Namaku Raka.
Aku bukan anak yang pintar.
Bukan anak yang tampan.
Bukan pula anak yang memiliki prestasi untuk dibanggakan.
Aku hanya anak kedua dari tiga bersaudara yang lahir dari keluarga sederhana.
Ayahku seorang buruh bangunan.
Ibuku berjualan gorengan di depan rumah.
Kakakku bekerja di sebuah perusahaan setelah lulus kuliah.
Adikku masih sekolah dan selalu menjadi kebanggaan keluarga.
Sedangkan aku?
Aku bahkan tidak tahu apa yang bisa kubanggakan dari diriku sendiri.
Sejak kecil, aku terbiasa mendengar perbandingan.
“Lihat kakakmu. Dia rajin.”
“Adikmu saja punya cita-cita. Kamu?”
“Umur segitu masih malas-malasan.”
“Kalau kamu begini terus, mau jadi apa?”
Awalnya kata-kata itu terasa menyakitkan.
Lama-kelamaan, aku terbiasa.
Dan ketika seseorang terlalu sering diberi tahu bahwa dirinya tidak berguna, terkadang dia mulai mempercayainya.
Aku pun begitu.
Aku berhenti bermimpi.
Berhenti berusaha.
Berhenti berharap.
Aku hanya bangun setiap pagi, makan, tidur, bermain ponsel, lalu mengulanginya lagi keesokan hari.
Aku tidak punya tujuan.
Aku tidak punya cita-cita.
Aku bahkan tidak punya alasan untuk merasa bahwa hidupku penting.
Sampai suatu hari, seseorang bertanya kepadaku.
“Kalau kamu meninggal besok, siapa yang bakal kehilangan kamu?”
Aku tertawa.
“Kayaknya nggak ada.”
Ternyata aku salah.
Aku hanya belum mengetahuinya.
1
Hari itu hujan turun sejak pagi.
Aku sedang duduk di teras ketika kakakku pulang membawa sebuah kotak.
“Rak.”
“Hm?”
“Bantu angkat.”
Aku berdiri.
“Ke mana?”
“Ke kamar.”
Aku membantu membawanya.
Begitu sampai kamar, kakakku berkata,
“Kamu jangan terus-terusan begini.”
Aku diam.
“Umurmu sudah dua puluh empat.”
Aku tetap diam.
“Kerja kek. Jangan cuma di rumah.”
“Aku lagi cari.”
“Cari?”
Kakakku tertawa kecil.
“Dari tahun lalu bilang cari kerja.”
Aku menunduk.
“Kalau memang nggak bisa seperti aku, minimal jangan bikin Ayah sama Ibu pusing.”
Kalimat itu sederhana.
Tapi entah kenapa hari itu terasa lebih berat.
Aku keluar dari kamar.
Di ruang tengah, Ayah sedang menghitung uang hasil kerjanya.
Tidak banyak.
Aku tahu itu.
Aku juga tahu selama ini aku hanya menjadi tambahan beban.
Aku masuk kamar.
Menutup pintu.
Lalu berbaring.
Ponsel berada di tanganku.
Aku membuka media sosial.
Teman-temanku sudah banyak yang menikah.
Ada yang membeli kendaraan.
Ada yang mendapat pekerjaan bagus.
Ada yang pergi berlibur.
Aku hanya melihat layar.
Kemudian mematikannya.
“Untuk apa aku hidup kalau akhirnya cuma begini?”
Pertanyaan itu muncul begitu saja.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak langsung menepisnya.
2
Keesokan paginya aku bangun lebih awal.
Bukan karena ingin bekerja.
Aku hanya mendengar suara batuk Ibu dari dapur.
Aku keluar kamar.
Ibu sedang menggoreng bakwan.
Wajahnya terlihat lelah.
“Bu.”
Ibu menoleh.
“Sudah bangun?”
“Ibu sakit?”
“Cuma masuk angin.”
Aku melihat tangannya.
Ada bekas luka kecil akibat terkena minyak panas.
“Biar aku yang goreng.”
Ibu tertawa.
“Kamu bisa?”
“Bisa lah.”
Aku mengambil spatula.
Gorengan pertama gosong.
Ibu tertawa.
“Katanya bisa?”
Aku ikut tertawa.
“Namanya juga percobaan.”
Pagi itu sederhana.
Tidak ada yang istimewa.
Namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku merasa berguna.
