Pagi itu, sinar matahari merayap pelan menerobos kisi-kisi jendela kamar utama. Di depan cermin rias yang memantulkan bayangan kamar beraroma minyak kayu putih dan antiseptik, Dania Salsabila duduk tegak. Jemarinya yang sedikit bergetar memegang kuas bedak, menepuk-nepuk halus permukaannya ke pipi yang kini tampak lebih tirus dari dua tahun lalu.
Di atas meja rias, berjejer rapi botol-botol obat bertuliskan nama senyawa medis yang sulit dieja, bersanding dengan botol moisturizer, cushion, dan lip tint berwarna peach yang hangat. Bagi orang luar, pemandangan ini mungkin tampak janggal. Namun bagi Dania, meja ini adalah ruang sidangnya sehari-hari, tempat ia bernegosiasi dengan rasa sakit sebelum keluar melangkah menembus dunia luar.
Dania diandalkan keluarga sebagai sosok yang selalu tenang, tertata, dan tegar. Dan selama dua tahun terakhir—sejak vonis kanker endometrium itu jatuh tepat di ulang tahun pernikahan mereka yang ke-20—Dania bersumpah tidak akan membiarkan penyakit itu mencuri jiwanya, atau menghancurkan binar bahagia di mata orang-orang yang ia cintai.
"Bunda? Udah siap?"
Suara ketukan pintu kayu mengalihkan perhatian Dania. Bayu, anak sulungnya yang baru menyelesaikan semester akhir perkuliahan, menyongolkan kepala dari balik pintu. Anak bujangnya itu tersenyum manis, memegang kunci motor dan sebuah helm di tangannya.
"Sudah, Sayang," jawab Dania hangat. Ia mengoleskan *lip tint* tipis di bibirnya yang pucat, lalu merapikan pasmina instan berwarna abu-abu yang membingkai wajahnya dengan sempurna. "Gimana? Bunda udah kelihatan seger, kan?"
Bayu masuk ke kamar, menghampiri ibunya, lalu mengecup pipi Dania yang tercium wangi bedak bayi. "Bunda selalu paling cantik se-Komplek. Tapi beneran kuat naik motor pagi ini? Mas bisa pesan mobil kalau Bunda ngerasa mual."
"Ah, naik motor bareng Mas Bayu 'kan seru, biar kena angin pagi," kekeh Dania pelan, meski perut bagian bawahnya terasa seperti diremas rasa nyeri yang tumpul. Rasa nyeri yang sudah menjadi teman setianya selama 24 bulan terakhir. "Lagipula, nanti Ayah nyusul ke rumah sakit 'kan habis rapat?"
"Pasti. Ayah tadi pesan via WhatsApp, begitu client meeting selesai jam sepuluh, Ayah langsung meluncur ke Poli Onkologi," jawab Bayu sambil membantunya berdiri.
Dania mengangguk puas. Ia mengambil tas tangannya, memastikan dokumen BPJS dan buku kontrol berobatnya sudah tersusun rapi. Sebelum melangkah keluar kamar, ia sempat melirik cermin sekali lagi. Tidak ada jejak perempuan sakit yang kucel, lelah, dan menyerah. Yang ada hanya seorang ibu yang siap bertarung satu hari lagi demi keluarganya.
---
Jalanan kota pagi itu cukup padat. Dania menyandarkan kepalanya di punggung lebar Bayu selama perjalanan di atas sepeda motor. Angin pagi menembus jaketnya, membuat tubuhnya sedikit menggigil. Di balik helmnya, Dania memejamkan mata, membiarkan pikirannya melayang pada kenangan dua tahun lalu.
Vonis karsinoma endometrium itu datang tanpa permisi. Berawal dari pendarahan abnormal yang ia kira sekadar gangguan hormon biasa, berlanjut ke biopsi, hingga akhirnya kalimat dingin dokter spesialis kebidanan dan kandungan itu terngiang berulang kali:"Ada massa ganas di dalam rahim Ibu."
