Ada rumah di ujung Desa Wonosari, lereng Dieng, yang tidak pernah kering. Bahkan di musim kemarau paling panjang sekalipun, atapnya menetes.
Orang desa menyebutnya Rumah Hujan.
Rumah itu milik Mbah Darmo, 79 tahun. Dulu ia adalah penjaga stasiun hujan — pekerjaan yang bahkan anak muda sekarang tidak tahu artinya. Tugasnya mencatat kapan hujan turun, berapa lama, seberapa deras, dengan alat-alat dari Belanda yang sudah berkarat. Selama 40 tahun, ia mencatat hujan di buku besar bersampul kulit, dengan tulisan tangan yang semakin lama semakin gemetar.
Mbah Darmo tinggal sendiri setelah istrinya meninggal 10 tahun lalu. Anak-anaknya di kota. Rumah itu besar, dari kayu jati tua, dengan banyak jendela. Dan di setiap jendela, tergantung botol-botol kaca.
Botol kaca bekas sirup, bekas kecap, bekas parfum. Ratusan. Di dalamnya ada air.
"Ini arsip saya," kata Mbah Darmo jika ada yang bertanya.
Setiap kali hujan turun, Mbah Darmo akan keluar dengan botol kosong, menadahkan air hujan langsung dari langit, bukan dari talang. Lalu ia beri label: tanggal, jam, dan satu kalimat.
Misalnya: _12 Januari 2018, jam 4:17 sore. Hujan deras, bau tanah basah, anak saya pulang._
Atau: _3 Maret 2019, jam 2 pagi. Gerimis kecil, saya mimpi istri saya masih menggoreng tempe._
Orang desa menganggap Mbah Darmo sudah pikun.
Sampai suatu hari, seorang perempuan 26 tahun datang ke desa itu. Namanya Rani. Ia dari Jakarta, bekerja di sebuah perusahaan aplikasi cuaca. Perusahaannya ingin membuat fitur "memori cuaca" — jadi pengguna bisa tahu cuaca di hari ulang tahunnya, atau di hari pertama kali bertemu pacarnya. Untuk itu, mereka butuh data hujan yang sangat lokal, yang tidak tercatat di BMKG.
Atasan Rani menemukan nama Mbah Darmo di arsip kolonial Belanda. Satu-satunya penjaga stasiun hujan manual yang masih hidup di Jawa Tengah.
Rani datang dengan ransel besar, sepatu gunung yang masih baru, dan laptop yang baterainya cepat habis karena dingin Dieng.
"Mbah, saya mau beli data hujan Mbah," kata Rani di hari pertama.
Mbah Darmo yang sedang menjemur botol-botolnya hanya mengangguk. "Tidak dijual. Tapi boleh dibaca."
Rani mengira akan mudah. Ternyata tidak. Buku besar Mbah Darmo ada 40 buah, masing-masing setebal bantal. Tulisannya tangan, campur bahasa Jawa, bahasa Indonesia, dan Belanda. Dan botol-botol itu — ada lebih dari 800 botol — tidak boleh disentuh tanpa izin.
Minggu pertama, Rani frustasi. Ia tinggal di rumah Mbah Darmo karena tidak ada penginapan. Listrik hanya menyala 6 jam sehari. Sinyal tidak ada. Laptopnya jadi pemberat ransel. Ia menangis diam-diam di kamar belakang karena kedinginan dan karena ia merasa gagal.
Mbah Darmo tidak menghibur. Ia hanya meletakkan secangkir teh jahe panas di depan pintu kamar Rani setiap jam 5 pagi, lalu pergi ke kebun kentangnya.
Di hari ke-8, hujan turun. Hujan pertama yang Rani lihat di Dieng. Deras, dingin, berkabut.
Mbah Darmo bergegas keluar dengan dua botol kosong. Rani ikut keluar karena penasaran.
"Kenapa Mbah tidak pakai ember saja biar banyak?" tanya Rani sambil menggigil.
"Kalau pakai ember, airnya rebutan. Kalau pakai botol, satu hujan satu cerita. Biar tidak berantem," jawab Mbah Darmo.
Rani tertawa untuk pertama kalinya di desa itu.
Malamnya, Mbah Darmo mengizinkan Rani membuka satu botol. Botol dari tanggal 14 Agustus 1998.
