Untuk kamu yang pernah aku sebut rumah,
Aku menulis ini bukan untuk meminta kamu kembali, hanya untuk mengeluarkan semua yang terlalu lama kupendam sendiri.
Aku kecewa. Bukan karena kamu pergi, tapi karena aku pernah begitu yakin kamu tidak akan pernah pergi. Ketulusanku dulu begitu besar, lalu kamu khianati dengan begitu tenangnya. Kita sama-sama tulus, sayang. Aku tulus mencintai, kamu tulus menyakiti.
Masih ada sayang di sini, jangan salah. Sayang itu tidak hilang saat kamu memilih pergi. Ia hanya kebingungan, tidak tahu lagi harus pulang ke mana setelah rumahnya tidak menerimanya lagi.
Kamu bilang aku selalu takut dan berlebihan. Mungkin benar. Tapi tahukah kamu kenapa? Karena setiap kali aku mencoba mengajakmu bicara, aku merasa tidak didengarkan. Aku takut kehilangan, karena pelan-pelan aku merasa tidak lagi dianggap ada. Rasa takut itu lahir dari rasa sayang yang tidak menemukan tempat aman.
Dan sekarang aku bimbang. Setengah hatiku ingin benar-benar melupakanmu dan melanjutkan hidup. Setengahnya lagi masih bodoh menunggu kamu kembali menjadi sosok yang dulu kukenal di awal.
Tapi untuk hari ini, biarlah rasa yang terpendam ini kutitipkan lewat tulisan. Ada rindu yang tidak akan pernah kusebut lagi namanya, karena menyebut namamu saja sudah cukup membuatku sakit.