“Asma, makan gih... Dari pagi lu belum makan sedikit pun. Ngopi terus, aneh. Udah tahu punya asam lambung, pun.”
Aku mengabaikan nasihat sahabatku itu sembari menikmati kopi dingin dalam cup. Sesekali, aku menusuk cilok level setan yang kubeli di sekitar rest area.
Aku meringis saat merasakan perutku mulai melilit. Ada rasa terbakar yang menjalar hingga ke tenggorokan, tetapi kembali kuabaikan.
Aku menggulir layar ponsel, berselancar menuju room chat langgananku.
Aku rindu kekasihku.
Aku ingin bertemu dengannya...
Namun, begitu masuk ke room chat, apa yang kulihat tidak sesuai dengan ekspektasiku. Mataku mulai memanas. Aku menggigit bibir, membaca apa yang tertulis di room chat itu.
Perutku kembali melilit. Bukan hanya itu, tiba-tiba suhu tubuhku terasa panas.
Aku mematikan ponsel saat mobil rombonganku selesai beristirahat dan akan kembali melanjutkan perjalanan.
Mobil baru saja bergulir pelan ketika sahabatku tiba-tiba berteriak.
“Asma! Hidung lu berdarah!”
Aku kaget. Refleks, aku mengusap hidungku yang ternyata memang berdarah.
Aku mimisan...
Mimisan untuk kedua kalinya setelah beberapa tahun terakhir aku tidak pernah mengalaminya lagi.
Aku teringat mimisan pertamaku, saat aku menjadi siswa baru di zaman SMA.
Di dalam mobil mulai ribut. Aku hanya bisa berucap lirih,
“Aku oke... Aku baik-baik saja.”
Namun, lain yang keluar dari mulut, lain pula yang dirasakan tubuhku.
Sesaat kemudian, tiba-tiba duniaku terasa gelap. Aku hanya mampu mendengar suara teriakan sahabat dan teman-temanku.
“Asma...!”
Entah berapa lama aku terpejam. Yang kuingat, ketika membuka mata, aku sudah berada di sebuah klinik.
“Lu stres, lu kecapean, lu kehabisan energi.”
Sahabatku mengomel begitu aku tersadar.
“Maaf,” ucapku pelan.
Aku menarik napas panjang sebelum akhirnya berkata,
“Aku kangen Mama... Ayo pulang.”
Akhirnya, perjalanan selama delapan jam itu berakhir.
Aku telah kembali ke rumah.
Anehnya, sakit yang kurasakan seolah langsung menghilang begitu pintu rumah itu terbuka.
Aku berlari dan langsung memeluk Mama, ibuku yang katanya sedang sakit.
Mama memelukku erat, mengusap punggungku dengan hangat.
Aku menahan isakku.
Menguncinya rapat-rapat bersama semua masalah yang selama ini kupendam.
Bukan sekarang waktunya untuk menangis, bisikan ku.
270906
Jateng memories