>>Lentera di Balik Rak Nomor 9
Malam itu, Perpustakaan Pusat Universitas Diponegoro terasa lebih dingin dari biasanya. Arkan merapatkan jaket denimnya, menatap lembaran-lembaran diktat Arsitektur Kuno yang berserakan di meja. Jam digital di ponselnya menunjukkan pukul 22.45. Lima belas menit lagi perpustakaan tutup.
"Masih mau di sini sampai jam kuno berdentang, Ar?" sebuah suara berbisik renyah di sebelahnya.
Arkan menoleh. Kalila, mahasiswi Arkeologi yang selama enam bulan terakhir ini memenuhi pikirannya, sedang tersenyum tipis. Rambut ikalnya dikuncir kuda, dan ada noda tinta hitam di pipi kirinya. Bagi Arkan, noda itu justru membuat Kalila terlihat seribu kali lebih menarik.
"Aku harus menyelesaikan analisis struktur benteng ini, Kal. Kalau tidak, dosen killer besok pagi akan mencincang nilai-nalku," jawab Arkan sambil terkekeh pelan.
Kalila duduk di kursi kosong di hadapan Arkan. "Aku punya sesuatu yang lebih menarik daripada sekadar tugas strukturmu. Lihat ini."
Kalila menyodorkan sebuah pembatas buku berbahan kulit tua yang tampak usang. Di atasnya, tertulis baris kalimat menggunakan tinta emas yang memudar:
“Di mana tujuh pilar bertemu malam, carilah detak yang tak pernah diam. Langkah pertama bermula di angka yang hilang, sebelum fajar menghapus bayang.”
Arkan mengernyit. "Apa ini? Puisi cinta gagal?"
"Ini teka-teki, Arkan," mata Kalila berbinar penuh gairah detektifnya. "Aku menemukannya terselip di dalam buku harian Profesor Danu—dosen Arkeologi kita yang dilaporkan hilang secara misterius tiga hari lalu. Polisi bilang beliau pergi karena urusan pribadi, tapi aku tahu ada yang tidak beres. Profesor Danu tidak akan pernah meninggalkan penelitian pentingnya begitu saja."
Jantung Arkan berdesir. Bukan hanya karena misteri hilangnya sang profesor, tetapi karena kedekatan posisi duduk mereka sekarang. Aroma vanila dari parfum Kalila bercampur dengan bau kertas tua perpustakaan, menciptakan atmosfer yang memabukkan sekaligus menegangkan.
"Lalu, apa hubungannya dengan kita?" tanya Arkan, mencoba tetap rasional.
"Teka-teki ini merujuk pada perpustakaan ini, Ar. Tujuh pilar itu... bukankah itu pilar utama di aula lantai satu? Dan 'angka yang hilang'... coba kau pikirkan."
Sebelum Arkan sempat menjawab, lampu utama perpustakaan tiba-tiba padam. Bzzzt. Suara korsleting terdengar pelan, disusul oleh kegelapan total yang menyelimuti ruangan luas tersebut. Hanya lampu darurat kecil berwarna hijau di sudut-sudut pintu yang menyala remang-remang.
"Halo? Pak Joko?" Arkan memanggil nama satpam perpustakaan. Keheningan mencekam menjadi jawaban. Ponsel Arkan tiba-tiba mati total. Layarnya menghitam dan tidak bisa dinyalakan.
"Ponselku juga mati," bisik Kalila, suaranya mulai bergetar. Dia reflek meraih lengan Arkan. Sentuhan tangan Kalila yang dingin mengirimkan gelombang hangat sekaligus debaran kencang di dada Arkan.
"Tenang, Kal. Mungkin hanya pemadaman listrik berkala. Mari kita ke pintu keluar," kata Arkan berusaha menenangkan, sambil menggenggam balik tangan Kalila untuk memberi kekuatan.
Namun, saat mereka melangkah menuju pintu kaca utama di lantai dua, mereka mendengarkan sesuatu. Klak. Klak. Klak. Suara langkah kaki dengan sepatu sol keras bergema dari lantai bawah. Langkah itu lambat, namun pasti, bergerak menaiki tangga melingkar menuju lantai tempat mereka berada.
