Sore di Desa Giripurno selalu datang dengan wajah yang sama: tenang, dingin, dan lekas muram. Terletak di balik lipatan lereng gunung yang rimbun oleh pohon pinus dan beringin tua, desa itu seolah memiliki siklus waktunya sendiri. Cahaya matahari tenggelam bukan dengan kehangatan warna keemasan, melainkan dengan guratan merah pekat menyerupai luka yang tergores di atas kain abu-abu. Bagi warga lokal, perubahan warna langit di ufuk barat bukan sekadar penanda bergantinya hari, melainkan aba-aba untuk mengunci pintu, menarik selendang penutup jendela, dan memanggil anak-anak yang masih berkeliaran di jalanan tanah.
"Reno! Segera pulang! Sudah hampir magrib!"
Suara Mbah Sumo, nenek Reno, memecah kesunyian teras rumah panggung kayu mereka. Wanita tua berusia tujuh puluh tahun itu berdiri dengan tangan memegang sapu lidi, matanya yang mulai rabun menatap cemas ke arah jalan setapak yang membentang menuju area perkebunan warga.
Reno, yang baru dua minggu menetap di desa itu setelah kepindahannya dari megahnya kota Jakarta, hanya mendengus pelan. Ia sedang duduk di atas batu besar di bawah naungan pohon beringin tua yang tumbuh di persimpangan jalan desa. Di tangannya, sebuah ponsel pintar terpampang layar kosong tanpa sinyal.
"Bentar lagi, Mbah. Masih tanggung," jawab Reno santai tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel. Bagi remaja berusia enam belas tahun yang terbiasa dengan gemerlap lampu kota dan keramaian 24 jam, aturan-aturan desa terasa bagaikan belenggu yang konyol.
"Jangan main-main dengan senja, Le," suara Mbah Sumo bergetar, kali ini lebih berat dan dipenuhi kecemasan yang teramat sangat. "Pamali. Kalau langit sudah memerah darah dan bau tanah mulai melati, itu tandanya tempat ini bukan lagi milik kita. Mereka sedang bangun. Masuk ke rumah sebelum azan!"
Reno mengibaskan tangannya, mengabaikan peringatan itu. "Mbah, di kota jam segini orang baru mulai keluar jalan-jalan. Lagipula, apa bedanya sore sama malam? Cuma masalah terang sama gelap. Logis aja, Mbah."
Mbah Sumo menghela napas panjang, merapatkan kain sampingnya, lalu berjalan masuk ke rumah sambil menggumamkan doa-doa keselamatan. Ia tahu betul keras kepalanya sang cucu. Rasa percaya diri khas anak muda yang dibesarkan oleh logika modern sering kali membuat mereka buta terhadap hal-hal yang berada di luar jangkauan indra manusia biasa.
Angin sore bertiup semakin kencang, membawa hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Suasana desa mendadak menjadi sangat sunyi. Tidak ada lagi suara jangkrik atau kepakan sayap burung yang terbang kembali ke sarangnya. Bahkan pepohonan di sekitar persimpangan itu tampak membeku, daun-daunnya berhenti bergoyang seolah sedang menahan napas. Bau tanah basah yang bercampur dengan aroma bunga melati busuk—aroma khas yang tak tahu dari mana asalnya—mulai merayap naik memenuhi udara.
Reno merapatkan jaket hitam yang dikenakannya. Kulit tengkuknya tiba-tiba Merinding hebat. Sekali lagi ia menatap ponselnya, lalu mengutuk pelan ketika daya baterainya mendadak merosot dari tiga puluh persen menjadi satu persen dalam hitungan detik, sebelum akhirnya mati total.
"Ah, sial. Baterai drop lagi," umpatnya.
Ia akhirnya memutuskan untuk berdiri dan berniat melangkah pulang. Namun, tepat ketika tumit kakinya terangkat dari tanah, sebuah nada pertama berkumandang dari pengeras suara surau tua yang terletak sekitar dua ratus meter dari tempatnya berdiri.
Allahu Akbar, Allahu Akbar...
Suara azan magrib bergema, memecah kesunyian desa. Namun, ada yang salah dengan gema tersebut. Suara sang muazin yang biasanya terdengar lantang dan jernih kini terdengar sedikit tersendat, seperti tertutup oleh lapisan suara lain yang sangat tipis namun mengerikan. Suara kedua itu menyerupai desisan napas yang berat, bergulir tepat di belakang telinga Reno.
Reno mematung. Langkah kakinya mendadak terasa amat berat, seakan-akan ada lumpur hisap yang menahan kedua pergelangan kakinya. Cahaya lampu jalan minyak yang ada di dekat beringin mulai berkedip-kedip tidak stabil.
Di atas tanah yang tertutup sisa-sisa cahaya jingga yang makin redup, Reno melihat bayangannya sendiri. Karena posisi sisa cahaya berada di belakangnya, bayangan tubuhnya terbentang ke depan, memanjang di atas tanah kering. Namun, saat Reno berdiri sepenuhnya diam tanpa bergerak sedikit pun, bayangan di bawah kakinya justru bergerak secara mandiri.
