DIARY DI UJUNG MUSIM SEMI
Aku tidak pernah percaya pada kesempatan kedua.
Sampai hari ketika aku mati.
Hujan turun begitu deras sore itu.
Aku masih mengingat suara klakson yang memekakkan telinga, teriakan orang-orang, dan seorang gadis yang berdiri di tengah jalan.
“Jangan!”
Aku berlari.
Tanganku berhasil meraih tangannya.
Namun sesaat kemudian, cahaya lampu kendaraan memenuhi pandanganku.
Aku tidak merasakan sakit.
Hanya dingin.
Lalu semuanya menjadi sunyi.
---
Ketika membuka mata, aku sedang berada di sebuah kamar yang sudah bertahun-tahun tidak kulihat.
Dinding berwarna biru muda.
Meja belajar kecil.
Rak buku tua.
Dan sebuah foto keluarga yang seharusnya sudah lama hilang.
Aku duduk perlahan.
Jantungku berdetak keras.
Di atas meja terdapat kalender.
Aku menatap tanggalnya.
12 April 2011.
Tanganku gemetar.
“Tidak mungkin...”
Aku berlari menuju cermin.
Wajah yang menatap balik bukan wajahku yang berusia tiga puluh dua tahun.
Aku kembali menjadi diriku yang berusia delapan belas tahun.
Tubuh yang lebih kurus.
Rambut yang belum banyak berubah.
Bahkan bekas luka kecil di dagu yang kudapat ketika SMP masih ada.
Aku mencubit pipiku.
Sakit.
Ini bukan mimpi.
Aku benar-benar kembali.
Namun sebelum sempat memahami apa yang terjadi, sebuah nama tiba-tiba muncul di kepalaku.
Alya.
Aku langsung membeku.
Alya.
Teman sekelas sekaligus teman sebangkuku ketika SMA.
Gadis yang selalu tersenyum.
Gadis yang selalu menulis sesuatu di dalam diary kecil berwarna cokelat.
Dan gadis yang mati pada musim semi lima belas tahun kemudian.
Aku pernah mencintainya.
Hanya saja aku menyadarinya terlalu terlambat.
---
Hari itu aku pergi ke sekolah lebih awal.
Aku bahkan tidak peduli dengan pelajaran.
Aku hanya ingin melihatnya.
Dan ketika pintu kelas kubuka—
dia ada di sana.
Duduk di dekat jendela.
Rambut panjangnya bergerak diterpa angin.
Sinar matahari pagi jatuh di wajahnya.
Dia masih hidup.
Aku tidak sadar bahwa aku sudah menangis sampai Alya menatapku.
“Kamu kenapa?”
Aku buru-buru mengusap wajah.
“Tidak apa-apa.”
Dia tersenyum.
“Kita pernah bertemu?”
Pertanyaan itu membuat dadaku terasa sesak.
“Belum.”
Padahal aku pernah mengenalnya selama bertahun-tahun.
Aku pernah mendengar tawanya.
Pernah bertengkar dengannya.
Pernah melihatnya menangis.
Dan pernah memegang tangannya untuk terakhir kali.
Aku duduk di sebelahnya.
Kali ini, aku berjanji.
Aku tidak akan membiarkannya mati.
---
Hari-hari berjalan.
Awalnya Alya menganggapku aneh.
Aku tahu makanan kesukaannya.
Aku tahu dia tidak suka hujan.
Aku tahu dia selalu membaca buku sebelum tidur.
Aku tahu kebiasaannya mengetuk meja tiga kali ketika gugup.
Dan aku tahu dia selalu membawa sebuah diary cokelat ke mana pun dia pergi.
“Kenapa kamu seperti mengenalku?”
Suatu sore dia bertanya.
Aku tersenyum.
“Mungkin aku cuma pandai menebak.”
“Pembohong.”
Aku tertawa.
Untuk pertama kalinya, aku merasa bahagia.
Aku mulai berpikir bahwa mungkin inilah alasan aku dikembalikan ke masa lalu.
Untuk menyelamatkannya.
Namun semakin lama aku bersamanya, semakin sering aku menemukan hal-hal yang tidak kuingat.
Alya sering menerima telepon misterius.
Dia kadang menghilang setelah sekolah.
Dan setiap kali aku bertanya, dia selalu menjawab sama.
“Aku baik-baik saja.”
Aku tahu kalimat itu.
Karena dulu aku terlalu sering mempercayainya.
---
Suatu hari, aku melihat Alya menangis di belakang sekolah.
Aku menghampirinya.
Dia buru-buru menghapus air mata.
“Jangan bilang siapa-siapa.”
“Apa yang terjadi?”
“Tidak ada.”
“Alya.”
Dia menatapku.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Kemudian dia berkata pelan,
“Kalau suatu hari aku pergi, jangan mencariku.”
Darahku terasa berhenti mengalir.
Kalimat yang sama.