Aku membantu Ibu sampai dagangan selesai.
Siang harinya, aku pergi membeli bahan.
Besoknya aku membantu lagi.
Lusa juga.
Seminggu kemudian, Ibu berkata,
“Kalau kamu memang belum dapat kerja, bantu Ibu dulu saja.”
Aku mengangguk.
Awalnya hanya membantu.
Lalu aku mulai mencoba membuat sambal sendiri.
Kemudian membuat variasi gorengan.
Aku belajar menghitung modal.
Belajar menghitung keuntungan.
Belajar bagaimana membuat pelanggan kembali.
Tidak ada yang menyuruhku.
Aku hanya merasa senang ketika melihat orang tersenyum setelah membeli makanan buatan kami.
Suatu sore, seorang anak kecil datang.
“Bang, tahu isi satu.”
Aku memberikan pesanannya.
Anak itu mengambil satu gorengan.
Lalu tersenyum.
“Enak.”
Aku ikut tersenyum.
“Besok datang lagi.”
“Iya!”
Anak itu berlari pulang.
Entah kenapa kalimat sederhana itu membuat dadaku hangat.
3
Beberapa bulan kemudian, keadaan mulai berubah.
Aku tidak menjadi kaya.
Tidak juga mendadak sukses.
Tapi aku mulai menghasilkan uang sendiri.
Aku memberikan sebagian kepada Ibu.
“Ini buat belanja.”
Ibu menatap uang itu.
“Kamu simpan saja.”
“Sudah ada.”
“Buat apa?”
Aku tersenyum.
“Buat Ibu.”
Ibu tidak menjawab.
Matanya berkaca-kaca.
Sejak saat itu, aku mulai memiliki tujuan kecil.
Membayar listrik.
Membantu biaya sekolah adikku.
Membelikan obat untuk Ayah.
Membuat Ibu tidak perlu berjualan sendirian.
Aku mulai sadar bahwa ternyata kebahagiaan tidak selalu berbentuk rumah besar atau mobil mahal.
Kadang kebahagiaan adalah ketika Ayah pulang dan bisa makan tanpa memikirkan uang.
Kadang kebahagiaan adalah ketika Ibu bisa tidur lebih awal.
Kadang kebahagiaan adalah ketika adikmu tersenyum karena uang sekolahnya sudah dibayar.
Dan anehnya...
aku mulai merasa hidupku berarti.
4
Suatu malam, aku bertemu Naya.
Dia adalah pelanggan yang sering membeli gorengan.
Biasanya dia datang sekitar pukul delapan malam.
“Bang, seperti biasa.”
“Bakwan tiga?”
“Dua.”
“Dua minggu terakhir selalu bilang tiga.”
Naya tertawa.
“Bangkrut nih.”
Aku menyerahkan gorengannya.
“Gratis satu.”
Dia terkejut.
“Serius?”
“Anggap promosi.”
“Kok baik?”
“Biar pelanggan nggak kabur.”
Naya tersenyum.
“Bang Raka ternyata bisa bercanda juga.”
Sejak malam itu kami sering berbicara.
Tentang pekerjaan.
Tentang keluarga.
Tentang mimpi.
Naya bekerja di sebuah toko pakaian.
Dia ingin suatu hari membuka toko sendiri.
Aku mendengarkan ceritanya.
“Kamu sendiri punya mimpi?”
Aku terdiam.
“Dulu nggak.”
“Sekarang?”
Aku memandang gerobak kecil milik Ibu.
“Sekarang mungkin aku ingin punya tempat makan kecil.”
“Kenapa?”
“Biar orang bisa makan enak dengan harga murah.”
Naya tersenyum.
“Itu bagus.”
“Menurutmu?”
“Iya.”
“Padahal kecil.”
“Tidak ada mimpi yang terlalu kecil.”
Aku tersenyum.
Kalimat itu tinggal di kepalaku lama sekali.
5
Satu tahun berlalu.
Usahaku berkembang.
Gerobak kecil berubah menjadi warung sederhana.
Tidak besar.
Hanya beberapa meja.
Namun setiap sore selalu ada pelanggan.
Aku mempekerjakan seorang pemuda bernama Deni.
Dia hampir putus sekolah karena tidak punya biaya.
Aku memberinya pekerjaan paruh waktu.
“Bang, kenapa mau nerima saya?”
“Karena dulu aku juga nggak tahu mau jadi apa.”