Arkan menarik Kalila ke balik jajaran rak buku tinggi. "Ada orang lain di sini. Dan kurasa itu bukan Pak Joko."
Dari celah buku-buku lama, mereka melihat siluet tinggi besar berjalan menembus kegelapan. Orang itu membawa sebuah senter dengan cahaya ultraviolet keunguan, memindai setiap rak. Wajahnya tertutup masker hitam rapat.
"Dia mencari apa yang aku bawa," bisik Kalila sangat lirih di dekat telinga Arkan. Napasnya yang hangat membuat Arkan merinding. "Buku harian Profesor Danu. Orang itu yang membuat Profesor menghilang!"
Ketakutan dan adrenalin bercampur aduk. Arkan tahu mereka terjebak. Pintu keluar utama dijaga oleh penyusup itu. Satu-satunya jalan adalah memecahkan teka-teki Profesor Danu untuk menemukan jalan keluar rahasia yang sering dirumorkan ada di gedung tua ini.
"Kal, fokus pada teka-tekinya," bisik Arkan sambil menatap mata Kalila di kegelapan. "‘Langkah pertama bermula di angka yang hilang’. Apa maksudnya?"
Kalila berpikir keras, jemarinya meremas jaket Arkan. "Angka yang hilang... Di perpustakaan ini, klasifikasi buku menggunakan sistem Dewey. Tapi ada satu rak di lorong sayap barat yang nomor klasifikasinya melompat. Rak nomor 9! Jalur sejarah lokal melompat dari 910 langsung ke 930. Angka 920 hilang!"
"Bagus. Ayo ke sana sebelum orang itu menyadari kita di sini," ujar Arkan.
Mereka merangkak dengan sangat hati-hati di antara lorong rak yang gelap gulita. Suara langkah kaki si penyusup terdengar menjauh ke sayap timur, memberi mereka waktu.
Saat tiba di rak nomor 9, Arkan menyalakan korek api gas kecil yang selalu dibawanya. Cahaya jingga kecil menerangi deretan buku berdebu. Benar saja, di bagian tengah rak, terdapat ruang kosong yang seharusnya diisi oleh kategori 920. Di dinding kayu di balik ruang kosong itu, terdapat ukiran simbol mata angin yang aneh.
"Di mana tujuh pilar bertemu malam, carilah detak yang tak pernah diam," Arkan menggumamkan bait selanjutnya. "Detak yang tak pernah diam... Jam dinding?"
"Bukan," sela Kalila, matanya menatap ukiran mata angin. "Perpustakaan ini dibangun di atas bekas laboratorium bawah tanah zaman kolonial. 'Detak' bisa berarti mesin atau pompa air kuno yang masih berfungsi di bawah pilar aula! Lihat pilar-pilar itu dari atas sini."
Dari balkon lantai dua dekat rak 9, mereka bisa melihat ke bawah menuju aula utama. Tujuh pilar besar berdiri melingkar. Bayangan pilar-pilar itu akibat lampu darurat membentuk pola rumit di lantai marmer.
"Arkan, lihat! Bayangan pilar ketujuh menunjuk tepat ke lantai di bawah kita!" Kalila berseru pelan dengan nada girang.
Namun, kegembiraan mereka terputus. Sreeet! Cahaya senter ultraviolet tiba-tiba menyorot langsung ke arah mereka. Si penyusup telah kembali dan menemukan posisi mereka!
"Lari!" teriak Arkan.
Arkan menyambar tangan Kalila. Mereka berlari sekencang-kencangnya menyusuri koridor lantai dua. Di belakang mereka, si penyusup mengejar dengan kecepatan luar biasa. Suara derap langkahnya bagaikan detak jantung kematian yang memburu.
"Ke tangga darurat belakang!" seru Kalila.