Persis seperti yang pernah dia katakan lima belas tahun lalu.
Aku menggenggam tangannya.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena aku sudah pernah kehilanganmu.”
Dia terdiam.
Aku pun terdiam.
Kesalahan.
Aku hampir mengatakan terlalu banyak.
“Pernah?”
Aku memalingkan wajah.
“Maksudku... aku tidak ingin kehilangan teman.”
Alya hanya menatapku.
Tatapannya seperti sedang mencoba mengingat sesuatu.
---
Malam itu aku menemukan diary-nya.
Benda kecil berwarna cokelat yang selalu ia bawa.
Diary itu tergeletak di meja kelas.
Aku tahu aku seharusnya tidak membukanya.
Namun rasa takut mengalahkan akal sehat.
Aku membuka halaman pertama.
Kosong.
Halaman kedua.
Kosong.
Ketiga.
Kosong.
Semuanya kosong.
Aku membalik halaman dengan cepat.
Tidak ada tulisan sama sekali.
Hanya pada halaman paling belakang terdapat satu kalimat.
Tulisan tangannya.
“Jangan mencoba mengubah akhir yang sudah ditulis.”
Aku menutup diary itu.
Tanganku gemetar.
Apa maksudnya?
---
Hari-hari berikutnya menjadi semakin aneh.
Aku mulai menemukan catatan-catatan kecil di tempat yang tidak seharusnya.
Di laci meja.
Di buku pelajaran.
Di dalam tas.
Semuanya memiliki tulisan yang sama.
“Jangan terlambat.”
Awalnya aku mengira Alya sedang mempermainkanku.
Sampai suatu pagi aku menemukan sebuah foto lama.
Foto diriku dan Alya.
Namun ada sesuatu yang salah.
Foto itu diambil sebelum kami saling mengenal.
Di belakang foto tertulis:
12 April 2011.
Tanggal pertama aku kembali ke masa lalu.
Aku membalik foto itu.
Ada tulisan lain.
“Kali ini, jangan biarkan dia menyelamatkanmu.”
Aku langsung pergi mencari Alya.
---
Aku menemukannya di perpustakaan.
“Apa yang sebenarnya terjadi?”
Dia menatapku.
“Tidak ada.”
“Jangan bohong.”
Aku menunjukkan foto itu.
Wajahnya berubah.
Untuk pertama kalinya, Alya terlihat benar-benar ketakutan.
“Kamu menemukannya...”
“Foto ini apa?”
Dia tidak menjawab.
“Kenapa ada foto kita sebelum kita bertemu?”
Alya menunduk.
Kemudian berkata,
“Karena kita sudah pernah melakukan ini.”
Aku membeku.
“Apa?”
“Bukan sekali.”
Dia membuka diary cokelatnya.
Kali ini halaman-halamannya tidak kosong.
Tulisan memenuhi setiap lembar.
Tanggal demi tanggal.
Peristiwa demi peristiwa.
Semua sama dengan kehidupanku.
Pertengkaran kami.
Hari pertama kami bertemu.
Hari kelulusan.
Bahkan hari kematiannya.
Aku membalik halaman terakhir.
Tanganku berhenti.
Ada satu nama di sana.
Aku.
Dan di bawahnya tertulis:
“Percobaan ke-17.”
---
“Apa maksudnya percobaan?”
Alya menangis.
“Aku sudah mengulang musim semi ini enam belas kali.”
Aku tidak bisa berkata apa-apa.
“Setiap kali kamu mati.”
Aku menatapnya.
“Bukan aku yang mati?”
Dia menggeleng.
“Selalu aku.”
Aku terdiam.
Alya melanjutkan.
“Setiap kali aku mati, kamu mencoba menyelamatkanku.”
“Lalu?”
“Kamu selalu gagal.”
Aku merasa dunia berhenti.
“Bagaimana kamu bisa mengingat semuanya?”
Dia tersenyum sedih.
“Karena diary ini.”
Dia mengangkat diary cokelat itu.
“Setiap kali waktu kembali, semua orang melupakan kehidupan sebelumnya.”
Dia menunjuk dirinya sendiri.
“Kecuali aku.”
“Kenapa?”
Alya tidak langsung menjawab.
Dia hanya membuka halaman terakhir.
Tulisan di sana berbeda.
Bukan tulisannya.
Tulisan tanganku.
Aku mengenalinya.
Karena itu adalah tulisan tanganku ketika dewasa.
Aku membaca kalimatnya perlahan.
“Jika aku gagal menyelamatkan Alya untuk terakhir kalinya, aku akan memberikan hidupku kepada waktu.”
Aku menatap Alya.
“Apa ini?”
Air matanya jatuh.
“Pada percobaan keenam belas, kamu akhirnya tahu bahwa aku tidak bisa diselamatkan.”
“Lalu?”
“Kamu membuat kesepakatan.”
“Dengan siapa?”