“Terus sekarang?”
Aku tertawa.
“Masih nggak tahu.”
Deni tertawa.
Namun aku tahu jawabannya.
Aku tahu apa yang ingin kulakukan.
Aku ingin membantu orang-orang yang pernah merasakan apa yang kurasakan.
Orang-orang yang dianggap tidak berguna.
Orang-orang yang kehilangan arah.
Orang-orang yang hanya membutuhkan seseorang untuk berkata:
“Tidak apa-apa. Coba sekali lagi.”
6
Namun keluarga tidak langsung berubah.
Kakakku masih sering meremehkanku.
“Cuma warung kecil.”
Aku tidak membalas.
Suatu hari dia berkata,
“Kalau mau sukses jangan puas dengan begini.”
Aku tersenyum.
“Aku memang belum sukses.”
“Lalu?”
“Tapi aku bahagia.”
Dia diam.
Aku melanjutkan pekerjaan.
Aku tidak lagi membutuhkan pengakuannya.
Karena untuk pertama kalinya, aku mulai mengakui diriku sendiri.
Aku bukan anak paling pintar.
Bukan anak paling sukses.
Tetapi aku ternyata bisa berguna.
7
Kemudian Ayah jatuh sakit.
Tubuhnya semakin lemah.
Kami membawanya ke rumah sakit.
Dokter mengatakan Ayah harus banyak beristirahat.
Aku mengambil lebih banyak pekerjaan.
Pagi mengurus warung.
Siang membeli bahan.
Malam menjaga Ayah.
Tidur hanya beberapa jam.
Ibu menyuruhku istirahat.
“Ayah bisa dijaga Ibu.”
“Aku nggak capek.”
Padahal tubuhku mulai sering pusing.
Suatu malam aku hampir jatuh ketika berdiri.
Naya melihatnya.
“Kamu kenapa?”
“Kurang tidur.”
“Kamu harus periksa.”
“Nanti.”
“Raka.”
Aku tersenyum.
“Tenang. Aku masih kuat.”
Naya memandangku lama.
“Kamu selalu bilang begitu.”
Aku tertawa kecil.
“Mungkin karena aku memang harus kuat.”
8
Beberapa bulan kemudian, kondisi Ayah membaik.
Warung semakin ramai.
Adikku lulus sekolah.
Ibu tidak lagi harus bekerja terlalu keras.
Aku akhirnya merasa...
semuanya baik-baik saja.
Pada ulang tahun Ibu, aku membeli kue kecil.
Kami makan bersama.
Ayah tersenyum.
Kakakku datang bersama istrinya.
Adikku membawa hadiah.
Untuk pertama kalinya, kami duduk bersama tanpa membicarakan siapa yang lebih sukses.
Ibu memandangku.
“Terima kasih, Nak.”
Aku tersenyum.
“Untuk apa?”
“Sudah berubah.”
Aku tertawa.
“Dulu aku separah itu?”
Ibu mengangguk sambil tertawa.
“Parah.”
Semua ikut tertawa.
Malam itu adalah salah satu malam paling bahagia dalam hidupku.
Aku tidak tahu bahwa itu adalah malam terakhir kami lengkap.
9
Dua minggu kemudian, aku jatuh sakit.
Awalnya hanya demam.
Aku tetap bekerja.
Kemudian tubuhku semakin lemah.
Naya memaksaku pergi ke dokter.
Aku akhirnya menurut.
Setelah pemeriksaan, dokter memintaku menjalani beberapa pemeriksaan lanjutan.
Aku menunggu hasilnya.
Sampai akhirnya dokter memanggilku.
Wajahnya serius.
Aku langsung tahu.
Ada sesuatu yang salah.
Aku tidak akan menceritakan semuanya kepada keluargaku.
Bukan karena aku tidak sayang.
Aku hanya takut mereka kembali khawatir.
Aku masih ingin melihat Ibu tersenyum.
Masih ingin melihat Ayah sehat.
Masih ingin melihat adikku bekerja.
Masih ingin melihat Naya mencapai mimpinya.
Aku ingin melakukan banyak hal.
Tapi waktu ternyata tidak peduli dengan rencana manusia.
10
Aku mulai menyembunyikan kondisiku.
Setiap pagi aku tetap membuka warung.
Setiap malam aku tetap tersenyum.
Deni tidak tahu.
Ibu tidak tahu.
Ayah tidak tahu.
Naya tahu.