Jari-jemari dari bayangan hitam itu meliuk-liuk abnormal. Ukuran jemarinya memanjang, meruncing bagaikan cakar binatang buas. Reno membelalakkan mata, mencoba mengucek penglihatannya. "Ini pasti cuma ilusi cahaya," batinnya berusaha menenangkan diri yang mulai diliputi kepanikan luar biasa.
Namun, prasangka logisnya runtuh seketika saat bayangan di atas tanah itu mulai terangkat.
Bukan hanya siluet bayangan biasa yang memantulkan bentuk tubuh, bayangan hitam pekat itu perlahan-lahan memiliki volume dan wujud tiga dimensi. Kegelapan itu mengental, merayap naik dari permukaan tanah seolah-olah sebuah cairan hitam pekat yang melawan gravitasi. Bayangan itu terus tumbuh tinggi, melebihi tinggi badan Reno, hingga mencapai hampir tiga meter.
Asyhadu an la ilaha illallah...
Bait kedua azan berkumandang. Suara gema dari surau kini terdengar sangat jauh, seolah-olah Reno telah dipindahkan ke dimensi lain yang hampa udara. Suara-suara alam sepenuhnya lenyap. Yang tersisa hanyalah suara detak jantungnya sendiri yang berdegup kencang seperti drum perang, serta suara helaan napas berat dan basah dari sosok hitam yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Bayangan hitam itu tidak memiliki wajah yang jelas. Wujudnya bagaikan asap tebal bertubuh tinggi menjulang dengan proporsi tubuh yang tidak proporsional: tangannya panjang menjuntai hingga menyentuh tanah, dan kepalanya condong ke depan. Perlahan, di bagian yang seharusnya menjadi wajah dari wujud gelap itu, terbelah dua garis horizontal. Dari belahan itu, muncul dua titik cahaya berwarna merah menyala bagaikan bara api yang disiram minyak.
Mata merah itu menatap lurus ke dalam manik mata Reno.
Reno mencoba berteriak meminta tolong, tetapi tenggorokannya terasa tersumbat batu besar. Tidak ada suara yang keluar dari mulutnya selain desahan napas yang terengah-engah. Ketakutan yang amat sangat menjalar dari telapak kakinya, membekukan seluruh saraf dan ototnya. Tubuhnya bergetar hebat.
Sosok bayangan hitam itu menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya yang berupa kegelapan murni ke arah wajah Reno. Hawa dingin yang amat menusuk—dingin yang tidak berasal dari alam ini—menguar dari wujud tersebut. Aroma melati busuk dan daging yang membusuk kini menyengat hidungnya begitu kuat hingga membuat perut Reno mual luar biasa.
"Kenapa... belum... pulang...?"
Sebuah suara merayap masuk langsung ke dalam pikiran Reno. Suara itu bukan keluar dari udara, melainkan bergaung di dalam tempurung kepalanya. Suaranya serak, bertumpuk-tumpuk seperti gabungan dari puluhan bisikan manusia yang sedang kesakitan.
Jari-jemari hitam pekat yang berupa cakar panjang itu perlahan terangkat, bergerak hendak menyentuh dahi Reno. Begitu ujung cakar hitam itu berada hanya beberapa milimeter dari kulitnya, Reno merasakan sensasi terbakar yang amat sangat, seolah-olah es batu yang sangat dingin ditempelkan paksa ke kulitnya.
Hayya 'alas-salah...
Bait azan berikutnya bergema lebih keras. Suara itu seperti memecah selaput kedap udara yang melingkupi tempat Reno berdiri. Energi dari lantunan panggilan salat itu seolah memberi hentakan listrik pada tubuh Reno yang teratung-atung dalam ketakutan.
"Lari, Reno! Lari!" jerit naluri teratas dalam dirinya.
Dengan segenap sisa tenaga yang masih dimilikinya, Reno memaksa kakinya yang terasa seperti semen cair untuk melangkah mundur. Ia membalikkan badan dengan kasar, hampir saja jatuh tersungkur di atas tanah berdebu, lalu berlari sekencang-kencangnya menuju arah rumah Mbah Sumo.
Ia tidak berani menoleh ke belakang. Namun, ia bisa merasakan bahwa kegelapan itu tidak tinggal diam. Suara helaan napas berat itu terdengar menyelimuti langkah kakinya, seolah-olah sosok menjulang itu melayang tepat di atas punggungnya, mengejar dengan kecepatan yang konstan. Setiap kali langkah kaki Reno menapak tanah, bayangan-bayangan pohon di pinggir jalan seakan-akan julur keluar, mencoba menggapai pergelangan kakinya.
"Mbah! Mbah Sumo!" akhirnya suara Reno berhasil keluar, memecah kepanikan dalam bentuk jeritan histeris.
