Di pinggiran kota yang terlupakan, ada stasiun kereta api tua bernama Stasiun Halim. Tidak ada jadwal kedatangan atau keberangkatan yang terpampang. Penduduk lokal percaya bahwa kereta di sana hanya muncul bagi mereka yang benar-benar ingin pergi, bukan sekadar pindah tempat.
Budi, seorang akuntan yang merasa hidupnya macet, duduk di bangku kayu stasiun itu setiap Jumat sore. Ia tidak punya tiket, tidak punya tujuan. Ia hanya ingin lari dari rutinitas yang membosankan.
Suatu Jumat, kabut tebal turun mendadak. Suara peluit kereta terdengar, meski tidak ada rel yang terlihat jelas di depan. Sebuah kereta uap hitam legam berhenti di hadapannya. Pintunya terbuka sendiri.
Konduktur, seorang pria dengan topi tinggi dan wajah yang sulit diingat, tersenyum. "Tujuan Anda, Tuan?"
"Saya tidak tahu," jawab Budi jujur. "Saya hanya ingin keluar dari sini."
"Bagus," kata konduktur. "Kereta ini hanya berhenti di tempat di mana jiwa Anda perlu berada. Bukan di mana alamat Anda tertulis."
Budi naik. Di dalam gerbong, penumpangnya beragam: seorang wanita tua yang membawa foto anak yang hilang, seorang pemuda dengan gitar rusak, dan seorang pria bisnis yang menangis diam-diam. Mereka tidak saling bicara, tapi ada rasa solidaritas aneh di antara mereka.
Kereta bergerak menembus kabut. Pemandangan di luar jendela berubah cepat: dari kota abu-abu menjadi hutan hijau, lalu lautan biru, hingga padang pasir berbintang. Budi merasakan beban di dadanya perlahan terangkat. Ia menyadari bahwa "macet" dalam hidupnya bukan karena pekerjaan, tapi karena ia berhenti bermimpi.
Ketika kereta berhenti lagi, pintu terbuka. Budi turun di sebuah taman kecil yang familiar. Itu adalah taman dekat rumah masa kecilnya, tempat ia dulu senang menggambar. Konduktur melambai dari jauh. "Selamat datang kembali di awal."
Budi tersenyum. Ia tidak pulang ke kantor hari itu. Ia pulang ke dirinya sendiri.