Alya menutup diary.
“Dengan waktu.”
---
Aku mulai mengingat.
Sedikit demi sedikit.
Kehidupan-kehidupan yang seharusnya tidak pernah kuingat.
Musim semi pertama.
Aku dan Alya bertemu.
Dia mati.
Waktu kembali.
Musim semi kedua.
Aku mencoba menjauhinya.
Dia tetap mati.
Ketiga.
Aku mengawalnya setiap hari.
Dia tetap mati.
Keempat.
Aku membawa Alya keluar kota.
Dia tetap mati.
Kelima.
Aku mencoba mengubah semua kejadian.
Dia tetap mati.
Enam belas kali.
Enam belas kematian.
Enam belas musim semi.
Dan setiap kali aku gagal, aku meminta satu hal kepada waktu.
Satu kesempatan lagi.
Namun pada percobaan keenam belas, aku akhirnya mengetahui kebenarannya.
Bukan Alya yang menjadi pusat dari semua pengulangan itu.
Aku.
Karena setiap kali Alya mati, aku menolak menerima kenyataan.
Aku yang terus memutar waktu.
Aku yang terus memaksanya kembali.
Aku yang membuatnya menjalani kehidupan yang sama berkali-kali.
Dan pada percobaan terakhir...
aku membuat kesepakatan.
Aku akan memberikan seluruh sisa hidupku kepada waktu.
Sebagai gantinya, Alya mendapatkan satu kehidupan terakhir.
Kehidupan tanpa pengulangan.
Kehidupan di mana dia bisa hidup.
Tapi ada satu syarat.
Aku harus melupakannya.
Seluruh kenangan.
Seluruh kehidupan sebelumnya.
Semuanya.
---
Aku menatap Alya.
“Jadi aku kembali ke masa lalu bukan untuk menyelamatkanmu?”
Dia menggeleng.
“Kamu kembali karena kamu sudah berhasil.”
Aku tidak mengerti.
“Apa?”
“Ini bukan kesempatan kedelapan belas.”
Dia tersenyum.
“Ini kehidupan pertama.”
Aku menatapnya tanpa suara.
“Enam belas kehidupan sebelumnya hanyalah harga yang kamu bayar untuk sampai ke sini.”
“Lalu kenapa aku masih mengingat semuanya?”
Alya menunjuk diary.
“Karena kali ini... aku yang ingin mengembalikan ingatanmu.”
“Kenapa?”
Dia menangis.
“Karena aku tidak ingin menjadi satu-satunya orang yang mengingat bahwa kita pernah saling mencintai.”
---
Beberapa tahun kemudian, kami kembali berdiri di bawah pohon yang sama.
Musim semi hampir berakhir.
Bunga-bunga mulai berguguran.
Alya berdiri di sampingku.
“Kalau boleh mengulang waktu,” tanyanya, “kamu mau kembali ke masa lalu?”
Aku tersenyum.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena untuk pertama kalinya, aku ingin berjalan menuju masa depan.”
Alya menggenggam tanganku.
Diary cokelat itu tergeletak di atas bangku.
Aku membukanya.
Halaman terakhir yang sebelumnya kosong kini memiliki sebuah tulisan.
Tulisan tanganku.
“Tidak semua perjalanan kembali ke masa lalu bertujuan mengubah masa lalu.”
Di bawahnya ada satu kalimat lagi.
“Kadang, seseorang kembali hanya untuk belajar melepaskan.”
Aku menatap Alya.
Dia tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah tujuh belas musim semi...
tidak ada pengulangan.
Tidak ada kematian.
Tidak ada kesempatan kedua.
Hanya kami.
Dan hari esok.
---
Bertahun-tahun kemudian, diary itu ditemukan di sebuah kotak tua.
Halaman-halamannya telah menguning.
Seseorang membukanya.
Di halaman pertama hanya ada satu nama.
Alya.
Di halaman terakhir terdapat sebuah catatan kecil:
«“Jika kau membaca diary ini, berarti kami sudah tidak ada.”»
«“Jangan sedih.”»
«“Karena pada akhirnya, kami mendapatkan apa yang selama ini kami cari.”»
«“Bukan kehidupan yang sempurna.”»
«“Hanya satu kehidupan yang tidak perlu diulang.”»
Di bawah tulisan itu terdapat tanggal.
12 April 2011.
Tanggal pertama.
Dan terakhir.
Musim semi telah berakhir.
Tapi kisah mereka tidak pernah benar-benar selesai.
Karena beberapa cinta...
tidak membutuhkan kehidupan kedua.
Mereka hanya membutuhkan seseorang yang akhirnya berani berkata—
“Aku tidak akan kembali lagi.”
Ini merupakan peringkasan dari novel saya yang juga berjudul " Diary Diujung Musim Semi " untuk teman-teman yang ingin lebih merasakan cerita bisa langsung ke novelnya. See you soon