Lampu teras rumah panggung Mbah Sumo terlihat menyala kuning redup di kejauhan. Wujud rumah itu bagaikan satu-satunya pulau keselamatan di tengah lautan kegelapan yang siap menelannya. Reno terus memacu kecepatannya, mengabaikan rasa sakit di paru-parunya yang terasa mau meledak karena kekurangan oksigen.
Hayya 'alal-falah...
Saat bait azan itu berkumandang, Reno sudah mencapai pekarangan rumah. Ia melompati tangga kayu teras rumah dengan ceroboh, membuat papan-papan kayu tua itu berderit keras. Tanpa membuang waktu, ia mendorong pintu depan yang ternyata tidak terkunci rapat dan melemparkan tubuhnya ke dalam rumah.
BRAK!
Reno membanting pintu kayu itu rapat-rapat, lalu segera menggeser grendel besi tua untuk menguncinya dari dalam. Tubuhnya merosot ke lantai kayu, terduduk lemas dengan napas memburu dan keringat dingin yang membasahi seluruh pakaiannya.
Di dalam rumah, suasana begitu tenang. Bau minyak tanah dari lampu tempel dan aroma wewangian kayu cendana dari kamar Mbah Sumo menyambutnya. Neneknya sedang duduk di atas sajadah di sudut ruang tamu, baru saja menyelaraskan mukenanya untuk memulai ibadah. Mbah Sumo menatap cucunya dengan pandangan yang campur aduk: antara marah, sedih, dan lega.
"Kau membawanya sampai ke depan pintu, Le," bisik Mbah Sumo pelan, hampir tak terdengar.
Reno mendongak, matanya yang membelalak dipenuhi ketakutan menatap neneknya. "M-Mbah... di luar... ada... ada bayangan..."
Belum sempat Reno menyelesaikan kalimatnya, tiga ketukan pelan terdengar di permukaan pintu kayu yang baru saja dikuncinya.
Tuk. Tuk. Tuk.
Ketukan itu tidak berasal dari bagian luar handle pintu, melainkan bersumber dari bagian paling bawah pintu—tepat di celah sempit antara bagian bawah kayu pintu dan ambang lantai.
Reno menahan napasnya. Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana asap hitam pekat, tipis seperti bayangan, mencoba merayap masuk melalui celah bawah pintu tersebut. Asap itu membentuk jari-jemari kecil yang berusaha menggapai ujung kaos kakinya.
Mbah Sumo dengan tenang mengangkat tangannya, lalu melanjutkan bacaan doanya dengan suara yang tegas dan nyaring. Ia tidak beranjak dari tempat duduknya, tetapi pancaran fokus dari raut wajahnya seolah menciptakan benteng tak kasatmata di dalam ruangan tersebut.
Saat lantunan azan dari surau mencapai bait terakhirnya—La ilaha illallah—asap hitam yang merayap di bawah pintu mendadak menguap tajam, mengeluarkan bunyi desisan seperti air yang disiramkan ke atas bara api panas. Bersamaan dengan lenyapnya suara azan, suasana di luar rumah benar-benar berubah menjadi hening total. Hawa dingin yang mencekam perlahan menyurut, digantikan oleh malam dingin yang normal.
Reno terkulai di atas lantai, menyandarkan kepalanya pada dinding kayu. Seluruh badannya lemas tanpa daya. Logika modern yang selama ini ia agung-agungkan di kota besar mendadak runtuh tanpa sisa dalam hitungan menit.
Mbah Sumo mengakhiri doanya, lalu berjalan perlahan menghampiri cucunya. Ia berlutut di samping Reno, mengusap kepala remaja itu dengan telapak tangannya yang keriput namun terasa hangat.
"Waktu magrib adalah waktu perbatasan, Reno," ucap Mbah Sumo lembut, kali ini tanpa nada amarah. "Saat matahari tenggelam, dunia kita dan dunia mereka bersinggungan sangat dekat. Azan magrib adalah penanda sekaligus perlindungan. Barangsiapa yang meremehkan perbatasan itu dan tetap berada di luar saat panggilan bergema, mereka akan melihat apa yang seharusnya tidak boleh dilihat oleh mata manusia."
Reno hanya bisa mengangguk pelan. Tenggorokannya masih terlalu kering untuk mengucapkan kata maaf atau bantahan.
Malam itu, Desa Giripurno kembali diselimuti kegelapan malam yang pekat. Reno berjalan menuju kamarnya dengan langkah gemetar. Saat ia mematikan lampu kamar dan menyisakan cahaya remang-remang dari luar jendela, ia melihat bayangannya sendiri di dinding. Bayangan itu kini diam, mengikuti setiap pergerakan tubuhnya dengan patuh.
Namun, jauh di dalam hatinya, Reno tahu satu hal pasti: setiap kali senja mulai memerah dan nada azan magrib pertama mulai berkumandang, ia tidak akan pernah lagi berani menatap bayangannya sendiri.