Hari itu, dunia seolah runtuh. Dania menangis sejadi-jadinya di pelukan suaminya, Surya. Rumah mereka yang biasanya hangat mendadak diselimuti keheningan yang mencekat. Anak-anak mereka—Bayu dan adik perempuannya, Nabila—terpukul hebat. Nabila bahkan sempat mengurung diri di kamar selama dua hari karena takut kehilangan ibunya.
Melihat aura kesedihan dan keputusasaan yang melingkupi rumah mereka, Dania menyadari satu hal: jika ia menyerah dan tampil seperti korban yang menyedihkan, seluruh keluarganya akan ikut hancur. Rumah tangga mereka butuh tiang yang kokoh. Dan jika ia harus memalsukan kesegaran wajahnya agar anak dan suaminya punya alasan untuk tersenyum, maka Dania akan melakukannya setiap hari tanpa tapi.
"Bunda, sampai," suara Bayu membangunkan Dania dari lamunannya.
Motor berhenti di depan pintu masuk Lobi Utama Rumah Sakit. Aroma khas antiseptik dan pembersih lantai segera menyergap indra penciumannya. Bayu turun terlebih dahulu, membantu ibunya melepas helm dengan hati-hati, membetulkan lipatan jilbab Dania yang sedikit bergeser karena terpaan angin.
"Cakep lagi," goda Bayu pelan sambil tersenyum. "Mas ambil antrean dulu ya, Bunda duduk di dalam."
"Iya, Mas. Makasih ya."
Dania melangkah masuk ke ruang tunggu Poli Onkologi. Ruangan itu luas, namun selalu dipenuhi atmosfer yang berat. Di sana duduk puluhan pasien dengan berbagai stadium penyakit. Ada yang tertidur lemas di kursi roda dengan wajah pucat pasi, ada yang menatap kosong ke lantai dengan pakaian kusut, dan ada pula keluarga pasien yang mengusap air mata secara sembunyi-sembunyi di balik tiang beton.
Di antara lautan keputusasaan itu, Dania duduk tegak di salah satu kursi besi. Ia menyilangkan kakinya rapi, membetulkan posisi gamis katunnya yang berwarna pastel, dan menyunggingkan senyum tipis ketika seorang perawat lewat memanggil nama pasien.
Bagi Dania, berpenampilan rapi di ruang Onkologi bukan bentuk kepalsuan atau penolakan atas kenyataan. Berhias adalah amunisinya untuk menjaga marwah. Ia ingin memberi sinyal pada otaknya sendiri—dan pada orang-orang di sekitarnya—bahwa penyakit ini boleh merusak sel-sel di dalam tubuhnya, tetapi tidak akan pernah sanggup merusak keindahan jiwanya.
"Ibu Dania?"
Dania menoleh. Di sebelahnya duduk seorang wanita paruh baya yang mendampingi putrinya yang tampak lemas. Wanita itu menatap Dania dengan raut heran namun penuh kekaguman.
"Iya, Bu?" jawab Dania ramah.
"Ibu... pasien kontrol juga? Maaf ya, saya perhatikan dari tadi Ibu kelihatan segar banget. Cantik, dandanannya rapi, nggak kelihatan kayak orang yang habis kemoterapi atau radiasi."
Dania tersenyum lembut. Senyum yang telah ia latih di depan cermin agar terlihat benar-benar tulus. "Iya, Bu, saya pasien endometrium. Sudah jalan dua tahun pengobatan. Kalau saya kelihatan segar, itu karena saya sengaja dandan dari rumah, Bu. Biar anak sama suami saya nggak makin sedih kalau lihat saya kucel."
Wanita itu tertegun, lalu matanya berkaca-kaca. "Masya Allah... luar biasa mental Ibu. Saya kadang udah keburu lelah duluan lihat anak saya lemas begini..."