Mbah Darmo membuka labelnya dan membacakan: _14 Agustus 1998, jam 7 malam. Hujan badai. Listrik mati 3 hari. Istri saya melahirkan anak kedua di puskesmas dengan lampu petromaks. Anaknya perempuan, suaranya keras seperti hujan ini._
"Anak itu sekarang di mana, Mbah?" tanya Rani.
"Di Jakarta. Jadi orang cuaca seperti kamu. Namanya Rani juga."
Rani terdiam. Ia tidak tahu. Ayahnya memang bernama Darmo, tapi ia tidak pernah bercerita bahwa ia penjaga stasiun hujan. Ayahnya hanya bilang ia petani kentang di Dieng. Dan ibunya memang meninggal saat Rani umur 16.
Rani membuka dompetnya. Di dalamnya ada foto kecil ibunya menggendong bayi di depan puskesmas.
Mbah Darmo melihat foto itu lama.
"Foto ini diambil setelah hujan reda," katanya pelan.
Sejak malam itu, Rani tidak lagi datang sebagai peneliti dari Jakarta. Ia datang sebagai cucu yang pulang.
Ia tidak lagi menyalin data hujan ke Excel. Ia membantu Mbah Darmo memberi label botol-botol baru. Ia belajar cara membedakan bau hujan pagi dan hujan sore. Hujan pagi baunya seperti daun teh, hujan sore baunya seperti asap kayu bakar.
Mbah Darmo juga mulai bercerita lebih banyak. Ternyata setiap botol bukan hanya arsip cuaca. Itu adalah buku harian.
Botol 17 Juni 2005: _Hujan 20 menit saja. Istri saya bilang, kalau hujan sebentar itu tandanya ada yang kangen tapi malu datang. Sore itu anak pertama saya telepon dari Jakarta, bilang kangen._
Botol 2 Desember 2012: _Tidak hujan 40 hari. Sumur kering. Saya berdoa bukan untuk hujan, tapi untuk istri saya yang sesak napasnya. Malamnya hujan, tapi istri saya tetap pergi._
Rani menemukan satu rak khusus di pojok rumah, tertutup kain. Di sana ada 15 botol yang airnya lebih bening dari yang lain, dan labelnya kosong.
"Ini untuk apa, Mbah?"
"Untuk hujan yang belum datang. Untuk kamu."
Mbah Darmo bilang, ia sudah menyiapkan botol-botol kosong untuk 15 hujan ke depan, untuk diisi bersama Rani. Karena ia tahu, umurnya tidak lama lagi. Dan ia tidak ingin rumah itu berhenti menetes.
Di bulan kedua, Rani mendapat telepon dari kantornya di Jakarta. "Data sudah dapat? Kita butuh minggu ini."
Rani melihat sekeliling rumah. 800 botol. 40 buku besar. Mbah Darmo yang sedang tertidur di kursi kayu sambil memeluk botol kosong.
"Belum, Pak. Data di sini tidak bisa di-copy paste. Harus ditunggu hujan dulu," jawab Rani.
Ia mematikan teleponnya.
Ia memutuskan untuk tinggal 3 bulan lagi.
Selama 3 bulan itu, Rani dan Mbah Darmo punya ritual baru. Setiap hujan turun, mereka keluar bersama, masing-masing membawa botol. Mereka berlomba siapa yang botolnya penuh duluan. Setelah itu mereka masuk, mengeringkan rambut dengan handuk yang sama, minum teh jahe, dan Mbah Darmo akan menulis label, sementara Rani akan menulis cerita yang lebih panjang di buku tulis kecilnya.
Cerita-cerita itu bukan tentang cuaca lagi. Tentang Rani kecil yang takut petir, tentang Mbah Darmo muda yang jatuh cinta pada istrinya karena istrinya bisa meramal hujan dari sakit lututnya, tentang ibu Rani yang suka menari di bawah hujan pertama.
Di hari ke-89 Rani di Dieng, Mbah Darmo sakit. Demam tinggi. Dokter puskesmas bilang paru-parunya kemasukan air, karena terlalu sering kehujanan.
Rani panik. Ia ingin membawa Mbah Darmo ke rumah sakit di Wonosobo, tapi jalan longsor karena hujan 3 hari berturut-turut.