Dan dia satu-satunya orang yang berani marah.
“Kamu bodoh.”
Aku tersenyum.
“Mungkin.”
“Kamu pikir semua orang akan bahagia kalau kamu pura-pura kuat?”
Aku menunduk.
“Aku cuma tidak ingin mereka sedih.”
Naya menangis.
“Kalau kamu pergi, kami justru lebih sedih.”
Aku terdiam.
“Berhenti mencoba menyelamatkan semua orang sendirian.”
Aku memandangnya.
“Aku dulu hidup karena tidak ada yang membutuhkan aku.”
Aku menarik napas.
“Sekarang aku hidup karena terlalu banyak orang yang membutuhkanku.”
Naya menangis semakin keras.
Aku mengusap kepalanya.
“Jadi aku harus berusaha selama masih bisa.”
11
Hari-hari terakhirku terasa aneh.
Aku mulai menulis surat.
Untuk Ibu.
Untuk Ayah.
Untuk kakakku.
Untuk adikku.
Untuk Deni.
Dan satu untuk Naya.
Aku tidak menulis tentang kematian.
Aku hanya menulis terima kasih.
Untuk Ibu:
“Terima kasih sudah tidak menyerah padaku, bahkan ketika aku menyerah pada diriku sendiri.”
Untuk Ayah:
“Maaf karena dulu aku membuat Ayah kecewa. Ternyata menjadi anak biasa juga tidak apa-apa.”
Untuk kakakku:
“Terima kasih sudah membuatku sadar bahwa aku harus berdiri dengan kakiku sendiri.”
Untuk adikku:
“Jangan menjadi seperti Kakak. Kejarlah apa yang kamu inginkan sejak sekarang.”
Untuk Deni:
“Kalau suatu hari warung ini menjadi milikmu, jangan lupa membantu orang lain.”
Dan terakhir...
Untuk Naya.
Aku membutuhkan waktu paling lama untuk menulisnya.
Akhirnya hanya ada satu kalimat.
“Kalau nanti kamu punya toko sendiri, beri nama apa saja. Asalkan jangan namaku.”
12
Pada suatu sore, hujan turun.
Aku sedang duduk di depan warung.
Naya datang.
“Pulang.”
“Sebentar.”
“Kamu kelihatan pucat.”
“Aku cuma mau lihat hujan.”
Dia duduk di sampingku.
Kami diam.
Aku melihat jalan yang basah.
Lampu kendaraan memantul di genangan.
Aku tersenyum.
“Naya.”
“Hm?”
“Menurutmu aku gagal?”
Dia menoleh.
“Dalam hal apa?”
“Dalam hidup.”
Naya menggeleng.
“Tidak.”
“Padahal aku tidak jadi orang kaya.”
“Siapa bilang sukses harus kaya?”
Aku tertawa kecil.
“Benar juga.”
Aku memandang warung kecil di depan kami.
“Dulu aku pikir hidupku tidak berguna.”
Naya diam.
“Ternyata aku salah.”
Aku tersenyum.
“Bukan karena aku menjadi hebat.”
Aku melihat Deni membantu seorang pelanggan.
“Karena ternyata aku bisa membuat orang lain bahagia.”
Naya menggenggam tanganku.
“Dan kamu akan terus melakukannya.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu...
aku tidak akan punya banyak waktu lagi.
13
Tiga hari kemudian, aku tidak bangun.
Ibu menemukan tubuhku di kamar.
Aku pergi dalam tidur.
Tanpa pesan.
Tanpa perpisahan.
Tanpa kesempatan mengatakan apa pun.
Usiaku baru dua puluh enam tahun.
Warung itu tutup selama beberapa hari.
Ibu tidak sanggup memasak.
Ayah hanya duduk diam.
Adikku menangis di kamar.
Kakakku berdiri lama di depan pintu.
Untuk pertama kalinya, dia menangis seperti anak kecil.
Di atas meja kamar, mereka menemukan surat-suratku.
Satu demi satu dibuka.
Ibu membaca suratnya sambil menangis.
Ayah membaca suratnya dalam diam.
Kakakku membaca suratnya berkali-kali.
Adikku memeluk suratnya erat-erat.
Dan terakhir...
Naya membaca suratnya.
Tangannya gemetar.
Dia membukanya perlahan.
Hanya ada satu halaman.
“Naya.”
“Maaf aku pergi lebih dulu.”