"Nggak apa-apa, Bu, lelah itu manusiawi," bisik Dania pelan sambil memegang lembut jemari wanita tersebut. "Tapi kalau kita masih punya sedikit tenaga, usahakan senyum. Senyum kita itu obat paling ampuh buat orang-orang yang jagain kita."
---
Tak berapa lama, bayangan seorang pria berjas rapi melangkah terburu-buru menerobos selasar rumah sakit. Itu Surya, suaminya. Dasinya sedikit miring dan peluh tipis membasahi pelipisnya, menandakan betapa cepatnya ia memacu kendaraan dari lokasi rapatnya demi bisa mendampingi Dania.
"Maaf ya, Sayang, agak telat. Macet banget di perempatan jalan utama tadi," ujar Surya agak terengah-engah begitu sampai di hadapan Dania. Ia langsung mengambil tempat di samping istrinya, memegang tangan Dania yang dingin, lalu mengecup keningnya tanpa peduli ada puluhan pasang mata di ruang tunggu.
"Nggak apa-apa, Ayah. Mas Bayu udah ambil antrean kok," balas Dania manis. Ia mengambil tisu dari tasnya, mengusap lembut keringat di dahi suaminya. "Rapatnya lancar?"
"Lancar. Tapi dari tadi pikiran Ayah tetap di sini," kata Surya dengan tatapan mata yang dipenuhi rasa bersalah sekaligus cinta yang mendalam. "Kamu nggak mual 'kan tadi pas naik motor sama Bayu?"
"Nggak kok, anginnya malah bikin segar. Lihat nih, *makeup* Bunda masih utuh 'kan?" goda Dania sambil mengerlingkan mata.
Surya tertawa kecil, rasa tegang di wajahnya seketika mencair. Pria itu menatap istrinya dalam-dalam. Dua tahun menjalani proses pengobatan kanker rahim bukan hal yang mudah bagi finansial dan emosi keluarga mereka. Tabungan terkuras, waktu terbagi, dan kecemasan akan masa depan selalu membayangi setiap malam. Namun setiap kali Surya melihat Dania berdiri tegak dengan riasan rapi dan senyum yang menenangkan, seluruh kelelahan Surya mendadak sirna.
Surya tahu betapa beratnya beban yang dipikul istrinya. Ia tahu, di balik riasan rapi itu, ada bekas jahitan operasi di perut bawah Dania yang kadang masih ngilu, ada rasa mual dahsyat akibat terapi hormon, dan ada rasa lelah luar biasa yang sering membuat Dania menangis sendirian di dalam kamar mandi ketika air pancuran dinyalakan deras-deras agar tidak terdengar oleh anak-anak.
Namun kenyataan bahwa istrinya berjuang begitu keras untuk selalu terlihat 'baik-baik saja' di depan mereka membuat Surya bertekad untuk tidak pernah mengecewakannya.
"Nomor antrean 14, Ibu Dania!" suara dari pengeras suara menghentikan perbincangan mereka.
"Yuk, Bunda," Surya berdiri, merangkul pinggang Dania dengan protektif. Bayu yang duduk tidak jauh dari sana langsung sigap berdiri dan membawa tas dokumen ibunya.
Mereka bertiga melangkah bersama masuk ke dalam ruang konsultasi.
Dokter spesialis yang menangani Dania menyambut mereka dengan senyuman familiar. Beliau membolak-balik berkas hasil laboratorium dan pemindaian terbaru. Di dalam ruangan yang dingin itu, waktu seolah berhenti berputar. Dania menahan napasnya, meremas jemari Surya yang menggenggamnya erat di sebelah kanan, sementara Bayu berdiri siaga di sebelah kirinya.
"Hasil evaluasi dua tahun ini menunjukkan perkembangan yang sangat positif, Bu Dania," tutur dokter dengan nada lega. "Respon tubuh Ibu terhadap terapi sangat baik. Sel-sel abnormalnya terkendali, dan kita bisa mulai mengurangi dosis obat secara berkala."