Malam itu hujan sangat deras. Rumah Hujan benar-benar menjadi rumah hujan. Atap bocor di mana-mana. Ember, panci, wajan, semua dipakai untuk menampung air. Suaranya berisik seperti gamelan.
Mbah Darmo terbangun dari demamnya. Ia melihat Rani menangis sambil menampung air bocor.
"Jangan ditampung," kata Mbah Darmo pelan.
"Kenapa?"
"Biarkan saja jatuh. Kadang hujan tidak perlu disimpan. Cukup didengarkan."
Rani meletakkan embernya. Ia duduk di lantai kayu yang basah, di sebelah kakeknya.
Malam itu, untuk pertama kalinya, mereka tidak menampung hujan. Mereka hanya mendengarkan.
Mbah Darmo meninggal dua hari kemudian, pagi hari, tepat setelah hujan reda. Di sampingnya ada botol terakhir yang sempat ia isi semalam, saat demam. Labelnya tulisannya berantakan, hampir tidak terbaca, tapi Rani bisa membacanya:
_7 Oktober 2026, jam 3 pagi. Hujan paling deras tahun ini. Cucu saya Rani ada di sini. Rumah tidak bocor lagi karena ada yang menemani._
Rani tidak langsung kembali ke Jakarta. Ia tinggal 40 hari lagi di Rumah Hujan untuk menyelesaikan upacara adat. Ia juga menyelesaikan 15 botol kosong yang disiapkan Mbah Darmo.
Botol pertama setelah Mbah Darmo meninggal ia beri label: _9 Oktober 2026, jam 5 sore. Hujan kecil, tidak ada bau. Saya sendirian tapi rumah ini masih menetes. Mbah, saya kangen._
Warga desa membantu Rani memperbaiki atap. Tapi Rani meminta satu bagian atap sengaja tidak diperbaiki, yang di atas meja kayu tengah. "Biar tetap ada yang menetes," katanya.
Setahun kemudian, Rani kembali ke Jakarta, tapi tidak kembali ke perusahaan aplikasi cuaca. Ia resign. Ia membuat sebuah website sederhana bernama "Rumah Hujan". Di website itu, orang bisa menitipkan cerita hujan mereka. Rani akan membacakannya, lalu menyimpan air hujan Dieng dalam botol kecil dan mengirimkannya ke mereka yang menitip cerita, dengan label tanggal cerita itu terjadi.
Misalnya, ada yang menulis: _Hujan 14 Februari 2020, saya ditembak pacar saya di bawah payung._
Rani akan mengirimkan botol dengan label: _14 Februari 2020 versi Dieng. Hujan rintik jam 6 sore, bau kopi._
Website itu viral. Bukan karena teknologinya, tapi karena idenya yang aneh dan manusiawi: bahwa hujan bisa disimpan dan dikirim.
Rumah di ujung Desa Wonosari itu sekarang dijaga oleh Pak RT dan anak-anak muda desa. Mereka melanjutkan tradisi Mbah Darmo: menampung hujan dalam botol. Turis datang bukan untuk melihat candi, tapi untuk melihat 800 botol hujan dengan label tulisan tangan.
Dan di tengah rumah, di atas meja yang sengaja dibiarkan kehujanan, ada satu botol yang tidak pernah ditutup. Botol milik Rani dan Mbah Darmo. Setiap ada hujan, air di botol itu bertambah, lalu tumpah, lalu menguap, lalu diisi lagi oleh hujan berikutnya.
Seperti ingatan. Tidak pernah penuh, tidak pernah kosong. Selalu berganti, tapi selalu ada.
Jika kamu ke Dieng saat musim hujan, dan kamu masuk ke Rumah Hujan, kamu akan melihat seorang perempuan berkacamata, duduk di lantai kayu yang basah, menulis label dengan tulisan yang mirip tulisan Mbah Darmo: tanggal, jam, dan satu kalimat jujur tentang hari itu.
Dan jika kamu tanya, "Untuk apa semua ini?"
Ia akan menjawab, seperti Mbah Darmo dulu menjawab:
"Karena kita semua butuh bukti bahwa kita pernah ada di hari hujan. Bahwa tangis kita pernah bersatu dengan air langit, dan itu tidak apa-apa."