“Aku tahu kamu akan marah.”
“Tapi jangan berhenti mengejar mimpimu.”
“Aku pernah menghabiskan bertahun-tahun hidup tanpa tujuan.”
“Jangan lakukan kesalahan yang sama.”
“Kalau suatu hari kamu berhasil, jangan menangis karena aku tidak ada.”
“Tersenyumlah.”
“Karena kalau aku masih bisa melihatmu dari mana pun aku berada...”
“aku ingin melihatmu bahagia.”
Naya menutup surat itu.
Air matanya jatuh.
Lalu dia berbisik,
“Dasar bodoh.”
14
Setahun setelah kematianku, warung itu kembali buka.
Namun namanya berubah.
Bukan menggunakan namaku.
Sesuai permintaanku.
Namanya:
“Warung Musim Baik.”
Deni mengelolanya.
Sebagian keuntungan digunakan untuk membantu anak-anak yang kesulitan sekolah.
Ibu masih datang sesekali.
Ayah duduk di pojok sambil minum teh.
Adikku membantu setiap akhir pekan.
Kakakku bahkan terkadang ikut membersihkan meja.
Dan Naya?
Dia akhirnya membuka toko pakaian.
Di depan tokonya terdapat sebuah papan kecil.
Tidak ada foto.
Tidak ada nama Raka.
Hanya sebuah kalimat:
“Tidak ada mimpi yang terlalu kecil.”
Suatu sore, Naya datang ke warung.
Dia duduk di kursi yang dulu sering kami tempati.
Deni memberikan segelas teh.
“Dari Bang Raka?”
Naya tersenyum sedih.
“Bukan.”
Dia memandang kursi kosong di depannya.
“Dari aku.”
Hujan turun.
Persis seperti sore terakhirku.
Naya menatap kursi itu lama.
“Aku berhasil, Rak.”
Tidak ada jawaban.
“Toko aku sudah buka.”
Tidak ada jawaban.
“Aku juga sudah membantu beberapa orang.”
Tetap tidak ada jawaban.
Air mata mulai jatuh.
“Aku bahagia.”
Dia tersenyum sambil menangis.
“Tapi aku tetap berharap kamu ada di sini.”
Angin sore masuk melalui jendela.
Membuat tirai bergerak perlahan.
Naya menutup matanya.
Dan untuk sesaat, dia merasa seperti mendengar suara seseorang.
“Jangan menangis.”
Dia membuka mata.
Tidak ada siapa-siapa.
Hanya kursi kosong.
Dan secangkir teh yang mulai dingin.
EPILOG
Orang-orang sering mengira seseorang harus menjadi luar biasa agar hidupnya berarti.
Aku dulu juga berpikir begitu.
Aku pikir aku harus kaya.
Harus pintar.
Harus sukses.
Harus membuat keluargaku bangga.
Ternyata tidak.
Aku hanya perlu menjadi alasan seseorang tersenyum.
Menjadi tangan yang membantu seseorang berdiri.
Menjadi tempat seseorang pulang ketika dunia terasa terlalu berat.
Aku tidak mendapatkan kehidupan yang panjang.
Aku tidak memiliki rumah besar.
Tidak memiliki mobil mewah.
Tidak memiliki perusahaan.
Tidak memiliki pencapaian yang bisa ditulis di koran.
Aku hanya memiliki sebuah warung kecil.
Beberapa orang yang menyayangiku.
Dan sebuah kehidupan sederhana yang akhirnya memiliki arti.
Mungkin bagi dunia, aku bukan siapa-siapa.
Tapi bagi beberapa orang...
aku adalah seseorang.
Dan mungkin itu sudah cukup.
Karena pada akhirnya, manusia tidak diingat dari seberapa lama dia hidup.
Melainkan dari berapa banyak hati yang menjadi lebih hangat karena pernah mengenalnya.
Dan jika suatu hari nanti kalian datang ke sebuah warung kecil bernama Warung Musim Baik, mungkin kalian akan melihat sebuah kursi kosong di dekat jendela.
Jangan duduk di sana.
Biarkan kursi itu tetap kosong.
Karena ada seseorang yang dulu selalu duduk di sana.
Seseorang yang pernah berpikir bahwa hidupnya tidak berarti.
Seseorang yang akhirnya mengerti bahwa dirinya ternyata sangat berarti.
Hanya saja...
dia baru mengetahuinya ketika waktunya hampir habis.