Dania memejamkan mata sejenak. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya menetes juga, membasahi pipinya yang berbedak halus. Namun kali ini, itu adalah air mata lega yang tak tertahankan.
Surya langsung mengecup pelipis istrinya berulang kali, suaranya serak menahan haru. "Alhamdulillah... Alhamdulillah, Ya Allah..."
Bayu di samping mereka merangkul bahu ibunya erat-erat, menyembunyikan wajahnya yang mulai basah oleh air mata di balik jilbab Dania. "Tuh 'kan, Bunda... Bunda pasti sembuh. Bunda 'kan kuat banget."
---
Sore harinya, matahari terbenam memancarkan warna jingga yang hangat di halaman belakang rumah mereka. Nabila, putri bungsu mereka, menyeduh teh hangat dan menghidangkan biskuit di meja teras.
Dania duduk di kursi kayu santai, menikmati semilir angin sore. Riasan di wajahnya sudah dihapus bersih setelah ia membasuh muka dan berwudu untuk salat Asar tadi. Di bawah sinar redup sore hari, wajah aslinya terlihat—ada lingkaran hitam tipis di bawah mata dan kulit yang sedikit pucat. Namun, tidak ada lagi keputusasaan di sana. Yang tersisa hanyalah kedamaian.
Surya berjalan mendekat, membawa selembar kain selimut tipis, lalu menyelimutkannya ke bahu Dania dari belakang. Pria itu kemudian duduk di sampingnya, membiarkan kepala Dania bersandar di bahunya.
"Makasih ya, Dek," bisik Surya pelan sambil mengelus jemari istrinya.
"Makasih untuk apa, Yah?"
"Untuk nggak pernah menyerah. Untuk selalu berdandan rapi setiap kali mau ke rumah sakit... untuk selalu senyum di depan Ayah dan anak-anak, padahal Ayah tahu kamu lagi menahan sakit luar biasa."
Dania tersenyum, menatap lurus ke arah bunga-bunga bougainvillea yang bermekaran di sudut taman.
"Bunda melakukan itu bukan cuma buat Ayah dan anak-anak, tapi juga buat diri Bunda sendiri," ujar Dania lembut. "Kalau Bunda biarkan diri Bunda kelihatan kucel dan loyo, rasanya kanker itu menang, Yah. Tapi dengan berdandan, dengan memakai baju yang rapi, Bunda merasa punya kendali atas tubuh Bunda sendiri. Bunda merasa masih punya alasan untuk berjuang."
Ia menoleh, menatap mata suaminya yang hangat.
"Dan alasan itu adalah kalian. Melihat Ayah langsung nyusul ke rumah sakit habis rapat, melihat Bayu siap anterin naik motor, melihat Nabila nyiapin teh sore begini... itu semua energi yang bikin obat-obatan kimia itu bekerja. Kanker ini mungkin ada di dalam rahim Bunda, tapi cinta kalian yang memenuhi seluruh jiwa Bunda."
Dari balik pintu kaca teras, Bayu dan Nabila memperhatikan kedua orang tua mereka sambil tersenyum. Rumah yang dua tahun lalu sempat terancam oleh kegelapan kini kembali terang benderang.
Dania menghirup napas dalam-dalam, merasakan udara sore yang bersih memenuhi paru-parunya. Perjalanan pengobatannya mungkin belum sepenuhnya selesai, dan hari-hari berat mungkin masih akan datang sesekali. Namun malam ini, di bawah naungan kasih sayang suami dan anak-anaknya, Dania tahu pasti satu hal: ia tidak pernah bertarung sendirian, dan ia telah berhasil memenangkan pertempuran paling berharga dalam hidupnya—pertempuran untuk tetap menjadi ratu yang anggun di tengah badai kehidupan.