Kurindu kebersamaan itu, kurindu mereka. Kurindu kebersamaan baik yang masih hidup maupun yang sudah mati. Kuharap bahagia selalu kalian, keadaan akhir-akhir ini, Indonesia Raya sedang kacau. Banyak hal yang terjadi. Berapa lama lagi kota tercinta, dan negeri ini kacau? Ingin kukembali ke masa jaya, bukan masa lampau yang kumaksud, tapi masa bahagia. Masa sulitnya pun tidak mau kulupakan lagi. Ku ingin terus hidup, tetapi bukan hanya dengan penyesalan, tapi juga dengan perubahan yang lebih baik. Berapa banyak lagi kekacauan di negeri ini. Kapan berakhirnya? Aku rindu kedamaian. Kedamaian tanpa perang. Banyak orang baik di dunia ini, sayangnya banyak yang mati. Banyak yang hidup sebagai penjahat, ingin berubah merasa terlambat. Sahabatku, teman-teman ku, orang yang aku sayang. Tetaplah hidup, sayang tidak mau kehilangan lagi. Saya hanya ingin tahu, apakah akan ada hari esok. Semoga saja esok lebih cerah dari hari ini. Semoga saja esok ada gerimis, hujan yang mencurahkan hatiku. Kuingin tahu, apakah akan ada esok lagi? Semoga saja tidak ada perang lagi. Tuhan, kuhanya ingin hari esok yang damai, izinkanlah saya beristirahat hari ini. Esok saya harap, akan ada matahari terbit dari timur, bukan dari barat, saya masih belum mau kiamat. Saya ingin sekali tahu siapa saja yang masih hidup, tapi saya malu bertanya, yang menjadi sangsi adalah sudah bertanya saya masih sesat di jalan. Bagaimanakah cara tidak sesat di jalan? Bagaimana kah cara agar saya hidup tanpa penyesalan? Hidup tanpa banyak tanda tanya, apakah saya di sayangi karuniamu, saya yakin Engkau Yang Maha Pengasih masih menyayangiku. Engkau Yang Esa masih menyayangiku. Terimakasih atas segala limpahan rahmadmu. Semoga saja esok masih ada matahari. Semoga saja esok masih ada awan, akan lebih baik jika mendung, Kalimantan sudah hujan, kuharap banyak pohon hidup di sana. Rembang belum hujan sampai sekarang, tembakaunya sempurna, nasinya banyak, makanannya berlimpah, airnya tidak kurang. Banyak doa hari ini. Semoga saja masih ada hari esok. Semoga saja akan ada hari esok. Semoga saja esok lebih baik lagi. Semoga kelimpahan Rahmadmu lebih banyak lagi, bukan siksa dunia, bukan siksa akhirat. Ujianmu belum berakhir memang. Kutidak ingin ada yang di racuni seperti tokoh dalam novel yang kutulis, "The Sunshine Ariadne." Kubenci orang yang memerintahkan untuk meracuni anak-anak. Indonesia Raya jangan bangkrut, kalau engkau bangkrut, bagaimana nasip Rakyatmu. Apakah pada akhirnya Rakyat Indonesia akan benar-benar bahagia? Apakah Rakyat, dan Pemerintah bisa akur? Kuharap selalu bahagia, tetapi kenyataanya tidak sebahagia itu. Aku masih bisa bahagia. Tetapi aslinya penderitaan itu masih belum berakhir. Negeri tercinta Indonesia kapan kamu akan hidup tanpa sengsara. Apakah sengsaramu belum berakhir? Kapankah sengsaramu berakhir? Apakah pemimpinmu masih serakah? Semoga saja tidak serakah lagi. Hanya tinggal beberapa tahun lagi. Kuharap esok akan ada yang namanya pagi menyingsing. Bukankah matahari tenggelampun indah? Keindahan ini yang saya rindukan. Tapi saya tidak suka menderita, menderita itu sakit. Saya juga tidak suka melihat orang lain menderita. Aku sudah bangun pagi, tapi sayangnya aku tidak melihat matahari terbit. Tidak melihatnya tenggelam juga. Padahal seminggu lalu aku melihat matahari terbit. Enak ya bisa melihat matahari terbit. Tapi kemarin mataku berair melihat matahari terbit. Sayang sekali aku malah menangis bukan tertawa. Masih tertawa tapi terluka juga. Sampai berbicara dengan diri sendiri. Latihan bicara juga.
Jauhadi 7 Oktober 2026.