Mereka menerobos pintu darurat dan menuruni tangga beton dengan tergesa-gesa. Kalila sempat tersandung, namun dengan sigap Arkan menangkap pinggangnya, menariknya erat ke pelukannya sebelum gadis itu terjatuh. Untuk sedetik yang terasa seperti keabadian, mata mereka bertemu di keremangan.
"Aku takkan membiarkan sesuatu yang buruk menimpamu," bisik Arkan tulus. Kalila mengangguk, rona merah tipis muncul di pipinya meski dalam kondisi mencekam.
Mereka tiba di lantai dasar, tepat di ruang bawah tanah di bawah aula pilar. Ruangan ini penuh dengan pipa-pipa besi besar yang berdesis dan mesin generator tua yang berdegub konstan—detak yang tak pernah diam.
Di tengah ruangan, terdapat sebuah meja kerja tua yang berantakan. Di atasnya terletak kacamata Profesor Danu dan sebuah laptop yang layarnya masih menyala menyajikan enkripsi data. Profesor Danu tidak diculik ke luar kampus; beliau disembunyikan—atau bersembunyi—di sini!
"Profesor!" panggil Kalila.
Dari balik bayang-bayang mesin generator, muncul seorang pria tua dengan pakaian kusut dan wajah pucat. Profesor Danu! "Kalila? Arkan? Bagaimana kalian bisa sampai ke sini? Tempat ini tidak aman!" ujarnya panik.
"Kami memecahkan teka-teki Anda, Prof. Tapi kami diikuti," kata Arkan cepat.
Pintu besi di atas tangga darurat tiba-tiba digedor dengan keras. Brak! Brak! Brak! Si penyusup mencoba mendobrak masuk. Pintu itu dilengkapi selot besi kuat, namun tidak akan bertahan lama terhadap hantaman bertubi-tubi.
"Dia mencari formula bahan bakar sintetis yang saya temukan di situs purbakala," kata Profesor Danu dengan suara gemetar. "Dia bekerja untuk korporasi hitam. Saya mengunci diri di sini untuk mengamankan data ini."
"Kita harus keluar dari sini, sekarang!" kata Kalila, melihat engsel pintu atas mulai longgar.
Profesor Danu menggeleng lemah. "Pintu keluar rahasia di ruangan ini menggunakan kunci kombinasi mekanis empat digit. Saya menyembunyikan kodenya di dalam bait terakhir teka-teki yang belum sempat saya tulis di pembatas buku itu."
"Apa bait terakhirnya, Prof?" Arkan mendesak sambil menahan pintu bawah dengan sebuah balok kayu untuk memperlambat penyusup.
Profesor Danu mencoba mengingat dalam kepanikan. "‘Awal dari segalanya adalah akhir dari pencarian. Jumlahkan air mata sang waktu, dan temukan gerbang kebebasan.’"
Brak! Pintu atas berhasil didobrak. Langkah kaki si penyusup terdengar menuruni tangga beton menuju ruang bawah tanah.
Arkan dan Kalila berlari ke arah pintu keluar rahasia—sebuah dinding baja tebal di sudut ruangan dengan roda pemutar angka kuno.
"Awal dari segalanya adalah akhir dari pencarian..." Kalila bergumam panik, air mata mulai menggenang di pelupuk matanya karena takut. "Apa maksudnya, Ar?"
Arkan menggenggam kedua pundak Kalila, menatapnya dalam-dalam untuk menenangkannya. "Kal, lihat aku. Kita bisa melakukan ini bersama. Pikirkan dengan logika arkeologimu. 'Awal dari segalanya'..."
Kalila mencoba menstabilkan napasnya. Kehadiran Arkan yang begitu dekat dan protektif memberikan kekuatan instan. "Awal dari segalanya... Angka pertama di dunia? Nol? Atau tahun berdirinya universitas ini?"
"Jumlahkan air mata sang waktu," Arkan melirik jam mekanis besar di dinding ruang bawah tanah yang berdetak konstan. Jam itu menunjukkan angka Romawi. Universitas ini berdiri tahun 1957. Tapi jam di dinding itu... jam itu berhenti di angka 1, 9, 6, dan 0 karena berkarat.
