orang naik. Sepi."
Kata "sepi" itu yang bikin Delon naik.
Jam 5 pagi, embun masih menggigit.
Delon jalan kaki menembus kebun kopi. Jalan setapak licin, suara jangkrik masih sisa semalam. Sampai akhirnya, suara itu terdengar — gemuruh air jatuh.
Air Terjun Kedung Srengenge.
Tidak tinggi, tidak megah seperti foto-foto Instagram. Tapi airnya jatuh dari tebing lumut menjadi kolam bening, dan matahari pagi menyusup malu-malu dari sela-sela pohon pinus. Cahayanya pecah jadi ribuan jarum emas di atas kabut air. Sejuknya bukan main. Sepi. Hanya dia.
Delon menggelar kain, duduk di batu besar, dan mulai melukis. Sapuan pertama: biru dingin untuk air. Sapuan kedua: hijau lumut. Dia begitu fokus sampai tidak sadar kabut sudah naik setinggi lutut.
Sampai kuasnya berhenti.
Dari seberang kolam, sekitar 30 meter, ada sosok.
Seorang gadis. Mungkin seusianya, atau mungkin lebih muda sedikit.
Rambutnya dikuncir rendah, pakai kaos oversize lusuh warna abu-abu, kain jarik dililit di pinggang, dan sandal jepit swallow yang sudah putus sebelah. Di punggungnya ada ikatan kayu bakar yang tingginya hampir melebihi badannya.
Dia tidak cantik seperti model kota. Cantiknya sederhana. Kulit sawo matang karena matahari, peluh di pelipis, tapi matanya jernih. Dia tidak tahu ada yang memperhatikan. Dia hanya pelan-pelan memunguti ranting, sesekali berhenti menatap sunrise yang baru naik di balik pepohonan. Senyum kecil. Puas.
Delon tidak pernah melukis manusia. Dia selalu menghindari. Katanya, manusia terlalu rumit untuk ditangkap cat air.
Tapi pagi itu, tangannya bergerak sendiri.
Dia tambahkan siluet kecil di pojok lukisannya. Di antara pepohonan dan kabut air terjun. Seorang gadis dengan ikatan kayu bakar, sedang menatap matahari.
Gadis itu tiba-tiba menoleh. Kaget melihat ada orang.
"Eh! Masnya siapa?" suaranya lantang, tidak takut.
Delon panik, hampir menjatuhkan catnya. "Eh, saya... saya pelukis! Dari kota! Maaf, saya numpang lukis air terjunnya!"
Gadis itu berjalan mendekat. Kayu di punggungnya berderak.
"Lukis?" Dia mengintip buku sketsa Delon.
Di kertas itu, air terjunnya sudah jadi. Tapi ada dia di dalamnya. Kecil, sederhana, tapi ada.
Gadis itu diam lama.
"Je... jelek ya? Maaf, saya lukis tanpa izin," kata Delon gugup.
Gadis itu tertawa. Giginya putih tidak rata.
"Bukan. Bagus," katanya. "Cuma... baru pertama kali ada yang lukis aku. Biasanya orang foto air terjunnya aja. Aku mah cuma lewat."
Delon memberanikan diri, "Namanya siapa?"
"Sari," jawabnya. "Kalau Mas besok masih di sini, sunrise-nya lebih bagus. Dari jam 5.15. Kabutnya warna pink."
Sari lalu melanjutkan jalan, ikatan kayunya bergoyang-goyang, menghilang di balik kebun kopi.
Delon menatap lukisannya lagi. Air terjun itu indah. Tapi tanpa gadis kecil di pojok itu, lukisannya terasa kosong.
Pagi itu, untuk pertama kalinya dalam 5 tahun berkelana, Delon merobek satu halaman dari buku sketsanya.
Dia lipat rapi, dan berlari menyusul Sari.
"Mbak Sari! Ini... buat Mbak. Biar... biar kayu bakarnya ga sendirian."
Sari menerima kertas itu. Di atasnya, ada dirinya, sunrise, dan air terjun.
Dan sejak hari itu, Delon punya aturan baru: setiap tempat yang indah, harus ada manusianya. Karena alam tanpa manusia yang tinggal di dalamnya, cuma jadi pemandangan.
Kini dia masih di Desa Kalijaga. Katanya, masih banyak sunrise jam 5.15 yang belum selesai dia lukis.
---