"Bukan tahun berdiri, tapi angka yang terhenti pada jam itu! 1, 9, 6, 0!" seru Arkan.
Si penyusup telah sampai di dasar tangga. Dia memegang sebuah linggis besi besar, matanya berkilat penuh amarah di balik masker. "Serahkan laptop dan buku hariannya, atau kalian tidak akan pernah keluar dari sini hidup-hidup!" ancamnya dengan suara berat yang terdistorsi.
"Kalila, masukkan angkanya! Cepat!" Arkan pasang badan di depan Kalila dan Profesor Danu, siap menghadapi si penyusup dengan tangan kosong jika diperlukan.
Kalila memutar roda mekanis dengan gemetar: 1... 9... 6... 0.
Klik. Clack. Sreeeech.
Pintu baja tebal itu bergeser terbuka, menampakkan jalur terowongan yang diterangi lampu jalan dari luar. Terowongan itu tembus ke area taman belakang kampus yang terbuka!
"Masuk, Prof! Kal, cepat!" teriak Arkan.
Profesor Danu berlari masuk terlebih dahulu membawa laptopnya. Kalila menyusul, namun si penyusup melemparkan linggis besarnya ke arah mereka. Linggis itu melesat cepat. Dengan refleks cepat, Arkan menarik Kalila dan memutar tubuhnya, membiarkan linggis itu menggores lengan kanannya sendiri.
"Arkan!" jerit Kalila.
Arkan meringis kesakitan, namun dia berhasil melompat masuk ke dalam terowongan bersama Kalila. Dengan sisa tenaganya, Arkan menarik tuas penutup dari bagian dalam. Pintu baja itu menutup rapat dengan dentuman keras, mengunci si penyusup di dalam ruang bawah tanah sendirian.
Mereka semua ambruk di atas rumput taman belakang kampus yang basah oleh embun malam. Udara segar merasuk ke paru-paru mereka. Di kejauhan, lampu-lampu kota Semarang terlihat berkelap-kelip dengan damai, sangat kontras dengan ketegangan maut yang baru saja mereka lalui.
Profesor Danu terduduk sambil memeluk laptopnya, menangis lega. "Terima kasih, anak-anak. Kalian telah menyelamatkan hidupku dan hasil kerja kerasku."
Kalila tidak memedulikan hal lain. Dia langsung berlutut di samping Arkan, memeriksa lengan Arkan yang terluka. Air matanya menetes di atas kain jaket Arkan yang robek.
"Kau terluka karena melindungiku," bisik Kalila dengan suara serak menahan tangis.
Arkan tersenyum, menggunakan tangannya yang tidak terluka untuk menghapus air mata di pipi Kalila. "Aku akan melakukannya seribu kali lagi jika itu artinya memastikan kau aman, Kal."
Kalila menatap mata Arkan, menemukan ketulusan yang mendalam di sana. Ketakutan yang tadi merayap kini sepenuhnya digantikan oleh kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tanpa ragu lagi, Kalila memajukan wajahnya dan mengecup lembut pipi Arkan, lalu menyandarkan kepalanya di bahu pria itu.
"Teka-teki tersulit malam ini sudah terpecahkan," bisik Kalila pelan.
"Oh ya? Teka-teki yang mana?" tanya Arkan sambil melingkarkan lengannya di pinggang Kalila.
"Teka-teki tentang bagaimana perasaanmu kepadaku," jawab Kalila sambil tersenyum manis di bawah siraman cahaya bulan.
Dari kejauhan, terdengar sirene mobil polisi yang dipanggil oleh Profesor Danu lewat interkom darurat terowongan. Misteri telah terungkap, bahaya telah berlalu, dan di antara dinginnya malam kampus, sebuah kisah cinta baru saja dimulai dengan detak yang takkan pernah diam.
Bagaimana dengan alur ceritanya? Tolong berikan komentarnya ya♥︎
Jangan lupa like serta komentarnya >^‐^<
~~Satu komentar kalian sangat lah berarti bagiku♡~~
Terimakasih telah membaca karyaku ^-^